Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Hidup Seperti Boneka


__ADS_3


"Hahh ... Luciel sekarang sedang apa, ya?" gumam Chelsea yang kini sedang berada di balkon kamar hotelnya sendirian.


Malam yang memesona kembali tiba. Suasana yang begitu menenangkan mengiringi keindahan suasana kota S di kala malam. Langit cerah dihiasi oleh gemerlap bintang-bintang yang bertebaran, menemani anggunnya sang dewi malam yang sepenuhnya tampak bulat bersinar terang, menebar cahaya yang berkilauan. Jika diingat, sudah dua purnama dia lewati tanpa hadirnya orang tersayang.


Semilir angin bertiup meliuk-liuk menggoyangkan dahan pepohonan, hawa dingin serasa menusuk kulit. Sayup-sayup terdengar suara serangga yang saling bersahutan, bagaikan irama simfoni alam yang mengusik sepinya malam.


Jiwa-jiwa yang kelelahan sudah terlelap dan merangkai mimpi dalam tidur mereka. Sementara saat ini Chelsea masih tampak terjaga, berdiri di balkon kamar sendirian menatap kesunyian malam, terdiam dalam indahnya kedamaian penuh ketenangan. Meskipun lelah, tiada malam yang dia lalui tanpa merindukan putra kecilnya tersayang.


Dia berpikir dalam lamunan, menerka-nerka apa yang saat ini dilakukan oleh putranya yang kabarnya entah bagaimana. Apakah dia masih menatap bulan yang sama, bersama siapakah dia, bagaimana keadaannya, dan apakah dia juga merasakan perasaan rindu yang menyiksa.


"Luciel ... mami merindukanmu," gumamnya sekali lagi. Ada genangan air yang memenuhi di pelupuk matanya, dadanya terasa sesak setiap kali memikirkan bagaimana nasib putra kecilnya yang telah dia rawat dengan penuh kasih sayang. Dia tak kuasa saat membayangkan dia menghadapi dunia yang luas ini sendirian.


"Kau belum tidur?" tanya Leon yang tiba-tiba saja membuyarkan rasa sedih Chelsea.


"Eh?!" Seketika Chelsea berpaling, mengusap air mata yang belum sempat terjatuh dari pelupuk matanya. Dia tidak ingin sisi rapuhnya dilihat oleh Leon lagi.


"Dia menangis?" gumam Leon dengan tatapan heran. Di hatinya seketika muncul niat untuk menghibur wanita itu lagi. Tiba-tiba saja dia melompati pagar pembatas balkon dan mendarat di seberang dengan mulus, tepat di mana Chelsea saat ini berada.


"Leon!" teriak Chelsea dengan spontan. Tubuhnya dengan refleks maju dan juga mengulurkan kedua tangan seperti berjaga-jaga jika pria itu akan terjatuh.


"Apa? Aku baik-baik saja," ucap Leon dengan entengnya.


"Humph! Kau mengagetkan aku! Tadinya aku khawatir kalau kau akan jatuh, tapi percuma saja. Aku lupa kalau kemampuanmu jelas-jelas lebih hebat dariku!" Seketika Chelsea kembali bersikap acuh tak acuh.


"Jangan terlalu merendah begitu. Selama kita menjalani tugas di sini, jelas-jelas kontribusimu lebih banyak daripada aku," ucap Leon yang kemudian berpindah dan berdiri tepat di samping Chelsea. Dia juga menatap ke depan sama seperti ke mana arah wanita itu menatap.


"Kontribusi yang mana?" tanya Chelsea.


"Memangnya soal apa lagi? Tugas kita di sini adalah untuk mengosongkan Distrik Timur 12. Dan sebelumnya kita semua telah menangkap sekelompok orang yang mencoba melawan dan menghalangi tugas kita waktu itu. Mereka semua kita tangkap karena bersikeras tidak mau menyerahkan tanah mereka. Tapi kau, aku tak tahu apa yang kau lakukan pada mereka, sampai lebih dari separuhnya percaya padamu. Mereka mau mendengarkanmu agar menyetujui proyek pembangunan ulang ini. Sebenarnya cara penyiksaan seperti apa yang kau pakai untuk sekelompok orang keras kepala itu?" tanya Leon penasaran.


"Aku mana ada melakukan cara penyiksaan? Yang aku lakukan cuma memberikan pengertian lebih kepada mereka setiap hari. Tentu saja agar mereka juga memikirkan nasib yang akan mereka pilih sendiri. Lagi pula ... tidak ada gunanya jika mereka terus menerus melawan," jawab Chelsea dengan sedikit canggung.


Selama tiga minggu terakhir ini Chelsea memang berusaha lebih keras untuk jadi yang terbaik. Tak cuma melakukan tugasnya di lapangan dengan sungguh-sungguh, tetapi dia melakukan sebuah tugas tambahan untuk membujuk dan meyakinkan para masyarakat yang ditangkap dan ditahan.

