
Chelsea tertunduk lesu, menempelkan kepalanya di atas permukaan meja di samping laptop miliknya. Dia yang tadinya sangat bersemangat untuk membalas dendam, kini seakan-akan terjatuh dan kehilangan semangatnya. Bagaimana tidak? Di percobaan pertamanya saja dalam menargetkan salah satu Family sudah mengalami kegagalan. Dia mulai berkecil hati jika dia bisa menghancurkan organisasi besar yang begitu berkuasa ini.
"Kak Liam ...." Lagi dan lagi, Entah sudah berapa kali Chelsea menggumamkan nama mendiang William. Dia menangis dalam diam, tak ada siapa pun yang bisa menjadi tempat baginya untuk mengadu rasa lelah yang telah menumpuk dalam dirinya.
Sakit, dadanya merasa sesak lantaran semua perjuangannya kini gagal membuahkan hasil yang dia inginkan. Sisi rapuh Chelsea yang sudah lama dia sembunyikan kini muncul kembali. Akan tetapi, sekali lagi dia tak punya siapa pun yang bisa menguatkan dirinya untuk bangkit dari keterpurukan ini.
Semua hal ini membuatnya kembali mengingat seperti apa sosok kakak laki-laki yang kini telah pergi. Meskipun sudah lama dia pergi, sosoknya selalu tertanam jelas di hati Chelsea. Hanya William seorang di dunia ini yang sebelumnya selalu menjadi sandaran jika Chelsea sedang terjatuh. Kini William tak ada dan keadaan pun tak lagi sama, sekarang dia hanya bisa berusaha untuk memendam semua rasa lelahnya dengan mengandalkan diri sendiri.
DING DONG
DING DONG
Terdengar suara bel pintu, akan tetapi Chelsea sudah terlalu malas untuk membuka pintu tersebut.
DING DONG!
"Mayra! Ini aku, tolong buka!"
Suara orang yang memencet bel pintu itu terdengar tidak asing di telinga Chelsea, dia langsung tahu jika orang tersebut adalah Leon.
"Ya, sebentar ..." ucap Chelsea yang kemudian langsung berhenti menunduk dan mengusap air mata yang tersisa di pipinya.
Chelsea berjalan mendekati pintu, dan begitu membukanya dia langsung berkata, "Ada apa?"
"Aku bawa-" Perkataan Leon seketika berhenti saat melihat wajah Chelsea yang sendu dengan kedua mata yang sembab. Dia terkejut lantaran baru pertama kali ini dia melihat sosok yang dia kenal sebagai wanita kuat sedang menangis.
"Kau habis menangis?" tanya Leon sambil menyentuh dagu Chelsea, melihat dan memperhatikan lebih dalam lagi wajah wanita itu.
"Ya, aku menangis. Dan kau belum menjawab pertanyaanku ada urusan apa kau kemari," jawab Chelsea seraya menyingkirkan tangan Leon dari wajahnya.
"Ah, aku kemari karena ..." Leon lantas menyodorkan sebuah box makanan berwarna putih ke hadapan Chelsea. Sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal, dengan nada yang canggung pula dia berkata, "Ehmm ... aku ingat kalau setelah kembali dari Distrik 12 tadi kau belum makan malam. Jadi ini aku belikan makanan untukmu."
"Terima kasih, tapi aku tidak lapar. Silakan makan sendiri!" Chelsea hendak menutup pintu, namun dengan cepat Leon menahan pintu tersebut menggunakan tangannya.
"Tunggu sebentar!"
"Ada apa lagi?" tanya Chelsea dengan tatapan nanar, dia tidak suka keadaannya yang menyedihkan ini dilihat oleh Leon.
"Apa kau sedang dalam masalah?" tanya Leon dengan tatapan khawatir.
"...." Sejenak Chelsea tertegun, setelah sekian lama baru kali ini dia merasa ada seseorang yang peduli pada dirinya. "Bahkan jika aku memang sedang dalam masalah, apa hubungannya itu denganmu? Apa kau mau membantuku menyelesaikan masalah?"
"Itu ... tergantung. Jika kau mau, kau bisa ceritakan masalahmu padaku. Baru setelah aku mendengar ceritamu. Jika mungkin, mungkin saja ... aku bisa membantumu mencari solusi," jawab Leon dengan nada ragu.
