
"Bagaimana ini?" gumam Chelsea yang saat ini dilanda kebingungan. Dia masih tidak menyangka jika dirinya mendapatkan pesan rahasia yang memintanya untuk bertemu dengan Nisa nanti malam.
Aku harus bagaimana? Jika aku pergi ke sana, bisa saja Nisa telah memasang jebakan untukku. Tetapi, jika aku tidak ke sana, aku tidak akan tahu apa yang sebenarnya Nisa inginkan dariku. Di saat seperti ini, sebaiknya aku meminta saran dari Leon. Tapi, Kepala Divisi bilang aku harus merahasiakan ini darinya.
"Ck, sial!" umpatnya penuh kekesalan. Chelsea berpikir keras, dia menimbang-nimbang soal keputusan mana yang sebaiknya dia pilih. Pikirnya, mengambil risiko merupakan pilihan yang bodoh untuknya saat ini, kondisi tubuhnya belum sepenuhnya prima jika dia harus terlibat dalam pertarungan.
"Jika aku mengutamakan keselamatanku, pilihan yang harus aku ambil adalah jangan datang. Akan tetapi, jika aku datang ... mungkin aku bisa mendapatkan informasi yang berharga. Aku tak tahu apa yang ingin Nisa bicarakan denganku, sebaiknya aku mencoba bertaruh saja. Malam ini aku akan bersiap menemui musuh terbesarku!"
Meskipun ragu, pada akhirnya Chelsea memutuskan untuk mendatangi markas utama kembali malam ini. Dia mempersiapkan diri sebaik mungkin, membawa senjata tersembunyi untuk berjaga-jaga dan selalu bersikap waspada. Seperti yang telah Dika katakan padanya, dia benar-benar merahasiakan soal rencana pertemuan ini dari Leon.
***
Malam harinya sekitar pukul 7 malam. Keisha sudah siap dan tampak begitu bersemangat. Sejak tadi dia terus mengikuti ke mana pun bundanya berjalan. Entah itu ke dapur, ke kamar, atau bahkan ketika sedang mengurus adik kembarnya.
"Ayo, Bundaaa! Ayo berangkat sekarang! Keisha sudah tidak sabar!" pinta Keisha sambil menarik-narik baju yang Nisa pakai.
"Keisha, sebentar lagi, ya. Bunda masih harus menidurkan adik bayi dulu. Baru setelah itu kita berangkat!" bujuk Nisa sambil terus menimang-nimang Noah yang sedang menyusu.
"Tapi Bunda ... kalau tidak berangkat sekarang nanti keburu malam, nanti Keisha tidak bisa main lama-lama. Ayo berangkat sekarang ... adik bayi diajak sekalian saja!"
"Tidak bisa, Sayang. Adik bayi tidak boleh diajak karena masih terlalu kecil. Tunggu sebentar lagi, oke? Noah sudah mengantuk, sebentar lagi Noah akan tidur." Nisa lalu beralih menatap Keyran yang sejak tadi berada di sana. Suaminya itu hanya duduk dan mengawasi dari kejauhan.
"Bantu aku, Key! Bujuklah Keisha agar mau menunggu sebentar lagi!"
"Heh, sekarang baru minta bantuanku? Bukannya kau sendiri yang mengajak putra kita pergi ke sana? Jadi urus saja sendiri!" jawab Keyran dengan ketus. Dia masih tak begitu setuju karena keputusan istrinya yang mengajak putra polos mereka pergi ke markas utama.
"Kauu ...!" Nisa melotot, namun dia sadar jika protes pun tidak ada gunanya. Akhirnya dia kembali fokus meninabobokan Noah supaya dia bisa secepatnya berangkat.
Pada akhirnya Nisa telah berhasil menidurkan kedua bayi kecilnya. Dia juga berpesan kepada pengasuh untuk memperhatikan bayinya selama dia tidak ada. Karena pertentangan keras dari Keyran, alhasil dia ikut ke markas utama bersama anak dan istrinya.
"Bunda, apakah markas besar milik Bunda itu jauh?" tanya Keisha yang kini duduk di atas pangkuan ibunya.
"Tidak terlalu jauh, kita akan segera sampai," jawab Nisa dengan senyumannya.
"Ayah, ayo tambah kecepatannya! Keisha mau cepat sampai!" pintanya pada Keyran yang fokus memandang jalanan.
