Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Berebut Pewaris


__ADS_3


Kini beban pikiran Chelsea serasa berkurang. Setidaknya tawaran untuk hidup bersama dengan Leon mampu memberikan sandaran baru bagi dirinya. Dia juga senang lantaran nantinya bisa mengandalkan orang lain, karena selama ini Chelsea cenderung seseorang yang selalu mengandalkan diri sendiri. Membayangkan hidup bersama dengan Leon saja sudah mampu membuatnya bahagia.


Di satu sisi Leon juga senang, karena Chelsea sudah mau berbicara banyak kepadanya serta tak bersikap acuh tak acuh lagi padanya. Hatinya lega ketika melihat Chelsea bisa tersenyum lagi. Pikirnya, dengan menjanjikan sesuatu yang bahagia akan dapat melupakan Chelsea pada balas dendamnya.


***


Di tempat lain pada saat yang sama, tepatnya adalah kantor pusat HW Group, yang mana merupakan perusahaan properti yang saat ini menyandang peringkat nomor satu. Di sebuah ruangan kerja khusus milik CEO perubahan ini, di dalam ruangan itu Keyran tampak berpikir keras ketika menyimak lembaran tiap lembaran dari beberapa dokumen.


TOK TOK TOK!


"Siapa?" tanya Keyran begitu mendengar suara pintu diketuk.


"Debt collector!"


Keyran tertawa kecil, debt collector apanya? Dia sama sekali tidak memiliki hutang kepada siapa pun. Namun, hal ini sudah tak asing lagi Keyran temui. Karena dia sudah hafal dengan seseorang yang selalu menggunakan istilah ini kepadanya. Orang itu tidak lain adalah istrinya sendiri. "Haha, masuklah!"


Pintu ruangan itu dibuka, tampaklah jika memang benar Nisa yang datang untuk mengantarkan makan siang seperti biasanya jika dia ada waktu luang. Namun, kali ini Nisa tidak datang sendiri, dia juga datang bersama putra kecilnya yang masih memakai seragam sekolah.


"Ayaaahhhh!" teriak Keisha dengan senyuman riang. Dia juga langsung berlari untuk menghampiri sang ayah.


Keyran sedikit memundurkan kursinya untuk memberikan ruang yang lebih bagi Keisha. Dia menyambut putranya dengan baik, merentangkan kedua tangannya dan menangkap tubuh kecil putranya yang super aktif.


"Haha, tumben Keisha ikut bunda ke kantor?" tanya Keyran seraya memosisikan Keisha untuk duduk di atas pangkuannya.


"Karena Keisha rindu dengan ayah!"


"Haiss ... sungguh pintar bermulut manis, pasti kau belajar dari bunda!" Keyran lantas mencubit pelan pipi bulat Keisha karena gemas.


"Keisha benar-benar rindu sama Ayah, kok! Keisha mau main sama Ayah!"


"Mainnya nanti saja ya, Sayang. Sekarang ayah masih bekerja," bujuk Keyran supaya putranya mau mengerti alasan penolakannya.


"Heum? Ayah kan sudah punya uang banyak. Kenapa Ayah kerja terus?" tanya Keisha dengan tatapan polosnya.


Keyran terkekeh. "Haha, Keisha ... dengarkan ayah, oke? Meskipun uang ayah sudah banyak, ayah harus tetap bekerja karena punya tanggung jawab yang besar pada perusahaan. Jika ayah tidak bekerja, maka harus mengandalkan siapa? Kakek sudah tua, jadi tidak mungkin harus bekerja, dan Om Daniel juga punya tanggung jawabnya sendiri. Kalau ayah menganggur, memangnya Keisha mau suatu saat nanti tinggal di rumah kardus?"


"Tidak mau ..." jawab Keisha sambil menggeleng.


"Nah, jadi Keisha biarkan ayah bekerja, ya? Nanti Keisha bisa main sama ayah kalau sudah di rumah."


"Tapi Ayah jangan kerja terus, sekarang waktunya istirahat! Keisha dan bunda sudah datang ke sini bawa makanan untuk Ayah! Bunda juga sudah membuat makanan khusus untuk Ayah! Ayo, sekarang makan!" ucap Keisha lagi, dia benar-benar ingin membuat ayahnya menjauh dari kertas-kertas itu.


"Baiklah, ayah akan makan. Tapi Keisha juga ikut makan, ya?"