__ADS_1


Pada dasarnya Chelsea adalah seorang pebisnis, jiwa sebagai pebisnis sudah seperti mendarah daging pada dirinya. Dengan kemampuan bawaannya ini, dia mempunyai cara tersendiri dalam meyakinkan para masyarakat yang membangkang itu. Chelsea memberitahu dan memberikan semua pengertian tentang untung dan ruginya mereka menerima pembangunan ulang lahan.


Sampai sekarang usaha Chelsea tersebut cukup membuahkan hasil. Sebagian besar dari mereka akhirnya mau untuk memberikan persetujuan mereka dan menandatangani proyek pembangunan ulang di daerah tercinta mereka. Tentu saja awalnya tidak mudah, karena semua orang-orang itu sangat berkemauan keras mempertahankan tempat tinggal mereka, meskipun rumah mereka sudah terbilang tidak layak untuk dihuni lagi.


"Hei, ngomong-ngomong kenapa kau tadi menangis?" tanya Leon yang seketika menyadarkan Chelsea dari lamunan.


"Ah, jadi kau melihatnya, ya?" tanya Chelsea yang salah tingkah. Dia benar-benar merasa malu saat sisi rapuh yang selalu ingin dia sembunyikan sekarang ketahuan untuk yang kedua kalinya oleh orang yang sama.


"Aku lihat dengan jelas, cuma orang buta yang tidak akan melihatnya. Apa kau menangis karena hal yang sama seperti saat itu?" tanya Leon penasaran.


"T-tidak, kok!" sanggah Chelsea dengan spontan. Sekarang dia bertambah lebih malu lagi, karena Leon malah mengingatkan dirinya soal kejadian di atap gedung waktu itu. Chelsea langsung merasa aneh saat mengingat jika dirinya pernah bersandar di bahu Leon hampir sepanjang malam.


"Lalu karena apa?"


"Emm ... aku cuma merindukan putraku yang hilang. Aku tadi teringat kalau biasanya sekarang itu adalah saatnya aku membacakan cerita pengantar tidur untuknya. Dan terkadang ... dia berinisiatif untuk membaca sendiri lalu menceritakan padaku apa saja yang dia baca," jawab Chelsea dengan senyuman tipis yang tersungging di bibirnya. Dia merasa jika mengingat kenangan manis itu saja sudah mampu membuatnya bahagia.


"Ohh, kau memang ibu yang baik." Leon juga tersenyum tipis, namun bukan kenangan manis yang terbesit di pikirannya, justru kenangan sedih yang dia ingat. Dia teringat kepada sosok ibu yang telah membuangnya dan adiknya saat itu. Ibunya meninggalkan banyak hutang kepadanya dan justru lebih memilih pergi demi menjadi simpanan dari pria kaya. Sampai sekarang Leon tak tahu di mana keberadaan dan kabar ibunya itu, bahkan dia dan Liana sama-sama menganggap jika sosok ibu yang telah membuang mereka telah mati.


"Mayra, ngomong-ngomong siapa nama anakmu? Sampai sekarang kau belum memberitahuku," tanya Leon yang hendak mencari topik pembicaraan lain.


"Lalu sekarang, apa kau menyesal?" tanya Leon dengan tatapan serius.


"Ya, aku menyesal saat dia menghilang dari hidupku. Dan aku juga-"


"Bukan itu yang aku maksud!" celetuk Leon yang memotong perkataan Chelsea.


"Lalu yang kau maksud itu soal apa?" tanya Chelsea dengan tatapan bingung.


"Tadi kau bilang kalau kehidupanmu yang sebelumnya seperti boneka. Dan kau bertekad untuk memulai hidupmu yang baru. Akan tetapi, sekarang kau jadi seorang gangster, dunia menganggap jika gangster adalah sesuatu hal yang buruk. Jadi, aku tanya apa kau sekarang menyesal karena jadi gangster dan tujuanmu untuk memulai kehidupan yang baru tidak tercapai?" Leon menatap lekat-lekat dan penuh kesungguhan.


Kali ini pertanyaan yang Leon ajukan benar-benar serius. Setelah mendengar cerita Chelsea barusan, entah kenapa timbul rasa bersalah dari lubuk hatinya. Dia berpikir begitu lantaran wanita yang ada di depannya ini menjadi gangster karena dirinya. Jika wanita yang saat ini dia anggap cukup penting itu merasa menyesal, mungkin saja Leon tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"...." Sejenak Chelsea masih tertegun, dia tidak percaya jika saat ini Leon begitu memedulikan bagaimana kehidupannya. Lalu, tiba-tiba saja Chelsea tersenyum. Mengalihkan pandangannya dari Leon dan kembali menatap udara kosong yang ada di depannya.


"Emm ... bagaimana ya menjawab pertanyaanmu itu. Soalnya bagaimanapun ... menjadi seorang gangster itu sama sekali tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Dan jujur saja, kehidupan baru yang aku inginkan bukan seperti yang kau bayangkan."

__ADS_1


"Memiliki anak, menikah dengan seorang pria yang setia, punya rumah sendiri, penghasilan yang cukup, selalu bahagia tanpa ada masalah. Bukan itu semua yang aku inginkan. Satu-satunya yang aku inginkan adalah ... kebebasan!"


