
BAANGG!!
Suara keras bantingan pintu besi terdengar tiba-tiba, membuat Chelsea langsung mendongak yang tadinya tertunduk lesu. Datang seorang pria yang berseragam seperti penjaga club dari balik pintu, membawakan sebuah nampan berisi makanan dan minuman yang kemudian ditaruh di dekat Chelsea.
"Makan ini!" ucap penjaga itu dengan tatapan tajam.
"Daripada repot-repot memberiku makan, kenapa tidak keluarkan aku saja?" tanya Chelsea sambil menatap makanan itu tanpa selera.
"Cepat makan dan habiskan!" bentaknya yang kemudian kembali menutup pintu dan berjaga di luar.
Sedangkan Chelsea, dia hanya diam dan menatap makanan itu. Tiba-tiba dia teringat sesuatu hingga membuat tubuhnya gemetar dan menangis.
"Bagaimana aku bisa makan di saat aku tak tahu anakku sudah makan atau belum ... Sudah jam berapa ini? Kau baik-baik saja, kan? Luciel pasti khawatir karena aku tak kunjung pulang ...."
"Maafkan mami Luciel, tolong maafkan mami ...."
***
BRUMMM!
Sebuah mobil Porsche Convertible berwarna merah dengan atap yang terbuka melaju kencang di tengah jalanan kota. Luciel yang kini menaiki mobil itu memegang erat topinya agar tidak terbang tertiup angin malam.
"Kak Nisa! Apa bisa lebih cepat?" tanya Luciel dengan tatapan polosnya.
"Haha, tentu bisa! Kakak ini juga seorang pembalap!"
"Yey! Asyik!"
Nisa semakin menaikkan kecepatan mobil yang dia kendarai, entah kenapa dia begitu senang memamerkan kehebatannya di hadapan anak kecil seperti Luciel.
Di satu sisi Luciel sendiri juga merasa senang sekaligus takjub. Seumur hidup baru pertama kali ini dia menaiki mobil mewah dan secepat ini, dia yang sebelumnya hanya bisa memiliki mainan mobil-mobilan, tak pernah terbayangkan bisa menaiki mobil yang dia impikan.
"Kak Nisa!" panggil Luciel lagi.
"Ya, sayang?"
"Apa mobil ini juga bisa berubah jadi robot seperti di film? Luciel suka menonton film robot!"
"Hahaha, mobil ini tidak bisa berubah jadi robot. Tapi Luciel tenang saja! Saat tiba di rumah nanti, akan Kakak tunjukkan mobil mainan yang bisa berubah jadi robot dengan remote control!"
"Woahh ... Luciel penasaran!" ucapnya antusias.
Selang beberapa menit kemudian mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Rumah milik Nisa berada di area perumahan elite, sedangkan tempat tinggal miliknya berada paling ujung. Di mana itulah sebuah villa mewah dengan halaman yang luas.
"Rumah Kakak seperti istana!" Luciel menatap takjub.
"Haha, ayo masuk!"
__ADS_1
Nisa langsung mengajak Luciel untuk memasuki rumahnya. Dan begitu mereka tiba di ruang utama lantai pertama, tiba-tiba ada seorang anak kecil laki-laki berlari dan memeluk kaki Nisa.
"Bundaaaa ...!" teriak bocah itu dengan senyum bahagia.
"Kenapa bunda lama sekali?" tanya anak itu dengan tampang cemberut, seolah-olah sedang menagih penjelasan yang pantas.
Nisa mengusap kepala putranya dan tersenyum lembut. "Maaf ya sayang, Bunda janji lain kali tidak akan selama ini."
"Janji, ya!" ucap bocah itu sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
"Iya, Bunda janji!" jawab Nisa yang kemudian mengaitkan jarinya pada jari putranya.
"Keisha sayang Bunda!" Keisha hendak memeluk bunda nya sekali lagi, namun dia tersadar jika ada seseorang yang sejak tadi berdiri di belakang Nisa.
"Heum? Bunda, dia siapa?" tanya Keisha sambil menuding ke arah Luciel.
"H-halo ..." sapa Luciel malu-malu.
Nisa kemudian bergeser, dia berjongkok dan merangkul kedua bocah itu. "Keisha tidak lupa bukan soal yang Bunda ajari?"
"Ah ..." Keisha tersadar akan sesuatu, dia ingat jika Nisa mengajarinya untuk selalu supel dan berkenalan sendiri. Dia lalu mengulurkan tangan seakan ingin mengajak Luciel berjabat tangan.
"Salam kenal, namaku Keisha Etrama Kartawijaya. Umurku 5 tahun, aku sekolah di TK Langit Biru."
Luciel pun juga mengulurkan tangan dan berjabat tangan dengan Keisha. "Salam kenal juga Keisha, senang bertemu denganmu. Namaku Luciel, umurku 6 tahun. Aku belum sekolah, tapi mami-ku bilang sebentar lagi aku akan sekolah!"
Nisa lalu beralih menatap putranya, mendekat dan kemudian berbisik, "Keisha, bunda membawa Luciel ke rumah kita karena kasihan. Dia baru seminggu pindah ke negara ini, tetapi dia tersesat. Bunda tidak tega membiarkannya sendiri, jadi untuk sementara dia kan berada di rumah ini. Keisha senang mendapat teman baru, kan? Nanti jika ayah bertanya, Keisha harus membela bunda!"
"Emm ... baiklah!" jawab Keisha sambil mengangguk.
"Nah, begini baru anak bunda!" Nisa tersenyum puas dan mengacungkan jari jempol pada putranya.
Nisa lalu beralih menatap Luciel. "Luciel jangan sungkan, ya! Keisha akan mengajakmu berkeliling, untuk sementara kau juga bisa berbagi kamar dengannya."
