Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Tugas Terakhir (1)


__ADS_3


"Ah, sepertinya sudah matang!" ucap Chelsea yang kemudian bangkit dari kursi untuk mengambil mi instan miliknya yang dia masak di dalam microwave. Sejak tadi dia melamun, tanpa sadar jam kerjanya sebentar lagi akan tiba.


Seperti hari-hari biasanya, maka Chelsea akan sarapan terlebih dulu sebelum berangkat. Namun, kali ini dia hanya memasak mi instan saja karena tak memiliki waktu yang cukup untuk memasak menu makanan lain. Ini dikarenakan dia bangun terlambat, gara-gara memikirkan masalah yang sedang menimpanya, semalam Chelsea tidur lebih lambat dibanding biasanya.


Karena tahu jika dia punya tugas yang sama dengan Leon, maka pagi ini Chelsea berinisiatif datang ke rumah Leon supaya bisa berangkat ke Divisi 1 bersama-sama.


TOK TOK TOK!


Chelsea mengetuk pintu, tak berselang lama kemudian muncul Leon yang membukakan pintu untuknya.


"Hai, selamat pa-" Perkataan Chelsea terhenti begitu menyadari sesuatu yang aneh. Dia merasa aneh karena Leon tampak mengubah model rambutnya. Leon yang biasanya selalu menyisir rambutnya ke belakang, kini justru memiliki poni yang berantakan.


"Leon, kau ganti model rambut?" tanya Chelsea dengan tatapan bingung.


"Emm ... iya," jawab Leon sambil menyentuh poni dan seluruh jidatnya. Lalu tiba-tiba berbalik badan seraya berkata, "Ayo masuklah!"


"Baik," jawab Chelsea sambil mengangguk.


Begitu Chelsea masuk ke dalam rumah, suasananya terasa sepi, mungkin karena Liana sudah berangkat ke sekolah. Tak ada yang janggal dari rumah itu, seperti biasanya rumah itu selalu bersih dan rapi. Hanya saja, Chelsea sedikit dibuat heran karena Leon masih memakai pakaian kasual untuk sehari-hari.


"Kau mau sarapan?" tanya Leon yang tingkahnya sedikit canggung.


"Tidak, terima kasih. Aku sudah sarapan di rumah," jawab Chelsea sambil menggeleng pelan. Dia lantas duduk di sofa ruang tamu. "Aku akan menunggumu di sini. Cepatlah ganti pakaian lalu kita berangkat!"


"Hm? Berangkat ke mana?" tanya Leon dengan wajah bingung.


"Kemarin Kepala Divisi bilang pada kita kalau kita akan bertugas di Divisi 1, dan kita juga harus berangkat di jam kerja kita biasanya! Masa kau sudah lupa?" tanya Chelsea dengan tatapan curiga, dia mulai merasa jika hari ini Leon terkesan berbeda dari biasanya.


"Oh itu! Maaf, aku lupa bilang padamu. Sebenarnya kemarin malam aku diberitahu kak Dika kalau kita akan bertugas di shift malam. Meskipun kasino itu buka selama 24 jam, tetapi cenderung lebih ramai di malam hari. Tenaga kita dibutuhkan saat kasino dalam kondisi ramai. Jadi ... kita berangkatnya nanti saja."


Chelsea lalu menepuk jidatnya sendiri. "Astaga Leon ... harusnya kau bilang padaku! Apa kau tahu kalau tidurku sampai tidak nyenyak gara-gara takut terlambat!"


"Maaf ... sekali lagi tolong maafkan aku," ucap Leon dengan tampang bersalahnya.


"...." Chelsea membisu, baru pertama kali dia melihat ekspresi Leon yang seperti ini. Terlebih lagi dengan model rambut barunya, ini membuatnya teringat pada Luciel yang setiap kali selalu memasang ekspresi menggemaskan semacam ini.


"Baiklah, kau dimaafkan! Tapi, duduklah di sini supaya kau bisa menerima hukuman dariku!" pinta Chelsea dengan nada sok memerintah.


