Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Matahari Telah Membeku


__ADS_3


BRAAKK!


Leon membanting pintu dengan kerasnya begitu dia sampai di rumah. Bahkan Liana yang tadinya sedang asyik menonton acara televisi ikut terkejut dengan suara bantingan pintu. Liana yang penasaran dengan apa yang terjadi segera berlari menuju ke sumber suara.


"Kak Leon sudah pulang?" tanya Liana dengan rasa gugup. Baru kali ini dia melihat ekspresi wajah kakaknya yang tampak sedang dipenuhi oleh amarah. Dia tak pernah melihat kakaknya semarah ini sebelumya. Bahkan dia tidak berani mendekat, berpikir jika Leon akan berteriak atau membentaknya karena marah pada dirinya. Meskipun Liana sendiri tak tahu apa salahnya.


"...." Leon tak menjawab dan langsung melangkah melewati adiknya itu. Dia melangkah menuju ke arah di mana anak tangga berada dengan langkah terburu-buru.


"Apa Kak Leon sudah makan malam di luar? Jika belum makan maka akan aku siapkan, setelah aku menghangatkan makanan mari kita makan bersama," ucap Liana yang menawarkan diri.


"Makanlah sendiri!" jawab Leon dengan nada ketus dan tanpa menoleh ke arah Liana.


"Kak Leon sepertinya marah sekalu. Apa dia sedang dilanda masalah pada pekerjaannya, ya?" gumam Liana yang terus melihat punggung Leon yang menjauh sampai tak terlihat lagi. Setidaknya dia sedikit merasa lega, lantaran Leon seperti itu karena bukan marah terhadapnya. Dia juga merasa khawatir, lekas menutup pintu rumah yang masih terbuka sedikit sambil berharap jika masalah apa pun yang sedang terjadi pada kakaknya cepat berlalu.


Di sisi lain kini akhirnya Leon telah sampai di dalam kamarnya, dia juga menutup pintu rapat-rapat. Segera duduk di tepi ranjang sambil menatap sebuah dokumen penyelidikan identitas yang sebelumnya telah ketua berikan padanya.


Dengan perasaan yang masih dipenuhi amarah, Leon membalik halaman tiap halaman dan membaca setiap tulisan dengan saksama. Jauh di lubuk hatinya, dia sangat menolak untuk mempercayai semua kebenaran yang tertulis di dalam dokumen tersebut.


Namun, meskipun cinta, tak mungkin baginya untuk menutup mata dan mematikan akal sehatnya. Kini dia telah mengetahui semua identitas sebenarnya sang kekasihnya, yang Mayra sembunyikan darinya. Hatinya teramat sakit, dia mulai merasa goyah dan berpikir jika selama ini dia hanya sekadar dimanfaatkan untuk mencapai tujuan pribadi.


"Kenapa ... kenapa Mayra? Kenapa kau harus menipuku? Yang aku cintai dari dirimu adalah sosokmu yang selama ini aku kenal. Tetapi nyatanya ... semua itu palsu, kau menyembunyikan semuanya dan menipuku. Apakah selama ini kau memang hanya ingin memperalatku?" ucap Leon dengan nada gemetar.


Leon hanya bisa tertunduk lesu. Hatinya telah patah, dia telah mengetahui kebenaran yang tidak bisa dia bantah. Pikirannya masih sulit mempercayai semua ini, dia mulai ragu apakah selama ini dia benar-benar pernah dicintai.


"Sial," umpat Leon penuh dengan kekecewaan. Dia bahkan mencengkeram erat dokumen itu sampai kertasnya jadi kusut. Rasa kecewanya teramat besar, dia yang baru pertama kali mengenal cinta harus menghadapi kenyataan yang kejam.


