
"...." Leon masih ternganga, dia tidak menyangka jika wanita yang dia sukai telah berkata tidak masalah jika memiliki hubungan yang lebih dari sekadar rekan. Jantung Leon juga berdegup lebih cepat, dia mulai berharap sesuatu yang selalu dia impikan.
"Kenapa diam? Apa kau menganggap aku bukan siapa-siapa? Aku bukan orang yang penting? Jadi kau ingin melupakan kejadian di antara kita semalam begitu saja?" tanya Chelsea lagi.
"Bukan, bukan begitu maksudku. Selama ini hubungan kita sebagai rekan termasuk baik. Tapi ... kita sudah melewati batas, jika ada perasaan di antara kita. Aku tidak bermaksud seperti yang kau bilang, aku cuma tidak mau hubungan kita jadi buruk. Jika saja ... kita melangkah ke hubungan yang lebih serius, bagaimana jika suatu saat nanti perasaan di antara kita berubah? Otomatis kita akan saling membenci, saling menyalahkan, kita tidak bisa kembali ke zona nyaman seperti ini. Aku cuma takut kau akan jauh dariku," jawab Leon dengan penuh keseriusan.
"...." Chelsea tertegun, semua yang dikatakan oleh Leon memang ada benarnya. Jika saja mereka memulai hubungan asmara, dan jika suatu saat tidak ada jaminan semua itu akan bertahan selamanya, maka tentu saja saat itu terjadi mereka tidak akan bisa terus bersama dan saling mendukung seperti ini.
Chelsea menarik napas dalam-dalam, perlahan melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah baju Leon. Lalu dengan senyuman tipis yang tersungging di bibirnya, dia berkata, "Leon ... aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Mungkin saja nanti aku akan menyesal jika tidak pernah mengatakannya. Aku menyukaimu ...."
"...." Leon membisu, dia tak tahu harus berkata apa untuk menanggapi pernyataan perasaan yang tiba-tiba seperti ini. Dan dia tidak pernah menyangka, jika ternyata perasaannya berbalas.
"...." Di satu sisi Chelsea juga diam, dia terus menunggu tanggapan Leon soal pengakuannya. Baginya ini adalah yang pertama kali, jantungnya berdebar dengan cepat, berharap jika pria di depannya ini tidak akan menghancurkan perasaannya.
Hening, tak ada suara lain selain dari jantung yang berdebar-debar. Setelah menunggu beberapa saat, Leon masih diam. Chelsea yang menyadari itu tak lagi berharap banyak. Perlahan dia mundur dan berbalik memunggungi Leon.
"Haha, baiklah. Aku paham kenapa kau diam, kau pasti kaget dengan kata-kataku barusan. Ya sudah kalau begitu, kita lakukan sesuai rencanamu saja. Mari anggap kejadian semalam tidak pernah terjadi," ucap Chelsea dengan senyum pahit. Dia juga mengepalkan tangan di depan dadanya yang entah kenapa terasa sakit dan sesak.
"Tunggu!" seru Leon yang tiba-tiba saja menahan sebelah tangan Chelsea.
"Apa?" tanya Chelsea tanpa berbalik dan melihat ke arah Leon.
"...." Lagi-lagi Leon tak bersuara, dan tiba-tiba saja dia berdiri. Perlahan melangkah mendekat ke arah Chelsea, dan tanpa peringatan apa pun dia memeluknya dari belakang. "Aku juga menyukaimu," ucapnya dengan lembut.
"Leon ..." gumam Chelsea yang seketika membuat perasaan yang menyeruak di dalam hatinya berubah. Rasa sesak di dadanya menghilang begitu saja ketika mendengar suara lembut yang masuk ke telinganya.
Tiba-tiba saja Chelsea berbalik, lalu menatap mata Leon lekat-lekat. "Aku mohon, ulangi lagi!" pintanya yang ingin memastikan sekali lagi jika dia tidak salah mendengar.
"Aku menyukaimu, Mayra. Aku menyukaimu bukan sebatas karena kejadian semalam. Tetapi sebelum itu terjadi, aku sudah punya perasaan padamu. Jauh ... jauh sebelum tadi malam, aku sudah menyimpan perasaan padamu. Semua yang kau lakukan, semua yang terjadi selama ini, aku menyukai semuanya yang ada padamu, tanpa terkecuali." Leon tersenyum, dia juga merasa lega lantaran sekarang sudah mengutarakan semua isi hatinya.
