
Kini DG CLUB telah resmi bekerja sama dengan perusahaan StarCorp dari keluarga Atharwana, walaupun cara yang mereka lakukan demi mendapatkan kesepakatan ini tidak termasuk benar.
"Kemari!" pinta Damar sambil melambaikan tangan ke arah Kaitlyn. Setelah Kaitlyn mendekat padanya, Damar kembali berkata, "Lakukan tugasmu seperti biasa!"
"Baik!" Kaitlyn mengangguk, dia paham betul tugas seperti apa yang harus dia lakukan.
Pertama, dia mendekati Bobby Atharwana yang kini masih terbaring pingsan di atas sofa. Dan tiba-tiba saja dia merobek dress miliknya sendiri di beberapa bagian hingga bagian tubuhnya yang mulus tampak jelas. Kaitlyn juga mengacak-acak rambutnya sendiri, mengambil sebagian darah dari tangan Bobby lalu mengusapkan darah itu pada tubuhnya.
Kini tampilan Kaitlyn sudah terlihat persis seperti seorang wanita yang menjadi korban kekerasan, dia bahkan berpose memelas sambil memeluk Bobby. "Daku sudah siap," ucap Kaitlyn sambil melirik ke arah David.
"Bagus! Pertahankan ekspresi menyedihkan itu!" David mengeluarkan ponselnya, lalu mengambil beberapa jepretan foto Kaitlyn dan Bobby.
"Selesai! Dengan begini dia tidak akan berani macam-macam! Jika foto ini sampai tersebar, habis sudah orang sialan satu ini! Heh, siapa suruh terlalu naif! Anak kemarin sore sepertimu sudah sombong. Kau pikir berhubungan dengan gangster itu mudah! Aku akan terus menerormu dengan ini, kau akan merasakan neraka dunia yang sebenarnya!"
"...." Chelsea yang menyaksikan semua perbuatan kotor yang terjadi di depannya ini hanya terperangah. Sebagai mantan direktur yang selalu berbisnis dengan cara yang bersih, dia tak habis pikir jika dirinya telah terlibat dalam transaksi yang kotor semacam ini. Terlebih lagi dengan cara yang para Family ini lakukan, dia baru tahu jika VVIP pun tidak bisa lepas dari aturan liar para gangster.
Di satu sisi Kaitlyn sudah selesai menjalankan tugasnya. Dia bergegas bangkit dan beralih merangkul tangan David. "Bos David~ Daku sudah bekerja dengan baik, jadi bawa daku kembali ke Divisi 1, ya!" ucapnya dengan nada manja.
"Hmm ... akan aku pertimbangkan. Tapi keputusan akhir tetap ada di tangan Marcell."
"Daku akan belajar dari kesalahan! Tolong bujuk Bos Marcell jika daku sudah introspeksi diri!"
"Iya, iya! Nanti akan aku sampaikan!" bentak David dengan tidak sabar.
"Huaa ... daku ingin sekali kembali! Terima kasih Bos David, sebagai bentuk rasa terima kasihku, bagaimana jika malam ini daku saja yang melayani!"
"Tidak perlu, aku masih waras!" ucap David penuh penekanan sambil menatap jijik.
"Aihh ... bolehkah daku meminjam jas milik Bos David?" tanya Kaitlyn yang masih berusaha menggoda.
"Untuk apa?"
"Daku juga mau diperhatikan sama seperti dirinya!" seru Kaitlyn sambil menunjuk ke arah Chelsea. "Bajunya robek lebih sedikit dibanding dengan daku, tapi Bos Damar memberikan jas padanya! Aku juga ingin mendapatkan perlakuan yang sama!"
"Hah?" Chelsea ternganga.
"Ck, tidak bisa! Setelah dari sini aku ada acara lain! Jadi harus tetap berpenampilan rapi!" tegas David.
Lagi pula sia-sia saja menutupi tubuh buatan hasil operasi plastik.
