
Benda yang baru saja ditunjukkan oleh Leon adalah beberapa butir obat-obatan yang dibungkus menggunakan plastik klip kecil. Mr Tiger terlihat sangat gugup begitu melihat obat yang ada di tangan Leon tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Chelsea yang dibuat bingung. Dia juga tak tahu jenis obat apa yang baru saja ditunjukkan oleh Leon. Selama ini dia yakin jika Leon belum pernah menjelaskan padanya mengenai obat yang mampu membuat Mr Tiger gugup.
"Ayo jelaskan! Aku menunggu," ucap Leon seakan mengancam Mr Tiger.
"Tunggu sebentar! Kau belum pernah menceritakan obat ini padaku. Sebenarnya obat macam apa ini?" tanya Chelsea pada Leon.
"Tunggulah Mr Tiger menjawab, sampai saat itu kau akan tahu sendiri jawabannya," jawab Leon tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Mr Tiger.
"Berikan padaku! Biarkan aku melihatnya!" Mr Tiger dengan cepat merampas obat dari tangan Leon begitu saja. Saat dia memegang obat-obatan itu sendiri, tangannya mendadak gemetar.
"A-aku yakin jika obat ini telah sepenuhnya dimusnahkan. Bagaimana bisa kau memiliki obat ini?" tanya Mr Tiger pada Leon.
"Ketua yang memberiku obat itu, apa kau juga mau menanyakan pada ketua dari mana dia dapat ini?"
"Tidak, tidak! Aku tidak akan bertanya dari mana asalnya obat ini lagi!" jawab Mr Tiger dengan panik, dia tahu betul apa maksud dari perkataan Leon barusan. Leon menekankan jika Mr Tiger harus memberikan penjelasan soal obat itu, karena itu adalah perintah khusus dari ketua.
"Benar, masih ada obat ini yang belum aku jelaskan. Aku tadi cuma lupa haha ...." Mr Tiger tertawa canggung.
"Kalau begitu cepat ceritakan soal hubungan obat itu dengan Violent Zone!" pinta Chelsea seakan tidak sabar.
"Ehmm ... sebenarnya sederhana saja, obat ini adalah obat untuk mempercepat pemulihan luka. Dan ... masih termasuk obat ilegal. Tadi aku sudah menjelaskan tentang peraturan Violent Zone yang lama. Setiap para petarung akan ditahan, kami juga memberi mereka makan. Obat ini cuma sebagai penunjang untuk bertahan hidup."
BRAKK!!
Tiba-tiba saja Leon menggebrak meja yang jadi pemisah antara Mr Tiger dengan keras. Dia tampak marah karena Mr Tiger memberikan penjelasan yang tak membuatnya puas. "Sialan kau! Jelaskan semuanya dengan jujur!"
"Leon, kenapa kau begitu emosi? Sebenarnya apa yang membuatmu marah?" tanya Chelsea seraya menahan tangan Leon yang satunya. Seakan ingin membujuk supaya kekasihnya ini tak terlalu marah lagi.
"Karena ini semua berhubungan dengan kak Dika! Kau juga tahu sendiri kalau kak Dika sudah aku anggap sebagai kakakku! Dan bajing*n satu ini, dia tak mau menjelaskan segalanya dengan lengkap!" jawab Leon sambil menuding ke arah Mr Tiger dengan amarah, hingga membuat Mr Tiger tak berkutik lagi.
"Maksudmu ... yang Nisa dan kawan-kawannya selamatkan 10 tahun yang lalu adalah Kepala Divisi 2? Jadi, apakah orang yang bersinggungan dengan mendiang kakakku adalah dia?" tanya Chelsea seakan tak percaya.
"Iya, semua itu benar. Dan itulah mengapa aku mau terlibat dengan ini semua. Karena orang yang paling aku hormati telah diperlakukan dengan tidak adil! Itulah sebabnya aku sempat menentangmu, Chelsea," jawab Leon dengan berat hati.
