Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Rencana Jahat


__ADS_3


"Uhmm ...." Keisha meracau karena tidak nyaman. Biasanya di jam seperti ini dia penuh dengan semangat untuk berangkat ke sekolah. Namun, saat ini dia masih terbaring di kasurnya karena sakit.


"Mami, apakah Keisha baik-baik saja?" tanya Luciel pada Nisa yang saat ini sedang duduk di pinggir ranjang. Luciel telah berpakaian seragam sekolah dan menenteng tasnya.


Nisa tersenyum lembut, dia juga mengusap kepala Luciel dengan lembut seakan-akan memberitahu jika Luciel tak perlu khawatir. "Hari ini Luciel ke sekolah sendiri, ya? Keisha sedang demam, tolong nanti Luciel juga sampaikan pada Bu guru jika Keisha izin tidak masuk sekolah karena sakit."


"Mami ... kapan Keisha akan sembuh?" tanya Luciel yang masih merasa khawatir.


"Secepatnya, sayang. Keisha sudah minum obat, jadi sebentar lagi panasnya akan turun. Tadi setelah sarapan, Luciel sudah minum vitamin, kan?"


"Sudah," jawabnya sambil mengangguk pelan.


"Bagus! Sekarang musimnya sedang tidak menentu, Luciel harus minum vitamin agar tidak sakit seperti Keisha."


"Iya Mami, Luciel mengerti ...."


Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Lalu masuklah Keyran ke kamar putranya sambil membawa sebuah wadah berisi air hangat untuk mengompres Keisha.


"Ini, air hangat yang baru," ucap Keyran.


"Taruh saja di sana!" pinta Nisa sambil menunjuk ke arah nakas.


Keyran langsung meletakkan wadah berisi air itu di atas nakas sesuai yang Nisa minta. Lalu dia menatap ke arah Keisha yang sedang terbaring lemah. Dia juga mengusap kepala putra kecilnya yang masih terasa panas.


"Apa perlu aku panggilkan dokter?" tanya Keyran pada Nisa.


"Tidak usah, ini bukan pertama kalinya bagiku menangani anak kita yang sakit. Ini cuma demam ringan, besok Keisha pasti sudah sembuh. Kau juga tidak perlu terlalu khawatir, cepatlah berangkat, nanti bisa-bisa Luciel terlambat masuk sekolah."


"Baiklah kalau begitu," jawab Keyran yang kemudian memberi kecupan di kening Keisha. "Ayah berangkat dulu ya sayang ...."


Luciel pun juga mendekat dan menggenggam tangan saudaranya yang saat ini sedang lemah. "Keisha, Luciel berangkat sekolah dulu, ya. Cepat sembuh agar kita bisa main dan sekolah bersama lagi ..." ucapnya yang turut merasa prihatin.


"Ayah dan Luciel hati-hati ya ..." balas Keisha dengan senyum tipis di bibir mungilnya yang pucat.


Sekali lagi Keyran tersenyum, lalu dia juga tak lupa untuk memberikan kecupan di kening istrinya. "Segera kabari aku kalau terjadi apa-apa."


"Iya, aku tahu." Kali ini Nisa tidak mengantar suami dan anaknya yang hendak berangkat sampai ke halaman depan. Dia terus berada di samping Keisha yang panasnya masih belum turun juga.


"Bunda ... Keisha mau dipeluk ..." pintanya dengan suara lirih.


"Baik, sayang." Nisa tersenyum lembut, dia juga dengan cepat berbaring dan memeluk putra kecilnya itu.


"Bunda ..." panggil Keisha lagi.


"Ya, ada apa?"


"Apa adik bayi sudah minum susu?"


"Sudah kok, tadi kedua adik bayi sudah minum sampai kenyang."


"Kalau begitu ... Bunda di sini dan terus peluk Keisha yang lama, ya?" pinta Keisha dengan tatapan polosnya.


"Iya sayang, Bunda akan terus di sini dan memeluk Keisha lama sekali. Keisha tidur, ya? Keisha harus istirahat yang cukup agar cepat sembuh."


"Em!" Keisha mengangguk pelan, dia juga membalas pelukan bunda tersayang dengan tangan kecilnya. Keisha lalu menutup mata dengan nyaman, dia teramat menyukai kehangatan pelukan dari Nisa.


