Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Hari yang Tak Terlupakan


__ADS_3


Acara pertunjukan kini telah berakhir. Keisha dan Luciel saat ini masih berada di belakang panggung untuk melepas kostum mereka. Dan tentu saja inilah saatnya bagi mereka untuk memberikan hadiah kejutan yang sebelumnya telah mereka buat secara rahasia.


"Keisha, ayo kita ambil hadiah kejutannya sekarang," bisik Luciel.


"Sebentar Luciel, sekarang Keisha masih belum selesai ganti kostum. Hadiahnya ada di dalam tasnya Luciel, kan? Bisakah Luciel ambil sendiri?" tanya Keisha yang masih berusaha melepaskan aksesoris dari tubuhnya.


"Oke, kalau begitu Keisha tunggu Luciel, ya! Nanti kita berikan hadiahnya sama-sama!"


"Baik!"


Luciel bergegas pergi dari belakang panggung. Karena keluarga Natasha yang memiliki gedung ini, tentu saja perlakuan kepadanya juga lebih istimewa. Keisha dan Luciel diberikan ruang untuk istirahat tersendiri yang berbeda dengan anak-anak yang lain. Tas milik mereka juga ditaruh di dalam ruangan itu.


Ketika Luciel bermaksud menuju ke sana. Tiba-tiba saja dia mendengar suara orang yang berbicara dengan nada tinggi. Langkah kaki Luciel seketika terhenti karena suara itu.


"Ayah, aku mohon tunggulah sebentar lagi! Aku ingin mempertemukan Ayah dengan seorang anak yang sangat mirip dengan Daniel!" pinta Natasha pada Tommy Adinata.


"Ck, aku sudah melihatnya tadi! Dan aku cuma membuang-buang waktuku telah datang ke sini demi melihat pertunjukan ampas itu! Aku datang ke sini karena ingin menghormati si Muchtar itu! Urusanku sudah selesai, jangan halangi aku lagi!" bentak Tommy.


"Ayah ... tolong mengertilah, anak itu sangat penting bagiku. M-mungkin saja dia akan menjadi cucu Ayah ...." bujuk Natasha.


"Huh, lihatlah betapa menyedihkannya dirimu! Padahal aku sudah mendidikmu dan memberikan semua barang-barang yang kau inginkan itu! Tapi kau malah seperti ini, padahal kau sudah diterima di keluarga Kartawijaya! Tapi kau bahkan tidak bisa memberikan penerus lagi bagi mereka! Untung saja nasibmu masih baik, kau tidak dicampakkan oleh Daniel yang selalu dikelilingi wanita yang lebih baik darimu!"


Tommy lantas berjalan melewati putrinya, dia hendak keluar dari ruangan. Saat memegang gagang pintu dia tiba-tiba berhenti sejenak, tanpa melihat ke arah Natasha dia kembali berkata, "Semua anak-anakku tidak ada yang benar. Justru yang sekarang tersisa adalah yang paling tidak berguna dari tiga bersaudara. Andai saja aku bisa memilih, aku akan memilih putraku William untuk hidup dibanding dengan kalian!"


"A-ayah ...." ucap Natasha dengan tubuhnya yang gemetar. Air matanya seketika jatuh saat dia melihat ayahnya pergi begitu saja setelah mengucapkan kata-kata yang teramat menusuk baginya.


Apa aku sungguh bukan anak yang berguna? Ayah sampai bersikap seperti ini padaku. Bahkan kak Chelsea yang sudah meninggal juga tidak lepas dari hinaan ayah. Sekarang aku sudah tahu rasanya penderitaan kak Chelsea. Selalu dibanding-bandingkan dengan sosok yang sudah tiada, ternyata rasanya menyakitkan seperti ini.