Sekali lagi Chelsea termenung. Dia masih tidak menyangka jika Leon mau mendengarkan ceritanya. Di satu sisi dia ingin bercerita padanya untuk meringankan rasa lelah dan memperbaiki suasana hatinya, namun di sisi lain dia juga ragu dan sedikit malu untuk bercerita.
"Emm ... apa kau mau menghirup udara segar?" tanya Leon sekali lagi.
"Ya, aku mau ..." jawab Chelsea dengan suara lirih seraya menganggukkan kepala.
Leon akhirnya mengurungkan niat baiknya untuk memberi makanan kepada Chelsea. Dia beralih untuk mengajaknya mencari udara segar. Dan tempat yang dia tuju adalah lantai paling atas dari gedung hotel tersebut. Mereka naik ke atas atap gedung, lalu duduk berdampingan di pinggir sambil menatap panorama malam kota S.
Duduk di atas ketinggian gedung yang mempunyai 12 lantai itu bagi mereka rasanya biasa saja. Ketinggian seperti itu tak cukup untuk membuat mereka gugup ataupun takut akan jatuh.
"Hahh ...." Chelsea menghela napas. Seumur hidup baru pertama kali ini dia duduk di atas gedung, sebelumnya dia pikir akan menyeramkan, namun sekarang dia tidak lagi berpikir begitu. Keindahan cahaya lampu-lampu yang terang dari bawah terlihat indah dipandang dari atas sana. Meskipun indah, akan tetapi keindahan ini masih tak dapat melupakannya dari masalah yang sedang menimpa dirinya.
"...." Di satu sisi Leon juga diam seribu bahasa. Dia ragu untuk mengawali percakapan. Baru kali ini dia berada dalam keadaan bersama dengan wanita yang selalu dia perhatikan, dan wanita itu kini sedang bersedih. Dia tak tahu cara seperti apa yang harus dia gunakan untuk menghiburnya.
Namun, tiba-tiba saja dia teringat pada adik kesayangannya. Dia ingat bagaimana sikap Liana ketika sedang sedih. Akhirnya Leon pun memutuskan untuk menggunakan cara yang sama kepada wanita di sampingnya saat ini.
Tangan Leon diam-diam bergerak dari belakang, menyentuh kepala Chelsea dengan lembut lalu membuatnya bersandar pada bahunya.
"Eh ...!?" Chelsea terkejut, dengan refleks mencoba untuk menyingkir. Namun Leon berhasil menahannya dan membuatnya tetap bersandar.
"A-apa yang sedang kau lakukan?" tanya Chelsea yang kebingungan.
__ADS_1
"Bersandarlah padaku," jawab Leon dengan nada bicaranya yang lembut.
"T-tapi aku tidak-"
"Ssttt ... diamlah! Setiap kali Liana sedang sedih, dia juga seperti ini padaku. Dan aku tahu jika kau sekarang sedang lelah. Meskipun aku tak paham apa masalahmu, kau tetap bisa bersandar padaku."
"Leon ...." Mulut Chelsea terasa kelu, semua yang dikatakan Leon tepat menyasar bagi dirinya yang saat ini memang sedang dilanda masalah. Semangatnya hilang, dirinya merasa jatuh dan terpuruk, dia tidak bisa membohongi diri sendiri jika dia saat ini memang sangat membutuhkan seseorang untuk bersandar.
Beberapa saat Chelsea masih diam seperti itu. Lalu tiba-tiba saja dia berkata, "Leon ... apa yang akan kau lakukan jika kau sudah berusaha begitu keras, tetapi usahamu itu tetap menjadi kegagalan?"
Leon tersenyum tipis, dia merasa lega karena akhirnya Chelsea mau mengatakan padanya apa yang sedang terjadi. Setelah memikirkan pertanyaan Chelsea barusan, dia pun menjawab, "Kalau aku, maka aku juga akan putus asa sepertimu. Melakukan sesuatu yang sia-sia memang rasanya melelahkan. Tapi, apa sesuatu yang ingin kau capai dengan usahamu itu cukup penting bagimu?"