"Memangnya kau mau memberiku hukuman macam apa?" tanya Leon sambil menatap ragu.


"Sudah ... pokoknya cepat duduk saja!"


Pada akhirnya Leon menurut dan duduk di sebelah Chelsea. Sedangkan Chelsea, tak lama setelah Leon duduk, tanpa peringatan apa pun dia langsung menyandarkan kepalanya di bahu Leon.


"Ini hukuman untukmu! Kau tidak boleh bergerak sampai aku tertidur!" Chelsea lalu menutup matanya dengan nyaman. Entah kenapa dia begitu merasa tenang dan damai saat bersama dengan Leon.


"Ini toh hukumannya, aku kira hukuman seperti apa." Leon tersenyum tipis, lalu sebelah tangannya bergerak dan merangkul tubuh Chelsea. "Oh iya, kemarin kau bilang kalau perutmu sakit. Bagaimana sekarang? Sudah lebih baik, kan? Atau jika rasa sakitnya masih ada, kita bisa periksa ke rumah sakit sekarang juga!"


"Tidak perlu Leon, sudah tidak sakit, kok. Aku sudah beristirahat cukup, jadi sakitnya sudah jauh lebih berkurang. Hanya saja ... aku masih belum puas beristirahat, biarkan aku bersandar lebih lama, ya?"


"Baiklah, bersandar saja sepuasmu," jawab Leon dengan senyuman.

__ADS_1


"Terima kasih." Chelsea berbohong, tetapi bukan sebuah kebohongan yang berarti. Apa yang dia dapatkan dari kebohongan ini jauh lebih berarti baginya. Dengan bersandar di bahu Leon, mampu membuat perasaannya jauh lebih tenang. Walaupun hanya untuk sesaat, setidaknya dia bisa melupakan beban dan masalah yang selalu menekan batinnya.


Di satu sisi, Leon memalingkan wajahnya lagi dan diam-diam menghela napas lega. Dia merapikan poni barunya sebentar, seakan tidak mau jika gaya rambut barunya jadi rusak. "...."


Astaga, ternyata apa yang si banci Kaitlyn ucapkan padaku semalam tidak bohong. Tak aku sangka kalau mengganti gaya rambut benar-benar efektif untuk menyembunyikan luka yang ada di dahiku. Bisa gawat jika Chelsea sampai tahu soal luka ini. Karena luka ini aku dapatkan sebab berurusan dengan ketua.


Semalam, memang aku yang meminta untuk bertemu. Aku memohon padanya supaya menyerahkan segala urusan soal Chelsea kepadaku. Aku khawatir karena ketua sempat menolak. Aku berlutut dan bersujud, bahkan juga menghantamkan kepalaku ke lantai sampai berdarah. Tapi, untung saja ketua melihat ketulusan dan masih percaya padaku.


Dengan begini, setidaknya selama bekerja di Divisi 1 nanti aku bisa lebih tenang. Soalnya aku tahu kalau Kepala Divisi 1 itu sangat kejam. Aku tak mau Chelsea kenapa-kenapa saat aku tidak ada. Dan setelah aku pergi dari ruangan ketua, aku bertemu dengan si banci Kaitlyn, setidaknya dia memberikan saran yang berguna. Tapi ... semalam dia juga memperingatkan aku, bahwa para elite lain bertentangan denganku dan ingin membunuhku jika ada kesempatan. Haiss ... sepertinya baik aku maupun Chelsea, nyawa kami sama-sama terancam.


"Leon," panggil Chelsea yang seketika menyadarkan Leon dari lamunan.


"E-eh, ya? Ada apa?" tanya Leon kelabakan.


"Aku ingin menanyakan sesuatu. Karena nanti malam kita akan bertugas di Divisi 1, bisakah kau ceritakan padaku seperti apa Kepala Divisi 1 itu?" tanya Chelsea yang masih bersandar pada bahu Leon.