"Terima kasih Kakak!" ucap Luciel dengan senyuman polos, dia sungguh senang karena akhirnya mendapatkan teman pertama.
"Nah, aku akan pergi dulu, nanti aku akan antarkan susu untuk kalian berdua!" Nisa kemudian pergi, dia mempercayakan Luciel sepenuhnya pada putranya.
Namun saat Nisa tidak kelihatan lagi, tiba-tiba saja Keisha melangkah mendekat dan mengendus-endus Luciel. "Ihh ... bau keringat! Luciel belum mandi ya!"
"Belum, maaf ya jika Luciel bau ...." Luciel menunduk, dia merasa canggung sekaligus malu lantaran dibilang bau oleh teman pertamanya.
"Minta maaf apanya! Bau badan tidak akan hilang dengan itu! Ayo ke kamar Keisha! Luciel bisa mandi dan pakai baju Keisha!" Keisha langsung menarik tangan Luciel dan menyeretnya ke kamarnya.
"T-tapi Keisha ..." ucap Luciel dengan nada ragu.
"Tidak apa-apa! Tinggi kita hampir sama! Baju Keisha pasti muat untuk Luciel!" jawab bocah itu bersikeras.
"...." Luciel tersenyum, dia senang karena bertemu dengan Keisha yang begitu baik padanya.
__ADS_1
Dan ketika mereka berdua tiba di kamar, Luciel ternganga dengan kondisi kamar Keisha. Kamar yang luas dengan berbagai perabotan yang super lengkap, bahkan luasnya kamar itu sebanding dengan rumah yang selama ini Luciel tempati.
"Woww ... ini benar-benar kamarmu?" tanya Luciel.
"Iya, ini kamarku! Dan kamar mandinya di sebelah sana!" ucap Keisha seraya menunjuk ke salah satu pintu. "Oh iya, nanti baju kotor Luciel taruh di keranjang ya! Biar besok bisa dicuci oleh pelayan!"
"Ah, hampir saja Keisha lupa!" Keisha menepuk jidatnya sendiri, tiba-tiba dia berlari ke arah pintu lain. Saat pintu itu dibuka, ada sebuah ruangan lain lagi yang isinya berupa baju, sepatu, tas, dan lain-lain yang semuanya adalah milik Keisha.
Luciel yang penasaran akhirnya mengintip, dia terkejut saat melihat barang-barang yang ada di dalam sana.
"Keisha? Apa kamu adalah pangeran?" tanya Luciel dengan tatapan polosnya.
"Bukan kok! Oh iya, ini handuk untuk Luciel! Ingat yang ada gambarnya beruang coklat, kalau beruang biru milik Keisha! Luciel pilih saja mau pakai baju Keisha yang mana!" Keisha menyodorkan handuk dengan penuh semangat, dia sangat senang karena inilah pertama kali baginya ada seorang teman yang bertamu ke rumahnya.
Luciel pun mencoba membiasakan diri dengan lingkungan baru yang cukup jauh berbeda dengan kesehariannya selama ini. Saat dia selesai membersihkan diri, Nisa muncul dan membawakan 2 buah gelas susu putih.
"Ini untuk kalian, kalau sudah habis taruh saja gelasnya lagi di nampan. Bunda tinggal sebentar ya!"
"Baik Bunda!" jawab Keisha.
"Baik Kakak!" jawab Luciel.
Begitu Nisa pergi, Keisha langsung menatap Luciel dan berkata, "Kenapa Luciel memanggil bunda dengan sebutan kakak?"
"Karena dia bilang Luciel sebaiknya memanggil kakak!"
"Hem, benar juga sih ... Bunda-ku memang begitu, tidak suka dipanggil tante, bahkan bunda pernah marah karena itu. Dan apa Luciel tahu? Bunda-ku kalau marah mirip sama monster loh!"
"Benarkah?!" tanya Luciel seakan tidak percaya.
"Benar, Keisha tidak bohong! Monster kan suka menghancurkan kota! Bunda kalau marah juga menghancurkan apa pun! Yang bisa menghadapi bunda cuma ayahku!"
"Jadi ayahmu mirip monster yang lebih ganas?" Luciel penasaran, karena selama ini tidak ada sosok ayah di dalam hidupnya. Chelsea pun selalu bilang jika ayah adalah sosok tidak berguna dan paling jahat.
"Bukan! Ayah Keisha tidak mirip monster! Saat bunda marah, ayah cuma diam dan tersenyum, lalu bunda jadi tenang lagi."
"Sungguh?!"
"Iya! Ayah Keisha selalu bilang jika diam itu adalah emas! Karena itu ayah selalu diam saat bunda marah. Jadi- ughh ...." Tiba-tiba Keisha memegang perutnya.
"Sebentar ya Luciel! Keisha mau ke kamar mandi dulu!" Keisha langsung berlari ke kamar mandi dan meninggalkan Luciel begitu saja.
Karena bosan menunggu, Luciel pun melihat-lihat kamar. Perhatiannya tertuju pada sebuah rak buku yang berisi berbagai macam buku cerita. Sorot matanya berbinar karena hobi membacanya terpanggil. Dia lalu mengambil sebuah buku dan membacanya di meja belajar.
Tiba-tiba saja seseorang datang, dia tidak lain adalah ayah Keisha, Keyran Kartawijaya. Keyran masuk begitu saja ke kamar anaknya yang pintunya tak tertutup. Dia mendekati bocah yang sedang membaca di meja belajar itu
"Anak ayah rajin sekali belajar," ucap Keyran yang sontak saja membuat Luciel kaget sampai menoleh.
"Siapa kau?!" Keyran terkejut karena anak itu bukanlah putranya.
__ADS_1