"Keisha sudah makan, tadi bunda ajak Keisha mampir ke bakery dulu. Keisha sudah kenyang makan cake dan ice cream. Dan bunda juga bawakan cheese cake kesukaan Ayah!"


"Baiklah, kalau begitu Keisha temani ayah makan, ya!" Keyran lantas menggendong putranya dan menghampiri istrinya yang sudah menata makanan apa saja yang dia bawa ke atas meja. Keyran duduk di sofa panjang itu bersama anak dan istrinya.

__ADS_1


"Aku sudah bawakan makan siangmu, ayo makanlah selagi masih hangat!" ucap Nisa dengan senyum lembut.


"Suapi aku!" pinta Keyran seakan tanpa beban.


"Ishh ... Ayah kan sudah besar. Jadi tidak boleh minta disuapi oleh bunda! Yang boleh disuapi bunda cuma adik bayi!" protes Keisha dengan tatapan tajam. Dia merasa sedikit iri, padahal dia selalu disuruh untuk makan sendiri, tetapi sekarang dia justru memergoki ayahnya yang meminta disuapi.


"Nah, anakmu saja paham. Kau sudah dewasa, jangan terlalu manja. Berikan contoh yang baik bagi putramu," ucap Nisa dengan nada bicara sok bijak. Padahal sebenarnya dia juga sedang malas untuk meladeni suaminya.


"Baiklah, aku akan makan sendiri." Keyran hanya bisa pasrah. Kini sudah berbeda jika dibandingkan dengan dulu. Jika dulunya dia bebas berpuas diri dan bermanja-manja pada istrinya sebanyak apa pun yang dia inginkan, tetapi sekarang dia seperti harus berebut dan berbagi perhatian dengan anaknya.


"Hup!" Tiba-tiba saja Keisha melompat turun dari pangkuan Keyran. Lantas berjalan mendekati meja kerja sang ayah. Lalu naik ke kursi yang sedikit tinggi itu dengan susah payah.


"Keisha mau apa?" tanya Keyran penasaran.


"Keisha mau membantu Ayah menyelesaikan pekerjaan! Supaya Ayah cepat pulang dan bermain dengan Keisha!" jawab anak itu dengan percaya diri. Menganggap remeh pekerjaan sang ayah dan yakin jika dia juga mampu mengerjakan pekerjaan sebagai CEO.


"Astaga ... kau ini benar-benar ..." keluh Keyran sambil geleng-geleng kepala. Dia begitu tak habis pikir jika anaknya yang baru berusia 5 tahun akan memiliki inisiatif seperti itu.


"Haha, Bunda dukung Keisha! Kerjakan dengan baik ya, Sayang! Tetapi jangan menyentuh sembarangan dan jangan sampai membuat meja kerja ayah jadi berantakan!" ucap Nisa penuh antusias. Dia penasaran bagaimana putra kecilnya akan mengerjakan pekerjaan orang dewasa.


"Baik, Bunda! Keisha pasti akan membantu ayah sebaik mungkin! Supaya nanti ayah bisa naik gaji!"


Nisa dan Keyran hanya merespons ucapan putranya itu dengan tertawa bersama. Begitu polosnya anak itu sampai ingin ayahnya yang merupakan CEO mendapatkan kenaikan gaji, padahal ayahnya adalah seseorang yang menduduki jabatan tertinggi.


"Makanlah, tak perlu mencemaskan Keisha. Dia itu pintar, dia tidak akan mencoret apa pun sembarangan. Jika dia bingung maka dia akan bilang," bujuk Nisa pada suaminya agar segera memakan makanan yang telah dia buat dengan sepenuh hati.


"Haiss ... Keisha itu memang ada-ada saja. Mirip sepertimu, selalu penuh dengan kejutan." Keyran tersenyum, kemudian meraih makanan yang semuanya sesuai dengan seleranya.


"Ya, kau benar. Memang ada masalah, dan ini jadi begitu rumit karena masalah ini berhubungan dengan Chelsea. Ternyata selama ini dia bersembunyi dan bergabung di salah satu Divisi," jawab Nisa seraya menyadarkan tubuhnya di sofa.


Seketika Keyran berhenti mengunyah karena kaget. "Apa?! Chelsea? Maksudmu putri keluarga Adinata, kan? Jika kau sudah tahu keberadaannya, kenapa kau tidak memberitahu Tommy Adinata atau Natasha?"