"Iya, sangat penting. Bahkan jika harus mengorbankan sesuatu untuk mencapainya, maka akan aku korbankan separuh hidupku yang tersisa," jawab Chelsea tanpa keraguan. Tujuannya untuk balas dendam atas kematian kakaknya sudah menyatu sampai ke tulang-tulangnya.
"Kalau begitu ... kau harus beristirahat sebentar!"
"Istirahat?" tanya Chelsea.
"Iya, istirahat. Kau harus beristirahat untuk memulihkan dirimu sendiri, rehat sejenak dari semua masalah yang ada. Kau tak harus terus menerus menerjang masalah itu sampai mati. Istirahatlah, dan setelah itu kau bisa pikirkan cara yang lain untuk mencapai tujuanmu itu."
"Untuk mencapai suatu titik, tidak harus hanya ada satu jalan yang dilewati untuk mencapainya. Misalnya saja kau ingin mencapai ke puncak gunung. Jika kau melewati sebuah jalan, di mana jalan itu lurus menuju ke atas, jalan itu akan terlalu curam untuk dilewati. Berbeda jika kau memilih jalan memutar yang berkelok dan lebih panjang. Meskipun kau akan sampai ke puncak lebih lama, tetapi peluangmu akan jauh lebih besar. Kau paham apa maksudku, kan?"
"Iya, aku paham. Masih ada jalan lain untuk mencapai sebuah tujuan. Terima kasih banyak Leon," ucap Chelsea dengan senyuman tipis di ujung bibirnya.
"I-iya, sama-sama, lagi pula kita kan rekan!" jawab Leon terbata-bata, dia terpesona dengan senyuman Chelsea barusan.
"Leon, bolehkah aku bersandar di bahumu lebih lama lagi?"
"Eh?! B-boleh! Bersandar saja sepuasmu!" Leon seketika memalingkan wajahnya yang memerah, dia juga merasa gugup saat memikirkan suara detak jantungnya yang berdebar-debar. Berharap agar Chelsea sama sekali tidak mendengar debaran itu.
"Terima kasih, terima kasih sudah mau mendengarkanku." Sekali lagi Chelsea tersenyum, dia juga memejamkan mata dengan nyaman.
Sudah lama rasanya dia tidak setenang seperti sekarang. Entah kenapa, bersandar pada Leon seolah-olah membuat sebagian besar rasa gelisahnya menghilang. Rasanya akrab dan menenangkan, dia ingin berlama-lama di posisi saat ini. Bersandar di bahu seseorang yang selama ini selalu ada untuknya.
Duduk berdampingan di bawah terangnya sinar rembulan, diterpa angin malam yang berembus sejuk. Semua itu seakan mampu menambah kesan menenangkan di antara mereka berdua yang sekarang begitu dekat. Dan kini, yang terpenting Chelsea sudah tak merasa seperti tidak punya tempat bersandar lagi. Kehadiran Leon sudah mempunyai arti spesial yang tersendiri bagi dirinya.
Hari berganti. Dan pagi ini Chelsea dalam suasana hati yang berbeda dari biasanya. Dia baru sadar dengan apa yang sudah dia lakukan malam tadi di atas atap gedung bersama Leon. Chelsea merasa malu setengah mati, berkali-kali dia mengingat akan kejadian itu, dia jadi salah tingkah sendiri.
"Huh, tidak boleh begini terus! Sadarlah Chelsea, ayo sadarlah!" ucap Chelsea yang bermaksud menyugesti diri sendiri. Dia berkali-kali juga mencipratkan air ke wajahnya agar berhenti memikirkan Leon.
"Ayolah Chelsea! Fokus, fokus!"
Setelah sadar jika bajunya bagian depan sudah basah kuyup, Chelsea baru berhenti menyiram air ke wajahnya. Dia lalu mengambil sehelai handuk kecil untuk mengelap wajahnya.
"Huftt ...." Chelsea menghela napas. Melamun sambil melihat pantulan bayangan dirinya sendiri di cermin yang terpasang di atas wastafel.
"Leon benar, usahaku belum berakhir. Jika cara pertama gagal, maka aku hanya tinggal memakai cara lain. Sejak tadi aku sudah memikirkan bagaimana langkahku selanjutnya, dan sekarang aku yakin jika aku harus mengubah rencanaku!"
