
"Sial, kenapa harus aku?" umpat ketua tim dengan suara pelan. Dia merasa jengkel karena disuruh Hendry melakukan perbuatan kotor. Sejak tadi dia juga terus menggenggam obat perangsang di tangannya dengan erat-erat agar tidak dilihat oleh orang lain.
Dia masih ragu, menyusun rencana untuk dirinya sendiri dalam diam. Sejak tadi dia terus menerus menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia melakukan tugas ini atau tidak. Dia tahu betul jika dirinya bukan lawan yang pantas bagi Leon, dan dia juga tahu kalau wanita yang jadi targetnya memiliki hubungan tidak biasa dengan Leon. Namun, di satu sisi dia juga akan habis jika tidak melakukan perintah dari atasan sendiri.
"Ah sudahlah, lebih baik aku lakukan saja sesuai perintah Pak Dewan!" gumamnya yang telah memantapkan diri.
Ketua tim lantas menghampiri meja minuman. Dia mengambil dua buah gelas berisi wine, dan secara diam-diam memasukkan obat perangsang ke salah satu gelas. Dia memasukkan semua obatnya, tidak berbau dan tidak berwarna, obat yang sempurna agar tidak disadari oleh orang. Ketua tim lalu membawa dua buah gelas wine itu berkeliling bersamanya demi mencari tahu keberadaan Mayra sekarang.
"Ah, itu dia di sana!" ucap ketua tim yang akhirnya menemukan Chelsea setelah berkeliling ruangan pesta cukup lama. Dia pun segera mendekat, akan tetapi dia merasa jika saat ini wanita itu cukup mencurigakan.
"Mayra!" panggilnya.
"Eh? Y-ya!" Seketika Chelsea berbalik ke belakang, dia juga bersikap seolah-olah tidak sedang melakukan apa-apa. Padahal sebenarnya dia masih dalam pengawasan untuk mencari tahu di mana keberadaan ketua.
"Ada perlu apa ketua tim mencariku?" tanya Chelsea dengan senyum canggung.
"Haha, sebenarnya bukan hal yang penting. Aku melihatmu jadi memutuskan untuk menyapamu. Dan ... aku juga ingin mengucapkan rasa terima kasihku, kau sudah melakukan tugas dengan baik dan bisa diajak kerja sama. Jadi sebagai ketua tim, secara pribadi aku mengucapkan rasa terima kasihku terhadap semua yang kau lakukan selama ini."
Tiba-tiba saja ketua tim menyodorkan gelas wine yang telah dicampur dengan obat perangsang kepada Chelsea. "Mari bersulang!"
"...." Sejenak Chelsea tertegun saat melihat gelas kaca yang berisi wine tersebut. Dan lagi-lagi sekilas dia merasa bernostalgia. Sebagai seorang mantan pebisnis, Chelsea paham akan maksud baik ketua tim. Mengajak bersulang merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan rasa hormat terhadap kolega yang sudah dianggap sebagai teman.
"Baiklah!" Chelsea langsung meraih gelas kaca itu dengan senyuman ramah. Pikirnya, dia sudah terbiasa dengan hal ini, minum segelas wine saja tidak akan berpengaruh padanya.
TING!
Kedua gelas saling beradu, dan baik Chelsea maupun ketua tim sama-sama melakukan one shot, wine habis dalam sekali teguk.
"..." Saat keduanya saling meneguk, ketua tim diam-diam melirik Chelsea apakah dia sebuah menghabiskan minuman itu atau belum. Dia ingin memastikan jika tugas dari Hendry telah dia laksanakan dengan baik.
Saat kedua orang itu sudah menghabiskan wine mereka. Tiba-tiba saja Chelsea berkata, "Emm ... ketua tim, ada sesuatu yang mau aku tanyakan."
"Ya? Soal apa?" tanya ketua tim.
"Aku diberitahu jika pesta ini dihadiri oleh ketua. Kira-kira ... apa ketua tim tahu di mana dia sekarang?" tanya Chelsea penuh harapan. Kali ini tidak masalah baginya jika dia bertanya pada ketua tim, karena dia yakin jika ketua tim akan memaklumi niatannya yang ingin bertemu dengan ketua. Berbeda halnya jika dia bertanya pada Leon, dia paham betul jika nantinya Leon akan menaruh curiga sekaligus menginterogasinya dengan segudang pertanyaan.
"Ketua? Memang benar jika ketua datang ke pesta ini, tapi dia sudah pulang," jawab ketua tim yang sontak saja membuat raut wajah Chelsea berubah kecewa.
