
"Hahh ...." Leon mengatur napasnya. Sejak dia bangun tidur, dia terus merasa gelisah lantaran waktu seminggu yang diberikan oleh ketua telah usai. Meskipun Leon sudah membuat rencana dan persiapan yang matang, dia masih gugup dengan reaksi dan tindakan macam apa yang akan ketua berikan padanya.
Waktu seminggu adalah waktu yang terlalu singkat bagi Leon. Akan tetapi, di dalam waktu ini ada banyak hal yang telah terjadi, entah itu hal buruk maupun hal baik. Hari ini, Leon berencana untuk menemui ketua lewat Dika. Seperti biasa maka dia akan datang ke Kedai Pembunuh lebih dulu.
Namun, setibanya Leon di sana. Di tak menjumpai keberadaan Dika di ruangan Kepala Divisi seperti biasanya. Saat mencoba meneleponnya juga berkali-kali tidak bisa tersambung. Akhirnya Leon berinisiatif menghampiri salah seorang pekerja di sana yang bertugas sebagai pembuat kopi di kedai.
Barista itu juga adalah anggota Divisi 2, tetapi dia dipercayakan di bagian itu dan tak menerima misi yang selalu berganti seperti halnya Leon dan anggota Divisi 2 yang lainnya. Dia ditugaskan untuk menjadi pengawal tetap yang berjaga di Kedai itu.
"Apa kau tahu di mana Kepala Divisi berada?" tanya Leon pada barista itu.
"Kepala Divisi bilang, hari ini dia berkunjung ke markas besar. Oh ya, dia juga berpesan padaku. Jika hari ini kau datang dan ingin bertemu dengannya, kau diminta untuk pergi menyusulnya ke markas besar. Dan kau sekalian ajak wanita bernama Chelsea bersamamu," jawab si barista itu.
"Baiklah, aku mengerti," jawab Leon sambil mengangguk. Dia lantas berlalu dari Kedai tanpa menanyakan apa pun lagi.
Begitu Leon berada di dalam mobilnya. Dia mengeluarkan ponsel dan hendak menelepon Chelsea.
"Hallo? Leon, ada apa? Apa semuanya berjalan baik-baik saja?" tanya Chelsea yang suaranya terdengar seperti khawatir.
"Untuk sekarang semuanya masih berjalan dengan baik. Tapi ada sedikit perubahan rencana, kau bersiaplah, aku akan segera menjemputmu!" pinta Leon dengan penekanan, seolah jika itu memang hal yang sangat serius dan mendesak.
"Baiklah, aku akan segera bersiap," jawab Chelsea tanpa banyak bertanya lagi.
Perbincangan telepon yang singkat itu berakhir. Leon menyimpan ponselnya kembali dan melaju dengan kecepatan normal menuju ke rumah Chelsea. Setibanya dia di sana, dia melihat Chelsea yang sudah begitu siap dengan membawa berbagai macam peralatan, baik itu peralatan untuk menyerang ataupun pengamanan diri.
"Kenapa kau perlu seheboh ini?" tanya Leon dengan tatapan aneh sambil memperhatikan Chelsea yang tampak seperti siap untuk maju ke medan perang.
"Bukankah yang aku lakukan sudah benar? Kita tidak tahu apa yang nantinya akan terjadi. Jadi, lebih baik kita berjaga-jaga seperti ini. Kenapa kau yang lebih berpengalaman justru malah heran? Tadi kau bilang di telepon kalau aku harus bersiap, kau tidak mengatakan apa tujuanmu mengajakku. Sebenarnya kau mau mengajakku ke mana?" Chelsea bertanya balik.
Leon menghela napas panjang. Lantas mengambil semua peralatan yang Chelsea pasangkan di tubuhnya. Dia hanya menyisakan sebuah belati dan pistol berserta dengan peluru cadangannya. "Sudah, kau tak perlu berlebihan. Cukup bawa ini saja!"
