Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Terluka


__ADS_3


"Dia Wanitaku!"


Sejak kalimat itu diucapkan, Chelsea seketika mendapatkan perlakuan yang berbeda dari orang-orang di club. Tak ada lagi yang memandangnya remeh, dan bahkan tak ada lagi yang sengaja mengusiknya termasuk Kaitlyn sekali pun.


Sudah 4 hari setidaknya Chelsea mendapat perlakuan sebagai pegawai yang disegani. Selama itu juga Chelsea juga tak lagi mendapati kunjungan dari Dika yang telah membuatnya jadi begini.


"Hahh ... untuk pertama kalinya aku malas bekerja," gumam Chelsea yang kini masih terbaring di sofa rumahnya.


"Sekarang Luciel sedang apa, ya? Kau baik-baik saja, kan? Mami sangat merindukanmu ...."


Tiba-tiba saja Chelsea bangkit dan menepuk kedua pipinya sendiri. "Tidak boleh! Aku tidak boleh terlalu bersedih seperti ini! Aku harus terus melangkah maju!" ucapnya yang bermaksud menyugesti diri sendiri.


Dia lalu beranjak dari sofa dan menuju ke dapur. Begitu dia membuka kulkas, dia baru sadar jika persediaan bahan makanannya telah habis.


"Hmm ... sepertinya aku harus belanja."


***


"Lepaskan aku!!" teriak Liana sambil meronta.


Liana berkeringat dingin, dia ketakutan lantaran sedang ditahan oleh 3 orang gadis yang berasal dari sekolah yang sama dengannya. Liana tak tahu apa salahnya sampai dia harus dibawa ke gang sempit dan sepi seperti sekarang ini.


"Lepas! Tolong Megan! Suruh teman-temanmu agar mau melepaskan aku!"


"Heh!" Gadis bernama Megan menyeringai, tanpa peringatan apa pun dia langsung mencengkeram pipi Liana.


"Di sekolah kau sok cantik, dan sekarang sok suci seolah-olah tanpa dosa! Apa kau masih belum sadar apa salahmu hah?!" bentak Megan yang teramat gemas terhadap Liana.


"A-aku tak tahu ... aku t-tak merasa pernah menyinggungmu ..." jawab Liana yang kini sedikit kesulitan bicara.


"Kau!!" Megan lantas melepaskan cengkeraman tangannya dari wajah Liana dengan kasar. "Ian itu cowok yang sejak dulu aku incar! Tapi hari ini sekolah ramai dan heboh kalau kau berpacaran dengannya! Aku tak mau tahu, pokoknya besok kau harus putus dengannya!"


"Tidak mau! Memangnya kenapa aku harus menurutimu?! Aku dan Ian sama-sama saling suka! Ian sendiri yang juga menembakku untuk jadi pacarnya!"


PLAK!


Satu tamparan keras dari Megan melayang begitu saja di pipi Liana. Sedangkan Liana, dia yang kini kesakitan hanya menatap Megan dengan tatapan tidak percaya.


"Megan! Kita ini teman sekelas! Kita juga sering belajar bersama, kenapa kamu menamparku?"


"Cih," Megan berdecih kesal. Kemarahannya kini sudah berada di puncak, dia tak tahan lagi untuk menjambak rambut Liana.


"Akhhh! Lepas!"


"Kau pikir belajar bersama berarti kita jadi teman dekat? Dasar tolol! Siapa juga yang mau berteman dengan cewek manja sepertimu! Memuakkan! Bahkan aku mau muntah setiap kali melihatmu sok baik!"


Megan melepaskan jambakannya, lalu kembali berkata, "Alice, Sally! Pegang dia erat-erat!"


"Baik!" Kedua anak buah Megan seketika menahan tangan Liana lebih erat dibanding sebelumnya.


Sedangkan Megan sendiri, tiba-tiba dia membuka kancing baju sekolah Liana. Dia juga mengeluarkan ponselnya lalu mengarahkan kamera ke tubuh Liana.


"Hehe, mampuss kau Liana! Image mu akan hancur dan Ian pasti akan mencampakkanmu!"


"Jangan! Aku mohon jangan lecehkan aku seperti ini! Hentikan Megan!!" teriak Liana histeris ketika Megan mulai mengambil beberapa jepretan.


Megan tersenyum puas saat memandangi layar ponselnya. "Ckck, orang-orang pasti akan terkejut setelah foto ini tersebar! Liana si cewek ramah dan teladan ternyata cuma seorang cewek murahan! Hahaha, aku tidak sabar menunggu kabar kau dikeluarkan dari sekolah!"


"Jangan Megan! Aku mohon jangan!" pinta Liana sambil menangis, berharap agar Megan menaruh simpati dan kasihan kepadanya.