Chelsea juga tersenyum, perasaannya terbalas. Dan tanpa basa-basi, tiba-tiba saja dia merangkul leher Leon dan dengan cepat memberikan kecupan di bibirnya. Sedangkan Leon, matanya membelalak karena terkejut dengan serangan mendadak seperti ini.
Namun, ciuman itu tak berlangsung lama. Setelah melepas ciuman secara sepihak, Chelsea tersenyum meringis. "Tadinya aku kira cuma aku yang punya perasaan sepihak, terima kasih sudah membalas perasaanku!"
Leon tersenyum bahagia, dia sangat bahagia karena dinding yang selama ini menjadi pembatas baginya telah runtuh. Sekarang dia sudah bisa mengekspresikan rasa sukanya secara terang-terangan. Dia tak tahan lagi untuk segera membalas dan mencium wanita itu.
"Uhmm ...?!" Chelsea terkesiap, dia tidak menyangka jika Leon akan memberikan serangan balasan dengan begitu cepat. Akan tetapi, meskipun terkejut pada akhirnya dia menanggapi ciuman itu. Keduanya mulai menutup mata serta saling memeluk dengan erat. Dan semakin lama ciuman itu semakin dalam, seperti perasaan mereka masing-masing yang begitu dalam.
***
Sungguh hari-hari yang tak akan pernah terlupakan oleh Chelsea. Selama 25 hari dia bertugas di kota S, dan selama itu juga sudah banyak hal terjadi yang dia buat sebagai pelajaran. Mulai dari melihat kekejaman seorang penguasa tiran, melihat kehidupan para penduduk yang menyedihkan dan tidak adil, sampai kejadian malam panas yang berujung pada perasaan cintanya yang berlabuh.
Setelah pagi hari yang dipenuhi oleh romantisme dan saling mengungkap perasaan terpendam, Chelsea Dan Leon bergegas untuk kembali ke kota asal karena tugas mereka telah usai. Mereka tidak pulang bersama, tetapi mereka pulang dengan mobil mereka masing-masing. Ini semua terjadi karena Leon yang berniat untuk menghindar dari Chelsea. Dan siapa sangka, mereka berdua saling berjauhan ketika baru tiba di kota S, lalu sekarang mereka menjalin asmara ketika meninggalkan kota itu.
Kurang lebih tiga jam sudah berlalu, setelah lelah menyetir mobil selama itu, Chelsea langsung merebahkan diri di kasurnya.
__ADS_1
"Hah ... akhirnya sampai rumah juga," ucapnya yang tampak begitu nyaman. Sejenak kemudian dia termenung, sembari menatap langit-langit kamar yang berwarna putih tersebut.
"Banyak sekali yang sudah terjadi. Dan selama ini banyak juga kesulitan yang aku alami. Tujuanku tetap tidak akan berubah, aku harus menemukan Luciel dan membalas dendam atas kematian kak Liam."
"Akan tetapi ... sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi, aku bisa menjalin hubungan cinta dengan Leon. Tetapi ... aku juga takut, bagaimana sikap Leon nanti jika dia tahu bahwa selama ini aku berbohong padanya. Dan masalah terbesar adalah sifat Leon yang begitu patuh pada organisasi, jika dia tahu bahwa tujuanku adalah menghancurkan organisasi ini, apakah dia akan melawanku?"
"Leon pernah berkata padaku jika dia sudah bergabung hampir selama 7 tahun. Sedangkan kematian kak Liam itu sudah lewat 10 tahun. Jika berdasarkan garis waktu, Leon bisa dikatakan bebas dari kecurigaanku. Leon tidak mungkin terlibat dengan kematian kak Liam, jika begini maka sisi baiknya aku tak perlu menargetkan Leon."
"Baik kak Liam ataupun Leon, keduanya sama-sama memiliki posisi penting di hatiku. Jika balas dendamku sudah tercapai suatu saat nanti, semoga saja saat itu Leon mau mengerti diriku. Sayang sekali jika cinta pertamaku akan kandas karena dendamku sendiri."
***
Di sisi lain, Leon juga telah tiba di rumahnya sendiri. Dia tak sabar untuk melihat adik kesayangannya. Dengan perasaan riang dia membuka pintu rumahnya.