"Kepala Divisi 1 ... meskipun dia termasuk salah satu Family, tapi dia memiliki posisi yang lebih tinggi. Namanya adalah Marcell, dia yang mengepalai Divisi 1 dan bertugas sebagai Casino Manager di markas utama. Bisa dibilang Marcell adalah wakil ketua, dia yang paling setia dan jadi tangan kanan ketua. Dia sering kali mewakili ketua untuk menangani urusan penting. Karena itulah, tak jarang anggota yang baru bergabung jadi salah paham dan berpikir jika Marcell adalah ketuanya," jelas Leon.


"Selain itu? Bagaimana perilakunya? Apakah ada ciri khusus? Misalnya dia suka main perempuan seperti David, atau terkadang kekanakan seperti Ivan, Kepala Divisi 3 itu?" tanya Chelsea lagi.


"Tidak, Marcell bukan seseorang yang akan tergoda dengan persoalan duniawi. Bahkan dia adalah seseorang yang aseksual. Yang aku tahu, menurut rumor yang beredar ... Marcell adalah Family yang paling setia pada ketua. Jadi, jika dia melihat sesuatu yang berpotensi jadi ancaman untuk ketua, Marcell akan langsung melenyapkannya. Karena itulah, aku minta padamu supaya nanti jangan menyinggung ataupun bicara sembarangan di depan Marcell, ya?" pinta Leon dengan tatapan mata yang sayu.


Tiba-tiba Chelsea berhenti bersandar, dia sadar soal kekhawatiran yang sedang Leon rasakan. "Kenapa kau terlihat begitu pesimis? Apakah ada sesuatu yang buruk? Katakan padaku, Leon."


"Tak apa," jawab Leon yang kemudian sebelah tangannya membelai pipi Chelsea. "Aku cuma tak mau kau terluka saat aku tak ada di sampingmu untuk melindungimu. Karena aku pun kurang percaya diri jika berhadapan dengan Family, percayalah padaku, mereka itu ... seperti berada di level yang berbeda dengan kita. Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya, sulit untuk kau mengerti jika belum melihat sendiri."


"Aku sudah pernah melihatnya," ucap Chelsea yang berhasil membuat Leon terkejut.


"Benarkah?! Jarang sekali mereka mau turun tangan! Kapan kau melihat ada Family yang bertarung?" tanya Leon seakan tak percaya.


"Ya, kau benar. Semua Family memang punya kemampuan semacam itu. Bahkan kak Dika pernah bercerita padaku, kalau mereka dulunya memang sudah dilatih sejak kecil. Dengan kemampuan yang setara tentara bayaran itu, mereka terus meningkatkan pengaruh dan kemampuan mereka. Itulah mengapa aku sangat terkejut ketika mengetuai musuhmu adalah organisasi ini. Kau benar-benar harus berhati-hati Chelsea," ucap Leon dengan kening yang mengerut.


Chelsea menundukkan kepala, dia merasa bersalah karena telah membuat Leon jadi seperti sekarang. "Maafkan aku, Leon ... gara-gara aku, kau jadi terlibat dengan semua ini .... Nyawamu jadi terancam gara-gara aku. Maafkan aku, sebelumnya aku terlalu egois. Aku berpikir, asal ada aku di hatimu, kau akan mau melawan semua dan membelaku. Maafkan aku, sekarang aku sadar kalau ini sama saja dengan bunuh diri ...."


"Hei, jangan berkata begitu lagi, oke? Ini bukan sepenuhnya salahmu. Aku tahu jika musuh kita begitu sulit dikalahkan. Tapi, percayalah padaku! Aku akan melakukan yang terbaik supaya kita juga mendapatkan hasil yang terbaik!"


"Leon ..." ucap Chelsea dengan lirih, sebuah senyuman kembali tersinggung di bibirnya. Meskipun semua terasa sulit untuknya, dia bersyukur karena masih punya Leon yang tetap setia mengungkung dan berada di sisinya.