"Tadinya aku berencana menargetkan satu per satu Family dan mengacaukan mereka semua. Ternyata ini salah. Awalnya aku ingin menghancurkan organisasi gangster ini dengan kejam dan perlahan. Tapi, ternyata memutus satu per satu bagian tubuhnya itu tidak berguna!"
"Mereka semua adalah kumpulan orang yang tidak masuk akal. Pemilik night club, penyedia jasa pembunuhan, pengacara, aktor sejuta umat dan bahkan Ketua Dewan Parlemen juga termasuk. Mereka telah mencakup dari segala aspek. Jika aku mengusik salah satu dari mereka, maka mereka akan saling melindungi. Memang pantas jika mereka disebut sebagai Family."
"Sembilan Family! Anggap saja mereka adalah pilar utama organisasi ini! Dan ketua merupakan pilar yang paling besar dan kuat. Jadi jika aku menyerang pilar paling penting ini, otomatis pilar yang lainnya pun juga akan terguncang."
"Aku tidak akan menargetkan semua para Family! Aku cukup menyerang ketua maka organisasi ini akan tamat! Jadi aku tidak akan membuat masalah lagi, aku harus bekerja sebaik mungkin. Ah ... tidak, tapi aku harus jadi yang terbaik agar aku semakin dikenal dan ketua melirik padaku! Dan jika saat itu tiba, aku akan langsung mengambil kesempatan untuk membunuhnya!"
Setelah memantapkan diri dengan rencana barunya, Chelsea langsung bersiap-siap untuk memulai lagi kegiatannya. Akan tetapi, pagi ini dia membuat menu sarapan khusus untuk Leon. Dia bermaksud untuk membalas niat baik Leon yang semalam telah membelikan dirinya makanan.
Kini Chelsea telah berada di depan pintu kamar Leon. Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum memencet tombol bel pintu. Tentu saja dia merasa sedikit gugup apakah Leon akan menyukai masakannya atau tidak, karena mengingat jika Leon sendiri juga pandai memasak.
DING DONG
DING DONG!
"Leon, tolong buka pintunya! Ini aku, Mayra!"
KLAK!
__ADS_1
Tak berselang lama pintu terbuka, tetapi Chelsea terkejut dengan apa yang dia lihat. Dia saat ini melihat Leon yang dalam keadaan setengah telanjang, hanya memakai sehelai handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya. Bahkan masih terlihat sisa titik-titik air yang mengalir di dada bidangnya, berasal dari rambutnya yang masih basah karena habis keramas.
"Huwaaa! Apa-apaan kau!? Cepat pakai bajumu!" teriak Chelsea sambil menutup kedua matanya rapat-rapat. Bahkan tubuhnya juga terguncang dan makanan yang dia bawa hampir tumpah.
"Ah ... maaf, aku kira ada keperluan mendesak. Jadi aku cepat-cepat membuka pintu. Emm ... masuklah!" ucap Leon dengan nada canggung. Dia langsung berlalu dan segera pergi ke kamar.
Sedangkan Chelsea, dia mengintip sedikit, memastikan apakah Leon sudah pergi dari hadapannya atau belum. Setelah memastikan jika semuanya telah aman, Chelsea pun masuk ke dalam dan meletakkan makanan yang dia bawa ke atas meja.
Sebentar kemudian Leon keluar dari kamar, kini penampilannya yang menggoda tadi sudah berganti dengan berpenampilan memakai kemeja putih yang tertutup. Akan tetapi, rasa malu dan canggung di antara kedua orang itu masih ada.
"Ada apa?" tanya Leon.
"A-aku membawa sarapan untukmu, semalam kau sudah membelikan makanan untukku. Jadi aku ingin membalasnya. Kau tahu? Semacam pertukaran makanan antar tetangga yang baik, ahaha ..." jawab Chelsea sambil tertawa canggung.
"Haha, terima kasih." Leon juga sama tertawa canggung. Kemudian dia duduk dan mencicipi sesendok makanan yang dibawakan oleh Chelsea untuknya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Chelsea penasaran.
"Kenapa kau tanya? Memangnya saat memasak tadi kau belum mencicipinya sendiri?" Leon terkekeh.
