Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Mad Dog VS No Reason


__ADS_3


"T-tidak ... ini tidak mungkin ..." gumam Chelsea yang terus menerus memakai kata yang sama. Dia begitu syok karena dinyatakan keguguran, sedangkan dia sama sekali tidak mengetahui soal kehamilannya sendiri. Namun, keadaanya menjelaskan jika mau tidak mau dia harus menerima semua kenyataan pahit ini.


"Kau ..." ucap Leon sambil mengernyit. Melihat bagaimana reaksi Chelsea saat ini, dia mulai memiliki rasa percaya jika kehamilan ini memang bukan sengaja dirahasiakan darinya.


Leon yang semula marah kini jadi begitu iba. Ternyata tak cuma dia yang merasa menderita, dia tak tega terus melihat keadaan wanita yang dicintainya. Sebelah tangannya terulur, perlahan maju untuk menggapai wanita itu.


"Pergi! Pergi dari sini! Tinggalkan aku sendiri!" teriak Chelsea dengan derai air mata yang membasahi pipi. Membuat Leon mengurungkan niatnya yang semula ingin menenangkannya.


"...." Sejenak Leon tertegun, dia tak menyangka jika seseorang yang dia kenal sebagai wanita tangguh akan jadi menyedihkan seperti ini. Akan tetapi, Leon menyadari kemarahan dari sorot matanya, dia memutuskan untuk segera pergi dari ruang rawat seperti yang dia minta.


"Hahhh ..." Leon menghela napas. Berdiri dan bersandar di dinding rumah sakit itu. Telinganya dapat mendengar dengan jelas suara rintihan yang asalnya dari dalam.


Hatinya terasa bagai disayat. Inikah yang namanya cinta? Hanya memberinya kebahagiaan untuk sesaat. Dia membenci sekaligus menyukai perasaan ini, jika jatuh cinta, kenapa itu harus dia?


Kini, Leon hanya bisa berdiam diri. Memendam semua rasa sakit dan dilemanya sendiri, untuk saat ini tak mungkin ada seseorang yang paham dan cocok untuk jadi tempatnya berbagi.


Sejenak Leon memejamkan mata, berpikir dengan keras tentang apa yang harusnya dia lakukan. "Sudahlah, tak ada gunanya aku terus begini. Lebih baik ke tempat lain dan tenangkan pikiran dulu."


Leon bergegas pergi dari sana. Dia tak kuat jika terus menerus mendengar suara tangisan dari Chelsea. Pikirnya, terus berada dan menunggu di sana juga tak ada pengaruhnya. Wanita yang ingin dia temani tak mau melihat wajahnya.


***


Pada saat yang sama di tempat lain. Saat ini Liana sedang bersama dengan pacarnya. Liana tak punya sandaran lain atau teman yang bisa dipercaya selain Ian. Karena begitu marah dan kecewa pada Leon, Liana menelepon Ian tanpa pikir panjang dan bicara sambil menangis.


Ian adalah sosok laki-laki yang penuh empati, dia yang merasa peka dan khawatir langsung memutuskan untuk menghampiri Liana saat itu juga. Dan kini, mereka berdua bertemu di sebuah taman kota yang letaknya tak jauh dari rumah sakit.


Suasana taman saat malam hari tak begitu ramai seperti biasanya. Taman hanya ramai di malam akhir pekan atau hari libur. Ian menemani Liana duduk di sebuah bangku taman, dan sejak tadi Liana tak bisa berhenti menangis.


"Sudahlah Liana ... coba ceritakan padaku dengan benar. Setidaknya tolong jangan cerita sambil menangis. Matamu sudah bengkak. Berhenti menangis, oke?" bujuk Ian sambil menyeka air mata di pipi pacarnya.


"M-maaf ..." jawab Liana yang masih sesenggukan. Dia berusaha berhenti menangis, lalu mengatur napasnya agar lebih tenang.


Setelah beberapa saat Ian menunggu, begitu melihat Liana yang tampak sudah bisa ditanyai, Ian langsung berkata, "Jadi, tadi kamu bilang sama aku kalau kamu sedang ada masalah dengan kakakmu. Sebenarnya apa itu? Bisakah ceritakan padaku dengan lebih jelas?"


