Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Apa Kau Berkhianat?


__ADS_3


Nisa membisu, kepalanya kini mulai terasa bertambah pening. Belum selesai soal masalah yang menimpa anak buahnya, kini dia dihadapkan dengan masalah baru lagi. Tentu saja dia tidak ingin hak asuh Luciel berpindah, padahal belum lama ini dia telah mengatur rencana. Dia ingin mengasah potensi dari dalam diri anak itu, dan menggunakan di masa depan nanti.


"Ayahmu itu ... kenapa dia bersikap seenaknya? Lagi pula apa bedanya baginya mengalihkan hak asuh pada Natasha? Toh status Luciel sebagai cucunya juga akan sama saja."


"Ehmm ... tadi saat aku bertanya begitu, ayah menjawab kalau pasti repot bagimu mengurus 4 orang anak sekaligus. Dan dia juga beralasan kalau Natasha dan Daniel sudah lama tidak kunjung memiliki momongan, dan mengadopsi Luciel juga bisa dikatakan sebagai pancingan," jawab Keyran.


"Anak pancingan? Bisa-bisanya ayahmu punya pemikiran kuno dan percaya dengan mitos seperti itu. Lalu bagaimana dengan tanggapan Daniel dan Natasha? Apa mereka berdua setuju untuk merawat Luciel begitu saja?" tanya Nisa lagi.


"Tanggapan Daniel tadi, dia sempat membantah ayah. Dan Natasha juga diam saja. Lalu setelah berdebat panjang lebar, mereka berdua bilang mau memikirkannya dulu."


Nisa memutar bola matanya dengan malas, bahkan juga menghela napas dengan kasar. "Huh, meskipun mereka setuju. Apa mereka tidak memikirkan bagaimana perasaan Luciel? Bahkan Luciel saja sempat menolakku, untung saja Keisha dapat membujuknya."


"Sudah ... jangan terlalu dipusingkan." Keyran tersenyum tipis, merangkul istrinya lagi dan mengusap-usap bahunya agar membuatnya tenang. "Dan sepertinya ... kita harus menunda dulu soal pemberitaan kehadiran si kembar dan Luciel ke dalam keluarga kita kepada publik."


"Kau benar, lebih baik ditunda saja. Sebaiknya kita tunggu masalah soal David mereda. Dan bolehkah aku minta sesuatu darimu?"


"Apa itu?" tanya Keyran penasaran.


"Aku berencana untuk membuat David rehat sejenak dari dunia hiburan. Setelah dia menjalani rehabilitasi, dia akan mulai beraktivitas kembali. Sampai saat itu tiba, tolong undur dulu soal peluncuran produk baru. David telah menandatangani kontrak dengan perusahaan kita, dan dialah bintang iklan utamanya. Daripada mencari orang baru, bukankah lebih baik menundanya?"


"...." Keyran diam seribu bahasa, dia masih mencoba menimbang-nimbang permintaan dari istrinya.


"Tolong pertimbangkan usulanku ini, Key. Aku juga telah berencana untuk membuat project lain yang juga dibintangi oleh David untuk mengundur waktunya. Dan jika kita tetap bersikukuh pada tanggal yang sebenarnya, itu bisa menimbulkan kecurigaan dari pihak lain. Kau tenang saja, jika dalam rencana ini mengalami kerugian, maka aku yang akan menanggungnya."


"Apa kau serius dengan ucapanmu?" tanya Keyran yang ingin memastikan sekali lagi.


"Iya, David adalah rekanku. Dan posisiku adalah sebagai ketua, jadi aku akan mengambil tanggung jawab ini."


Keyran mengernyit, lantas berkata, "Apa kau butuh bantuanku?"


"Iya, tapi bukan soal David. Orang-orangku sudah cukup untuk mengurusi hal ini. Aku butuh bantuanmu untuk mendukungku soal Luciel, sebisa mungkin cobalah yakinkan ayahmu agar jangan memaksakan Luciel pada Natasha."


"Kau ini ..." Keyran tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Nisa dengan lembut. "Sepertinya kau sudah sangat menyayangi Luciel ... tapi kau tenang saja, aku juga menyayanginya. Aku pasti akan membantumu."


"Terima kasih!" ucap Nisa yang seraya kembali memeluk suaminya dengan erat.