Malam ini rasanya seperti malam paling panjang yang pernah Leon alami. Dia tidak bisa tidur dan menutup mata dengan tenang, pikirannya terus memikirkan soal mengapa kekasihnya harus menipunya. Perasaan seperti marah, benci, sedih, kecewa, semua itu menjadi satu dan berkecamuk di dalam hatinya. Sakit, jelas sangat sakit. Untuk pertama kalinya dalam hidup, rasa sakitnya di hati seolah-olah mengalahkan semua rasa sakit yang pernah diterima oleh tubuhnya.


Hingga tanpa terasa hari telah berganti dan pagi hari telah tiba. Meskipun pagi ini adalah pagi yang cerah, tetapi itu berbanding terbalik dengan suasana hati Leon. Dia sama sekali tak merasakan kehangatan dari cahaya mentari pagi, suasana hatinya yang buruk sudah membuat seolah-olah matahari telah membeku. Hari ini layaknya dia menjalani pagi hari paling suram semasa hidupnya.


Bahkan dia yang biasanya selalu memanjakan Liana dengan membuat menu sarapan yang serba lengkap, kini hanya membuatkan sarapan yang begitu sederhana. Karena dia sama sekali tak punya semangat untuk bergerak dan menjalani harinya.


Liana yang hanya melihat sebuah telur mata sapi dan nasi di meja makan langsung merasa heran. Akan tetapi, dia lebih heran lagi saat melihat kantong mata kakaknya yang menghitam seperti mata panda. Dia mulai mempunyai firasat buruk ketika melihat kakaknya itu hanya meminum segelas air putih saja. Padahal Liana sudah hafal betul dengan kebiasaan kakaknya yang pasti selalu meminum kopi.

__ADS_1


"Kak Leon," panggil Liana ketika berada di meja makan. Dia sudah menyentuh sendok dan garpu, tetapi makanan sederhana itu masih utuh tak tersentuh.


"Apa?" jawab Leon yang tampak seperti orang linglung. Bahkan dia tak menatap mata adiknya yang kini sedang mengajaknya bicara.


"Apa sesuatu terjadi pada Kakak? Jika itu masalah serius, Kakak bisa katakan padaku. Tak perlu dipendam sendiri," bujuk Liana agar Leon mau membuka mulut dan bercerita padanya tentang apa yang sebenarnya telah membuat kakaknya berubah drastis seperti ini.


Leon tersenyum tipis. Meskipun dia sedang sakit hati, tetapi dia tak mau jika adik tersayangnya mengetahui masalahnya dan ikut merasa khawatir terhadap dirinya. "Bukan apa-apa, ini masalah orang dewasa. Kau tak perlu tahu, cepat makan sarapanmu."


Liana yang tak puas dengan jawaban Leon langsung berekspresi kesal. "Ayolah, Kak! Jika Kak Leon dipecat dari pekerjaan Kakak maka jujur saja padaku! Kalau memang saat ini Kakak sangat butuh uang, maka pakai saja uangku dulu!"


"Eh? Kenapa kau berpikir kalau kakak dipecat?" tanya Leon dengan tatapan bingung.


"Apakah aku salah? Tapi lihat saja sekarang, Kak Leon tumben sekali cuma memasak menu seperti ini. Aku pikir Kak Leon begini karena demi menghemat biaya pengeluaran sehari-hari kita. Dan Kakak juga tampak menyedihkan, Kak Leon semalam tidak tidur, ya!" ucap Liana dengan tatapan menusuk, seolah dia merasa jika apa yang dia curigai semuanya adalah benar.


"Kakak tidak dipecat. Soal mengapa hari ini kakak cuma memasak telur untukmu, itu karena kakak sedang lelah. Itu saja. Lalu ... ngomong-ngomong soal uangmu yang kau sebut tadi, sebaiknya kau simpan saja uang itu baik-baik. Jangan dipergunakan untuk keperluan yang tidak penting. Ke depannya kau fokus saja pada sekolahmu," ucap Leon yang kemudian meneguk sedikit air putih dari gelas cangkirnya.


