
Berpelukan. Hal itu sudah jadi perkara lumrah jika dilakukan oleh pasangan. Banyak hal yang akan terjadi setelah berpelukan. Perasaan akan menjadi semakin lebih dekat, rasa sedih akan berkurang, ada rasa aman yang begitu nyaman.
Akan tetapi, semua itu tidak berlaku bagi Chelsea maupun Leon. Karena mereka berdua bukan pasangan. Setelah semalam berpelukan dengan tanpa sengaja, mereka berdua justru sama-sama menjadi canggung. Sangat sulit bagi mereka berdua untuk melupakan kejadian itu. Dan tentu saja hal ini berpengaruh pada kinerja mereka pada esok harinya.
Pagi hari ini seperti biasanya mereka akan datang ke Distrik Timur 1 terlebih dulu untuk menerima arahan baru jika ada, dan untuk melaporkan soal tugas mereka kemarin. Pagi hari ini, Chelsea secara khusus meminta ketua tim untuk menempatkan dirinya di tim yang lain. Ketua tim setuju tanpa banyak bertanya, ini membuat Chelsea merasa lega lantaran tidak satu tim dengan Leon.
Di satu sisi tanpa sepengetahuan Chelsea, Leon juga meminta kepada ketua tim soal hal yang sama dengannya. Awalnya Leon terkejut karena ketua tim memberitahunya jika wanita yang bernama Mayra sudah mengajukan permintaan itu lebih dulu. Meskipun begitu, Leon juga tidak keberatan dan merasa memang ini yang harusnya terjadi.
Chelsea dan Leon, kedua orang itu masih tidak bisa melupakan kejadian semalam. Dan setiap kali mengingat soal satu sama lain, jantung mereka berdebar-debar tanpa alasan yang jelas. Singkatnya, demi menjalankan tugas dengan baik, khusus untuk hari ini Leon dan Chelsea tidak berada pada satu tim yang sama.
Namun, penugasan untuk hari ini ada sesuatu yang sedikit berbeda. Ketua tim memberitahu kepada semua tim untuk menyudahi aktivitas mereka di Distrik Timur 12 sampai siang hari ini. Karena nanti, mereka semua diperintahkan untuk kembali ke Distrik Timur 1 dan menemui Pak Kepala Dewan Parlemen, Hendry.
"Eh? Tiba-tiba sekali ... kira-kira ada masalah apa, ya?" gumam Chelsea yang saat ini berada di depan rumah salah satu penduduk Distrik Timur 12. Tadinya dia ingin masuk ke dalam rumah itu, tapi sekarang dia berdiam diri dalam kebingungan saat menatap pesan di layar ponselnya.
"Di sini ketua tim bilang kalau harus kembali ke Distrik Timur 1 sebelum sore hari. Sebaiknya aku ke sana sekarang! Datang lebih cepat lebih baik daripada datang terlambat!"
Chelsea bergegas pergi dan menuju ke mobilnya yang dia parkirkan di luar jalan masuk utama Distrik Timur 12. Dia benar-benar menghindari interaksi dengan Leon, jadi kali ini dia memilih berangkat sendiri jika biasanya dia berangkat bersama dengan Leon.
Setibanya Chelsea di Distrik Timur 1, dia langsung mendatangi villa pribadi milik Hendry yang juga merupakan markas untuk beroperasi. Namun begitu dia melewati gerbang masuk, tiba-tiba ada orang yang mendekati dirinya. Orang itu adalah seorang pria yang bertugas menjadi pengawal untuk berjaga di villa.
"Kau diminta untuk menemui Pak Dewan di ruangannya, sekarang!" ucap pria itu.
"Eh? Sekarang? Tapi tadi ketua tim bilang padaku kalau pertemuan dengan Pak Dewan itu masih nanti sore," jawab Chelsea yang bermaksud memastikan jika ada atau tidaknya kesalahan informasi.
"Iya, masih nanti sore. Tetapi, itu pertemuan yang berlaku bagi seluruh pengawal. Saat ini Pak Dewan ingin bertemu secara pribadi denganmu. Sudah, itu saja yang ingin aku sampaikan. Terserah kau mau percaya atau tidak, yang jelas ini masalahmu sendiri." Setelah mengatakan itu, pria berbadan besar tersebut langsung pergi untuk kembali berjaga di posnya sendiri.