Di satu sisi, Luciel yang tadi sempat bersembunyi di balik guci besar akhirnya menampakkan diri. Dia melihat ke arah ruangannya Tommy keluar tadi, pintunya tidak tertutup. Luciel yang penasaran pun akhirnya mendekat dan mengintip apa yang sebenarnya terjadi. Anak kecil yang polos itu terkejut ketika melihat Natasha telah berderai air mata.


"Tante Natasha kenapa menangis?"


"Eh, Luciel?!" Seketika Natasha mengusap air matanya. Sebisa mungkin dia menutupi rasa sedihnya. "Luciel kenapa di sini?"


"Tadi Luciel mau ke ruang istirahat untuk mengambil tas. Tapi saat lewat, Luciel dengar suara teriak-teriak. Apakah kakek yang lewat tadi itu adalah ayahnya Tante Natasha?"


"Iya, sayang. Dia adalah ayah Tante. Emm ... Luciel jangan cerita soal ini pada siapa-siapa, ya?"


"Ayah kan harusnya bersikap baik dan penyayang, ayah Keyran juga selalu baik pada Luciel. Kenapa ayahnya Tante jahat sekali sampai membuat Tante Natasha menangis?" tanya Luciel dengan tatapan polosnya.


"Sshhh ... Luciel tidak boleh membuat kesimpulan begini ya. Ayah Tante tidak jahat kok, tadi Tante Natasha berbuat salah makanya Tante dimarahi. Emm ... tadi katanya Luciel mau mengambil tas, maukah Tante Natasha temani?" tanya Natasha yang berusaha mengubah topik pembicaraan.


"Iya, Luciel mau!"


Luciel akhirnya diam dan tidak bertanya apa pun lagi kepada Natasha. Dan peristiwa barusan juga membuatnya mengingat kembali apa yang selalu Mami Mayra katakan kepadanya, jika ayah adalah sosok yang paling jahat. Luciel juga sempat merasa khawatir, apakah Keyran akan berlaku sama kepadanya jika dia nakal. Tetapi, dia lebih memilih untuk membuang rasa khawatir itu. Dia percaya jika Keyran adalah sosok ayah angkat yang baik baginya.


Natasha kini sudah melupakan kesedihannya akibat sikap buruk ayahnya. Baginya, kehadiran Luciel benar-benar sebagai pelipur lara. Hari ini dia juga puas sekali, menghabiskan banyak waktu bersama Luciel mulai dari sebelum acara pertunjukan drama sampai berakhirnya acara.


Setelah Luciel mengambil tasnya, dia bergegas untuk kembali ke tempat Keisha berada. Dan benar saja, ketika Luciel tiba di sana, Keisha sudah berkumpul bersama dengan ayah, bunda, dan kakek neneknya. Keisha tampak begitu bersemangat, dia berbicara banyak hal tentang bagaimana perasaannya saat tampil di atas panggung. Dan para orang dewasa itu juga tampak terhibur dengan tingkah menggemaskannya.


"Ah, itu Luciel sudah sampai!" teriak Keisha.


Sontak saja pandangan semua orang tertuju pada Luciel yang baru saja datang bersama dengan Natasha. Tetapi, lagi-lagi Nisa bersikap sengit, menatap Natasha dengan tatapan benci. Dia tak lagi menjaga sikapnya lantaran para orang tua murid yang lain sudah pulang. Saat ini di sana hanya ada orang-orang dari kalangan keluarga mereka saja.


"Kalian habis dari mana?" tanya Nisa dengan tatapan sinis pada Natasha. Dia curiga jika Natasha telah melakukan sesuatu yang tidak dia sukai atau bahkan meracuni pikiran Luciel.


"Luciel tadi mau mengambil tasnya, lalu dia tidak sengaja berpapasan denganku. Jadi aku berinisiatif untuk menemaninya, lagi pula Luciel masih asing dengan gedung ini. Tentu saja aku sebagai orang dewasa harus mendampingi," jawab Natasha yang kemudian langsung beralih untuk mendekat pada suaminya.


