
Kini Chelsea telah mengetahui siapa dalang dari kasus pembunuhan William 10 tahun yang lalu. Namun, bukan fakta ini yang dia harapkan. Dia sudah terlanjur bergabung ke dalam lingkaran setan ini. Dan ternyata musuh yang selama ini dia cari adalah petinggi kelompok ini sendiri. Dia sudah sampai sejauh ini, batinnya terguncang dan lagi-lagi dia merasa bimbang.
"Baiklah, hanya ini saja yang mau aku katakan! Kalian mulailah bekerja!" ucap Damar yang kemudian segera berjalan pergi.
"Apa yang dia bisikkan padamu barusan?" tanya Leon.
"Bukan apa-apa, sungguh bukan apa-apa ..." jawab Chelsea tanpa memandang ke arah Leon.
Meskipun pikiran Chelsea sudah penuh dengan tekanan. Dia mau tidak mau harus tetap melakukan tugas pertamanya. Dan dia mendapatkan jatah untuk berjaga di depan salah satu pintu masuk private room VIP. Dan ruangan VIP lain pun juga dijaga oleh pengawal lain dengan ketat.
Chelsea menyadari alasan kenapa dia bisa dengan mudah menguping saat itu. Karena kala itu penjagaan belum seketat ini. Dia juga menyadari salah satu alasan mengapa dilakukannya perekrutan anggota tetap. Memang diperlukan anggota lagi agar penjagaan bisa dilakukan dengan maksimal.
Satu per satu para tamu VIP berdatangan. Dan benar apa yang Leon katakan padanya, tamu VIP berasal dari golongan para pesohor yang terkemuka. Bahkan ada beberapa juga artis yang saat ini sedang naik daun.
Untungnya para artis itu adalah para pendatang baru. Tak ada satu pun dari mereka yang pernah melihat ataupun mengenal sosok Chelsea Almayra Adinata, mendiang sang direktur dari perusahaan entertainment yang paling berpengaruh pada masanya.
"Hahh ..." Chelsea menghela napas, dahinya pun ikut berkerut. Ada sesuatu yang membuatnya merasa sedikit tidak baik.
Artis bau kencur seperti mereka bisa-bisanya datang ke tempat seperti ini. Meskipun mereka tidak mengenaliku, tapi aku tahu betul siapa mereka dan berada di agensi mana mereka bernaung. Dan ada pula yang berasal dari One INC Entertainment, miris sekali.
Rasanya sedikit tidak rela. Dulu aku sudah menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk mengurus perusahaan itu sebaik mungkin. Sekarang justru malah jadi seperti ini, rasanya masih seperti tidak rela. Ingin sekali aku menampar mereka dan berteriak di depan mukanya, uang agensi untuk membesarkan nama mereka sudah terbuang banyak.
Sebenarnya sudah seperti apa keluarga Adinata mengalami kemunduran? Bahkan artis baru saja sudah berani melakukan hal semacam ini diam-diam. Aku sangat yakin apa alasan mereka masih bisa berdiri sampai sekarang, tentu saja ini berkat mempunyai hubungan dengan keluarga Kartawijaya.
Sejak aku tiada, entah siapa yang menjadi pesuruh ataupun boneka ayah yang baru. Lagi pula pasti sulit bagi ayah jika terus bekerja di usianya sekarang.
"...." Tiba-tiba saja Chelsea tertegun. Sejurus kemudian langsung bergeleng kepala secepat mungkin.
Tidak! Aku tidak boleh memikirkan pria tua itu! Dia adalah bajing*n di antara para bajing*n! Bahkan mungkin saja dia tidak menangis saat kematianku! Aku sudah memutuskan hubungan dengannya! Tidak perlu mengkhawatirkan dia lagi! Entah dia bangkrut ataupun mati, aku tidak boleh peduli!
Chelsea kembali berusaha fokus pada pekerjaannya, dia juga masih terus berpikir apa yang akan dia lakukan setelah mengetahui fakta kematian kakaknya. Tetapi, ada kalanya pikiran Chelsea menjadi buyar. Karena dia mendengar suara-suara aneh, dan sulit dideskripsikan olehnya yang berasal dari dalam private room VIP tersebut.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya dia lakukan?" gumam Chelsea dengan ekspresi jijik.
Malam semakin larut, dan waktu tengah malam pun telah lewat yang menandakan hari sudah berganti. Banyak dari para VIP yang telah meninggalkan club. Dan tugas pengawalan hari ini pun selesai.
Para anggota tetap dari Divisi 4 semuanya adalah pria, dan mereka semua tahu jika tidak diperbolehkan mengusik Chelsea yang rumornya sudah tersebar sebagai wanita milik salah satu Family. Bahkan mereka pun juga berinisiatif bersikap ramah pada Chelsea.
