
"J-jangan mendekat!" pinta security itu dengan tampang yang dipenuhi ketakutan. Dia berkeringat dingin lantaran Leon terus berjalan mendekat ke arahnya sambil membawa sebuah belati, yang di ujungnya masih tersisa bekas darah dari No Reason. Pikirnya, apakah ini gilirannya untuk merasakan tajamnya belati itu?
TAP TAP TAP ...
Leon berhenti melangkah begitu berada di depan pria yang nyalinya semakin menciut tersebut. Dengan tatapannya yang tajam, Leon lantas berkata, "Pak security, Anda melihat semuanya, kan?"
"T-tidak ... saya sama sekali tidak melihat apa-apa ..." jawabnya dengan terbata-bata. Dia berbohong karena takut Leon akan menyerangnya jika dia menjawab yang sebenarnya.
"Jawab dengan jujur!" tegas Leon lagi dengan tatapan yang makin mengerikan.
"S-saya lihat! Tetapi saya janji tidak akan menceritakannya pada siapa pun!" ucap security itu dengan kelabakan, dia tak mau membuat Leon makin kesal dan sampai melukainya.
Leon menyeringai, menyimpan kembali belati miliknya lalu menepuk dan mencengkeram bahu security itu. "Bagus, setidaknya kau tahu apa yang harus kau lakukan! Awas saja jika kau menceritakan soal apa yang barusan kau lihat pada orang lain. Aku jamin jika atasanku akan marah, dan kau bisa mati di mana saja sewaktu-waktu."
"S-saya akan menepati setiap kata-kata saya!" ucapnya lagi yang ingin meyakinkan Leon.
"Baiklah. Sekarang pergilah, jangan lupa untuk bersikap biasa saja. Kalau ada orang yang bertanya padamu soal suara berisik tadi, jawab saja kalau kau tak tahu. Paham?"
"P-paham," jawabnya sambil mengangguk dengan cepat.
Leon melepaskan cengkeraman tangannya dari bahu security itu. Dia hanya menghela napas ketika security itu sudah berlari pergi dari sana. Setidaknya dia tak perlu memusingkan bagaimana membereskan kerusuhan yang telah dia buat. Pasien yang saat ini dirawat di kamar VIP bisa dihitung dengan jari. Terlebih lagi ini memang sudah malam, dan CCTV juga sudah diurus seperti yang No Reason jelaskan.
"Astaga, apa yang aku lakukan?" gumam Leon dengan kepala yang tertunduk sambil menatap kedua tangannya.
Tanganku ini sudah banyak melakukan perbuatan kotor dan keji. Tetapi yang barusan itu, harusnya aku tak melepaskan security itu begitu saja. Padahal biasanya aku selalu membereskan segalanya dengan tuntas supaya tak ada masalah di masa depan. Aku seperti orang yang berbeda saja, dan semua ini aku rasakan setelah aku mengenal Chelsea. Sial, meskipun aku punya perasaan padanya, tapi aku tidak boleh membiarkan diriku berubah karena hal semacam ini.
Leon menggeleng kepala demi mengubah fokusnya. Dia teringat jika sebelumnya dia ingin melihat bagaimana keadaan Chelsea. Dan sebelum dia masuk ke ruang rawat itu, dia beralih menuju toilet yang tak jauh dari sana. Dia berniat mencuci tangan dan membersihkan belati miliknya, supaya tidak ada bau darah yang tertinggal dan tercium yang dapat menimbulkan rasa curiga.
KLAK!
Pintu kamar ruang rawat Chelsea terbuka. Tak seperti yang Leon bayangkan, Leon membayangkan jika begitu dia masuk maka langsung diteriaki untuk diminta keluar. Akan tetapi, semua itu tidak terjadi. Yang terjadi justru Chelsea hanya sekilas menoleh dan kembali melamun, seolah tak begitu peduli dengan kehadiran Leon.
Menyadari tidak adanya sikap penolakan, Leon lantas melangkah lebih dekat. Dia melihat sebuah nampan yang berisi makanan yang sudah dingin. Minuman di gelas pun juga masih terisi penuh. Semua yang disediakan sama sekali tidak tersentuh.
"Chelsea ..." panggil Leon dengan nada suara pelan.
Chelsea menoleh dan menatap Leon untuk sejenak. Setelahnya dia memalingkan wajahnya lagi. "Ya, itu memang namaku. Panggil saja dengan nama asliku, jangan panggil aku Mayra lagi," ucapnya dengan nada bicara yang sama seperti Leon. Dia tak berteriak seakan ingin memulai perdebatan.