Liana mengangguk, menyatakan jika dia bersedia menjelaskan dengan jelas. "Aku sudah cerita ke kamu ... kalau kakakku itu adalah orang yang baik. Dia juga selalu memenuhi semua kebutuhanku dan bekerja keras. Aku bangga padanya, tapi ... hari ini semua keyakinanku padanya telah hilang."


Liana mengambil napas panjang lagi, sedikit sulit bicara karena masih terisak. "Aku juga sudah pernah cerita padamu soal wanita yang saat itu selalu menjagaku saat kak Leon tidak ada. Dia adalah kak Mayra ... dia punya hubungan khusus dengan kak Leon. Tak cuma hubungan di tempat kerja, tapi juga hubungan sama seperti kita."


"Aku pikir ... semuanya berjalan dengan baik, akhirnya kakakku yang selalu dingin dan cuek sudah punya pasangan. Tapi hari ini ...." Tiba-tiba saja Liana berhenti bicara, air matanya kembali jatuh. Seolah tak mampu untuk melanjutkan bicaranya.


"Sudah ... jangan menangis lagi, mau menangis sampai kapan, hm?" bujuk Ian sambil menggenggam sebelah tangan Liana. Tangan gadis itu terasa dingin karena terlalu lama berada di luar dan terkena angin malam.


"Hari ini mereka berdua bertengkar. Dan aku andil dalam pertengkaran itu. Aku menelepon kakakku dan berpura-pura untuk membuatnya panik ... supaya dia mau pulang ke rumah dan bertemu dengan kak Mayra. Aku pergi dari rumah dengan niatan memberikan ruang bagi mereka untuk berbicara."


"Tapi ... saat aku mau pulang, di jalan aku lihat ada keramaian. Ternyata keramaian itu terjadi karena ada orang yang terserempet mobil. Itu adalah kak Leon dan kak Mayra. Aku bersyukur karena mereka berdua selamat, tapi ... aku kaget saat dokter menyatakan kalau kak Mayra keguguran."


"Di sinilah aku mulai kecewa pada kakakku. Aku tahu jika aku masih kecil, sedangkan kak Leon sudah dewasa dan punya dunianya sendiri. Tapi ... tak aku sangka kalau kakakku akan berbuat seperti ini."


"Dan andai saja ... andai saja saat itu aku tidak jadi menipu kak Leon, mungkin saja mereka tidak akan pernah bertengkar dan kak Mayra tak perlu mengalami keguguran. Ini semua salahku ... jika saja aku tidak menipu kakak, ini semua tidak akan terjadi ...." Tubuh Liana kembali gemetar, dia tak kuasa untuk membendung air matanya lagi.


Ian yang merasa prihatin langsung memberi pelukan, menepuk-nepuk pelan punggung Liana supaya dia tenang. "Liana ... aku tidak bisa berkata banyak soal masalahmu. Aku cuma orang luar yang masih tak punya hak untuk terlalu mencampuri urusan keluargamu. Hanya saja ... tolong jangan salahkan dirimu sendiri. Ini bukan salahmu ...."


"T-tapi ... jika ini bukan salahku, lalu salah siapa?! Siapa yang mesti disalahkan?! Gara-gara kejadian ini, kak Mayra jadi menderita!" bantah Liana dalam tangisnya.

__ADS_1


"Tidak perlu menyalahkan siapa pun, semua yang sudah terjadi itu karena memang sudah seharusnya terjadi. Ini bukan salahmu, dan kamu jangan terlalu kecewa pada kakakmu .... Aku tahu jika kakakmu sudah melakukan sesuatu yang melewati batas. Tetapi, hal seperti itu pun harusnya juga ada alasannya. Jadi ... setidaknya kamu bisa dengarkan penjelasan kakakmu dulu."


"Kamu lari ke tempat ini dan tidak bilang padanya. Kembalilah Liana, aku tahu jika kamu berhak sedih, tetapi jangan egois. Jangan buat masalah lain lagi dan membuat kakakmu khawatir," ucap Ian dengan nada lembut. Berharap agar hati pacarnya itu luluh.


