
Marcell dan Nisa yang berperan sebagai Mr Oni dan Miss Holiday diperlakukan dengan hormat. Tak cuma disambut oleh semua eksekutif 12 Shio, bahkan juga dikawal oleh mereka secara langsung.
"...." Nisa melirik sekeliling, sudah lama rasanya dia tidak menginjakkan kaki di kapal ini. Meskipun dia adalah pemegang kekuasaan tertinggi di segala Divisi, dia tak begitu berminat pada bisnis Violent Zone ini. Selain mabuk laut yang jadi salah satu alasannya, ada sebuah alasan lain kenapa dia jarang mengusik tempat ini.
Alasan itu adalah Keyran Kartawijaya, suami sahnya. Keyran sudah tahu semua fakta mengenai Nisa yang terlibat dalam kematian William, bahkan dia sudah mengetahuinya semenjak pernikahan Daniel dan Natasha. Saat itu Keyran berpikir jika kenyataan bahwa istrinya terlibat dalam kematian William Adinata sampai terkuak, maka hal itu juga akan berimbas pada hubungan keluarga Kartawijaya dan Adinata. Itulah mengapa sampai sekarang Keyran tetap tutup mulut.
Meskipun selama ini Keyran menerima identitas tersembunyi istrinya, tetapi dia juga sebisa mungkin membatasi perilakunya. Dia tak mau jika Nisa terlibat lebih jauh, masuk lebih dalam ke kegelapan hingga kehilangan nuraninya. Semua permasalahan antara suaminya ini, masih Nisa rahasiakan dari semua rekan-rekannya.
Dan saat ini, tibalah bagi sang ketua gangster untuk berhadapan kembali dengan seseorang yang menjadi ancaman bagi dirinya. Malam ini adalah malam pertandingan final Violent Zone, yang mana setiap tiga besar dari setiap grup akan memperebutkan juara. Inilah saat-saat yang paling disukai oleh para VIP, bahkan menurut laporan, jumlah VIP yang hadir hari ini meningkat dibandingkan saat malam penyisihan. Meskipun para tamu VIP senang, Nisa merasa bosan.
"Hei, Mr Tiger, kemari!" ucap Miss Holiday seraya memberikan isyarat tangan supaya Mr Tiger mendekat.
"Ya?" Mr Tiger dengan cepat mendekat, dia mendengarkan setiap kata yang dibisikkan oleh Miss Holiday kepadanya. Di balik topengnya, ekspresinya tampak begitu terkejut dengan apa yang dia dengar.
"Kau bisa tidak melakukannya?" tanya Miss Holiday seakan tidak yakin.
"Saya bisa!" Mr Tiger menyanggupi, walaupun sebenarnya dia sedikit merasa keberatan.
"Baguslah, lakukan itu supaya aku tidak bosan! Jika kau kesulitan, alihkan saja tugas ini pada 12 Shio yang lain!"
***
Chelsea menghela napas sembari memandangi pemandangan lautan malam. Sebelumnya dia melihat jika ada sebuah helikopter yang belum lama mendarat, tetapi dia mengabaikan itu. Pikirnya, orang yang berada di helikopter itu akan sama saja dengan para VIP lainnya.
Saat ini dia hanya seorang diri. Pikirannya terlalu dipenuhi oleh kegundahan, masih tak bisa menerima dan percaya perihal apa yang dijelaskan oleh Leon. Hingga sampai detik ini, dia selalu menghindar dan belum menyapa Leon sekali pun.
Chelsea melihat jam yang ada di ponselnya, lantas bergumam, "Sudah selarut ini, sepertinya babak final Violent Zone akan dimulai. Meskipun aku tidak tertarik melihatnya, tetapi jika aku tidak ada di sana, takutnya aku akan membuat orang lain curiga."
Chelsea menyimpan ponselnya kembali, lantas berbalik dan hendak menuju ke arena pertarungan Violent Zone. Namun, baru beberapa langkah yang dia ambil, dia melihat Mr Tiger yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Chelsea yang nada sinis. Dia berpikir jika Mr Tiger ingin membicarakan soal perbuatan buruk yang dilakukan oleh kakaknya lagi.
"Bukan apa-apa, tidak ada sesuatu yang mendesak. Saya kemari karena ingin menjemput Nona secara pribadi, karena di pertarungan final ini, Nona diberikan kehormatan untuk berada di tempat khusus," jelas Mr Tiger yang dari nada bicaranya saja sudah terdengar banyak tipu muslihat.
