Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Acara Perekrutan


__ADS_3


Waktu yang tersisa untuk acara perekrutan anggota tetap tinggal seminggu, dalam waktu ini para calon anggota semakin menggila. Mereka rela menghabisi nyawa satu sama lain demi berebut kuota yang tersisa. Dan hal mengerikan seperti ini yang memang diharapkan menjadi tontonan menyenangkan bagi para Family. Hanya para kandidat yang terbaik yang akan terpilih.


Chelsea yang menyadari semua ini telah mendapat arahan dari Leon untuk bersembunyi dan berlatih di rumah. Namun dia justru melakukan yang sebaliknya, Chelsea sengaja berkeliaran untuk memancing orang yang memang ingin membunuhnya. Agar dia bisa menjajal kemampuannya sudah berkembang sejauh mana dengan menghadapi pertarungan secara langsung.


Dia baru berhenti dan berdiam diri rumah ketika tinggal tersisa 3 hari lagi sebelum acara perekrutan. Saat malam hari telah larut, tiba-tiba saja Leon datang berkunjung ke rumahnya.


Sikap yang ditunjukkan oleh Chelsea kepadanya juga telah berubah, jika sebelumnya dia tidak pernah mengizinkan Leon masuk ke rumahnya. Kali ini dia dengan senang hati menyambutnya masuk, bahkan juga membuatkan minuman untuknya. Mungkin karena waktu yang telah mereka habiskan bersama, akhirnya kini mereka menjadi lebih dekat. Sayangnya, kedua orang itu masih belum mengakui kedekatan mereka yang selayaknya sudah seperti rekan.


"Ada hal penting apa malam-malam begini?" tanya Chelsea.


Leon tiba-tiba mengeluarkan sebuah benda yang terbungkus rapi. Lalu meletakkannya ke atas meja dan membukanya. Setelah dibuka terlihat sebuah benda kecil, benda itu adalah sebuah pin hitam berbentuk bulat dengan tulisan angka romawi di atasnya. Angka romawi yang ditulisnya mempunyai arti angka 2, yakni mewakili jika itu melambangkan Divisi 2.


"Aku ke sini untuk memberikan benda ini. Kau harus memakainya saat perekrutan nanti, pin ini adalah simbol sebagai tanda anggota. Masih tersisa 3 hari, jangan biarkan seorang pun merebutnya darimu! Atau kau akan kehilangan kesempatan untuk bergabung!" ucap Leon seraya menyodorkan pin hitam tersebut pada Chelsea.


"Baiklah, aku paham. Aku akan menjaga pin ini dengan nyawaku! Tapi, memangnya di mana lokasi perekrutan itu dilakukan?"


"Pelabuhan Barat. Pelabuhan itu ada di wilayah barat kota, dan di sana juga termasuk ke dalam wilayah kekuasaan ketua. Jaraknya cukup jauh dari sini, jadi usahakan tiba di sana jam 10 malam tepat waktu!"


"Begitu ya, sungguh tempat yang tidak terduga." Chelsea terdiam, dan sejurus kemudian tiba-tiba dia berkata. "Oh iya, bagaimana dengan calon lain?"


"Untuk apa kau menanyakannya mereka?" tanya Leon dengan tatapan heran.


"Maksudku itu adalah ... apa calon anggota lain juga sama sepertiku? Diantarkan pin hitam secara pribadi oleh anggota resmi?"


"Tentu saja tidak. Enak saja mereka diperlakukan begitu. Siang tadi kak Dika memberi perintah untuk mengambil pin ini ke Kedai, juga memberitahu mereka di mana lokasi perekrutan akan diadakan. Dengan begitu dia bisa memperkirakan berapa banyak yang masih bertahan dengan menghitung jumlah pin yang diambil."


"Lantas kenapa kau yang mengantarkan ini padaku? Aku kan bisa ambil sendiri."


Seketika Leon memalingkan wajahnya. "Sudahlah, jangan banyak tanya! Kau harus terus latihan, tentu saja tidak punya waktu untuk keluar! Jadi aku berinisiatif mengambilnya untukmu, harusnya kau berterima kasih!"


"Iya-iya ... terima kasih banyak Tuan Leon!"


...Pada saat yang sama...


...•••••...


Nisa kini sedang berada di kamar bayinya. Akhirnya dia sudah bisa bernapas lega ketika kedua bayi mungilnya telah kembali tertidur lelap. Begitu dia membaringkan si kecil ke dalam keranjang, tiba-tiba saja suaminya memeluk erat dirinya dari belakang.

__ADS_1


"Eh?! Sejak kapan kau masuk ke sini?" tanya Nisa yang sedikit terkejut dengan pelukan mendadak itu.


"Sejak tadi ..." jawab Keyran dengan nada pelan, seolah-olah sedang menunjukkan rasa tidak puasnya karena istrinya telah mengabaikannya.


Nisa menghela napas lalu tersenyum tipis, juga menggenggam tangan suaminya yang kini melingkar di perutnya. "Sejak kau pulang dari kantor, kau terus menempel padaku. Katakan, sebenarnya ada apa?"


Keyran membisu, dan Nisa yang tidak tahan pun langsung berbalik. Tetapi saat menatap wajah suaminya, dia melihat wajah yang tampak sendu. "Ayo duduk dan bicara!"


Nisa lantas mengajak Keyran untuk duduk di sofa panjang yang ada di dekat sana. Dan begitu mereka duduk, lagi-lagi Keyran langsung bertingkah dengan menyandarkan kepalanya di pundak istrinya.


"Nisa ... apa anak-anak sudah tidur?"