"Emm ... Daripada kita menganggur seperti ini, bagaimana jika kita sparing saja? Dengan begitu setidaknya kemampuan kita ada peluang untuk meningkat. Ah, lebih tepatnya aku ... soalnya mungkin ini cuma buang-buang waktu jika untukmu," ucap Chelsea malu-malu, dia sadar diri jika kemampuannya masih berada di bawah Leon.


"Haha, baiklah. Tapi sebentar saja, oke? Dokter bilang kalau kondisimu masih belum siap melakukan aktivitas yang berat."


"O-oke ...." Chelsea mengangguk setuju, dia juga senang sekali lantaran Leon menaruh perhatian yang spesial terhadapnya.


***


Malam harinya sekitar pukul 7 malam. Chelsea dan Leon sama-sama telah berada di Grizz Glory Casino dan siap menerima tugas baru mereka. Tak lama kemudian datanglah sang Casino Manager secara pribadi untuk menemui mereka, dialah Marcell, sang tangan kanan ketua.


Pria yang punya postur tubuh tinggi dan kekar, sorot mata yang begitu dingin, seperti sosok yang tidak dapat tersentuh. Dia memperhatikan kesiapan Leon dan Chelsea dari atas sampai bawah. Dan tanpa peringatan apa pun, tiba-tiba saja tangannya maju dan meraih leher Chelsea.


"Kau ... kenapa kau tidak mati saja?" tanya Marcell dengan sorot mata tajamnya. Cengkeraman tangannya begitu kuat, sampai membuat Chelsea tampak kesakitan karena tercekik.


"Tolong lepaskan dia, Kepala Divisi!" pinta Leon dengan segala hormatnya. Dia juga mengepalkan tangan sekuat mungkin, bersiap dengan kemungkinan terburuk jika dia harus melawan Marcell saat ini juga.

__ADS_1


"...." Marcell terdiam, sekilas menatap Leon dengan tatapannya yang tidak berubah. Dia sadar akan sesuatu, yaitu soal apa yang semalam telah Leon bicarakan dengan ketua. Pada akhirnya Marcell melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Chelsea.


Mendadak Marcell berbalik, melangkah pergi dengan langkah terburu-buru seakan sudah muak melihat wajah Leon maupun Chelsea. "Sebenarnya aku tak butuh kalian ada di sini! Kerjakan saja apa yang bisa kalian kerjakan!" bentaknya dengan nada ketus.


"Apa-apaan dia?" gumam Chelsea yang masih sedikit merinding sambil memegangi lehernya. Jujur saja, tadinya dia memang takut terhadap tatapan Marcell yang seakan-akan menjelaskan ingin membunuhnya. Karena itulah dia tak mampu untuk memberikan perlawanan.


"Astaga, syukurlah dia pergi," ucap Leon penuh kelegaan.


"Leon, sebenarnya dia kenapa? Dan kenapa kau malah bersyukur karena dia pergi? Apa kau tidak merasa terhina dengan perlakukannya terhadap kita? Dia tidak ingin kita ada di sini, lalu untuk apa kita mengerjakan tugas ini?" tanya Chelsea yang masih tak bisa memahami tingkah laku Marcell.


 


"Aku bersyukur karena dia pergi untuk menahan keinginannya untuk membunuhmu. Yang aku tahu, tak ada seorang pun yang selamat setelah jadi targetnya Marcell. Syukurlah dia melepaskanmu, aku memohon padanya karena sudah merasakan ada niatan membunuh. Kau tidak apa-apa, kan? Apa lehermu masih sakit?" tanya Leon dengan nada khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Ternyata kau benar, dia mungkin memang melihatku sebagai ancaman untuk Nisa."


"Yo! Daku tidak menyangka akan bertemu kalian di sini!" ucap seseorang yang suaranya sudah tidak asing di telinga Chelsea.


Leon dan Chelsea seketika menoleh. Dan benar saja, yang berbicara pada mereka barusan adalah Kaitlyn. Seperti biasa dia memakai pakainya yang seksi dan cukup terbuka. Dengan sepatu hak tingginya, dia melangkah mendekat dengan ekspresi wajah yang dipenuhi kesombongan.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Chelsea dengan tatapan sinis. Dia masih menyimpan kekesalan karena teringat kenangan buruk, yaitu saat dia dikalahkan oleh si banci ini ketika berada di DG CLUB.


