
Leon berlari secepat yang dia bisa ketika keluar dari dalam gedung Grizz Glory Casino. Begitu dia sampai di luar, dia sudah tidak melihat mobil Chelsea ataupun tanda-tanda lain dari keberadaan Chelsea.
"Sial, sepertinya aku terlambat!" umpat Leon yang penuh kekesalan.
Leon lantas mencoba menggunakan kunci mobil yang baru saja dia dapatkan dari Dika. Dan tiba-tiba saja sebuah mobil Ferrari berwarna hitam merespons dengan kunci remote mobil tersebut. Leon segera masuk ke dalam mobil mewah milik Dika itu. Dan sebelum Leon menghidupkan mesin mobil, tiba-tiba saja dia mengeluarkan ponselnya.
Leon menggunakan ponsel itu bukan untuk menghubungi atau pengirim pesan pada Chelsea, karena dia tahu jika saat ini pasti tidak memungkinkan untuk Chelsea mengangkat panggilan telepon darinya. Yang Leon lakukan adalah membuka dan mengecek aplikasi GPS yang terpasang di ponselnya, sebelumnya dia dan Chelsea memang telah sepakat untuk saling menghubungkan GPS di ponsel satu sama lain, untuk berjaga-jaga jika terjebak dalam keadaan mendesak atau berbahaya.
Seperti halnya sekarang, Leon sangat khawatir soal keselamatan Chelsea yang pergi begitu saja tanpa kejelasan. Akhirnya Leon memanfaatkan GPS yang sudah terhubung ini untuk melacak lokasi Chelsea terkini. Begitu Leon sudah mendapatkan titik lokasi yang akurat, dia segera menghidupkan mesin mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Namun, nasib sial bagi Leon. Tak berselang lama kemudian tiba-tiba langit menjadi semakin gelap, awan hitam menghalangi cahaya rembulan, air hujan turun dari langit begitu deras dan merata di seluruh penjuru kota. Hujan deras ini memperburuk keadaan, kondisi jalan yang padat juga bertambah menjadi licin. Alhasil, Leon terjebak di antara mobil-mobil yang melaju dengan kecepatan lambat.
***
Pada saat yang sama di tempat Chelsea saat ini berada. Chelsea pergi meninggalkan Grizz Glory Casino dengan patah hati. Bagaimana tidak? Balas dendam yang selama ini dia perjuangkan telah sepenuhnya menemui kegagalan. Bukan hanya kegagalan, tetapi dia juga merasa dipermalukan. Terlebih lagi malu pada dirinya sendiri.
Karena hatinya mencintai Leon, tujuan balas dendamnya menjadi goyah dan runtuh. Cinta, adalah sesuatu yang sebelumnya dia anggap sepele dan tidak berguna. Hingga hari ini, pada akhirnya dia menyadari apa itu kekuatan dari cinta yang sebenarnya telah dia remehkan. Begitu dahsyat hingga dendam yang disimpan selama 10 tahun lamanya tidak berarti apa-apa.
Perasaan seperti marah, sedih, benci, dan malu pada diri sendiri semuanya berkecamuk di dalam hati Chelsea. Saat ini dia sangat butuh seseorang yang bisa dijadikan sandaran. Orang itu biasanya adalah Leon, tetapi saat ini Chelsea merasa tidak pantas untuk berhadapan dengan Leon.
Hingga akhirnya, dia begitu putus asa dan memilih untuk mengadu pada seseorang yang sudah lama tiada. Yang tidak lain adalah mendiang William Adinata. Malam ini, di tengah hujan yang deras, Chelsea seorang diri berkunjung ke Paradise Memorial Garden. Sebuah pemakaman yang memang disediakan khusus untuk golongan orang-orang atas.
Meskipun sudah 10 tahun berlalu, kuburan William Adinata masih terawat dengan baik. Dan di samping kuburan itu, sedari tadi Chelsea sudah duduk di sana sambil menangis.
"Kakak ... aku mohon maafkan aku, adikmu ini sungguh tidak berguna ...."
"Selama ini aku terus mencari tahu ... dan pada akhirnya aku tahu siapa saja yang sudah membunuh Kakak ...."
"T-tapi, dengan bodohnya hatiku goyah dan kalah ... aku tidak bisa memberikan keadilan bagi kakak ...."
