
CKIITTT ...
Leon memberhentikan mobilnya begitu tiba di tempat yang ingin dia tuju. Tempat yang dia datangi adalah Kedai Pembunuh, markas Divisi 2 dalam beroperasi. Niatnya yang sebenarnya adalah ingin bertemu dan meminta penjelasan secara langsung pada sang ketua. Namun, karena dia tak memiliki kontak nomornya, terpaksa Leon harus datang ke Divisi 2 lebih dulu untuk memberitahu Kepala Divisi yang sudah dia anggap seperti kakak sendiri.
Leon berjalan tergesa-gesa menuju ke ruang bawah tanah. Dia langsung menghampiri ruangan Kepala Divisi dan masuk tanpa permisi. Leon tampak tidak sabaran, bahkan dia menggebrak meja kerja Dika, meskipun dia tahu jika Dika saat ini tampak sibuk.
"Oh, adikku sudah pulang. Bagaimana tugasmu di luar negeri? Apa kau menemui kendala?" tanya Dika yang kemudian menutup berkas yang tadinya dia baca. Dia juga tersenyum, seolah-olah dia ingin menampakkan kesenangannya ketika melihat Leon sudah pulang dalam keadaan selamat.
"Iya, aku sudah pulang. Tapi kali ini aku sedang tak mau bicara banyak dengan Kak Dika. Tolong, buatkan aku janji temu agar aku bisa bertemu dengan ketua!" pinta Leon yang langsung ke inti mengapa dia kemari.
"Ketua sibuk, memangnya ada perlu apa kau ingin bertemu dengannya?" tanya Dika yang pura-pura tidak tahu. Tentu saja sebenarnya dia paham betul bagaimana rencana yang ketua atur untuk adik angkatnya ini.
"Aku paham jika ketua sibuk, dan aku juga paham kalau aku masih tak punya kuasa untuk meminta hal semacam ini dari ketua. Tapi tolong sekali ini saja, Kak! Bantulah aku! Ini menyangkut soal keluargaku!" pinta Leon dengan tatapan mata yang penuh kesungguhan.
"...." Dika membisu, entah kenapa saat melihat kesungguhan Leon ini membuat hatinya merasa ragu untuk mempermainkannya lebih lama.
"Kenapa Kak Dika diam? Apa Kakak tahu sesuatu? Ini soal adikku Liana, jika Kak Dika tahu sesuatu maka tolong jelaskan padaku sekarang! Aku tak perlu bersusah payah menemui ketua!"
"Hahh ...." Dika menghela napas, sejurus kemudian dia berkata, "Baiklah, aku akan bilang pada ketua kalau kau ingin bertemu. Jika ketua sebuah setuju maka aku akan mengabarimu. Sekarang kembalilah, istirahat di rumah sana, aku tahu kalau kau baru kembali dari luar negeri. Dan untuk sementara aku tak punya tugas untukmu. Kau bisa bersantai sedikit."
"Terima kasih, Kak!" seru Leon yang akhirnya mempunyai sedikit kelegaan di dalam hatinya.
Leon segera pergi sesuai apa yang Dika minta. Dia sudah cukup merasa puas, setidaknya untuk hari ini. Karena malam sudah tiba, Leon menyempatkan diri untuk membeli makanan sebelum dia kembali ke rumah. Dia cukup merasa khawatir pada adiknya yang sendirian di rumah. Walaupun sudah ada penjaga dari Divisi 1 yang berjaga di rumah, Leon tetap khawatir karena bisa saja mereka menerima perintah yang tidak sejalan dengannya.
Leon tiba di rumahnya tepat saat waktunya makan malam sudah tiba. Namun, dia mendapatkan kejutan karena dia melihat keberadaan kekasihnya yang ada di rumahnya.
"Mayra?" tanya Leon dengan mata yang membulat. Hatinya juga berdebar-debar lebih cepat karena perasaan rindunya kepada sang kekasih.
"Iya, ini aku. Kau keterlaluan sekali, kau pulang dari luar negeri tapi tidak mengabariku. Untung saja Liana memberitahuku, jadi aku cepat-cepat kemari," jawab Chelsea dengan senyuman. Kedua pipinya juga ikut merona, entah kenapa dia seakan tak bisa mengendalikan perasaannya begitu melihat Leon yang kini ada di hadapannya.
