
Hening, sama sekali tidak ada yang bicara. Nisa tidak menyangka jika semua pembicaraannya akan didengar oleh Natasha. Di dalam hati dia juga terus mengumpat, memaki dan menyalahkan Keyran lantaran kenapa bisa dia membiarkan pintu terbuka. Rencananya yang semula ingin merahasiakan fakta mengenai Luciel telah gagal total.
Sedangkan Natasha, dia yang terkejut dengan fakta itu ingin memastikannya sekali lagi. Dia melangkah masuk ke dalam kamar dan berdiri tepat di hadapan Nisa. "Apakah yang aku dengar tadi tidak salah?" tanyanya penuh harap.
"...." Nisa membisu serta memalingkan wajahnya. Mulutnya terasa kelu saat ingin menjawab, dan terlebih lagi dia sangat malas menjelaskan segalanya soal persoalan rumit ini terhadap Natasha.
"Nisa! Aku mohon jawab aku! Luciel benar anakku, kan?!" tanya Natasha lagi sambil mengguncangkan tubuh Nisa. Dia sangat berharap mendapat penjelasan langsung dari mulut kakak iparnya.
"Iya, benar!" jawab Nisa dengan nada kasar seraya melepaskan tangan Natasha dari tubuhnya.
"Jadi benar ... Luciel a-anakku yang hilang ...." Tubuh Natasha gemetar, dia tidak bisa mengendalikan perasaan senang serta harunya. Begitu air matanya menetas keluar, dia langsung berbalik dan berlari keluar dari kamar kakak iparnya.
"Hei, tunggu! Kau mau ke mana?!" tanya Nisa yang hendak berlari untuk mencegat Natasha. Namun sayang tangannya ditahan oleh suaminya.
"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku, Key! Aku harus segera menghalangi Natasha bertemu Luciel! Aku tak mau Luciel direbut olehnya!" teriak Nisa sambil meronta.
"Cukup Nisa! Jangan halangi dia! Natasha lebih berhak atas Luciel!" balas Keyran yang semakin mengeratkan pegangan tangannya.
"Kenapa kau malah membela dia?!" protesnya sambil melotot.
"Natasha itu ibu kandungnya Luciel, Nisa! Dia jelas-jelas lebih berhak daripada kau! Bayangkan saja anak satu-satunya yang kau kira telah tiada ternyata sampai saat ini masih hidup! Luciel sangat berarti baginya! Kau mengalah saja kali ini! Aku tahu kau menyayangi Luciel, tapi ingat jika kau sudah punya anakmu sendiri! Aku tidak mengerti kenapa kau begitu terobsesi ingin memiliki Luciel!"
"Cih!" Nisa berdecih kesal dan memalingkan wajahnya. Dia sedikit kecewa lantaran Keyran sama sekali tidak mau memihaknya. Dan dia lebih kecewa lagi karena rencananya untuk membuat Luciel sebagai penerus organisasi kini sudah berada di ambang kehancuran.
Sial, kenapa jadi berantakan seperti ini? Dan kenapa justru aku yang terkesan seperti penjahat yang mau mengambil semua keuntungan? Ini kan juga salahnya Natasha, tidak mungkin dia tidak sadar kalau rupa Luciel begitu mirip dengan Daniel, otaknya saja yang bodoh karena tidak segara mengambil tindakan.
***
Di sisi lain Natasha telah mengetahui kebenaran soal hubungan sebenarnya antara dia dan Luciel. Dia berlari secepat mungkin menuju ke kamar anak-anak dengan air mata yang tak mau berhenti mengucur keluar. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putranya yang selama ini dia anggap sudah tiada.
BRAKK!
"Luciel!" teriak Natasha setelah membanting pintu kamar dengan begitu keras.
"Tante Natasha sudah kembali? Mana kunci koper mata-matanya?" tanya Keisha dengan tatapan polosnya.
Natasha berjalan melewati Keisha yang mengulurkan tangan padanya. Di matanya kini hanya ada Luciel seorang, dia mendekati Luciel dan tiba-tiba saja memeluknya dengan erat. Bahkan tangisannya kian menjadi lebih deras.
"Tante Natasha kenapa menangis?" tanya Luciel yang kebingungan. Tentu saja dia bingung kenapa Natasha menangis dan memeluknya tiba-tiba di saat dirinya sedang bermain sebagai super hero dengan Keisha.
"Jangan ... Aku mohon jangan panggil aku tante lagi, panggil aku Mama .... tolong panggil aku Mama, Luciel," pinta Natasha dengan suara gemetar dalam isak tangisnya.