"Eh? Kenapa tiba-tiba Kakak bilang begitu? Bagaimana dengan pekerjaanku? Aku kan sudah menandatangani kontrak untuk satu tahun. Tidak mungkin aku harus melakukan pelanggaran, lalu membayar biaya ganti rugi, kan?" tanya Liana dengan wajah penuh kebingungan.


"Semalam kau tahu sendiri jika kakak keluar. Kakak melakukan pertemuan dengan atasan kakak yang juga punya pengaruh besar di perusahaan Moon Department Store. Setelah kakak memohon padanya, dia mau membatalkan kontrak itu. Tapi kau tenang saja, uang yang sudah kau terima tetap jadi milikmu."


Tiba-tiba saja Liana menggebrak meja dan berdiri. Dengan sorot mata tidak terima, dia pun berkata, "Kenapa Kakak lakukan itu semua? Kenapa Kak Leon seenaknya memutuskan karierku?! Apa Kakak tidak paham jika ini merupakan sebuah kesempatan besar bagiku?! Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, Kak! Jika aku bisa terus terkenal, maka di masa depan aku tak perlu bersusah payah mencari pekerjaan yang sesuai denganku!"


"Duduk!" bentak Leon sambil melotot. Dia amat terganggu dengan semua kalimat protes yang diminta oleh adiknya. Saat ini hatinya sedang dalam keadaan tidak baik, dia makin merasa sesak dan muak jika mendapat gangguan lain lagi yang berisik seperti ini.


"Ukhh ...!" Liana menurut dan kembali duduk. Meskipun begitu, dia masih merajuk dan memalingkan wajahnya dari sang kakak.


"Liana, dengarkan penjelasan kakak. Tentu saja kakak ingin kau jadi orang yang sukses. Hanya saja usiamu masih belum tepat untuk itu. Kau belum siap menghadapi dunia kerja di dunia hiburan yang keras seperti itu. Memang menyenangkan saat kau terkenal dengan pandangan yang baik. Tetapi, kau masih belum mengerti jika saja ada seseorang yang iri dan atau bahkan berniat jahat padamu."


"Sedangkan kakak, saat ini kakak masih harus fokus pada pekerjaan kakak sendiri. Artinya kakak masih tak bisa jika harus mengawasi dan melindungimu sepanjang waktu," ucap Leon yang melanjutkan penjelasannya.


"...." Liana diam seribu bahasa. Mulutnya terasa gatal sekali ingin mengucapkan sesuatu. Hanya saja dia sadar jika selama ini dia tak pernah membantah perkataan kakaknya. Dia tak mau jika kakaknya kecewa karena dirinya menjadi seorang pembangkang.


"Liana, kau mengerti maksud kakak, kan?" tanya Leon dengan nada halus.


"Iya, Kak. Aku mengerti apa maksud baik kakak. Mulai sekarang aku akan lebih giat lagi belajar. Tetapi ... meskipun aku sudah tidak terikat kontrak lagi, mustahil jika aku tiba-tiba jadi tidak populer. Setiap berangkat dan pulang dari sekolah, sebelumnya aku selalu ditemani oleh manajer Orchid. Dan sekarang aku sudah tidak punya kontrak kerja lagi, otomatis manajer Orchid juga tidak akan bertugas denganku lagi."

__ADS_1


Leon tersenyum tipis, lalu sebelah tangannya maju dan mengusap kepala adiknya dengan lembut. "Tenang saja, aku adalah kakakmu, Liana. Selama aku masih mampu bergerak, aku akan terus melindungimu. Atasan kakak sudah memberikan waktu libur bagi kakak, jadi untuk sementara waktu nanti yang mengantar dan menjemputmu sekolah adalah kakak."


"Baiklah, jika memang begitu. Syukurlah kalau Kakak tidak dipecat dan aku bisa kembali ke kehidupan sekolahku yang normal," ucap Liana sambil mengangguk pelan.


"Baguslah kalau kau paham. Sekarang makan sarapanmu, setelah itu kakak akan mengantarmu!"


