
"Uuhh ...." Luciel terbangun dari tidurnya. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda, jika biasanya begitu bangun tidur di sebelahnya ada Keisha, tapi tidak untuk kali ini. Dia merasa jika ruang yang dia punya sedikit sempit. Saat dia membuka matanya dengan jelas, dirinya sadar jika sedang diapit oleh dua orang dewasa. Luciel tersenyum saat mengingat jika kedua orang itu adalah orang tuanya yang selama ini terpisah darinya.
Luciel menoleh ke samping kanan, dia menatap wajah Daniel lekat-lekat. "Papa ..." ucapnya dengan suara lirih.
Perlahan Luciel menggerakkan tangan kecilnya, diam-diam meraba wajah papanya agar tidak terbangun. Alis yang tebal, hidung yang mancung, serta bibirnya, semuanya yang ada pada Daniel memang tampak begitu mirip dengan Luciel.
Luciel lalu berganti memiringkan badan menghadap ke kiri. Melihat sang mama yang masih tertidur lelap. Dirabanya wajah yang mulus itu, sesaat membuatnya teringat pada mami Mayra lantaran wajah kedua kakak beradik itu memang terdapat kemiripan.
"Ah," Seketika Natasha membuka mata saat merasakan ada sesuatu yang menyentuh wajahnya. Begitu membuka mata, dia langsung tersenyum saat mengetahui jika putra kecilnya sudah bangun.
"Luciel sudah bangun?" tanya Natasha sambil mengecek matanya.
"Selamat pagi Mama ..." ucap Luciel sambil meringis.
"Selamat pagi juga, sayang. Apa mimpimu semalam indah?" tanya Natasha lagi seraya membelai pipi Luciel.
"Sangat indah. Luciel bermimpi bermain dengan semua orang, termasuk mama dan papa!"
"Haha, oke ... itu memang mimpi yang indah. Emm ... maukah Luciel bangunkan papa?" tanya Natasha dengan senyuman usil.
"Iya, Luciel mau!" jawab Luciel sambil mengangguk.
"Bagus, kalau begitu Luciel cium pipinya papa sampai papa bangun!"
"...." Sejenak Luciel terdiam. Saat dia mendekati wajah Daniel, dia sempat merasa ragu saat ingin memberikan ciuman pertama untuk papanya. Dia bingung harus bagaimana, lalu tiba-tiba saja terbesit di pikirannya kejadian saat Nisa selalu menciumnya ketika merasa gemas padanya.
CUP!
"Papa bangun!" ucap Luciel begitu mendaratkan sebuah kecupan di pipi Daniel.
"Sebentar ... lima menit lagi ..." gumam Daniel yang masih memejamkan matanya.
"Ayo bangun, Papa! Ini Luciel!" Luciel langsung memberikan ciuman lagi di pipi pria itu, bahkan dia juga menggoyang-goyangkan tubuhnya agar dia segera bangun. Di sisi lain Natasha yang melihat itu semua hanya tertawa, dia menganggap tingkah anak dan suaminya itu cukup menggemaskan.
"Haha, oke-oke ... baiklah, papa sudah bangun!" Daniel bangun sambil tertawa geli lantaran ciuman Luciel yang bertubi-tubi. Bahkan dia juga menangkap tubuh kecil Luciel dan memeluknya dengan erat.
"Selamat pagi Papa!" ucap Luciel sambil tersenyum, dia senang karena dia berhasil membuat papanya bangun.
"Selamat pagi juga, Luciel ... Bangunmu pagi sekali, apa tidurmu nyenyak?"
"Iya, Luciel tidur nyenyak. Kasur Papa dan Mama sangat nyaman!"
"Hahaha, baiklah kalau begitu! Untuk sementara Luciel tidur dengan papa dan mama dulu, ya! Nanti papa akan merenovasi kamar yang baru untuk Luciel! Luciel sudah berani tidur sendiri, kan?" tanya Daniel lagi.
"Luciel berani kok tidur sendiri! Luciel tidak takut hantu!"
__ADS_1
"Bagus, anak papa memang pemberani!" pujinya sambil mengusap kepala Luciel dengan lembut.
