
Selepas dari gereja, Chelsea pun kembali ke rumah Leon. Dia memasuki rumah yang tak terkunci itu, dan Chelsea sedikit merasa aneh lantaran sama sekali tidak melihat keberadaan Leon maupun Liana. Tetapi, Chelsea mengesampingkan hal itu dan mulai membersihkan rumah.
Mulai dari menyapu, mencuci piring, membereskan debu di segala perabot, hingga menyiram tanaman bunga yang ada di depan rumah. Saat Chelsea hampir selesai menyirami tanaman, tiba-tiba saja Leon muncul dari dalam rumah dengan memakai pakaian yang rapi.
Leon menatap heran, lantas berkata, "Kenapa kau masih di sini? Kukira kau pulang."
"Masih ada yang ingin aku bicarakan denganmu, jadi aku tak mungkin pulang," jawab Chelsea yang kemudian kembali fokus menyirami.
"Hei, apa yang kau lakukan? Hentikan itu sekarang juga! Aku tak butuh pembantu, jangan harap aku mau membayarmu meskipun kau membersihkan seluruh rumahku!"
"Tenang saja, aku melakukan semua ini karena cuma ingin membalas kebaikanmu. Lagi pula keahlianku terlalu berharga untuk aku sia-siakan jadi pembantu," balas Chelsea dengan nada seolah menyindir.
"Huh!" Leon mendengus kesal, mengunci pintu rumahnya dan berjalan cepat melewati teras. Chelsea yang menyadari hal itu pun langsung meletakkan penyiram tanaman, beralih mengejar Leon dan menahan tangannya.
"Tunggu sebentar, kau mau ke mana? Jika kau mau bertemu dengan bosmu, tolong bawa aku sekalian bersamamu!" pinta Chelsea dengan tatapan penuh kesungguhan.
"Apa? Jadi ini keputusanmu?" tanya Leon seakan tak percaya.
"Iya, ini keputusanku! Selama ini aku sudah hidup jadi imigran ilegal, aku selalu berpindah-pindah seperti kriminal. Sekarang sudah seperti ini, maka jadi kriminal sungguhan tidak masalah!"
Leon membisu dan tertegun sejenak, lalu tiba-tiba saja dia menyeringai dan melepaskan tangannya dari Chelsea. "Heh, baiklah! Tapi, aku tak akan bertanggung jawab jika nantinya kau menyesal!"
"Terima kasih!"
Leon lalu mengajak wanita yang ia ketahui sebagai Mayra untuk pergi bersamanya. Mereka berdua menaiki mobil pribadi milik Leon, tetapi saat itu lagi-lagi Leon dibuat kesal oleh Chelsea yang memutuskan untuk duduk di kursi belakang.
"Duduk di depan! Kau pikir aku ini sopirmu?!" bentak Leon.
"Ah ... maaf, aku tidak bermaksud begitu. Aku akan pindah," ucap Chelsea dengan canggung yang segera berpindah duduk di kursi depan.
Astaga, kebiasaanku saat masih menjadi nona besar ternyata belum hilang.
Leon langsung menginjak gas begitu Chelsea naik, entah kenapa dia merasa jika wanita yang kini duduk di sampingnya tidak sesederhana yang dia kira. Namun, Leon lebih memilih memendam rasa penasarannya dan diam. Alhasil selama di perjalanan, sama sekali tak ada percakapan di antara mereka.
__ADS_1
Namun, ketika sudah dekat dengan tempat tujuan, tiba-tiba saja Leon menginjak rem secara mendadak hingga membuat kepala Chelsea terbentur.
"Aahhh! Kau ini sedang apa?! Kenapa berhenti mendadak?!" protes Chelsea sambil mengusap keningnya yang sakit.
"Cepat turun!"
"Eh? Memangnya kita sudah sampai? Ini kan di tengah jalan, apa mungkin tempatmu itu semacam tempat rahasia yang tersembunyi?" tanya Chelsea penasaran.
"Tidak! Kita belum sampai, aku minta kau turun karena aku berubah pikiran. Aku sudah tahu apa motifmu! Kau pasti ingin merayu bosku dengan rupamu yang tidak seberapa itu!" bentak Leon sambil menuding ke arah Chelsea, dia yakin jika instingnya tidak salah.
"Apa?! Jangan asal menuduhku, ya! Aku bukan wanita murahan seperti itu, aku ini seorang wanita terhormat!" teriak Chelsea yang tidak terima dengan tuduhan Leon.
"Terhormat katamu?! Kau bilang jika anakmu menghilang. Lantas dari mana kau punya anak tanpa punya suami? Apa anakmu itu berasal dari benih pohon?!"
"Itu karena ..." sejenak Chelsea terdiam, lalu menelan ludah dan berkata, "S-suamiku sudah mati, dia dibunuh. Aku juga ingin membalas dendam atas kematian suamiku," ucapnya dengan gugup. Kebohongan yang dia utarakan sangat konyol mengingat jika dia saja tidak pernah berpacaran.
Namun, di satu sisi Leon tidak bicara ataupun berdebat lagi. Dia berpikir jika wanita yang sedang bersamanya memang kehilangan suami, oleh sebab itu mengapa dia jadi gugup saat mengatakannya.