__ADS_1
"...." Sejenak Leon tertegun mendengar jawaban Chelsea. Pikirnya, saat ini kondisi wanita ini mungkin sudah bisa diajak untuk berbicara lebih serius. "Chelsea, soal keguguranmu ... bagaimana kau-"
"Aku tahu kau akan membahas soal itu," ucap Chelsea yang memotong perkataan Leon. Chelsea mengambil napas dalam-dalam, dengan tanpa memandang wajah Leon, dia pun berkata, "Maaf, aku tahu jika kau kecewa. Tetapi, seperti yang aku bilang padamu sebelumnya, aku sendiri pun tak tahu soal kehamilan ini."
"...." Lagi-lagi Leon membisu, dia mencoba menahan diri sampai Chelsea menyelesaikan penjelasannya.
"Aju akan jelaskan semuanya padamu, Leon. Aku tak akan membohongimu lagi. Semua ini berawal dari 6 tahun lebih yang lalu. Saat itu, aku masih seorang direktur utama dari perusahaan One INC Entertainment. Meskipun aku bisa mendapatkan apa yang aku mau, tapi aku muak dengan kehidupan yang dikontrol seperti boneka oleh ayahku."
"Suatu ketika, terjadi sebuah kebakaran besar saat acara perayaan. Saat itu aku memanfaatkan situasi dan kabur dengan membawa seorang bayi, bayi itu adalah anak dari adik perempuanku. Aku pura-pura mati dan terus hidup berpindah-pindah sambil membesarkan bayi itu. Hingga aku putuskan untuk kembali ke negara asalku ini, kupikir aku akan menjalani hidup yang damai bersama bocah laki-laki yang sudah aku anggap sebagai anak sendiri."
"Aku tak bisa mengambil pekerjaan yang normal, karena aku ingin menghindari pengamatan ayahku yang mempunyai kekuasaan dan pengaruh besar di dunia bisnis. Jadi aku melamar pekerjaan sebagai bartender di DG CLUB. Jadi, sampai di titik ini harusnya kau sudah mengerti. Sejak awal aku tak pernah punya niatan untuk menipumu ataupun menyusup ke dalam organisasi."
"Baru seminggu aku bekerja di night club itu, aku mendapatkan masalah dan berujung disekap. Saat itu aku akhirnya mendapatkan sedikit informasi mengenai kematian misterius kakak laki-lakiku yang dibunuh 10 tahun lalu saat malam tahun baru. Dan saat aku bebas dari disekap, aku kehilangan anakku. Aku mencarinya sampai hampir gila, itulah saat di mana kau menolongku yang pingsan di tengah hujan. Tujuan awalku bergabung memang benar demi mendapatkan pengaruh lebih besar untuk mempermudah pencarian anakku. Tapi, sampai sekarang aku masih tak tahu di mana keberadaannya."
"Aku juga ingin berterima kasih karena saat itu kau sudah mau melatihku dan mengajariku banyak hal. Pada akhirnya aku mendapatkan kesempatan dan bisa bergabung. Dan lama kelamaan aku juga mendapatkan petunjuk baru soal kematian kakakku. Tetapi ... tak aku sangka kalau musuhku sebenarnya adalah pimpinan dari organisasi yang aku ikuti ini."
"Selama ini aku memendam tekad balas dendamku seorang diri. Dan selama itu juga kita sering menghabiskan waktu bersama. Jujur saja, menjalin hubungan denganmu adalah sesuatu yang tak pernah aku bayangkan. Aku juga berterima kasih padamu, kau sudah mau menemaniku di saat-saat sulit maupun menyenangkan."
"Tetapi ... permulaan perasaan kita yang saling terbalaskan, itu karena kejadian malam itu. Aku bersyukur karena malam itu aku melakukannya denganmu, bukan dengan orang lain. Hanya saja ... soal kehamilan, itu juga bukan sesuatu yang pernah aku bayangkan."
"Jika kau ingin bertanya kenapa aku begitu bodoh sampai tidak sadar soal kehamilan sendiri. Silakan kau salahkan aku. Ini memang karena aku yang bodoh. Padahal belakangan ini aku juga sudah menjumpai beberapa keanehan pada tubuhku. Hanya saja ...." Chelsea berhenti bicara, diam-diam tangannya mencengkeram selimut dengan erat. Seolah kalimat selanjutnya membutuhkan tenaga ekstra untuk mengatakannya.