"Tempat khusus? Tempat macam apa itu?" tanya Chelsea dengan tatapan curiga.
PSYUU ...
Sebuah jarum tiba-tiba saja menancap di lengan Chelsea. Dia yang merasakan itu dengan refleks langsung mencabut jarum yang tertancap di tangannya. Meskipun telah dicabut, sayangnya dia sudah terlambat. Jarum yang mengandung obat bius itu bekerja dengan cepat, membuat Chelsea lemas dan kesadarannya menghilang seketika.
Begitu Chelsea telah sepenuhnya tak sadarkan diri, muncul dua orang awak kapal bertopeng hitam. Kedua orang itu mengangkat tubuh Chelsea bersama-sama.
"Ayo!" ajak Mr Tiger pada kedua orang itu.
__ADS_1
Aku tak berbohong ataupun menipu, aku benar-benar akan membawamu ke sebuah tempat yang khusus. Maaf, aku terpaksa melakukan semua ini padamu. Karena aku juga tak berdaya, dan aku juga masih sayang nyawaku sendiri. Semua ini adalah perintah langsung dari Miss Holiday. Aku tak cukup punya kuasa untuk menentangnya.
Di sisi lain pada saat yang sama. Turnamen final Violent Zone sudah resmi dimulai, para petarung yang tersisa berjuang mati-matian demi memperebutkan gelar sebagai pemenang. Saat ini Leon berada di kursi paling belakang barisan para VIP. Dia sama sekali tidak memperhatikan jalannya pertandingan. Sejak tadi dia terus menoleh ke kanan kiri, memperhatikan sekeliling demi mencari keberadaan Chelsea.
"Di mana dia?" gumam Leon yang mulai merasa khawatir.
Leon memutuskan untuk tidak lagi berdiam diri. Dia keluar dari area utama pertunjukan, dan setelah berada di luar, dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Chelsea.
"Ayolah Chelsea ... angkat teleponmu! Biarpun kau sedang menghindariku, tolong jangan abaikan telepon dariku!" gerutu Leon karena Chelsea tak kunjung mengangkat panggilan telepon.
Berkali-kali Leon mencoba mengulangi untuk menghubungi Chelsea, namun hasilnya juga tetap nihil. "Ck, tidak biasanya Chelsea begini. Apa jangan-jangan sesuatu yang buruk terjadi padanya?"
Seketika pikiran Leon menjadi buyar, menyimpan kembali ponselnya dan meninggalkan area pertunjukkan Violent Zone tersebut. Dia berlarian ke sana kemari demi menemukan kekasihnya, dia juga sudah masa bodoh soal pertunjukkan asalkan bisa memastikan jika kekasihnya baik-baik saja.
Acara akbar tetap dilaksanakan tanpa kendala. Hingga sekitar 15 menit kemudian, hanya tersisa seorang pria yang berdiri di tengah-tengah arena. Darah mengalir keluar dari tubuh yang kekar itu, dia juga menjatuhkan senjata tajam yang telah dipersiapkan oleh pengelola. Kini, semua pesaing sudah mati, pria itu meraung nyaring, seolah binatang buas yang menegaskan jika dirinya adalah seorang penguasa.
"Bruce Gaertner! Penjahat dengan catatan kriminal sengaja membunuh lawan ketika masih menjadi atlet UFC! Pria tangguh ini telah memenangkan turnamen Violent Zone! Selamat kepada para tamu VIP yang telah bertaruh kepadanya!" seru Mr Rabbit dalam bahasa Inggris, selaku pembawa acara.
"Woooo ...!!"
Para tamu VIP semuanya berteriak dan bertepuk tangan. Tak peduli mereka berteriak karena senang telah memenangkan taruhan, atau berteriak karena frustrasi kehilangan banyak uang. Sorak-sorai yang berisik menggema di seluruh penjuru area, sedangkan sang pemenang turnamen, dia segera diajak ke keluar dari arena dan menerima pengobatan yang layak.