"Pak Dewan ingin bertemu denganku secara pribadi? Tapi kenapa?" gumam Chelsea yang mulai merasa gugup. Dia tidak bisa menebak pemikiran Family yang satu ini. Dan tak peduli apa pun yang terjadi nanti, Chelsea sudah bersikap waspada mulai dari sekarang.
Chelsea akhirnya memantapkan diri. Ketika dia tiba di sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu keras yang berusia lama, yang tidak lain adalah ruangan tempat Hendry berada. Dia dengan ragu mengetuk pintu kayu tersebut.
TOK TOK TOK!
"Saya Mayra, izin menghadap Pak Dewan!"
"Ya, masuklah!" jawab Hendry dengan suara seraknya yang khas.
Begitu dipersilakan untuk masuk oleh Hendry, Chelsea langsung membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang besar itu. Dia melihat Hendry yang saat ini duduk di sebuah sofa panjang dan sedang merokok. Meskipun Chelsea termasuk orang yang membenci asap rokok, mau tidak mau dia harus membiasakan diri dengan hal semacam ini. Dia tetap mendekat dan berdiri dalam posisi hormat seperti biasanya ketika dia menghadap pada petinggi.
"Fyuhh ...." Hendry menghembus asap rokok terakhir dari mulutnya. Kemudian dia mematikan batang rokok yang memang sudah pendek tersebut pada sebuah asbak yang terbuat dari bahan kaca.
"Duduklah!" pinta Hendry yang seketika membuat Chelsea melongo kebingungan.
"Emm ..." Chelsea hanya diam, dia sama sekali tidak melihat keberadaan kursi lain di samping kanan dan kirinya. Akhirnya dia pun duduk di lantai begitu saja tanpa bertanya apa-apa lagi.
"Ck, bukan duduk di situ, tapi duduklah di sebelahku!" pinta Hendry sekali lagi yang membuat Chelsea terkejut.
"S-saya duduk di sini saja. Dengan posisi saya, saya tidak pantas untuk duduk di sebelah Pak Dewan," jawab Chelsea dengan nada sopan. Tak dapat dipungkiri jika saat ini pikiran Chelsea sudah memikirkan hal yang macam-macam. Dia sangat enggan untuk duduk di sebelah seorang penguasa tiran yang kejam, seperti Hendry saat ini.
"Apa kau mau membantahku?" tanya Hendry dengan tatapan tajamnya.
"S-saya tidak berani!" Chelsea seketika bangkit dan bergegas untuk duduk di sofa yang sama dengan Hendry. Biarpun sekarang sudah duduk bersebelahan, tetapi Chelsea masih menjaga jarak duduknya cukup jauh dari Hendry. Dia terpaksa melakukan ini lantaran dia tidak mau menyinggung Hendry dan membuat masalah baru untuk dirinya sendiri.
"...." Chelsea diam seribu bahasa, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan sekarang. Bahkan karena rasa gugupnya, dia sampai mengepalkan kedua tangannya dan menaruhnya di atas lutut.
"Aku dengar, kau sudah memberikan kontribusi lebih banyak dari yang lain," ucap Hendry memecah keheningan.
"Ya?" sahut Chelsea seraya menoleh dengan spontan. Di satu sisi dia juga sedikit merasa lega lantaran ternyata hal ini yang mau dibahas oleh Hendry.
"Bagus juga kinerjamu, aku sebelumnya mengira jika kau akan jadi beban. Tapi ternyata, walaupun kau seorang perempuan dan anak baru, pencapaianmu ada di atas yang lain. Hadiah apa yang kau mau dariku?" tanya Hendry sambil menyeringai, dia berpikir jika dia bisa memberikan apa saja yang wanita ini inginkan darinya.
"Saya berterima kasih atas pujian yang Pak Dewan berikan. Akan tetapi, saya tidak menginginkan hadiah apa pun dari Pak Dewan. Bukan maksud saya untuk menolak kebaikan Pak Dewan, tapi melakukan tugas sebaik mungkin adalah tanggung jawab saya. Sudah jadi tugas utama saya mengerjakan hal yang Pak Dewan inginkan," jawab Chelsea dengan ekspresi seakan-akan rendah diri.
"Haha, bagus-bagus ... aku suka pemikiran seperti ini! Dan ngomong-ngomong, aku juga suka wanita yang berguna!" celetuk Hendry sambil tersenyum lebar. Dia juga mulai memperhatikan lekuk tubuh Chelsea dari atas sampai bawah.