"Tidak mau, kenapa Luciel harus memanggil Tante Natasha sebagai Mama? Luciel kan sudah punya Mami Nisa," tanya Luciel lagi dengan tatapan polosnya. Baginya tidak bisa sembarangan saat memanggil seseorang, dan terlebih lagi sosok Nisa yang hadir sebagai sosok ibu sudah mendapatkan kesan mendalam bagi dirinya.
Natasha melepaskan pelukannya, lalu berganti mengusap kedua pipi Luciel dengan penuh kelembutan. "Aku tahu ini sedikit membingungkan bagimu. Tetapi ... Luciel, kau itu adalah anak kandungku. Aku adalah orang tua aslimu. Mama aslimu adalah aku, dan papa aslimu adalah Daniel."
"Tidak mungkin! Luciel tidak percaya! Mami kandung Luciel adalah mami Mayra! Tapi mami Mayra sudah membuang Luciel karena tidak mau Luciel lagi!" bantah Luciel yang tidak mau menerima penjelasan dari Natasha.
__ADS_1
"Siapa Mami Mayra? Apakah dia yang sudah merawat Luciel selama ini?" tanya Natasha yang mulai mencoba untuk mengontrol emosinya. Dia mulai berpikir jernih dan menjelaskan secara pelan-pelan agar Luciel mau mendengarkannya.
Luciel mengangguk. "Iya, mami Mayra adalah orang yang sudah merawat Luciel sejak kecil. Tapi tiba-tiba mami Mayra menghilang. Luciel terpisah dirinya. Dan sekarang Luciel sudah punya mami Nisa yang menyayangi Luciel. Luciel tidak mau punya mami yang lain lagi, Luciel bukan barang, Tante ..." jelas Luciel yang seakan seperti terkesan memohon kepada Natasha agar berhenti berkata jika dia adalah putranya.
"Ah, tunggu sebentar!" Natasha berdiri, dia mendekati sebuah meja di kamar itu yang mana di atasnya terdapat tas miliknya yang sebelumnya memang dia taruh di sana. Dia mengambil ponsel dari dalam tas itu. Lalu kembali pada Luciel sambil memperlihatkan gambar berupa foto seorang wanita.
"Ini mami Mayra! Dari mana Tante Natasha dapat ini? Apa Tante Natasha kenal sama mami Mayra?" Luciel terkejut, terlebih lagi jauh di lubuk hatinya tiba-tiba kembali merasa rindu pada wanita yang ada di gambar tersebut.
"Luciel ... dengarkan aku. Ini adalah foto kakakku, namanya Chelsea. 6 tahun lalu ... dia sudah tewas bersama putra kecilku, Samuel. Tetapi kami tidak pernah menemukan jasad mereka berdua. Sekarang aku yakin! Aku yakin sekali jika kak Chelsea dan Samuel selamat! Dan kau adalah Samuel-ku! Kau putraku, Luciel!" jelas Natasha dengan tatapan berharap.
"Apa itu benar? Tapi mami Mayra pernah bercerita pada Luciel kalau mami tidak punya keluarga. Apa mami Mayra bohong?" tanya Luciel dengan wajah yang mulai memerah, seakan dia bisa menangis kapan saja. Hati kecilnya terasa sakit saat tahu jika selama ini dia telah dibohongi.
"Ayah, Bunda!" teriak Keisha begitu menyadari jika Keyran dan Nisa datang bersamaan ke kamarnya. Dia juga berlari ke arah orang tuanya, lalu dengan polosnya berkata, "Ayah, apa yang sedang terjadi? Kenapa Tante Natasha menangis? Apa benar jika Luciel adalah anaknya tante Natasha yang telah meninggal?"
"Keisha, ini urusan orang dewasa," jawab Keyran sambil menaruh jari telunjuknya di tengah-tengah bibir. Seakan ingin memberi isyarat agar putra kecilnya yang serba ingin tahu itu untuk diam.
"Kendalikan dirimu, Keyran sudah menghubungi Daniel dan ayah mertua. Sebentar lagi mereka akan kemari, dan saat mereka tiba kita bisa bicarakan segalanya," ucap Nisa dengan raut wajah dingin. Dia benar-benar kesal saat membayangkan jika Luciel akan lepas dari genggaman tangannya.
"Mami!" teriak Luciel sambil berlari ke arah Nisa begitu dia membebaskan diri dari Natasha. Sikapnya ini sudah sangat jelas, dia hanya mempercayai Nisa dan beranggapan jika Nisa tidak akan pernah berbohong padanya.
