Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Musuh Sebenarnya


__ADS_3


CKIITTT ...


Chelsea memberhentikan mobilnya begitu tiba di danau. Danau itu adalah danau alami yang sudah mendapatkan sentuhan buatan dari manusia untuk tetap menjaga kelestariannya. Biasanya di hari libur, sangat ramai dikunjungi oleh orang untuk tempat piknik, memancing, atau bahkan sekadar mampir di danau yang bernama Wonder Lake itu.


Di pagi hari ini saat Chelsea mendatangi danau itu, kebetulan lumayan sepi. Dia terus melihat ke kanan kiri demi mencari keberadaan Leon yang telah meminta dirinya untuk kemari. Setelah Chelsea mencari, dia justru melihat Leon yang sedang berada di balik semak-semak.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Chelsea kebingungan.


Leon seketika menengok ke arahnya, dan tanpa peringatan apa pun langsung menarik Chelsea hingga jatuh ke tanah.


"Aww ... Kau ini sebenarnya- Whupp ...!" Seketika mulut Chelsea dibungkam oleh Leon.


"Ssttt! Jangan berisik! Aku sedang mengawasi orang! Awas saja jika kita ketahuan gara-gara kau!" ucap Leon sambil melotot.


"Humm ..." Chelsea mengangguk. Saat ini entah mengapa dia sedikit merasa aneh. Lantaran posisinya dengan Leon kini begitu dekat, bahkan mata keduanya hanya berjarak beberapa inci saja.


Dan begitu Leon melepaskan bekapan tangannya, Chelsea langsung memalingkan wajahnya yang merona. Dia mengambil napas dalam-dalam dan bersiap untuk mengintip sedikit di balik semak-semak itu. Dia penasaran dengan apa yang sedang Leon awasi.


"Eh?" Chelsea terperangah, dia tidak habis pikir jika yang diawasi oleh Leon ternyata adalah 2 orang anak sekolah yang sedang duduk bersama di bangku dekat tepian danau.


"Kau serius mengawasi mereka?" tanya Chelsea seakan tidak percaya.


"Tentu saja! Liana bahkan tidak sempat makan sarapan yang aku buat demi berangkat sekolah lebih pagi! Kukira dia semangat berangkat ke sekolah! Tapi nyatanya justru kencan dengan pacar barunya di danau!"


"Sialan, sialan sekali bocah itu! Dia menghasut Liana agar jadi murid nakal! Mungkin lebih baik aku bunuh saja dia!" gumam Leon penuh kemarahan.


"Jangan bertindak gegabah! Tidak perlu sampai membunuh orang untuk masalah sepele seperti ini! Lagi pula masih ada waktu 5 menit sebelum bel masuk sekolah berbunyi."


"Kau terlalu berpikir positif! Kurang 5 menit dan mereka masih di danau, bukankah itu artinya mereka memang berniat membolos?!"


BREEMMM ....


Tiba-tiba terdengar suara mesin motor yang dihidupkan. Motor itu tidak lain adalah milik pacarnya Liana, dan di satu sisi Liana juga langsung menaiki motor sport tersebut. Juga memeluk dan berpegangan pada Ian dengan erat.


"Ayo sayang! Kita ke sekolah!" ucap Liana yang nada riang.


"Oke, pegangan yang erat sayang!"


"Sudah!"

__ADS_1


Pasangan muda itu pun langsung melaju kencang meninggalkan areal danau. Sedangkan di sisi lain, Leon yang melihat itu semua seakan-akan langsung merasa lemas, letih, lunglai, lesu. Dia tampak seperti orang yang kehilangan semangat hidup.


"Sayang ... dia bilang sayang padanya ... dia tak pernah bilang sayang padaku ... Liana tak butuh aku lagi ...." gumam Leon sambil terus memandangi sisa asap knalpot dari motor Ian yang perlahan sirna.


"..." Chelsea melongo, dia kehilangan kata-kata yang bisa diucapkan untuk mengomentarinya perubahan emosi Leon saat ini. Terlebih lagi, dia juga merasa simpati dan sedikit kasihan kepada Leon yang tampak begitu menyedihkan.


"Ehem! Jangan pesimis, adikmu memang sedang kasmaran. Ini normal ketika seseorang jadi kasmaran saat baru menjalin hubungan. Nantinya dia juga akan bersikap biasa pada pacarnya."


"Benarkah? Memangnya kau tahu dari mana?"