"Daniel, aku minta maaf ... aku gagal membujuk ayahku untuk tinggal lebih lama," ucapnya dengan suara pelan.


"Baiklah, tidak apa-apa. Aku mengerti kalau ayahmu sibuk," jawab Daniel dengan senyum tipis. Dia sudah terbiasa dengan hal semacam ini, dan dia sendiri pun tahu betul jika Natasha tidak begitu disenangi oleh ayahnya.


Di sisi lain, Keisha langsung menghampiri Luciel yang baru saja tiba. Dan kedua bocah laki-laki itu tampak asyik ketika saling berbisik, para orang dewasa yang melihat tingkah mereka juga merasa penasaran.


Tiba-tiba saja Keisha dan Luciel berbalik, berlari mendekati Keyran dan Nisa bersama-sama. "Ayo pakai ini!" pinta keduanya sambil meringis seraya masing-masing dari mereka menyodorkan sebuah kain hitam.


"Hm? Untuk apa ini?" tanya Nisa.


"Apa ini semacam permainan?" tanya Keyran.


"Ayah dan Bunda menurut saja! Kami punya kejutan untuk kalian!" pinta Keisha dengan tatapan memaksa. Seolah-olah dia akan marah jika permintaannya tidak dituruti.


"Iya, pokoknya kejutan kami sangat istimewa!" sahut Luciel yang kemudian ikut bertingkah seperti Keisha.


"Haha, baiklah." Keyran dan Nisa sama-sama berjongkok, mereka merendah agar Keisha dan Luciel bisa menjangkau mereka dan mengikat kain hitam itu untuk menutupi penglihatan mereka.


"Ayah dan Bunda tidak boleh mengintip, ya!"


Keisha dan Luciel lalu mengambil hadiah kejutan yang telah mereka persiapkan dari dalam tas. Hadiah itu juga telah mereka bungkus dengan kertas kado yang rapi.


"Sekarang boleh buka mata! Tapi dihitung ya!" Keisha dan Luciel mengambil napas dalam-dalam, lalu keduanya serempak berkata, "Satu, dua ... tiga!"


Keyran dan Nisa dengan cepat membuka ikatan dari kain hitam, mereka berdua terkejut sekaligus bahagia lantaran kedua putra manis mereka saat ini menyuguhkan sebuah hadiah bagi mereka.


"Selamat hari orang tua! Ini hadiah dari kami untuk Ayah dan Bunda!" ucap Luciel dan Keisha dengan senyum berseri.

__ADS_1


"Terima kasih, sayang ... Apakah hadiahnya boleh dibuka sekarang?" tanya Nisa dengan senyuman. Dia penasaran sekali dengan hadiah macam apa yang kedua anak itu persembahan untuknya.


"Boleh!" Kedua bocah itu mengangguk.


Pasangan suami istri itu langsung membuka bungkus kado yang diberikan oleh kedua anak mereka. Dan ternyata setelah dibuka, di dalam sana terdapat sebuah benda. Benda itu adalah sebuah bingkai pigura yang terbuat dari kertas, bingkai itu semakin cantik karena dihiasi oleh ornamen-ornamen lain seperti cangkang kerang yang beraneka jenis dan bintang laut.


"Apakah ini Keisha dan Luciel yang membuatnya?" tanya Keyran yang kemudian hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh kedua bocah itu. Mereka juga tampak tersipu malu dan pipi chubby mereka yang merona.


"Wahh ... ini bagus sekali, cantik dan rapi! Terima kasih, Bunda sangat menyukainya!" ucap Nisa dengan senyuman.


"Hehe, apakah Bunda masih ingat saat kita terakhir kali liburan ke pantai?" tanya Keisha.


"Iya, sayang. Bunda masih ingat."


