
"Uuhh ...." Luciel terbangun dari tidurnya, sudah terbiasa baginya bangun dalam keadaan tanpa kehadiran Chelsea di sampingnya.
"Mau pipis ...."
Karena letak kamar mandi yang terpisah, Luciel pun keluar dari kamarnya. Begitu selesai melakukan apa yang dia mau, dia baru sadar jika sekarang baru jam 4 pagi.
"Masih gelap, tapi Luciel tidak bisa tidur lagi ...."
"Ah, mami sudah belikan buku persiapan sekolah! Lebih baik Luciel belajar saja biar tambah pintar!"
Bocah polos itu kembali ke kamar, dia tampak sangat antusias karena gemar belajar. Luciel memang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata, di usianya ini dia sudah bisa membaca, menulis dan berhitung bilangan sederhana.
Buku yang terakhir kali diingat ditaruh di nakas tidak ada. Luciel mencari-cari ke segala sudut kamarnya, namun tak kunjung ketemu juga.
"Di mana buku itu? Apa mami membereskan kamar lalu menaruhnya di tempat lain? Lebih baik tanya saja pada mami!"
Luciel segera berlari keluar kamar dan menuju ke kamar Chelsea. Tetapi, saat tiba di depan pintu tiba-tiba dia ragu.
"Umm ... mami pasti sedang tidur, Luciel tidak mau mengganggu mami. Pasti mami kelelahan karena sudah bekerja. Mami sangat sayang Luciel, jadi Luciel tidak boleh membangunkan mami!"
Sungguh anak kecil yang tidak egois dan pengertian. Dia tahu betul jika biasanya ibunya baru pulang ketika jam 3 pagi. Luciel pun mengurungkan niatnya dan kembali ke kamar, beralih untuk membaca buku cerita bergambar yang biasanya dibacakan oleh Chelsea sebagai dongeng pengantar tidur. Dan tanpa terasa ketika sampai di pertengahan cerita, Luciel tertidur menindih buku itu.
Luciel kembali terbangun saat mentari telah bersinar hangat.
"Humm ... Jam 9? Luciel tidak boleh jadi anak pemalas!"
Luciel segera berlari keluar kamar, tetapi kali ini dia merasa ada sesuatu yang berbeda. Biasanya di jam-jam seperti ini terdengar suara berisik dari dapur ketika ibunya memasak, namun kali ini suasana rumah itu sunyi senyap.
"Mami masih tidur, ya?"
Karena merasa tidak biasa akhirnya Luciel pergi ke kamar Chelsea dan mengetuk pintu.
"Mami! Bangun mami!"
Masih tak ada gerakan atau suara apa pun, Luciel yang mulai ragu memutuskan untuk membuka pintu. Dia terkejut saat melihat jika ibunya tidak ada di sana.
"Mami?!"
Luciel mulai panik, mengelilingi rumah dan terus berteriak, tetapi tetap tidak ada yang menyahut. Dia pun terpikirkan untuk memeriksa rak sepatu.
"Sepatu yang mami pakai untuk kerja tidak ada, artinya mami belum pulang! Tapi mami tidak mengabari Luciel!"
Bocah itu berlarian ke sana kemari, kali ini dia kembali ke kamar. Membuka sebuah laci dan mengambil sebuah ponsel di sana. Luciel memang jarang bermain ponsel, ponsel itu ditinggalkan oleh Chelsea untuknya seandainya ada hal mendesak yang terjadi. Tentu saja Chelsea membuat aturan itu demi membuat Luciel jadi disiplin.
Nomor yang tertera di kontak telepon hanya nomornya Chelsea. Luciel pun tanpa ragu langsung menghubungi telepon itu. Panggilan pertama tersambung namun tidak diangkat, hingga percobaan ke-3 kalinya akhirnya telepon itu diterima.
"Mami!" teriak Luciel kegirangan.
"Ini bukan mami," terdengar suara serak dan berat yang asing di telinga Luciel.
"Siapa kamu?! Mami di mana?! Berikan teleponnya ke mami!" Luciel panik, dia langsung teringat akan kata-kata Chelsea yang selalu bilang jika semua pria dewasa adalah orang jahat.