"Iya sayang, mami Nisa ada di sini. Luciel tidak perlu takut pada apa pun, mami Nisa janji akan selalu melindungi Luciel," ucap Nisa seraya mengelus kepala anak itu dengan lembut.
"...." Natasha diam seribu bahasa, entah kenapa hatinya terasa sakit saat melihat putra kandungnya lebih mempercayai orang lain ketimbang dirinya.
***
Keyran, Nisa, Daniel, Natasha dan Tuan Muchtar. Mereka semua saat ini berkumpul bersama dalam suasana tegang di ruang tamu. Sedangkan Keisha dan Luciel, kedua anak yang punya rasa ingin tahu itu dititipkan pada pengasuh. Nisa menekankan agar jangan membiarkan kedua bocah itu keluar dari kamar. Sebisa mungkin buat kedua bocah itu sibuk, bahkan jika mereka ingin bermain dengan si kembar juga diperbolehkan.
Saat ini para tokoh penting di keluarga Kartawijaya telah berkumpul. Akan tetapi, pembicaraan tak kunjung dimulai, itu tidak lain karena Natasha masih menangis dan mengadu pada suaminya dia jika dia benar-benar sangat menginginkan putra kecilnya kembali ke sisinya.
"Tenanglah Natasha ... aku sudah di sini, aku janji akan membuat anak kita kembali ke sisi kita lagi," bujuk Daniel agar istrinya itu menjadi lebih tenang.
"Baiklah, aku mohon padamu ..." jawab Natasha sambil mengangguk pelan.
Natasha, Daniel dan Tuan Muchtar. Ketiga orang itu sama-sama menatap Nisa dengan tatapan penuh kecurigaan. Seolah menuduh Nisa jika dialah dalang dari semua ini.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Memangnya ada yang salah dengan wajahku?" tanya Nisa dengan nada malas. Sejak dulu inilah satu-satunya yang dia tidak suka dengan menjadi istrinya Keyran, yaitu dia harus ikut dalam pertikaian antar konglomerat.
"Nisa, aku akan langsung saja. Apa kau merencanakan sesuatu yang buruk pada Luciel?" tanya Tuan Muchtar dengan tatapan sinis.
"Mana mungkin aku merencanakan sesuatu yang buruk pada anak kecil. Aku sangat menyayangi Luciel. Dan aku sendiri juga baru tahu kebenaran itu hari ini. Justru Ayah mertua yang mencurigakan. Ayah mertua adalah yang pertama kali mengusulkan untuk memindahkan hak asuh Luciel pada Natasha. Apa jangan-jangan Ayah mertua sudah tahu kebenaran ini lebih dulu?" Nisa bertanya balik. Dia tidak mau kalah dalam perdebatan ini.
"Tidak, tuduhanmu itu salah. Aku hanya mengandalkan firasatku, dan aku merasa jika Luciel punya banyak kecocokan dengan Daniel. Jika aku tahu faktanya, maka aku akan secara terang-terangan membawa perkara ini ke pengadilan!" jawab Tuan Muchtar dengan tampang tegas.
"Ayahku benar, kakak ipar! Kaulah satu-satunya di sini yang paling mencurigakan! Kau adalah orang yang menemukan Luciel, lalu tak berselang lama kau langsung mengadopsinya. Bisa saja ini adalah rencana jangka panjangmu! Dan insiden kebakaran 6 tahun lalu juga ulahmu!" seru Daniel sambil menuding ke arah Nisa.
"Jaga kata-katamu! Insiden itu murni kecelakaan! Istriku juga sudah diperiksa oleh polisi dan tuduhanmu itu pada akhirnya juga tidak terbukti!" bantah Keyran.
"Memangnya Kakak tahu apa? Istrimu ini licik, Kak! Bisa saja dia merencanakan semua itu untuk jangka panjang! Dia mengatur kebakaran, menyelamatkan anakku diam-diam. Lalu membesarkannya secara rahasia demi menggunakannya di masa depan nanti untuk mengancamku! Istrimu juga cerdas! Dia pasti juga merasa terancam dengan anakku! Anakku adalah cucu pertama dari keluarga Kartawijaya dan Adinata! Dia pasti ketakutan jika nanti anaknya tidak dapat apa-apa!" bantah Daniel lagi dengan sorot mata penuh keyakinan.
__ADS_1
"Sembarangan, kau pikir aku miskin dan gila harta? Aku masih bisa memanjakan anakku tanpa harta dari keluarga suamiku," celetuk Nisa yang merasa tersinggung.