"Iya, mereka sudah tidur setelah aku membacakan cerita untuk mereka. Untung saja selera Luciel tidak berbeda dengan Keisha, jadi aku tak perlu membacakan dua cerita yang berbeda."


"Baguslah kalau begitu ...."


Keyran tak lagi bicara, Nisa yang menyadari jika ada yang tidak beres langsung mengambil tindakan. Dia merangkul suaminya dengan lembut, kemudian berkata, "Ada apa darling? Jika ada masalah, ceritakan saja padaku."


"Nisa ..." ucap Keyran sekali lagi yang terkesan seperti merengek.


"Hm?"


"Apa kau akan pergi?"


"Iya, besok aku akan pergi ke luar kota untuk perjalanan bisnis. Tapi aku masih tidak rela jika harus meninggalkanmu dalam waktu yang lama ..." keluh Keyran dengan ekspresi semakin sendu.


"Selama itukah? Apa kau akan pergi selama setahun?"


"Tidak, tapi 4 hari."


Seketika Nisa melepaskan rangkulan tangannya. "Cuma 4 hari kenapa kau bertingkah seperti ini?!"


"Tapi bagiku 4 hari itu sangat lama. Selama itu aku akan kesepian, tidak ada kau ataupun anak-anak yang akan menghiburku ...."


Nisa tertawa kecil, memegang kedua pipi suaminya dan berkata, "Key, apa kau tahu? Kau yang seperti ini sangat mirip dengan Keisha ketika sedang merajuk."


"Aku kan memang ayahnya!"


"Haha, iya-iya ... aku tahu." Nisa lalu beralih memeluk Keyran, dan Keyran pun juga membalas pelukan yang hangat itu.

__ADS_1


"Darling, aku juga akan merindukanmu. Tapi kau tidak usah khawatir, percayakan semua yang ada di sini padaku. Tenanglah ... jadi kau bisa fokus pada pekerjaanmu. Lakukan yang terbaik!"


"Aku mencintaimu, Nisa."


"Aku juga mencintaimu, Key." ucap Nisa yang diam-diam menyeringai.


Haha, syukurlah informasi tanggal perekrutan tidak bocor. Susah payah aku menantikan saat ini, aku bahkan sampai mencocokkan data perusahaan demi tahu kapan suamiku ini akan melakukan perjalanan bisnis. Dan besok suamiku akan pergi selama 4 hari, jadi aku akan punya waktu untuk menghadiri acara perekrutan! Aku tidak sabar melihat wajah para anak baru.


SREETTT ...


"Eh?!" Sontak saja ekspresi Nisa berubah. Suara ritsleting yang ditarik barusan terdengar tidak asing baginya. Dia sangat yakin jika Keyran telah diam-diam membuka ritsleting yang ada di punggungnya.


"D-darling ...?"


"Hmm ..." Keyran tak menjawab, dan justru malah memberikan kecupan di leher Nisa.


"Apa kau serius?" tanya Nisa yang mulai gugup.


"Tentu saja, bukankah kau harus memberikan tenaga cinta agar aku semangat bekerja? Jika aku terlalu merindukanmu, bagaimana aku bisa fokus?"


"T-tapi apakah harus dilakukan di sini? Tidak bisakah di tempat lain? Bagaimana jika nanti si kembar bangun?"


"Ya sudah, kau tinggal tidak perlu berisik seperti biasanya."


"Hei, itu tidak- Uhmm ...!?" Perkataan Nisa seketika terhenti lantaran Keyran membungkam mulutnya dengan mulutnya sendiri.


Meskipun Nisa bermaksud melawan, tetapi untuk yang ke sekian kalinya dia tetap gagal. Walaupun dia seorang ketua gangster yang punya kemampuan, namun ciuman ganas dari suaminya mampu membuatnya luluh. Lagi-lagi dia tak kuasa melawan suaminya yang begitu mendominasi.


***


Waktu terus berlalu, hari di mana acara perekrutan dilaksanakan pun telah tiba. Chelsea sudah bersiap dengan segala yang diperlukan, bahkan dia tiba di pelabuhan lebih awal.


Pelabuhan yang didatangi adalah sebuah pelabuhan yang sudah lama tidak digunakan. Pelabuhan itu merupakan kawasan mati, jika dibandingkan dengan kawasan industri di sekitarnya yang masih beroperasi. Faktor lain yang membuat pelabuhan itu menjadi terbengkalai adalah akses yang belum lengkap.


Di luar dugaan dari Chelsea, area pelabuhan telah sepenuhnya berada dalam kendali yang terorganisir. Bahkan begitu dia datang, hanya dengan mengandalkan pin hitam, sudah ada orang yang mengarahkannya untuk berkumpul bersama para calon anggota lain di sebuah tempat.


Mereka semua kompak mengenakan pakaian serba hitam. Dan ada seorang anggota resmi yang mengatur posisi mereka dalam membentuk barisan. Orang-orang itu didominasi oleh pria, ada beberapa wanita lainnya yang berada di dalam barisan divisi lain. Sedangkan untuk Divisi 2, hanya Chelsea seorang yang merupakan wanita. Tatapan diskriminasi juga tak henti-hentinya tertuju padanya.


"Huh," Chelsea mengerutkan kening, dia sesekali juga menengok ke kanan kiri yang dipenuhi oleh kontainer. Rasanya dia sudah tidak sabar menunggu lebih lama lagi acara dimulai.

__ADS_1


Sebentar lagi, sebentar lagi maka aku akan bisa melihat seperti apa rupa orang yang berada di puncak semua ini! Aku tidak sabar untuk melihat iblis seperti apa dibalik semua kegilaan ini.


__ADS_2