
"Bangs*t, bangs*t, bangs*t! SIALAN!!!" teriak Nisa layaknya orang frustrasi.
Malam ini dia mengebut di jalanan raya yang ramai, bahkan juga mengabaikan suara klakson dari pengendara lain yang memperingati dirinya. Di pikiran Nisa saat ini hanya satu, dia harus segera kembali ke rumah secepat mungkin.
"Sialan kau Keyran! Dasar suami licik! Kau bilang akan pergi selama 4 hari, tapi sekarang kau memberi kabar kalau kau pulang lebih awal! Sial, sial, sial! Dasar CEO sok berkuasa! Kau pasti sudah tahu informasi soal perekrutan! Tapi kau justru pura-pura tidak tahu dan sengaja mempermainkan aku! Dasar anak buah payah! Bisa-bisanya hal ini bocor ke suamiku!"
Nisa terus-terusan memaki di sepanjang perjalanan. Dia yang sebelumnya sudah dekat dengan pelabuhan, terpaksa harus berputar balik karena menerima telepon dari suaminya. Keyran berkata jika urusannya selesai lebih cepat dan malam ini akan tiba di rumah, Keyran juga berkata bahwa dia sangat merindukan istrinya dan anak-anaknya dan tak sabar untuk melihat mereka.
Sialnya, Nisa sudah hafal dengan trik semacam ini. Dia tahu jika pernyataan kerinduan padanya itu hanya omong kosong, tentu saja sebenarnya Keyran bermaksud untuk memperingati dirinya. Nisa tak punya pilihan lain selain sesegera mungkin pulang, karena dia tahu betul jika mereka sudah bertengkar maka mereka akan susah untuk berbaikan.
Begitu Nisa sampai di rumah, dia langsung memikirkan mobil ke dalam garasi, membuatnya seolah-olah mobil itu masih rapi dan tak digunakan malam ini. Lalu dia buru-buru ke kamar, hendak mengganti bajunya dan memakai piama, membuatnya seakan-akan dia tak pernah keluar rumah.
KLAK ...
Pintu kamar tiba-tiba saja dibuka ketika Nisa belum sempat mengambil piama dari lemari. Nisa yang kini keadaannya hanya memakai pakaian dalam tentu saja merasa kaget dengan kedatangan suaminya.
"Darling! Aku pulang!" teriak Keyran yang kemudian langsung mematung. Menatap tak percaya karena disambut dengan penampilan istrinya yang setengah telanjang.
"Ahaha ... rupanya kau sudah pulang." Nisa tertawa canggung, bahkan seketika otaknya seolah-olah berhenti berfungsi. Dia terlanjur gugup dan tidak segera memakai pakaian.
Keyran yang merasa janggal dengan sikap Nisa perlahan berjalan mendekat. Lalu dia mengusap dahi istrinya. "Kenapa kau berkeringat? Kau habis dari mana?"
"I-itu ... a-aku ... Latihan! Aku baru saja selesai latihan pemanasan!" jawab Nisa asal karena kelabakan.
"Pemanasan untuk apa?" tanya Keyran lagi dengan tatapan semakin curiga.
"Bertempur, emm ... m-maksudku olahraga! Olahraga rutin! Haha, apa kau tahu, olahraga malam hari sangat baik untuk kesehatan!"
"Hmm ... jadi kau berolahraga hanya dengan memakai pakaian dalam, hampir 7 tahun kita bersama dan aku baru tahu kebiasaan anehmu ini."
"..." Nisa membisu dan memalingkan wajahnya, dia tidak tahu kebohongan apa lagi yang harus dia katakan untuk mengecoh suaminya.
"Apa kau bermaksud menggodaku? Kau tahu aku akan pulang, jadi berpakaian seperti ini. Dan yang kau maksud pemanasan sebelum bertempur, apa itu pertempuran di ranjang?"
"I-iya, iya! Aku mengaku! Aku memang mau menggodamu!" ucap Nisa sambil menganggukkan kepala dengan cepat. Dia terpaksa mengiyakan semua perkataan mesum suaminya demi menutupi kebohongan.
Keyran tiba-tiba tersenyum, lalu memberikan pelukan yang erat pada istrinya. "Kau ini ada-ada saja .... Tapi, aku suka kau menyambutku dengan cara yang unik seperti ini. Habisnya aku khawatir kalau kau akan kabur dan keluyuran sepanjang malam saat aku tidak ada."
"B-baguslah kalau kau suka dengan cara seperti ini, aku melakukan ini agar kau tidak bosan denganku ...."