"Cepat sembuh sayangnya bunda ...." Nisa lantas mendaratkan ciuman di kening Keisha.


Haiss ... ada-ada saja hari ini, kenapa pula Keisha harus sakit sekarang? Padahal kan nanti malam aku ada acara penting. Semoga sebelum waktunya tiba nanti, panas Keisha sudah turun.


***


Sepulang dari permakaman, Chelsea langsung kembali ke hotel tanpa mampir ke tempat yang lain terlebih dulu. Akan tetapi, begitu tiba di sana, dia melihat Leon yang sedang berdiri tepat di depan pintu kamarnya.


"Leon?" tanya Chelsea yang bermaksud ingin mengetahui maksud dari Leon yang berdiri di luar kamarnya.


"Ah, kau di sini. Tadinya aku mau-" Perkataan Leon tiba-tiba terhenti begitu melihat penampilan Chelsea yang memakai pakaian serba hitam. Dia tahu betul jika hal ini tidak sesederhana itu. Setelah membuat kesimpulan, dia pun berkata, "Apa kau habis dari pemakaman?"


"Iya, aku mengenal beberapa di antara mereka. Hatiku tidak tenang jika tidak memberikan penghormatan terakhir kepada mereka," jawab Chelsea tanpa ragu. Dia memilih untuk menjawab jujur kepada Leon, karena dia tahu jika tidak ada gunanya membohongi Leon.


"Tidak ada yang membuntutimu, kan? Aku khawatir kalau tindakanmu ini akan dilaporkan pada Pak Dewan. Itu bisa mempengaruhi tugas yang kau dapatkan selanjutnya, para petinggi tidak suka jika ada bawahan yang masih memikirkan prinsip kemanusiaan. Takutnya mereka akan memberimu tugas yang amat susah agar kau terbunuh," jelas Leon dengan tatapan khawatir.


"Tenang saja, aku sudah memastikan jika tidak ada yang tahu soal ini kecuali kau dan aku. Tapi, kau belum menjawabku soal kenapa kau berdiri di sini." Chelsea bersedekap, seolah-olah menanti jawaban yang bagus dari Leon.


"Ah, aku hampir melupakannya!" Tiba-tiba saja Leon menyodorkan sebuah kertas dan amplop berwarna putih.


"Apa ini?" Dengan cepat Chelsea merebut kedua benda itu. Saat dia memeriksa isi dari amplop berwarna putih tersebut, dia kaget lantaran isinya adalah uang yang jumlahnya tidak sedikit.


Chelsea lalu menatap Leon dengan tatapan bingung. "Ini uang apa? Ini terlalu banyak jika dikatakan sebagai uang tip karena kontribusiku, dan ini terlalu sedikit jika dikatakan sebagai bayaran melakukan tugas lebih dari tiga minggu di sini."


"Itu uang untuk memperbaiki penampilanmu," jawab Leon spontan.


"Apa?! Memangnya apa yang salah dengan penampilanku? Kenapa harus diperbaiki? Apa aku terlihat jelek di mata orang-orang?! Dan apa kau juga menganggap kalau aku jelek?!" tanya Chelsea yang merasa tersinggung dengan jawaban dari Leon barusan.


"Astaga, bukan itu maksudku. Aku sama sekali tidak menganggapmu jelek. Aku juga dapat uang seperti itu dari Pak Dewan! Baca dulu surat itu agar kau paham!" jawab Leon dengan tidak sabar, dia benar-benar pening lantaran dibombardir dengan banyak pertanyaan sekaligus.


"Huh, memangnya apa sih kertas ini?" gerutu Chelsea yang kemudian membuka kertas yang dilipat itu. Dan begitu membaca tulisan di dalamnya, dia seketika terkejut karena kertas itu sebenarnya adalah surat undangan pesta. Sebuah pesta yang akan diadakan malam ini juga.

__ADS_1


"Pesta? Malam ini di villa Distrik Timur 1? Jadi Pak Dewan mau membuat pesta perayaan sesudah Distrik Timur 12 dibakar habis!" celetuk Chelsea begitu saja saking terkejutnya.


