Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Boneka yang Terlepas Dari Tuannya


__ADS_3


CKKITTT


Nisa langsung mengerem mobilnya begitu tiba di DG CLUB. Bersama dengan Ivan, Nisa memasuki night club yang masih tutup tersebut. Club yang sepi, hanya ada beberapa petugas keamanan dan kebersihan yang sedang mengerjakan tugas mereka.


Meskipun mereka sedang melakukan tugas, mereka semua tak lupa untuk memberikan salam penghormatan bagi kedua Family tersebut. Mereka berdua melangkah dengan cepat menuju ke sebuah private room yang diperuntukkan khusus bagi VIP.


Di dalam ruangan VIP itu sudah ada beberapa orang yang telah menunggu. Marcell, sang Kepala Divisi 1. Dika, sebagai Kepala Divisi 2. Dan terakhir Damar, Kepala Divisi 4 sekaligus tuan rumah. Bersama dengan hadirnya Ivan, kini semua Kepala Divisi telah lengkap.


"Ada masalah serius apa sampai harus mengumpulkan kami?" tanya Dika penasaran.


"Masalah kali ini bukan cuma soal organisasi, tapi ini juga menyangkut soal keluargaku!" jawab Nisa yang setelahnya beralih menatap pada Ivan.


"Cepat keluarkan datanya!"


"Baik," Ivan mengangguk dan langsung menuruti apa yang Nisa perintahkan padanya. Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah dirangkap jadi satu beserta dengan sebuah flash drive.


"Sudah Boss, semua yang kau inginkan ada di sini. Data-data perusahaan One INC Entertainment selama 3 tahun terakhir. Lalu untuk beberapa data yang dalam bentuk video, aku simpan di dalam flash drive ini," jelas Ivan sambil meletakkan benda-benda itu ke atas meja.


"Ada apa ini? Apa ada sesuatu yang aku lewatkan?" tanya Damar kebingungan.


"Aku juga tak tahu, kenapa harus mengumpulkan data perusahaan ONE INC Entertainment? Apa target kita selanjutnya ingin menyingkirkan perusahaan itu?" tanya Marcell.


"Ssttt ... diamlah kalian, biarkan aku membaca ini dulu!" pinta Nisa yang kemudian mengambil lembaran kertas berisi data-data perusahaan yang telah disiapkan oleh Ivan. Nisa membacanya dengan cepat dan sekilas, dia hanya membaca di bagian poin-poin pentingnya saja.


"Astaga, jadi benar ..." gumam Nisa sambil mengerutkan dahinya. Dia juga meletakkan kertas itu kembali ke atas meja.


"Ada apa? Apakah Boss tidak puas dengan data yang telah aku kumpulkan? Tapi aku berani bilang kalau semua data itu akurat, aku sendiri yang telah membobol sistem keamanan perusahaan itu!" ungkap Ivan yang bermaksud tak mau kinerjanya diremehkan.


"Bukan soal itu, tentu saja aku percaya dengan cara kerjamu. Hanya saja ... aku tidak menyangka jika perusahaan itu sekarang benar-benar sangat rapuh," jelas Nisa.


"Kenapa sepertinya kau khawatir? Apa kau punya saham di perusahaan itu?" tanya Dika.


"Bukan, hanya saja ini persoalan keluargaku. Mungkin kalian masih belum paham, jadi aku akan menjelaskan pada kalian semuanya dari awal." Nisa mengelap wajahnya dengan kasar, seolah-olah dia memang sangat frustrasi dengan keadaan ini.


Di sisi lain Marcell, Dika, Ivan dan Damar juga mulai memasang ekspresi serius. Mereka siap mendengarkan dengan baik apa yang akan ketua mereka katakan.


Nisa menarik napas panjang dan berkata, "One INC Entertainment, itu adalah perusahaan milik keluarga Adinata. Sedangkan aku menikah dan masuk ke dalam keluarga Kartawijaya. Berjarak beberapa bulan setelah pernikahanku, adik iparku, bajing*n yang sempat mencari masalah denganku dulu, dia menikah dengan putri bungsu dari keluarga Adinata."


"Dan sekarang, dalam beberapa tahun terakhir perusahaan keluarga Adinata mengalami kemunduran. Perusahaan itu bisa bertahan sampai sekarang karena berkat bantuan keluarga suamiku. Awalnya aku tidak peduli dengan masalah ini, tetapi setelah membaca data yang Ivan berikan barusan, ternyata kondisi perusahaan itu jauh lebih buruk dari yang aku kira."


"One INC Entertainment, menurut pengamatanku perusahaan itu mulai mengalami kemunduran sejak kematian Direktur Utama mereka yang tewas dalam kebakaran 6 tahun lalu. Kalian juga tahu sendiri jika kebakaran itu terjadi di gedung aula milik suamiku, saat itu aku juga sempat menjadi tersangka."


