Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Dilema


__ADS_3


Tubuh Chelsea gemetar, dia syok lantaran sosok ketua yang selama ini selalu misterius baginya ternyata adalah seseorang yang dia kenal. Nisa Sania Siwidharma, menantu pertama dari keluarga Kartawijaya yang terkenal di kalangan pebisnis dengan julukan keluarga yang taat akan hukum.


Pengaruhnya di dunia sosial juga tidak sembarangan, terkenal dermawan dan suka peduli terhadap sesama. Menaungi beberapa panti sosial dan asuhan yang sering mendapatkan dana amal darinya. Akan tetapi, apakah semua reputasi baik ini ada artinya? Mengapa di balik itu semua menantu mereka justru seseorang yang merupakan ketua gangster?


Kepalanya semakin terasa pening saat memikirkan dendam perihal kematian kakaknya yang selama ini selalu dia jaga. Apakah dia harus membalaskan dendam ini? Lalu bagaimana dengan nasib adik kandungnya yang sekarang berada di dalam keluarga Kartawijaya?


Semua hal itulah yang terus berputar di kepala Chelsea. Entah kenapa tubuhnya terasa lemas. Pikirannya buyar karena terlalu banyak yang dia pikirkan. Seakan tak mampu untuk memikirkan apa pun lagi setelah mengetahui kenyataan yang rumit ini.


"Apa-apaan ini semua ..." gumam Chelsea sambil perlahan berjalan mundur.


"Apa kau baik-baik saja Nona?" tanya Akira yang tiba-tiba menepuk pundak Chelsea dari belakang.


"Ah, a-aku baik-baik saja!" jawab Chelsea sambil menepis tangan Akira. Saat ini Chelsea tampak seperti orang yang linglung. Lalu kembali duduk di sebelah Keisha.


Akira yang memperhatikan gerak-gerik Chelsea merasa heran. Mengapa tingkahnya tiba-tiba menjadi lain ketika melihat papan piagam penghargaan di dinding. Padahal yang Akira pikir, kebanyakan orang justru akan merasa kagum lantaran banyaknya prestasi yang telah diraih oleh sang pemilik dan pendiri Darlings Bakery ini.


"Boss Kecil," panggil Chelsea tiba-tiba.


"Ya?" tanya Keisha yang sekilas kemudian langsung kembali fokus ke kartun televisi.


"Apa nama ibumu adalah Nisa Sania Siwidharma?" tanya Chelsea yang bermaksud memastikan sekali lagi.


Seketika Keisha langsung menoleh ke arah Chelsea. "Bibi kenal sama bundanya Keisha? Apa Bibi juga temannya bunda?" tanyanya dengan tatapan polos.


"...." Sejenak Chelsea terdiam, lalu menunduk dan bergumam, "Jadi benar ...."


CRING!


Pintu toko bakery terbuka, dan tampaklah Ivan yang memasuki toko tersebut. Dia langsung melangkah mendekati meja Keisha. Tetapi sebelum memberi sapaan pada boss kecilnya itu, Ivan sempat menyeringai saat melirik ke arah Chelsea dan Akira.


"Hai, Boss Kecil! Bagaimana kabarmu? Apakah kau bersenang-senang dengan robot pemberian paman?" tanya Ivan dengan senyum ramah.


"Iya, Keisha sangat senang! Tapi ... robot dance tiba-tiba mati," jawab Keisha yang kemudian menyerahkan robot dan remote control itu pada Ivan untuk diperiksa.


"Apakah robot dance sudah rusak, Paman?" tanya Keisha.


Ivan tersenyum, lalu menyerahkan robot dance itu kembali pada Keisha. "Robot ini tidak rusak, tadi tiba-tiba mati karena baterainya habis. Tapi Boss Kecil tenang saja, cara mengisi baterai robot ini sama persis dengan robot yang sebelumnya paman berikan. Nanti begitu sampai rumah bilang pada bunda ya, agar Boss Kecil dibantu!"