"Ehem!" Liana sengaja pura-pura batuk dan muncul di tengah-tengah kedua orang itu. Dia merasa sedikit kesal lantaran dia diabaikan begitu saja. "Kak Leon bawa apa?"
"Ah, ini ... lauk untuk makan malam," jawab Leon yang salah tingkah.
Tiba-tiba saja Liana merampas makanan yang dibawa oleh Leon. Kemudian dia berjalan lebih dulu dan melewati kedua orang itu. "Ayo makan bersama, padahal Kak Mayra sudah memasak, tapi tidak masalah kalau Kak Leon bawa makanan lagi! Kita bisa kenyang sampai besok!"
"Eh, kau sudah memasak?" tanya Leon seakan tak percaya.
"Iya, tapi cuma masakan rumahan sederhana. Harap kau suka," jawab Chelsea yang kemudian memalingkan wajahnya karena malu.
Sejenak Leon tertegun, kemudian dia tersenyum dan menggandeng sebelah tangan Chelsea. "Terima kasih. Mari, kita makan bersama!"
__ADS_1
"Oke ..." jawab Chelsea yang kemudian mengikuti jalannya Leon. Kedua pipinya semakin merona saat merasakan kehangatan dari genggaman tangan yang Leon berikan.
Mereka bertiga pun makan bersama. Sesekali Liana juga menggoda Chelsea di saat sedang makan. Dia menggodanya dengan mengatakan bahwa masakan calon kakak iparnya terasa sangat enak. Hal itu sontak saja membuat Leon dan Chelsea sama-sama tersipu malu dan salah tingkah.
Begitu makan malam selesai, Liana yang menyadari jika kedua orang itu butuh waktu bersama akhirnya meminta izin untuk kembali ke kamarnya. Dia beralasan bahwa dia harus kembali melanjutkan belajar dan mengerjakan tugas sekolah.
"Emm ... biar aku bereskan!" ungkap Chelsea yang kemudian mengumpulkan piring-piring kotor di atas meja makan.
"Tunggu, biar aku saja! Kau sudah memasak, jadi biarkan aku yang mencucinya!" cegah Leon sembari menahan tangan Chelsea.
Pipi Chelsea kembali merona saat melihat tangan Leon yang menyentuh dirinya. "Emm ... supaya adil, bagaimana kalau kita bereskan bersama?"
"Begitu juga boleh," jawab Leon sedikit gugup.
Chelsea dan Leon pun membersihkan semua peralatan makan yang telah kotor. Mereka berdua bersama-sama mencuci di wastafel. Ini merupakan momen pertama kalinya setelah mereka berpisah cukup lama. Sebenarnya keduanya ingin saling melepas rindu, hanya saja situasi yang canggung ini telah membuat mereka berdua merasa kaku dan ragu untuk bertindak apa pun.
"Emm ... bagaimana kau di luar negeri sana? Kau tidak mendapatkan halangan saat menjalankan tugas, kan?" tanya Chelsea yang berusaha memecah suasana canggung.
"Tidak ada, semuanya berjalan dengan baik. Lalu kau sendiri? Bagaimana saat aku tidak ada? Liana tidak menyusahkanmu, kan?" Leon bertanya balik.
"Jujur saja ... ada banyak hal yang telah terjadi padaku ataupun Liana selama kau tidak ada. Kau sendiri sudah tahu kalau Liana kini menjadi terkenal di dunia hiburan. Dan aku ..." Tiba-tiba saja perkataan Chelsea terhenti. Dia masih ragu apakah harus menceritakan semua masalahnya pada Leon. Dia juga khawatir dengan reaksi Leon jika tahu bahwa dia ingin berperang melawan Nisa sang ketua yang sangat dia hormati.
"Ada apa? Apakah itu sesuatu yang buruk?" Leon lantas meletakkan sebuah piring yang sudah bersih. Dia menghentikan semua tindakannya dan hanya menatap Chelsea dengan tatapan serius.
"Tidak apa-apa, bukan sesuatu yang serius!" sanggah Chelsea dengan spontan. Dia bermaksud tidak ingin membebani Leon dengan masalahnya.