"Di dalam kebakaran itu menewaskan bayi adik iparku dan putri tertua keluarga Adinata, dia adalah Chelsea Almayra Adinata! Atau ... harus aku bilang jika dia adalah Mayra!" ucap Nisa penuh penekanan.


"Mayra? Apa yang Boss maksud adalah anggota tetap yang tahun ini baru bergabung dalam Divisi-ku?" tanya Dika seakan tidak percaya.


"Benar, kalau tidak percaya silakan saja kau lihat di kertas itu. Ada foto Chelsea Almayra Adinata di sana, lihatlah dan aku jamin jika tampang mereka sama persis!" tegas Nisa sekali lagi.


Dika yang masih sulit mempercayai akhirnya mengambil kertas dan memeriksa sendiri apakah yang dibilang oleh ketuanya itu sungguhan atau tidak. Dan benar saja, Dika tercengang saat tahu jika orang yang disebut sebagai Chelsea memang benar-benar terlihat sama persis dengan Mayra.


Marcell dan Damar yang juga merasa penasaran pun juga ikut melihat dan memastikan sendiri foto tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana? Kalian sudah lihat sendiri, kan?" tanya Nisa dengan alis terangkat sebelah.


"Lalu di mana sekarang wanita ini berada?" tanya Marcell dengan tampang serius, seolah-olah dia siap membunuh wanita itu jika memang membawa ancaman bagi ketuanya.


"Sekarang dia bersama dengan anakku, aku meninggalkan mereka di bakery. Tapi yang perlu kita cemaskan bukan itu. Kita harus membuat rencana untuk selanjutnya!" Nisa lalu beralih menatap tajam pada Dika.


"Bagaimana bisa dia bergabung dengan Divisi-mu? Apa kau tidak mengecek latar belakangnya?"


"Entahlah, aku akui kalau ini memang salahku karena aku lengah. Saat itu ada banyak orang yang ingin bergabung, tetapi waktu acara perekrutan tinggal sebentar lagi. Jadi, aku tak punya cukup waktu untuk mengecek status dan latar belakang mereka semua. Terlebih lagi ... yang mengenalkan dia padaku adalah Leon. Leon sudah aku anggap seperti adikku sendiri, aku tahu betul jika Leon punya kesetiaan yang tinggi, jadi aku tidak pikir panjang dan curiga. Tapi aku tetap melakukan sesuai prosedur, aku tak pernah memberikan hak istimewa padanya! Dan ... aku ingat kalau sebelum dia bergabung dengan Divisi-ku, dia lebih dulu jadi bartender di club ini!" jelas Dika kelabakan.


"Club ini?" Seketika Nisa beralih melempar tatapan tajam pada Damar. Seakan telah menunggu jawaban yang bagus darinya.


"Maaf, ini juga salahku. Saat itu aku sama sekali tidak mencurigainya dan menganggapnya sebagai orang biasa. Aku kira dia cuma pelamar kerja seperti yang lainnya. Saat itu tugas perekrutan bartender aku percayakan pada Kaitlyn. Awalnya dia bekerja sesuai harapanku. Tetapi setelah seminggu bekerja di sini, aku mulai mencurigainya saat memergoki dia yang berkeliaran di area VIP."


"Aku membuatnya pingsan lalu mengurungnya selama 3 hari. Selama itu juga aku telah mengecek barang-barang miliknya dan ponselnya. Aku tidak menemukan kejanggalan apa pun, kecuali ..." Damar tiba-tiba berhenti bicara.


"Kecuali apa?" tanya Nisa dengan tatapan menusuk.


"Kecuali saat aku menerima telepon dari anak kecil. Anak itu mengaku jika dia sedang menelepon mami nya karena tak kunjung pulang. Aku membentak anak kecil itu beberapa kali, dan aku juga berbohong padanya kalau aku ini adalah pria baru mami nya. Aku bilang padanya kalau dia itu cuma beban dan pengganggu. Aku pikir dia pantas mendapatkannya supaya dia tahu rasa sudah berbuat macam-macam," jawab Damar dengan ekspresi canggung.


"Astaga ..." Nisa menepuk jidatnya.


Jadi telepon dari pria jahat misterius yang Luciel ceritakan padaku ternyata adalah Damar! Sial, gara-gara si bodoh ini Luciel jadi kabur. Tetapi untunglah aku yang menemukannya, meskipun sekarang Luciel juga sudah tidak bersamaku lagi.


"Kenapa Boss? Apakah itu masalah besar?" tanya Damar yang mulai merasa gugup.


"Bukan, bukan masalah besar. Ini masih di dalam kendaliku." Nisa lalu beralih menatap ke arah Dika kembali.