Sial, berani-beraninya menghinaku. Memang benar kalau aku sebenarnya suka uang, tapi aku tidak masalah punya suami yang tidak kaya. Lagi pula aku ini ketua gangster, aku cukup menggunakan sedikit cara kotor untuk memperoleh kekayaan secara instan.
"Harusnya kalian itu berterima kasih padaku, aku menemukan Luciel kelaparan di jalanan. Aku memberinya sepotong kue saat di bakery, lalu aku membawanya pulang saat dia bilang tidak tahu arah jalan pulang. Dia juga bilang kalau dia lebih sering tinggal di luar negeri, kalau tidak percaya maka silakan cek saja. Kemampuan bahasa inggris Luciel sangat bagus dan tidak kaku. Ini hanya dugaanku saja, mungkin ini ada kaitannya dengan Chelsea yang memalsukan kematiannya," lanjut Nisa lagi seraya menyilangkan kakinya. Tampak jelas jika dia begitu percaya diri dalam perdebatan kali ini.
"Memalsukan kematian?! Maksudmu kakakku yang sengaja pura-pura mati dalam kebakaran saat itu! Tapi jika memang benar, apa tujuannya?" tanya Natasha.
"Mana aku tahu? Kau kan saudaranya, mungkin ini ada kaitannya dengan urusan internal keluarga Adinata kalian. Jika aku jadi kau, setelah membujuk Luciel maka aku akan mengatur pencarian untuk mencari keberadaan kakakmu itu."
"...." seketika semuanya membisu, mereka berpikir jika apa yang dikatakan oleh Nisa ada benarnya juga. Tidak menutup kemungkinan jika Chelsea Almayra Adinata memalsukan kematiannya.
"Heh," Nisa menyeringai. Meskipun rencananya gagal dalam membuat Luciel sebagai penerusnya, akan tetapi dia merasakan sesuatu hal yang menarik. Insting gilanya sebagai gangster mendadak terpanggil.
Ini gila, jantungku mulai berdebar-debar! Aku tidak sabar melihat kejutan seperti apa yang ada di balik semua ini! Mami Mayra yang selama ini Luciel cari ternyata adalah Chelsea! Hehehe, mari mainkan satu permainan lagi! Siapa yang paling cepat menemukan Chelsea maka dia pemenangnya! Dan akan aku kerahkan semua anak buahku untuk mencarinya!
***
"Luciel, kenapa diam saja? Ayo main, Noah dan Nora sangat suka main ciluk ba!" ajak Keisha pada Luciel yang sejak tadi terlihat murung.
"Maaf ya Keisha, saat ini Luciel tidak mau bermain," jawab Luciel sambil menggeleng.
"Kenapa tidak mau?" tanya Keisha.
"Tadi Luciel lihat kalau mami Nisa sangat panik, Luciel takut jika terjadi sesuatu yang buruk."
"Permisi, apa Tuan Muda Luciel ada di sini?" tanya seorang pelayan yang tiba-tiba masuk.
"Ya, Luciel di sini," jawab Luciel yang kemudian menghampiri pelayan itu.
"Tuan Besar ingin bertemu, mari silakan ikuti saya!" ajak pelayan itu.
"Keisha juga mau ikut!" teriak Keisha yang kemudian ikut membuntuti pelayan itu.
"Maaf Tuan Muda Keisha, tetapi Tuan Besar bilang jika beliau hanya ingin bertemu dengan Tuan Muda Luciel," jelas sang pelayan.
"Tapi Keisha ingin bertemu kakek!" ucap Keisha yang bersikeras.
"Sekali lagi maaf," jawab pelayan itu yang kemudian segera pergi sambil mengajak Luciel bersamanya.
"Huaaa ... Kakek tidak sayang Keisha lagi!" Keisha menangis keras, dan pengasuh yang bertugas menjaga si kembar pun langsung menghampirinya untuk membuat Keisha tenang.
Luciel yang dijemput oleh pelayan itu tidak berkata apa-apa. Dia menurut saja saat pelayan itu mengantarnya ke ruang tamu di mana semua orang dewasa berkumpul. Setelah Luciel tiba di sana, Daniel dan Natasha seketika mendekatinya.
"Luciel, kau benar-benar adalah putra kami!" ucap Natasha dengan tangisan bahagia.
"Iya, Luciel. Kami adalah mama dan papa Luciel yang sebenarnya! Malam ini Luciel ikut pulang ke rumah papa, oke?" bujuk Daniel dengan senyuman.
"Tidak mau!" jawab Luciel spontan.
__ADS_1