"T-tentu saja aku tahu! Dulu aku dan suamiku juga begitu!" jawab Chelsea asal.


"'Ahh ... begitu ya," ucap Leon yang tiba-tiba tersadar jika wanita di depannya ini memang bergabung demi mencari putranya. Dia pikir jawabannya logis juga saat mengingat dia pernah punya suami.


Di satu sisi Chelsea merasa aneh setelah mengucapkan kebohongan itu. Dia juga merasa lucu telah mengarang kisah cintanya yang bahkan di dalam khayalan pun tidak pernah dia bayangkan. Lalu demi mengubah topik pembicaraan, dia pun berkata, "Oh iya, kau memintaku ke sini untuk apa? Apa hanya demi menunjukkan adikmu yang sedang pacaran?"


"Tidak, tapi aku ingin membahas soal tugas pertamamu. Kak Dika bilang padaku untuk menemani, m-maksudku mengawasimu saat melakukan tugas pertama! Jadi nanti yang harus kau lakukan adalah-"


"Tunggu sebentar Leon!" potong Chelsea.


"Ada apa?"


"Ayo bicara di tempat yang lebih bagus! Aku tidak mau kita terus di sini dan disangka orang sedang mencari belalang."


Kedua orang itu pun langsung berpindah tempat, mereka duduk di bangku yang sebelumnya dipakai oleh Liana dan pacarnya.


"Aku cuma diberitahu oleh kepala divisi jika ditugaskan bersamamu ke DG CLUB untuk menjaga ruang VIP selama seminggu. Sekarang tolong jelaskan lebih lengkapnya agar aku tidak membuat kesalahan!" pinta Chelsea dengan ekspresi serius.


"Baiklah, aku akan mulai dari hal yang paling umum dulu. DG CLUB adalah salah satu cabang dari Divisi 4, ada 3 orang Family yang bertanggung jawab atas Divisi 4. Dan pengelola utama atau bisa kau sebut sebagai pemilik, dia bernama Damar. Kau harus hati-hati saat berhadapan dengannya, dia itu susah ditebak. Kadang dia dengan mudah membunuh orang, dan kadang juga melepaskan orang tanpa alasan."


"Dan jika kau penasaran dengan para Family lain, aku tidak akan memberitahumu sekarang. Nanti saat kau telah melihatnya langsung, aku akan jelaskan pada saat itu. DG CLUB adalah tempat kedua yang sering dikunjungi oleh ketua, tapi ketua lebih suka datang tanpa pemberitahuan."


"Lalu tempat pertama yang sering dikunjungi oleh ketua di mana?" tanya Chelsea penasaran.


"Tentu saja adalah markas utama, dan tempat itu juga tempat Divisi 1 berada. Kita kesampingkan dulu hal itu, semua informasi yang perlu kau ketahui akan aku berikan secara bertahap."


Chelsea mengangguk. "Baiklah, silakan lanjutkan!"


"Kau ditugaskan untuk menjaga ruang VIP. Golongan VIP juga dibeda-bedakan menjadi 2. Golongan pertama adalah VIP yang punya pin putih. Pin yang aku maksud di sini sama seperti pin yang pernah kau gunakan waktu perekrutan. Pemakai pin putih artinya memiliki wewenang penuh, dan hanya para Family yang memakainya!"


"Lalu golongan kedua adalah VIP pemilik pin emas, wewenang pemilik pin ini dibatasi sesuai aturan Club. Biasanya para pemilik pin emas adalah para orang kaya, seperti anak pejabat, anak dari keluarga konglomerat, dan bahkan artis papan atas juga banyak yang berlangganan jadi VIP. Mereka telah membayar banyak demi privasi mereka tidak ketahuan di depan publik."

__ADS_1


"Aku mengerti," jawab Chelsea dengan mengangguk pelan. Tentu saja dia mengerti dengan hal-hal semacam ini, sebelumnya dia adalah seorang direktur utama dari perusahaan entertainment, dia paham betul alasan para pesohor itu melindungi privasi mereka.


"Baguslah kalau kau mengerti. Malam nanti jangan terlambat! Lakukan tugas pertamamu dengan baik!"


***


Malam hari pun tiba. Chelsea dan Leon datang ke DG CLUB untuk melakukan tugas mereka. Sebelum mereka berdua melakukan tugas, seperti prosedur mereka akan berkumpul bersama para penjaga dari Divisi 4 terlebih dulu. Mereka semua akan dibagi dan diberikan daftar nama siapa saja VIP yang malam ini telah reservasi.