"Meskipun Kak Liam sudah melakukan perbuatan yang salah ... aku akan tetap membela kakak. Karena kak Liam adalah kakak terbaik yang aku punya ...."
"Aku memohon maaf pada Kakak ... gara-gara perasaanku, gara-gara aku egois dan memilih cintaku, aku gagal menuntut balas dan melakukan kewajibanku sebagai adik ...."
"Maaf ... aku juga sudah tidak tahu diri. Harusnya aku tak mengganggu kakak dan membiarkan kakak beristirahat dengan tenang ...."
"T-tapi aku tidak bisa .... maafkan adikmu ini yang masih manja, aku hanya bisa mendatangi kakak ... karena kakak adalah satu-satunya sandaran yang aku punya ...."
Tangisan Chelsea semakin deras. Namun, mau dia menangis sederas apa pun, air matanya masih tak mampu untuk menyaingi derasnya air hujan yang mengguyur bumi. Meskipun begitu, air mata Chelsea telah bercampur dengan air hujan, tak tahu ke mana akan mengalir pada akhirnya nanti. Seperti kesedihannya yang seakan tak tahu kapan akan berakhir.
Sakit, hatinya begitu sakit karena menganggap semua hal yang telah dia perjuangkan hanya berakhir sia-sia. Menyesal, itu sudah pasti. Dia menyesali semuanya karena tak memiliki kemampuan yang cukup. Menyesal telah memaksakan diri untuk tetap melawan, hingga pada akhirnya yang dia temui adalah kekalahan.
Chelsea telah putus asa, selain menangis tak bisa melakukan apa-apa. Dia begitu tidak berdaya, yang dia bisa hanya terus menangis dan membiarkan air matanya habis dengan sendirinya.
CTARR! CTAARR!
Suara petir menggelegar, cuaca hujan ini semakin memburuk. Hujan makin deras dan angin juga semakin bertiup kencang. Semua hal ini membuat temperatur semakin turun, meskipun kedinginan, Chelsea tetap bersikukuh untuk terus berada di samping makam mendiang William. Dengan bodohnya menganggap jika inilah penebusan yang pantas atas kegagalan balas dendamnya.
CKITT ...
Leon memberhentikan mobil yang dia kendarai. Dia sedikit kebingungan dan ragu kenapa lokasi Chelsea berada menunjuk pada lokasi Paradise Memorial Garden. Pikirnya, untuk apa malam-malam datang ke kuburan dalam cuaca yang buruk.
Kebingungan Leon langsung terpecahkan ketika melihat mobil Chelsea yang ternyata berada di sana. Karena di mobil Dika tak ada payung, Leon hanya bisa nekat turun di tengah derasnya hujan untuk mengecek mobil Chelsea.
__ADS_1
"Chelsea!" teriak Leon seraya mengintip dan mengetuk kaca mobil. Namun sayang karena Chelsea tak ada di dalam mobil itu.
"Sial, apakah Chelsea ada di dalam area pemakaman?" gumam Leon seraya melihat pintu gerbang masuk ke pemakaman. Dan memang benar jika pintu gerbang itu terbuka.
Tanpa pikir panjang, Leon segera masuk ke area pemakaman. Dan benar saja, setelah dia berkeliling, dia melihat Chelsea yang kondisinya sudah pingsan di sebelah sebuah makam.
"Chelsea!" teriak Leon panik yang segera menghampiri Chelsea. Kondisi Chelsea tak jauh berbeda dari zombie yang ada di film-film. Karena luka yang sebelumnya dia dapat, darahnya telah merembes keluar karena terkena air hujan. Pakaiannya juga sudah kotor terkena lumpur, bahkan sekujur tubuhnya juga sudah pucat karena kedinginan.
Leon beberapa kali menepuk pipi Chelsea untuk membuatnya sadar, tetapi percuma saja. Ketika dia memutuskan untuk membopong Chelsea, dia melihat sekilas ke arah batu nisan yang bertuliskan nama, 'WILLIAM ADINATA'.
"Dasar, aku paham kenapa kau ingin mengunjungi makam kakakmu. Tapi tidak dengan cara seperti ini juga!" gerutu Leon yang segera membopong Chelsea untuk keluar dari area pemakaman.
Setelah itu Leon langsung membawa Chelsea untuk masuk ke dalam mobil milik Dika. Dan sebelum Leon pergi, dia juga memastikan jika mobil Chelsea sepenuhnya dalam kondisi aman, supaya tak berpeluang untuk dicuri ketika ditinggalkan.
