
"A-apa?" Leon ternganga, dia merasa tak habis pikir dengan apa yang Chelsea minta kepadanya.
"Iya, bukankah ini sepadan? Jika bagimu Liana adalah hal yang paling berharga, maka bagiku lolos tes perekrutan juga hal yang paling berharga! Kau sendiri tadi yang bilang tidak akan menarik ucapanmu," jawab Chelsea dengan nada sedikit menyindir, bermaksud mempengaruhi Leon agar menerima permintaannya.
"..." Lagi-lagi Leon terdiam, dia berpikir jika wanita yang bicara dengannya saat ini memang wanita licik yang tidak bisa dia anggap remeh. Permintaan Chelsea memang terdengar sederhana, namun dia merasa keberatan lantaran integritasnya yang tinggi pada organisasi.
Sesaat Leon memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Baiklah, aku setuju. Tapi, aku punya satu syarat!"
"Apa syaratnya?" tanya Chelsea penasaran.
"Aku tidak masalah mengajarimu, tapi informasi yang kau inginkan itu sangat penting, harganya setara dengan nyawamu. Artinya, jika kau membocorkannya ke orang lain maka aku tak akan segan untuk membunuhmu!"
"Oke, kita sepakat!" Chelsea seketika mengulurkan tangan kirinya untuk berjabat tangan. Kebiasaannya sebagai pebisnis yang berjabat tangan setelah berhasil bernegosiasi belum hilang. "Maaf, aku pakai tangan kiri. Tangan kananku terluka."
"Aku tahu. Aku tidak buta!" Leon pun meraih tangan Chelsea dan berjabat tangan.
"Kapan kita bisa mulai?" tanya Chelsea seakan tidak sabar.
"Terserah kau," jawab Leon dengan nada malas.
"Baiklah, kalau begitu besok saja!"
"Kau serius? Bukankah kau terlalu terburu-buru? Tidak tunggu sampai tanganmu pulih saja?"
"Tidak bisa! Acara perekrutan tinggal 20 hari lagi, aku tidak boleh membuang-buang waktuku! Waktu sehari saja sangat berharga bagiku!" bantah Chelsea dengan tatapan serius.
"Hahh ... astaga, baiklah jika itu memang maumu. Besok aku akan lihat dulu apakah ada tugas yang harus aku kerjakan, tapi mungkin saja tidak ada karena besok akhir pekan."
"Eh, aku baru tahu kalau gangster juga libur di akhir pekan," ucap Chelsea terheran-heran.
"Jangan menyamakan aku dengan gangster rendahan di luar sana. Aturan ini juga dibuat oleh ketua, dia mau kami menjalani hidup dan bisa berbaur seperti orang-orang pada umumnya."
"Ohh ... licik juga ternyata."
Tiba-tiba saja Leon mengeluarkan ponselnya lalu menyodorkannya pada Chelsea. "Berikan nomormu, besok akan aku hubungi!"
"Baiklah."
***
Hari berganti, dan benar saja hari ini seperti keberuntungan bagi Chelsea. Leon mengabarinya jika hari ini dia senggang, jam 9 pagi mereka berdua membuat janji untuk bertemu di rumah Leon. Chelsea dengan penuh semangat tiba di sana tepat waktu, dia mengabaikan luka di tangannya demi tekadnya menjadi lebih kuat.
"Oh, disiplin sekali," ucap Leon yang kini sedang duduk di bangku teras rumah. Dia lalu memandangi Chelsea dari atas sampai bawah, memperhatikan bagaimana persiapan Chelsea yang kini telah berpakaian baju olahraga.
"Tentu saja, disiplin itu penting! Jadi bisakah kita mulai sekarang?"
Leon menghela napas. "Tunggu sebentar, aku akan beritahu Liana dulu."
"Eh?" Chelsea kebingungan. Dan tak lama kemudian setelah Leon keluar dari rumah, dia merasa heran lantaran Leon sudah berganti pakaian memakai jaket olahraga.
"Ayo!" ajak Leon yang berjalan melewati Chelsea begitu saja.
"Tunggu sebentar! Kau belum menjelaskan padaku apa yang akan kita lakukan!"
"Memangnya apa lagi? Tentu saja joging."
__ADS_1
"Hei, dengar baik-baik ya Tuan Leon! Aku memintamu untuk melatihku, bukan sekedar cuma untuk olahraga bersama! Jika hanya joging aku bisa sendiri, tidak butuh bantuanmu!" protes Chelsea sambil berkacak pinggang.
