
Luciel dan Keisha telah sepakat untuk membuat sebuah tim kecil detektif. Bahkan kedua bocah itu kompak memakai kostum selayaknya detektif sungguhan. Mulai dari memakai sarung tangan, sepatu bot, kacamata gelap, dan tak lupa juga topi.
Peralatan yang dibawa pun juga bermacam-macam, seperti jam tangan, walkie talkie, kamera, kaca pembesar, kompas, dan lainnya yang mereka simpan di dalam koper.
"Wahh ... Keisha, semua ini hebat! Apakah ada juga yang bisa mengeluarkan sinar laser?" tanya Luciel dengan bersemangat.
"Ada, tapi disita oleh bunda, bunda bilang laser terlalu berbahaya jika dipakai anak-anak seperti kita."
"Begitu ya ..." ucap Luciel sedikit kecewa.
"Jangan bersedih, Luciel. Dengan ini pasti sudah bisa menemukan mami nya Luciel! Ayo kita berangkat sekarang! Tapi sebelum itu, ayo bilang ke bundaku dulu!"
"Em!" Luciel mengangguk setuju.
Keisha dan Luciel berlari penuh semangat untuk mencari Nisa. Akhirnya mereka menemukan Nisa yang kini sedang berada di kamar adik kembarnya Keisha.
"Bunda ...! Whup-" Keisha seketika membungkam mulutnya sendiri. "Keisha tidak membangunkan adik-adik, kan?" tanyanya dengan lirih.
"Tidak kok. Tapi ... kalian berdua kenapa memakai pakaian seperti ini? Kalian sedang bermain jadi detektif?" tanya Nisa dengan senyuman karena merasa kedua bocah itu sangat menggemaskan.
"Bukan bermain! Tapi Keisha dan Luciel ingin menjadi detektif sungguhan! Keisha ingin membantu Luciel menemukan mami nya! Benar, kan Luciel?"
"Benar, Luciel harus menemukan mami secepatnya!" jawab Luciel yang sangat antusias.
"Bunda mau memberikan izin, kan?" tanya Keisha dengan tampang imutnya yang super menggemaskan, berharap jika bunda nya akan luluh.
Sejenak Nisa terdiam, lalu menghela napas dan berkata, "Baiklah, Bunda memberikan izin untuk kalian. Tapi kalian harus pergi diantar sopir!"
"Horeee!" teriak Keisha dan Luciel bersamaan.
"Sshhh ... jangan berisik!" pinta Nisa sambil menyatukan jari telunjuknya ke bibir.
"Keisha berangkat ya, Bunda!" Keisha langsung mendekat ke arah Nisa, berjinjit kaki dan memberikan sebuah kecupan di pipi bunda nya.
"Luciel juga berangkat ..." ucapnya malu-malu. Saat ini dia canggung untuk bersikap bagaimana terhadap Nisa.
"Iya, hati-hati ya sayang-sayangku." Nisa tersenyum, dia berinisiatif untuk memberikan kecupan pada Luciel terlebih dulu. "Jangan sungkan, di keluarga ini memberikan kiss sebelum meninggalkan rumah adalah hal wajib!"
"Lu-Luciel mengerti," ucap Luciel dengan pipi yang merona, entah kenapa dia sangat nyaman dengan perlakuan Nisa meskipun sadar jika dia bukan siapa-siapa.
Kedua anak itu langsung bergegas pergi. Dan benar saja saat tiba di garasi mobil, Luciel lagi-lagi dibuat terpana oleh pemandangan yang menakjubkan. Dia melihat bermacam-macam mobil mewah dan keren berjejer dengan rapi.
Pandangan Luciel langsung tertuju pada sebuah mobil yang selalu dia dambakan, yaitu sebuah mobil berwarna kuning yang dapat berubah menjadi robot dalam film favoritnya.
"Keisha! Bisakah kita naik mobil yang ini saja?" tanya Luciel sambil menunjuk ke arah mobil.
"Hm? Tidak boleh," jawab Keisha sambil menggeleng.
__ADS_1
"Kenapa? Ayahnya Keisha tidak memberikan izin?"
"Iya, ayah dan bunda melarang Keisha naik sembarang mobil jika tidak bersama mereka. Kalau hanya Keisha dan pak sopir saja, maka mobilnya harus yang itu!" Keisha lalu menunjuk ke sebuah mobil berwarna hitam.
"Apa mobil itu istimewa?"
"Tentu, mobil itu anti peluru! Jadi kita tidak akan terluka kalau ada orang jahat yang menembak kita!"
"Woahh ... keren! Ayo Keisha kita naik!"
"Ayo!" Keisha langsung menggandeng tangan Luciel dan menaiki mobil berwarna hitam tersebut.
"Ke mana saya harus mengantar Tuan Muda kecil?" tanya sang sopir.
"Ah, iya ... Keisha lupa!" Keisha langsung beralih menatap Luciel. "Kita sebaiknya pergi ke mana dulu, Luciel?"
"Luciel sudah mencari ke banyak tempat, lalu berakhir di toko kue milik bunda nya Keisha. Kita mulai saja lagi dari sana!"
"Apa selama pencarian itu Luciel sudah dapat petunjuk?" tanya Keisha lagi.
"Belum," jawab Luciel sambil menggeleng.
"Tidak bisa begitu! Seorang detektif tidak bisa pergi ke tempat tanpa tujuan yang jelas!"
"Lalu sekarang bagaimana? Luciel tidak punya satu pun petunjuk ..." Luciel menunduk, dia sudah pesimis sebelum memulai pencarian.