"Pulang?! T-tapi ... pestanya belum selesai, kenapa ketua pulang?" tanya Chelsea lagi yang masih tidak begitu terima dengan jawaban yang diberikan oleh ketua tim.
Sial, padahal sudah seperti ini. Bahkan aku sampai berpenampilan menarik untuk mendapatkan perhatian dari ketua. Tapi ketua malah sudah pulang sebelum aku bisa bertemu dengannya.
"Iya, ketua sudah pulang. Jika kau tidak percaya maka silakan saja tanyakan ke penjaga gerbang. Urusan ketua seperti apa itu terserah dia, kita ini cuma bawahan yang tugasnya cukup menurut saja. Lagi pula apa keperluanmu bertanya soal ketua?" tanya ketua tim dengan tatapan curiga.
"Bukan apa-apa, aku tidak punya maksud yang aneh-aneh. Aku cuma penasaran, itu saja!" jawab Chelsea dengan spontan.
"Hmm ..." Ketua tim mengernyit, dan sejurus kemudian dia berkata, "Oh begitu. Masuk akal, aku dengar anggota tetap yang baru bergabung tahun ini tidak melihat ketua saat acara perekrutan."
"Haha, iya benar. Aku penasaran karena alasan itu!" jawab Chelsea yang mengiyakan tebakan dari ketua tim, dia lebih memilih mengiyakan daripada dicurigai lagi.
"Ketua tim, ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan. Kira-kira ketua kita itu orangnya seperti ap- ... ughh ...." Tiba-tiba saja kepala Chelsea terasa sakit. Bahkan untuk berdiri dengan benar saja sepertinya juga tidak seimbang.
"Ah, aku masih ada hal yang ingin aku lakukan. Sampai jumpa di lain tugas!" Ketua tim kelabakan dan segera meninggalkan Chelsea seorang diri.
Aku harus cepat-cepat pergi, sepertinya efek dari obat perangsang sudah mulai bekerja. Maaf, sebenarnya memang tidak ada kebencian di antara kita. Akan tapi salahmu sendiri yang mencari masalah dengan Pak Dewan. Aku tak punya pilihan lain selain menurutinya, karena aku ini cuma anjingnya yang setia.
"Ukhh ...." Chelsea memegang kepalanya yang terasa sakit. Dia juga mulai merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya. Bahkan tangannya sampai gemetar, membuat gelas kaca kosong yang dia pegang terjauh begitu saja ke lantai. Benar saja, obat perangsang yang didapat Hendry dari pasar gelap sudah berefek sampai seperti ini.
PRANGG!
Suara pecahan gelas membuat semua orang yang berada di sekeliling Chelsea seketika menoleh dan memperhatikan dirinya. Tak terkecuali Hendry, dari kejauhan dia hanya menyeringai dan tersenyum seperti iblis. Rencananya untuk mempermalukan wanita yang pernah menolaknya telah berjalan dan hampir sukses.
"Hahh ... haahhh ...." Napas Chelsea terasa makin berat, dia sendiri pun juga mulai sadar jika ada sesuatu yang aneh terjadi padanya. Akan tetapi, dugaan ataupun kecurigaan sama sekali tidak berarti lagi. Karena saat ini pikiran Chelsea juga sudah tidak dapat berpikir jernih lagi.
"L-Leon ... Tolong aku!" teriak Chelsea yang pikirannya sudah buyar. Dia teringat jika Leon tadi bilang kalau dia mau berjaga di pintu depan. Dan tanpa memikirkan apa pun lagi, dia langsung menerjang kerumunan para tamu dan berlari keluar secepatnya mungkin.
"Hei, apa kau tidak punya mata?!"
"Di mana tata kramamu?!"
"Dasar wanita barbar!!"
Semua orang langsung berteriak lantaran mereka tak sengaja disenggol oleh Chelsea. Ada yang gaunnya terinjak, ada yang makanan dan minumannya tumpah, dan bahkan ada yang hampir terjatuh karena Chelsea begitu membabi buta saat berlari. Namun keluhan dan teriakan mereka sama sekali tidak digubris oleh Chelsea.
"Leon ... Leon ... t-tolong ...." gumam Chelsea yang saat ini tubuhnya sudah merasa tidak karuan. Sensasi tidak nyaman membuatnya semakin menggila.
Begitu Chelsea tiba di pintu depan, dia langsung melemparkan diri pada Leon yang sedang berjaga. Bahkan dia juga menarik luaran tuxedo Leon sekuat mungkin. "Leon ... tolong aku ... aku mohon ..." pintanya yang saat ini wajahnya begitu dekat dengan Leon.