"Percuma kau mau menangis sampai banjir pun aku tidak peduli! Sejak awal aku memang membencimu karena kau sangat menyebalkan! Sekarang aku akan menghancurkanmu, kau akan segera dikeluarkan dari sekolah dan dicampakkan oleh Ian dalam waktu bersamaan! Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui!"

__ADS_1


"Hahaha ... aku tekan ya tombol kirim ini~ Satu ..."


"Jangan!!" teriak Liana sekencang mungkin.


"Dua~"


"Aku mohon!!"


"Ti- ...Eh?!" Tiba-tiba saja Megan berhenti menghitung karena ponselnya dirampas oleh seseorang. Saat dia menoleh ke orang tersebut, Megan melihat seorang wanita dewasa yang berekspresi garang terhadapnya.


"Kembalikan padaku!" teriak Megan sambil mencoba meraih ponselnya, tetapi dia gagal.


"Heh, ternyata menyenangkan juga. Pantas saja saat wawancara aku diberikan tes semacam ini," ucap wanita itu dengan senyum tipis.


Suara wanita itu terdengar tidak asing di telinga Liana, dia yang semula tertunduk lemas dan putus asa seketika mendongak. "Kak Mayra!"


"Sial, jadi kalian saling mengenal! Kalian pikir aku takut?!" tanya Megan dengan pose menantang. "Hei, Tante! Cepat kembalikan ponselku!"


"T-tante ...?" Satu kata itu terdengar sangat menusuk di telinga Chelsea. Rasa kekesalannya terdapat siswi kurang ajar itu semakin besar, dan tanpa peringatan apa pun dia membanting ponsel yang barusan dia rebut dan menginjak-injaknya sampai hancur.


"Bangs*t! Itu ponsel keluaran terbaru! Pokoknya ganti rugi!" teriak Megan tak terima.


PLAK!


Chelsea langsung memberikan tamparan keras ke wajah Megan. "Ini ganti rugi yang pantas kau dapatkan! Cepat minta maaf pada Liana! Maka akan aku lepaskan kalian!"


"Huh, gila namanya kalau aku sudi meminta maaf! Alice, Sally! Bantu aku beri pelajaran ke tante ini!"


"Baik!"


Kedua siswi itu melepaskan Liana begitu saja dan beralih menargetkan Chelsea. Namun sayang bagi kedua gadis kecil itu, belum sempat melakukan apa-apa, Chelsea sudah memukul mereka dan menjegal mereka hingga jatuh tersungkur ke tanah.


Tak berhenti sampai di situ, seolah tak memberikan ruang untuk bergerak, Chelsea langsung beralih meraih Megan. Mencengkeram kerah bajunya dengan kuat serta memojokkannya ke dinding.


"Hisss ..." Megan meringis kesakitan karena punggungnya terbentur dengan keras.


Kedua teman Megan yang ketakutan pun langsung bangkit, dan pergi berlari keluar dari gang sempit itu secepat mungkin. "Maaf Megan! Kami akan cari bantuan!"


"Sial, kedua bedeb*h itu cari alasan untuk kabur!" Megan melotot hingga bayangan punggung kedua temannya tak lagi terlihat.


"Kau sudah lihat sendiri, bukan? Bahkan mereka tak setia padamu. Jujur saja, tindakanmu pada Liana barusan sudah keterlaluan. Apa tidak takut ditangkap oleh polisi?"


Megan tertegun sejenak, sejurus kemudian dia malah melotot kepada Chelsea. "Lapor saja! Aku tidak takut! Aku masih anak di bawah umur! Justru Tante yang akan ditangkap karena kekerasan yang sudah tante lakukan!"


Chelsea menyeringai, kemudian mendekat dan berbisik, "Aku juga tidak takut. Bahkan aku tak segan membunuhmu, hukum tidak bisa menyentuh mafia."


"A-apa?!" Megan membelalak.


"Bagaimana? Kau sudah tahu apa salahmu atau belum? Aku akan melepaskanmu jika kau mau minta maaf pada Liana!" ucap Chelsea penuh penekanan.


"Ukhh ... sial," gumam Megan dengan kesal, tentu saja dia begitu menjunjung tinggi harga dirinya dan enggan meminta maaf pada Liana.


"Cepat minta maaf!" bentak Chelsea sekali lagi.


"Maaf ..." ucap Megan dengan lirih.


"Bilang lebih keras!"


"Kak Mayra ..." panggil Liana sambil mencolek bahu Chelsea.


"Jangan Liana, jangan memohon kelonggaran untuknya!" jawab Chelsea tanpa mengalihkan pandangan matanya.


"Bukan itu, Kak. Tapi ... lihatlah ke sana!"

__ADS_1


Seketika Chelsea melihat ke samping, dia terkejut lantaran kedua teman Megan kembali lagi. Dan mereka membawa 4 orang pria yang tampilannya seperti preman.