Karena tak mau membuat Liana curiga ataupun tahu yang sebenarnya, Leon akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah Chelsea. Untung saja dia tahu jika Chelsea menyembunyikan kunci rumah cadangan di dalam pot bunga anggrek yang ada di depan rumah. Hal itu mempermudah Leon karena dia tak perlu bersusah payah untuk mendobrak pintu supaya bisa masuk ke dalam.
Leon membopong Chelsea memasuki rumah dengan hati-hati. Dia juga dengan cekatan segera memberikan Chelsea perawatan. Dia tak memedulikan luka pada tubuhnya sendiri asalkan dia memastikan jika Chelsea baik-baik saja.
Leon melakukan semuanya dengan telaten. Mulai dari membersihkan tubuh Chelsea dari lumpur, merawat setiap luka di tubuhnya, hingga menggantikan pakaian untuk Chelsea. Sekalipun dia harus sedikit-sedikit menutup mata, karena merasa lancang baginya untuk melihat bagian tubuh Chelsea seluruhnya.
Kini Chelsea telah sepenuhnya bersih dan semua lukanya juga sudah dibalut oleh perban. Leon membaringkan tubuh Chelsea di atas ranjang dan menyelimutinya dengan sebuah selimut yang tebal supaya dia tidak kedinginan.
Setelah memastikan jika perawatan Chelsea sudah beres. Leon mengubah fokusnya pada diri sendiri. Bajunya juga telah basah dan kotor, dia membersihkan tubuhnya dan merawat setiap luka di tubuhnya sendiri. Bahkan, ketika dia menangani luka yang cukup lebar, dia juga berusaha untuk menjahit lukanya sendiri.
Semua hal ini sudah biasa bagi Leon. Sebelum dia menjadi seorang elite, dia kerap sekali mengalami situasi yang mirip seperti ini. Situasi di mana dia harus selalu dan hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Hanya saja, yang menjadi kekhawatiran Leon adalah soal pakaian. Tidak mungkin baginya untuk telanjang, apalagi untuk memakai pakaiannya yang telah kotor lagi. Alhasil, Leon memutuskan untuk mengambil sebuah bath robes milik Chelsea. Leon terpaksa memakai handuk model kimono yang berwarna merah muda tersebut.
"Ehmm ... kak Liam ...." Chelsea meracau.
Leon yang mendengarnya seketika mendekat. Dia menyadari jika dalam kondisi seperti ini pun Chelsea masih mengaitkan alisnya, yang artinya dia masih memikirkan sesuatu yang berat. Leon juga menyadari jika kini tubuh Chelsea menggigil kedinginan. Pikirnya, Chelsea sudah kehujanan di luar sana dalam waktu yang cukup lama, sebuah selimut saja tak akan cukup untuk menghangatkan tubuhnya.
"Ah, sudahlah! Masa bodoh! Lagi pula ini bukan pertama kalinya!"
Leon akhirnya memantapkan diri. Dia ikut berbaring di ranjang milik Chelsea. Lalu, dengan kedua tangan kekar yang penuh luka itu, dia memeluk Chelsea dan memberikan semua kehangatan yang dia berikan. Dan benar saja, begitu dipeluk oleh Leon, seketika Chelsea berhenti menggigil.
"Tidurlah Chelsea ..." ucap Leon seraya memberikan sebuah kecupan di kening Chelsea.
Hari ini memang hari yang berat untukmu, kau telah gagal memenuhi tujuan balas dendammu. Tetapi ... sebuah kegagalan ini bukan akhirnya, aku percaya padamu jika kau mampu untuk melewati ini semua. Kau sudah terbebas dari aturan organisasi yang selama ini membelenggu dirimu. Aku harap, kau akan bisa memulai semuanya dari awal dan menentukan hidup barumu.
***
Hari telah berganti, pagi hari ini Chelsea terbangun karena merasakan silau dari cahaya mentari. Begitu dia melihat sekeliling, dia kaget lantaran kenapa dia bisa berada di dalam kamarnya sendiri. Padahal dia ingat betul jika semalam dia sedang menangis di kuburan kakaknya.
"Kenapa aku bisa di sini?" gumam Chelsea kebingungan.
