
"Bubuubu ...." ucap si kecil Nora yang saat ini sedang bermain bersama dengan sang bunda. Dia juga memukul-mukul tombol sebuah mainan yang bisa mengeluarkan musik. Dia tampak antusias sekali mendengarkan suara lagu yang berganti setiap kali dia memukul.
"Haha, Nora suka sekali, ya? Untunglah Bibi Rinn menemukan mainan punya Keisha yang dulu. Ternyata masih awet sampai sekarang," ucap Nisa sambil melihat pada Bibi Rinn yang saat ini ikut membantunya menjaga putra kecil yang satunya, Noah.
"Tadi saya menemukannya di kardus bersama barang-barang yang hendak dibuang, sepertinya tuan muda Keisha tidak mau mainan itu lagi, makanya menaruhnya di dalam sana. Biasanya di jam-jam seperti ini dia suka sekali bermain dengan adik kecilnya, apalagi setelah mandi, pasti selalu dicium sampai menangis. Saat saya tanya kenapa begitu, dia menjawab kalau adiknya sangat wangi jadi tidak bisa berhenti mencium. Haha, menggemaskan sekali. Oh iya, tumben saya tidak melihatnya, memangnya sekarang di mana tuan muda Keisha berada?" tanya Bibi Rinn.
"Sekarang dia keluar bersama Natasha, tadi dia bilang kalau di sekolah dia sudah membuat janji dengan Luciel untuk menghadiri acara pameran buku. Aku harus menjaga si kembar di rumah, dan Keyran hari ini juga pulang agak terlambat. Hanya Natasha yang sepertinya punya waktu luang. Jadi, tadi Natasha dan Luciel menjemputnya ke sini, dia girang sekali asalkan bermain dengan Luciel."
"Ah, begitu ya." Bibi Rinn lalu tersenyum tipis dan berkata, "Saya yang sudah tidak muda lagi ikut bahagia melihat keadaan Nyonya saat ini. Saya telah bekerja di kediaman ini sejak Tuan Keyran belum menikah. Dan saya juga telah menyaksikan sendiri seperti apa perubahan Tuan Keyran setelah menikah dengan Nyonya. Saya tahu keadaan dan rintangan macam apa yang sudah Tuan dan Nyonya lewati."
"Bahkan jujur saja, saya masih tidak menyangka akan terus melayani Nyonya sampai sekarang. Awalnya cukup saya seorang pelayan yang bekerja di rumah ini. Tetapi ... makin lama anggota keluarga Tuan kian bertambah, hadir malaikat-malaikat lucu yang menggemaskan. Pelayan di kediaman ini juga bertambah sesuai kebutuhan."
"Dan sekarang, hubungan Tuan Keyran dan Tuan Daniel kian membaik. Hubungan Nyonya dengan Nyonya Natasha juga lebih harmonis. Yang semula tidak akur kini mulai saling bekerja sama, yang semula saling membenci kini jadi teman. Meskipun saya bukan bagian resmi dari keluarga ini, tapi saya turut bahagia dengan perubahan yang lebih baik seperti ini."
Nisa tersenyum dan tersentuh dengan semua yang Bibi Rinn katakan. Semua itu memang benar adanya, saat ini, dia seperti orang yang menjalani kehidupan dengan begitu baik. Mendapatkan suami yang bisa dikatakan hampir sempurna, mempunyai anak-anak yang lucu, serta memiliki hubungan yang baik dengan saudara.
"Iya, Bibi Rinn benar. Tatapi Bibi tidak perlu terlalu sungkan, meskipun Bibi adalah pelayan di rumah ini, aku tidak memandang Bibi sebagai pelayan. Bibi Rinn selalu ada saat aku butuh, dan juga menjadi teman bicara dan berbagi keluhanku selama aku di sini. Bibi Rinn sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri ..." ucap Nisa dengan senyum lembutnya.
"Nyonya ...." Sejenak Bibi Rinn terdiam, senyumannya kian lebar setelah mendengar pengakuan dari Nisa yang menyebut jika dirinya sudah dianggap sebagai keluarga. "Terima kasih ...."
DRRTT DRRTT
DRRTT DRRTT
DRRTT DRRTT
Tiba-tiba saja ponsel Nisa yang diletakkan tak jauh dari sana terdengar berdering. Nisa yang menyadari hal itu langsung berkata, "Bibi tolong awasi Nora sebentar ya, aku angkat telepon dulu!"
"Baik, Nyonya," jawabnya.
__ADS_1
Nisa lekas berdiri dan mengangkat ponselnya. Dia mengernyit begitu melihat siapa yang meneleponnya. 'No Reason', itulah kode nama salah satu bawahan kepercayaan Nisa. Dan bawahan yang satu ini telah dia tugaskan secara rahasia untuk diam-diam mengawasi setiap gerak-gerik Chelsea. Nisa mulai berfirasat buruk ketika memikirkan laporan macam apa yang akan disampaikan oleh si No Reason ini.
"Halo?" ucap Nisa dengan nada pelan begitu panggilan telepon telah tersambung.
"Ketua, ini saya. Saya ingin melaporkan sesuatu yang terjadi pada target. Target saat ini dirawat di rumah sakit, dan setelah saya selidiki, saya bisa menyimpulkan jika target mengalami keguguran."
"A-apa?!" tanya Nisa yang spontan saja bersuara keras. Bahkan Bibi Rinn sampai kaget dan menoleh ke arahnya. Nisa yang menyadari tatapan Bibi Rinn langsung berjalan lebih jauh lagi.
Dengan suara lirih, Nisa kembali berkata, "Apa maksudmu dengan keguguran? Bagaimana bisa? Jelaskan kejadiannya padaku!"