Liana menganggukkan kepala, seolah dia paham dan menerima saran baik dari Ian. "B-bolehkah aku menangis di sini sebentar lagi?"


"Boleh, tapi janji hanya sebentar, oke?"


"Iya, terima kasih banyak Ian. Aku beruntung kenal kamu ...."


***


Di sebuah taman milik rumah sakit. Saat ini taman yang biasanya digunakan untuk mencari udara segar bagi para pasien itu sedang dalam keadaan sepi. Leon seorang diri duduk di sebuah bangku, pikirannya teramat penuh. Tadinya dia sempat keluar dan membeli rokok, kini dia mengisap rokok itu dan sudah menghabiskan 3 batang.


Namun, tiba-tiba saja ada seorang pria yang berseragam perawat mendekat ke arahnya. Dengan nada hormat, perawat itu pun berkata, "Permisi, apakah Bapak adalah keluarga dari pihak pasien dari kamar VIP Nomor 16?"


"Ya," jawab Leon spontan. Dia ingat betul di mana kamar rawat yang Chelsea tempati.


"Maaf, tetapi bisakah Bapak ikut saya sebentar?" tanya perawat itu lagi.


"Kenapa? Bukankah aku sudah mengurus administrasi dengan tuntas?" tanya Leon dengan tatapan dingin. Seolah merasa terganggu dengan kehadiran perawat ini.


"Bukan, Pak. Saya meminta Bapak bukan karena persoalan administrasi. Tetapi, kami dengan cermat terus memantau bagaimana kondisi pasien. Dan kondisi pasien keluarga Bapak, saat ini keadaannya tidak terlihat baik. Pasien tidak mau makan ataupun minum, tetapi hanya diam dan melamun dengan tatapan kosong. Saya pikir kondisi seperti ini terlalu berbahaya karena pasien baru saja mengalami keguguran. Jadi saya sarankan, Bapak selaku keluarga bisa memberikan dukungan moral pada pasien," jelas sang perawat yang merasa kengerian dari tatapan Leon.


"Baiklah, aku akan ke sana. Kau bisa pergi!"


Perawat itu pun bergegas pergi setelah menyampaikan maksudnya. Sedangkan Leon, dia langsung mematikan rokoknya yang masih sisa setengah sambil bergumam, "Dukungan moral? Apakah dia masih mau menerima dukungan dariku?"


Meskipun dipenuhi oleh keraguan, Leon berharap jika Chelsea masih mau mendengarkan dirinya. Akan tetapi, begitu dia tiba di koridor yang sudah dekat dengan ruang rawat Chelsea. Dia melihat sesuatu yang begitu mengejutkan sampai kedua matanya melotot seketika.


"Kau!!" teriak Leon yang langsung menyerbu pria itu. Akan tetapi, pria itu dengan tangkas menangis tinju keras yang Leon berikan.


"Kenapa kau di sini?!" bentak Leon dengan tatapan membunuh.


"Bukan urusanmu, sialan!" umpat pria itu balik tanpa rasa takut. Dengan cepat dia melayangkan tinju lain ke arah perut Leon, Leon yang menyadari itu pun segera mundur dan menjaga jarak supaya meleset.


"Siapa yang mengirimmu ke sini, No Reason?" tanya Leon yang bersiap mengeluarkan senjata tajam yang dia sembunyikan.


"Sudah kubilang bukan urusanmu, Mad Dog!" jawab pria itu lagi yang bersikukuh tak mau mengatakan yang sebenarnya. Dia juga menyadari postur tubuh Leon yang bersiap mengeluarkan senjata. Dia paham dan juga berinisiatif mengeluarkan belati yang dia sembunyikan sendiri.


"Cih, awas kau!"


Keduanya tanpa ragu mengeluarkan belati tersembunyi mereka masing-masing. Saling beradu tinju, tendangan dan melancarkan serangan sayatan. Pada awalnya keduanya tampak imbang, tetapi lambat laun No Reason tampak lebih unggul. Dia menyadari di bagian mana tangan Leon yang sebelumnya telah terluka karena terserempet, jadi dia memanfaatkan hal itu untuk membuat konsentrasi Leon pecah.