Wajah Kaitlyn seketika berekspresi masam. Dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya. "Kenapa ... sebenarnya kenapa kalian para Family ini mulai bersikap tidak adil?! Atas dasar apa wanita pendatang baru itu mendapatkan perhatian lebih daripada daku?! Sejak kapan wanita jal*ng seperti dirinya yang hanya tahu menggoda pria, jauh lebih diperhatikan daripada anggota lama yang sudah memberi kontribusi banyak seperti daku?!"
"Siapa yang kau maksud dengan wanita jal*ng hah?! Apa kau tidak bercermin?! Kau yang jelas-jelas menggoda semua pria yang kau temui!" protes Chelsea penuh amarah.
"Huh, dasar bocah naif! Dikau pikir daku melakukan itu semua atas dasar apa?! Daku telah menaklukkan banyak pria dan memanfaatkan mereka demi kepentingan organisasi! Begitulah caraku membantu! Ketua sendiri juga memuji keahlianku! Dan harusnya dirimu yang bercermin! Anak baru sepertimu sudah mencoba untuk menggoda para Family dan bersembunyi di balik mereka demi mendapat perlindungan! Dasar tidak berguna!"
"Cukup!" bentak Damar yang seketika membuat Kaitlyn berhenti mengoceh. "Kalian berdua cepat keluar, tugas pengawalan hari ini sudah selesai!"
Haiss ... wanita kalau sudah berdebat harus cepat dipisah. Meskipun yang satunya cuma wanita jadi-jadian, tapi dia juga merepotkan.
__ADS_1
"Baik Bos," jawab Chelsea sambil menunduk hormat.
"Humph! Daku masih mau meminjam jas!" keluh Kaitlyn sambil bersedekap.
"Sialan kau! Cepat pergi sana! Biasanya kau cuma pakai bikini saja tidak masalah!" David yang mulai kehilangan kesabaran pun mendorong punggung Kaitlyn dan mendesaknya untuk keluar dari private room VVIP tersebut.
BRAKK!
David menutup pintu dengan kasar. Sedangkan kedua wanita itu, penampilan mereka yang berantakan berhasil membuat Leon terkejut. Terlebih lagi saat melihat Chelsea, dia merasa khawatir dan langsung berkata, "Mayra, kau kenapa? Apa yang kau lakukan di dalam sana? Apa tamu VVIP ini memaksamu melakukan sesuatu untuk melayaninya?"
Sejenak Chelsea tertegun, dia tidak menyangka jika Leon begitu peduli padanya sampai membombardir dirinya dengan beberapa pertanyaan sekaligus. "Sebenarnya aku tidak-"
"Huh, memang dasar penggoda! Bahkan Leon juga tidak segan-segan dikau lepaskan!" sahut Kaitlyn yang memotong ucapan Chelsea.
"Kau ini sebenarnya ada masalah apa denganku?! Jika kau tidak suka padaku bilang saja langsung!" balas Chelsea yang kesabarannya mulai habis.
"Ya, daku memang tidak suka padamu! Karena dirimu itu hanya wanita yang suka bersembunyi di balik kekuasaan pria! Bahkan sekarang dikau juga sedang melakukannya, dikau bersembunyi di belakang Leon! Aku sangat yakin jika dirimu benar-benar naik ke ranjang Bos Dika agar bisa bergabung!"
"Tutup mulutmu! Aku bergabung dengan hanya mengandalkan diriku seorang! Setidaknya aku ini wanita terhormat, bukan sepertimu yang menggoda semua pria! Dasar wanita menor yang genit!"
"Apa katamu?! Barusan dirimu bilang jika daku berwajah menor?! Maju sini jika dikau berani!"
"Baiklah, aku tidak takut!" jawab Chelsea secara spontan. Dia memang sudah tidak tahan lagi untuk memberi pelajaran pada Kaitlyn.