KLAKK!
"Liana, kakak pulang!!" teriak Leon yang sejurus kemudian senyuman di wajahnya hilang. Dia melihat adik perempuannya tengah berduaan di rumah bersama dengan pacarnya.
"Kak Leon?!" Liana terkejut, sebelumnya dia memang sudah diberi kabar jika Leon akan pulang hari ini. Tetapi, karena jam pulangnya Leon sedikit terlambat, Liana pikir kakaknya itu akan pulang esok harinya.
"Kak Leon jangan salah paham! Aku dan Ian tidak bertingkah macam-macam, kok! Kami cuma bermain! Aku yang mengundangnya datang ke rumah! Aku ingin teman untuk bermain game PS bersama!" jelas Liana kelabakan. Dia paham betul bagaimana sifat kakaknya itu. Dia takut jika kemarahan Leon akan meledak dan menghajar Ian sampai tak berbentuk.
Leon menghela napas, lalu tersenyum tipis dan menepuk kepala adiknya. "Ya sudah, kalian bermain saja. Tapi ingat, pacaran juga ada batasnya! Jangan melakukan hal yang aneh-aneh! Dan ingat kalau kalian masih pelajar, jadi jangan pacaran terus sampai lupa belajar!"
Tiba-tiba saja Leon meletakkan beberapa kantong kertas ke atas meja tamu. "Ini oleh-oleh yang aku bawa dari luar kota. Silakan dinikmati."
Leon langsung berjalan melewati Liana dan menuju ke arah tangga. "Liana, kakak habis dari perjalanan panjang, jadi mau istirahat. Jika kau ada perlu apa-apa, mintalah bantuan pada pacarmu dulu!"
"Kak Leon aneh ..." ucap Liana yang kemudian beralih mengecek apa saja yang Leon bawakan sebagai oleh-oleh.
"Apa itu tadi benar-benar kakakmu?" tanya Ian penuh keraguan. Dia ragu lantaran selama ini selalu diperlakukan sinis oleh Leon, baru pertama kali ini dia merasa jika Leon ramah terhadapnya.
"Ya, tentu saja dia kakakku. Mungkin saja dia sedang senang, jadi dia membiarkan kita berduaan begitu saja. Tapi sudahlah, meskipun kakakku kerasukan hantu, yang pasti ini hal yang baik! Mari, kita lanjutkan main game nya!"
***
Hari berganti, seperti biasanya setelah selesai mengerjakan tugas maka anggota Divisi 2 akan langsung menerima tugas yang baru. Sesuai jadwal yang ada, Chelsea dan Leon harus datang ke Kedai Pembunuh untuk menerima tugas baru mereka.
Namun, sebelum menuju ke sana, Chelsea berinisiatif untuk mendatangi rumah Leon terlebih dulu. Dia datang berkunjung juga tidak dengan tangan kosong, dia membawa kue cookies buatan sendiri untuk diberikan kepada kekasih barunya serta adiknya.
TOK TOK TOK!
"Permisi!" ucap Chelsea seraya mengetuk pintu.
"Ya, sebentar!" Tak lama kemudian pintu itu dibuka dan tampaklah Liana yang sudah mengenakan pakaian seragam sekolah.
"Kak Mayra!" seru Liana dengan senyum berseri, dia juga menggandeng tangan Chelsea dan menyeretnya masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, dia tidak mengajak Chelsea untuk ke ruang tamu, melainkan langsung mengajaknya untuk duduk di meja makan.
__ADS_1
"Nah, sudah lama rasanya tidak berbincang dengan Kak Mayra! Ingin sekali aku bercerita banyak hal dengan Kakak!" ucap Liana penuh antusias, dia memang menyukai berbincang dengan Chelsea dan berharap jika Chelsea menjadi kakak iparnya.
"Haha, oke ... Tetapi sebelum kau bercerita, tolong terimalah ini terlebih dulu." Chelsea lalu menaruh paper bag yang isinya beberapa buah stoples cookies ke atas meja makan.
"Hm? Kenapa repot-repot bawa ini?" tanya Liana yang kemudian mengintip isi dari paper bag tersebut.
"Tidak repot, itu cuma beberapa camilan yang aku buat untukmu dan kakakmu. Emm ... ngomong-ngomong di mana kakakmu?" tanya Chelsea dengan kedua pipi yang merona.