"Karena aku tidak berhak melakukannya. Chelsea pergi karena keputusannya sendiri, jadi dia mau kembali atau tidak juga bergantung pada keputusannya sendiri. Sebenarnya dia mau kembali atau tidak itu bukan urusanku. Hanya saja aku tak mau menerima orang sepertinya terus berada di kelompok yang aku pimpin. Dan masalah utamanya, sebelum aku menendang Chelsea, aku harus memastikan jika dia tidak akan melapor atau memberitahu orang lain soal apa saja yang sudah dia tahu selama dia bergabung."


"Sebenarnya ada saja jalan pintas untuk menyelesaikan masalah ini, yaitu dengan melenyapkan bukti alias juga melenyapkan dia. Tapi, aku tak mau melakukan itu. Bukan hanya karena dia adalah putri tertua keluarga Adinata, tetapi dia masih bisa berguna untukku di masa depan. Itulah mengapa aku ingin membuatnya mengakui kekalahan dan menyerah dengan sendirinya."


"Tunggu sebentar, Nisa. Aku merasa ada yang salah dengan ini semua. Kenapa Chelsea harus kabur saat kebakaran 6 tahun yang lalu? Apa itu ada hubungannya denganmu?" tanya Keyran yang mulai curiga. Dia tahu betul jika istrinya ini merupakan orang yang licik.


"Sembarangan, tentu saja tidak ada! Apa kau sudah lupa jika aku dimusuhi seluruh keluarga Adinata karena mereka mengira bahwa akulah yang menyebabkan kebakaran sampai Chelsea dan Luciel dikira tewas?" sanggah Nisa dengan spontan.


"Aku belum lupa. Jika semuanya memang seperti yang kau katakan. Artinya Chelsea punya sesuatu yang harus dia jelaskan pada keluarganya sendiri. Tapi Nisa, soal rencanamu itu. Apa kau akan turun tangan langsung?" tanya Keyran dengan tatapan khawatir, karena dia sudah paham betul jika istrinya ini begitu suka membuat masalah.


"Aku tak tahu pasti. Jika situasinya mendesak maka aku akan terpaksa turun tangan. Tapi kau tak perlu terlalu khawatir, aku tahu batas, aku tahu harus bertindak seperti apa nanti. Dan aku juga janji padamu jika nanti tak akan ada masalah, aku janji akan mengusahakan yang terbaik. Percaya padaku, oke?"


Keyran menghela napas berat, lantas berkata, "Oke, aku percaya padamu."


Meskipun Keyran merasa cemas dan terkejut dengan apa yang baru saja dia ketahui, dia tetap diam dan membiarkan Nisa bertindak seperti apa yang dia mau. Dia juga khawatir jika nantinya masalah ini akan merembet ke hal lain, atau bahkan mempengaruhi hubungan antara keluarga Kartawijaya dengan Adinata yang selama ini sudah terjalin dengan baik.


Keyran tak berkomentar apa-apa lagi, kembali melanjutkan memakan menu makan siangnya. Ketika dia menghabiskan makanan itu, dia merasa ada sesuatu yang janggal sedang terjadi. Yaitu sejak tadi Keisha tidak bersuara dan duduk tenang di meja kerjanya.

__ADS_1


Dia penasaran dengan apa yang sedang putra kecilnya itu lakukan. Keyran mendekat karena ingin tahu alasan mengapa Keisha sejak tadi begitu tenang. Begitu dia mendekat, dia terkejut karena melihat Keisha yang sedang menyimak dua buah laporan yang berbeda. Yang pertama adalah laporan pangsa pasar dan yang kedua adalah pergerakan saham yang berbentuk dalam grafik.


"Jadi sejak tadi Keisha lihat ini. Apa Keisha paham?" tanya Keyran dengan senyuman.


 


"Keisha tidak paham, ternyata pekerjaan Ayah susah ya," jawab Keisha malu-malu. Kepercayaan dirinya di awal tadi telah hilang.


"Haha, memang susah jika dipahami oleh Keisha. Tapi kenapa Keisha sejak tadi hanya melihat gambar itu?" tanya Keyran lagi, dia ingin mengetahui apakah putranya ini memiliki minat untuk belajar bisnis.


"Karena garis-garis ini warna-warni, ada warna merah kesukaan Keisha! Bentuknya juga naik turun seperti rumput! Tapi kenapa pekerjaan Ayah seperti menggambar rumput? Ayah kan tidak punya kambing atau sapi yang suka makan rumput."


