
"Kenapa nama suami saya adalah Anda?" tanya Chelsea dengan tatapan bingung.
Dika yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum tipis, lalu setelahnya berkata, "Apa kau keberatan dengan identitas itu?"
Chelsea tertegun, dia berpikir harus memberikan jawaban apa agar tidak menyinggung. "Iya, saya keberatan. Identitas ini terlalu besar tanggung jawabnya bagi saya. Saya tidak pantas untuk ini. Tapi, saya juga tidak berani menolak apa yang sudah Kepala Divisi berikan untuk saya. Jadi bolehkah saya tahu alasannya?"
"Haha, bicaramu sopan sekali. Tapi kau tidak usah terlalu banyak berpikir. Meskipun di kartu identitas tertulis jika aku suamimu, tapi aku tidak punya perasaan itu. Jadi jangan salah paham, aku sama sekali tidak bermaksud memperlakukanmu secara spesial. Semua wanita anggota Divisi 2, juga aku beri identitas sebagai istriku."
"Kalau boleh tahu, di dalam Divisi 2 ada berapa wanita?" tanya Chelsea lagi.
"Cuma kau!" jawab Dika dengan enteng.
"Eh? Tapi Anda tadi bilang ...." Seketika Chelsea kembali diam. Dia juga telah sadar saat melihat gelak tawa atasannya, dia sekarang tahu jika pria di depannya ini memang berniat mempermainkan dirinya. Meskipun dia kesal, tapi dia menahan diri agar tidak protes. Dia tidak mau dicap buruk oleh atasannya di hari pertama resmi bergabung.
Dika yang sudah puas menertawakan Chelsea tiba-tiba berkata, "Baiklah, aku tidak akan basa-basi lagi. Sekarang aku akan beritahu apa tugas pertamamu!"
Chelsea mengangguk, dia kembali bersikap serius dan bersiap mendengarkan tugasnya baik-baik.
"Tugas pertamamu adalah menjadi seorang penjaga! Kau akan ditugaskan untuk jadi penjaga di DG CLUB selama seminggu!"
"DG CLUB? T-tapi ... saya kira Kepala Divisi sudah tahu jika saya pernah bekerja sebagai bartender di sana. Dan bukankah pihak sana juga merekrut anggota baru? Kenapa masih harus menugaskan saya?" tanya Chelsea seakan tidak terima.
"Haiss ... biar aku perjelas, kau belum mampu untuk mengerjakan tugas yang risikonya lebih tinggi. Dan jangan terlalu memandang rendah tugas kali ini, tugasmu di sana sangat penting! Kau harus berjaga di area khusus VIP!"
"..." Chelsea membisu, tangannya juga mengepal sekuat mungkin demi menahan emosinya.
Sial, lagi-lagi ruang VIP! Aku benci ini! Dulu aku tidak sengaja mendengar sedikit perbincangan langsung disekap! Dan sekarang malah menugaskan aku untuk menjaga ruangan itu! Aku benar-benar merasa jika takdir sialan ini memang mempermainkan aku.
"Kau tenang saja, aku akan suruh Leon untuk menemani tugas pertamamu!"
"Leon?!" tanya Chelsea dengan mata membulat.
"Ckck, lihatlah dirimu ... ekspresimu langsung berubah begitu mendengar nama Leon. Apa jangan-jangan kau suka padanya?"
"T-tidak! Mana mungkin saya suka! Saya barusan hanya kaget karena Kepala Divisi tiba-tiba menyebutnya," jawab Chelsea sambil menunduk, mencoba menyembunyikan pipinya yang merona.
Dika yang menyaksikan itu semua hanya diam membisu. Kemudian dengan ketus berkata, "Cepat bawa ini dan pergilah! Aku masih harus mengurus anggota baru yang lain!"
"B-baik!" Chelsea segera mengambil semua hadiahnya dari atas meja dan keluar dari ruangan itu.