"Sial! Licik sekali kau!" seru Leon seraya melancarkan serangan sayatan tepat di wajah No Reason.


Akan tetapi, sekali lagi dia berhasil menghindar dari serangan itu. Sayatan Leon hanya berhasil mengenai tali masker yang terpasang, kini wajah asli No Reason telah sepenuhnya terlihat. Mereka berdua sama-sama mundur, saling menatap tajam dan mengatur napas.


"...." Leon diam seribu bahasa, terus berpikir sembari mengamati No Reason jika saja dia tiba-tiba menyerang.


'No Reason' sebuah kode nama yang punya artian khusus. Pria ini diberi julukan itu karena dia adalah seseorang yang mempunyai karakter unik. Dia pandai bertarung dan suka membuat masalah bagi orang lain, tetapi dia melakukan semua itu karena tidak ada alasan.


Dia memukul orang tanpa alasan, melecehkan orang tanpa alasan, dan bergabung dalam organisasi tanpa punya alasan. Namun, sang ketua berhasil membuatnya tunduk karena telah memberikan sebuah alasan baginya yang tidak bisa dia tolak. Tak ada seorang pun yang tahu soal apa yang jadi alasannya kecuali dia sendiri dan sang ketua.


Orang yang tidak punya alasan, ini sudah menjadi ciri khas lain selain adanya tato tengkorak kecil di pelipis kanannya. Semua anggota mengenali sosok No Reason dari ciri khas ini. Dan lagi, dia sama-sama seorang elite sama seperti Leon. Jika Mad Dog berasal dari Divisi 2, maka No Reason berasal dari Divisi 4.

__ADS_1


Leon yang mengetahui informasi ini langsung berpikir, jika yang mengutus No Reason adalah salah seorang Family yang bertanggung jawab atas Divisi 4. Bisa jadi itu Damar, Hendry atau Faris.


"Sial, tidak bisa terus begini!" Leon akhirnya memutuskan untuk melancarkan serangan lagi. Dia ingin segera mengakhiri ini semua sebelum memancing perhatian dari pihak rumah sakit.


Pertarungan di antara keduanya makin memanas, bahkan semakin berisik. Keributan yang Mad Dog dan No Reason lakukan berhasil memancing seorang security rumah sakit untuk muncul.


"Berhenti kalian berdua!" teriak security dari kejauhan. Dia sendiri yang hanya petugas keamanan biasa merasa tidak percaya diri, untuk ikut campur ataupun melerai perkelahian di antara kedua pria itu.


"Apa?" Perhatian No Reason teralihkan karena teriakan security itu. Leon yang menyadari adanya kesempatan langsung memukul No Reason mundur.


BRAK!


Punggung pria berbadan kekar itu menabrak dinding dengan keras. Begitu dia kembali siap, sebuah ujung tajam dari belati sudah ada di dekat lehernya.


"Ayo katakan! Katakan siapa yang mengirimmu!" pinta Leon sambil menekan tubuh No Reason lebih kuat, kakinya juga mengunci pergerakannya supaya lawannya tidak bisa melawan lagi.


"Heh, dalam mimpimu!" No Reason menyeringai, dia tak takut dan malah semakin memancing amarah Leon.


"Jangan menguji kesabaranku!" Leon tak cuma menggertak, bahkan dia mendekatkan ujung belati itu lagi. Begitu dekat sampai menyayat kulit leher No Reason. Darah mengalir, tetapi Leon tahu batasan supaya sayatan jangan sampai terkena urat nadi. Namun, jika No Reason tetap bersikukuh tutup mulut, dia akan mendekat sendiri dan bunuh diri.


"Baik, baiklah ... akan aku katakan ...." jawab No Reason dengan cara bicara yang hati-hati. Dia tak mau terlalu banyak bergerak dan belati itu menyayat lehernya lebih dalam lagi.


"Katakan dengan jujur!" ucap Leon penuh penekanan sambil menjauhkan belati itu dari leher No Reason.