"Ssttt! Pelankan suaramu!" ucap Leon yang seketika membungkam mulut Chelsea dengan tangannya sendiri.


"Jangan bertindak sembarangan meskipun kau kaget, di hotel ini banyak pengujung yang lain. Jika di antara mereka ada yang mendengar ucapanmu barusan, maka tugas kita akan bertambah. Kita harus menyingkirkan siapa pun yang mendengarnya. Apa kau sudah paham maksudku?" tanya Leon dengan tatapan tajam. Dedikasinya kepada organisasi benar-benar tinggi, bahkan dia juga tidak memberi kelonggaran biarpun yang melakukan kesalahan adalah rekannya sendiri.


"...." Chelsea mengangguk, dan Leon pun juga melepaskan bekapan tangannya. Lalu dengan suara yang lirih, Chelsea kembali berkata, "Jadi maksud Pak Dewan memberi kita uang ini adalah untuk membeli pakaian yang sesuai dengan tema pesta?"


"Ya begitulah," jawab Leon singkat.


"Tapi kenapa Pak Dewan sampai bertindak seperti ini? Orang kejam seperti dia kenapa rela membuang-buang uangnya demi kita yang bahkan dia sendiri anggap cuma gangster rendahan? Toh kita cuma anak buah yang ditugaskan sebagai pengawal. Apakah kita juga harus memperhatikan penampilan kita di acara pesta?" tanya Chelsea dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.


Leon menghela napas, lalu berkata, "Hahh ... aku lupa kalau baru kali ini kau akan mengikuti pesta organisasi. Pak Dewan melakukan semua ini tentu saja sudah penuh perhitungan. Tugas yang berhasil kita lakukan bukanlah tugas mudah yang sederhana. Jadi keberhasilan atas tugas ini pantas dirayakan. Dan nantinya kita juga akan diperlakukan secara khusus sebagai bentuk penghargaan dari organisasi. Jadi nantinya kita tidak perlu melakukan tugas pengawal karena sudah pasti yang menghadiri acara pesta ini adalah orang-orang kita sendiri dan sekutu. Kita tidak perlu terlalu bersikap waspada."


"Oh ya, satu hal lagi ... alasan utama mengapa Pak Dewan membuat pesta perayaan yang meriah, itu karena nantinya ketua juga akan hadir."


"K-ketua?!" Chelsea terperangah. Begitu Leon menyebut jika ketua akan hadir, Chelsea langsung bersemangat. Akhirnya tiba juga kesempatan baginya untuk melihat seperti apa wajah ketua yang selama ini hanya mampu dia bayangkan. Dan yang membuat Chelsea semakin antusias, tidak lain karena ternyata waktu untuk menjalankan rencana besarnya terjadi lebih cepat. Dia masih bertekad untuk jadi orang kepercayaan ketua. Tentu saja kesempatan langka seperti ini tiba bisa dia sia-siakan.


Tiba-tiba saja Chelsea menggandeng tangan Leon dan langsung menariknya berjalan pergi.


"Hei, kau mau membawaku ke mana?!" tanya Leon yang kebingungan.


"Pergi belanja! Kita cari baju yang paling bagus untuk ke pesta! Tentu saja kita harus membelanjakan uang dari Pak Dewan dengan baik! Ini kan bagian dari tugas kita juga!" jawab Chelsea dengan semangat yang membara.


Akhirnya tiba juga kesempatan bagiku untuk bertemu dengan ketua! Pokoknya aku harus berpenampilan semenarik mungkin agar aku mendapat perhatian darinya! Dan setelah itu aku akan dengan senang hati mengabdikan diriku padanya demi menusuknya dari belakang!


"Eh ... baiklah," jawab Leon yang kemudian pasrah saja saat diseret Chelsea pergi belanja. Meskipun Leon merasa sedikit bingung dengan perubahan sikap wanita ini, dia diam-diam tersipu malu. Dia salah paham, dia pikir dirinya diajak belanja lantaran untuk mencari pakaian pesta yang serasi untuk pasangan.


***


Malam harinya tiba. Dan saat ini Chelsea masih sibuk merias diri di dalam kamarnya. Dia sama sekali tidak memikirkan Leon yang sedari tadi sudah menunggunya di luar.