"Bodoh!" ucap Leon sambil memandang rendah.
"Apa?! Apa maksudmu?! Kau yang bodoh!"
"Kau pikir kita akan melakukan joging biasa? Tentu saja tidak. Kita akan melewati jalan bukit yang naik turun, mungkin sekitar kurang lebih 10 kilometer."
Chelsea terperangah. "S-sepuluh kilometer? Kau ingin membuat kakiku mati rasa?!"
"Ck, ini cuma pemanasan. Dan tujuan terpenting dari ini untuk melatih stamina mu! Kau pikir belajar teknik tanpa memedulikan stamina itu sudah cukup? Jika begitu maka kau akan mati saat melawan musuh yang jumlahnya banyak. Latihan selanjutnya jaraknya akan aku tambah! Jadi jangan protes!"
"Glup ..." Chelsea menelan ludah. "B-baiklah, ayo mulai sekarang sebelum bertambah panas."
Mereka berdua pun mulai berlari, dan Leon-lah yang memimpin jalan mana yang akan dilewati. Tetapi, latihan pertama ini tidak berjalan mulus seperti yang Chelsea harapkan. Apa yang dia lakukan jauh di bawah standar yang Leon tetapkan padanya.
Mereka berdua sampai dan tiba kembali di rumah saat sudah hampir tengah hari. Sesampainya di sana, Chelsea langsung ambruk, kakinya terasa amat lemas dan dia seperti hampir kehabisan napas.
"Luruskan kakimu!" bentak Leon.
"B-baik ...." jawab Chelsea dengan suara lirih. Dia masih berusaha untuk mengatur napasnya agar kembali stabil.
"Ck, kita terlalu membuang banyak waktu gara-gara kau sering berhenti dan istirahat di jalan!"
"M-maaf ... tapi, bisakah aku minta air?"
"Astaga."
Setelah Chelsea selesai beristirahat sekitar 30 menit. Leon langsung mengajaknya untuk memasuki salah satu ruangannya di rumahnya. Ruangan itu adalah garasi, namun berbeda dengan garasi pada umumnya. Garasi itu lebih luas, ada banyak peralatan olahraga, terutama target sasaran. Garasi itu sudah seperti gym pribadi milik Leon.
"Wahh ... ternyata di rumahmu ada juga alat-alat seperti ini," ucap Chelsea sambil melihat ke kanan kiri.
"Dia bilang padaku untuk melatih tendangan, emm ... lebih spesifik teknik capoeira! Tapi, kau serius memanggilnya kakak? Apa kalian sedekat itu?" tanya Chelsea penasaran.
"Ya, dia sudah seperti saudaraku. Dan dia juga yang telah-"
"Kakak!" teriak Liana tiba-tiba yang memotong ucapan Leon. Liana datang dengan langkah riang, penampilannya pun terlihat lebih rapi dari biasanya.
"Eh?! Kak Mayra di sini?!" tanya Liana.
"Haha, iya," jawab Chelsea dengan senyum canggung.
Liana langsung tersenyum nakal, mendekat ke kakaknya dan berbisik, "Apa tadi kalian joging bersama? Hoho, aku tidak mengira kakakku yang sedingin gunung es ini bisa mencair~"
"Kau ini bicara apa? Dan apa pula penampilanmu ini? Tidak biasanya kau berdandan, kau mau ke mana?" tanya Leon dengan tatapan tajam.
Liana langsung berubah canggung, dengan suara lirih pun dia berkata, "Aku mau minta izin dari Kak Leon ... aku mau pergi main dengan temanku."
"Teman? Temanmu yang mana?"
"Ehmm ... maksudku bukan teman. Tapi, p-pacar! Tolong Kak Leon izinkan aku kencan!" pinta Liana sambil menyatukan kedua tangannya.
"..." Leon terkejut dalam kebisuan. Dia tak pernah mengira jika adik kecilnya kini sudah punya pacar, dan bahkan sekarang meminta izinnya untuk berangkat kencan.
Tiba-tiba saja Leon berbalik, mengambil sesuatu di dalam lemari besi yang ada di dekat sana. Dia lalu menyodorkan sebuah pisau kepada Liana. "Bawa ini!"
"Kak Leon serius? Aku ini kan mau berangkat kencan, bawa pisau untuk apa?" tanya Liana kebingungan.
__ADS_1
"Untuk jaga-jaga jika pacarmu itu brengsek," jawab Leon dengan enteng.