Saat Chelsea berjalan keluar dari sana. Ternyata sudah ada beberapa anggota tetap baru seperti dirinya yang juga ingin mengambil hadiah dan tugas. Namun, semua orang-orang itu memandang Chelsea dengan tatapan tidak suka. Bahkan mereka juga mencibir langsung di hadapan Chelsea.
"Cih, dasar wanita siluman! Pasti dia sudah naik ke ranjang kepala divisi!"
"Benar, dia wanita menjijikkan. Kita mati-matian mempertaruhkan nyawa, tapi dia dengan mudah mengandalkan tubuhnya untuk bergabung!"
"Wanita murahan sepertinya cepat atau lambat pasti juga akan dibuang!"
__ADS_1
Chelsea sama sekali tidak menggubris para pria yang mencemooh dirinya. Tanpa berkata apa pun dia langsung pergi melewati mereka.
"Huh, kalian yang brengsek! Kalau tidak tahu yang sebenarnya harusnya diam saja!" gumam Chelsea penuh kekesalan.
Chelsea berjalan dengan cepat, melewati pintu keluar dari Kedai Pembunuh lewat pintu yang juga digunakan oleh pengunjung. Begitu sampai di luar, dia mencoba menggunakan kunci mobil yang baru saja dia dapatkan. Dan tiba-tiba saja sebuah mobil berwarna hitam merespons dengan kunci remote mobil tersebut.
"Ternyata di sana hadiahku!"
Dengan cepat Chelsea langsung bergegas menghampiri mobil itu, lalu memperhatikan setiap detail yang mengagumkan dari mobil yang termasuk mewah tersebut. Tanpa basa-basi lagi dia langsung masuk ke dalam.
Namun, lagi-lagi Chelsea dibuat terkejut dengan adanya sebuah koper hitam yang berada di sana. Dengan hati-hati dia menyentuh koper tersebut, mencoba memastikan apakah itu sebuah perangkap atau bukan.
"Mungkinkah ini juga hadiahku? Sebaiknya aku coba buka saja!"
Benar saja, koper hitam tersebut tidak terkunci. Dan Chelsea semakin terkejut dengan isi koper tersebut. Ada senjata berupa pistol, belati, sarung tangan khusus, dan semua peralatan yang digunakan oleh pembunuh profesional pada umumnya.
"Ini benar-benar hebat," gumam Chelsea sambil memperhatikan detail pada sebuah pistol yang kini berada di tangannya.
Tak kusangka bahkan pistol pun dibuat dengan desain yang khusus dan berbeda dari pasaran. Ini artinya, kelompok ini juga punya koneksi besar dengan pemasok atau bahkan pabrik senjata! Aku benar-benar penasaran sebenarnya sampai batas mana kekuasaan yang organisasi gangster ini miliki.
BUZZ BUZZ ...
BUZZ BUZZ ...
Tiba-tiba saja ponsel Chelsea berdering, saat dilihat ternyata Leon yang menelepon dirinya. Tanpa pikir panjang pun Chelsea langsung mengangkatnya.
"Temui aku di Wonder Lake, sekarang! Ada hal penting yang harus aku bicarakan padamu!"
"Baik, aku ke sana sekarang!"
***
Di sebuah villa besar dan mewah. Nisa yang semalaman mendapatkan hukuman dari suaminya kini masih terbaring di ranjang. Membungkus diri dengan selimut sambil menekuk lutut.
"Mau sampai kapan kau begini?" tanya Keyran tanpa rasa bersalah.
"...." Sekilas Nisa memandang ke arah suaminya, tetapi dia sama sekali tidak menjawab.
"Kau marah padaku?"
"Huh!" Nisa mendengus kesal, bahkan juga menaikkan selimut sampai menutupi kepalanya.
Keyran yang melihat hal itu hanya terdiam, dia mulai merenungkan perbuatan kasar yang telah dia lakukan semalam. Sekarang dia ingin meminta maaf, memeluk istrinya dari belakang dan bermaksud membujuknya.
"Maaf ... semalam aku memang keterlaluan. Aku janji tidak akan melalukannya lagi asalkan kau juga tidak membohongiku."
"...." Nisa masih diam.