Chelsea baru menyadari jika baju yang dia pakai juga telah berganti, semua luka di tubuhnya juga telah dibalut oleh perban dengan rapi. Pikiran Chelsea langsung teringat pada Leon. Dia yakin jika tidak ada orang selain Leon yang akan memperlakukan dirinya seperti ini.
Chelsea yang penasaran pun segera turun ke bawah. Dia tiba-tiba mencium bau aroma masakan yang wangi berasal dari ruang makan. Saat dia membuka tudung saji, dia melihat beberapa menu makanan yang tampak begitu lezat.
"Di mana Leon? Ini semua pasti ulahnya, tapi aku tak melihatnya di mana pun. Apa jangan-jangan dia sudah pulang?" gumam Chelsea yang penasaran.
Tiba-tiba saja Chelsea mendengar sesuatu yang berisik yang asalnya dari luar rumah. Ketika Chelsea membuka pintu dan melangkah ke luar rumah untuk memeriksa, dia kaget lantaran Leon sedang memberikan aba-aba apa orang asing yang mengendarai mobil miliknya.
"Leon, ada apa ini?" tanya Chelsea.
"Eh? Kau sudah bangun! Ah, ini ... sebenarnya aku meminta kak Dika agar mengirim orang untuk membawa pulang mobilmu. Karena semalam kau pingsan, aku terpaksa meninggalkan mobilmu di sana," jawab Leon malu-malu. Untung saja dia menemukan setelan baju pria di dalam mobil Dika. Jadi dia tidak akan ketahuan oleh Chelsea jika dia semalaman memakai bath robes merah muda.
__ADS_1
"Begitu ya, terima kasih banyak ..." ucap Chelsea dengan senyuman.
"Ehmm ... aku sudah menyiapkan makanan untukmu, makanlah selagi masih hangat!" ajak Leon seraya menggandeng tangan Chelsea dan menyeretnya kembali masuk ke dalam rumah.
Setelah berada di dalam, Leon juga mendorong tubuh Chelsea pelan supaya duduk di kursi meja makan. Leon juga mengambilkan nasi dan semua lauk dalam jumlah porsi yang wajar. Lalu juga menuangkan teh herbal ke gelas Chelsea. "Nah, ayo makanlah!"
Sejenak Chelsea terdiam, lalu tersenyum tipis dengan bibirnya yang pucat. "Entahlah Leon ... aku tak berselera untuk makan ...."
"Eh? Kenapa? Apa masakanku tidak cocok dengan seleramu?" tanya Leon.
"Bukan soal itu, kau itu sangat pintar memasak. Semua makanan ini tampak lezat dan rasanya sudah pasti tidak diragukan lagi. Hanya saja ... aku benar-benar tidak punya selera untuk makan ..." jawab Chelsea lagi, tetapi kali ini wajahnya tampak murung.
"Apa kau sedang mencoba diet?" tanya Leon lagi.
"Tidak Leon! Kenapa kau terus bertanya?! Apa jawabanku masih kurang jelas?! Aku sedang tidak berniat untuk bercanda denganmu! Justru kau yang aneh, setelah semua yang terjadi, kenapa kau seakan tidak merasakan apa-apa?!" bentak Chelsea yang sudah lelah terus digoda oleh pertanyaan Leon.
Leon hanya merespons dengan senyumnya. Lalu meraih kedua tangan Chelsea dan menggenggamnya, seraya menatap manik mata berwarna hazel itu dengan tatapan lembut. "Chelsea ... aku bukannya tidak merasakan apa-apa. Hanya saja, aku lebih memilih untuk bersikap menerima ini semua."
"Menerima katamu?! Itu mudah kau lakukan karena kau bukan aku! Yang gagal di sini itu adalah aku, Leon! Bukan kau! Yang gagal mencapai tujuan itu aku! Jadi, bagaimana bisa aku menerima ini semua begitu saja?" protes Chelsea.
Leon menghela napas dan berkata, "Chelsea, pertanyaanmu itu salah, kau tidak bisa menanyakan padaku soal bagaimana caranya kau bisa menerima ini semua. Karena, soal bisa atau tidaknya, itu tergantung pada kelapangan hatimu sendiri. Mulai sekarang, jangan isi hatimu dengan dendam lagi, oke?"