__ADS_1
"Diamlah bocah! Mami-mu tidak mau bicara denganmu!"
"Bohong! Orang jahat suka berbohong! Luciel mau bicara dengan mami!"
"Dia sudah muak denganmu! Bocah sepertimu cuma beban baginya! Lebih baik kau pergi saja jauh-jauh dari hidupnya! Mami-mu tidak akan pulang! Dia sudah bahagia denganku!" teriak pria tak dikenal itu yang kemudian langsung menutup telepon.
TUT TUT ...
"Itu pasti orang jahat! Mami dalam bahaya!"
...PADA SAAT YANG SAMA...
...••••• ...
Di sebuah ruangan bawah tanah yang gelap, seorang pria tersenyum sinis sambil memegang sebuah ponsel yang bukan miliknya. "Heh, rasakan! Keluarga kecilmu kena imbasnya!"
Pria itu kembali meletakkan ponsel tersebut ke atas meja yang di atasnya juga terdapat tas dan barang-barang lain. Kemudian dia beralih menatap seseorang di sampingnya. "Apa ini sudah semua?"
"Sudah, Bos! Ini semua barang-barang milik wanita itu yang saya temukan di lokernya! Apakah perlu disingkirkan?"
"Simpan saja, aku mau menemui wanita itu dulu!"
Pria misterius itu berpindah ke ruangan lainnya yang masih berada di area bawah tanah. Di ruangan itu sudah ada Chelsea yang terikat di kursi, dengan sebuah karung kain berwarna hitam yang menutupi kepalanya.
Tiba-tiba saja pria tersebut melepaskan kain penutup itu dan tersenyum miring sambil berkata, "Hai~"
Pandangan mata Chelsea buyar, perlahan-lahan dia bisa melihat dengan jelas seperti apa rupa pria yang telah menyekapnya. Dia juga ingat betul jika pria tersebut adalah pria yang sama yang telah membuatnya pingsan.
"Usaha yang sia-sia," ucap pria itu dengan tampang mengejek.
"Aku mohon lepaskan aku! Aku tak berbuat salah apa pun!"
"Tidak berbuat salah katamu?!" Pria itu tiba-tiba marah dan mencengkeram erat pipi Chelsea. "Kau sudah melanggar peraturan dan bahkan menguping pembicaraan para VIP! Cepat katakan, katakan siapa yang menyuruhmu untuk menyusup kemari!"
"Huh, memangnya kau siapa sampai aku harus menjawab pertanyaanmu?" tanya Chelsea dengan tatapan tajam.
"Kau ...! Aku peringatkan, aku tak segan-segan memukul wanita! Cepat katakan atau kau akan mati!" ancam pria itu yang mulai kehabisan kesabaran.
"Tidak ada yang menyuruhku! Dan aku bukan suruhan siapa pun! Apa kau puas?!"
Pria itu melepaskan cengkeraman tangannya. "Ohh ... kau pikir aku bodoh? Lantas kenapa kau berkeliaran di area VIP?"
"Aku hanya melakukan perintah! Nona Kaitlyn membuat pengecualian untukku, dia menyuruhku mengantarkan minuman pesanan para VIP!"
"Kaitlyn ...." Sejenak pria itu tertegun, sejurus kemudian dia berkata, "Apa saja yang kau dengar saat itu?"
"Sesuatu mengenai bisnis, aku tidak paham dengan hal semacam itu. Jika aku paham harusnya aku jadi pengusaha, bukan jadi bartender!"
Agar dia tidak terlalu curiga, lebih baik aku tak sepenuhnya berbohong. Aku akan mengatakan sebagian yang aku tahu, tetapi aku juga akan berpura-pura bodoh. Aku sudah tahu sebagian fakta mengenai kematian kak Liam, aku harus keluar dari situasi untuk balas dendam!
"Tuan, apakah kau pemilik dari club ini?"
"Bukan!" jawab pria itu secara spontan.
__ADS_1
"Kalau begitu bilang sana ke bosmu! Bilang padanya jika aku hanya menjalankan tugas, aku sama sekali bukan penyusup!"