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Leon. Kita sebenarnya mau pergi ke mana?" tanya Chelsea lagi.
"Kita akan pergi ke markas utama. Kak Dika berpesan padaku untuk menyusulnya ke sama sambil membawamu," jawab Leon yang kemudian menggandeng tangan Chelsea supaya dia cepat jalan.
Namun, Chelsea malah menepis tangan Leon dan berdiam diri di tempat. "Tunggu sebentar, Leon! Kau tidak lupa kalau kau mau membantuku, kan? Pergi ke markas utama bagiku itu sama saja dengan mengantarkan nyawaku sendiri. Dan terlebih lagi, Kepala Divisi memintamu untuk membawaku. Bisa saja dia mau kau membawaku ke sana dan langsung membunuhku saat itu juga. Apa kau tidak merasa jika semua ini terlalu jelas?"
Sejenak Leon tertegun, kemudian tersenyum tipis dan membelai wajah Chelsea dengan kedua tangannya. "Hei, tenanglah ... apa pun yang terjadi nanti, aku janji tak akan pernah membiarkanmu terbunuh. Aku sudah bergabung di organisasi ini cukup lama. Jadi, aku sudah tahu betul seperti apa pola rencana dari ketua. Hari ini dia tak mungkin berencana untuk mencelakaimu."
"Kenapa kau bisa begitu percaya padanya?" tanya Chelsea yang masih belum bisa mengerti bagaimana cara berpikir Leon.
"Hari ini kau akan ke markas utama untuk pertama kalinya. Kak Dika ada di sana, Kepala Divisi 1 juga selalu ada di sana. Tetapi, saat ini kau adalah targetnya ketua. Hal ini sedikit memberikan celah bagimu. Meskipun para Family ataupun Kepala Divisi ingin membunuhmu, mereka tidak akan berani melukaimu tanpa perintah dari ketua. Sedangkan ketua, dia adalah tipe yang suka mempermainkan orang. Saat ini dia pasti berpikir untuk bermain lebih lama denganmu demi memuaskan kesenangannya sendiri. Jadi, hari ini bukanlah hari di mana kau akan mati. Percaya padaku, oke?" bujuk Leon yang mencoba meyakinkan Chelsea.
"Baiklah ... aku setuju karena aku percaya padamu, Leon. Aku paham apa maksudmu. Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan," jawab Chelsea yang seketika membuat Leon tersenyum puas.
"Nah, ini baru benar! Mari berangkat!" ajak Leon yang segera menarik tangan Chelsea dan keluar dari dalam rumah.
Meskipun masih merasa sedikit tidak tenang, Chelsea berusaha sekuat mungkin untuk terus berpikir positif. Dan terlebih lagi, selama di perjalanan dia tidak bertanya pada Leon tentang apa yang saat ini dia pikirkan.
Chelsea terus berpikir tempat macam apa markas utama itu. Dia menerka-nerka dan membayangkan betapa mengerikannya tempat itu. Pikirnya, tempat itu pastilah sebuah tempat yang jauh lebih parah jika dibanding dengan Pelabuhan Barat, yang sempat menjadi tempat bagi Ivan sang Kepala Divisi 3 melakukan transaksi bisnis ilegalnya.
Di luar dugaan dari Chelsea, ternyata tempat yang dituju tidak menempuh perjalanan jauh seperti yang dia kira. Sebelumnya dia berpikir jika markas utama adalah sebuah markas yang dibangun jauh dari keramaian, bahkan mungkin saja dibangun di sebuah pulau pribadi. Akan tetapi, dia tercengang ketika melihat papan nama besar yang terbuat dari lampu neon, bertuliskan 'GRIZZ GLORY CASINO'.
"Leon, apa kau serius? Ini sungguh markas utama?" tanya Chelsea seakan tak percaya.
__ADS_1
"Benar, inilah markas utama. Mari turun dan lihat apa yang sudah menanti kita!" ajak Leon yang dari raut wajahnya tak terlihat adanya keraguan sedikit pun.