Leon tersenyum puas setelah membuat Liana mengerti akan maksudnya di balik memberhentikan kontrak kerja yang cukup menguntungkan. Yang dia katakan semuanya adalah benar, tetapi masih ada satu hal yang dia sembunyikan. Yang paling dia khawatirkan adalah dia tak mau jika adiknya sampai mempunyai hubungan dengan orang-orang yang berbahaya.


Belakangan ini Leon merasa khawatir, karena di sekeliling adiknya ada Orchid yang sebenarnya merupakan seorang pria pembunuh berdarah dingin. Dia mendapatkan kode nama itu dan menjadi orang kepercayaan ketua juga karena sifatnya. Yaitu selalu bertindak cantik dan bersih setiap kali dia membereskan musuhnya.


Bisa dibilang jika Orchid tak jauh berbeda dengan Leon. Jika Leon merupakan elite yang berasal dari Divisi 2, maka Orchid adalah elite yang berasal dari Divisi 3. Selain memiliki kemampuan membunuh yang rapi, Orchid juga andal dalam mengumpulkan informasi. Jadi itulah mengapa Leon akhirnya paham soal alasan utama ketua mengatur Orchid sebagai manajer adiknya. Yaitu untuk memata-matai dirinya lewat Liana.


Menempatkan orang dari Divisi 1 sebagai penjaga rumah adalah sebuah bentuk pengalihan untuknya. Kali ini Leon melakukan kesalahan karena lengah, harusnya dia tak terkecoh dan berhati-hati. Dengan begitu maka dia bisa mempersulit ketua untuk mengumpulkan bukti soal hubuanganya dengan Mayra. Namun apalah daya, Leon sudah terlambat untuk menyadari semuanya.


Hal inilah yang sebelumnya selalu Leon khawatirkan. Tetapi sekarang tidak lagi karena kontrak kerja Liana telah resmi berakhir. Yang dia khawatirkan kini sudah berbeda, yaitu soal perkara kesetiaannya pada sang ketua atau kepada cintanya.


Setelah Liana selesai sarapan, seperti yang dibilang Leon tadi maka dia sendiri yang akan mengantarkan Liana ke sekolah. Namun, Leon tak langsung kembali ke rumah begitu pulang dari sekolah Liana. Dia melaju kencang ke arah yang berlawanan, yang tidak lain adalah menuju ke rumah kekasihnya.


"Aku datang menagih penjelasan darimu, Mayra! Ah, salah ... harusnya kusebut kau Chelsea!"


***


"Hueek ... hueekk ...."


Chelsea memuntahkan semua sarapan yang sebelumnya telah dia makan. Sejak pagi tadi entah kenapa dia merasa begitu mual. Dia tak henti-hentinya berada di kamar mandi, berniat memuntahkan apa saja agar rasa mualnya berkurang.


Sekali lagi Chelsea membasuh muka untuk yang ke sekian kalinya. Dia menatap dirinya sendiri di cermin kamar mandi. Tampak jelas jika rupanya saat ini sedikit pucat dan lemas.


"Ughh ... ini buruk, sepertinya aku masuk angin. Padahal aku sudah sarapan agar aku bisa minum obat supaya kondisiku tidak bertambah buruk. Tapi sia-sia saja, aku memuntahkan semuanya ..." keluh Chelsea dengan keningnya yang mengerut.


DING DONG!


Chelsea terkejut begitu mendengar suara bel pintu.


"Eh? Ada tamu, emm ... sepertinya itu Leon! Selain Kepala Divisi, yang tahu rumahku di sini kan cuma dia! Hehe, pagi-pagi dia sudah datang berkunjung, sepertinya dia sudah merindukan aku!"

__ADS_1


Chelsea tersenyum dengan riang dalam suasana hati yang berbunga-bunga. Dia langsung bergegas keluar dari kamar mandi, demi menyambut kedatangan sang kekasih tercinta tanpa tahu maksud sebenarnya kedatangannya.


__ADS_2