
KRING KRING KRING KRING ....
Bel sekolah berbunyi nyaring empat kali, menandakan waktunya pulang telah tiba. Anak-anak sekolah yang mengenakan seragam sekolah batik yang khas berbondong-bondong keluar dari gerbang SMP HARAPAN BANGSA.
Dari kejauhan, di dalam sebuah mobil hitam yang sejak tadi terparkir di sekitar areal sekolah. Di dalam mobil itu ada dua orang pria yang tampak mengenakan setelan jas yang rapi. Dan mereka berdua juga tampak sibuk memperhatikan dan mengamati seluruh siswa yang berjalan keluar gerbang.
Salah satu dari pria itu berucap, "Ayo turun, target sudah terlihat!"
"Baik!" jawabnya.
Kedua pria berjas hitam itu langsung turun dari mobil. Mereka berdua bersama-sama mendekati salah seorang siswa perempuan yang tampak sedang berjalan bersama dengan siswa laki-laki. Siswa dan siswi itu tidak lain adalah Liana dan pacarnya, yaitu Ian.
"Kakakmu masih berada di luar negeri, kan? Bagaimana kalau kita main ke tempat lain dulu?" tanya Ian dengan senyuman.
"Maaf Ian, soal itu aku rasa kita sebaiknya main lain kali saja. Aku kan tidak sepintar kamu, dan sebentar lagi juga waktunya ujian. Aku harus di rumah dan belajar, supaya nanti aku bisa sekolah di SMA favorit yang sama denganmu! Dan terlebih lagi, aku tidak mau mengecewakan kakakku ..." jawab Liana sambil berharap bahwa pacarnya itu akan mengerti alasannya menolak ajakannya bermain.
"Permisi, maaf mengganggu waktunya sebentar," ucap salah satu dari kedua pria yang menghalangi jalannya Liana dan Ian.
"Anda ada perlu apa?" tanya Ian dengan tatapan sinis. Dia juga melangkah maju dan berdiri di depan Liana. Seolah ingin menghadang kedua pria dewasa itu andai saja mereka berdua mempunyai niat jahat.
"Kami ada keperluan penting dengan Nona Liana," jawab pria satunya lagi. Tiba-tiba saja dia melangkah lebih dekat, dengan mudah mendorong Ian untuk menyingkir dari depan Liana.
"Keperluan penting seperti apa? S-saya tidak mengenal Bapak ..." ucap Liana yang mulai merasa gugup.
"...." Pria itu tak menjawab. Tiba-tiba merogoh saku jasnya untuk mengambil sesuatu, dia lalu menyodorkan benda yang merupakan kartu nama itu pada Liana.
"Ini kartu nama saya, sebelumnya saya minta maaf karena kita bertemu dengan cara yang sedikit tidak nyaman seperti ini. Perkenalkan, nama saya James, Advertising Manager Moon Department Store. Saya ingin menawarkan kerja sama dengan Nona Liana untuk menjadi bintang iklan produk perusahaan kami," ucap pria bernama James tersebut dengan senyum ramah.
"Bintang iklan?" tanya Liana dengan wajah bingung.
"Tunggu sebentar!" teriak Ian yang tiba-tiba menerobos dan berdiri di tengah, menghalangi pandangan James dengan Liana. "Jangan mudah percaya Liana! Bisa saja dia mau menipumu, memangnya ini hal wajar jika seseorang yang tidak mengenalmu tiba-tiba menawarkan hal seperti ini? Jangan-jangan dia punya motif tersembunyi. Apanya yang bintang iklan? Memangnya Bapak bisa kenal Liana dari mana?"
"...." Liana diam seribu bahasa. Dia mulai berpikir jika apa yang semuanya Ian katakan adalah masuk akal. Sungguh aneh jika dirinya yang bukan siapa-siapa justru ditawari untuk menjadi bintang iklan dari sebuah perusahaan department store yang ternama.
"...." Di sisi lain James juga terdiam. Dia tersenyum tipis karena bocah seperti Ian mampu menaruh curiga dan menebak apa tujuannya. Dan meskipun benar adanya jika dia punya maksud tersembunyi, tentu saja dia tidak akan mengakuinya. Dia tidak bisa membiarkan tugas yang diberikan secara langsung oleh ketua jadi gagal, bisa-bisa nyawanya yang akan dipertaruhkan.
"Haha, wajar saja jika kalian menaruh curiga pada saya. Akan tetapi, saya tidak punya maksud jahat seperti yang kalian kira. Saya ke sini karena memang ingin menawarkan kerja sama. Soal mengapa saya bisa mengenal Nona Liana, itu karena wajah Nona Liana pernah dimuat di dalam brosur ekstrakurikuler sekolah."
