
"Lucunya ..." ucap Luciel yang kini sedang melihat adik kembar Keisha yang berada di dalam keranjang bayi.
Setelah 2 hari sebelumnya mereka berdua menjadi detektif yang sama sekali tidak membuahkan hasil. Karena sekarang hari sudah berganti jadi Senin, maka Keisha harus berangkat ke sekolah. Luciel yang belum bersekolah pun merasa sedikit jenuh karena tidak ada yang bisa diajak bermain.
Saat-saat seperti ini kembali mengingatkannya pada hari-hari sebelumnya di mana dia masih tinggal bersama dengan mami nya. Dia juga kerap ditinggal sendirian di rumah ketika Chelsea berangkat bekerja. Namun, sekarang dia tak kesepian lagi. Sejak Keisha berangkat sekolah, Luciel telah berada di kamar bayi tersebut.
Kedua bayi kembar yang sedang tidur itu terlihat begitu lucu di mata Luciel. Yang laki-laki bernama Noah, sedangkan yang perempuan bernama Nora. Saat Luciel memperhatikan Noah, dia melihat ada seekor nyamuk hinggap di pipi kecilnya yang bulat.
"Ada nyamuk! Kata mami, nyamuk itu mengisap darah. Luciel tidak mau darahnya Noah disedot nyamuk!"
"Hush-hushh! Pergi nyamuk nakal!" Luciel pun mengibas-ngibaskan tangannya di dekat pipi Noah. Begitu nyamuk itu terbang, Luciel tidak menyerah sampai di situ. Dia nekat mengejar nyamuk tersebut sampai bisa tertangkap oleh kedua tangannya.
"Oeekk ... oeek ..." Tiba-tiba saja bayi laki-laki itu menangis, tangisannya begitu keras sampai-sampai tak lama kemudian langsung ada seseorang yang masuk ke kamar.
Orang itu tidak lain adalah Nisa, dia masuk ke kamar itu terburu-buru. Tetapi dia sedikit kaget karena melihat Luciel ada di kamar itu. "Luciel di sini?"
"Luciel cuma ..." ucap anak itu gugup dan tak melanjutkan lagi perkataannya. Dia takut disalahkan karena membuat Noah menangis.
Nisa melewati Luciel begitu saja, langsung menghampiri putra kecilnya yang sedang menangis. Nisa bernapas lega karena tak ada apa pun yang aneh pada tubuh Noah, dia hanya perlu mengganti popok yang ternyata sudah penuh.
Ketika Nisa sudah berhasil menenangkan kembali bayinya, dia pun menghampiri Luciel. Mengusap kepalanya dan dengan senyum lembut berkata, "Ayo keluar. Luciel boleh jika mau bermain dengan adik bayi, tapi nanti ya ketika sudah bangun. Sekarang adik bayi harus tidur yang cukup."
"Baik, Luciel mengerti ..." jawab Luciel dengan nada bersalah, dia masih beranggapan jika Noah menangis karena perbuatannya.
"Luciel minta maaf, Luciel tidak bermaksud membuat adik bayi menangis ... Tadi ada nyamuk yang hinggap di pipinya, Luciel cuma ingin mengusir nyamuk saja. Luciel tidak akan dimarahi, kan?"
__ADS_1
"Haha," Nisa tertawa kecil, menertawakan betapa polosnya Luciel. "Luciel tidak akan dimarahi kok, niat Luciel kan sudah baik. Adik bayi menangis karena tidak nyaman dengan pokoknya, jadi bukan gara-gara Luciel."
"Sungguh? Tapi tadi Luciel juga berisik ..."
"Bukan salah Luciel, tapi salah nyamuknya. Sekarang sudah musim hujan, banyak genangan air yang jadi tempat bertelur untuk nyamuk. Nanti Kak Nisa akan bilang ke tukang kebun agar memastikan tidak ada genangan air lagi. Sudah ... jangan sedih, ayo ikut Kakak! Kakak punya kejutan untuk Luciel!"
"Kejutan? Apa mami sudah ketemu?" tanya Luciel dengan tatapan berharap.
"Emm ... Luciel nanti akan tahu sendiri," jawab Nisa dengan senyum canggung, dia tidak tega untuk menghancurkan harapan anak itu.
Nisa lalu mengajak Luciel pergi ke ruang tengah, sebelumnya dia telah meminta pada pelayan agar menyiapkan barang yang dia inginkan ditaruh di atas meja. Barang-barang itu berupa tas, sepatu, buku, dan peralatan belajar lain yang super lengkap.
"Nah, ini semua untuk Luciel!" ucap Nisa dengan girang, dia berharap jika Luciel akan menyukai barang pemberiannya.
"Wahh ... Ini banyak sekali, terima kasih! Luciel suka! Tetapi, kenapa memberi Luciel semua ini?" tanya Luciel yang merasa sedikit janggal.