"Iya, Sayang ..." jawab Keyran dengan senyum yang dipaksakan. Kedua tangannya juga mencengkeram erat setir mobil. Dia sudah geram walaupun baru membayangkan apa yang akan diketahui oleh putranya nanti. Keyran pikir, Nisa akan mengenalkan sisi dunia hitam itu dengan cara tersirat yang menyenangkan untuk mencuci otak putranya.
Sekitar 10 menit kemudian mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Nisa dan Keyran bersama-sama menggandeng tangan Keisha untuk melewati pintu masuk yang besar tersebut.
"Selamat datang, Ketua!" seru banyak orang yang suaranya menggelegar.
Seluruh anggota Divisi 1 berkumpul dan berbaris rapi, mengenakan pakaian yang serba hitam dengan tanda pin pengenal khusus mereka. Mereka semua dengan kompak membungkukkan badan demi memberikan penghormatan pada sang ketua, yaitu Nisa Sania Siwidharma, ketua resmi generasi kedua dari sebuah organisasi gangster bernama Grizzly Cat.
"Woahhh ...." Keisha menatap takjub. Meskipun bukan pertama kalinya dia diperlakukan hormat seperti ini, tetapi dia merasa jika ini adalah penghormatan yang paling keren yang pernah dia lihat. Menurutnya, penghormatan dari semua pelayan yang ada di kediaman utama masih kalah jika dibandingkan dengan ini.
__ADS_1
"...." Keyran masih tak berkomentar, setidaknya untuk saat ini dia masih tak melihat sesuatu yang akan mengancam pola pikir anaknya.
"Ayo, Sayang! Mari kita jalan!" ajak Nisa dengan senyum ramahnya.
Mereka bertiga lantas berjalan, melewati barisan para bawahan yang masih tak berani mengangkat kepala. Hingga mereka tiba di ujung dan barisan para anggota itu habis, Keisha melihat sosok pria yang tidak asing sedang berdiri dan menyambut kedatangannya.
"Paman Marcell!" teriak Keisha yang seketika berlari ke arah Marcell.
"Selamat datang di markas utama, Boss Kecil ..." ucap Marcell yang tak lupa memberikan penghormatan.
"Paman, Paman Marcell! Keisha datang ke sini karena tugas sekolah, Keisha mau menceritakan ke teman-teman Keisha kalau Keisha datang ke tempat yang luar biasa!" jelas Keisha dengan antusias.
"Benarkah? Lalu, apakah menurut Boss Kecil tempat ini sudah luar biasa?" tanya Marcell dengan senyum tipis di bibirnya. Senyuman itu seketika membuat para anggota Divisi 1 terkejut, mereka semua tak menyangka jika sosok yang mengerikan seperti Marcell ternyata bisa tersenyum juga.
"Iya! Tempat ini luar biasa dan sangat keren! Keisha sudah tidak sabar mau berkeliling!" jawabnya sambil mengangguk dengan cepat.
"Baiklah, kalau begitu biar paman Marcell yang menemani Boss Kecil berkeliling tempat ini!"
"Horeee!" Keisha berteriak girang, dia juga menggandeng tangan sang paman seakan sudah siap untuk diajak berkeliling.
"Bersenang-senanglah, Sayang ...!" ucap Nisa sambil melambaikan tangan, dia tersenyum penuh kepuasan begitu melihat Marcell mengajak Keisha berjalan pergi. Rencananya kini hampir sempurna, dia sudah bisa lepas tangan soal putranya.
"Mau ke mana kau?" tanya Keyran yang dengan cepat menahan tangan Nisa.
"Tidak ke mana-mana, aku cuma ingin istirahat di salah satu kamar yang ada di kasino ini," jawab Nisa yang mulai gugup.
"Tidak bisa! Kau ikut aku! Kita awasi Keisha bersama! Jika nanti aku melihat sesuatu yang dapat merusak pikiran anak kita, saat itu juga maka aku akan langsung menamparmu!" ancam Keyran sambil melotot.
Keyran dan Nisa pun mengikuti dari belakang. Yang paling merasa waswas di sini adalah Keyran. Sebelumnya dia memang sudah pernah datang ke tempat ini, hanya saja saat itu keadaan tempat ini masih berbeda dari sekarang. Untuk saat ini, Keyran sama sekali tidak melihat adanya keberadaan meja judi ataupun alat-alat lain yang berhubungan dengan perjudian.
Keyran bernapas lega, setidaknya Keisha yang masih polos tidak akan mengenal apa yang dinamakan perjudian di usianya sekarang. Keyran tak membohongi nuraninya sendiri, dia adalah orang yang mempunyai prinsip yang sangat bertolak belakang dengan istrinya.