Sialan, suasana macam apa ini? Tapi biar saja asalkan aku tidak ketahuan.
"Oh iya Nisa, sebenarnya aku juga bawa oleh-oleh untukmu. Tapi karena kau sudah seperti ini, jadi besok saja aku tunjukkan! Sekarang ayo kita-"
"Tunggu dulu!" potong Nisa yang mulai gugup, dia tahu ke mana arah perbincangan ini berakhir.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Apa kau tidak ingin melihat anak-anak dulu? Tadi di telepon, kau bilang kalau kau juga merindukan mereka," ucap Nisa yang berusaha mengubah topik pembicaraan.
"Ini sudah malam, jadi anak-anak pasti sudah tidur. Aku tidak mau mengganggu tidur mereka, jadi besok saja aku lihat mereka. Sekarang kau tidak punya alasan lagi, kan?" tanya Keyran dengan tatapan tajam.
"T-tidak ada kok, aku juga senang bisa bersama lagi denganmu! Suamiku pasti lelah dengan perjalanan bisnis, mau aku pijat?"
Kesabaran Keyran habis, tanpa peringatan apa pun langsung menggendong Nisa di pundak lalu membantingnya ke atas ranjang.
"Ahh! Apa yang kau lakukan?! Kasar sekali!"
"Ckck, jangan pura-pura lagi istriku. Aku tahu apa yang coba kau tutupi dariku, kau harus menerima hukuman dariku sebagai akibatnya!"
"Glup ..." Nisa hanya bisa menelan ludah dan pasrah saat melihat suaminya sedang mencopot pakaian satu per satu.
***
Di sebuah bangunan tua yang sudah lama tak terpakai di Pelabuhan Barat. Di dalam bangunan itu semua Family selain Nisa berkumpul jadi satu tempat. Salah satu dari mereka berdelapan, seorang kepala dari Divisi 1 tampak sedang menggenggam erat ponsel miliknya.
"Ketua ... dia tidak jadi datang," ucapnya sambil berdiri membelakangi para Family yang lain.
"Apa?! Tapi bagaimana bisa?! Bukankah tadi kau bilang jika ketua sudah dalam perjalanan kemari?!" protes sang kepala Divisi 3.
"Ketua bilang ada perubahan rencana, suaminya pulang dari perjalanan bisnis lebih cepat."
"Cih, selalu saja begini!"
"Ya, kau benar. Ini salah kita, bukan salah ketua. Lalu para anak-anak baru itu, suruh pulang saja. Acara Perekrutan Anggota Tetap, selesai!"
Para Family telah membuat keputusan. Di antara mereka semua tak ada satu pun yang keluar dan memberikan sambutan kepada para anggota baru. Tugas yang harus dikerjakan pun diserahkan kepada Anggota Tetap kepercayaan masing-masing di setiap Divisi.
Mereka yang diberi kepercayaan ditugaskan untuk menarik kembali pin hitam serta mendata siapa saja yang telah mengembalikan. Dan yang sudah melakukan semuanya disuruh pulang. Menjadi pertanyaan besar di setiap anggota baru, kenapa acara perekrutan yang mereka harapkan lebih justru hanya berjalan seperti demikian.
"Sebenarnya ada apa ini?"
"Kenapa kami disuruh pulang?"
"Apa acara perekrutan memang hanya seperti ini?"
Satu per satu pertanyaan dilontarkan dari anggota tetap yang baru Divisi 2. Dan yang dipercaya untuk bertanggung jawab kali ini atas Divisi 2 tidak lain adalah Leon.
"Aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan kalian. Aku hanya menjalankan apa yang para Family perintahkan. Jika kalian ingin tahu, tujuan utama dari acara perekrutan ini adalah kehadiran ketua untuk menyambut kalian bergabung. Besok kalian datanglah ke Kedai! Ambil tugas pertama dan juga hadiah kalian!" jawab Leon dengan suara lantang.
Seketika para anggota baru itu tenang begitu mendengar kata 'hadiah'. Mereka tak bertanya yang macam-macam lagi dan segera meninggalkan area pelabuhan seperti instruksi.
Anggota tetap baru yang tersisa dari Divisi 2 tinggal Chelsea. Dia mendapatkan giliran terakhir penyerahan pin hitam.
__ADS_1
"Apa organisasi ini begitu kekurangan dana sampai pin kecil pun harus dikembalikan?" tanya Chelsea pada Leon yang sedang melepaskan pin hitam dari bajunya.