DING DONG


DING DONG


"Mayra! Cepatlah! Kita bisa terlambat!" teriak Leon yang sudah jenuh menunggu. Dia semakin tidak sabar lantaran sama sekali tidak ada jawaban dari dalam.


"Mayra! Apa kau mau membuat kita jadi bahan olokan karena datang terlambat?!"


KLAK!


"May-" Seketika Leon melongo begitu pintu dibuka. Dia merasa jika sosok wanita yang kini berdiri di hadapannya bukanlah sosok wanita yang selama ini dia kenal. Cantik, anggun, dan begitu menawan. Hatinya seolah-olah sudah terpikat oleh seorang wanita bergaun merah yang kini sedang menatapnya.


"Leon ... Leoonnn!" teriak Chelsea sambil melambaikan tangannya di depan mata Leon.


"Eh, a-apa?!" Seketika Leon tersadar dari lamunan.


"Heh, padahal ini tidak seberapa dibandingkan dengan lamanya aku menunggumu selesai berdandan," gumamnya yang kemudian berjalan mengikuti Chelsea.


Seketika Chelsea menengok ke belakang dan menatap sinis. "Barusan kau bilang apa?"


"Emm ... barusan aku bilang ... kau tidak lupa membawa surat undangannya, kan?" Leon bicara asal.


"Ohh begitu, tentu saja sudah aku bawa! Haha, kukira tadi kau diam-diam memakiku." Chelsea kembali berjalan riang, hari ini suasana hatinya begitu baik lantaran sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ketua dari organisasi kriminal yang begitu besar ini.


Beberapa saat setelahnya Chelsea dan Leon tiba di villa milik Hendry yang berada di Distrik Timur 1. Seluruh para pengawal juga telah hadir, dan mereka semua juga bereaksi sama seperti Leon yang terpesona oleh penampilan Chelsea. Leon yang menyadari hal itu tidak tinggal diam, dia terus berada di sebelah Chelsea dan menatap seram kepada siapa saja yang melirik ke arah wanita itu.


Pesta keberhasilan yang diadakan oleh Hendry berjalan begitu meriah. Hiburan yang berkelas, hidangan yang sebanding dengan restoran berbintang, dekorasi yang mengagumkan, serta tamu-tamu yang semuanya berpenampilan glamor satu per satu berdatangan.


Pesta ini diadakan oleh Hendry secara rahasia dan tertutup. Artinya, tak ada orang lain selain orang sendiri ataupun sekutu yang hadir. Hendry juga merahasiakan pesta perayaan ini dari berbagai media massa, tidak etis baginya jika ketahuan mengadakan pesta setelah belum lama terjadi insiden kebakaran. Bahkan jika hal ini sampai bocor, Hendry juga akan melakukan semua yang dia bisa untuk membungkam media agar tidak berbicara tentang hal buruk soal dirinya. Sebisa mungkin dia menjaga citra baiknya di depan hadapan publik.


Sekutu Hendry tidak lain adalah para pengusaha yang telah mendaftarkan nama untuk berpartisipasi dalam proyek besar pengembangan ulang lahan. Banyak dari mereka yang berasal dari keluarga kaya, pesohor ataupun konglomerat. Singkatnya, pesta ini diperuntukkan hanya bagi golongan elite.


Akan tetapi, Hendry secara khusus membedakan ruang pesta untuk para bawahan dan para orang-orang berpengaruh ini. Untuk para tamu, dia memberikan ruangan pesta yang megah dengan hiburan dan fasilitas yang serba lengkap jika mereka ingin membicarakan mengenai bisnis mereka.


Sedangkan untuk bawahan, seperti halnya para pengawal, mereka semua berada di satu ruangan khusus. Pesta di sana lebih gila dibandingkan dengan ruangannya yang satunya. Hendry secara khusus memberikan hadiah tambahan bagi para pengawal yang telah bertugas untuk meratakan Distrik Timur 12. Para pengawal itu secara khusus diberikan masing-masing tiga wanita cantik untuk melayani mereka.