"Em, baiklah Paman! Keisha mengerti! Keisha tidak sabar menunjukkan robot dance ini pada saudara Keisha!" Keisha kembali memeluk robot itu. Sejurus kemudian dia berkata, "Paman, bunda di mana?"


"Bunda sudah menunggu di mobil, ayo Boss Kecil paman bantu menyeberang jalan!" ajak Ivan.


"Yeyy! Akhirnya Keisha bisa pulang!" Keisha lalu turun dari kursi dan melambaikan tangan pada Akira. "Dadah Uncle Akira! Sampai jumpa di lain hari! Nanti Keisha ajak saudara Keisha untuk melihat atraksi Uncle!"

__ADS_1


"Haha, sampai jumpa Boss Kecil. Hati-hati ya!" jawab Akira dengan senyuman seraya membalas lambaian tangan Keisha.


"Sampai jumpa Bibi!" ucap Keisha yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Chelsea.


"Ayo Paman!" Keisha membawa robot dance di sebelah tangannya, dan tangan satunya lagi menggandeng tangan Ivan.


Ketika Ivan mengajak Keisha keluar dari bakery, diam-diam Chelsea mengikuti. Dan benar saja, dari balik pintu kaca itu dia bisa melihat dengan jelas. Dia melihat Nisa yang saat ini menunggu putranya dan Ivan di seberang jarang.


"Itu benar-benar dia ... Ketua," gumam Chelsea yang merasa cukup geram ketika menyaksikan Nisa tersenyum tanpa beban.


"Bundaaa! Keisha dapat robot dance dari Paman Ivan!" teriak Keisha dengan senyum bahagia saat menunjukkan mainan barunya pada sang bunda.


"Oh ya? Keisha sudah bilang terima kasih belum?" tanya Nisa sambil mengusap pipi Keisha.


"Sudah!" jawab Keisha sambil meringis.


Di sisi lain dari kejauhan, Chelsea merasa sedikit curiga saat melihat Ivan yang sedang membisikkan sesuatu pada Nisa.


"D-dia!?" Chelsea membelalak, jantungnya untuk sesaat terasa berhenti berdetak ketika Nisa menatapnya dan tersenyum padanya sekilas.


"Sial," umpat Chelsea yang kemudian langsung berbalik dan bersembunyi di balik tembok.


Apa itu tadi? Aku benar-benar yakin jika dia melihatku! Tapi kenapa dia tidak mengambil tindakan? Dia sebenarnya masih mengenaliku atau tidak? Apa dia sudah melupakan rupaku 6 tahun yang lalu? Tapi kenapa dia tersenyum? Apa dia bermaksud memperingatkan aku?


"Kau bertingkah aneh, Nona," ungkap Akira dengan tatapan curiga pada Chelsea.


"...." Akira tak berkomentar apa-apa lagi. Dia langsung bersikap acuh tak acuh dan berbalik, melangkah pergi untuk menuju ke dapur.


Entah apa yang diinginkan ketua? Kenapa beliau memerintahkanku untuk mengungkapkan identitasnya pada anggota baru ini? Apa jangan-jangan ketua ingin bermain-main dengannya? Hahh ... sudahlah, menuruti perintah wanita manis tidak ada ruginya.


"Huft ..." Chelsea menghela napas lega begitu Akira tak mengajukan pertanyaan lagi padanya. Dan saat dia berbalik untuk mengintip keadaan di luar toko, dia melihat mobil yang ditumpangi Nisa dan Keisha telah melaju pergi.


Chelsea juga mulai bersikap waspada ketika Ivan berjalan kembali dan memasuki toko bakery. Dia pikir Ivan telah merencanakan sesuatu dengan Nisa untuk menjebaknya.


"Kenapa kau masih di sini? Ayo kembali, tugasmu sudah selesai!" ajak Ivan yang langsung saja melangkah pergi mendekati mobilnya yang terparkir di dekat sana.


"B-baik," jawab Chelsea yang segera menyusul Ivan.