"Saat itu Keisha dan Luciel mengumpulkan banyak sekali kerang di pinggir pantai! Keisha sebenarnya mau menaruh cangkang kerang ini di dalam akuarium, tetapi Luciel punya ide yang lebih bagus! Lalu akhirnya Keisha dan Luciel sama-sama membuat kerajinan ini untuk Ayah dan Bunda!" jelas Keisha yang penuh semangat seperti biasanya.


"Ohh ... jadi ini idenya Luciel? Luciel kreatif sekali!"


"Ini bukan apa-apa, belum cukup untuk menggambarkan rasa sayang Luciel kepada Mami Nisa dan Ayah Keyran ..." jawab Luciel malu-malu.


"Hahaha, kalian menggemaskan sekali! Ayo sini, belum lengkap kalau Bunda belum kiss kalian dulu!"


Nisa langsung memeluk Keisha dan Luciel. Bahkan dia menghujani pipi kedua bocah itu dengan ciumannya sampai mereka berdua tertawa geli dibuatnya. Keyran pun juga sama. Dia memeluk dan mencium pipi kedua anak itu. Namun ciumannya tak seheboh seperti yang Nisa lakukan.


Sungguh pemandangan keluarga bahagia yang menyenangkan. Tuan Muchtar dan Nyonya Ratna juga tersenyum saat melihat hal itu. Tanpa disadari oleh siapa pun, diam-diam Tuan Muchtar mengambil hadiah yang dibuat oleh kedua cucunya untuk mengamatinya lebih jelas lagi.


Setelah diamati dengan saksama, hadiah itu lebih spesial dari yang dia kira sebelumnya. Tak hanya sekadar bingkai pigura yang cantik, di dalam bingkai itu terdapat sebuah gambar yang merupakan foto keluarga. Tuan Muchtar ingat betul jika foto itu diambil pada saat acara peringatan pesta ulang tahun perusahaan yang sempat tidak berjalan lancar.


"...." Tuan Muchtar tak bisa berkata-kata. Di dalam foto itu ada Luciel yang mengenakan setelan baju yang serasi dengan Natasha dan Daniel kala itu. Gambar di foto tersebut menunjukkan seolah-olah jika Luciel bukan anak angkat dari Nisa. Melainkan anak dari Natasha.


"Ada apa, hm?" Nyonya Ratna yang penasaran pun ikut mengintip. Setelah mengetahui gambar yang ada di bingkai pigura itu, perasaan yang dia rasakan sama seperti Tuan Muchtar. Gambar itu seakan-akan menjadi gambaran dari apa yang selama ini mereka impikan.


Sedangkan di sisi lain masih ada Natasha. Ketika melihat Nisa yang saat ini tersenyum bahagia bersama suami dan anaknya, dia ikut merasa senang sekaligus merasa sedih dan iri. Dia juga ingin merasakan seperti apa posisi Nisa saat ini. Memiliki anak-anak yang lucu, tertawa dan berbagi banyak hal bersama.


Tetapi, sekali lagi Natasha tersadar akan kenyataan. Dia telah divonis oleh dokter jika rahimnya telah rusak dan persentase untuknya bisa hamil sangatlah kecil, bahkan hampir mustahil. Entah kenapa, saat ini dia juga merasa ragu dengan tujuannya untuk merebut Luciel dari Nisa. Dia merasa berkecil hati jika dirinya tidak akan bisa membuat Luciel bahagia sama seperti Nisa sekarang.


"Ayah, ayah! Ayah tidak lupa dengan janji Ayah kemarin, kan?" tanya Keisha pada Keyran dengan tatapan berharap.


"Haha, Keisha tenang saja. Ayah tidak akan lupa, kok!" jawab Keyran dengan senyuman.


"Memangnya ada janji apa di antara kalian berdua?" tanya Nisa penasaran.


"Kemarin ayah sudah buat janji dengan Keisha dan Luciel. Ayah janji kalau nanti penampilan kami di atas panggung bagus, maka ayah akan mengadakan pesta barbeque di rumah malam ini! Keisha benar kan, Luciel?"