"Kak Leon gila! Aku tidak mau bawa pisau!"
"Kalau begitu bawa ini saja," ucap Leon seraya menyodorkan sebuah pistol.
"Kakak! Kakak mau menghancurkan kencan pertamaku, ya! Aku tahu kalau Kak Leon khawatir, tapi tidak begini juga caranya!"
"Kalau begitu biarkan kakak ikut!" pinta Leon seakan memaksa.
"Bukan kencan lagi namanya kalau Kak Leon ikut! Aku mohon Kak, aku janji bisa menjaga diri baik-baik. Aku yakin kalau pacarku orang yang baik."
"Liana!" panggil Chelsea.
"Ya?" Liana seketika menoleh. Dia memperhatikan Chelsea sedang mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Bawa ini saja," ucap Chelsea sambil menyodorkan sebuah benda kecil berbentuk botol semprotan.
"Ini apa?" tanya Liana.
"Semprotan cabai anti pria brengsek! Bawalah ini agar kakakmu tidak khawatir."
"Terima kasih Kak Mayra!" ucap Liana yang langsung menerima benda itu dan memasukkannya ke dalam tas kecilnya. "Nah, aku pergi dulu ya! Ian sudah menungguku!"
Leon terus mematung dan menatap tidak rela saat adiknya pergi meninggalkan dirinya. Kemudian dia menatap Chelsea dengan tatapan benci, "Bisa-bisanya adikku lebih memilih barang pemberian orang lain dibanding pemberian kakak sendiri."
"Salahkan dirimu sendiri memberi barang tidak normal. Tapi jika kau benar-benar khawatir, kenapa tidak larang saja Liana?"
"Aku hanya ingin Liana menjalani hidup dengan normal seperti orang lain."
"Bagaimana kau bisa tahu seperti apa kehidupan yang normal bagi Liana?" tanya Chelsea lagi.
Leon memalingkan wajahnya dan menghela napas. "Kehidupan normal, yang jelas bukan sepertiku. Ini sederhana. Ngomong-ngomong aku sedikit penasaran, apa kau memang selalu membawa semprotan cabai itu ke mana pun?"
"Yaa ... sebagai perlindungan diri, bagiku semua pria itu brengsek! Dan kau juga tidak terkecuali!"
"Heh," Leon menyeringai. "Terserah kau mau bilang aku apa. Tapi sekali lagi terima kasih, berkatmu aku tidak jadi menghancurkan kencan pertama adikku."
"Itu bukan apa-apa," jawab Chelsea dengan senyuman tipis. Setiap kali melihat Liana dia jadi teringat dengan Natasha. Dan kejadian barusan mampu membuat Chelsea kembali mengingat kejadian pahit di mana adiknya diperkosa oleh orang asing. Dia tidak ingin kejadian serupa menimpa Liana, itulah alasan sebenarnya dia memberikan semprotan cabai tersebut.
"Sepertinya benda ini tidak berguna," gumam Leon yang kemudian mengembalikan kedua senjata itu ke dalam lemari besi. Dia berbalik dan bermaksud untuk memberikan pelajaran lagi pada Chelsea. Namun, tiba-tiba saja ...
BREET ....
Tiba-tiba saja kaus oblong yang dipakai Leon robek karena tersangkut oleh handle lemari besi itu.
"Sial!" Leon kehilangan kesabaran, dia frustrasi karena belakangan ini pakaiannya terus berkurang. Termasuk juga pakaian yang sudah dia berikan pada Chelsea. Karena rasa frustrasi itu, Leon langsung merobek lagi dan melepaskan kausnya begitu saja.
Leon kini telah bertelanjang dada, dan tampaklah tubuh atletis miliknya. Otot lengan yang kekar, dadanya yang bidang, serta perutnya yang six pack. Bukan hanya sekedar otot yang menggoda, namun juga terdapat beberapa bekas luka di sana. Jelas sudah banyak pertarungan berdarah yang dia alami, Leon semakin terlihat jantan dengan semua bekas luka di tubuhnya.
Deg deg deg ...
Wajah Chelsea memerah, dia langsung berbalik badan dan tiba-tiba memukuli dadanya sendiri.
Jantungku sudah gila ya!! Kenapa berdebar-debar di saat seperti ini?!
"Kau sedang apa?" tanya Leon dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Ahh ... a-aku tersedak, tersedak ludah sendiri! Karena itu aku memukul dadaku!"
"Dasar konyol!"