Tanpa mengurangi rasa waspadanya, Chelsea duduk diam dan terus memperhatikan Ivan menyetir mobil. Dia juga mengira jika Ivan akan berhenti di tempat yang sepi untuk menyingkirkan dirinya, tetapi hal yang dia kira itu tidak terjadi. Ivan tak mampir ke tempat mana pun lagi, yang dia tuju adalah rumahnya yang berada di bagian selatan kota. Sama sekali tidak ada perbincangan di antara mereka selama menempuh perjalanan yang jauh tersebut.


Sebelum membuka pintu mobil untuk turun. Tiba-tiba saja Ivan menoleh ke arah Chelsea dan berkata, "Beri makan Bond! Setelah itu tugasmu untuk hari ini telah selesai, kau boleh pulang!"


"Baik," jawab Chelsea yang lagi-lagi merasa curiga. Pikirnya, hari ini Ivan seperti bersikap lain dari biasanya. Jika Ivan yang biasanya, dia pasti tidak akan kehabisan memberi perintah aneh yang harus Chelsea lakukan.


Setelah Chelsea turun dari mobil mewah Ivan tersebut. Dia langsung mengerjakan tugasnya tanpa bertanya apa pun lagi. Begitu selesai memberi Bond makan, Chelsea juga langsung pulang tanpa pamit kepada Ivan terlebih dulu.

__ADS_1


"Aku harus waspada!" Chelsea mengecek seluruh keadaan mobilnya dengan cermat sebelum pergi. Dia khawatir jika mobilnya tersebut telah disabotase atau dipasangi sesuatu seperti bom yang akan meledak kapan saja untuk mencelakai dirinya. Dia masih curiga jika Ivan telah merencanakan sesuatu yang buruk padanya.


"Tidak ada yang salah, apa mungkin aku terlalu berpikir berlebihan?" gumam Chelsea dengan kening yang mengerut.


Chelsea menggeleng kepala secepat mungkin. Lalu langsung menaiki mobilnya tanpa berpikir panjang lagi. Dari kejauhan tanpa dia sadari, saat ini Ivan sedang mengintipnya dari balik sebuah jendela yang berada di lantai tiga.


Ivan menyeringai layaknya binatang buas yang mengincar mangsanya. "Heh, boss benar ... ternyata mempermainkan orang memang menyenangkan. Lucu juga melihat dia bertingkah waspada begitu, padahal aku sama sekali tidak ada niatan untuk mencelakainya."


BRRMMM ...


Chelsea menginjak gas dan melaju sekencang mungkin. Dia pikir ini akan menyusahkan musuh, kalau andai saja ada sniper yang sedang mengincarnya dan siap menembak dari kejauhan. Hatinya sama sekali  tidak tenang, dia pikir dia sedang diincar untuk dibunuh kapan saja.


Begitu Chelsea tiba di rumahnya sendiri, dia langsung mengunci semua pintu rapat-rapat. Dia juga mulai bernapas sedikit lega lantaran masih hidup ketika sampai di rumah.


"Hahh ...." Chelsea terengah-engah. Sejak tadi jantungnya terus berdebar dengan cepat.


Chelsea segera menuju ke kamarnya untuk menenangkan diri. Dia membasuh muka di kamar mandi, berharap agar rasa paniknya berkurang dan bisa berpikir dengan lebih jernih.


"...." Chelsea termenung saat menatap bayangan dirinya pada cermin yang berada di atas wastafel. Lalu perlahan menyentuh wajahnya sambil bergumam, "Apa mungkin sebaiknya aku rubah wajahku?"


Chelsea menggertakkan giginya, juga mengepalkan tangan seerat mungkin. Dia menunduk, mengamati air di wastafel yang perlahan semakin surut. "Kalaupun aku melakukan sekarang, mungkin juga sudah terlambat. Nisa sudah melihatku ...."


Ketua yang selama ini selalu aku jadikan target utama balas dendam ternyata adalah Nisa. Dia adalah orang yang mengenaliku di masa lalu, dan selain itu dia adalah menantu pertama keluarga Kartawijaya. Kedua statusnya ini terlalu tinggi untuk aku usik.