"Iya, kemarin Ayah Keyran sudah janji!" jawab Luciel yang juga tidak sabar untuk menagih janji Keyran.


"Pesta barbeque?! Sepertinya seru, bolehkah kakek ikut bergabung?" tanya Tuan Muchtar.


Tiba-tiba saja Luciel bergerak dan menghampiri Natasha. Sambil menggandeng sebelah tangan wanita itu, Luciel lalu berkata, "Tante Natasha juga ikut, ya! Ayo ramaikan pesta Luciel dan Keisha!"


"Ah, ini ..." jawab Natasha dengan nada ragu. Dia tidak habis pikir jika dia akan diajak oleh Luciel untuk ikut bergabung dalam pesta barbeque. Natasha lalu melihat ke arah Nisa, dia ingin tahu apakah Nisa akan menerima dirinya untuk masuk ke rumahnya ataukah tidak.


Nisa menghela napas, setelahnya dia mendekati Luciel dan tersenyum lembut. Sambil mengusap kepala anak itu, Nisa lalu berkata, "Datang saja tidak apa-apa. Malam ini pesta untuk Luciel dan Keisha, jadi semakin banyak orang yang bergabung akan semakin baik."


"Baiklah, kalau begitu Tante Natasha akan datang!" jawab Natasha dengan senyum semringah sambil menatap ke arah Luciel, dia merasa lega karena Nisa ternyata mengizinkan untuk bertamu.


"Horeee! Semuanya mau datang ke rumah! Om Daniel juga boleh datang kan, Ayah?" tanya Keisha pada Keyran.


"...." Sejenak Keyran membisu, selama ini dia tidak pernah mengizinkan adik tirinya itu untuk menginjakkan kaki di rumahnya. Tentu saja itu karena dia bermusuhan dengan Daniel, tidak pernah ada kata akur di antara mereka.


"Aku tidak usah ikut, tidak apa-apa," jawab Daniel yang sontak saja membuat suasana menjadi canggung. Dan ekspresi Keisha pun berubah jadi murung, lantaran dia gagal mengajak Daniel untuk meramaikan pestanya.


"Hahh ...." Keyran menghela napas panjang. Dia mengusap kepala Keisha sambil tersenyum lembut. Lalu tiba-tiba dia melirik ke arah Daniel dan berkata, "Datanglah, kau diterima di rumahku."


"Yeyy! Terima kasih Ayah!" teriak Keisha penuh semangat seraya memeluk Keyran dengan erat. Dia bahagia karena akan ada banyak orang yang merayakan pestanya.


Karena tidak ada acara lain lagi, mereka semua lalu menuju ke villa tempat Keyran dan Nisa tinggal untuk melakukan pesta barbeque. Pesta barbeque kali ini Keyran adakan karena janjinya untuk anak-anaknya. Dia ingin memberikan semangat lebih bagi Keisha dan Luciel agar melakukan pertunjukkan mereka dengan baik. Dan satu hal yang tak pernah Keyran sangka, pesta barbeque yang dia kira hanya akan diramaikan bersama dengan keluarga kecilnya, kini telah berubah menjadi pesta yang diramaikan oleh keluarga besarnya.


Setibanya mereka semua di villa, Keyran selaku sebagai tuan rumah langsung meminta para pelayan untuk segera menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan di dalam pesta barbeque. Pesta ini diadakan di taman belakang rumah. Meja, kursi, matras, lampu-lampu penerangan, panggangan, bahan makanan semuanya telah disiapkan dengan cepat. Kini, pesta barbeque untuk merayakan kesuksesan pementasan drama musikal Luciel dan Keisha telah dimulai.


"Hahahaha, ayo tangkap Keisha!" teriak Keisha sambil terus berlarian ke sana kemari.


"Awas ya Keisha! Pasti akan Luciel balas!" teriak Luciel yang terus mengejar Keisha tanpa kenal lelah. Dia tidak terima lantaran tadi Keisha menggodanya dengan mengoleskan mentega di pipinya.