Sekali lagi James mengulurkan tangannya, lalu meninggalkan kartu namanya di atas telapak tangan Liana. "Itu saja yang ingin saya sampaikan. Jika Nona Liana berminat, jangan ragu untuk menghubungi saya."
"Ayo, kita pergi!" ajak James pada rekannya. Mereka berdua pun langsung naik ke mobil mereka dan meninggalkan area sekolah.
Sedangkan Liana, dia masih mematung dan berdiam diri di tempat sambil memandangi kartu nama yang James tinggalkan tersebut. Ian yang melihat itu semua langsung berkata, "Apa kamu tertarik?"
__ADS_1
"E-eh?! Tidak kok! Ayo kita cepat pulang! Sudah mendung, bahaya kalau sampai kehujanan!" ucap Liana yang langsung menyimpan kartu nama itu ke dalam sakunya. Dia juga menggandeng tangan pacarnya agar segera berjalan cepat.
***
Malam harinya ketika Liana berada sendirian di rumah. Sejak tadi dia tidak bisa memfokuskan diri untuk belajar, pikirannya selalu tertuju pada sebuah kartu nama yang seorang pria berikan padanya sewaktu pulang sekolah tadi.
"Uhhh ... kacau! Aku tidak bisa belajar!" keluh Liana sambil mengacak-acak rambutnya.
Liana langsung mengambil kartu nama yang dia simpan. Dia memandangi kartu nama James itu cukup lama.
"Huft ... Moon Department Store, padahal ini kan perusahaan departement store yang terkenal. Dan perusahaan ini tiba-tiba ingin aku jadi bintang iklan mereka, sebenarnya kenapa ya? Apa karena aku cantik dan tubuhku menarik?" gumam Liana yang sedetik kemudian langsung menggelengkan kepala secepat mungkin.
"Tidak-tidak! Pasti bukan karena itu! Aku tidak boleh terlalu narsis, lagi pula masih ada orang lain yang lebih populer dariku di sekolah! Tapi ..." Sekali lagi Liana terdiam dan menatap kartu nama itu lekat-lekat.
"Menjadi bintang iklan juga sepertinya tidak ada ruginya, pasti dapat bayaran uang yang banyak, kan? Mungkin aku bisa diskusikan ini dengan kak Leon!"
Liana lalu mengambil ponselnya yang dia letakkan di samping meja belajarnya. Dia mencari nama kontak Leon di daftar kontak dalam ponsel. Namun, sesaat sebelum dia memencet tombol panggilan telepon itu, tiba-tiba saja Liana kembali tertegun.
"Tunggu sebentar, jika aku bilang ini pada kak Leon. Kira-kira reaksinya nanti akan seperti apa? Kalau aku bilang aku tertarik karena dapat bayaran yang besar, apakah mungkin kak Leon akan tersinggung dan berpikir jika selama ini dia tidak mencukupi keperluanku?"
"Tapi ... selama ini kak Leon sudah memberikan yang terbaik yang dia bisa padaku. Aku sebagai adiknya entah kenapa merasa kalau aku ini cuma beban baginya. Yang memasak selama ini kakak, yang mencari uang kakak, mencuci baju dan bayar biaya laundry juga pakai uang kakak. Sedangkan yang aku bisa cuma beres-beres rumah dan merawat tanaman."
"Jika sekarang aku pikirkan ... ternyata selama ini aku belum memberikan manfaat yang berarti bagi kak Leon." Sontak saja Liana berekspresi murung. Dia berpikir jika dirinya yang tidak pernah berbuat hal yang berarti sungguh memalukan. Kulit di dahinya mengerut, dia berpikir keras untuk menentukan pilihan mana yang akan dia ambil.
Liana menghela napas panjang lalu berkata, "Hahh ... jika saja aku bisa meminta pendapat pada seseorang. Minta pendapat pada Ian sepertinya akan percuma, dia pasti akan setuju pada apa pun yang aku pilih. Emm ... mungkin aku coba bertanya pada kak Mayra saja! Dia kan sudah dewasa, mungkin dia bisa memberikan pendapat dan solusi yang terbaik!"
"Ngomong-ngomong soal kak Mayra ... belakangan ini dia tidak berkunjung ke rumahku lagi. Mungkinkah jika dia semakin sibuk? Kalau aku meneleponnya sekarang, apakah itu akan mengganggu kak Mayra menjalankan tugas?"
Hati Liana kini dipenuhi oleh keraguan. Dia ragu pada semua hal yang dia pikirkan. Seumur hidupnya baru pertama kali dia menentukan pilihan yang sesulit ini. Tetap menjadi pelajar pada umumnya ataukah mencoba untuk terjun di dunia kerja lebih awal?