"Hahh ..." Leon menghela napas, lalu kembali menjalankan mobil tanpa berkomentar apa pun lagi.
Pikirnya, seorang bos gangster pasti kejam, sangar dan suka membunuh tanpa pandang bulu. Chelsea juga mulai berpikir tentang cara antisipasi apa yang akan dia gunakan nanti jika seandainya dia kembali dicurigai.
Sebentar lagi aku akan memasuki dunia gelap, selama ini aku hanya di area abu-abu, jadi aku harus mengubah juga pola pikirku! Aku tidak boleh berpikir naif, jangankan menjadi kekasih dari bos mafia seperti di film, jika di dunia nyata mendapat perhatiannya saja pasti sudah susah.
Ini dunia nyata yang kejam, aku sendiri tahu betul bagaimana akhir dari wanita yang ada di gangster. Posisi wanita di gangster sangat rendah, kebanyakan hanya alat untuk memuaskan hasrat. Bahkan bisa dikatakan tak punya hak asasi manusia.
Aku tak tertarik menjadi wanita yang seperti itu, tujuanku adalah menjadi lebih kuat dan memperoleh kepercayaan. Jika aku menjadi berguna, dengan begitu maka aku akan jadi wanita yang punya otoritas! Tidak seperti wanita lain yang hanya jadi penghangat ranjang, yang bisa dibuang dan digantikan kapan saja.
Tak berselang lama kemudian mereka berdua tiba di tempat tujuan. Setelah Leon selesai memarkirkan mobilnya, dia lalu mengajak Chelsea untuk berdiri di sebuah kedai kopi. Kedai kopi itu memiliki papan nama yang besar, bertuliskan 'CIDA HOME'.
Leon mengeluarkan ponselnya, lantas seperti berbalas-balasan pesan dengan seseorang. Di sisi lain Chelsea sama sekali tidak berkomentar, dia berpikir jika Leon berencana untuk bertemu dengan atasannya di kedai kopi itu.
"Ayo masuk!" ajak Leon.
"B-baik," jawab Chelsea yang kini jantungnya berdetak lebih kencang. Dia gugup dengan apa yang sudah menantinya.
__ADS_1
Mereka berdua pun memasuki kedai kopi itu. Pandangan mata Chelsea tak henti-hentinya memperhatikan sekitar, dia menerka-nerka yang mana atasannya Leon di antara banyaknya pengunjung kedai.
Chelsea mulai merasa janggal ketika Leon sama sekali tidak memesan apa pun dan malah menuju ke pintu yang mengarah ke dapur. Kecurigaan Chelsea semakin menguat ketika semua pegawai yang ada di dapur menunjukkan rasa hormat mereka saat berpapasan dengan Leon.
"Leon ini sebenarnya siapa?" gumam Chelsea yang bergegas mengikuti langkah kaki Leon.
Langkah kaki Leon tiba-tiba berhenti saat melewati sebuah lemari es yang berukuran besar. Lalu dengan entengnya dia berkata, "Kita sudah sampai."
"Eh? Apa kau menipuku? Kau bilang jika kau itu gangster, tapi ternyata kau cuma koki!" ucap Chelsea yang seketika membuat pandangan orang lain mengarah padanya.
"Pelankan suaramu!" bentak Leon yang seketika membungkam mulut Chelsea. Dia membuka pintu kulkas itu dan mendorong Chelsea masuk ke dalam.
"A-apa?!" Seketika Chelsea terperangah, dia tidak menyangka akan ada sebuah ruangan lagi yang di balik kulkas itu.
"Ini sungguhan? Kukira hal seperti ini cuma ada di film," ucapnya yang masih sulit mempercayai keadaan.
"Simpan kekagumanmu yang kampungan itu, ayo ikut aku!" bentak Leon yang langsung berjalan melewati Chelsea.
"Baik!" jawab Chelsea sedikit kesal, dia tidak habis pikir jika mantan nona besar sepertinya akan dikatai kampungan.
Chelsea pun terus berjalan, di ruangan itu ternyata menyimpan sebuah anak tangga yang mengarah ke bawah tanah. Sebuah ruangan bawah tanah yang luas, bahkan Chelsea lagi-lagi dibuat kaget saat ada pria lain lagi yang berpakaian seperti Leon berjalan melewati mereka.
"Kaki yang mulus~" ucap pria yang barusan lewat.
"A-apa?!" Chelsea bergidik, dia sangat tidak nyaman dengan perlakuan seperti itu.
"Abaikan saja dia!" sahut Leon dengan tatapan tajam.
"Baik," jawab Chelsea sambil mengangguk.
Tahan Chelsea, tahan saja! Ini baru permulaan, jika kau benci pria itu, kau bisa membunuhnya di masa depan!
Batin Chelsea terus berkata, dia berusaha menyugesti diri sendiri untuk tetap memiliki tekat yang kuat menjalani pilihannya sekarang.
Leon kembali berhenti berjalan saat tiba di depan sebuah pintu besi. Dia berbalik menatap Chelsea dan berkata, "Masuklah, orang yang ingin kau temui ada di dalam."
__ADS_1
"Baik, aku mengerti."