Sesuai dengan citra yang dia bangun selama ini di dunia bisnis. Keluarga Kartawijaya membangun bisnis yang begitu sukses dengan tak menyampingkan ketentuan hukum. Bisnis keluarga konglomerat ini sepenuhnya bersih. Satu-satunya kesalahan Keyran adalah, dia tidak menyerahkan istrinya pada pihak berwajib, meskipun sebenarnya dia tahu kalau istrinya itu adalah penjahat kelas berat.
Mereka berdua bisa bersama lantaran karena sebuah perjodohan yang dilakukan oleh masing-masing orang tua mereka. Ayah kandung Nisa, yang merupakan ketua generasi pertama, dia menyembunyikan identitasnya pada sang besan. Jadi, sampai sekarang Tuan Muchtar yang memegang kendali penuh atas urusan keluarga Kartawijaya, beliau belum tahu apa-apa mengenai identitas menantunya yang luar biasa.
Keyran sendiri juga baru tahu saat usia pernikahan mereka hampir satu tahun. Saat itu mereka nyaris berpisah, namun Keyran melawan akal sehatnya dan menerima Nisa seutuhnya karena terlanjur cinta. Tak lama setelah ulang tahun pernikahan mereka, mereka mendapatkan kepercayaan dari Tuhan dengan adanya Keisha.
Keisha adalah anak pertama yang mendapatkan kasih sayang berlimpah dari mereka. Terlebih lagi bagi Keyran, dia mau agar Keisha nantinya mewarisi semua yang dia punya. Dia juga selalu memantau agar Nisa tak membuat Keisha jadi seperti dirinya. Itulah mengapa Keyran bersikeras untuk ikut. Dia khawatir jika putra kecilnya berubah jadi monster.
"Baguslah, akhirnya kau tahu bagaimana mendidik anak kita dengan benar," ucap Keyran sambil melirik ke arah istrinya.
"Haha ... aku belajar darimu," jawab Nisa dengan senyum canggung. Batinnya turut merasa puas karena anak buahnya bekerja dengan baik. Tak ada satu pun hal yang berhubungan dengan perjudian yang ditampilkan dalam kunjungan Keisha ke markas utama.
Sebagai seorang Casino Manager, Marcell tahu betul hiburan seperti apa yang cocok untuk diketahui oleh Boss Kecil. Marcell memperlihatkan hiburan seperti biliard, pertandingan tinju dan tenis. Biasanya di pertandingan ini juga diadakan taruhan bagi tamu yang memiliki keistimewaan lebih.
Dan sekarang, mereka akhirnya tiba di area terdalam dari kasino itu, yaitu area Diamond Claw. Area ini dikhususkan bagi tamu penting. Dan di dalam area ini, terdapat ruang yang luas untuk permainan golf mini.
__ADS_1
"Paman Marcell! Keisha mau main golf!" ucap Keisha sambil melompat dengan antusias. Dia belum merasa lelah, karena sebelumnya dia minta digendong oleh Marcell ketika mengelilingi seluruh area.
"Baik, Boss Kecil!" jawab Marcell yang kemudian langsung mengambilkan tongkat dan bola dengan senang hati. Dia merasa senang, lantaran dia yang terpilih dan dipercaya Nisa untuk bermain dengan putranya.
"Paman akan memberikan contoh dulu. Perhatikan paman, ya!" pinta Marcell yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Keisha.
Marcell segera mengambil posisi, dia memukul bola itu dengan akurat. Bola masuk ke dalam lubang dalam sekali pukulan, Marcell berhasil melakukan hole in one.
"Wahhh ... Paman Marcell keren!" puji Keisha dengan tatapannya yang penuh kekaguman.
Tiba-tiba saja telinga Keyran terasa panas saat mendengar putranya memuji keren pria lain. Dia teringat jika sebelumnya Keisha berteriak padanya jika dia adalah ayah yang payah. Keyran yang sejak tadi hanya mengawasi dan memperhatikan dari jauh, mendadak dia mendekat dan merebut pemukul bola dari tangan Marcell.
"Biar aku tunjukkan apa itu hole in one yang lebih keren!" ucap Keyran sambil melotot pada Marcell.
"Silakan ..." jawab Marcell dengan pasrah. Dia sudah tahu sifat dan karakter macam apa yang dimiliki Keyran. Dia tak mau membantah dan pada akhirnya membuat keributan yang tidak diperlukan.