"Maksud Pak Dewan?" tanya Chelsea dengan tatapan aneh. Dia juga perlahan bergeser lebih jauh lagi saat menyadari tatapan mesum yang dilontarkan oleh Hendry kepadanya saat ini.
"Apa kau mau jadi istri keempatku?"
"Hah?!" Sontak saja Chelsea ternganga. Dia tidak habis pikir jika Hendry akan mengajukan tawaran menikah terhadapnya. Dan apa pula dengan istri keempat, pikirnya yang baru tahu jika Hendry sudah punya tiga istri.
"Tidak usah ragu, kau akan mendapatkan banyak keuntungan dengan jadi istriku. Rumah besar, mobil mewah, tas dan baju-baju bermerk, semua kemewahan akan aku berikan padamu. Dan kau tak perlu bersusah payah membuang-buang tenagamu dengan jadi gangster rendahan yang bisa disuruh-suruh seperti ini," ucap Hendry sekali lagi yang berusaha meyakinkan wanita cantik yang ada di depannya ini.
"...." Chelsea masih terdiam, pikirannya masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi padanya sekarang. Jika dipikir-pikir, menjadi istri keempat dari seorang pejabat tidak pernah dia bayangkan seumur hidupnya.
__ADS_1
"Kau tidak usah takut, ketiga istriku sebelumnya sangat baik dan mereka semua juga akur. Kau akan cocok jika bergabung bersama mereka," bujuk Hendry lagi. Namun, kali ini dia bertindak lebih. Dia menyentuh sebelah telapak tangan Chelsea yang kini ada di atas lutut.
"Maaf! Saya tidak bisa!" ucap Chelsea yang seketika menepis tangan Hendry dari tubuhnya. Dia juga beranjak dari sofa dan berdiri dengan pose menantang. Chelsea melotot, meskipun dia sadar jika saat ini dia sedang berhadapan dengan petinggi gangster dan negara, dia tetap tidak gentar untuk mempertahankan harga dirinya sebagai wanita yang terhormat.
Di luar dugaan dari Chelsea, saat ini Hendry justru masih bersikap santai, seolah-olah sama sekali tidak ada rasa sungkan atau yang lainnya. "Kenapa kau menolakku?"
Chelsea menundukkan kepala sambil mengepalkan kedua tangannya seerat mungkin. Bahkan dia juga menggertakkan giginya lantaran kesal, mengapa bisa ada orang yang tidak tahu malu seperti Hendry.
"Pernikahan bukanlah mainan, bagi saya itu adalah hal yang sakral. Saya hanya akan menikah dengan orang yang ingin saya nikahi. Dan terlebih lagi ... sudah ada seseorang di hati saya," jawab Chelsea yang bermaksud untuk memberikan pengertian kepada Hendry agar jangan memaksakan kehendaknya lagi.
"Pffttt ... hahahaha!" Hendry tertawa dengan begitu kerasnya.
"Mengapa Pak Dewan tertawa? Apakah ada yang lucu dengan jawaban saya?" tanya Chelsea dengan tampang kebingungan.
"Hahaha, aku tidak habis pikir jika rumor itu benar!"
"Rumor?" Chelsea makin kebingungan.
"Iya, rumor! Rumor soal kau jadi wanitanya si Dika itu! Haha, aku tidak habis pikir jika ternyata ini benar! Tapi, aku akan berikan saran untukmu. Sebaiknya jangan menganggap hubunganmu dengannya itu serius. Pria gangster yang mempunyai kekuasaan seperti kami cenderung tidak setia, Dika juga tidak terkecuali."
"Biar aku katakan yang sejujurnya, sebelum kau datang dan bergabung, Dika itu memang suka bermain-main dengan wanita. Tapi dia tidak separah David Damian si aktor sejuta umat dan penipu fans itu yang mengencani banyak wanita sekaligus. Dika baru akan mengganti wanita baru jika dia sudah bosan dengan yang lama. Dan kau juga sama, kau akan dibuang jika dia bosan denganmu."
"Tapi terserah, aku sudah mengatakan semuanya padamu. Dan abaikan saja ajakan menikah dariku barusan, aku tidak mau berebut ataupun mendapatkan bekas temanku sendiri."
"...." Chelsea terdiam, dia tidak bisa berkata-kata lagi dengan semua penjelasan yang diberikan oleh Hendry barusan.