"Kakak masih siap-siap di kamar. Tapi tumben Kak Mayra mencari kak Leon. Apa Kak Mayra lebih tertarik bertemu dengannya ketimbang aku? Jangan-jangan ... ada sesuatu di antara kalian?" tanya Liana dengan sorot mata penasaran bagaikan tukang gosip.
"Y-ya ... kau benar, kami pacaran," jawab Chelsea dengan senyum polosnya.
"A-APAAA?!" Liana terkejut, bahkan teriakkannya bisa didengar oleh Leon yang saat ini berada di kamar.
"Ada apa?! Kenapa kau berteriak?!" tanya Leon yang tiba-tiba muncul, dia juga tampak berantakan lantaran langsung berlari begitu mendengar suara teriakan adiknya.
"Eh, Mayra? Sejak kapan kau di sini?" tanya Leon yang sedikit bingung. Dia juga segera mengancingkan kancing kemejanya yang belum selesai terpasang.
"Baru saja," jawab Chelsea dengan wajah merona.
Liana yang masih tak begitu percaya dengan apa yang barusan dia dengar seketika berlari, menghampiri Leon untuk meminta kejelasan lebih lagi. "Kak Leon, apa Kakak pacaran dengan Kak Mayra?!"
"D-dari mana kau tahu?" tanya Leon yang seketika tersipu malu.
"Kak Mayra sendiri yang bilang padaku! Jadi itu benar! Astaga, aku tidak menyangka ini akan terjadi!" jawab Liana seraya menuding ke arah Chelsea.
"Kau yang memberitahu Liana?" tanya Leon pada Chelsea.
"Iya, emm ... apa itu sebuah masalah? Liana kan adikmu, jadi apa salahnya dia tahu?" tanya Chelsea tanpa rasa bersalah.
"Ck, kau ini." Leon merasa sedikit kesal, dia lalu mendekati Chelsea dan menyentuh kedua bahunya. "Cukup Mayra, aku mohon setelah ini jangan katakan hubungan kita pada orang lain!" pinta Leon dengan tatapan serius.
"Tapi kenapa? Kenapa kau ingin menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi? Apa kau malu punya aku sebagai pacarmu?" tanya Chelsea seakan tidak terima.
"Bukan, bukan begitu. Aku sama sekali tidak merasa malu. Hanya saja ... hubungan seperti ini di antara kita itu berbahaya jika sampai diketahui orang lain. Akan aku katakan dengan jelas, aku punya banyak musuh, aku tak mau mereka mengancamku lewat dirimu. Atau bahkan membalas dendam padaku lewat dirimu juga. Intinya, aku tak mau kau terluka."
"Tapi Leon, aku bisa menjaga diriku sendiri!" bantah Chelsea yang bersikeras.
"Aku mohon mengertilah, aku tak mau kau jadi kelemahanku. Sudah cukup dengan Liana, aku sudah menyingkirkan banyak orang yang mencoba menyakitinya. Dia menjadi sasaran orang lain karena aku, jadi aku tak mau kau juga begitu. Aku tak mau kau dalam bahaya karena punya hubungan denganku ..." jelas Leon lagi, berharap jika kekasihnya ini mau mengerti apa tujuan baiknya.
"...." Chelsea hanya mengangguk. Meskipun tidak senang jika harus menjalani hubungan secara rahasia, tetapi dia sadar jika perkataan Leon ada benarnya. Chelsea tak mau menjadi wanita yang akan menjadi kelemahan, dia ingin selalu mendampingi dan menjadi kekuatan baginya.
"Baguslah, terima kasih atas pengertianmu," ucap Leon dengan senyum lembut.
***
Setelah berada cukup lama di rumah Leon untuk bertamu, serta memberikan kejelasan pada Liana tentang hubungannya. Saat ini Chelsea akhirnya tiba di Kedai Pembunuh, dan dia menemui Dika selaku Kepala Divisi 2 seperti biasa.
__ADS_1
"..." Chelsea gugup, dia terus menantikan dan penasaran seperti apa tugas barunya.
Dika yang bertugas sebagai Kepala Divisi 2 tampak memegang sebuah kertas catatan. Kemudian dia berkata, "Hemm ... Mayra, tugasmu selanjutnya adalah pergi ke Divisi 3! Divisi Cyber!"