"Memangnya Ayah bisa main golf?" tanya Keisha dengan tatapan ragu. Selama ini dia cuma tahu jika ayahnya lebih sibuk bekerja daripada melakukan hal-hal menyenangkan bersamanya.
"Tentu saja bisa! Keisha mundur sedikit, ya! Ayah akan perlihatkan teknik yang luar biasa!" ungkap Keyran dengan sombongnya.
"Oke!" Keisha menurut dan mundur beberapa langkah, dia penasaran dengan keahlian macam apa yang ayahnya punya.
Benar saja, karena rasa gengsinya, akhirnya Keyran menganggap jika golf yang cuma main-main ini sebagai perlombaan yang serius. Dia ingin menunjukkan pada putranya jika dia adalah sosok ayah yang patut dibanggakan. Keyran juga melakukan hole in one sama seperti Marcell, hanya saja dia melakukan pukulan yang lebih keras supaya lebih terlihat hebat.
"Wahh ... ternyata Ayah juga hebat!" Keisha berteriak kagum dan bertepuk tangan. Namun, setelahnya dia malah berkata, "Ayo coba main set golf yang lain! Mari kita tentukan siapa yang lebih hebat! Ayah atau Paman Marcell!"
"Heh! Baiklah!" jawab Keyran sambil menatap sinis pada Marcell.
Sejenak Marcell terdiam. Lalu melirik pada Nisa untuk meminta tanggapannya. Dan Nisa justru memberikan isyarat agar Marcell setuju, supaya dia membuat Keyran sibuk. "Baiklah, aku setuju!" jawab Marcell.
"Bagus," gumam Nisa yang melihat adanya kesempatan. Dia tak menyia-nyiakan situasi yang dibuat oleh Marcell, diam-diam Nisa pergi menyelinap keluar dari area golf mini itu.
Nisa bergegas pergi menuju sebuah kamar yang sejak lama dikhususkan untuk dirinya. Yaitu kamar VVIP nomor 11. Begitu dia mempersiapkan diri di dalam, dia meminta salah seorang anggota Divisi 1 untuk menyampaikan pada Chelsea jika dia sudah siap untuk bertemu.
Tak berselang lama kemudian orang suruhan Nisa kembali dengan membawa Chelsea bersamanya. Begitu Nisa dan Chelsea berada di ruangan yang sama, kedua wanita itu sama-sama saling mengeluarkan aura yang menekan dan menyesakkan. Bahkan seorang pria anggota Divisi 1 itu langsung pergi tanpa disuruh.
"Duduklah, tak perlu terlalu waspada. Aku mengundangmu karena ingin berbicara, bukan untuk bertarung," ucap Nisa yang menyadari jika tangan Chelsea sudah diam-diam ingin mengeluarkan senjata.
Meskipun kaget karena Nisa mampu menyadari tindakannya, Chelsea tetap berusaha bertingkah biasa saja. Dia lantas duduk di sebuah kursi yang sepertinya memang sudah disiapkan untuk dirinya. Kini, dia duduk berhadapan dengan seseorang yang selama ini jadi musuh utamanya.
"Huft ..." Di satu sisi Nisa bersikap santai. Dia meniup sebuah teh panas yang ada di sebuah cangkir keramik. Lalu menyeruputnya sedikit dengan sikap yang anggun.
"Kau juga minumlah, tak perlu terlalu menjaga sikapmu," ucap Nisa sambil memejamkan matanya. Terkesan seolah dia begitu menikmati teh miliknya.
"...." Chelsea diam seribu bahasa. Sekilas dia menunduk, menatap secangkir teh yang sepertinya juga sudah disiapkan untuknya. Akan tetapi, dia sama sekali tidak berselera untuk meminum teh tersebut. Pikirnya, bisa saja di dalamnya sudah diberi racun.
"Chelsea ... tak aku sangka kau masih hidup," ucap Nisa sambil menggoyang-goyangkan cangkir teh miliknya. Terus menatap air teh yang bergelombang dalam cangkir, seakan-akan dia tidak terlalu menganggap serius keberadaan Chelsea.
__ADS_1
"Cukup Nisa! Jangan mempermainkan aku lagi! Aku tak punya waktu untuk mendengar ocehan tidak bergunamu! Cepat katakan, mengapa kau membunuh kakakku!" bentak Chelsea yang kesabarannya sudah mulai habis.
"Heh!" Nisa tersenyum menyeringai.