"Ayolah Nisa ... jangan begini. Anak-anak akan bertanya kenapa di jam seperti ini kau masih belum keluar dari kamar. Lalu siapa nanti yang akan membuat sarapan untuk mereka? Siapa nanti yang akan mengurus si kembar?"
__ADS_1
"Kau saja yang urus mereka! Mereka juga anakmu! Kalau masih tidak bisa, suruh saja pelayan! Kau punya banyak uang untuk membayar mereka!" jawabnya dengan nada ketus.
"Lalu siapa yang akan membuatkan bekal sekolah? Kau tahu sendiri jika Keisha akan mengamuk jika bukan Bunda-nya yang buat."
"..." Sejenak Nisa tertegun, tiba-tiba saja dia bangkit dari ranjang dan berkata, "Hmph, aku melakukan ini demi anakku! Dan aku masih marah padamu!"
"Terima kasih istriku ..." ucap Keyran sedikit tidak tega ketika melihat Nisa tidak bisa berjalan dengan baik saat hendak menuju kamar mandi. Keyran akhirnya tergerak, tiba-tiba mendekat dan membopong istrinya.
"Turunkan aku!" teriak Nisa sambil meronta.
"Aku akan bertanggung jawab! Kau kesulitan karena aku, jadi aku akan membantumu mandi agar lebih mudah!"
"Membantu apanya?! Kau saja yang mau menang banyak!"
Setelah pertengkaran yang serasa tidak ada habisnya, Nisa pun segera turun dan menyiapkan bekal makanan untuk Keisha dan juga Luciel. Seperti biasa sebelum berangkat sekolah, mereka juga makan sarapan bersama.
"Kapan Ayah pulang?!" tanya Keisha.
"Semalam sayang, Ayah pulang saat kau sudah tidur," jawab Keyran dengan senyum lembut. Tetapi di satu sisi Nisa masih saja bersikap dingin kepadanya.
"Apa Ayah bawa oleh-oleh untuk Keisha?!" tanya anak itu dengan antusias.
"Tentu saja, ada oleh-oleh untuk semuanya. Untuk Keisha, untuk Luciel, dan untuk Bunda juga!"
"Cih, aku tidak butuh," gumam Nisa dengan ekspresi malas.
Luciel tidak bicara, karena dia sejak tadi memperhatikan sesuatu yang asing baginya. "Mami Angkat, kenapa ada merah-merah di leher Mami Angkat?"
"Eh?!" Nisa dengan refleks langsung menutupi lehernya. Tentu saja dia tidak mungkin bilang pada anak kecil seperti Luciel bahwa tanda merah itu adalah bekas kecupan.
"Ehem! Semalam saat tidur, mami angkat digigit anjing!" jawab Nisa kelabakan.
"Heii!" sahut Keyran yang mereka tidak terima disebut sebagai anjing.
"Mami dan Ayah angkat memelihara anjing di kamar? Apa anjingnya sangat lucu sampai harus disembunyikan? Luciel juga mau lihat anjing!" ucap Luciel dengan tatapan polosnya.
"Luciel salah, Bunda sangat tidak suka anjing. Pasti Bunda digigit siluman! Bunda bilang terkadang saat malam hari ada siluman jahat yang muncul di kamar! Tanda merah itu adalah tanda kemenangan Bunda melawan siluman!" sahut Keisha dengan ekspresi penuh keyakinan.
"Benarkah? Rumah ini ternyata seram sekali!"
"Jangan takut Luciel, siluman tidak akan menyerang anak kecil seperti kita! Kita terlalu imut untuk dimakan siluman."
"Wahh ... baguslah, Luciel tadi takut sekali! Pantas saja Keisha sudah berani tidur sendiri!"
Keyran yang merasa aneh pun langsung mendekat pada Nisa dan berbisik. "Pengetahuan sesat apa lagi yang kau ajarkan pada anakmu?"
"Diamlah, aku berbohong juga demi kebaikan mereka. Kau sudah mengerti maksudku kan, siluman?"
"Heiii!"
__ADS_1