"Mau merokok bersama?" tanya salah seorang pria yang lewat di depan Chelsea.
"T-tidak, terima kasih," jawab Chelsea sambil bergeleng, dia merasa canggung lantaran baru pertama kali diajak merokok.
Gerombolan pria itu lantas berlalu. Sedangkan Chelsea, dia tak mau berlama-lama lagi berada di club yang dia benci itu. Dia memutuskan untuk segera pulang. Memang sudah waktunya club untuk tutup, sekarang club itu sepi dan para pekerja kebanyakan sudah pulang.
Tetapi, saat ingin menuju pintu keluar, dia melihat Leon yang sedang duduk sendirian di sebuah bar counter. "...." Sejenak Chelsea tertegun, lalu memutuskan untuk menghampiri Leon. Dari kejauhan dia melihat Leon duduk melamun, dengan hanya ditemani oleh sekaleng bir.
"Sedang apa?" tanya Chelsea sambil menepuk bahu Leon.
"Eh?!" Seketika Leon menoleh. Namun ekspresinya kali ini tampak berbeda dari biasanya, dia yang selalu berwajah datar dan dingin, kini memperlihatkan wajah yang sendu.
Chelsea merasa jika ada sesuatu yang salah. Dia lalu duduk di kursi tepat di sebelah Leon. Tak ada perbincangan apa-apa di antara keduanya. Hingga beberapa saat, Leon pun berkata, "Kau ... sudah sampai mana hubunganmu dengan kak Dika? Apa sejak awal kau memang berencana seperti ini?"
"Itu tidak benar! Jangan percaya dengan hal itu! Ini memang ulah Kepala Divisi yang sengaja mempermainkan aku!" sanggah Chelsea penuh emosi. Dia tidak mau Leon salah paham terhadap dirinya.
"Ohh ... terserah saja jika itu memang benar, lagi pula kak Dika tidak seburuk itu ...." Leon tersenyum tipis, lantas meneguk sekaleng bir itu sampai habis.
Di satu sisi Chelsea mulai berpikir macam-macam. Kemudian dia berkata, "Aku penasaran mengapa hubunganmu dengan Kepala Divisi terkesan baik. Bahkan kau sampai menganggapnya sebagai saudaramu. Bagaimana awalnya kau bisa mengenalnya?"
Sekilas Leon menatap Chelsea, dan sejurus kemudian dia memalingkan wajahnya. Menatap kaleng bir kosong itu lagi. "Aku ... hampir 7 tahun aku bergabung dengan kelompok ini. Family pertama yang aku temui adalah Kepala Divisi 3, tapi keahlianku tidak cocok untuk berada di Divisi itu. Jadi aku dipindahkan ke Divisi 2 sesuai arahan ketua."
"Apa? Jadi kau mendapat perhatian dari ketua? Jadi pada saat itu, ketua juga-"
"Kau salah!" Leon memotong. "Ketua mana mungkin punya waktu untuk memperhatikan semua calon anggota. Yang mendapat perhatian hanya yang mencolok di antara yang lain. Saat itu aku diperhatikan karena aku membuat masalah. Aku menyerang dan merampas pin hitam dari beberapa orang. Dan sehari sebelum acara perekrutan, aku baru mendaftarkan diri."
Chelsea ternganga. "Ternyata ... kau senekat itu mau bergabung. Apa kau bergabung demi membalas dendam?"
__ADS_1
Leon menyeringai. "Heh, balas dendam itu terlalu kekanakan bagiku. Balas dendam hanya melahirkan balas dendam yang baru. Aku tidak mau masuk ke lingkaran yang tiada akhir seperti itu. Tujuanku bergabung ... itu karena demi bertahan hidup."
"Sejak kecil ... aku ini yatim piatu, orang tuaku pergi dan meninggalkan banyak hutang. Aku putus sekolah, kehilangan rumah, bahkan saat itu Liana yang masih kecil terancam diambil dan dijual. Aku tak punya apa-apa selain Liana, dan aku mati-matian mempertahankan hal yang paling berharga bagiku."
"Saat memasuki usia 9 tahun, penyakit Liana semakin memburuk. Dia punya penyakit mata yang membuat kedua matanya buta, dan perlu diobati jika ingin nyawa selamat. Karena penyakit ini semacam keturunan genetik, aku pun juga menderita penyakit yang sama. Tapi, tidak separah Liana. Mata sebelah kiriku yang terkena, dan kadang jadi buta sebelah. Jika tidak segera diobati maka akan bertambah buruk."