"Tunggu sebentar Mayra-"
"Rasakan pukulanku ini menor! Akan kubuat wajahmu itu tidak bisa menggoda pria lagi!" teriak Chelsea yang langsung maju begitu saja, dia sama sekali tidak menggubris perkataan Leon yang ingin mencegahnya.
Chelsea dengan cepat memberikan tinju yang mengarah ke wajah Kaitlyn, tetapi meleset lantaran Kaitlyn bisa menghindar dengan mudah. Chelsea menyadari jika Kaitlyn juga memiliki kecepatan yang bagus, sekarang dia tak tanggung-tanggung lagi menyerang menggunakan tendangan andalan ala capoeira yang selalu dia latih.
Wanita itu menyeringai, lantas berteriak. "Bodoh jika mencoba menyerangku dengan tendanganmu yang payah ini! Akan daku tunjukkan perbedaan level di antara kita!"
Tiba-tiba Kaitlyn tersenyum bak iblis, dia merasa sangat bersemangat hingga dengan cepat melayangkan sebuah tendangan melayang ke arah kepala Chelsea.
SRATT!
Chelsea berusaha menghindar, namun sayang karena dia gagal dan harus menerima tendangan mematikan itu.
BRUGH ...
Chelsea terjatuh ke lantai, dia merasakan ada sesuatu yang mengalir di wajahnya. Saat dia mencoba memeriksanya, ternyata di bagian pipi kirinya terluka.
"Sial, apa ini gara-gara dia selalu pakai high heels? Benda seperti ini pun ternyata bisa dijadikan senjata. Harus aku akui dia lumayan hebat, masih bisa bergerak leluasa meskipun memakai dress yang merepotkan itu," gumam Chelsea.
KLAK!
Tiba-tiba saja pintu private room kembali dibuka. Kali ini Damar yang keluar untuk memeriksa, "Kenapa di sini berisik sekali?! Keributan apa yang kalian lakukan?!"
"Huh! Salahkan saja dirinya!" jawab Kaitlyn sambil menuding ke arah Chelsea yang masih berada di lantai. Dia kemudian langsung berbalik dan melangkah pergi sambil berucap, "Bos Damar, besok daku izin tidak datang. Daku harus melakukan perawatan untuk memperbaiki suasana hati! Hatiku ini sangatlah rapuh ...."
"Terserah kau saja!" Damar menyetujui permintaan Kaitlyn karena memang sudah lelah meladeninya. Kemudian dia beralih menatap ke arah Leon yang sedang mencoba membantu Chelsea untuk berdiri.
__ADS_1
"Kalian sudah boleh pulang! Tugas hari ini sudah selesai!" ucap Damar yang langsung kembali menutup pintu. Meskipun dia menyadari jika pipi Chelsea berdarah, tapi dia memilih untuk berpura-pura tidak tahu.
"Terima kasih, Leon ..." ucap Chelsea dengan senyum tipis.
"Simpan saja rasa terima kasihmu! Dasar bodoh!"
Leon dan Chelsea pun meninggalkan area khusus VIP karena tugas mereka selesai lebih awal. Namun mereka tidak langsung pulang, Leon mengajak Chelsea pergi ke belakang gedung bangunan club itu. Di sebuah anak tangga, mereka duduk berdampingan. Leon juga tampak membawa sebuah kotak P3K milik club yang sebelumnya dia pinjam.
"Tahan!" pinta Leon sambil menekan Luka di pipi Chelsea.
"Sshhh ... perih sekali, biar aku lakukan sendiri!" ucap Chelsea sambil meringis kesakitan.
"Ck, jangan membantah! Kau tidak akan bisa mengobati dengan benar jika melakukannya sendiri! Tidak ada cermin di sini! Jadi diamlah dan tahan sebentar, lukamu ini agak dalam karena hak sepatu sialan milik Kaitlyn itu memang dirancang khusus."
"Begitu yaa ...." jawab Chelsea dengan nada lirih.