__ADS_1
"Eh? A-apa?" Leon tergagap, dia teramat bingung dengan sikap Chelsea yang tidak biasa ini. Terlebih lagi saat ini dia juga tidak sedang berjaga sendiri. Leon akhirnya memberi isyarat pada penjaga yang lain jika dirinya ingin menepi bersama wanita ini sekarang.
"Tolong aku .... Aku mohon padamu, Leon!" pinta Chelsea lagi yang semakin mencengkeram erat tuxedo itu.
"Baik, baik ... aku akan menolongmu. Tapi katakan dulu, kau ingin aku bagaimana dan melakukan apa supaya bisa menolongmu!" Leon lalu melepaskan tangan Chelsea yang sejak tadi mencengkeram pakaiannya yang kini telah kusut.
"A-aku ..." Sejenak Chelsea termenung, dia mencoba berpikir akan tetapi percuma saja. Dia sendiri juga tidak tahu bagaimana caranya untuk menyingkirkan rasa tidak nyaman di tubuhnya. "Antar aku pulang!" celetuknya begitu saja.
"Pulang? Kau ingin kembali ke hotel sekarang?" tanya Leon yang ingin memastikan sekali lagi.
"Terserah mau ke mana! Pokoknya cepat bawa aku pergi dari sini!"
"Oke ..." jawab Leon yang firasatnya semakin tidak enak.
Leon bergegas membawa Chelsea untuk segera menaiki mobilnya. Dia tidak bertanya apa pun lagi karena merasa jika wanita yang bersamanya kini tampak begitu linglung. Seolah-olah tidak bisa memberikan jawaban yang pasti dalam keadaannya yang seperti ini.
"Haahh ... Hahh ...." Napas Chelsea semakin terasa lebih berat, bahkan tubuhnya juga terasa panas dingin tanpa alasan yang jelas.
"Kau serius mau kembali ke hotel? Bagaimana kalau ke rumah sakit?" tanya Leon yang mulai khawatir.
"Di sini panas sekali!" seru Chelsea yang mencoba untuk menurunkan kaca mobil. Dia tetap merasa kepanasan bahkan meskipun AC di mobil menyala.
"..." Leon diam seribu bahasa, dia sekarang juga bingung harus berbuat apa lagi untuk menghadapi Chelsea yang sulit diajak berkomunikasi. Dan akhirnya Leon memutuskan, dia menambahkan laju kecepatan mobil agar cepat tiba di hotel.
Setibanya Leon di hotel, dia terkejut saat menyadari kalau Chelsea telah tertidur. Lebih tepatnya memejamkan mata tetapi belum sepenuhnya tidur.
"Mayra, bangunlah ... kita sudah sampai," ucap Leon sambil menggoyang-goyangkan tubuh Chelsea.
"Uhmm ..." Chelsea tak menjawab, justru malah bersuara seperti orang yang sedang mengigau.
"Astaga, entah berapa gelas yang dia minum, sepertinya dia mabuk. Ya sudah, aku tak perlu terlalu cemas, besok dia akan normal kembali." Leon menghela napas, dia turun dari mobilnya terlebih dulu. Lalu dia membopong Chelsea hingga memasuki hotel.
Karena Leon tak punya dan tak tahu di mana Chelsea menyimpan kartu akses kamarnya. Akhirnya Leon pun terpaksa membawa Chelsea untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri.
"Akhirnya beres," gumam Leon begitu selesai membaringkan Chelsea di ranjang miliknya.
"Eh?!" Mata Leon seketika membulat begitu melihat pakaian Chelsea yang berantakan. Terlebih lagi di bagian dadanya yang tampak terbuka. Dia tidak mau jika besok pagi wanita ini salah paham terhadapnya. Akhirnya dia memberanikan diri untuk merapikan dress itu meskipun dia gugup dan wajahnya juga merona.
GREP!
Tiba-tiba saja Chelsea bergerak menggenggam tangan Leon tersebut dengan erat.
"..." Chelsea sama tidak menanggapi pembelaan Leon. Dia justru mendadak bangkit, perlahan mendekat ke arah Leon. Dan tanpa peringatan apa pun dia memeluk pria itu, serta menempelkan wajahnya di dadanya.
"M-Mayra?!" Leon kebingungan. Jantungnya juga berdegup lebih cepat karena gugup dengan pelukan tiba-tiba seperti ini.