"Saat kau pertama kali mewawancarainya, alasan apa yang dia katakan saat kau tanyai tujuan bergabung?" tanya Nisa dengan tampang serius.


"Leon bilang apa padamu?" tanya Nisa lagi.


"Leon bilang padaku kalau Mayra itu seorang imigran ilegal. Satu-satunya anak yang dia punya menghilang, alasannya ingin bergabung karena ingin memiliki pengaruh agar lebih banyak orang yang membantu jika melakukan pencarian anaknya nanti."


"...." Nisa membisu, tiba-tiba saja menyadarkan tubuhnya di sofa. Dia juga menengadah dan menatap ke arah langit-langit. "Hahaha ...."


Keempat pria itu hanya saling menatap satu sama lain. Mereka semua sedikit bingung kenapa ketua mereka tertawa padahal sama sekali tidak ada yang lucu di atas sana.


"Haha ... sial, semua sudah jelas sekarang ...." Nisa masih tertawa cekikikan untuk beberapa saat. Yang dia tertawakan adalah semua hal yang sudah terjadi di sekitarnya.


Begitu Nisa berhenti tertawa. Tiba-tiba saja dia kembali berekspresi serius. "Baiklah, aku sudah mengetahui semua gambaran kejadian ini dengan jelas! Chelsea atau Mayra itu berbohong! Dia sama sekali tidak kehilangan anak, karena anak yang dia rawat itu bukan anaknya! Anak itu adalah anak yang sempat aku temukan dan adopsi. Dan sekarang anak itu sudah kembali ke pelukan orang tua aslinya. Dia adalah Luciel!"


"Apa?!" Semuanya terkejut. Mereka tidak menyangka jika hal ini menjadi semakin rumit.


"Lalu sekarang Boss ingin bagaimana? Menyingkirkan wanita itu?" tanya Marcell.


"Ya, aku ingin menyingkirkan dia keluar dari organisasi. Dia tidak pantas untuk bergabung bersama kita! Tetapi, sebelum aku menyingkirkan dia, aku ingin bermain-main dulu dengannya!" jawab Nisa yang mulai antusias. Saat ini begitu terlihat sosok iblis yang merencanakan sesuatu yang buruk.


"Dan rencanaku, pertama-tama aku ingin bertemu dengan si banci kesayanganku! Cepat panggilkan dia kemari!" pinta Nisa penuh penekanan.


"Oke, aku akan panggilkan dia!" Damar langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Kaitlyn agar dia segera datang kemari.


"Kenapa Boss memerlukan si banci itu?" tanya Marcell dengan tatapan malas. Dia masih menyimpan kekesalan dengan tingkah konyol yang terakhir kali Kaitlyn lakukan di hadapannya. Yaitu berpenampilan telanjang di hadapannya, dan karena alasan itulah Marcell memindahkan Kaitlyn dari Divisi 1 ke Divisi 4.

__ADS_1


"Karena aku butuh Foxy, hanya si banci itu yang bisa memerankan peran itu dengan sempurna," jawab Nisa.


"Apa?! Jangan-jangan ...." Keempat pria itu saling melirik. Lalu Dika memberanikan diri untuk bertanya, "Kau sungguhan ingin melibatkan Violent Zone?"


"Benar, karena pada awalnya semua ini bersumber dari sana. Violent Zone adalah alasan utama kita, mengapa kita harus membunuh pewaris keluarga Adinata 10 tahun yang lalu," jawab Nisa dengan sorot mata dingin. Dan setelahnya tak ada yang berbicara lantaran masih belum jelas dengan apa sebenarnya maksud Nisa.


"Apa kalian semua ini bodoh? Aku bilang Chelsea atau Mayra itu berbohong, tetapi dia tidak sepenuhnya berbohong. Dia tidak bohong soal ingin mencari anaknya, tetapi dia bohong soal ingin membalaskan dendam demi suaminya. Dia tak pernah menikah, jadi dia tak punya suami."


"Yang dia maksud itu sebenarnya adalah kakak laki-lakinya, William Adinata. Dan pembunuhnya adalah kita. Saat malam tahun baru 10 tahun yang lalu, kita bersembilan bersama-sama menyusup ke Violent Zone dan melakukan pembantaian. Pemilik Violent Zone yang kotor itu adalah William Adinata, kita menculiknya lalu membunuhnya."


Nisa tersenyum tipis, tiba-tiba saja dia memegang sebelah telapak tangan Dika yang duduk tepat di sebelahnya. "Aku tahu jika peristiwa itu merupakan pengalaman yang buruk bagimu. Maaf, aku mengungkitnya lagi. Tapi aku harus melakukan ini demi memberi pelajaran bagi orang yang menargetkan kita. Buktinya sudah ada, aku berani jamin jika kasus yang menjebak David adalah perbuatannya."