"Lebih baik kau diam jika tak tahu apa-apa. Sebuah pin ini jauh lebih berharga ketimbang nyawa!" ucap Leon penuh penekanan.
"Kenapa bisa sampai begitu?"
"3 hari lalu pin yang tersedia sesuai kuota telah diambil semuanya. Dan malam ini, setelah aku mendata ternyata ada 2 orang dari Divisi kita yang tidak datang. Otomatis mereka akan mendapatkan hukuman, yang tidak bisa mengembalikan pin ini akan menerima perintah pembunuhan!"
"Ini aturan dari ketua atau kepala Divisi?"
"Tentu saja ketua sendiri. Kau harusnya sudah paham jika tidak ada jalan kembali setelah kau memilih jalan ini!"
"..." Chelsea membisu.
Kejam sekali, aku semakin penasaran kenapa ketua begitu kejam. Seleksi perekrutan sudah memakan banyak korban, tapi tidak datang di acara juga akan dibunuh. Sedangkan, dia sendiri justru tidak bisa hadir untuk menyambut kami yang sudah bertaruh nyawa.
Posisi ketua begitu mulia di kalangan sampah-sampah ini. Untuk sampai ke tujuanku masih butuh perjalanan panjang. Aku ingin jadi orang kepercayaan ketua! Lalu dengan kekuasaan yang dia miliki, aku bisa memanfaatkannya untuk mencari Luciel.
"Setelah ini kau jangan pergi dulu!" ucap Leon tiba-tiba yang membuat Chelsea tersadar dari lamunan.
"Eh? Memangnya kenapa?" tanya Chelsea dengan tatapan bingung.
"Emm ... setelah aku melaporkan data ini pada kepala Divisi, mari pulang bersama! Jangan salah paham! Aku sama sekali tidak peduli padamu! Aku cuma tidak mau kau pulang sendiri terlalu lama dan kau besok justru terlambat mengambil tugas pertama! Ini akan berpengaruh ke satu Divisi!"
"Baiklah, aku paham. Aku akan menunggu di sini," jawab Chelsea dengan senyuman tipis.
Apa sih? Padahal aku tidak bilang apa-apa.
***
Keesokan harinya tiba. Chelsea yang kini sudah siap menerima tugas pertamanya segera datang ke Kedai Pembunuh tepat waktu. Dia sudah hafal jalan mana yang harus dia ambil untuk menuju ruang tersembunyi bawah tanah.
Di sebuah ruangan kepala Divisi, sudah ada Dika yang menunggu kedatangannya. Chelsea yang baru saja datang langsung memberikan salam hormat kepadanya.
"Apa tugas saya, Pak Kepala?"
Dika menyeringai, "Heh, kau orang pertama yang lebih tertarik dengan tugas daripada hadiah. Tapi aku akan bersikap adil, kau terima saja dulu hadiahmu. Kemarilah!"
Chelsea melangkah mendekat, lalu dia melihat ada beberapa benda di atas meja. Di antaranya adalah sebuah kunci mobil, paspor, visa, buku rekening, kartu akses, dan juga kartu identitas yang lain. "Apakah ini semua untuk saya?"
"Ya, semua benda-benda ini memang diatur untukmu. Organisasi ini menyediakan identitas baru bagi seluruh anggota. Kudengar dari Leon, kau itu adalah imigran ilegal. Dengan semua ini kau bisa hidup tenang di negara ini sebagai orang biasa pada umumnya."
Seketika Chelsea semakin bersemangat, semua dokumen itu adalah hal yang paling dia butuhkan selama ini. Kini dia tidak perlu takut lagi dengan aturan hukum yang membatasinya. Meskipun semua dokumen itu sebenarnya palsu, namun tidak ada bedanya dengan yang asli. Bahkan semua cap dan stempel di atasnya resmi.
Pikirnya, organisasi gangster yang baru dia masuki ini benar-benar luar biasa. Bisa dengan mudah memberikan fasilitas yang begitu berguna bagi semua orang yang ingin memulai kembali hidup baru. Dia juga tersadar ternyata inilah alasan banyak kriminal yang berlomba-lomba ingin bergabung.
Chelsea yang penasaran pun mengambil salah satu kartu identitas. Dia membacanya dengan saksama dan memeriksa apakah datanya sudah sesuai dengan yang dia inginkan atau belum. Namun, tiba-tiba saja senyuman antusiasme di bibirnya hilang.
__ADS_1
Chelsea menatap Dika dengan tatapan kebingungan. "Ini ... kenapa di sini tertulis status saya sudah menikah. Dan kenapa nama suami saya adalah Anda?"