Acara Violent Zone telah selesai, tak ada pertarungan berdarah yang bisa ditonton lagi. Mayat petarung yang kalah dan arena pertarungan juga dibersihkan oleh awak kapal. Para tamu VIP yang kalah segera keluar dan kembali ke kabin mereka sendiri dengan penyesalan. Sedangkan para tamu VIP yang memenangkan taruhan yang jumlahnya hanya sedikit orang, masing-masing dari mereka dilayani oleh seorang awak kapal bertopeng hitam, untuk mendampingi mereka dalam mencairkan uang hasil kemenangan taruhan.
Sedangkan di sisi lain, di sebuah sudut yang tak disadari oleh para tamu VIP. Di sudut itu Nisa duduk bersebelahan dengan Marcell, sejak tadi mereka berdua memperhatikan segala yang terjadi di atas arena pertarungan. Meskipun tempat mereka tak terlihat oleh orang lain, sudut pandang dari tempat mereka tampak begitu jelas.
"Ada apa?" tanya Marcell.
"Bukan masalah serius, hanya saja keuntungan yang kita dapat kali ini sedikit menurun dibanding sebelumnya. Aku rasa hal ini karena penampilan calon pemenang tak cukup mengecoh, alhasil tamu VIP yang bertaruh kepadanya jadi sedikit lebih banyak. Tapi sudahlah, solusinya akan aku pikirkan nanti. Ini juga bagian tanggung jawabku sebagai ketua."
Nisa tak mau lagi melihat laporan keuangan yang membuat matanya sepat, dia meletakkan tablet itu ke atas meja yang ada di sebelahnya. Mendadak Nisa melepas topengnya, mengambil sebuah jeruk yang ada di keranjang buah yang memang disiapkan untuknya. Pikirnya, jeruk merupakan buah yang tepat untuk disantap sekarang, demi meredakan rasa mualnya yang muncul karena mabuk laut.
"Tolong!" pinta Nisa sambil menyodorkan jeruk itu pada Marcell.
Marcell menerima jeruk itu, dia paham jika Nisa bermaksud untuk memintanya mengupaskan kulit jeruk tersebut. "Tak aku sangka masih mau meminta tolong padaku, aku kira kau akan jadi lebih mandiri setelah jadi ibu beranak tiga. Ternyata kau masih sama saja, dasar manja."
"Huh, cuma mengupas jeruk tidak ada kaitan dengan kemandirian. Lagi pula aku bukannya manja, aku cuma tak mau merusak kuku jariku yang baru saja manicure," balas Nisa yang mencari pembelaan.
Nisa lalu membuka mulutnya saat Marcell menyuapinya dengan jeruk itu. Hal ini sudah biasa terjadi di antara mereka, sesuatu yang mesra namun tidak melibatkan perasaan. Mau bagaimanapun ada perasaan di antara mereka itu bisa dikatakan mustahil, karena sejak kecil mereka berdua telah tumbuh bersama. Susah dan senang mereka hadapi bersama, rasa persaudaraan di antara mereka begitu kuat. Bahkan mereka juga pernah saling mempertanyakan nyawa untuk satu sama lain.
Hanya saja, Marcell sejak kecil mendapatkan perlakuan yang sedikit berbeda. Hal itu membuatnya menjadi seseorang yang lain. Dia tak punya gairah selayaknya pria normal, dan tak punya ambisi untuk mempunyai kekuasaan. Yang menjadi obsesinya adalah Nisa, karena Nisa adalah langit baginya. Selama dia bisa membuat langitnya tetap cerah, maka dia rela melakukan apa pun untuk mewujudkannya. Itulah mengapa Marcell disebut yang paling setia di antara para Family, karena dia punya rasa pengabdian yang begitu luar biasa.
Ketika Nisa sudah menghabiskan jeruk itu separuh, Marcell tiba-tiba berucap, "Oh ya, ngomong-ngomong apa yang tadi kau perintahkan pada Mr Tiger?"
"Bukan apa-apa, aku hanya memintanya untuk mengatur pertunjukkan tambahan bagiku. Dan tokoh utama pertunjukan nanti tentu saja adalah Chelsea! Aku sedikit bosan, haha ... sekaligus karena aku ingin memberikan dia sedikit pelajaran."
__ADS_1
"Hm? Memangnya pertunjukan apa yang ingin kau atur?" tanya Marcell lagi.
"Sshhh ... diamlah, jangan banyak tanya, oke? Anggap saja ini sebagai kejutan untukmu. Sekarang kau fokus saja suapi aku dengan jeruk itu!"