"Apa?! Apa tidak bisa kita langsung singkirkan saja dia?!" tanya Marcell yang emosinya mulai tersulut.


"Tidak bisa, Marcell. Sudah aku jelaskan di awal tadi kalau perusahaan keluarga Adinata sedang masa krisis. Jadi si tua Tommy itu pasti juga telah mengerahkan orangnya untuk mencari putrinya. Masalahnya itu adalah, yang tahu jika Chelsea Almayra Adinata masih hidup itu bukan cuma kita."


"Maaf Boss, tapi kali ini aku sependapat dengan Marcell. Wanita itu sudah mengusik salah satu rekan kita. Meskipun sebenarnya si bangs*t David itu memang pantas mendapatkannya. Tapi kita tidak bisa membiarkannya begitu saja!" celetuk Ivan.


"Astaga, kalian ini masih tidak mengerti bagaimana caranya membalas dengan elegan. Aku juga marah padanya karena telah berani menjebak David. Tetapi ... aku terpikirkan cara lain untuk membuatnya hancur!"


"Bagaimana caranya?" tanya Damar.


"Mari kita buat usahanya selama ini jadi sia-sia. Menurutku, dia melakukan pelarian selama 6 tahun itu karena demi bersembunyi dari ayahnya. Dia itu bagaikan boneka yang ingin lepas dari tuannya. Jadi, setelah kita puas bermain-main dengannya. Kita akan membongkar identitas aslinya!"


"Asal kalian tahu, perasaan wanita itu sangat rapuh jika itu soal cinta. Dan menurut penjelasan Dika tadi, aku pikir aku tahu siapa yang bisa menjadi pion yang cocok. Jadi, Dika ... bolehkah aku pinjam Leon?" tanya Nisa dengan senyuman.


"Kenapa harus menggunakan Leon sebagai pionmu? Tidak bisakah orang lain saja?" tanya Dika yang merasa tidak rela jika Leon yang sudah seperti adiknya akan diperalat oleh sang ketua jelmaan iblis ini.


"Sayangnya tidak bisa. Dan aku juga ingin menggunakan kesempatan ini untuk menguji kesetiaannya sekali lagi."


"Kenapa harus mengujinya lagi? Apa kau lupa jika dia melakukan banyak hal untukmu?! Apa lagi yang kau ragukan dari dia?!" tanya Dika seakan tidak terima.


"Heh!" Nisa menyeringai, lalu membelai wajah Dika dengan sentuhan kuku jarinya yang tajam. Semua yang di sana juga tahu beginilah sikap sang ketua jika dia sedang tidak senang.


"Sepertinya kau belum tahu sesuatu yang penting. Cinta ... meskipun terdengar sederhana, tapi itu bisa mengubah seseorang. Chelsea mau mengungkapkan salah satu alasannya bergabung dengan jujur pada Leon. Aku curiga ada hubungan itu di antara elite kita dan si penyusup. Aku cuma tak ingin Leon yang berharga akan berbalik melawan kita hanya demi cintanya. Kau paham maksudku, bukan? Soalnya di masa lalu aku juga sempat mengabaikan kalian demi cinta pertamaku."


"Jadi, kau ingin membuat mereka berdua untuk saling membunuh?" tanya Dika lagi.


"Benar, semua adil dalam perang dan cinta. Jadi ... aku harap kau mengerti, Dika sayang~" Nisa lalu menarik tangannya kembali.


"...." Dika diam seribu bahasa. Perkataan Nisa berhasil mengacaukan pikirannya. Dia mulai merasa khawatir apakah Leon akan benar-benar melawannya hanya demi seorang wanita.


TOK TOK TOK!


"Permisi, ini Kaitlyn. Izin menghadap Kepala Divisi!"


"Masuklah," ucap Nisa.


Kaitlyn langsung masuk begitu dipersilakan. Dia yang semula merasa kesal tiba-tiba menjadi bersemangat lantaran melihat keberadaan ketua dan Kepala Divisi 1.


"A-Anda di sini ...." ucap Kaitlyn tergagap.


Aahh ... daku bahagia sekali, jantungku berdegup kencang! Sudah lama daku merindukan Kepala Divisi 1, dia pasti ke sini karena ingin menjemputku! Tidak sia-sia juga daku buru-buru pergi, meskipun daku belum menyelesaikan manicure kuku jariku.

__ADS_1


"Baiklah, karena sekarang semuanya sudah ada di sini. Aku akan mulai menjelaskan rencana lengkapnya!" seru Nisa sambil memperhatikan kesiapan semua orang untuk mendengarkannya.


__ADS_2