"Mayra!" panggil Leon dengan suara pelan.


"Ya?" seketika Chelsea menoleh, dia juga merasa sedikit aneh lantaran baru pertama kali ini Leon memanggil namanya dengan benar.


"Sebentar lagi akan ada Family yang datang menemui kita. Dia bos tempat ini, namanya Damar. Dia akan membagikan tugas dan mengatur di mana posisi kita harus berjaga."


"Baik, aku mengerti!" jawab Chelsea dengan antusias, dia tidak sabar untuk melihat seperti apa rupa seorang eksekutif yang akan dia temui.


TAP TAP TAP ...


Terdengar suara langkah kaki yang kian mendekat. Anggota Divisi 4 serentak membungkuk memberi penghormatan, Chelsea yang menyadari hal itu langsung meniru mereka. Jantung Chelsea juga berdegup kencang, begitu penasaran dengan wajah seseorang yang baru saja datang.


"Angkat wajah kalian!" pintanya.


Suara pria itu seperti tidak asing di telinga Chelsea. Dan begitu mendongak, benar saja bahwa wajah pria itu juga tidaklah asing. Dia benar-benar tidak menyangka jika sosok pria yang pernah menyekap dirinya adalah bos yang harus dia hormati.


Tangannya mengepal sekuat mungkin, perasaan rumit berkecamuk di dalam hati Chelsea. Kembali menginjakkan kaki dan masuk ke dalam club ini saja rasanya sudah menyesakkan, dia tidak habis pikir jika kali ini dia akan bekerja untuk orang yang sama.


Di sisi lain Damar pun mulai membagikan tugas kepada para penjaga itu. Setelah selesai, dia tidak membiarkan Leon dan Chelsea pergi dulu seperti anggota para Divisi 4 yang lain.


"Aku tidak habis pikir si brengsek itu akan mengutusmu untuk mengerjakan pekerjaan sederhana seperti ini," ucap Damar sambil melihat ke arah Leon.


"Saya hanya melakukan sesuai perintah," jawab Leon tanpa mengurangi rasa hormat.


Damar beralih menatap ke arah Chelsea, dia juga menyeringai seakan-seakan sedang menertawakannya. "Ternyata kau ke sini lagi, sebuah kebetulan yang luar biasa. Tapi kau tenang saja, aku tidak akan mengusikmu lagi. Dika bilang jika kau adalah wanitanya."


"...!?" Chelsea dan Leon sama-sama terkejut di dalam kebisuan. Chelsea tak habis pikir jika pria yang dia benci justru mengatakan hal seperti itu di saat sekarang. Mau membantah pun juga tak mampu, dia tidak mau apa yang akan dia katakan justru menimbulkan masalah lain baginya. Akhirnya pun dia memilih untuk tetap diam.


Sedangkan Leon, entah kenapa dia merasa tak nyaman dengan perkataan barusan. Akan tetapi dia juga diam, kuasa yang dia punya belum cukup jika dia mau menyangkal ataupun menanyakan perihal lebih lagi soal itu. Diam-diam juga berpikir, sudah sampai mana hubungan wanita yang dia kenal sebagai Mayra dengan atasannya yang sudah dia anggap seperti kakak sendiri.


Tiba-tiba saja Damar selangkah lagi lebih dekat dengan Chelsea. Lantas mendekat ke telinga dan berbisik, "Maaf telah menyekapmu saat itu. Aku tidak mau mengambil risiko, karena saat itu kau menguping pembicaraan di depan ruangan yang ada ketua di dalam sana!"


"A-apa?!" Chelsea tersentak.

__ADS_1


Ketua?! Jadi di dalam ruangan itu, saat itu juga ketua ada di dalam sana! Dan aku tak mungkin lupa apa yang sudah aku dengar! Yang mereka bicarakan berhubungan dengan kematian kak William! Mereka adalah pembunuh kakakku!


Sialan, jadi ini artinya musuhku yang sebenarnya adalah organisasi gangster yang aku masuki ini sendiri! Dan aku justru bertekad untuk jadi orang kepercayaan ketua! Pembunuh kakakku ternyata dia! Bajing*n semuanya! Sampai batas mana takdir ini akan mempermainkan aku?


__ADS_2