
Chelsea melongo, dia tidak menyangka jika Leon datang malam-malam ke kamarnya dan beralasan untuk mengajaknya jalan-jalan. "Memangnya kau mau mengajakku jalan-jalan ke mana?"
"Percaya saja padaku, aku tidak akan mengajakmu ke tempat yang aneh-aneh! Cepat ambil jaketmu dan kita berangkat!" pinta Leon
"Iya-iya ... oke!" Chelsea lalu mengambil jaketnya, dia melakukannya dengan kesal meskipun sebenarnya juga merasa penasaran ke mana Leon akan membawanya.
Setelah mereka berdua keluar dari gedung hotel, Leon mengajak Chelsea untuk menaiki mobilnya dan menuju ke suatu tempat. Dan kali ini juga tidak ada perbincangan di antara mereka selama di perjalanan.
Siapa sangka, ternyata tempat yang Leon datangi adalah sebuah area yang sangat padat. Rumah-rumah kecil yang tampak sudah tak layak huni terlihat tidak beraturan ada di mana-mana. Bahkan kios dan toko-toko kecil yang ada di sana juga terlihat begitu sepi dan tampak kotor, banyak sampah yang berserakan di sepanjang jalan.
Tembok yang penuh dengan coretan cat, sarana dan prasarana yang tampak tidak memenuhi standar. Semua hal itu semakin membuat kawasan tersebut termasuk ke dalam pemukiman kumuh yang berada di tengah-tengah kota besar.
"Aku tidak habis pikir kau cuma mengajakku berputar-putar tidak jelas di jalanan kumuh ini. Apa ini yang namanya jalan-jalan yang kau maksud?" tanya Chelsea dengan tatapan heran.
"...." Leon tak menjawab, lalu tiba-tiba saja dia memberhentikan mobilnya di tepi jalan yang cukup gelap.
"Eh? K-kau mau apa? Kenapa mendadak berhenti?" tanya Chelsea lagi yang kini pikirannya sudah membayangkan bermacam-macam hal buruk yang mungkin saja akan Leon lakukan padanya. Suasana keadaan sekitar yang sepi semakin membuatnya merasa gugup dan takut.
"Ini adalah daerah kota S Distrik Timur 12, di tempat inilah besok kita akan ditugaskan. Jadi kau jangan berpikir jika jalan-jalan yang aku maksud adalah jalan-jalan yang menyenangkan! Tapi jalan-jalan yang maksud adalah mengobservasi tempat yang akan kita tangani nanti!" ucap Leon yang seketika membuyarkan semua pikiran negatif Chelsea.
"Ohh ... begitu ya," jawab Chelsea dengan nada canggung.
Setelah Chelsea berhasil mengendalikan pikiran dan perasaannya kembali, dia pun berkata, "Ehmm ... tapi bukannya tugas kita itu adalah melakukan pengawalan untuk pak Kepala Dewan Parlemen? Lalu apa hubungannya tugas pengawalan kita dengan tempat kumuh ini?"
"Apa kau tidak ingat dengan janji yang pak Dewan sebutkan saat kampanye?"
"Tidak ingat dan tidak pernah tahu," jawab Chelsea sambil menggeleng.
Leon menepuk jidatnya sendiri. "Astaga, kau benar juga. Aku lupa kalau kau adalah seorang imigran, wajar saja jika kau tak tahu."
"Memangnya apa yang pak Dewan janjikan?"
Leon menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah, sepertinya kali ini pun aku harus menjelaskan semuanya. Salah satu janji yang pak Dewan Parlemen katakan sebelum dia terpilih adalah membangun ulang kota S Distrik Timur 12 ini. Dan bukankah kau sudah lihat kondisi tempat ini seperti apa?"
"Yaa ... sepertinya masih banyak orang yang enggan meninggalkan tempat ini," jawab Chelsea dengan tampang sedikit bingung.