Cih, aku kira soal apa? Ternyata lagi-lagi soal rumor itu! Aku benci, sampai kapan aku harus dianggap jadi wanitanya Kepala Divisi? Sampai kapan aku akan dianggap jadi wanita kotor? Padahal kan yang sebenarnya yang aku maksud seseorang yang ada di hatiku itu bukan dia, tapi orang itu adalah orang lain ....
"Emm ... apakah Pak Dewan hanya ingin membahas soal ini? Jika tidak ada hal lain lagi, saya permisi undur diri," tanya Chelsea yang sudah tidak tahan berada di ruangan ini lagi. Seakan-akan dia sudah sangat muak untuk melihat wajah Hendry lebih lama lagi.
"Tunggu sebentar, masih ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan padamu! Orang-orang yang masih ditahan, kau bebaskan saja mereka dan pulangkan mereka semua ke Distrik Timur 12!" pinta Hendry dengan tatapan matanya yang tegas.
"Eh? Pak Dewan sungguhan?" tanya Chelsea seakan tidak percaya. Dia tidak mengira jika seorang tirani seperti Hendry akan berbaik hati melepaskan orang-orang yang melawannya itu.
"Iya, dan pastikan jika hal ini tidak bocor!" ucap Hendry penuh penekanan.
"Baik, saya pasti akan melakukan yang terbaik!" jawab Chelsea yang kemudian memberi penghormatan sebelum meninggalkan ruangan itu.
Chelsea segera menuju ke tempat di mana penduduk Distrik Timur 12 ditahan. Tempat itu tidak lain adalah penjara bawah tanah yang ada di villa tersebut. Tak cuma penampilan luarnya yang mewah dan segala fasilitas yang super lengkap selayaknya kastel para raja. Villa indah ini juga mempunyai ruangan khusus untuk melakukan serangkaian penyiksaan yang tersembunyi di bawah tanah.
Kini, penduduk yang tersisa di sel penjara hanya tinggal delapan orang. Jumlah ini jauh lebih banyak berkurang dari sebelumnya saat mereka pertama kali ditangkap. Kedelapan orang ini adalah orang-orang yang sangat keras kepala, mereka semua lebih memilih mati daripada harus menyerahkan tempat tinggal mereka.
Meskipun merasa miris dan prihatin, kali ini Chelsea sudah memutuskan untuk tidak bertindak apa-apa dan menurut saja supaya dia tidak dicurigai. Hal kejam seperti ini juga Hendry sembunyikan dengan baik. Dia memegang kendali atas berita yang tersebar di media massa. Karena alasan itulah, sama sekali tidak ada orang luar yang tahu apalagi menaruh simpati pada nasib orang-orang Distrik Timur 12 yang tidak diperlakukan secara adil ini.
TAP TAP TAP
Terdengar suara langkah sepatu yang tidak asing di telinga para tawanan. Mereka sudah hafal dengan langkah kaki Chelsea, lantaran mereka semua dikunjungi olehnya setiap hari. Dan sampai sekarang, mereka masih bersikukuh untuk menolak berbagai macam tawaran Chelsea yang mencoba untuk membujuk mereka.
"Halo," sapa Chelsea pada sekumpulan orang yang tampak menyedihkan itu. Tak ada satu pun dari mereka yang menjawab sapaan dari Chelsea. Mereka semua menatapnya dengan tatapan nanar.
Mereka juga tidak ada yang melawan lantaran masih ada borgol yang mengunci tangan dan kaki mereka. Dan saat Chelsea mendekat untuk memasangkan kain hitam pada seseorang yang tidak lain adalah kakek penjual bunga, si kakek itu tiba-tiba berulah.
"Cuihh!" Kakek penjual bunga itu meludah ke baju Chelsea. Namun, Chelsea tetap tenang dan sama sekali tidak terlihat kemarahan dari dirinya.
"Mau melakukan apa kau?! Apa kau masih belum puas menyiksa kami terus menerus seperti ini? Lebih baik bunuh kami sekalian saja!" hardik si kakek.
"Aku ingin memulangkan kalian, jadi aku harus menutup penglihatan kalian. Maaf!" ucap Chelsea yang seketika langsung mengarungi kepala kakek itu dengan kain hitam. Dia juga spontan meminta maaf lantaran dia merasa tidak enak sudah berbuat tidak sopan kepada lansia.