***


Di sisi lain pada saat yang sama. Pasangan suami istri Daniel dan Natasha juga sama-sama belum tertidur. Natasha yang tadinya pergi keluar dari kamar akhirnya kembali, tetapi ekspresinya terlihat tidak bagus. Ada kristal bening di pelupuk matanya yang seakan-akan siap jatuh kapan saja.


"Kau kenapa?" tanya Daniel dengan tatapan heran.

__ADS_1


"...." Mulut Natasha terasa kelu, dia seperti kesulitan bicara dan tubuhnya kini juga gemetar. "A-apa kau tidak mau jujur padaku?"


"Kau ini sebenarnya kenapa? Tadi kau keluar karena dipanggil oleh ibuku, dan sekarang kau kembali tapi sikapmu jadi begini. Apa ada sesuatu yang ibuku katakan padamu?"


"Hiks ..." Air mata Natasha akhirnya jatuh, dengan tangan yang gemetar lalu memperlihatkan sebuah benda kepada suaminya. Benda itu adalah selembar foto Daniel ketika masih anak-anak.


"Kau menangis hanya karena melihat foto lamaku?" tanya Daniel seakan tidak percaya.


"Ini punya arti lebih dari sekadar foto lama! Lihat ini baik-baik! Kau ... wajahmu ... semuanya yang ada padamu sangat mirip dengan bocah bernama Luciel itu! Tidak mungkin jika semua ini cuma kebetulan, Daniel!"


"Aku tahu jika aku bukanlah istri yang sempurna bagimu! T-tapi ... seburuk itukah aku sampai kau mengkhianatiku dan memiliki anak dengan wanita lain! Luciel, anak yang dibawa oleh Nisa bahkan sudah sebesar itu! Tega sekali kau berkhianat padaku sejak lama!" protes Natasha yang kini menangis sesenggukan.


"Jangan sembarangan bicara! Aku tidak pernah bermain dengan perempuan lain di belakangmu!" bantah Daniel.


"Lalu bagaimana kau menjelaskan Luciel?! Tidak mungkin jika rupanya yang sangat mirip denganmu hanya sebuah kebetulan! Aku mohon jujurlah padaku ...." Natasha mulai kehilangan kendali atas emosinya, bahkan dia juga memukul-mukul dada suaminya.


"Dengarkan aku dulu, jangan asal menuduhku!" ucap Daniel yang hanya menjadi sebuah alasan pembelaan di telinga Natasha.


"Kau brengsek, Daniel! Kita sudah menikah bertahun-tahun ... kau bilang padaku jika kau menerima semua kekuranganku, dan aku satu-satunya untukmu. Tapi nyatanya ... kau pembohong! Kau mengingkari semua janjimu ...."


"Natasha!!" teriak Daniel sambil mencengkeram erat kedua pundak istrinya.


"..." Natasha membisu, dia seketika merasa takut saat suaminya membentaknya dan mencengkeram dirinya dengan begitu erat. Kini dia menutup mulutnya, dia tak mau menyulut amarah Daniel lagi.


Tiba-tiba saja Daniel merebut selembar foto lamanya dari tangan Natasha. Dia memperhatikan foto masa kecilnya dengan saksama, dan akhirnya dia pun sadar jika Luciel benar-benar mirip dengannya.


"...." Daniel berpikir keras sampai kedua alis tebalnya saling mengait.


Anak ini sebenarnya anak siapa? Kenapa bisa begitu mirip denganku? Tadi saat bertemu dengannya, sekilas aku merasa jika dia ada kemiripan denganku, tapi sekarang aku bertambah yakin jika dia benar-benar mirip denganku.


Sayangnya anak bernama Luciel itu dibawa oleh Nisa, dan aku tahu betul jika Nisa itu adalah wanita iblis yang licik! Aku sampai sekarang tidak mengungkap identitasnya pada ayah karena dia juga memegang rahasiaku. Sial, aku harus hati-hati, aku tidak tahu apa yang sebenarnya wanita itu rencanakan.


Tadi ayah bilang jika Nisa mengadopsi Luciel karena anak itu tersesat sendirian dan orang tuanya tidak peduli lagi padanya. Apa mungkin Nisa memang berencana menggunakan anak itu untuk menghancurkan hubunganku dengan Natasha?