"Itulah poin pentingnya! Orang-orang ini masih bersikeras tidak mau pergi, dengan begitu jadwal pembangunan jadi ditunda terus. Jika sudah begini, maka janji pak Dewan akan dipertanyakan. Dan bukankah ini jadi sebuah masalah serius bagi pak Dewan? Dan posisinya akan terancam dalam bahaya, kan?"
"Kau benar, itu akan berbahaya. Tapi, aku masih tidak mengerti apa hubungannya semua ini dengan tugas pengawalan kita?" tanya Chelsea lagi.
"Menyingkirkan semua ancaman yang membahayakan klien, ini juga bagian dari tugas pengawalan! Inilah tugas kita, jadi pastikan saja jika kau tidak kelewat batas! Kitalah yang harus mengerjakan semua ini, agar tangan pak Dewan bisa tetap sebersih mungkin! Jadi, apa kau sudah paham apa tugas kita yang sebenarnya?" tanya Leon dengan tatapan serius.
"Ya, aku sudah paham. Terima kasih atas penjelasanmu," jawab Chelsea yang kemudian menundukkan kepala.
Jadi seperti ini ya, pada akhirnya aku akan melakukan hal kotor seperti gangster yang pada awalnya selalu aku pikirkan. Bekerja untuk orang penting dan menyakiti orang-orang kecil yang tak punya kekuasaan.
__ADS_1
Tapi seperti inilah realitasnya, orang-orang yang tidak tinggal di tempat ini akan merasa senang karena daerah kumuh ini akan menghilang dan dibangun ulang menjadi area industri yang super nyaman. Dan para pengusaha yang berbisnis dengan pemerintah pun juga akan diuntungkan, harga awal tanah untuk area pengembangan ulang akan lebih murah.
Sedangkan para penghuni Distrik yang kumuh ini akan menderita, mereka dipaksa meninggalkan tanah milik mereka sendiri. Mungkin akan lebih baik jika ganti rugi yang diberikan memang layak, tetapi dalam kasus kali ini ... besar kemungkinannya jika nilai ganti rugi yang diberikan jauh dari kata cukup. Mau berpindah dari Distrik yang kumuh ini pun tak menjamin jika kehidupan mereka akan lebih baik.
"Mayra!" panggil Leon tiba-tiba.
"Ya?" Chelsea mendongak, dia heran lantaran Leon sedang menyodorkan sebuah paper bag kecil di hadapannya. "Apa ini?"
"Itu ... oleh-olehku dari luar negeri," jawab Leon sambil memalingkan wajahnya yang kini sedikit tersipu.
Chelsea menyeringai dan langsung merampas paper bag itu. "Nah, begini baru yang namanya rekan! Haha, untung kau kembali dari tugasmu di sana dengan selamat!"
Chelsea membuka kantong kertas itu begitu saja, dan ternyata isinya adalah sebotol parfum dari merk terkenal. Chelsea yang dulunya adalah seorang nona besar tentu saja sudah hafal dengan barang-barang bermerek yang ternama seperti parfum ini. "Wahh ... jadi kau baru kembali dari Paris!"
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Leon seakan tak percaya.
"Huh, tentu saja aku tahu! Kau saja yang selama ini terlalu meremehkan aku! Terima kasih atas oleh-olehnya! Dengan sogokan ini maka aku sudah tidak kesal lagi padamu!"
"Kau kesal padaku?" Leon menatap linglung.
"Iya! Kesal, sangat kesal! Padahal kau tahu jika kau itu satu-satunya rekanku! Cuma kau yang bisa aku percayai! Tapi belakangan ini sikapmu jadi lain, saat mau berangkat ke luar negeri tidak memberitahuku, saat kembali juga tidak mengabari. Dan saat bertemu kau justru bersikap ketus padaku! Memangnya siapa yang tidak kesal jika diperlakukan seperti itu?!" keluh Chelsea yang kini melampiaskan semua rasa kekesalannya.
"Haha ...." Leon hanya tersenyum canggung dan kembali memalingkan wajahnya.
Semua itu aku lakukan tentu saja karena aku memang mau menjauh dan menjaga jarak darimu. Tetapi, semakin dilakukan entah kenapa rasanya semakin tidak bisa. Lagi pula berhubungan seperti ini tidak masalah, kan? Toh cuma hubungan sebatas rekan. Sepertinya tidak apa-apa jika aku dekat dengan rekanku sendiri.