Chelsea juga memperlakukan tujuh orang yang tersisa dengan cara yang sama. Meskipun ada yang sempat memberikan perlawanan, Chelsea masih dapat mengatasinya tanpa kesulitan. Kini, tugas yang diberikan oleh Pak Kepala Dewan Parlemen telah Chelsea lakukan separuhnya. Sekarang yang tinggal dia lakukan adalah mengatar orang-orang itu kembali ke rumah mereka menggunakan mobil box.
***
Hari sudah sore, saatnya untuk melakukan pertemuan yang sebenarnya dengan Pak Kepala Dewan Parlemen telah tiba. Ketika semua pengawal telah berkumpul di ruangan Hendry, hanya satu orang yang belum datang, dia adalah Chelsea.
Leon yang sudah hadir merasa heran. Dia paham betul jika biasanya Chelsea sangat disiplin dan dia adalah orang yang datang paling pertama, kali ini dia merasa cemas karena sampai sekarang wanita yang selalu mengusik pikirannya itu belum datang. Leon kemudian menoleh pada ketua tim yang saat ini kebetulan berdiri di sampingnya. Dengan suara pelan, dia berkata, "Ketua tim, apa kau tahu di mana Mayra sekarang?"
"Dia kan pacarmu, untuk apa tanya padaku?" Ketua tim bertanya balik.
"Ck, aku serius!" tegas Leon yang diam-diam merasa tersipu karena ejekan dari ketua tim barusan.
"Maaf, hanya bercanda. Aku juga tidak tahu sekarang dia ada di mana. Tapi tadi siang aku sudah mengirimkan pesan untuknya. Dia juga membalas pesanku, jadi aku yakin kalau dia sudah tahu soal pertemuan ini."
"Ah, begitu ya. Padahal tidak biasanya dia begini."
"Sudah tidak ada waktu lagi, aku akan mulai menjelaskan sekarang!" ucap Hendry seraya bangkit dari kursinya.
__ADS_1
"Maaf Pak Dewan, izin menyela!" sahut Leon sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Ada apa? Apa kau mencemaskan wanita yang saat ini belum tiba? Kalau benar maka kau tenang saja. Aku sudah menyuruhnya untuk melakukan tugas khusus. Akan terlalu memakan waktu jika kita menunggunya. Aku tahu jika kau dan dia sama-sama berasal dari Divisi 2. Jadi, aku minta padamu untuk menjelaskan padanya nanti!"
"Baik, saya paham." Leon pun kembali bersikap tenang. Meskipun Hendry sudah memberikan penjelasan kepadanya, dia tetap merasa sedikit khawatir.
"Kalian semua pasti sudah tahu jika kinerja kalian ini termasuk lambat! Para orang-orang itu memang sulit ditangani jika tidak diperbolehkan menghabisi mereka! Aku paham kesulitan kalian, jadi aku bisa sabar. Tapi, para pengusaha yang menginginkan tanah Distrik itu sudah kehabisan kesabaran! Mereka terus-terusan mengusikku dan menanyakan kapan proyek pengembangan ulang akan dimulai."
"Mereka semua memerlukan izin resmi dari pihak pemerintah sepertiku jika ingin mendirikan usaha mereka di tanah itu! Dan tentu saja aku juga tidak mau kehilangan sumber uangku! Jadi, sebelum mereka berpaling maka aku putuskan untuk mengubah caraku!"
"Tapi sebelum itu, apakah ada yang tahu sekarang musim apa?"
"Musim peralihan," jawab sang ketua tim.
"Benar! Di musim peralihan ini terjadi perubahan suhu yang tidak menentu, ditambah lagi sekarang juga sudah tidak turun hujan! Jadi ... jika terjadi bencana maka tidak akan ada yang merasa aneh! Aku ingin malam ini kalian semua bekerja lembur untukku! Malam ini kita akan ratakan Distrik Timur 12 dengan api!"
"....?!" Semua para pengawal termasuk Leon terkejut, mereka tidak mengira jika atasan yang mereka layani akan mengambil tindakan nekat seperti ini. Mereka semua tetap diam, tidak ada yang menyuarakan keberatan mereka.
"Kalian semua tenang saja! Karena aku sudah hafal betul daerah itu, jadi aku sudah bisa mengira-ngira kapan api akan menyebar rata! Dan ketika saat itu tiba, aku akan menghubungi petugas pemadam kebakaran agar kebakaran tidak menjalar ke tempat yang tidak perlu! Apa sekarang kalian semua sudah paham? Apa ada yang perlu ditanyakan?" tanya Hendry dengan tatapan tajam.