"Humph! Tentu saja sudah, dan menurutku itu enak! Aku tanya padamu apakah rasa itu cocok di lidahmu!"
"Yaa ... lumayan, tetapi bagiku ini sedikit kurang pedas. Tolong lain kali tambahkan cabai lebih banyak lagi!"
"Baiklah, tapi ... apa kau serius ingin aku membuatkan sarapan untukmu lagi?" tanya Chelsea dengan tatapan polosnya.
"E-eh?! Bukan begitu maksudku! K-kau tidak usah repot-repot membuat makanan untukku lagi! Aku tadi cuma mengutarakan pendapatku! Itu saja!" jawab Leon gelagapan. Dia langsung menunduk dan melanjutkan mengunyah lebih cepat.
Sial, bisa-bisanya aku tadi bicara begitu. Kalimat itu seperti kalimat seorang suami yang mengomentari masakan istrinya. Sedangkan Mayra bukanlah istriku.
Akhirnya tak ada percakapan lagi selama Leon makan. Mereka berdua kembali dalam posisi sama-sama merasa canggung. Dan saat Leon selesai sarapan, dia baru berkata sesuatu untuk memecah keheningan.
"Emm ... apa kau mau berangkat bersama?" tanyanya.
"Boleh!" jawab Chelsea spontan. Jiwa pebisnisnya sama sekali tidak pernah hilang, selama bisa menghemat waktu, tenaga dan uang tentu dia akan setuju.
Mereka berdua pun berangkat bersama ke Distrik Timur 1, kembali mendatangi villa untuk berjaga-jaga jika diberi instruksi baru lagi dan untuk melaporkan kejadian kemarin kepada petinggi. Dan kali ini Hendry tidak sedang berada di sana, dan dia telah menunjukkan seseorang yang dia percaya untuk mengawasi kinerja semua pengawal yang bertugas dalam pengembangan ulang lahan Distrik Timur 12.
Setelah mendapatkan instruksi tambahan, para pengawal pun yang jumlahnya ada 18 orang kembali bersama-sama dari Distrik Timur 1 menuju ke Distrik Timur 12. Akan tetapi, sesuatu yang di luar bayangan mereka terjadi.
Di sebuah jalan masuk utama ke Distrik Timur 12, saat ini ada begitu banyak warga yang berkumpul dan menutupi jalan. Semuanya dari mereka adalah pria, baik remaja, dewasa dan lanjut usia. Bahkan kakek penjual bunga kemarin juga ikut menghadang jalan masuk itu.
"Pergi kalian dari sini!"
"Ini selamanya tanah kami!"
"Jangan gusur tempat tinggal kami!"
"Berikan keadilan bagi orang kecil seperti kami!"
Orang-orang itu berteriak menyerukan keberatan mereka. Dan mereka semakin menggila, mereka mulai melempari batu dan benda-benda keras lainnya ke arah mobil-mobil yang kini sedang ditumpangi oleh para pengawal.
TAK TAK TAK
Satu per satu batu itu menghantam badan mobil. Namun tidak menimbulkan kerusakan serius karena pada dasarnya mobil-mobil itu memang didesain memiliki ketahanan yang lebih.
Para pengawal yang masih berada di dalam mobil saling bicara dengan alat komunikasi yang mereka bawa. Dan mereka pun sepakat telah membuat keputusan.
"Bagaimana Leon?" tanya Chelsea yang kini berada satu mobil dengan Leon.
"Kita turun, bereskan para pengganggu itu!"
Benar saja, para pengawal itu pun semuanya turun tangan langsung. Meskipun mereka kalah jumlah, tetapi mereka yang profesional tetap lebih unggul. Satu dari mereka bisa menghadapi dan membereskan beberapa orang sekaligus.
Chelsea pun tak terkecuali. Dia telah membulatkan tekadnya untuk menjadi yang terbaik. Bahkan jika kali ini dia harus menyakiti kakek penjual bunga itu, dia tidak akan ragu.
Setelah semua masyarakat itu dilumpuhkan, dan memastikan jika tak ada satu pun dari mereka yang mati. Salah satu pria yang memimpin dan berasal dari Divisi 4 pun berkata, "Kita tangkap mereka semua! Kita bawa dan sekap mereka di penjara bawah tanah!"
__ADS_1
"Baik!"