"Ah, setelah ini kita langsung kembali ke hotel! Cepat tidur dan besok pagi kita harus ke Distrik Timur 1 untuk menghadap pada pak Dewan!"
"Baik, aku mengerti."
"Jangan cuma mengerti! Kita harus datang tepat waktu dan tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun! Besok kau juga harus bersikap hormat dan patuh padanya! Soalnya pak Dewan adalah salah satu dari sembilan Family, dan dia termasuk bagian dari Divisi 4!" ucap Leon penuh penekanan.
"A-apa?! Pak Kepala Dewan Parlemen adalah salah satu Family?! Kau serius?" tanya Chelsea seakan tidak percaya.
"Tentu saja, toh tidak ada gunanya aku berbohong padamu. Jadi karena alasan ini juga kita harus bekerja dan menjalankan tugas sebaik mungkin!"
"...." Chelsea membisu, dia kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan betapa terkejutnya dia sekarang.
Bahkan orang sepenting Kepala Dewan Parlemen termasuk ke dalam jajaran para Family. Aku tidak bisa membayangkan seberapa besar pengaruh yang dimiliki ketua sampai bisa mengumpulkan orang-orang tidak masuk akal seperti ini.
"Leon, dari yang aku tahu selama ini ... Divisi 4 adalah DG CLUB dan Family yang bertanggung jawab adalah bos Damar. Sekarang kau bilang jika seseorang dari pemerintahan juga termasuk ke dalam Family Divisi 4. Sebenarnya Divisi 4 itu untuk apa? Dan apakah masih ada Family lain lagi?" tanya Chelsea penasaran.
"Ya, kau benar. Memang ada seorang Family lagi yang tergabung ke dalam Divisi 4. Dia adalah Faris, sang pengacara kondang," ucap Leon yang lagi-lagi membuat Chelsea terperangah.
"Baiklah jika kau masih bingung, akan aku terangkan setiap Divisi bertanggung jawab atas apa saja. Pertama adalah Divisi 4, Divisi ini bisa disebut sebagai Divisi pelayanan. Lalu kegiatan utama dari Divisi ini adalah membaur dengan publik tanpa terkecuali. Kemudian Divisi 3, Divisi ini bisa disebut sebagai Divisi cyber. Masalah apa pun yang berkaitan dengan cyber akan ditangani oleh Divisi 3."
"Selanjutnya adalah Divisi kita, Divisi 2! Divisi kita bisa disebut sebagai Divisi sumber daya, artinya di dalam Divisi 2 terdapat banyak orang-orang yang punya kemampuan bertarung yang mumpuni. Jadi jangan heran lagi jika kita sering ditugaskan untuk menjalankan tugas ke Divisi lain. Dan yang terakhir adalah Divisi 1, Divisi ini bisa disebut sebagai Divisi umum. Dan Divisi 1 merupakan Divisi yang paling sering diperhatikan oleh ketua kita secara langsung. Apa sampai sini kau sudah paham?"
__ADS_1
"...." Chelsea hanya mengangguk, informasi yang dia dapatkan kali ini jauh lebih mencengangkan dari yang selama ini dia pikirkan.
Sial, aku tidak mengira jika organisasi ini begitu berkuasa. Sampai sejauh ini menurutku mereka sudah bisa mengendalikan segalanya. Pertama, pemilik tempat hiburan semacam night club. Lalu orang yang menerima jasa pembunuhan. Kemudian aktor sejuta umat, dan kini ada juga Dewan Parlemen serta pengacara kondang yang terlibat.
Harus aku akui jika ketua memang seorang genius yang bisa membuat orang-orang ini jadi bawahannya. Dan sekarang aku juga harus lebih berhati-hati lagi, musuhku ini adalah organisasi yang punya kekuasaan begitu besar. Salah sedikit sama maka aku akan tamat.