"Keisha, nama garis-garis ini bukan rumput. Tetapi grafik."


"Apa itu grafik?" tanya Keisha yang mulai tertarik.


"Hm? Apa Keisha mau belajar?" tanya Keyran yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala oleh Keisha. "Baiklah, kalau begitu akan ayah ajari!"


Keyran mengangkat tubuh kecil Keisha, lalu memangkunya dan menunjukkan grafik pergerakan saham itu tepat di hadapan putranya. "Keisha, inilah yang disebut grafik. Meskipun terlihat seperti gambar rumput, tetapi di dalam sini memuat informasi mengenai bisnis yang ayah punya."


"Informasi apa? Memangnya ini seperti di film detektif, ya? Apakah ada pesan tersembunyi di dalam gambar ini, Ayah?" tanya Keisha yang menyimak dengan begitu baik.


"Iya, Sayang. Jika memiliki kemampuan membaca grafik maka akan bisa mengetahui informasi yang ada di grafik ini. Dan jenis grafik ini adalah grafik candlestick. Apa Keisha tahu artinya candle?"


"Ehmm ... lampu? Ah, tidak, lilin! Keisha tahu artinya candle adalah lilin!"


Keyran tersenyum. "Pintar, jawaban Keisha benar! Nah, jadi grafik ini dibentuk dari lilin-lilin kecil yang berjajar. Karena jaraknya dekat maka terlihat seperti rumput. Dan setiap pergerakan lilin memiliki nilai. Misalnya saja lilin warna hijau ini lebih tinggi dibandingkan dengan yang warna merah. Artinya nilai saham semakin naik. Dan lalu ...." Keyran terus menjelaskan tiada henti.


Di satu sisi Nisa sudah selesai membereskan peralatan makan yang tadi Keyran gunakan. Dia penasaran kenapa suami dan anaknya tampak begitu serius membicarakan sesuatu. Akhirnya Nisa mendekat, setelah tahu jika putranya diajari perihal bisnis oleh Keyran, seketika batinnya bergejolak karena ada rasa tidak terima yang tersendiri di dalam hatinya.


"Keisha, Keisha sedang apa?" tanya Nisa yang seketika memotong penjelasan Keyran.


"Keisha sedang belajar bisnis sama ayah," jawab Keisha dengan tatapan polosnya.


"Haha, memangnya apa serunya belajar bisnis? Keisha belajar kung fu sama bunda saja, ya? Nanti akan bunda ajari jurus ular piton menelan naga langit!" bujuk Nisa dengan senyum ramah.


"Konyol," celetuk Keyran seraya menatap aneh istrinya.


"Haha, kau bilang konyol karena belum merasakan jurus itu." Nisa masih tertawa, walaupun batinnya saat ini mengumpat suaminya.


"Apa jurus itu benar-benar hebat?" tanya Keisha seakan mulai tertarik.


"Tentu saja hebat! Jurus itu adalah jurus yang bunda pakai untuk menjadi boss besar! Bunda jamin jurus itu sangat cocok untuk Keisha!" bujuk Nisa lagi supaya putranya semakin percaya padanya.


"Wahhh ... Keisha mau belajar jurus itu, Bunda! Tetapi tidak sekarang, Keisha masih capek untuk berolahraga. Sekarang Keisha mau belajar sama Ayah dulu!"


"Haha, bagus Keisha! Keisha anak ayah yang pintar! Kelak Keisha akan jadi pewaris ayah yang hebat!" puji Keyran seraya memeluk erat putranya. Dia juga tersenyum penuh kepuasan, seakan mengejek Nisa jika anak mereka lebih condong menyukai bisnis daripada berkelahi atau yang lainnya yang mirip dengan Nisa.


"...." Nisa hanya membisu. Kali ini dia terpaksa menerima kenyataan jika putra kecilnya lebih mirip suaminya daripada dirinya. Rencananya yang ingin membuat Keisha sebagai pewaris generasi ketiga sepertinya juga harus pupus.

__ADS_1


Sial, sialan kau Keyran! Aku yang selama ini mengandung Keisha, kita buat anak juga sama-sama! Tetapi anehnya, baik dari segi penampilan dan kegemaran semuanya hanya mirip denganmu! Huh, rencana mencari pewaris harus mundur, sepertinya masih akan lama untuk aku pensiun.


__ADS_2