Megan memanfaatkan kesempatan untuk kabur di saat perhatian Chelsea lengah. Dia langsung berlari menghampiri gerombolan pria itu. Dan dengan lantang pun berteriak, "Hajar wanita itu sampai mampuss! Aku janji akan membayar kalian!"


"Hehehe, tentu sana Nona~"


Keempat pria itu berjalan mendekat ke arah Chelsea dan Liana. Sedangkan di satu sisi, Chelsea juga sudah dalam posisi siaga.


"Berdiri di belakangku, Liana!" pinta Chelsea. Dan Liana yang ketakutan pun tak ada pilihan lain selain menurutinya.


"Sial," gumam Chelsea dengan alis yang saling mengait.


4 orang, aku tak punya pilihan lain selain melawan. Mungkin ini juga kesempatan bagiku untuk melihat seperti apa hasil latihanku. Hanya saja ... kakiku tak mau berhenti gemetaran, ini pertama kalinya aku mau melawan orang.


"Haha, sepertinya ini akan mudah!" Salah satu pria itu langsung maju, tangannya yang kekar siap melayangkan tinju ke arah Chelsea.


"Datang!" teriak Chelsea yang memberikan aba-aba kepada diri sendiri untuk menghindar. Dan dengan kecepatannya, dia langsung membalas dengan  menendang leher pria itu sekeras mungkin yang dia bisa.


BRUGH ...


Pria itu langsung jatuh terkapar. Sontak saja semuanya terkejut, terlebih lagi Chelsea. Dia sendiri juga kaget dengan efek tendangan yang dia berikan di titik vital pria itu.


"Sial, cepat maju kalian!" teriak sang pemimpin preman.


Dua pria lagi datang untuk menyerbu Chelsea, tetapi dengan cepat mereka juga tumbang lantaran Chelsea menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya. Menghindar lalu menendang di bagian vital, seperti perut dan kelamin mereka.


"Kak Mayra ternyata brutal juga," gumam Liana yang memandang dari kejauhan.


"Dasar jal*ng!" Pemimpin preman itu langsung mengeluarkan pisau miliknya, dia maju dan menyerang Chelsea dengan membabi buta.


CRASH ...


Darah langsung mengucur keluar dari lengan Chelsea. Meskipun dengan kecepatan yang dia punya berhasil menghindar, tetapi karena satu luka yang memberikan rasa sakit itu menyebabkan kecepatannya menjadi berkurang.


"Hati-hati Kak!" teriak Liana yang mulai panik.


Pemimpin preman itu semakin mendominasi, Chelsea yang kini terpojok hanya bisa terus menghindar dan tak memberikan serangan balik.


Sial, aku tidak bisa kalah di sini! Tujuanku masih belum tercapai!


Chelsea memutuskan untuk mengambil cara nekat. Dia menyambut pisau itu, menahannya dengan tangan kosong. Lalu dengan cepat menendang preman itu dengan keras hingga terjatuh. Sebelum dia kembali bangkit, Chelsea tak berhenti dan menginjak tangan pria itu sekuat mungkin.


"Arghhh!!" teriak pria itu kesakitan, mungkin saja tangannya retak atau bahkan patah.


"Tutup mulutmu, bajing*n!" Chelsea kehilangan kendali, dia seperti telah dirasuki iblis dan memukul wajah pria itu bekali-kali sampai tak ada suara teriakan lagi yang terdengar.


Chelsea langsung mendongak, menatap ke arah tiga siswi yang membully Liana.


"Kaburrr!" Ketiga gadis itu langsung berlari menjauh, mereka merasakan kengerian saat melihat Chelsea yang bersimbah darah.


"Kak Mayra!" teriak Liana sambil berlari menghampiri Chelsea. "Kakak berdarah, ayo cepat diobati!"


"...." Chelsea hanya mengangguk, dia tak bicara sepatah kata pun. Seolah-olah setengah kesadarannya telah menghilang, dia masih tidak percaya pada dirinya sendiri dengan apa yang baru saja dia lakukan.


***


Liana berinisiatif mengajak Chelsea pergi ke rumahnya untuk mengobati lukanya. Begitu tiba di rumah, Liana dengan cepat mencari kotak P3K serta membersihkan luka di telapak tangan dan lengan Chelsea.


Gadis itu melakukannya dengan telaten, mungkin karena sebelumnya dia sudah terbiasa merawat luka kakaknya.


KLAK!


Tiba-tiba saja pintu rumah terbuka.

__ADS_1


"Liana, Kakak pulang! Ini kakak bawa ikan bakar untuk- Eh ...." Leon ternganga saat melihat keadaan tidak biasa di ruang tamunya. Termasuk darah, perban, Liana yang berantakan serta Chelsea yang dalam keadaan kacau.


"Apa yang terjadi?!"


__ADS_2