"Daniel? Kau tidak mengkhianatiku, kan?" tanya Natasha yang seketika menyadarkan Daniel dari lamunan.


"Aku sudah bilang tidak berulang kali! Jadi berhentilah mencurigaiku!" ucap Daniel sambil melotot, dia menekankan agar Natasha tidak lagi menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali.


"Syukurlah jika kau tidak selingkuh, maaf telah menuduhmu ..." ucap Natasha dengan nada gemetar. Dia lalu mengelap air mata yang membasahi pipinya sendiri.


"Haiss ... kau ini." Daniel menghela napas, lalu memeluk Natasha agar istrinya itu berhenti menangis. "Aku juga minta maaf, maafkan aku karena telah membentakmu."


"Tidak apa-apa ... aku saja yang terlalu berpikir berlebihan, mungkin anak itu mirip denganmu memang karena kebetulan."

__ADS_1


Selalu seperti ini, setiap kali pasangan ini bertengkar maka akan berakhir seperti ini. Daniel yang punya keegoisan tinggi dan Natasha yang sejak dulu selalu dimanja dan cengeng.


Setelah tangisan Natasha berhenti, Daniel tiba-tiba kembali berkata, "Natasha, bagaimana menurutmu soal saran dari ayahku tadi?"


"Hm? Maksudmu soal mengadopsi Luciel?" tanya Natasha seraya melepaskan diri dari pelukan Daniel.


"Iya, apa kau mau mempertimbangkan hal itu?"


Natasha menunduk, dengan nada ragu dia pun menjawab, "Ehmm ... Aku paham mengapa kau bertanya seperti ini. Dokter juga telah mengatakan jika rahimku sudah rusak, kecil sekali kemungkinannya untuk aku bisa hamil lagi. Sejujurnya, aku pernah berpikir untuk mengadopsi anak. Tapi aku selalu ragu untuk mengatakan hal ini padamu."


"Lalu bagaimana pendapatmu soal Luciel itu?" tanya Daniel lagi.


"Sejujurnya ... menurutku Luciel itu anak yang manis, dia juga mau mendengarkan apa kata orang yang lebih tua. Dia tidak terlalu menyebalkan seperti Keisha, tapi tetap saja dia adalah anak angkatnya Nisa! Dan aku tidak mau berurusan dengan Nisa lagi!"


"Natasha," panggil Daniel yang sekali lagi memegang kedua pundak istrinya dan menatap matanya lekat-lekat. "Jujur padaku, kau mau anak bernama Luciel itu atau tidak?"


"..." Natasha tertegun, sejurus kemudian dia berkata, "Aku mau. S-saat melihatnya tadi ... aku sempat membayangkan jika Samuel kita masih hidup. M-mungkin saja, dia sudah sebesar Luciel sekarang ..."


"Baiklah! Kalau begitu kita terima saja tawaran ayah!"


"Eh? Apa kau juga menginginkan Luciel?!" tanya Natasha seakan tidak percaya.


"Iya, terlebih lagi kita juga sama-sama menginginkan anak itu. Dan bahkan jika kali ini kita harus menghadapi kakakku yang menyebalkan itu, kita bisa selangkah lebih maju darinya karena ayahku pasti akan mendukung kita!"


"Terima kasih, Daniel! Akhirnya sebentar lagi kita akan jadi orang tua!" Natasha tersenyum semringah dia juga kembali memeluk suaminya dengan erat.


"Bukan apa-apa, asal aku mampu maka aku akan memenuhi keinginanmu."


Heh, lagi pula aku juga senang jika hal ini bisa mengganggu kakakku yang sombong itu! Aku ingin setidaknya sekali saja aku bisa menang darinya! Dengan mendapatkan Luciel, maka sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.


Terlebih lagi bagi Nisa, dia itu orang paling licik yang pernah aku temui! Aku yakin betul jika pasti ada sesuatu yang dia rencanakan di balik keberadaan anak itu. Dengan menarik Luciel ke sisiku, maka kau akan kehilangan salah satu poinmu. Aku masih menyimpan dendam padamu yang telah menghancurkan bisnis rahasia yang aku bangun susah payah. Akhirnya datang juga kesempatan untuk membalasmu.






Mampir juga ke karya teman author~


__ADS_1


__ADS_2