"Hmm ... biarkan Keisha berpikir sebentar!" Keisha memegang keningnya, dia berpikir keras seolah-olah sedang menghadapi ujian.
"Luciel ingat!"
"Baguslah!" Keisha membuka koper yang dia bawa dan mengambil sebuah tablet dari dalam sana. Dia membuka situs internet dan mencari tahu soal gambar tentang berbagai macam-macam seragam.
Satu per satu gambar diperlihatkan, dan ketika menjumpai sebuah seragam yang bersifat formal, Luciel langsung menghentikan jari Keisha menggeser layar tabletnya. "Tunggu Keisha! Seragam mami seperti ini!"
"Yey! Kita menemukan petunjuk! Lalu ... mami Luciel berangkat saat malam hari?"
"Iya," Luciel mengangguk cepat karena mulai bersemangat.
"Kalau begitu ... mungkin saja mami nya Luciel bekerja di hotel!"
"Bisa jadi, kemarin Luciel belum mencoba untuk mencari di hotel! Mungkin saja mami memang ada di sana!"
"Pak sopir, kita ke hotel sekarang! Kita akan memeriksa dari hotel terdekat!" pinta Keisha penuh semangat.
"Baik, Tuan Muda kecil!"
Sopir pun mengantar kedua detektif cilik itu menuju ke hotel terdekat. Hotel yang dituju adalah Hotel Royal. Karena tidak mungkin bagi kedua anak kecil itu bertingkah sembarangan di dalam hotel, sang sopir pun ikut menemani mereka ke dalam dan meminta izin untuk bertemu dengan manajer.
Manajer hotel juga bersedia untuk menemui, karena dia tahu betul orang yang ingin bertemu dengannya tidak bisa ia anggap remeh. Cucu kesayangan Keluarga Kartawijaya ingin bertemu, tentu saja tidak bisa dibuat untuk terlalu menunggu.
__ADS_1
"Ada apa gerangan Tuan Muda kecil ingin bertemu saya?" tanya sang manajer.
"Keisha ingin bertanya pada manajer, apa ada orang bernama Mayra yang bekerja di hotel ini?"
"Mungkin ada, tetapi bisakah beritahu manajer ini dulu apa alasannya?" bujuk manajer itu.
"Mayra adalah mami-ku! Dia belum pulang sejak kemarin!" sahut Luciel.
"Ohh ... begitu ya, baiklah. Silakan menunggu dulu, saya akan memanggil semua yang bernama Mayra untuk menghadap pada Tuan Muda." Manajer itu langsung menyanggupi, tentu saja dia tidak mau membuat tersinggung sang calon pewaris seperti Keisha.
Selang beberapa menit kemudian sang manajer hotel kembali bersama 4 orang pegawai. 4 orang itu semuanya bernama Mayra dan berpakaian seragam formal.
"Luciel, mami-mu yang mana?" tanya Keisha.
"Tidak ada satu pun dari mereka," jawab Luciel dengan nada kecewa.
Keisha yang menyadari hal itu langsung merangkul Luciel untuk menyemangatinya. "Jangan patah semangat, Luciel! Ini baru hotel pertama yang kita datangi, kita bisa mencobanya lagi!"
"Iya, Keisha benar!"
"Terima kasih manajer karena sudah berusaha membantu Keisha! Urusan Keisha sudah selesai, Keisha pergi dulu ya!" ucapnya dengan senyuman.
"Haha, tidak masalah. Tolong sampaikan pada ayah jika pelayanan hotel ini sangat baik ya, Tuan Muda Kecil!"
Maksud terselubung dari manajer itu langsung terbaca oleh sang sopir yang mendampingi Keisha, dia melotot pada manajer itu dan langsung mengajak Keisha serta Luciel untuk segera pergi.
Saat mereka tiba di lobby, tanpa disangka Keisha berpapasan dengan seseorang yang begitu akrab dengannya.
"Kakek!" teriak Keisha yang langsung menghampiri seorang pria tua yang berpakaian formal dengan membawa sebuah tongkat kayu. Pria itu tidak lain adalah Muchtar Kartawijaya.
"Salam, Tuan Besar." sapa sang sopir sambil membungkukkan badan untuk menunjukkan rasa hormat.
Tuan Muchtar juga tampak senang berjumpa dengan cucu kesayangannya. "Haha, Keisha sedang bermain peran jadi detektif?"
"Keisha tidak bermain! Tapi jadi detektif sungguhan! Kenapa semua orang dewasa selalu meremehkan Keisha? Apa Pak Asisten juga meremehkan Keisha?" tanya Keisha pada seorang pria yang tepat berada di belakang kakeknya.
"Saya tidak berani," jawab asisten itu sambil menahan tawa.
"Keisha, ayo ikut Kakek! Nanti Kakek berikan ice cream kesukaanmu!" bujuk Tuan Muchtar.
"Tidak mau! Keisha harus memecahkan sebuah kasus! Mami temannya Keisha menghilang! Kasihan Luciel jika harus mencari sendiri!"
"Luciel?" Tuan Muchtar seketika memandang ke arah lain, dia baru sadar jika ada seorang bocah lagi yang memakai kostum ala detektif.
Tetapi saat memperhatikan Luciel, Tuan Muchtar langsung tertegun. Dan tiba-tiba saja mendekatinya sambil berkata, "Namamu Luciel?"
"..." Luciel hanya mengangguk, dia masih belum terbiasa berhadapan dengan orang dewasa begitu banyak.
"Nama yang bagus," ucap Tuan Muchtar dengan senyuman.
__ADS_1
Ini hanya perasaanku saja atau bukan? Tapi, aku merasa kalau anak ini sangat mirip dengan Daniel sewaktu kecil.