"Haha, mungkin menjadi gangster sangat dekat dengan yang disebut sebagai kebebasan. Karena gangster cenderung suka melanggar aturan. Akan tetapi, bukan kebebasan yang seperti itu juga yang aku inginkan. Kebebasan yang aku inginkan adalah aku bebas memilih pilihan hidupku sendiri. Aku tidak mau dipaksa melakukan sesuatu yang tidak aku suka dan bertentangan dengan prinsipku."


"Aku jadi gangster karena akulah yang memohon kepadamu, Leon. Dan sekarang, aku punya akses ke mana pun yang aku mau. Aku bisa belajar cara bertarung untuk melindungi diriku sendiri. Aku jadi belajar dan tahu banyak hal yang sebelumnya tak pernah terbayangkan olehku. Dan semua itu karena kau, Leon. Dan terlebih lagi mempunyai rekan sepertimu, sepertinya tidak buruk juga. Jadi ... aku tidak menyesal!"


Sekali lagi Chelsea tersenyum. Untuk saat ini benar adanya jika dia tidak menyesali apa saja yang telah terjadi padanya. Bahkan, dengan mengenal Leon, dia merasa kini ada seseorang yang bisa dia jadikan sandaran. Seperti halnya sekarang, perasaannya sudah jauh lebih baik karena dia telah berbagi cerita yang membuat rasa sesak di dadanya.


"Terima kasih!" Sontak saja Leon merasa lega sekaligus senang, dia senang karena ternyata dia sama sekali tidak menyebabkan kehancuran bagi wanita yang ada di depannya ini. Bahkan saking senangnya, tanpa sadar dia memeluk Chelsea dengan kedua tangannya yang kekar itu.


"Eh?! L-Leon ...?! A-apa yang sedang kau ...." Chelsea gelagapan. Dia merasa bingung sekaligus tersipu, jantungnya juga ikut berdetak lebih cepat.


"A-aku ..." Seketika Leon membelalak. Dia baru sadar jika dia bertindak di luar kendali. Dengan cepat dia melepaskan pelukannya dari tubuh Chelsea. Wajahnya juga merah merona layaknya seperti kepiting rebus.


"M-maaf! A-aku cuma ... cuma berterima kasih karena kau tidak menganggapku sebagai penjahat! B-barusan itu ... karena ... karena aku simpati pada kisah hidupmu saja! I-itu saja! Jadi jangan salah paham! A-aku tidak ada maksud apa-apa padamu!" ungkap Leon terbata-bata.


Kedua orang itu tidak tahu harus berkata apa di situasi canggung seperti sekarang. Terlebih lagi Leon, dia sudah seperti kehilangan akalnya. Tanpa peringatan apa pun, tiba-tiba saja Leon berbalik. Kembali melompat melewati pagar pembatas balkon dan dia bergegas kembali masuk ke kamarnya sendiri.


"Sampai jumpa besok! Jangan sedih lagi dan cepat tidurlah! Besok kau masih harus bekerja!" teriak Leon yang wujudnya kini tak lagi tampak.


"I-iya, aku akan tidur ..." jawab Chelsea dengan nada pelan. Dia masih saja berdiam diri di balkon meskipun angin semakin bertiup dingin. Tentu saja dia seperti itu karena ulah Leon kepadanya barusan. Chelsea masih sulit untuk mempercayai apa yang terjadi barusan kepadanya.


Astaga, tadi Leon memelukku! Tapi kenapa?! Kalau dia simpati padaku kenapa harus sampai memelukku? Dan kenapa dari tadi jantungku masih berdegup kencang? Dan lagi ... ini juga pertama kalinya ada pria yang memelukku selain kak Liam.


Tiba-tiba saja Chelsea menampar pipinya sendiri. "Bodoh! Aku tidak boleh seperti ini! Aku bukan anak baru puber!"


Chelsea menampar pipinya sendiri karena bermaksud untuk menyugesti diri sendiri agar tidak bertingkah berlebihan seperti biasanya. Namun, kali ini dia gagal. Jantungnya masih berdegup kencang, dan akhirnya dia pun lari masuk ke dalam kamar dengan pipinya yang merona. Merona sebab malu, bukan karena tamparan barusan.


Di sisi lain yang masih tak jauh dari sana. Tepat di sebelah kamar di mana Chelsea berada, Leon masih panik dan tidak percaya dengan apa yang barusan dia perbuat. Dia terus memandangi kedua tangannya yang telah berbuat lancang sambil berjalan mondar-mandir tidak jelas.


"Sial, barusan tadi itu aku kerasukan setan macam apa? Kenapa aku memeluknya tanpa sadar? Dasar bodoh, sekarang besok aku harus bagaimana saat bertemu dengannya?" gumam Leon yang memaki dirinya sendiri.


Tidak boleh, aku tidak boleh seperti ini. Aku dan dia cuma sebatas rekan, aku tidak boleh melewati batasan ini. Meskipun ...


"Meskipun Liana benar, sepertinya aku memang menyukai Mayra ...."

__ADS_1


__ADS_2