Di satu sisi Chelsea masih terus mendekap di dada Leon. Tangannya mulai bergerak, membelai dengan lembut dengan jari jemarinya yang lentik. Bahkan juga masuk untuk meraba ke dalam tuxedo. Melepaskan kancing luaran tuxedo itu satu per satu.
Aroma wangi parfum musk yang maskulin dan sensual menguar begitu saja di indra penciuman Chelsea. Membuatnya semakin tidak tahan untuk memberikan kecupan di dada yang masih tertutup dengan kemeja berwarna merah tersebut.
"Cukup!" teriak Leon yang tersadar jika perbuatan Chelsea padanya sudah kelewatan. Dia menepis tangan yang nakal itu, lalu memegang wajah Chelsea dan menatapnya lekat-lekat. "Mayra! Sadarlah!"
"Aku sadar ..." jawab Chelsea sambil tersenyum, tetapi tatapan matanya tampak seperti orang yang tidak sadar.
"Baiklah, kalau kau memang sadar. Coba katakan, siapa yang sedang bicara denganmu sekarang!"
"Hmm ... siapa ya," Chelsea lantas berdiri, dan tiba-tiba menyentuh dan meraba wajah Leon.
"Hidung yang mancung, bibir seksi, mata yang indah, alis yang tegas. Ehmm ... ini pasti Leon!" jawabnya dengan senyuman yang polos. Dia tidak tahu jika tindakannya barusan semakin membuat Leon kebingungan.
"Mayra ...." gumam Leon dengan tatapan tidak tega.
Dia tahu jika ini aku, tapi dia masih melakukan semua ini padaku. Dia sadar sekarang bersama dengan siapa, tetapi dia seakan tidak sadar sedang berbuat apa. Apa jangan-jangan di pesta tadi ada yang sengaja menjebaknya dengan memberikan obat perangsang?
Jika memang benar seperti itu, haruskah aku menolongnya untuk memuaskannya? Tapi ... apa aku bisa? Aku dan dia hanya sebatas rekan, melakukan ini artinya sama saja dengan melewati batas.
CUP!
Sebuah ciuman tiba-tiba saja mendarat di bibir Leon. Pikiran Leon tiba-tiba terasa seperti kosong saat itu juga. Dia sama sekali tidak menolak ataupun melawan ciuman dari wanita yang kini sedang dalam pengaruh obat. Dia membiarkannya berbuat seenaknya, meskipun rasanya bibirnya seperti mendapatkan kecupan yang tiada henti.
Chelsea semakin berbuat liar, sentuhan di bibir ini cukup untuk membuat hasrat yang ada di dalam dirinya semakin bergejolak. Tidak cukup, dia masih merasa haus, dia mulai merangkul leher Leon dan semakin memberikan ciuman yang agresif.
Leon masih berdiam diri, dia menahan agar naluri alaminya sebagai seorang pria tidak terpancing. Akan tetapi, dia gagal. Dia menyambut ciuman yang diberikan oleh Chelsea, saling memalun dan memainkan lidah mereka.
Diam-diam tangan Leon merangkul pinggang ramping Chelsea, sebelah tangannya perlahan naik dan menekan tengkuk Chelsea yang membuat ciuman itu semakin dalam. Pandangan mata keduanya semakin meredup, sama-sama menikmati ciuman yang begitu menggairahkan tersebut.
Ciuman itu diakhiri oleh Chelsea secara sepihak, dia tampak terengah-engah seperti kehabisan napas. Kedua bibir yang saling bertaut itu perlahan menjauh, menciptakan sisa benang saliva yang menjembatani bibir mereka. Siapa sangka, ciuman pertama bagi keduanya ternyata akan terjadi seganas seperti ini.
"Mayra ..." ucap Leon dengan nada lembut. Kedua tangannya membelai wajah wanita yang hampir membuatnya gila. Lalu dia menggeser ibu jarinya untuk mengusap bibir ranum itu.
__ADS_1
Dia merasa bersalah sekaligus peduli. Leon malu mengakui ini pada dirinya sendiri, melakukan hal seperti ini di saat wanita yang telah merebut hatinya sedang dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar. Dan di satu sisi, dia juga peduli padanya. Dia tahu betul jika hasrat akibat obat perangsang jika tidak segera dipuaskan akan membawa efek yang buruk bagi tubuhnya.
Sekarang dia bingung harus berbuat apa. Saat dia terdiam, dia menatap sosok wanita cantik yang penampilannya malam ini telah membuatnya terpana. Wajah yang anggun rupawan, manik mata berwarna hazel yang menatapnya dengan tatapan polos, serta bibir manis yang selalu menggoda untuk disentuh.