"Diperlakukan tidak adil? Tidak adil bagaimana maksudmu? Violent Zone yang dulu berbeda dari yang sekarang, kau tahu itu, kan? Jika Violent Zone yang sekarang, babak penyisihan saja sudah ada korban jiwa. Jika yang dulu, hanya yang maju ke turnamen final yang mempertaruhkan nyawa. Kakakku ... tidak mungkin sekejam itu, Leon." Chelsea lantas menunduk, dia masih tidak mau menerima kenyataan soal perbuatan buruk yang telah mendiang kakaknya lakukan.
Leon menghela napas berat, dia sendiri juga belum siap untuk menjelaskan semuanya pada Chelsea. Tetapi, jika ditunda lagi, maka permasalahan ini tidak akan pernah menjumpai titik terang. "Baiklah kalau begitu, karena Mr Tiger tidak bersedia menjelaskan segalanya. Maka aku saja yang akan berbicara. Sebelumnya, kak Dika sudah menceritakan segalanya padaku. Jadi aku berani jamin semua yang aku katakan nanti bukan sesuatu yang mengada-ada."
"Alasan mengapa kak Dika bisa menyinggung mendiang kakakmu, itu karena saat itu kak Dika menggores mobil mewah milik kakakmu. Sepertinya permasalahan itu berlanjut lebih serius dan jadi lebih parah. Dan selanjutnya ... seperti yang sudah Mr Tiger jelaskan tadi."
"Kak Dika bukan sekadar dipaksa mengikuti pertandingan Violent Zone, tetapi dia sengaja diatur untuk terus bertarung tanpa henti. Dalam keadaan yang seperti itu, tentu saja keadaannya akan begitu menyedihkan. Tanpa mendapatkan pengobatan medis yang layak, kak Dika langsung dikembalikan dan dikurung ke dalam kandang. Kandang itu sejenis kandang yang terbuat dari kawat besi, tentu saja kandangnya juga tidak layak. Lama-kelamaan pasti akan berkarat karena terkena darah."
"Bukan hanya kak Dika, hal ini juga berlaku bagi para tawanan yang lain. Mereka yang telah melewati pertarungan sengit, mustahil selamat dan bertahan tanpa mendapatkan luka di tubuh mereka. Untuk mencegah mereka akan cepat mati, pihak Violent Zone memberikan obat-obatan ilegal itu. Mr Tiger tadi juga sudah mengakuinya kalau obat itu berfungsi membantu mempercepat pemulihan luka."
"Obat-obatan ilegal itu memang bagus untuk pemulihan, tetapi yang namanya ilegal tetap tidak terjamin dan juga memiliki efek samping. Dan efek sampingnya jika terus mengonsumsi obat itu, daya ingat akan menjadi semakin menurun. Kak Dika terus mengonsumsi obat itu demi bertahan hidup. Dan karena dosis yang dia pakai lumayan banyak, dia jadi tak ada bedanya dengan orang idiot. Dia melupakan tempat tinggalnya, nama orang tuanya, dan bahkan teman-temannya."
__ADS_1
"Namun, karena kesetiaan yang luar biasa pada ketua. Kak Dika rela menyayat tangannya sendiri dan mengukir nama ketua di sana! Bahkan bekas lukanya sampai sekarang masih ada! Selama ini kak Dika selalu menyembunyikan bekas luka itu dari orang lain. Dan ketika aku melihat bekas luka itu dengan mata kepalaku sendiri, aku juga marah karena ketidakadilan yang diterima kak Dika."
"Itulah yang sebenarnya terjadi, Chelsea. Kakakmu dibunuh karena telah melakukan semua perbuatan kejam itu. Masuk akal saja jika kak Dika mempunyai alasan untuk membunuhnya! Bukan ketua yang membunuh kakakmu. Tapi pelakunya adalah kak Dika! Jadi, aku mohon padamu Chelsea ... terimalah semua kenyataan ini. Kau tak perlu terbebani oleh kejahatan dan karma masa lalu kakakmu. Jangan balas dendam lagi, oke?" bujuk Leon seraya menggenggam kedua tangan Chelsea.
"Tidak! Kau bohong! Kakakku tidak mungkin sekejam itu!" bantah Chelsea yang seketika menarik tangannya kembali. Bahkan dia juga mendorong tubuh Leon, bangkit dari sofa begitu saja dan beralih mencengkeram erat pundak Mr Tiger.