"Huh, ini akibatnya jika kau mengabaikan peringatanku! Asal maju saja tanpa pikir panjang! Kaitlyn itu anggota lama, dia sudah jadi orang yang diakui oleh ketua bahkan sebelum aku bergabung. Dan jika sekarang mau membandingkan ... kemampuan bertarungnya itu selevel denganku."
"Ah, pantas saja dia begitu hebat. Ternyata selevel denganmu. Dia punya keseimbangan, kecepatan dan kekuatan yang luar biasa. Aku masih tidak mengira jika tendangannya bisa sekuat ini ..."
Tiba-tiba saja Leon berhenti membersihkan luka di pipi Chelsea. Lalu menatap Chelsea dengan tatapan heran sambil berkata, "Apa kau masih belum tahu identitas asli Kaitlyn?"
"Identitas asli? Apakah dia semacam mantan anggota pasukan khusus?! Atau dia mantan intelijen negara?!"
"Bukan identitas seperti itu yang aku maksud! Biar aku jelaskan, kekuatan dalam pertarungan itu bisa dipengaruhi oleh fisik seseorang. Dan pada umumnya, fisik laki-laki lebih kuat jika dibandingkan dengan perempuan. Tendangan Kaitlyn bisa sekuat itu karena dia ... dia seorang banci."
"B-banci?!" Chelsea terperangah. "J-jadi dia itu transgender! Sial, sekarang mau tidak mau aku harus mengakui jika dia memang luar biasa! Bakatnya dalam menggoda dan merayu pria patut diapresiasi. Diapresiasi jadi bakat paling menjijikkan! Bisa-biasanya dia begitu lihai merayu sesama jenis!"
"Pffttt ... lucu sekali melihatmu tertipu!" Leon terkekeh.
"Huph! Memangnya mau bagaimana lagi?! Dia sangat cantik, tubuhnya sexy dan bahkan dia bertingkah gemulai!" protes Chelsea sambil mengerucut bibirnya.
"Haha, memang jika dibandingkan denganmu itu berbeda jauh! Kau mungkin lebih cocok memerankan peran sebagai pria!"
Seketika Chelsea menunduk, dia melihat ke arah dadanya sendiri yang memang lebih rata jika dibandingkan dengan wanita lainnya. "Sialan kau Leon! Bisa-biasanya sekarang kau malah mengejekku! Memang apa salahnya aku berdada rata?! Aku bangga punya dada rata! Membantu negara menghemat persediaan kain!"
"Bukan, bukan itu yang aku maksud!"
"Jika bukan itu lantas apa?!"
Seketika Leon bersikap canggung, juga memegang tengkuknya sendiri. "Ehmm ... yang aku maksud itu sebenarnya bukan fisikmu, tapi sikapmu. Kau itu wanita yang mandiri, bisa diandalkan, tidak lari dari masalah, mau bekerja keras dan bahkan punya rasa tanggung jawab yang besar."
"...." Chelsea tertegun, dia tidak menyangka jika Leon melihat semua sikap itu di dalam dirinya. Namun setelahnya tiba-tiba dia menunduk dan berekspresi sendu. "Terima kasih atas pujianmu."
Bahkan Leon menyadarinya. Tapi ayahku tidak! Ayah selalu menyayangkan dan menganggapku sebelah mata hanya karena aku seorang wanita! Dia selalu lebih menyayangi Kak William dibandingkan dengan aku dan Natasha. Bahkan dulu aku juga sempat membenci diriku sendiri karena terlahir sebagai perempuan.
"Mungkin semuanya akan jadi lebih baik jika aku terlahir sebagai laki-laki," ucap Chelsea tanpa sadar.
"Hei! Jangan bicara sembarangan! Jika kau laki-laki, mana mungkin aku menyukaimu!"
Seketika Chelsea mendongak dan menatap Leon lekat-lekat. "Eh?! Barusan kau bilang apa?!"
__ADS_1
"A-aku ..." Leon tergagap, wajahnya kini sudah semerah tomat.
Sial, mulutku ini tidak bisa diatur!