Pagi hari ini adalah pagi hari paling indah yang pernah ada bagi ketiga orang tersebut. Sungguh suasana yang hangat dan penuh kasih, tentu saja ini semua berkat adanya Luciel. Dan Luciel sendiri pun juga merasa senang, dia merasakan kasih sayang dari kedua orang tua yang lengkap, seperti yang selama ini ia impikan.
Mereka pun menjalani rutinitas mereka seperti biasanya. Dan kali ini, Natasha yang jarang sekali melangkahkan kaki ke dapur, hari ini secara khusus memasak dan menyiapkan makanan untuk Luciel.
"Ayo sayang, cobalah ... Mama sendiri yang membuatnya untuk Luciel!" pinta Natasha kala berada di meja makan.
"Baiklah Mama, akan Luciel makan ..." jawab Luciel dengan senyum manisnya. Diam-diam dia merasa ragu saat melihat telur omelet buatan mamanya, karena di bagian pinggir telur tampak kehitaman dan sedikit gosong.
Tiba-tiba saja Daniel yang duduk di sebelah Luciel menepuk bahunya, lalu berkata, "Tidak usah dimakan kalau Luciel tidak suka."
"Ah, iya. Papa benar, mama memang jarang memasak. Tidak apa-apa kalau Luciel tidak mau memakannya, Luciel makan saja hidangan yang dibuat oleh koki kediaman," ucap Natasha dengan ekspresi sedikit murung. Dia sadar kalau dia bukan terbilang istri yang sempurna bagi Daniel, bahkan sejak dia menikah sampai dengan sekarang, kegiatannya memasak bisa dihitung dengan jari.
Namun, bukan salah Natasha yang kurang berusaha. Dia dulunya sudah mencoba untuk mengikuti kelas memasak, hanya saja dia berhenti karena mendapatkan tanggapan kurang baik dari ayahnya. Tommy Adinata selalu menekankan pada Natasha agar menjaga penampilannya sebaik mungkin. Dia tidak ingin jika sampai putus hubungan dengan keluarga Kartawijaya, karena itulah Natasha terus berusaha untuk tampil secantik mungkin agar Daniel tidak mencampakkan dirinya.
"Luciel mau makan ini! Mama sudah berusaha membuat ini untuk Luciel dengan sepenuh hati, pasti rasanya enak!" ucap Luciel yang kemudian langsung melahap omelet tersebut.
"Hemm ... enyaak!" ucap Luciel sambil mengunyah. Masakan mama Natasha memang tidak seenak masakan yang pernah dibuatkan oleh mami Nisa ataupun mami Mayra. Tetapi rasanya masih termasuk aman untuk dimakan. Luciel berbohong karena tidak mau mamanya merasa sedih.
"Benarkah? Makan yang banyak ya sayang!" Natasha tersenyum semringah. Dia sangat bahagia karena masakannya dipuji enak oleh putra tersayang.
"...." Daniel hanya diam dan tersenyum tipis, dia tidak menyangka jika putranya begitu berbesar hati mau memakan hidangan yang bahkan tampilannya saja seperti makanan yang telah hancur.
Di satu sisi Tuan Muchtar dan Nyonya Ratna juga tersenyum. Mereka juga senang karena Luciel ternyata mampu beradaptasi dan membiasakan diri dengan baik, tidak seperti anak lainnya yang terkadang rewel jika berada di lingkungan baru.
"Dadah Mama! Sampai jumpa nanti saat Luciel pulang sekolah! Lain kali Mama buatkan bekal untuk Luciel, ya! Luciel mau bawa bekal buatan Mama!" pinta Luciel dengan senyuman yang berseri.
"B-baiklah, Luciel! Mama akan bekerja lebih keras lagi untuk membuat makanan yang lezat dan bergizi bagi Luciel!" jawab Natasha yang seakan merasa melayang. Dia teramat senang lantaran diminta untuk membuatkan masakan lagi. Dan dia juga mulai berniat untuk menjalani kursus memasak lagi agar keahliannya memasak semakin berkembang.
"Ayo, Luciel! Mari berangkat, papa juga harus berangkat ke kantor," ajak Daniel seraya menggandeng tangan Luciel.
"Iya, Papa!" jawab Luciel sambil mengangguk.
"T-tunggu sebentar!" ucap Natasha yang tiba-tiba menghadang suami dan anaknya.