"Leon! B-bukan begitu, aku cuma ... cuma tak ingin kau kerepotan karena masalahku!" jelas Chelsea yang tak mau jika Leon malah salah paham terhadap dirinya.
"Memangnya masalahmu itu seperti apa sampai membuatku akan kerepotan? Kau meremehkan aku? Atau kau memang ingin menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Leon lagi dengan tatapan makin curiga.
"Ukhh ... bukan itu semua! Aku tak pernah meremehkanmu! Baiklah kalau kau memang ingin tahu! Aku telah menyinggung seseorang yang penting! Dan mungkin saja sudah ada orang yang dikirim untuk mengincar nyawaku!"
"Apa?! Katakan lebih jelas!" pinta Leon yang raut wajahnya mulai panik.
"S-sebenarnya ..." Tiba-tiba saja Chelsea menundukkan kepalanya. Lalu dengan nada suara pelan dia berkata, "Aku telah menyinggung Kepala Divisi. Aku sempat bilang padanya jika aku ingin berhenti dan keluar dari organisasi."
"Apa? Tapi kenapa? Tunggu sebentar ... terus kak Dika bilang apa padamu?" tanya Leon yang mulai bersikap sedikit tenang dan mengontrol emosinya.
"Kepala Divisi bilang ... aku hanya boleh berhenti jika aku membunuh diriku sendiri. Lalu sebagai bentuk pengertiannya, dia memberhentikan tugasku di Divisi 3 dan memberikan waktu seminggu untukku berpikir. Jika dalam waktu satu minggu aku tidak kembali, Kepala Divisi bilang jika dia akan mengirimkan orang untuk membunuhku."
"Lalu kapan seminggu itu? Apakah sudah lewat?" tanya Leon penuh rasa khawatir sampai keningnya ikut mengerut.
"Belum lewat. Batas waktu terakhir adalah besok."
__ADS_1
"Dan apa keputusanmu? Kau yakin mau berhenti?" tanya Leon lagi.
"Tidak, untuk saat ini aku tidak yakin. Jadi besok aku akan kembali, mengaku salah dan meminta maaf. Hanya saja aku sedikit khawatir jika perbuatanku ini akan berimbas ke orang-orang terdekatku. Seperti Liana dan kau ...."
"Jadi, belakangan ini aku tak bisa selalu mengawasi dan terus berada di samping Liana. Sebenarnya ada orang yang mencurigakan, namanya adalah Orchid, dia manajernya Liana. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini. Belakangan ini aku cuma mengawasinya dan terus berlatih agar jadi semakin kuat. Aku ingin melindungi Liana sebaik mungkin semasa kau tidak ada. Karena ini janjiku padamu, Leon ..." lanjut Chelsea.
"Astaga, aku tak menyangka jika akan ada banyak hal yang terjadi selagi aku tidak ada." Leon menghela napas, sejurus kemudian dia berkata, "Jika aku boleh tahu, kenapa kau sempat ingin berhenti? Apakah sekarang kau menyesal telah mengambil keputusan ini?"
Dada Leon terasa sesak. Dia merasa bersalah karena telah membuat wanita yang dia sukai jadi seperti sekarang. Andai saja waktu itu Leon tak pernah setuju untuk mengenalkan Chelsea pada organisasi, mungkin wanita ini akan terus menjadi wanita yang baik dan bukan manusia kotor sepertinya.
"Tidak, ini bukan soal menyesal atau tidak. Hanya saja ... aku telah menemukan seseorang yang menjadi target utama balas dendamku. Aku ingin segera membalaskan dendam ini, dan aku berpikir jika itu bisa berjalan lebih cepat jika aku keluar dari organisasi."
"Siapa? Memangnya kau ingin balas dendam pada siapa? Coba katakan padaku, mungkin aku bisa membantumu!" ucap Leon tanpa ragu. Dia sama sekali tidak memiliki keraguan pada kekasihnya ini. Dan dia akan sangat senang jika dia bisa memberikan bantuan untuknya.
"...." Di satu sisi Chelsea terdiam. Masih tidak menyangka dengan apa yang Leon katakan barusan. Leon ingin membantunya, hanya saja dia masih teramat ragu untuk menceritakan semua kebenarannya.