"Aahhh! KEISHA!!!" teriak Nisa yang hampir saja bertabrakan dengan Keisha dan saus yang dia bawa juga hampir tumpah.


"Huft ... anak itu." Nisa menghela napas dan segera mendekati panggangan. Namun, lagi-lagi emosinya tersulut saat melihat suaminya yang kini sedang berada di depan panggangan.


"Cepat minggir dari sini! Biar aku saja yang urus panggangan!" bentak Nisa pada Keyran.


Keyran yang tak tahu apa salahnya hanya diam dan tak kunjung menyerahkan penjepit daging yang ada di tangannya. "Kau ini kenapa? Aku kan mau membantumu."


"Aku bilang biar aku saja yang urus panggangan! Aku tak perlu bantuanmu! Lihat ini, kau lupa membaliknya! Cepat balik biar tidak gosong!" bentak Nisa lagi sambil menuding ke arah sebuah sosis yang berada di atas panggangan.


"Eh, benarkah?!" Keyran kelabakan dan segera membalik sosis yang dimaksud oleh Nisa itu. Namun sayang, penjepit daging itu malah tergelincir dari tangannya.


"Ihhh! Aku bilang juga apa! Kau selalu saja membuat masalah kalau itu soal makanan! Sudahlah, biar aku saja!" Nisa langsung mendesak suaminya itu dan mengambil alih panggangan.

__ADS_1


"Tapi Nisa ... aku kan ingin membantumu," ucap Keyran dengan tampang bersalah.


"Ck, ini bukan yang pertama kali, Key! Setiap kau ingin membantuku memasak kau selalu membuat dapur terlihat seperti kapal pecah! Kalau kau memang mau membantuku, maka awasi saja anakmu agar tidak lari-larian sembarangan!"


"Baiklah ..." Keyran akhirnya mau menyingkir dari depan panggangan dan melakukan apa yang Nisa minta padanya. Memang hanya istrinya seorang yang bisa menyuruh-nyuruhnya. Dia yang merupakan seorang CEO berkuasa, kini tidak bisa berbuat banyak ketika dia berhadapan dengan istrinya.


"Ck, ada-ada saja mereka," gerutu Nisa yang saat ini sibuk dengan panggangan.


Tiba-tiba saja Nyonya Ratna dan Natasha mendekat ke arah Nisa. Dan dengan suara yang ragu, Natasha pun berkata, "Bolehkah kami membantu?"


"Eh? Tidak usah, aku tuan rumah di sini. Dan ini adalah pesta anak-anakku, jadi sudah seharusnya aku melayani kalian yang bertamu ke rumah. Kalian tidak perlu repot-repot," jawab Nisa dengan nada sungkan.


"Nak, aku tahu jika maksudmu baik. Tetapi, seharian ini kau sudah melakukan banyak hal. Kau sudah mendampingi anak-anak selama pementasan, dan begitu sampai rumah kau juga mengurus si kembar. Sekarang kau masih bersikeras untuk melakukan ini seorang diri. Kau pasti sudah lelah, jadi biarkan kami membantumu. Kau bisa katakan pada kami apa yang harus kami lakukan," bujuk Nyonya Ratna dengan nada lembut.


"...." Sejenak Nisa tertegun, semua yang dikatakan oleh ibu mertuanya barusan memang benar adanya. Dia tadi ragu karena merasa tidak enak jika menerima bantuan dari kedua orang yang hubungannya tidak begitu dekat dengannya. Dia bahkan juga sempat berpikir negatif jika keduanya bermaksud untuk menyalahi pesta ini.


Namun, di satu sisi Nisa sendiri memang sudah merasa lelah. Akhirnya dia pun menyingkirkan semua yang dia cemaskan dan menerima maksud baik ibu mertua dan adik iparnya. "Baiklah, terima kasih karena mau membantu. Ibu mertua yang membaluri bumbu saus saja. Dan Natasha, kau bisa menusuk bahan-bahan dan daging itu."