"Tidak!" jawab para pengawal secara serentak. Mereka semua paham betul apa arti tatapan Hendry barusan. Artinya adalah mereka dilarang bertanya meskipun disuruh bertanya.
"Bagus, sekarang kalian boleh pergi! Lakukan persiapan sebaik mungkin agar tidak terjadi kesalahan sedikit pun!"
Para pengawal itu langsung melakukan apa yang Hendry perintahkan. Saat semua persiapan sudah hampir siap, saat itu juga Chelsea telah kembali dari menjalankan tugas khususnya. Dan saat kembali ke villa, dia merasa sedikit heran lantaran melihat ada banyak jerigen besar berisi minyak yang siap diangkut.
"Mayra!" ucap Leon yang tiba-tiba berpapasan.
"Ah, iya ... halo. Emm ... aku tadi tidak ikut ke pertemuan, Pak Dewan tadi bilang apa saja?" tanya Chelsea yang masih merasa canggung.
"Tidak ada banyak hal, Pak Dewan cuma bilang kalau tugas kita di kota ini sebentar lagi akan selesai."
Maafkan aku telah membohongimu, aku tidak mau kau tahu tentang tugas tidak manusiawi ini.
"Eh? Tapi kenapa? Bukankah masih banyak penduduk yang tidak setuju?" tanya Chelsea kebingungan.
"Ya, itu benar. Tapi kita tidak perlu memikirkannya! Kita hanya cukup mengerjakan apa yang diperintahkan saja!"
"Begitu ya. Tapi ... minyak-minyak ini untuk apa?" tanya Chelsea lagi.
"Ini bisnis," jawab Leon asal.
"Ohh ... ternyata Pak Dewan juga terlibat dalam bisnis minyak ilegal," gumam Chelsea.
"Ayo, kita pulang! Tugas hari ini sudah selesai, kita bisa cepat istirahat di hotel!"
"T-tapi, aku kan bawa mobil sendiri ..." ucap Chelsea malu-malu.
"Ya sudah, kita pulang sendiri-sendiri!" Leon segera melangkah melewati Chelsea, dia benar-benar merasa malu karena kelepasan bicara lagi dan spontan mengajaknya untuk pulang bersama.
***
Malam harinya ketika matahari sudah terbenam. Leon diam-diam pergi meninggalkan hotel tanpa sepengetahuan rekan sebelah kamarnya. Dia pergi menggunakan pakaian serba hitam dan menuju ke Distrik Timur 12 sendirian.
Sesampainya di sana, Leon bertemu dengan para pengawal yang lain di titik pertemuan rahasia yang sudah didiskusikan. Saat menyadari Leon datang seorang diri, lagi-lagi ketua tim merasa aneh.
"Di mana wanita itu? Bukankah dia selalu bersamamu?" tanyanya.
"Dia kelelahan, aku tidak mau dia melakukan kesalahan, jadi aku suruh dia istirahat saja. Ketua tim tidak usah cemas, tugas bagiannya biar aku saja yang kerjakan," jawab Leon.
"Haiss ... kau ini, mau kerja dua kali demi dia."
***
"Uhmm ..." Chelsea menggeliat, entah kenapa hari ini tidurnya tidak terasa begitu nyenyak. Dia akhirnya bangun, lalu melirik ke arah jam dinding untuk memeriksa sekarang sudah pukul berapa.
"Baru jam setengah sebelas ..." gumamnya.
Chelsea beranjak dari ranjang, setelah dia membasuh muka, dia merasa jika dia sulit untuk tidur kembali. Dan kali ini dia teringat pada Leon, dia ingat jika biasanya di jam-jam seperti ini Leon juga belum tidur dan masih meminum kopi di balkon kamarnya.
Karena ingin mencari suasana dan mencari tahu apakah Leon sudah tidur atau belum, Chelsea lalu keluar ke balkon kamarnya. Akan tetapi, sebelum dia sempat memanggil Leon, dia melihat sesuatu yang tidak biasa.
"I-itu ... bukannya di sana adalah Distrik Timur 12? Di sana kebakaran?!"
Chelsea terperangah, dia masih sulit percaya melihat dari ketinggian ini jika wilayah itu tampak seperti lautan api.
__ADS_1