"Mr Tiger! Tolong katakan padaku jika semua itu tidak benar! Kakakku tidak mungkin terlibat dengan obat-obatan ilegal! Aku mohon katakan padaku yang sebenarnya!"
"Maaf ... tetapi, semua itu memang benar adanya," jawab Mr Tiger dengan kepala tertunduk.
"Tidak ... aku tidak percaya, kalian semua pasti bersekongkol untuk memfitnah kakakku!" Chelsea melepaskan cengkeraman tangannya dari Mr Tiger. Mendadak dia berlari, memutar kunci yang masih terpasang di pintu. Dan setelah pintu terbuka, dia kembali berlari secepat mungkin entah menuju ke mana.
"Chelsea ..." gumam Leon yang turut merasa prihatin. Dia paham kenapa Chelsea bersikap seperti ini, dia tahu betul jika hati kekasihnya itu sedang hancur. Selama ini Chelsea selalu bercerita padanya jika William Adinata adalah sosok kakak yang baik, dan sekarang dia dihadapkan oleh fakta-fakta tentang kekejaman kakaknya. Tentu saja hal ini akan membuat Chelsea merasakan kekecewaan yang teramat besar.
"Hei, kau tidak mengejarnya?" tanya Mr Tiger pada Leon.
"Tidak, untuk sekarang hal itu tidak akan ada gunanya. Dia saat ini hanya ingin sendiri. Dan sebelum aku pergi, kembalikan obat itu padaku!" pinta Leon seraya mengulurkan tangan kanannya.
Mr Tiger bangkit dan menyerahkan obat itu ke tangan Leon. Kemudian berkata, "Ini, ambil kembali! Lagi pula aku tidak tertarik untuk mencoba obat terkutuk itu."
"Baguslah, tapi kau ... Sepertinya kau masih tidak bisa melupakan kesetiaan pada bos lamamu. Sejak tadi aku perhatikan, kau terus menyebut William Adinata sebagai Bos. Apa jangan-jangan kau punya niatan untuk berkhianat?" tanya Leon dengan tatapan curiga.
"Sembarangan! Aku mana ada niatan untuk berkhianat! Aku masih sayang nyawaku!" bantah Mr Tiger secara spontan.
"Lalu bagaimana kau menjelaskan yang tadi?" tanya Leon lagi yang kecurigaannya belum hilang.
"Kau mengenaliku? Apakah ketua yang memberitahumu?" tanya Leon.
"Iya, kau benar. Selain memberikan aku tugas, ketua juga memperingatkan aku supaya jangan memprovokasimu. Berita tentangmu yang jadi gila karena seorang wanita sudah tersebar di kalangan para elite. Meskipun kau turun dari kapal ini nanti, tapi kau masih akan tetap dalam bahaya. Dan aku juga akan berikan saran padamu, abaikan saja wanita itu, selama kau tetap setia pada organisasi, maka kau bisa mendapatkan wanita sebanyak yang kau mau. Jangn jadi bodoh dan berkhianat hanya karena satu wanita."
"Huh, aku tahu apa yang aku lakukan! Tak perlu nasihat darimu!" sungut Leon yang segera pergi meninggalkan ruangan Mr Tiger.
***
Sudah lebih dari 1 jam Leon berpisah dari Chelsea. Saat ini Leon ada di dalam kabin yang berada di dek 10. Dia menunggu di dalam kabin itu dengan perasaan harap-harap cemas. Dia sangat khawatir soal Chelsea yang tidak jelas di mana keberadaannya.
"Hahh ... pada akhirnya ini tetap tidak bisa dihindari. Chelsea ingin membalas dendam atas kematian kakak kandungnya. Sedangkan aku, ingin membujuk Chelsea supaya berhenti karena menghormati kak Dika yang sudah aku anggap sebagai kakak sendiri. Aku tahu jika saat ini Chelsea tidak mau bertemu denganku, tetapi aku mencemaskan dirinya. Aku tahu jika Chelsea itu cerdas, dia tidak akan membahayakan dirinya sendiri. Lebih baik aku menunggunya di sini saja ...."