"Pffttt ... kenapa dikau bilang? Haha, menggelikan sekali anak baru seperti dirimu. Asal dikau tahu, daku sebenarnya memang bagian dari Divisi 1! Dan sekarang ... daku tidak bisa membiarkan dua orang yang dibayar hanya menganggur saja!" Kaitlyn tertawa dengan suaranya yang centil dan genit.


"Jadi kau mau menyuruh kami melakukan apa?" tanya Leon dengan tatapan malas. Dia benar-benar sudah merasa muak melihat wajah tidak tahu malu si banci ini.


"Ah, Leonnn~" Tiba-tiba saja Kaitlyn mendekat dan menyentuh wajah Leon dengan jari-jari tangannya yang lentik. "Daku suka gaya rambutmu yang baru! Dikau terlihat jadi lebih tampan!"


"Jauhkan tanganmu dari Leon!" bentak Chelsea dengan kedua mata yang terus memelototi tangan Kaitlyn. Dia benar-benar marah saat melihat kekasihnya disentuh oleh banci ini.


"Cepat menyingkir dariku!" imbuh Leon yang juga merasa risi.


"Aihh ... baiklah, galak sekali. Leon, dirimu tidak melupakan kejadian semalam, kan?" tanya Kaitlyn dengan wajah sedihnya.


"Apa?! Memangnya apa yang terjadi di antara kalian semalam?!" tanya Chelsea yang salah paham. Dia juga menatap Leon dengan tatapan tidak percaya. Tatapan itu menjelaskan jika dia berpikir bahwa Leon ternyata punya selera yang menyimpang.


"Tidak! Tunggu! Jangan termakan ucapan bodohnya! Semalam aku tidak melakukan apa pun dengannya!" seru Leon yang tak mau kesalahpahaman ini terus berlanjut.


"Jadi kau mengaku jika semalam kau bertemu dengannya?" tanya Chelsea lagi dengan tatapan curiga.


"Bukan begitu!" Leon beralih menatap tajam Kaitlyn, bahkan juga menepuk bahunya dengan keras. "Hei, cepat jelaskan!"


"Ahh ... iya-iya, kasar sekali ... daku tidak suka pria kasar~" ucap Kaitlyn dengan nada manja.


"Aku bilang cepat jelaskan!" bentak Leon sekali lagi, namun kali ini dia benar-benar menatap seakan ingin membunuh Kaitlyn.


"Ck, baiklah ... semalam memang tidak ada yang terjadi di antara kami. Kami cuma berpapasan saat lewat saja. Dan mari kembali ke topik! Di sini daku punya otoritas yang lebih tinggi di banding kalian. Jadi, mari ikuti daku ke suatu tempat! Kita akan memberikan pelayanan kepada pelanggan bersama-sama!" ajak Kaitlyn yang kemudian berjalan memimpin Leon dan Chelsea.


"Chelsea, kau benar-benar tidak salah paham padaku, kan?" tanya Leon dengan suara lirih.


"Iya, aku percaya padamu," jawab Chelsea singkat.


Sudahlah, aku percaya sepenuhnya pada Leon. Tapi sekarang yang terpenting bukan itu. Aku baru tahu kalau Kaitlyn ternyata bagian dari Divisi 1. Jika dengan mengikutinya aku bisa mengetahui apa saja aktivitas Divisi 1, maka akan aku amati dengan serius!

__ADS_1


Aku sudah melihat bagaimana Divisi lain bekerja. Jika aku bisa mengetahui bagaimana cara kerja organisasi ini secara keseluruhan. Mungkin aku bisa mendapat celah untuk menghancurkan tatanan organisasi ini. Nisa bilang waktuku tidak banyak lagi, jadi kali ini aku harus memanfaatkan waktuku sebaik mungkin. Karena ini tugas terakhirku di organisasi ini!


__ADS_2