"...." Chelsea kehabisan kata-kata. Ini sungguh bertentangan dengan akal sehatnya. Siapa yang tidak mengenal kasino besar ini? Pikirnya, bagaimana bisa tempat yang super ramai dan dikunjungi berbagai macam orang asing setiap harinya malah jadi sebuah markas utama.
Meskipun Chelsea menyimpan banyak pertanyaan. Dia tetap membisu dan hanya pasrah sambil terus mengikuti Leon berjalan. Setelah mereka berdua memasuki kasino itu, mereka berdua melihat adanya kejanggalan di mana-mana.
Kasino yang memiliki jam buka setiap hari dalam 24 jam itu tampak tak memiliki seorang pun tamu. Bahkan meja-meja judi beserta mesin slot yang ada di sana juga tampak sedang diangkut dan dipindahkan.
"Ada apa ini? Apa kasino ini bangkrut?" tanya Chelsea pada Leon dengan tatapan heran.
"Harusnya tidak, semua yang bekerja mengangkat barang-barang di sini masih anggota Divisi 1. Sebentar, aku akan tanya ada hal macam apa." Leon lantas mendekati salah seorang yang hendak mengangkat meja.
"Hei, ada masalah apa yang terjadi di sini?" tanya Leon pada pria yang bertato tersebut.
"Apa kau orang dari Divisi 2?" pria itu balik bertanya tanpa menjawab Leon terlebih dulu.
"Iya, kau mengenaliku?" tanya Leon lagi.
"Tentu saja. Kepala Divisi 2 bilang padaku kalau Mad Dog akan datang kemari bersama dengan seorang wanita. Dan Mad Dog itu pastilah kau. Kepala Divisi berpesan jika kau dan wanita itu harus menemuinya di private room VVIP Nomor 33."
"Aku mengerti. Terima kasih atas penjelasanmu," ucap Leon yang setelahnya kembali menghampiri Chelsea.
"Jadi bagaimana? Apakah ada perubahan tempat pertemuan?" tanya Chelsea pada Leon begitu dia kembali padanya.
"Tidak ada perubahan, kak Dika ingin bertemu dengan kita di ruangan lain yang lebih tertutup."
Leon telah bergabung di organisasi ini cukup lama. Sekarang dia sudah cukup mengenal setiap lokasi khusus dari markas utama. Jadi, dia tidak membutuhkan orang lain dari Divisi 1 untuk memandunya ke private room VVIP Nomor 33.
Tak ada orang yang berjaga di luar ruangannya itu. Mungkin karena memang seluruh anggota Divisi 1 sedang sibuk. Leon memberanikan diri untuk mengetuk pintu, dan setelahnya dia mendengar ada suara Dika yang mempersilakan dirinya untuk masuk.
"Aku sudah datang ke sini seperti yang Kakak minta," ucap Leon yang saat ini berdiri bersebelahan dengan Chelsea.
"Kalian duduklah!" pinta Dika yang langsung ditanggapi oleh kedua orang itu. Mereka berdua sama-sama duduk di sofa yang berlainan dengan Dika.
Dika lalu beralih menatap ke arah Leon. "Aku sudah tahu apa tujuanmu datang kemari. Aku tahu tentang waktu seminggu yang sudah ketua berikan padamu. Tetapi, ada sedikit perubahan keputusan yang diambil ketua."
"Perubahan apa itu?" tanya Leon dengan sorot mata serius. Dia mulai sedikit khawatir jika perubahan yang dibilang Dika ini akan berakibat buruk padanya.
"Ketua sudah tidak ingin bermain denganmu lagi. Dia sudah tidak peduli soal keputusan apa yang kau pilih. Tetapi, bukan berarti ketua sudah tidak menginginkan dirimu lagi. Ketua mengalihkan persoalanmu sepenuhnya padaku, sekarang katakan apa pilihanmu padaku!" pinta Dika dengan tatapan tajam.