Pria itu menyeringai. "Heh, justru bosku tidak boleh sampai tahu jika ada masalah seperti ini. Sepertinya Kaitlyn kurang benar dalam menilai orang, sekarang aku akan menilaimu sekali lagi! Aku akan berikan beberapa pertanyaan, jika kau bohong maka jangan harap bisa keluar dari sini hidup-hidup!"
"Baiklah, tanya saja!" Chelsea memberanikan diri, meskipun sebenarnya dia gugup karena sangat khawatir jika pria yang ada di depannya saat ini adalah seorang mafia berdarah dingin.
"Pertanyaan pertama, siapa nama aslimu?" tanya pria itu.
"Mayra! Dan jujur saja, aku melamar pekerjaan di sini demi lari dari masa laluku."
"Oh, masa lalu seperti apa?"
"S-suamiku dibunuh karena alasan yang tidak pasti, aku sendiri juga diincar. Jadi sekarang aku membesarkan anakku sendiri. Aku tidak mau mengambil risiko dengan berada di lingkungan normal. Agar tidak ada yang mengenaliku, akhirnya aku putuskan untuk menjalani hidup seperti ini."
"Lalu kau belajar kemampuan jadi bartender dari mana?" tanya pria itu dengan tatapan curiga.
"Dulunya saat masih gadis, aku suka foya-foya dan bermain di night club. Aku tahu sebagian besar racikan cocktail karena itu, dan soal yang lain aku belajar secara otodidak. Di internet banyak video soal itu!"
"Tuan ... Anda hanya salah paham, tolong bebaskan aku!" pinta Chelsea dengan tampang memelas.
Pria itu hanya diam membisu, dan tiba-tiba saja melepaskan semua tali yang melilit Chelsea. Namun setelahnya dia bergegas pergi dan mengunci pintu dari luar.
Chelsea kembali panik, dia juga menggedor-gedor pintu besi tersebut. "Tuan! Tolong buka pintunya! Saya sama sekali tidak berbohong!"
"Diamlah! Jika kau berisik maka jangan harap bisa keluar!" Pria itu kemudian beralih menatap seorang penjaga yang bertugas di luar pintu. "Cari Kaitlyn dan suruh dia ke ruanganku!"
"Baik, Bos!"
Pria itu pun segera meninggalkan ruang rahasia bawah tanah dan menuju ke ruangannya. Tak berselang lama Kaitlyn juga datang untuk memenuhi panggilannya.
"Ada apa Bos memanggil daku?"
"Apa benar kau yang merekrut bartender baru bernama Mayra?" tanya pria itu dengan tatapan sinis.
"B-benar, daku yang bertanggung jawab atasnya. Kinerja dia baik kan, Bos?"
"Baik palamu! Dia mendengar perbincangan di ruang VIP! Saat itu ketua ada di dalam sana!"
Seketika Kaitlyn membelalak. "A-apa? Tapi bagaimana bisa? Daku sudah memerintahkan dirinya untuk cepat pergi setelah mengantar minuman!"
"Ck, akan aku laporkan ini pada ketua agar dia kembali mengirimmu ke kapal!"
"T-tidak! Daku tidak mau kembali ke sana! Bos Damar, daku mohon jangan laporkan pada ketua!" Kaitlyn langsung mendekati pria yang bernama Damar itu dan merangkul tangannya.
"Jangan sentuh aku! Wanita jadi-jadian!" bentak Damar sambil mendorong Kaitlyn menjauh.
"Bos Damar ... pikirkanlah sekali lagi, club ini milikmu! Kesalahan sekecil ini tidak pantas diberitahukan kepada ketua! Ketua mungkin sibuk dengan urusan lainnya! Bos Damar juga tidak ingin mengganggu Ketua, kan?"
"Ck, baiklah! Aku akan mengampunimu setelah aku memastikan sendiri jika wanita itu tidak bermasalah!"
Kaitlyn kegirangan dan kembali merangkul Damar. "Kyaa! Terima kasih! Anda sangat tampan, mari bermalam denganku~"
"Menjauhlah dariku! Dasar banci!"
__ADS_1