Pokoknya besok aku harus menunjukkan yang terbaik di hadapan pak Dewan Hendry. Meskipun aku disuruh melakukan hal kotor, meskipun aku harus melawan nuraniku sendiri, aku harus tetap bertahan demi tujuanku membalas dendam.
***
Hari berganti, sesuai yang telah direncanakan maka pagi ini Chelsea dan Leon bersama-sama pergi ke daerah kota S Distrik Timur 1. Berbeda halnya dengan Distrik Timur 12, di Distrik Timur 1 sudah banyak berdiri gedung-gedung industri dan yang lainnya seperti halnya sebuah daerah yang maju.
Tempat yang didatangi oleh Chelsea dan Leon adalah sebuah villa besar bergaya ala eropa yang didominasi oleh cat berwarna putih. Villa itu tidak lain adalah aset pribadi milik Kepala Dewan Parlemen saat ini, yaitu Hendry.
Villa itu dipenuhi oleh para pengawal yang berjejer dengan rapi. Sedangkan Chelsea dan Leon, mereka berdua ditempatkan bersama anggota yang lain dan sekarang mereka semua sedang berdiri rapi menghadap kepada Hendry.
"...." Chelsea terdiam, sejak tadi dia hanya terpaku. Masih sulit mempercayai jika orang yang sangat berpengaruh seperti Hendry adalah seorang petinggi gangster.
Hendry yang berpakaian rapi tiba-tiba berdiri dari kursi, lantas menatap ke arah semua orang-orang yang sudah siap mendengarkannya. Sekilas dia juga sangat menaruh perhatian kepada Chelsea, lantaran dia satu-satunya wanita yang bertugas untuk saat ini.
"Aku rasa kalian semua sudah paham mengapa kalian dikumpulkan di sini! Distrik Timur 12, kalian semua akan menangani daerah itu agar tidak menyebabkan masalah bagiku!"
Tiba-tiba Hendry menyeringai. "Menurut kalian apa hal yang paling penting dalam politik?"
"...." Tak ada satu pun dari para pengawal yang menjawab.
"Tentu saja itu adalah dasar yang kuat! Jadi, menurut kalian apa dasar yang cocok untuk semua ini?" lanjut Hendry lagi.
"...." Lagi-lagi tak ada yang menjawab.
"Kebanyakan berpikir jika dasar itu adalah pendapat publik! Tapi, publik itu bagiku cuma sekadar sekelompok semut! Jika melempar permen atau sesuatu yang manis seperti janjiku, mereka para semut itu akan langsung menyerangnya tanpa pikir panjang!"
"Dan jika melempar sesuatu yang pahit, mereka tidak akan melihatnya dan langsung berpaling karena tidak menarik. Dan ini artinya, pendapat publik tidak cukup stabil jika dijadikan sebagai dasar yang kuat! Lalu, apakah kalian tahu apa yang stabil untuk dijadikan dasar?"
"...." Sekali lagi masih tidak ada yang bersuara di antara mereka.
Hendry tersenyum sinis, lantas kembali duduk di kursi mewahnya yang begitu spesial. "Jawabannya adalah mayat! Bangkai dari sekelompok semut!"
"Injak semut-semut itu sebanyak yang kalian bisa! Lalu kumpulkan bangkainya dan tumpuk setinggi mungkin. Gunakan bangkai semut-semut itu sebagai dasar! Semut yang bertahan hidup akan senang karena jatah bagian makanan manis mereka bertambah! Dan semut-semut yang mati akan membuatku tetap duduk kokoh karena mereka tidak bergerak!"
"Jadi, jika masih ada yang menghalangi proyek pembangunan ulang ini! Singkirkan dan injak saja semut-semut itu!"
"Baik!" jawab para pengawal.
"...." Chelsea membisu, namun di dalam kebisuannya ini, diam-diam dia mengepalkan tangannya sekuat mungkin.
Sialan, baru kali ini aku mendengar kata-kata sekejam ini. Padahal jika di depan wartawan dia selalu tersenyum ramah. Kali ini aku benar-benar melihat sosok tirani.
__ADS_1