"Mau!" jawabnya tanpa ragu.
"Baguslah." Nisa kemudian berjongkok, memegang kedua pundak Luciel dan menatapnya dengan lembut. "Apa Luciel setuju jika bersekolah di sekolah yang sama dengan Keisha?"
"Luciel setuju, tapi ... mami pernah bilang akan menyekolahkan Luciel sebentar lagi. Luciel ingin menuruti pilihan mami, tapi Luciel juga tidak sabar mau sekolah ... T-tapi, mami sekarang masih hilang. Jadi Luciel tidak bisa sekolah ...."
"Luciel bisa kok bersekolah mulai besok! Kakak punya caranya!" ucap Nisa yang seketika membuat Luciel penasaran sekaligus bersemangat.
"Sungguh!?"
"Iya sayang, caranya ada satu. Yaitu ... Kak Nisa akan menjadi mami angkatnya Luciel!"
__ADS_1
"Mami angkat?" Sejenak Luciel tertegun, setelahnya dia langsung berteriak, "Tidak mau! Luciel tidak mau mami angkat! Luciel cuma mau mami Mayra! Tidak ada yang boleh menggantikan posisi mami!"
"Luciel ... maksud dari mami angkat tidak seperti itu, tapi dengan Kak Nisa menjadi mami angkat maka Luciel akan memiliki wali. Prosedur pendaftaran sekolah memerlukan wali saat tidak ada orang tua," bujuk Nisa yang mencoba meyakinkan Luciel.
"Tidak mau! Kenapa harus ada mami angkat jika mami Luciel masih ada? Luciel masih ingin berjumpa lagi dengan mami Mayra!"
"Tenang dulu Luciel, mami angkat bukan berarti menjadi mami pengganti. Jika nanti mami Mayra sudah ketemu, Luciel masih tetap menjadi anaknya dan bisa kembali bersamanya. Kak Nisa ingin menjadi mami angkat semuanya juga demi Luciel. Jika ingin melakukan apa pun, anak-anak seperti Luciel harus didampingi oleh orang dewasa. Tidak mungkin Luciel bisa sendiri, kan?"
"..." Luciel tidak bicara lagi, tampak kedua matanya yang sudah memerah seperti menahan tangis. "Luciel mau sendiri ...."
Luciel pun berjalan pergi. Sedangkan Nisa, dia paham mengapa Luciel bersikap begitu. Bagi anak sepolos dan sekecil itu, memang sulit menerima seseorang yang belum lama dikenal menjadi sosok ibu baru.
Nisa membiarkan Luciel pergi begitu saja, tentu karena sebenarnya berkas dan surat adopsi resmi telah berada di tangannya. Prosedur adopsi jauh lebih mudah mengingat status luar biasa milik Nisa yang berpengaruh, serta status Luciel sebagai imigran ilegal. Yang dia lakukan barusan bertujuan untuk sekedar memberitahu Luciel.
Di sisi lain, Luciel yang kini perasaannya campur aduk memilih pergi ke halaman belakang sebagai tempat untuk menyendiri. Dia duduk sendirian di bangku, memandangi sekelompok ikan koi yang berenang bebas di kolam dekat sana.
Anak kecil yang selalu tersenyum polos dan tertawa lepas, saat ini hanya tampang suram dan malang yang dia perlihatkan. Hatinya yang bersih mulai merasa bimbang menghadapi kenyataan. Pikirnya, dia bukanlah siapa-siapa di rumah besar dan megah itu.
Luciel juga mulai menerka-nerka, dia terpikirkan oleh telepon dari pria misterius. Apakah benar mami nya sengaja pergi, apakah benar jika dia memang beban. "Mami ... Luciel minta maaf," gumamnya lirih diselingi dengan tangisan.
Anak yang baru berusia 6 tahun itu kini hanya menunduk dan menangis. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasa menjadi seseorang yang tak punya apa-apa. Mami yang menjadi satu-satunya keluarganya kini telah pergi. Sosok yang selalu dia anggap menjadi rumah kini telah hilang.
Hatinya merindukan sosok wanita yang selalu memenuhi hari-harinya. Rindu bagaimana ketika dia dipeluk, dibacakan cerita, dan rindu perasaan di mana mereka berbaring bersama dalam riang dan canda. Sekarang, sosok yang bagaikan dunianya telah pergi, namun anak itu justru menyalahkan diri sendiri.
Luciel, anak yang malang itu mulai berpikir jika dirinya memang hanya sebatas beban. Banyak alasan untuk mami tercintanya meninggalkan dirinya. Entah itu karena dia banyak salah, terlalu menuntut, berkelakuan buruk atau sering menyusahkan.
"Kembalilah mami ... Luciel janji tidak akan nakal lagi ... Tolong jangan buang Luciel seperti ini ...."
__ADS_1