"Ketua, ketua yang menyuruhku untuk mengawasi wanita itu," jawabnya dengan ekspresi terdesak. Jauh di lubuk hatinya, dia merasa kesal sekaligus malu lantaran sudah ditekan oleh Leon.


Sejenak Leon tertegun, dia salah mengira jika No Reason ditugaskan bukan untuk mengawasi dirinya. "Kenapa ketua menyuruhmu mengawasi Chelsea? Kenapa bukan mengawasiku?"


No Reason tersenyum licik. "Tentu saja wanita yang kau sebut Chelsea itu harus diawasi. Karena ulahnya sendiri yang pernah mengajukan pengunduran diri, dia dalam masa pengawasan atas perintah Kepala Divisi 2. Tetapi ... sekali lagi aku katakan kalau aku mengawasinya karena perintah ketua. Harusnya kau sudah tahu artinya jika masih ada orang lain lagi yang mengawasi wanita itu."


"Aku tahu itu, aku juga tahu jika keadaannya saat ini sudah diketahui oleh para Family! Yang ingin aku tahu, kenapa ketua menyuruhmu? Apa ketua ingin membunuhnya lewat kau?" tanya Leon dengan tatapan tajam.


"Haha, jika ketua menginginkan itu, tentu saja dengan senang hati akan aku lakukan!" No Reason terkekeh, dia masih bisa tertawa tanpa memedulikan darah yang terus mengalir keluar dari lehernya.


"Kau ....!!" Leon tak puas dengan jawaban itu, dia lalu mendekatkan belati miliknya lagi untuk mengancam No Reason.


"Kenapa? Kau mau marah dan membunuhku demi wanita itu? Hehe, silakan saja. Aku adalah utusan ketua, dengan membunuhku sama saja kau berkhianat padanya. Harusnya kau tak perlu penjelasan dariku soal bagaimana organisasi menyikapi seorang penghianat. Dibunuh, lalu keluarga diincar dan hidupnya jadi lebih menyedihkan dibanding anjing jalanan."


"...." Leon membisu, dia tak bisa membantah apa yang No Reason katakan. Mau tak mau dia harus mengakui jika membunuh pria ini, maka dia akan menuju jalan untuk bunuh diri.


No Reason yang menyadari rasa putus asa dari Leon kemudian berkata, "Hei, Mad Dog! Aku beri tahu kau, jangan macam-macam. Kau sedang diawasi, bukan cuma oleh satu orang. Aku bisa menyusup ke sini dengan mudah berkat bantuan yang lain. Seluruh staff ruang kendali sudah dilumpuhkan, seluruh CCTV sudah mati, jadi kau tak perlu khawatir soal perkelahian kita ini. Hanya saja ... kau perlu membereskan security yang sejak tadi melihat kita dari jauh. Cepat lepaskan aku sebelum dia memanggil security yang lain! Kau tidak mau kalau aku harus melakukan pembantaian di rumah sakit, kan?"


"Huh!" Leon mendengus kesal. Terpaksa dia melepaskan No Reason dari cengkeramannya. Saat No Reason hendak melangkah pergi, Leon tiba-tiba kembali berkata, "Tunggu sebentar!"


"Apa?" tanya No Reason dengan nada malas.


"Sampaikan pada ketua, jangan mengawasiku ataupun meragukan aku. Aku sudah berjanji tidak akan pernah mengkhianatinya!"


"Hahaha, baiklah. Kudengar kau diberi waktu seminggu. Keputusan finalmu adalah saat itu. Jika saja ucapanmu barusan didengar ketua, mungkin kau hanya akan ditertawakan olehnya."


No Reason dengan cepat melangkah pergi, dia juga kembali memakai masker cadangan yang sudah dia siapkan. Bahkan dia dengan santainya melewati petugas security yang sejak tadi tak berpindah tempat.


"...." Security itu terus diam dan berkeringat dingin. Dia begitu takut untuk berhadapan dengan No Reason, dia makin merinding saat melihat pria itu sama sekali tidak kesakitan dengan luka di lehernya.


"Pak Security," panggil Leon sambil melangkah mendekat.

__ADS_1


"K-kau mau apa?" tanya Security itu dengan sekujur tubuh yang gemetaran.


__ADS_2