"Baik!" Kedua wanita itu tersenyum karena Nisa mau menerima niat baik mereka. Terlebih lagi Nyonya Ratna, dia lebih senang lantaran menantunya yang satu ini sudah tidak membangun benteng pembatas kepadanya lagi.


Para wanita itu bekerja sama mengurus makanan sebagai inti dari pesta barbeque. Dan untuk para lelaki, merela duduk manis sambil mengawasi tingkah Keisha dan Luciel yang masih asyik bermain.


Tak berselang lama kemudian sudah ada beberapa daging barbeque yang matang. Ketiga wanita itu menyudahi aktivitas mereka untuk sementara. Mereka lalu membawa daging, seafood dan sosis yang sudah matang itu ke atas meja.


"Sudah jadi! Mari silakan dinikmati!" ucap Nisa yang seketika membuat semua perhatian tertuju padanya. Terutama Keisha dan Luciel, kedua bocah itu seketika berhenti bermain dan segera berlari mendekati meja.


"Wahh .... baunya harum!" ucap Luciel.


"Bunda, Bunda! Keisha mau makan cumi-cumi!" pinta Keisha yang tidak sabar seperti sudah kelaparan.


"Baiklah, akan bunda ambilkan. Luciel mau apa?" tanya Nisa dengan senyuman.


"Luciel mau sosis! Tapi sebelumnya ... Luciel haus, mau minum dulu!" pinta Luciel sambil memegangi lehernya, seakan-akan dia memang sudah sangat kehausan.


"Ini, ayo minum dulu!" ucap Natasha yang tiba-tiba saja sudah menyodorkan segelas air pada Luciel. Minuman itu berupa honey lemon tea yang sebelumnya telah dibuatkan oleh Bibi Rinn.


"Terima kasih Tante Natasha!" jawab Luciel yang kemudian langsung meneguk dengan cepat minuman yang segar itu. Dia juga merasa senang lantaran Natasha begitu peduli padanya.


"Tante, Keisha juga mau minum ..." pinta Keisha yang masih mengunyah makanannya.


"Haha, baiklah. Tapi makanannya ditelan dulu, ya! Setelah itu baru minum!"


Para orang dewasa pun juga mulai mengambil hidangan barbeque yang masing-masing mereka mau. Suasana malam ini begitu menyenangkan, bulan bersinar terang dan terlihat hamparan bintang-bintang yang gemerlap.


Mereka semua tampak begitu menikmati suasana malam ini, bahkan Daniel yang awalnya enggan ikut pada akhirnya juga menikmatinya. Dia cenderung tidak banyak bicara, dan kini dia memisah dengan memilih duduk di matras seorang diri ketika yang lain duduk di kursi.


"Hup!" Luciel tiba-tiba mendekat dan duduk di samping Daniel. "Om Daniel juga suka sosis, ya?" tanya Luciel yang sejak tadi memperhatikan apa saja yang dimakan oleh Daniel.


"Iya, apa Luciel juga suka sosis?" Daniel bertanya balik, mencoba mengakrabkan diri dengan Luciel. Dia yang biasanya selalu bersikap acuh tak acuh dan dingin kini mengubah sikapnya ketika bersama Luciel. Tentu saja karena dia sendiri pun juga mendukung rencana ayahnya untuk merebut hak asuh Luciel dari Nisa.


"Iya, Luciel sangat suka! Ternyata selera kita berdua sama ya, Om!" jawab Luciel sambil meringis.


"Eh? Di mana Luciel?" tanya Keyran kebingungan saat menyadari Luciel yang tadinya duduk di sebelahnya kini sudah tidak ada di sana lagi. Saat Keyran menoleh, dia kaget karena melihat Luciel yang tampak berbincang akrab dengan Daniel.