"Aku mau lagi ..." pinta Chelsea dengan tatapan memelas, seakan dia akan menangis jika tidak dituruti.
"Apa kau sungguh ingin lagi?" tanya Leon yang masih berpikir apakah ini benar atau tidak.
"Iya, aku ingin ... sangat ingin ...."
"Sebut namaku lagi!" pinta Leon untuk yang terakhir kalinya sebelum dia membuat sebuah keputusan besar.
"Leon ... aku suka, aku mau melakukannya lagi ...."
"Baiklah kalau ini memang maumu!" Leon lantas mendekat, kembali menempelkan bibir mereka yang sama-sama gemetar karena deburan gairah yang semakin meningkat.
Kedua mata Chelsea kembali terpejam, dia terbuai dan ikut hanyut di dalam ciuman lembut yang Leon berikan. Jari jemari Leon ikut menyelusup di antara telinga dan rambut panjang yang terurai itu. Memberikan kesan yang lebih dalam, diiringi suara detak jantung yang semakin kencang. Membuat ciuman kedua ini jauh lebih menggairahkan. Keduanya saling memalun, bermain lidah dengan rakus hingga terdengar suara decapan erotis dari kedua bibir yang haus akan sentuhan itu.
Sembari keduanya terus berciuman, diam-diam tangan Chelsea melepaskan tuxedo dari tubuh Leon. Kini hanya sebuah kemeja tipis yang menutupi tubuh bagian atasnya. Karena selanjutnya lebih sulit, sesekali mereka melepaskan tautan bibir mereka untuk melepaskan pakaian dari tubuh mereka.
Satu per satu helai pakaian berjatuhan di lantai. Kini hanya tinggal sepotong kain tipis yang menutupi tubuh bagian bawah Chelsea. Leon yang melihat tubuh yang terpampang jelas di hadapannya ini hanya bisa diam dan tersipu. Baru pertama kali ini dia melihat sosok yang begitu membuatnya tergoda. Tergoda seperti tidak sabar untuk menikmati setiap jengkal bagian tubuh yang putih dan mulus itu.
Tiba-tiba saja Chelsea melangkah lebih dekat lagi. Dia membelai otot dada bidang yang penuh dengan bekas luka itu. Saat dia membelainya, terasa otot keras yang nyaman dari seorang pria jantan. Sungguh tubuh yang sempurna, bahu yang lebar, dada yang bidang, otot yang kekar, pinggang yang ramping, ditambah perut yang eight pack. Pikiran Chelsea semakin berfantasi gila saat melihat tubuh yang begitu menggoda.
"Ermm ..." Leon mengerang nikmat saat tangan ramping Chelsea menyentuh tubuhnya. Setiap sentuhan yang dilakukan olehnya meninggalkan jejak hangat.
Akan tetapi, Chelsea melakukan sebuah hal yang lebih berani lagi. Sebelah tangannya diam-diam merayap ke bawah, menyelinap masuk ke dalam celana panjang Leon yang belum dilepas.
"K-kau!" Leon terkejut, dia akhirnya terpancing dan sesuatu di bawah saja jadi mengeras.
"Hehe, aku suka ..." ucap Chelsea yang tersenyum selayaknya tanpa dosa.
Chelsea menarik tangannya kembali, dia kembali melancarkan serangan lebih lagi. Dia memeluk Leon dengan erat, merayapi punggung yang kokoh itu. Bahkan dia juga menggosok-gosokkan miliknya ke milik Leon. Nyaman, nyaman sekali, semua yang ia lakukan ini berefek pada tubuhnya yang semakin terasa membaik.
"Cukup sudah!" teriak Leon yang tanpa peringatan apa pun langsung mendorong tubuh Chelsea ke atas ranjang. Dia mengurung Chelsea tepat di bawahnya, kedua tangannya berada di sisi kanan dan kiri yang bertumpu pada tempat tidur, seakan tak ingin membiarkan wanita ini lari ke mana pun.
Leon lalu bangkit, dia melepaskan helai kain terakhir yang masih menempel di tubuh Chelsea. Sejenak dia berhenti untuk memandangi tubuh polos itu. Wajahnya kian memerah, dia tak habis pikir akan melihat tubuh cantik wanita telanjang dengan begitu jelas seperti sekarang.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Chelsea sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dia juga menekuk kakinya. Seolah-olah mampu untuk menutupi apa yang sudah terlanjur terpampang jelas.