"Aku memilih ... untuk terus tunduk pada ketua. Dan aku juga punya kabar baik, Chelsea mau bergabung bersama kita! Aku telah berhasil membujuknya!"
"Benarkah itu?" tanya Dika dengan tatapan curiga yang mengarah pada Chelsea.
"Itu benar, aku sudah sadar kalau tak ada untungnya aku terus melawan. Yang paling penting adalah nyawaku," jawab Chelsea dengan keteguhan yang dibuat-buat untuk mengelabui Dika.
Sejenak Dika masih terdiam. Dia yang sudah berpengalaman tentu tidak mungkin langsung percaya begitu saja. Setelahnya dia menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah, aku terima jawaban dari kalian."
Chelsea dan Leon saling menatap dan tersenyum ketika mendengar penerimaan dari Dika. Namun, sejurus kemudian Dika tiba-tiba berkata, "Jangan terlalu senang dulu! Aku ada sesuatu yang perlu disampaikan pada kalian!"
"Apa itu, Kak?" tanya Leon yang bersiap menyimak baik-baik apa yang akan Dika katakan.
"Karena kalian berdua tidak memutuskan untuk memberontak, maka aku punya tugas baru untuk kalian berdua."
"Tugas?" tanya Chelsea dan Leon bersamaan.
__ADS_1
"Benar, kalian akan diberikan tugas. Leon, masa liburanmu telah selesai. Dan Chelsea, kau sudah berhenti dari masa pengawasan. Jadi, mulai sekarang aku akan menarik orang yang sebelumnya aku suruh untuk mengawasimu."
"Kepala Divisi 1 secara khusus berkata padaku jika dia ingin meminjam kalian berdua. Ambillah tugas ini dan bekerja di Divisi 1 dengan baik, jangan mempermalukan nama Divisi 2!" lanjut Dika.
"Kak, jika boleh aku ingin bertanya. Apa alasan Kepala Divisi 1 ingin kami bekerja untuknya? Soalnya, selama ini yang aku tahu, Divisi 1 tidak pernah kekurangan anggota." Leon sangat cemas, karena dia tahu betul seperti apa Divisi 1 itu. Rencananya akan jauh lebih berbahaya dan sulit dilakukan jika dia berada dalam pengawasan Marcell.
"Aku tak tahu pastinya seperti apa. Tetapi, yang jelas Divisi 1 akan semakin sibuk. Ini ada hubungannya dengan apa yang kalian lihat di area Black Tail, itu area bermain yang berada setelah pintu masuk. Divisi 1 sedang melakukan pembersihan dan penataan ulang, karena ketua akan kemari bersama dengan keluarganya."
"Keluarganya? Tapi ... apakah perlu sampai seperti ini? Maksudku jika itu benar-benar keluarga ketua, harusnya sudah tahu orang seperti apa ketua itu." Leon terheran-heran. Selama ini yang dia tahu, tak pernah ketua memerintahkan untuk melakukan tindakan sebesar ini.
"Iya, benar keluarganya. Tetapi bukan suami ataupun keluarganya yang lain. Kali ini yang ingin berkunjung adalah anaknya, karena itu sebisa mungkin kita disuruh membuat tempat ini jadi berbeda," jawab Dika.
"Ahh ... begitu ya," ucap Leon dengan senyum canggung. Akhirnya dia mengerti kenapa semua orang bertindak sampai seperti ini.
"Itu saja yang ingin aku katakan pada kalian, besok jangan lupa untuk datang ke markas ini di jam kerja kalian biasanya! Kalian sudah boleh pergi."
"Baik," jawab Leon dan Chelsea bersamaan.
Ketika mereka berdua sudah berdiri dan beranjak pergi dari ruangannya itu, tiba-tiba saja Dika berkata, "Tunggu sebentar!"