Leon dan Chelsea pun tak terkecuali, bahkan Hendry secara khusus mengatur adanya gigolo sebanyak 5 orang untuk melayani Chelsea. Dan tentu saja Chelsea dengan tegas menolak mereka semua meskipun mereka tampan dan menawan.


"Sialan kalian! Aku bilang berhenti mengikutiku! Pergi sana! Bersenang-senang saja sendiri! Aku tidak mau bermain dengan kalian!" bentak Chelsea pada kelima gigolo tersebut.


"Tapi kenapa Nyonya terus menolak?"


"Apakah Nyonya tidak tertarik pada kami?"


"Jangan-jangan Nyonya seorang lesbian!"


"Aku tidak lesbi! Dan aku juga bukan nyonya kalian! Pergi sana! Jika kalian masih mengikuti terus, aku tidak akan segan untuk membunuh kalian!" gertak Chelsea penuh amarah, dia sangat terganggu dengan kehadiran para pria tampan yang genit itu.


"Humph! Dasar orang-orang sinting!" Dengan cepat Chelsea melangkah menjauh dari mereka. Dia beralih untuk menikmati minuman dingin yang disediakan di meja sisi pinggir. Dia haus karena sedari tadi terus menerus berteriak memaki dan menghindar dari kejaran para gigolo.


Tak lama kemudian ada seseorang yang datang menghampiri Chelsea. Dia tidak lain adalah Leon. "Kau di sini?"


"Iya. Aku lelah berurusan dengan para pria penghibur itu, padahal aku sudah menolak, tapi mereka semua masih bersikeras mau melayaniku. Oh iya, ngomong-ngomong kenapa kau juga ada di sini? Apa kau juga tidak mau dilayani oleh wanita-wanita cantik itu?"


"Heh, aku bukan pria murahan. Lagi pula aku tidak tertarik dengan mereka semua," jawab Leon yang kemudian melirik ke arah samping.


Jelas saja aku tidak mau, lagi pula di sini cuma ada satu wanita yang mampu menarik perhatianku.

__ADS_1


"Emm ... Leon, aku mau bertanya satu hal," ucap Chelsea tiba-tiba.


Seketika Leon menoleh ke arah Chelsea. "Apa yang mau kau tanyakan?"


"Kita diatur oleh Pak Dewan untuk berpesta gila di ruangan ini. Dan di ruangan sebelah itu pestanya sepertinya tidak segila di sini. Aku tahu jika di ruang pesta sebelah diperuntukkan bagi tamu-tamu penting Pak Dewan. Jika saja para pengawal seperti kita ingin pergi melihat-lihat ke ruangan sebelah, apa kita nanti akan dimarahi?" tanya Chelsea penasaran.


"Tidak juga. Kita bebas mau ke mana saja. Tapi kenapa kau ingin ke sana? Memangnya apa menariknya pesta para pebisnis yang membosankan seperti mereka?" Leon balik bertanya.


"Haha, aku kan cuma penasaran ... setidaknya di sana mataku tidak melihat hal-hal tidak senonoh seperti di sini. Pak Dewan benar-benar mengatur penghibur yang agresif," jawab Chelsea dengan nada canggung. Dia tidak bisa bilang jika alasannya adalah ingin bertemu dengan ketua.


"Begitu ya. Ya sudah, pergilah ke sana. Dan satu hal yang harus kau ingat, tetap tundukkan pandanganmu jika berpapasan dengan siapa pun di sana. Kita tidak boleh menyinggung tamu-tamu penting Pak Dewan!" ucap Leon penuh penekanan.


"Baiklah, aku paham. Tapi ... kau tidak mau ikut?"


"Tidak, aku tidak cocok berada di tempat seperti itu. Lebih baik aku pergi ke pintu depan untuk berjaga."


"Haha, kau ini masih saja memikirkan tugas pengawalan di saat berpesta. Kalau begitu aku pergi dulu ya, jika ada apa-apa kau tahu di mana mencariku!" Chelsea melambaikan tangan dan bergegas pergi ke ruangan sebelah.


"Hahh ... dasar," gumam Leon sambil tersenyum tipis. Dia terus berdiri di tempat dan memandangi punggung Chelsea sampai bayangannya tak terlihat lagi.