"Ada apa?" tanya Daniel.
Natasha tak menjawab, dia malah berjongkok dan melakukan sesuatu. Yang dia lakukan adalah membetulkan tali sepatu Luciel yang tadinya sudah longgar dan hampir terlepas. "Nah, sudah!"
"Terima kasih Mama!" Luciel bahagia, dia senang lantaran Natasha memperlakukan dirinya penuh kasih sayang dan perhatian. Kini hati kecilnya telah sepenuhnya luluh, dia sekarang sudah sepenuhnya menerima Natasha sebagai ibunya.
"Hati-hati di jalan, ya!" Natasha kembali melambaikan tangan. Dia senang sekali karena akhirnya memiliki kehidupan yang normal seperti halnya wanita lain. Sebelumnya dia selalu merasa rendah diri dan iri pada iparnya yang mempunyai anak-anak yang lucu, tetapi kini dia sudah merasa begitu lagi. Hadirnya Luciel bak malaikat yang telah menghilangkan rasa benci dan dendam di antara orang dewasa itu.
Suaminya telah berangkat bekerja, dan anaknya juga telah berangkat sekolah. Karena Natasha sama sekali tidak mungkin mengerjakan pekerjaan rumah, akhirnya dia meminta izin pada mertuanya untuk jalan-jalan keluar. Natasha jalan-jalan bukan semata-mata demi bersenang-senang. Akan tetapi, kali ini dia pergi untuk membelanjakan uang demi Luciel.
Natasha bahagia sekali karena akhirnya punya seorang anak. Dia membelikan berbagai macam pakaian, mainan dan perlengkapan sekolah yang baru demi Luciel. Terlebih lagi, kali ini dia keluar karena ada sesuatu hal yang penting untuk dia lakukan. Yaitu mengunjungi kantor pusat One INC Entertainment demi bertemu dengan ayahnya.
__ADS_1
Setelah Natasha duduk dan menunggu cukup lama di lounge, akhirnya ada seorang lelaki yang berpenampilan rapi menghampiri dirinya. Lelaki itu tidak lain adalah sekretaris ayahnya.
"Nona Natasha, Pak Presdir sudah menunggu Anda di ruangannya!" ucap lelaki itu dengan nada hormat. Diam-diam dia juga merasa prihatin, lantaran sikap atasannya yang cukup terang-terangan dalam mengabaikan anaknya.
"Baik, sebelumnya terima kasih telah menyampaikannya pada ayahku," ucap Natasha dengan raut wajah dingin. Baginya, diabaikan oleh ayahnya yang mempunyai sifat keras sudah seperti makanan sehari-hari. Jadi kali ini dia tidak merasa sakit hati seperti biasanya, perasaan bahagianya ini terlalu berharga jika hancur hanya karena diabaikan oleh ayahnya.
Natasha segera berjalan menuju ke ruangan kerja ayahnya. Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu yang besar tersebut.
TOK TOK TOK!
"Ayah, ini aku! Bolehkah aku masuk?"
"Ya, masuklah!"
Natasha langsung memasuki ruangan itu begitu dipersilakan oleh ayahnya. Setelah Natasha berada di dalam, dia melihat ayahnya yang sedang sibuk dengan beberapa dokumen. Natasha melangkah lebih dekat, lalu duduk di kursi yang ada di depan meja kerja ayahnya.
"...." Tommy membisu, sekilas melirik ke arah putrinya dan kemudian baru meletakkan dokumen yang tadinya sedang dia baca. "Ada apa? Hal penting macam apa yang ingin kau bicarakan dengan ayah?"
"Sebelum aku mengatakan maksudku, aku ingin bertanya pada Ayah terlebih dulu. Apakah Ayah masih mengingat soal anak kecil yang aku bilang mirip dengan suamiku waktu itu?"
"Memangnya kenapa? Apa kau mau mengabariku jika kau sudah berhasil merebut hak asuh bocah ingusan itu dari Nisa? Apa kau mau membanggakan kalau kau membesarkan anak orang lain?" tanya Tommy dengan tatapan yang seolah-olah merendahkan Natasha.