Namun, ada satu hal lagi yang membuat Keyran semakin merasa kaget. Dengan spontan dia pun berkata, "Kenapa kalian berdua terlihat sangat mirip?"


"Hah?!"


Seketika semua orang berhenti melakukan perbincangan menyenangkan mereka. Bahkan Nisa juga sama, dia juga baru menyadari jika Luciel mempunyai banyak kemiripan dengan Daniel. Mulai dari warna rambut, bentuk mata, hidung, dan yang lainnya tampak seperti Daniel versi mini.


"Kami mirip?" tanya Luciel kebingungan.


Semua orang dewasa itu hanya diam. Terlebih lagi bagi Nisa dan Keyran yang baru saja menyadari fakta ini, mereka berdua sama-sama mulai berspekulasi sendiri.


"Hm? Apa Keisha juga mirip?" celetuk Keisha begitu saja. Dia sendiri yang sama sekali tidak memahami situasi saat ini.


"Haha, iya sayang! Kau sangat mirip dengan ayahmu. Kau sepertinya fotokopian darinya, bahkan bunda sempat mengira jika Keisha bukan anak bunda karena sama sekali tidak punya kemiripan dengan bunda, haha ..." Nisa terkekeh.


"Humph! Keisha anak ayah dan bunda!" keluh Keisha dengan tampang cemberut.


"Heh, harusnya kau bersyukur Keisha sangat mirip denganku! Jadi saat dewasa nanti dia akan tampan dan memesona sama sepertiku!" sahut Keyran dengan gaya sombongnya.


"Ayah ... tapi sekarang Keisha sudah tampan! Tidak kalah dari ayah!" celetuk Keisha lagi dengan penuh percaya diri.


"Hahaha, lihatlah sikapmu ini. Kau memang mirip sepertiku, tapi tingkahmu sama seperti Nisa. Kalian berdua sama-sama tidak bisa diam dan suka membuat masalah." Keyran terkekeh.


"Siapa yang suka membuat masalah?!" tanya ibu dan anak itu bersamaan. Mereka berdua juga sama-sama memasang tampang garang kepada Keyran.


"Nah, ini buktinya!"


"Ck, enak saja ... Keisha tampan itu warisan darimu. Lalu sikapnya yang jelek-jelek kau bilang itu warisan dariku! Kau pikir sikapmu semuanya tidak ada yang jelek?" Nisa bersungut kesal, lalu dia beralih menatap ke arah Tuan Muchtar.


"Kenapa ayah mertua harus punya anak menyebalkan sepertinya?" tanya Nisa sambil menuding ke arah Keyran.


"Haha, sudahlah. Meskipun dia menyebalkan, kau tetap mencintainya, kan?" tanya Tuan Muchtar yang langsung membuat Nisa dan Keyran tersipu malu. Dan tentu saja keduanya tidak lagi berdebat tentang hal yang tidak berguna lagi.


"Yeyy! Kakek yang terbaik! Keisha pokoknya cucu kakek!" Keisha langsung berlari dan memeluk Tuan Muchtar. Dia senang lantaran kedua orang tuanya dibuat diam oleh kakek yang dia kenal luar biasa.

__ADS_1


Sungguh suasana keluarga yang hangat. Meskipun terkadang ada perselisihan, sekarang mereka semua tetap kembali berkumpul bersama. Bahkan inilah yang pertama kalinya bagi Tuan Muchtar dan Nyonya Ratna melihat tidak adanya pertengkaran di antara kedua anak mereka.


Bagi orang tua seperti mereka, ini merupakan hadiah yang paling berkesan di hari orang tua. Tak cuma melihat anak-anaknya akur, mereka berdua juga disuguhkan oleh tingkah menggemaskan dan menghibur oleh cucu mereka. Bagi mereka, hari ini akan menjadi hari orang tua yang tidak akan pernah terlupakan.


__ADS_2