Padahal alasan utamaku bergabung adalah demi menemukan Luciel dan membalaskan dendam kak William. Luciel belum ketemu, dendamku juga belum terbalaskan. Tetapi ... identitasku telah ketahuan. Aku tidak bisa menghibur diri dan menipu diri sendiri. Kecil kemungkinannya jika Nisa tidak mengenaliku.


Tapi ... aku bisa apa? Saat ini posisiku di organisasi cuma sebatas anggota baru. Bahkan masih ada sebagian orang yang menganggapku sebagai wanita mainan Kepala Divisi. Aku bukan seseorang yang punya kekuasaan yang sebanding untuk melawan ketua. Dan jika aku nekat melawan, aku khawatir pada Natasha. Natasha sangat dekat untuk dijangkau oleh Nisa. Aku takut jika Nisa akan menggunakan adikku untuk mengancamku.


Dan terlebih lagi jika aku melawan sekarang, besar kemungkinannya jika aku akan mati. Mungkin aku akan mati dengan tenang jika dendamku terbalaskan, tetapi bagaimana dengan Luciel? Aku belum menemukannya, jadi aku tidak boleh mati! Aku harus tetap hidup untuk mencapai semua tujuanku.


Sebenarnya apa yang Nisa rencanakan? Apa dia akan bilang pada ayahku yang kejam itu jika aku masih hidup? Tapi jika begitu ... semua yang aku lakukan ini akan sia-sia saja. Aku lari dan memalsukan kematian saat kebakaran demi berhenti jadi bonekanya ayah! Aku juga tidak mau kalau aku hidup tetapi kembali jadi boneka!


Dan soal kematian kak Liam ... sekarang aku juga ragu apakah aku mampu untuk membalas dendam. Kak Liam sudah tewas 10 tahun yang lalu, jika menghitung berdasarkan garis waktu ... artinya saat itu Nisa membunuh kak Liam saat usianya masih belasan tahun. Aku tidak percaya jika pembunuh kakakku yang hebat itu cuma seorang anak remaja! Apa mungkin saat remaja, Nisa itu sudah jadi gangster?


Tapi ... tadi Akira bercerita kalau Nisa cuma ketua generasi kedua. Apa mungkin kak Liam dibunuh oleh ketua generasi pertama? Tapi ketua generasi pertama itu siapa?


"Ukhh ... sial!" Tubuh Chelsea gemetar, begitu banyak yang dia khawatirkan sekarang. Untuk ke sekian kalinya dia kembali merasa tidak berdaya. Dia seperti kembali ke titik awal, kehilangan cahaya harapan untuk mewujudkan tujuan balas dendamnya. Tangisnya pecah begitu saja, air matanya tumpah membanjiri pipi.


"Aku harus bagaimana? Aku tak punya siapa-siapa ...."


Aku tak tahu harus meminta bantuan pada siapa? Jika saja saat ini ada Leon di sampingku, mungkin aku bisa meminta saran darinya.


"B-benar! Leon ... Jika aku meminta bantuan pada Leon, mungkin dia mau membantuku! Posisi Leon di organisasi juga disebut sebagai elite, anggota lain juga mengakui kehebatannya. Leon juga pernah bilang jika posisiku di hatinya itu penting! Tapi ...."


Seketika Chelsea kembali terdiam, lalu menyentuh dadanya yang mulai terasa sesak. "Leon sangat setia pada organisasi ... akankah dia mau berkhianat demi aku? Jika aku mengatakan yang sebenarnya, apakah Leon juga akan kecewa padaku? Dan bagaimana jika nanti Leon terluka gara-gara aku?"

__ADS_1


Sungguh pilihan yang sulit bagi Chelsea. Di satu sisi dia sangat ingin membalas dendam atas kematian kakaknya. Dan di sisi lain dia tak mau membuat orang yang dia cintai menjadi seorang penghianat. Benar-benar perasaan yang tidak nyaman, jatuh dalam dilema yang begitu menyesakkan.


__ADS_2