"Ya, aku sudah berhasil merebutnya! Dan bukan cuma itu, dia adalah anak kandungku dan Daniel! Dia adalah Samuel-ku yang hilang dalam kebakaran 6 tahun lalu! Bocah yang Ayah anggap menjijikkan itu adalah cucu Ayah!" tegas Natasha. Kali ini dia tidak merasa takut pada ayahnya.
"Apa?!" Tommy terkesiap. Dia sangat terkejut dengan semua yang Natasha katakan padanya. Cucu kebanggaannya yang dia kira telah tewas ternyata masih hidup. Dia juga merasa malu pada diri sendiri lantaran sebelumnya sudah berkali-kali menghina bocah yang ternyata adalah cucunya sendiri.
"Apa yang kau katakan ini semuanya sungguhan?!" tanya Tommy yang bermaksud ingin memastikan sekali lagi.
"Tentu saja sungguhan, aku punya bukti! Lagi pula aku tak punya alasan untuk berbohong pada Ayah." Tiba-tiba saja Natasha melotot pada ayahnya. "Satu hal yang ingin aku tanyakan pada Ayah! Sebenarnya apa yang sudah Ayah lakukan pada kak Chelsea?!"
"A-apa? Apa maksudmu bicara padaku seperti itu?! Memangnya apa yang sudah aku lakukan?! Aku tak merasa pernah berbuat salah pada kakakmu itu!" bantah Tommy dengan spontan. Dia adalah tipe orang yang cenderung tidak suka disalahkan.
Tubuh Natasha gemetar, dia menunduk dan diam-diam mengepalkan tangannya sekuat mungkin. "Ayah sudah keterlaluan ... Sudah jelas semua ini terjadi karena satu kemungkinan! Dan kemungkinan itu adalah kak Chelsea yang selama ini memalsukan kematiannya! Dia lari saat insiden kebakaran 6 tahun lalu, dan dia juga membawa putraku bersamanya!"
"Aku kenal betul dengan kak Chelsea! Dia tak mungkin mengambil keputusan sebesar ini tanpa pertimbangan! Dan sekarang Ayah bayangkan saja! 6 tahun kakak lewati seorang diri sambil membesarkan seorang bayi! Ayah pikir itu karena siapa?! Tidak mungkin jika ini semua karena orang luar. Ini pasti karena urusan internal keluarga kita! Dan aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan Ayah! Karena semalam ini Ayah yang terlalu keras pada kak Chelsea!"
"Yang aku inginkan hanya satu! Dengan kekuasaan yang Ayah punya, aku mohon dengan sangat ... cepatlah temukan kak Chelsea! Ayah harus segera menemukannya dan meminta maaf! Aku mohon Ayah, aku tak mau kehilangan kakakku lagi! Kak Chelsea adalah kakakku satu-satunya yang tersisa!"
"...." Tommy diam seribu bahasa. Dia tak tahu harus bicara apa lantaran baru pertama kali baginya melihat sisi lain dari Natasha yang seperti ini.
Sedangkan di satu sisi, Natasha masih mengatur napasnya ketika selesai menuntut pada Ayahnya tanpa henti. Dadanya terasa panas, dia merasa sesak dan seperti tidak akan kuat lagi jika harus lebih lama berhadapan dengan orang selayaknya Tommy Adinata.
Tiba-tiba saja Natasha berdiri, berjalan menuju pintu. Dan sesaat sebelum dia mengalah keluar, lagi-lagi dia berhenti dan menoleh ke belakang.
"Cucu Ayah sekarang bernama Luciel, aku hanya berharap setidaknya Ayah mau berkunjung untuk menyapanya. Hanya satu kali juga tidak masalah. Terima kasih telah meluangkan waktu Ayah yang sangat berharga untuk mendengarkan keluhan putri Ayah yang tidak berharga ini!" ucap Natasha penuh penekanan.
Setelah Natasha pergi, Tommy masih terdiam di kursinya untuk beberapa saat. Kepalanya terasa pening, memikirkan semua yang putrinya katakan barusan. Namun, tiba-tiba saja Tommy tersenyum dan menyeringai licik.
__ADS_1
"Chelsea ... anak itu ternyata masih hidup. Haha, akhirnya aku punya kesempatan untuk memanfaatkannya lagi! Aku harus menemukan dia secepat mungkin! Dengan begitu keluarga Adinata akan bangkit!"