"Tapi, Leon ... ada banyak orang yang telah jahat padaku dan mempermainkan aku. Bagaimana aku bisa melepaskan mereka begitu saja tanpa menyimpan dendam?" tanya Chelsea dengan suara gemetar.
"Hei, sepertinya kau tidak menyimak perkataan Ketua dengan baik."
"Ketua lagi, Ketua lagi! Di saat seperti ini pun kau masih membela Nisa!" teriak Chelsea seraya menarik tangannya kembali agar lepas dari genggaman Leon.
"Aku bukannya membela Ketua. Tetapi aku hanya menyampaikan apa yang sebenarnya. Ketua tidak seburuk yang kau kira, Chelsea. Kemarin malam dia sudah menyatakan sendiri jika kau sudah terbebas, dan anggota lain dari Divisi mana pun tidak diizinkan melukaimu. Itu bisa diartikan jika Ketua mengajak berdamai denganmu," jelas Leon yang justru semakin membuat Chelsea murka.
"Berdamai kau bilang? Bagaimana bisa aku berdamai dengan musuhku?! Dia itu adalah iblis! Aku tidak sudi berteman dengan iblis!"
Sekali lagi Leon menghela napas. Lalu sedikit menjauh dari Chelsea dan memalingkan wajahnya ke arah lain. "Chelsea, akan susah mengubah hatimu jika matamu masih dibutakan oleh dendam. Apa kau masih belum belajar, apa akibatnya dari balas dendammu ini?"
Tiba-tiba Chelsea membisu. Pertanyaan Leon barusan seakan-akan tepat menusuk di ulu hatinya. "Akibatnya ... aku hampir kehilangan dirimu. Maafkan aku, Leon. Tolong maafkan juga semua sikapku barusan. Kau sudah banyak menolongku, merawatku, mengajariku, berbagi denganku dan menjadi sandaran bagiku. Sepertinya kau benar, mataku memang sudah dibutakan oleh dendam sehingga aku bahkan sempat melupakan semua kebaikanmu."
"Namun ... aku masih belum mengerti soal apa yang kau katakan tadi. Apa maksudnya Nisa mengajak berdamai?" tanya Chelsea.
"Itu artinya dia tidak akan membuat perhitungan denganmu lagi. Kita semalam diperlakukan seperti itu karena upaya kita itu termasuk sebagai pemberontakan. Ketua hanya menjalankan tugasnya dan menindak kita sesuai aturan. Damai, yang dimaksud Ketua adalah ingin mengakhiri lingkaran dendam dan permusuhan ini. Menurutku itu benar, karena balas dendam adalah lingkaran tanpa akhir," jawab Leon.
"Huh, meskipun caranya baik, apa kau pikir Nisa itu tulus? Dia itu super licik, Leon. Kita tidak bisa mempercayainya begitu saja. Bisa saja saat ini dia sedang memata-matai kita! Itu mungkin saja jika dia menyuruh orang untuk meletakkan alat penyadap ketika kita sedang berada di kasino tadi malam," protes Chelsea lagi.
Leon tertawa kecil. "Waspada itu baik, tetapi tidak baik menuduh orang sembarangan. Ketua sudah lepas tangan soalmu, itu juga bisa diartikan jika mulai sekarang kau dianggap sebagai orang asing. Jadi, dia tidak mungkin menaruh benda seperti itu di rumahmu."
Chelsea membisu, dia tidak bisa berdebat melawan Leon lagi yang mempunyai kesetiaan sangat tinggi kepada Nisa. "Jika semua yang kau katakan itu benar, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Kenapa kau malah bertanya? Bukannya ini yang selama ini kau inginkan? Kebebasan, sekarang kau bebas, Chelsea. Kau tak perlu terikat pada dendam dan aturan lagi. Kau hanya perlu melakukan apa yang kau suka, karena kau sudah punya kebebasan! Inilah modal utama kau memulai awal yang baru!" ucap Leon dengan senyuman.
"Awal yang baru ..." gumam Chelsea yang kemudian kembali terdiam. Dia benar-benar merenungkan apa yang Leon katakan padanya.
"Bagaimana? Apa kau sudah terpikirkan soal apa yang kau ingin lakukan?" tanya Leon penasaran.
"Ehmm ... iya, aku sudah memikirkannya! Yang ingin aku lakukan adalah berjumpa lagi dengan putraku, Luciel!"
"Eh, a-apa?" Leon terkesiap.
__ADS_1