"Heh, kau sendiri yang memintanya. Jadi jangan menyesali pilihan yang kau putuskan sendiri!" jawab Leon sambil menyeringai.
Leon sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Dengan cepat dia segera melucuti celana yang masih terpasang di tubuhnya sendiri. Dan setelah itu dia kembali ke posisi semula. Kembali mengungkung Chelsea seperti tadi.
Dan saat Leon mendekatkan dirinya, tiba-tiba saja dia berkata, "Maafkan aku."
"Hm?"
"Mayra, sebenarnya aku menyukaimu. Aku memang mendambakanmu, dan berharap jika hubungan kita bisa lebih dari sekadar rekan. Aku sebenarnya tidak mau melakukan ini, bukan karena aku tidak tertarik pada tubuhmu. Aku ingin melakukannya denganmu suatu saat nanti, dengan cara yang terhormat. Jadi ... kali ini tolong maafkan atas kelancanganku. Aku melanggar batasku ...."
Tiba-tiba saja Chelsea meraih kepala Leon dan memberikan kecupan di bibirnya. "Aku bersedia ..." ucapnya dengan senyuman.
"Baiklah," jawab Leon yang akhirnya memilih pasrah. Dia tahu jika wanita ini bersedia karena pengaruh obat, tetapi dia sendiri juga tidak punya pilihan lain. Sudah seperti ini maka harus dilakukan dengan tuntas.
Leon lebih mendekatkan diri lagi, dia menyusuri dan menikmati setiap lekuk tubuh Chelsea tanpa perlawanan. Tubuh Chelsea gemetar ketika hembusan napas hangat dan sentuhan lembut menyapu kulitnya. Membuatnya semakin merasa bergairah dan menyukai apa yang ia rasakan sekarang.
Secara refleks kedua tangannya merangkul punggung Leon. Tubuh keduanya saling merapat, hal ini membuat mereka sudah benar-benar tidak berjarak. Lagi-lagi pandangan mata keduanya bertemu, kabut gairah yang begitu pekat menjerat keduanya.
Sekali lagi Chelsea menggapai bibir Leon yang seksi. Lalu menghisapnya dengan rakus dan menggigitnya dengan gigitan manja. Lalu dia memiringkan kepalanya, meniup daun telinga Leon dan berbisik, "Aku ... tidak tahan."
"Baiklah." Leon tersenyum dan mengangguk pelan. Dia paham betul apa yang Chelsea inginkan sekarang. Leon segera mempersiapkan dirinya, karena ini kali pertama baginya, dia sedikit ragu ketika akan melakukan serangan pertama para ruang indah tersebut.
"Akhh ... s-sakit!" pekik Chelsea ketika Leon berhasil memasukinya. Rasa sakit yang membuat napasnya memburu, dadanya dengan cepat bergerak naik turun. Bahkan dia juga semakin berpegangan erat pada punggung Leon.
"Sakit?" Leon seketika merasa panik dan menghentikan tindakannya, dia tak tahu jika wanita ini akan kesakitan. Apalagi ketika dia melihat ada darah yang keluar. Dia pikir apakah dia melakukannya dengan posisi yang salah hingga menyebabkan sakit.
"Ehmm ... jangan berhenti," pinta Chelsea yang seketika membuat Leon paham akan sesuatu hal.
"Baiklah, aku akan perlahan."
Leon kembali menggerakkan tubuhnya lebih perlahan dan berusaha selembut mungkin akan wanita ini tidak lagi kesakitan.
"Ah ... ahh ...." Suara kesakitan dan kepuasan bercampur jadi satu dalam suara indah yang keluar dari mulut Chelsea. Di sisi lain, entah kenapa suara-suara itu semakin membuat Leon bergairah.
Rasa sakit yang awalnya begitu terasa, lambat laun berubah jadi kenikmatan bagi Chelsea. Dia terus menerus meminta lagi dan tak mau berhenti. Dia juga mulai bergerak perlahan, berusaha mengimbangi Leon yang bergerak di atasnya.
"Ahh ... enhh ...."
Lama-kelamaan Leon seperti kehilangan kendali. Dia juga merasakan kenikmatan yang tidak bisa ia ungkapkan lewat kata-kata. Dia terus bergerak, semakin dalam dan terus bertambah cepat. Suara-suara kenikmatan yang erotis keluar dari mulut mereka, terus menggema memenuhi ruangan sepanjang malam.
__ADS_1
๐น๐น๐น๐น๐น