"Saat itu, aku hanya mengenal seseorang yang bisa aku andalkan. Dia adalah pelatihku, aku mengikuti cabang olahraga beladiri, dan beberapa kali mendapat juara di ajang Boxing Champion. Tapi, gara-gara penyakit mataku, performaku semakin memburuk. Bahkan pelatihku melarangku untuk berlatih dan berhenti sampai mataku kembali pulih. Dari sinilah aku sungguh terpuruk."
"Aku sempat jadi calo tiket, dan bahkan aku juga jadi pencuri sepatu. Untung saja aku masih dicap baik oleh Liana, karena dia buta jadi dia tak tahu hal-hal kotor apa yang sudah aku lakukan. Dan suatu ketika, aku tak sengaja mendengar informasi soal kelompok gangster yang sedang membutuhkan anggota."
"Saat sekelompok orang itu tengah asik bicara, aku tanpa ragu membunuh mereka dan merampas pin hitam milik mereka. Perbuatanku ini diketahui oleh Kepala Divisi 3, dia menangkapku dan mengira jika aku adalah orang suruhan yang memang sengaja dikirim untuk mengacaukan acara perekrutan. Akhirnya aku jujur dan menceritakan semua kesulitanku."
"Dan tak kusangka, ketua malah menaruh perhatian padaku. Setelah aku resmi bergabung, ketua tak tanggung-tanggung membiayai pengobatanku. Bahkan juga menyembuhkan Liana. Aku bahagia akhirnya adikku bisa kembali melihat, tapi di sisi lain aku harus terus berpura-pura agar perbuatan kotorku tidak dilihat olehnya."
"Dan kenapa aku bisa dekat dengan Kak Dika, itu karena dia adalah pelatihku yang baru. Dia mengajari cara untukku bertahan hidup, dan yang masih aku ingat sampai sekarang ... dia berani menghalangi ketua yang mau membunuhku."
"Eh?! Kau sudah pernah bertemu dengan ketua?! Dan kesalahan apa yang sudah kau perbuat?! Sampai ketua sendiri yang sudah membiayaimu malah ingin membunuhmu?" tanya Chelsea seakan tak percaya.
"Aku hanya pernah bertemu dan melihat ketua satu kali. Itu saat kami diperintahkan untuk merebut wilayah bagian barat kota. Kami berkumpul di Pelabuhan Barat, dan musuh utama ketua ... kami diberi perintah untuk membuat seratus lubang peluru untuk membunuhnya."
"Dan saat itu mataku juga masih dipasangi perban. Mungkin ketua mengenaliku dengan melihat itu. Aku tak tahu kenapa, tiba-tiba saja ketua mengajukan pertanyaan padaku. Jawaban yang aku berikan tidak berhasil membuatnya puas, kak Dika saat itu langsung maju menghadang ketua. Dia membelaku di hadapan seluruh para Family, itulah yang membuatku terkesan padanya."
"Ketua itu orang yang seperti apa?" tanya Chelsea penasaran.
"..." Seketika Leon membisu, menoleh ke arah Chelsea dan menatapnya lekat-lekat. "Dia adalah sosok yang tidak bisa dibandingkan denganmu!"
"O-ohh ... oke, dia pasti pria yang kejam dan menakutkan," ucap Chelsea dengan nada canggung.
Leon tersenyum tipis dengan ucapan Chelsea barusan. Dia sengaja tidak memberitahukan padanya kebenaran yang sesungguhnya. "Kurasa aku sudah menjawab semua pertanyaanmu. Semua yang aku punya sekarang, itu karena belas kasihan ketua. Di saat semua orang membuangku, di tempat ini aku mendapatkan saudara yang bisa aku percaya. Dan aku sudah mengambil sumpah untuk terus tunduk dan mengabdi pada oraganisasi ini!"
"Begitu yaa ..." gumam Chelsea dengan tatapan tidak rela.
Sekarang aku sudah menetapkan tujuanku. Sudah sejauh ini maka aku juga tidak rela untuk memulai kembali dari awal. Aku tetap bertekat jadi orang kepercayaan ketua! Dan setelah itu aku sendiri yang akan menusuknya dari belakang! Aku ingin dia merasakan kematian yang menyedihkan, aku tak mau kematian kak William sia-sia!
__ADS_1
Bahkan jika saat itu aku menemui halangan. Bahkan jika aku harus melawan semua orang-orangnya. Bahkan jika aku harus berhadapan dengan Leon, aku akan tetap membawa dendam ini sampai mati! Jika saatnya itu tiba, tolong jangan menyesal karena sudah menolongku, tolong maafkan aku, Leon ...