"Ini mungkin karena aku tidak hati-hati. Tetapi ... aku sudah pernah berjumpa dengan ketua, aku sudah pernah melihat rupa dari iblis yang ada di balik semua ini! Dia adalah Nisa Sania Siwidharma! Meskipun aku tak bicara langsung dengannya, tapi aku tahu kalau dia sudah mengenaliku dan saat ini mengatur rencana untuk mempermainkan aku!"
"Karena itulah ... aku tidak menyadari kehamilan ini karena aku pikir aku cuma sakit gara-gara terlalu memaksakan diri untuk berlatih. Sejak awal aku juga tak pernah punya niatan untuk memanfaatkanmu. Itulah semua alasanku Leon, terserah kau mau percaya atau tidak ...."
"...." Leon tak berkata apa-apa dan berekspresi sendu. Setelah mendengar penjelasan dari Chelsea secara keseluruhan, dia akhirnya mengerti jika di antara kedua pihak yang harus dia pilih untuk dibela, ternyata memang punya informasi yang sama namun dengan sudut pandang yang berbeda.
Tiba-tiba saja Chelsea menyentuh perutnya. "Soal anak ini ... yang sudah terlanjur pergi, aku mohon jangan terlalu merasa kehilangan. Mungkin inilah yang terbaik, mungkin memang ada baiknya jika dia tidak lahir dan punya orang tua yang buruk seperti kita."
Air mata Chelsea kembali terjatuh. Namun, Chelsea bukan menangis dan kehilangan kendali seperti tadi. Dia menoleh ke arah Leon, menatapnya lekat-lekat, bahkan juga memaksakan untuk tersenyum kepadanya.
"Leon, aku sudah mengatakan segalanya yang kuingin agar kau tahu. Dan sekarang ... aku tak mau menambah musuh lagi. Aku sudah berterima kasih dan meminta maaf atas selama ini. Jadi, mari kita akhiri hubungan ini .... Mari, kita berada di jalan masing-masing ...."
"Tidak!" jawab Leon dengan spontan. Bahkan dia juga memeluk tubuh Chelsea dengan begitu eratnya.
"Tidak! Aku mohon jangan katakan itu! Aku tak mau jika semua ini harus berakhir! Maaf ... aku juga meminta maaf karena telah meragukanmu. Tapi kali ini aku janji, aku tidak akan meragukanmu lagi! Terserah kau mau membalas dendam pada siapa, terserah jika kau menyembunyikan identitasmu, terserah jika kita kehilangan calon bayi kita .... Yang jelas, aku akan tetap berada di sisimu!"
"Leon ...." Air mata Chelsea mengalir kian deras. Meskipun dia terharu dengan semua yang Leon janjikan padanya, tetapi dia masih merasa khawatir kepadanya.
__ADS_1
"Leon ... kau sudah bersumpah setia kepada ketua, dan terlebih lagi ... Kepala Divisi sudah kau anggap sebagai kakakmu sendiri. Jadi, sebaiknya kita memang berpisah saja. Aku tak mau kau berkhianat pada mereka, aku tak mau kau jadi sasaran mereka, aku tak mau kau terluka demi aku ...."
"Diamlah, jangan khawatirkan soal itu," ucap Leon seraya mengeratkan pelukannya. Seakan tak akan melepasnya sampai kapan pun juga.
"T-tapi, bagaimana bisa aku tidak khawatir? Meskipun kau punya rencana, tetapi tidak menjamin jika kau akan berhasil. Dan jika kau masih mau untuk membujukku berpihak padanya, aku tidak mau .... Aku tidak sudi berpihak pada orang yang sudah membunuh keluargaku .... Kau adalah anggota yang sangat setia, sedangkan aku mau mencari keadilan untuk mendiang kakakku! Aku mohon Leon, mengertilah, kita ini bertentangan ...."
"Leon, dengarkanlah aku. Aku benar-benar tak mau kau bertindak nekat demi aku. Kita berdua ... kita berdua saja tak akan mampu untuk melawan para iblis-iblis itu! Bahkan jika aku harus mati melawan mereka, aku tak mau kalau kau mati bersamaku ...."
Tiba-tiba saja Leon melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah Chelsea lekat-lekat dengan kedua tangan yang juga memegangi wajahnya. Terlihat jelas jika wanita yang ditatapnya saat ini adalah wanita yang telah mengalami banyak penderitaan.