Di sisi lain Chelsea kini telah berada di ruangan pesta yang lain. Dia bersikap hati-hati seperti pesan yang Leon sampaikan padanya. Dan setelah mengamati sekeliling demi mencari tahu di mana keberadaan ketua, perhatian Chelsea tiba-tiba tertuju pada seseorang yang sedang berbincang dengan Hendry.


"Dia ... Bukannya dia itu Nisa Sania Siwidharma?! Dia itu menantu pertama keluarga Kartawijaya! Dan dia adalah ipar dari adikku, Natasha! Kenapa dia ada di sini? Dan kenapa dia bisa begitu akrab dengan Hendry?!" gumam Chelsea yang begitu terkejut dengan hal yang dia lihat saat ini.


Aku tidak habis pikir bahwa anggota keluarga Kartawijaya yang terkenal taat akan hukum justru berada di pesta ini. Dan jika tebakanku benar, Nisa pasti salah satu pengusaha yang terlibat dengan bisnis pengembangan ulang lahan Distrik Timur 12. Tetapi, dia mewakili perusahaan mana? HW Group atau Moon Department Store?


Sialnya lagi, sekarang aku harus lebih hati-hati! Berbahaya jika aku sampai dilihat oleh Nisa, dia adalah salah satu orang yang hafal seperti apa rupaku 6 tahun yang lalu. Jika dia sampai melihatku, sia-sia sudah semua perjuanganku ini. Pokoknya sambil terus mengawasi dia, aku juga harus mencari tahu keberadaan ketua!


Chelsea lalu berbalik dan berputar ke arah yang lain. Sungguh tujuan yang rumit, Chelsea ingin bertemu dengan ketua yang selama ini dia targetkan, dan pada saat yang sama dia juga menghindari pandangan dari Nisa. Padahal sebenarnya kedua orang itu adalah satu orang yang sama.


Di sisi lain, saat ini Hendry terlihat begitu senang lantaran ketua yang paling dia hormati telah hadir di pesta ini. "Bersulang!" ucapnya dengan tawa yang lebar.


Kedua gelas pun saling beradu, Hendry langsung menghabiskan wine miliknya dalam sekali teguk. Sedangkan Nisa, dia tampak sedikit tidak berselera menikmati minumannya.


"Ada apa ketua? Apa minumannya tidak enak?" tanya Hendry penuh perhatian.


"Minuman ini enak, hanya saja aku sedikit iri denganmu. Kau bisa minum wine sebanyak yang kau mau, tapi aku ... cuma diperbolehkan minum jus buah," ucap Nisa seakan-akan merasa hampa. Benar saja, sebenarnya dia ini adalah pencinta wine. Bahkan dia dulunya sering mencuri wine koleksi milik suami dan ayah mertuanya.


"Haha, kalau begitu minumlah segelas! Lagi pula suamimu tidak akan tahu. Jangan murung di pestaku ini!"


"Humph, aku ini seorang ibu menyusui. Dan pastinya sekarang Keyran si posesif itu sudah tahu jika aku pergi diam-diam dari rumah. Aku akan habis jika aku ketahuan minum wine juga. Sudahlah, jangan bahas nasibku lagi. Yaa ... pokoknya aku sudah datang ke sini, aku ucapkan selamat atas keberhasilanmu," ucap Nisa yang kemudian langsung meneguk habis minuman jus buah miliknya.


"Heh, tadi katanya tidak suka. Sekarang malah dihabiskan," sindir Hendry.


"Tentu saja, karena aku harus segera pergi dari sini!"


"Eh?! Cepat sekali, kenapa ketua buru-buru pergi?" tanya Hendry dengan nada kecewa.


Nisa meletakkan gelas kosongnya di atas meja. Lalu dia mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Dua juga memperlihatkan layar ponselnya itu ke depan mata Hendry. "Lihat ini, 127 panggilan tidak terjawab. Suamiku pasti sudah gila di rumah! Dan dia pasti juga telah mengutukku dan mencaciku sebanyak 127 kali."


Tiba-tiba saja ponsel Nisa kembali bergetar, dan karena kaget, secara tak sengaja jari Nisa memencet tombol untuk menerima panggilan telepon.