Bagaimana ini? Apakah yang Leon katakan memang sungguhan? Tapi jika Leon tahu kalau musuhku adalah ketua, aku takut jika Leon tidak akan percaya dan malah berbalik melawanku. Tapi jika Leon mendukungku, ini akan sangat berarti sebagai bantuan besar.
Sial, aku tidak mengira jika Leon akan berkata begini. Kalau seperti ini, lebih baik aku terus menyembunyikan kebenaran ini. Aku ingin Leon tetap netral dan tak berpihak pada siapa pun.
Tiba-tiba saja Chelsea tersenyum tipis, lalu dengan nada lembut dia berkata, "Tidak apa-apa. Kau dulu pernah bilang padaku jika balas dendam itu adalah hal kekanakan, seperti masuk ke lingkaran yang tiada akhir. Aku tak mau menyeretmu ke dalam lingkaran ini. Ini balas dendamku, dan aku ingin menyelesaikan semua ini dengan tanganku sendiri!"
"Tetapi ... jika kau butuh bantuan, kau bisa mengandalkan aku!" seru Leon sekali lagi. Dia teramat khawatir dengan ambisi besar yang kekasihnya punya. Dia takut jika ambisi berbahaya seperti ini justru akan berbalik mencelakai dirinya.
"Hehe, jangan remehkan aku, Leon! Aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu! Aku yang sekarang memiliki peluang lebih besar. Ini semua juga berkatmu yang telah membantuku untuk berubah. Terima kasih, karena inilah aku menyukaimu!" ucap Chelsea dengan senyuman tanpa beban.
"K-kau ...." Sontak saja wajah Leon memerah. Dia tersipu malu karena Chelsea tiba-tiba mengatakan menyukai dirinya.
Namun, sedetik kemudian Leon seakan kehilangan kendali. Tiba-tiba saja dia berdiri di belakang Chelsea, mengurungnya dengan kedua tangan tepat di sebelah sisi kanan kiri tubuh Chelsea.
"Leon?" Seketika Chelsea berbalik. Dia makin merasa gugup karena saat ini wajah Leon begitu dekat dengan dirinya.
"Terima kasih, kau telah menjaga adikku dan dirimu sendiri dengan baik selama aku pergi. Aku sungguh berterima kasih karena kalian berdua tidak kenapa-kenapa. Selama aku tidak ada, kau tidak melakukan sesuatu di belakangku, kan?" tanya Leon dengan tatapan tajamnya.
"T-tidak! Aku orang yang setia! Lagi pula aku mana ada waktu untuk mencari orang lain? Selama ini ... aku cuma bisa merindukanmu diam-diam ...." jawab Chelsea gelagapan. Dia tak percaya jika dirinya sendiri akan mengatakan kalimat semacam ini.
"Heh, baguslah kalau begitu!"
Wajah Leon semakin lama semakin mendekat. Chelsea yang menyadari hal itu langsung memejamkan matanya, seakan-akan telah siap menerima apa saja yang akan Leon lakukan padanya.
Kini mereka telah bertemu, tak ada jarak lagi di antara mereka. Leon sudah tak tahan lagi untuk lebih mendekat dan menempelkan bibirnya ke bibir ranum yang selalu menggoda itu. Kedua tangannya diam-diam juga melingkar di pinggang ramping Chelsea, membuat tubuh keduanya semakin merapat.
Di satu sisi Chelsea juga menyambut ciuman itu. Dia ingin sekali merangkul leher Leon untuk memberikan tanggapan balik. Hanya saja dia sadar kalau di kedua tangannya masih terdapat sisa busa sabun cuci piring. Terpaksa dia melakukan ciuman ini dengan pasrah dan hanya membiarkan Leon yang mendominasi.
__ADS_1
"Uhmm ..."
Maafkan aku Leon, aku terpaksa menyembunyikan kebenaran soal balas dendamku darimu. Aku tak ingin hubungan kita berakhir karena dendam. Aku tak mampu melakukannya, karena sekarang aku sudah sadar ... kalau aku mencintaimu. Aku tak mau melukaimu dan membuatmu terluka karena aku.