Setengah jam berlalu, menjadi satu jam yang berlalu dengan cepat. Hingga memasuki dua jam sejak Leon menunggu, Chelsea masih belum menampakkan diri dan memasuki kabin.
"Ck, sial! Sekarang dia benar-benar membuatku khawatir!"
Leon sudah kehilangan kesabaran, lantas keluar dari kabin dengan terburu-buru. Namun, bukannya berkeliling dan mencari Chelsea, dia justru menggedor pintu kabin di sebelah. Yang mana kabin itu adalah kamar khusus milik Kaitlyn.
"Huh, ada apa? Kenapa berisik sekali?" keluh Kaitlyn dengan suara yang sedikit tertahan. Dia tampak tak mengenakan topengnya, karena sekarang dia sedang memakai masker wajah untuk kecantikan.
"Eh!? Leon? Kenapa dikau menggedor pintu kamar daku? Apa dikau sudah bosan dengan pacarmu itu dan mau bermalam bersama diriku?" tanya Kaitlyn yang nada bicaranya seketika berubah genit.
"Tidak! Membayangkannya saja aku tidak sudi! Kau jangan bermalas-malasan di sini! Kau adalah pemanduku, jadi bantu aku untuk menemukan pacarku!" pinta Leon seraya menarik tangan Kaitlyn hingga dia terseret keluar dari kabin.
__ADS_1
Kaitlyn lantas menepis tangan Leon. "Tunggu sebentar! Kenapa perlu mencarinya? Apa dia kabur diam-diam tanpa sepengetahuan dirimu?"
"Tidak, bukan begitu! Dia tidak kabur, jadi tidak perlu memerintahkan banyak orang untuk mencarinya. Dia pergi setelah kami terlibat cekcok, ini sudah hampir 4 jam dia tak kunjung kembali lagi padaku."
"Oh, ternyata begitu. Kalian ini menyusahkanku saja, tunggu sebentar, daku mau mencuci wajahku lebih dulu!"
Setelah Kaitlyn mencuci wajahnya, dia memakai topeng rubah dan tak lupa juga menyuruh Leon memakai topeng emas miliknya. Akan memakan banyak waktu jika mereka berdua berkeliling dan menjelajahi setiap dek satu per satu. Maka dari itu, Kaitlyn mengajak Leon untuk pergi ke ruang kontrol. Meminta staff pengawas CCTV untuk mencari tahu di mana keberadaan Chelsea.
"Di sana!" ungkap Kaitlyn sambil menunjuk ke salah satu monitor. Di layar monitor itu tampak seorang wanita yang tidak lain Chelsea, sedang duduk seorang diri di area bar dan meminum banyak minuman beralkohol.
"Baguslah, rupanya dia baik-baik saja," ucap Leon penuh kelegaan. Tadinya dia sempat berpikir jika Chelsea akan berada di luar kapal, punya pikiran untuk bunuh diri dengan melompat ke lautan.
Leon dan Kaitlyn langsung pergi setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Leon juga berkata pada Kaitlyn, jika dia sudah tidak butuh dirinya lagi dan mempersilakan jika dia ingin kembali ke kabin miliknya sendiri.
Karena tahu jika saat ini Chelsea butuh waktu untuk menyendiri, pada akhirnya Leon memutuskan untuk mengawasi dari kejauhan. Hingga saat Chelsea terlihat tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol, Leon baru mendekat dan membopong Chelsea untuk dibawa ke dalam kabin mereka.
"Kak Liam ...." Chelsea mengigau, bahkan di ujung pelupuk matanya masih terlihat basah karena bekas air mata.
"Istirahatlah, Chelsea. Aku tahu jika ini memang berat bagimu, tapi aku tak bisa membantumu. Kau sendiri yang harus menolong dirimu sendiri untuk terlepas dari dendam masa lalu ...."
Leon mengusap kepala Chelsea. Berbeda dengan malam sebelumnya, jika sebelumnya mereka berdua tidur di ranjang yang sama, maka malam ini Leon memutuskan untuk tidur di sofa yang ada di pojok ruangan. Dia memutuskan untuk tidur di sana karena sadar diri. Saat ini Chelsea marah dan menghindari dirinya. Jadi, Leon merasa tak pantas jika sekarang tidur seranjang dengannya.