Seketika Leon dan Chelsea menoleh dan menatap bingung. Dika lalu menatap Chelsea lekat-lekat dan berkata, "Kau, ambilkan aku sekaleng bir di atas meja sana! Aku malas bergerak!" pinta Dika sambil menunjuk ke arah sebuah meja yang di atasnya memang benar terdapat beberapa kaleng bir.
"Baik, Kepala Divisi." Chelsea sedikit bernapas lega lantaran permintaan Dika yang tidak aneh-aneh. Dia segera berbalik dan mengambil sebuah bir kalengan untuk diberikan pada Dika.
Namun, saat Dika hendak menerima bir itu. Diam-diam dia menyisipkan sebuah kertas kecil ke tangan Chelsea. "Jangan beritahu ini pada Leon!" ucap Dika penuh penekanan namun dengan nada pelan.
Chelsea hanya merespons dengan anggukan kepala. Lalu buru-buru pergi dan menghampiri Leon yang masih menunggunya. Tak lupa juga dia mengepalkan tangan kanannya erat-erat demi menyembunyikan kertas kecil itu dari pandangan mata Leon.
"Kepala Divisi bilang apa padamu?" tanya Leon ketika sudah berada di luar.
"Eh, jadi kau tahu?" tanya Chelsea yang mulai panik.
"Tentu saja aku tahu. Aku tidak buta, aku tahu kalau kak Dika berkata sesuatu padamu. Cepat beritahu aku!" pinta Leon dengan tatapan memaksa.
"Ehmm ... sebenarnya bukan hal penting. Kepala Divisi cuma menegaskan padaku supaya aku jangan berbuat macam-macam meskipun masa pengawasanku telah usai. Itu saja," jawab Chelsea dengan senyum palsu.
"Oh," jawab Leon singkat yang kemudian membuang muka. Kembali fokus pada anak tangga yang akan dia lewati untuk turun ke lantai bawah.
"Leon, sehabis dari sini. Antar aku pulang ke rumah, ya?"
"Kenapa? Tumben kau tidak mau mampir ke rumahku dulu." tanya Leon seakan merasa curiga.
"Bukan apa-apa, aku cuma ... ingin istirahat saja. Perutku masih sedikit nyeri," jawab Chelsea yang masih dengan kebohongannya. Entah kenapa dia yakin jika isi dari kertas kecil itu benar-benar sebuah pesan rahasia yang penting.
"Apakah seburuk itu?!" Seketika Leon berhenti berjalan. Dia masih menyimpan rasa bersalah atas keguguran yang dialami Chelsea. Dia sangat khawatir saat Chelsea bilang jika perutnya sakit, karena dia tak mau jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.
"Tidak apa-apa, bukan masalah serius. Setelah aku istirahat yang cukup nanti rasa nyerinya sembuh sendiri."
"Baiklah kalau begitu. Tapi ... jika kau merasa tidak baik, segera beri tahu aku!"
"Oke ..." jawab Chelsea dengan pasrah. Jujur saja dia merasa tak begitu nyaman ketika memanfaatkan rasa peduli Leon terhadap dirinya.
Begitu mereka berdua keluar dari kasino itu. Leon langsung memulangkan Chelsea ke rumahnya. Bahkan dia juga membopong Chelsea hingga masuk ke dalam kamar. Sikapnya yang berlebihan ini membuat Chelsea merasa malu. Tetapi mau tidak mau dia harus menurut, demi membuat Leon percaya jika perutnya benar-benar sakit.
Setelah Chelsea memastikan jika Leon sudah pergi. Akhirnya dia mengeluarkan sebuah kertas kecil yang Dika berikan padanya tadi. Di dalam kertas kecil itu, terdapat sebuah coretan tinta yang bertuliskan, 'Nanti malam datanglah kemari, ketua ingin menemuimu'
__ADS_1
"Nisa ingin bertemu denganku?!" Chelsea terperangah.