"Sebelumnya saya melihat target seperti sedang bertengkar dengan Mad Dog, lalu di tengah pertengkaran itu, tiba-tiba saja ada mobil melintas dan mereka berdua terserempet. Mad Dog hanya mengalami luka kecil, dan untuk target, dia pingsan di tempat."
"...." Nisa termenung untuk sejenak. Dia sama sekali tidak menyangka jika sesuatu hal buruk seperti ini telah terjadi. "Baiklah, aku terima laporan darimu. Kau terus mata-matai dia dan laporkan setiap hal padaku!" ucapnya penuh penekanan.
"Baik, ketua."
TUT TUT ...
"Astaga ..." gumam Nisa dengan kedua alisnya yang saling mengait.
Keguguran ... jadi Chelsea sedang hamil? Jika tebakanku benar, harusnya itu adalah anak dari hasil hubungannya dengan Leon. Aku tahu jika mereka berdua saling menjalin hubungan asmara, tapi ... tak aku sangka kalau hubungan mereka telah sampai ke tahap ini. Mereka berdua telah bertindak terlalu jauh.
Tapi bagaimana bisa mereka kebobolan? Apa mereka berdua itu bodoh? Bahkan jika mereka berdua sama-sama orang dewasa yang punya gairah membara, kenapa mereka tidak pakai cara pencegahan atau pengaman? Tidak mungkin jika mereka berdua begitu bodoh sampai memang ingin memiliki anak dengan status yang mereka miliki sekarang.
Sepertinya aku mungkin terlalu melebihkan Chelsea, ternyata mantan direktur berpengaruh sepertinya juga bisa jadi bodoh. Tapi soal Leon ... aku makin khawatir padanya, aku takut kalau perihal keguguran ini akan membangkitkan rasa simpatinya pada Chelsea. Sial, aku mulai ragu soal rencanaku lagi!
***
Sore hari telah lewat dengan cepat, namun meninggalkan kenangan kejadian buruk yang selamanya tak akan terlupakan. Malam telah tiba, Chelsea yang saat ini sudah dipindahkan ke ruang rawat belum membuka matanya.
Di sebelahnya, ada Leon yang duduk di samping ranjang dan terus terjaga. Luka kecilnya telah dirawat, dan dia juga sudah mengurus soal semua administrasi rumah sakit.
__ADS_1
"U-uhhh ...." Chelsea mengerjap dan perlahan membuka mata, penglihatannya akan sekeliling yang semula buram lama-kelamaan bertambah jelas. Dia paham sekarang dia sedang terbaring di tempat macam apa, namun dia begitu syok saat melihat Leon yang kini berada di sana.
"Le-Leon ..." ucap Chelsea dengan suara lirih dan gemetar.
"Baguslah kau sudah bangun," ucap Leon dengan senyuman yang dipaksakan.
"...." Chelsea tak berkata apa-apa dan langsung memalingkan wajahnya. Dia mencoba untuk bangun, dan karena dia masih lemas, Leon yang merasa iba pun mencoba membantunya.
Chelsea menepis tangan Leon, dia tak mau menerima bantuannya lantaran masih marah terhadapnya. Akan tetapi, dia masih belum sepenuhnya pulih. Chelsea meringis kesakitan sambil memegangi perutnya, perut dan punggungnya merasakan rasa nyeri yang begitu hebat.
Bahkan, saat Chelsea melihat tangan kirinya juga dibalut oleh perban, dia berpikir mungkin saja dia terluka karena tergores aspal. Tapi dia masih belum paham apa yang menyebabkan rasa sakit di perutnya.
"Pergilah!" pinta Chelsea tanpa memandang ke arah wajah Leon.
"Tidak!" jawab Leon dengan tegas.
"Memangnya untuk apa kau ada di sini? Apa kau masih mau bertengkar denganku? Aku sudah mengakui segalanya, aku memang berbohong padamu. Semua yang aku pernah katakan dan jelaskan di rumahmu tadi, aku tak akan mengubahnya! Terserah padamu sekarang mau terus bersamaku atau tidak! Aku tak perlu bantuanmu, aku bisa membalaskan dendamku sendiri!" ucap Chelsea dengan tatapan sinis.
"Kau ... di saat seperti ini, bagaimana bisa kau masih teguh pada dendammu itu? Aku di sini bukan karena ingin mendengarkan ocehan kebencianmu! Tapi, tolong jelaskan padaku! Kenapa jika kau hamil tapi tidak memberitahuku?! Janin itu benar anakku, kan?! Sekarang aku tahu karena kau keguguran. Jika saja ini tidak terjadi, sampai kapan kau mau menyembunyikan kebenaran ini juga?!" tanya Leon dengan tatapan tajamnya. Saat ini dia sudah teramat muak dengan Chelsea yang terus membohongi dirinya dan terobsesi pada dendamnya.
"Keguguran ...?" tanya Chelsea dengan wajah kebingungan.
"Iya, kau keguguran! Jika saja kau jujur padaku, setidaknya aku bisa melindungimu dan calon anakku!"
Tubuh Chelsea seketika gemetar, perlahan dia menyentuh perutnya. Pikirannya saat ini juga makin bertambah kacau, melihat keseriusan Leon, sepertinya dia tidak berbohong soal keguguran itu.
"Kenapa? Kenapa kau rahasiakan dariku? Ayah dari anak itu adalah aku, kan? Jawab aku, Chelsea!" bentak Leon sekali lagi.
"Diam! Aku mohon diamlah! Aku tak tahu kalau aku hamil!!" teriak Chelsea histeris sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangan. Seolah dia sudah tidak mau lagi mendengar Leon berbicara.
"Apa?! Kau tak tahu?!" Leon terperangah.
__ADS_1