***
Pagi hari telah tiba. Pagi ini Leon bangun lebih awal daripada Chelsea. Sedangkan Chelsea, walaupun dia sadar kalau terbangun di dalam kamar, dia masih enggan untuk berbicara pada Leon. Pagi ini menjadi pagi paling hening yang pernah mereka alami, bahkan demi menghindari bertatap muka dengan Leon, Chelsea memutuskan untuk sarapan di restoran yang bertempat di dek 9.
Leon masih tak berkomentar apa-apa. Dia membiarkan Chelsea berlaku dan berbuat sesuka yang dia mau, asalkan hal itu tidak membahayakan keselamatannya. Sungguh tidak pernah terbayangkan oleh Leon, mereka yang awalnya naik ke kapal dengan rasa saling melindungi, kini justru menjadi saling berjauhan seperti ini.
Hingga siang berganti malam, Chelsea masih tak kunjung menemui Leon untuk mengatakan sesuatu. Meskipun begitu, dia dan Leon sama-sama tak melupakan jika inilah malam pertandingan final Violent Zone. Pada akhirnya, mereka sama-sama memutuskan untuk pergi melihat pertandingan pertarungan itu ketika waktunya nanti telah tiba.
Jam 11 malam waktu setempat, beberapa menit lagi acara Violent Zone akan dimulai. Akan tetapi, saat ini semua eksekutif 12 Shio tampak sedang berkumpul di dekat landasan helikopter.
Sebuah helikopter mendarat di helipad tersebut. Baling-balingnya berhenti berputar, semua mesin juga dimatikan. Para eksekutif 12 Shio maju mendekat, berbaris untuk menyambut kedatangan orang penting yang menaiki helikopter tersebut.
Dua orang turun dari helikopter, satunya pria dan satunya lagi wanita. Mereka berdua sama-sama memakai jubah hitam, tetapi topeng yang mereka pakai berbeda. Yang dipakai oleh pria adalah topeng yang menyeramkan, perwujudan dari setan yang warnanya merah, bertanduk serta bergigi tajam. Oni, nama dari topeng khas negara Jepang tersebut.
Sedangkan topeng yang dipakai oleh sang wanita, topeng itu masih khas dari Jepang, yaitu topeng Tengu. Warnanya masih sama-sama merah, yang membedakan adalah hidungnya yang lebih panjang, mirip seperti paruh burung. Jika oni mempunyai artian sebagai setan, maka tengu adalah kebalikannya.
"Selamat datang, Mr Oni dan Miss Holiday!" seru eksekutif 12 Shio serempak. Mereka semua juga membungkukkan badan memberikan penghormatan.
Ya, kedua orang bertopeng merah itu adalah orang yang harus mereka hormati. Terlebih lagi Mr Oni, yang jelas-jelas merupakan bos mereka. Sedangkan Miss Holiday, mereka menghormatinya selayaknya seperti pasangan dari Mr Oni. Bagi mereka, Miss Holiday adalah satu pengecualian yang tidak dipanggil Ms Tengu sesuai topeng yang dia kenakan. Alasannya cukup menarik, yaitu karena Miss Holiday hanya akan datang ke kapal di saat hari libur saja.
"Hati-hati," ucap Mr Oni sambil memegangi tangan Miss Holiday yang tampak terhuyung.
"Terima kasih," balas Miss Holiday.
Sialan, ini sedikit memalukan, untung saja Marcell tepat waktu menahanku sebelum aku terjatuh. Aku masih mabuk laut, padahal aku sudah minum obat, tapi aku langsung pusing begitu menginjakkan kaki di kapal ini. Aku tidak boleh di sini berlama-lama, bukan karena aku mabuk laut atau apa. Tapi aku juga meninggalkan suami yang pemarah di rumah.
Nisa dan Marcell menyembunyikan identitas mereka dengan baik, bahkan dari jajaran para eksekutif 12 Shio sekali pun. Dari mereka semua, tak ada yang tahu soal identitas asli Mr Oni dan Miss Holiday. Mereka hanya tahu harus bersikap patuh dan hormat kepada kedua orang yang punya kekuasaan mutlak di kapal Violent Cruise ini.
__ADS_1