Marcell tertawa kecil. "Astaga, kau ini ...."
***
"Ughh ...." Chelsea meracau sambil memegangi kepalanya yang pening. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang terakhir kali terjadi padanya. Dan dia ingat betul jika dia dibuat pingsan oleh Mr Tiger dengan obat bius. Selain itu, Chelsea juga menyadari kalau topeng emasnya telah terlepas dari dirinya.
Karena obat bius yang digunakan memang cuma dalam dosis kecil, akibatnya Chelsea tak pingsan terlalu lama. Dia mencoba bangkit dan berdiri, di sekelilingnya saat ini hanya ada kegelapan, sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan selain dirinya.
Hingga, dia melihat sebuah cahaya terang yang asalnya dari ujung ruangan. "Mungkinkah itu pintu keluar dari sini?"
Meskipun dipenuhi oleh keraguan, Chelsea mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk tetap tenang. Dia memutuskan untuk melangkah mendekati cahaya yang terang itu, dia juga penasaran dengan apa yang sudah menanti di sana.
PATS!!
Beberapa lampu sorot langsung menyala terang ketika Chelsea datang. Alangkah terkejutnya Chelsea jika saat ini dia telah berada di dalam arena pertarungan Violent Zone.
"Cek, cek!" terdengar suara seseorang yang mengetes mikrofon.
"Selamat malam Nona Chelsea Almayra Adinata yang terhormat! Karena Anda datang ke kapal ini dengan tujuan yang luar biasa, maka Nona harus mengikuti permainan spesial yang kami siapkan khusus untuk Anda!"
Orang ini lantas memperlihatkan diri, dia adalah salah seorang awak kapal yang memakai topeng hitam. Dilihat dari lagaknya, dia mengambil peran sebagai pembawa acara.
"Permainan macam apa yang kau maksud?!" tanya Chelsea dengan sorot mata penuh amarah, karena dia sudah muak merasa terus-terusan dipermainkan.
"Aihh-aihh~ Aturan permainannya sederhana saja, Nona hanya perlu bertahan dari rintangan yang kami berikan. Dan ... mari kita sambut rintangannya!"
Mendadak muncul orang-orang lain yang memasuki arena pertarungan. Mereka tidak lain adalah para eksekutif 12 Shio. Mereka semua berdiri dengan membentuk formasi mengelilingi Chelsea.
"Sial, jadi pada akhirnya mereka ingin melenyapkanku dengan cara ini!" umpat Chelsea yang seketika memasang posisi waspada. Dia berpikir jika para eksekutif ini semuanya adalah orang yang memiliki kemampuan, tentu saja dia akan kewalahan jika menghadapi mereka semua sekaligus.
"Jika Nona Chelsea bisa bertahan setidaknya 10 menit saja, maka Nona akan dibebaskan! 10 menit akan dimulai saat lonceng berbunyi! Tetapi sebelum itu, mari saya perkenalan semua lawan Nona Chelsea!"
"Di arah jam 1, ada Mr Rat! Lalu Mr Ox! Mr Pig! Mr Monkey! Mr Tiger! Mr Dog! Mr Rooster! Mr Dragon! Mr Horse! Mr Snake! Mr Sheep! Dan yang terakhir Mr Rabbit! Para Mr 12 Shio ini akan menjadi lawan bagi Nona Chelsea! Jangan mati dengan mudah ya! Semoga beruntung!"
TIING!
Lonceng penanda permainan gila ini berbunyi. Dan orang yang permata kali melesat dengan cepat ke arah Chelsea adalah orang dengan topeng naga. Mr Dragon bergerak sangat cepat sampai Chelsea tak mampu berkutik.
"Sial!" umpat Chelsea seraya menyatukan kedua tangan di depan. Membuat pertahanan untuk mengurai dampak serangan yang Mr Dragon lakukan.
"Eh?" Chelsea membuka kedua matanya lebar-lebar. Dia terkejut lantaran Mr Dragon sama sekali tak menyerangnya, dan justru berdiri tepat di hadapannya.
__ADS_1
Mr Dragon melepas topeng naganya, melemparnya dan bahkan menginjak topeng itu hingga hancur. "Majulah kalian semua! Jika ingin melukai wanita ini, langkahi dulu mayatku!!"
"L-Leon ...?!" Chelsea tercengang.