"Akhirnya kau angkat telepon juga wanita gila! Cepat pulang sebelum aku ke sana dan menyeretmu! Anak sedang sakit tapi kau malah keluyuran!"


"Huaaa ... bunda! Di mana bunda .... Keisha mau bunda, ayah!"


"Cepat pulang! Kau dengar sendiri kan kalau anakmu menangis terus mencarimu! Aku bilang cepat pulang! Jawab aku Nisaaaa! Jangan diam sa-"


TUT TUT ....


Nisa langsung mengakhiri panggilan telepon itu secara sepihak. Dia juga tersenyum canggung kenapa tamu-tamu yang lain karena teriakan Keyran terdengar begitu keras meskipun tanpa mengaktifkan mode speaker.


"Nah, kau lihat sendiri bukan? Jadi maafkan aku karena tidak bisa berlama-lama di sini," ucap Nisa yang kemudian menyimpan kembali ponselnya.


"Haha, baiklah. Silakan pulang kalau begitu. Tetapi bagaimana dengan proyek soal Moon Department Store? Apakah harus ditunda?" tanya Hendry.


"Tidak perlu. Aku sudah menyuruh adikku untuk ke sini dan mengambil alih soal proyek itu," jawab Nisa dengan ekspresi datar.


"Adikmu yang siapa? Reihan?"


"Cih, Reihan itu kerjanya seharian cuma kencan dengan pacar-pacarnya. Dia sama sekali tidak berguna, sia-sia saja ayahku membiayai kuliahnya di luar negeri. Yang aku maksud itu Dimas, aku dan ayahku sepakat untuk mengajarinya sebelum menyerahkan tanggung jawab perusahaan secara resmi padanya."


"Tapi ketua ... aku dengar kalau Dimas tertarik ingin masuk ke militer. Kenapa sekarang malah mendidiknya jadi pebisnis?" tanya Hendry lagi.


"Haiss .... dia itu memang sedikit menyimpang. Padahal aku dan dia sama-sama anak dari ayah mantan ketua gangster. Aku meneruskan organisasi ini, dan kedua adik-adikku sama sekali tidak tertarik pada perusahaan. Aku akan kehabisan waktu jika mengurus perusahaan keluarga juga. Jadi aku dan ayah memaksa Dimas untuk terjun ke dunia bisnis. Saat dia tiba nanti, bantu dia sedikit saja. Sisanya biar dia usaha sendiri. Sudah ya, aku pergi sekarang!"


"Baik, sampai jumpa di lain waktu!"


Tak lama setelah Nisa pergi meninggalkan ruangan pesta. Tiba-tiba saja ada seseorang yang mendekat ke arah Hendry, dia tidak lain adalah ketua tim.


"Ada apa Pak Dewan memanggil saya?" tanyanya.


Tiba-tiba saja Hendry mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari saku celana. Lalu menyerahkan benda itu diam-diam kenapa ketua tim. "Ini adalah obat perangsang yang aku dapatkan dari pasar gelap. Efeknya berkali-kali lipat dari obat yang biasanya. Aku mau kau gunakan ini untuk menjebak wanita bernama Mayra itu!" bisiknya.


"B-baik Pak Dewan ..." jawab ketua tim sedikit ragu. Dia ragu untuk menyinggung Mayra lantaran begitu dekat dengan Leon. Tetapi di satu sisi dia juga tak berani melawan perintah Hendry.


"Itu saja, cepat lakukan!" pinta Hendry penuh penekanan. Dan ketua tim pun segera pergi untuk melakukan tugasnya.


"Hehehe, kau akan mampuss malam ini." Hendry menyeringai bak iblis.

__ADS_1


Salahmu sendiri karena menolakku waktu itu! Jika aku tidak bisa mendapatkanmu, maka aku akan mempermalukanmu sebagai tontonan untuk menghibur tamu-tamuku! Persetan bahkan jika kau adalah wanitanya Dika! Dika pasti juga akan menganggap jika ini bukan masalah penting. Dia akan memaklumi aku, karena aku adalah rekan yang telah melewati hidup dan mati bersamanya. Berbeda dengan kau yang hanya seorang wanita, wanita sepertimu bisa dicari dan diganti kapan saja.


__ADS_2