"Chelsea ... aku akan jujur saja. Aku memang tak mampu untuk memilih antara kau dan pengabdianku. Tetapi satu hal yang masih bisa aku janjikan padamu. Kau ingin keadilan bagi mendiang kakakmu, kan? Maka aku akan berusaha memenuhi itu untukmu!"
"T-tapi Leon ... bagaimana caranya? Tolong katakan padaku apa yang harus aku lakukan! Aku mohon padamu jangan berkorban sendirian!" pinta Chelsea dengan sorot mata penuh kesungguhan di tengah-tengah tangisannya.
"Baiklah, akan kuberitahu caranya!" Tanpa peringatan apa pun tiba-tiba Leon mendekat dan mencium bibirnya.
"U-uhmm ..." Chelsea terkejut sekaligus bingung, dia tak siap dengan serangan mendadak seperti ini. Ditambah dia merasa begitu aneh lantaran berciuman dalam keadaan di saat dia masih menangis. Dia berusaha melawan, tetapi dengan kondisinya saat ini dia jadi begitu lemas. Dia tak mampu untuk mendorong Leon, alhasil ciuman itu berlangsung selama yang Leon inginkan.
Perlahan Leon melepaskan ciumannya. Dia merasa sedikit bersalah saat melihat Chelsea yang seperti sudah kehabisan napas. "Maaf ... aku tak menanyakan kesediaanmu dulu."
"L-lagi pula kenapa kau harus menciumku tiba-tiba? Padahal aku bertanya soal apa rencanamu, tapi kau malah menciumku ... Tidak mungkin kalau rencanamu sekonyol ini, kan?" protes Chelsea tanpa memandang wajah Leon. Sekarang dia teramat malu untuk menatapnya.
Leon menghela napas dan tersenyum tipis. Lalu mengusap kepala Chelsea dengan lembut. "Aku menciummu karena ini membuatmu sedikit tenang. Aku tak mau kau terus mengoceh soal kegagalan yang akan kita alami nanti. Percayalah padaku, aku pasti akan membantumu!"
"Iya, aku percaya. Tetapi, setidaknya tolong katakan apa rencananya!" pinta Chelsea dengan tampang menuntut.
"Sebenarnya sudah aku tunjukkan dengan ciuman tadi," Leon terkekeh.
"Leonnnn!" teriak Chelsea yang seketika dibungkam oleh Leon.
Leon mendadak bergeser lebih dekat, kemudian dia berbisik, "Sudah berapa kali aku bilang padamu? Apa kau sudah lupa kalau kau tidak boleh menurunkan kewaspadaanmu meskipun sedang emosi? Dengarkan aku baik-baik. Di dalam ruangan ini mungkin saja sudah dipasangi alat penyadap secara diam-diam saat aku keluar tadi. Dan harusnya kau juga sudah mendengar suara kegaduhan di luar tadi. Itu karena ulahku yang berhadapan dengan orang suruhan dari ketua. Jadi, apa kau paham, Sayang?"
"Emm ..." Chelsea mengangguk, diam-diam dia tersipu malu karena baru kali ini dia dipanggil sayang oleh Leon.
"Bagus!" Leon lalu melepaskan bekapan tangannya dari mulut Chelsea. Tiba-tiba saja dia mengambil semangkuk bubur yang sudah dingin itu.
"Nah, jika kau ingin segera mengetahui apa yang aku bicarakan tadi, maka kau harus pulih dan cepat keluar dari rumah sakit! Ayo, buka mulutmu!"
"Terima kasih, Leon ..." ucap Chelsea dengan senyum bahagia. Dia bahagia karena perasaan tulusnya akhirnya tidak mengecewakan dirinya. Meskipun dia telah mengorbankan segalanya yang dia punya, dia bersyukur karena tidak kehilangan cinta.
__ADS_1
"Jangan terus-terusan berterima kasih! Ayo cepat makan! Bubur tidak enak ini juga bayar!" bentak Leon yang pura-pura bersikap tegas.
"Haha, kejam sekali. Kau benar-benar gangster, bahkan pasien pun juga kau bentak." Chelsea lalu membuka mulutnya, meskipun bubur yang dia makan rasanya tak terlalu enak. Tetapi dengan adanya Leon yang menyuapi dirinya, entah kenapa dia begitu lahap memakan bubur itu.