"Cukup Liana, ayo berhenti bingung! Mari pikirkan saja sisi positifnya!" gumam Liana yang bermaksud menyugesti diri sendiri.
"Sisi baiknya jika aku menerima tawaran ini, maka tentu saja aku bisa menghasilkan uang. Dan di dunia ini, uang adalah sesuatu yang memiliki pengaruh besar. Sebentar lagi adalah masa ujian dan aku akan segera masuk SMA. Dan itu pastinya akan butuh biaya yang banyak. Jika aku punya uang sendiri, aku bisa membantu kak Leon! Lalu nanti aku bisa membuat kakak bangga padaku!"
"Baiklah, kalau begitu mari kita coba saja! Lagi pula tidak ada ruginya mendapat pengalaman baru!" Liana akhirnya membuat sebuah keputusan. Dia tak lagi bingung harus menghubungi siapa, yang dia hubungi tidak lain adalah James si advertising manager yang dia temui siang tadi.
Di luar dugaan dari Liana. Ternyata di jam seperti saat ini pun James masih tetap membalasnya dan memberikan sapaan yang ramah terhadapnya. Setelah mereka berdua berbincang tentang banyak hal dan dalam waktu yang cukup lama, akhirnya mereka berdua membuat kesepakatan untuk membuat janji temu besok harinya.
Hati Liana serasa berbunga-bunga. Membayangkan jika dia akan melakukan semua hal besar sungguh membuatnya bahagia. Anak remaja sepertinya memang tidak pikir panjang, asalkan itu hal baik baginya, dia tidak ragu untuk mengambil kesempatan saat itu juga. Baginya, dapat membantu sang kakak dalam segi finansial sudah cukup membuahkan rasa kebanggaan tersendiri di lubuk hatinya.
***
Hari berganti, sesuai kesepakatan yang dibuat semalam maka hari ini sepulang sekolah adalah hari pertemuan. Tak cuma merahasiakan ini dari kakak tersayang dan calon kakak iparnya, bahkan pacarnya yang satu sekolah dengannya pun juga tidak ada beritahu.
Dengan pakaian yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan tasnya. Liana seorang diri pergi ke lokasi yang menjadi titik pertemuan, dan tempat itu tidak lain adalah kantor pusat Moon Department Store. Setelah Liana bertanya pada resepsionis yang bertugas, dia kemudian diarahkan untuk menuju ke sebuah ruangan yang sudah ditentukan.
__ADS_1
Di luar dugaan dari Liana, yang menunggunya di dalam ruangan tersebut tak hanya sekadar James. Akan tetapi, ada seseorang wanita yang tampak tak asing baginya, lantaran wanita itu sudah kerap muncul di berbagai media. Hanya saja Liana lupa siapakah nama wanita tersebut.
"Mari Nona Liana, silakan duduk ...." James menyambut kedatangan Liana dengan sikap ramah. Begitu mereka bertiga sudah duduk berhadapan, tiba-tiba saja James kembali berkata, "Nona Liana, perkenalkan ... Beliau adalah salah satu pemegang saham utama dari Moon Department Store, beliau adalah Nyonya Nisa Sania Siwidharma."
"S-salam kenal Nyonya Nisa, saya Liana ... Suatu kehormatan bagi saya dapat bertemu dengan Anda ..." ucap Liana terbata-bata. Tak dapat dipungkiri jika dia merasa gugup dengan pengalaman yang asing sekaligus yang pertama kali seperti ini.
"Haha, tidak usah terlalu sungkan. Adiknya Leon ternyata manis juga," ucap Nisa sambil tertawa kecil.
"Eh?! Nyonya mengenal kakakku?" tanya Liana dengan wajah bingung sekaligus heran.
"Tentu saja, karena aku adalah salah satu orang yang pernah menggunakan jasa pengawalan kakakmu. Harus aku akui kalau kemampuan kakakmu itu sangat hebat," jawab Nisa yang masih bertahan dengan senyuman palsunya.
"T-terima kasih atas pujian Nyonya ..." ucap Liana dengan senyum canggung sekaligus senang karena kinerja kakaknya dipuji bagus.
"Nona Liana, sebenarnya yang menginginkan Nona menjadi bintang iklan perusahaan kami kali ini adalah Nyonya Nisa. Beliau menaruh perhatian pada Nona setelah melihat brosur dan selebaran yang memuat tentang berita sekolah. Dan lagi Beliau juga tahu mengenai Nona karena kakaknya Nona sendiri," jelas James. Semua yang dia katakan ini tentu saja berdasarkan skenario yang telah Nisa atur untuknya.
"Ah ... jadi, kakakku sudah tahu soal ini?" tanya Liana.
"Tidak, aku menaruh perhatian padamu bukan karena kau adalah adiknya Leon. Tetapi aku memang melihat ada aura yang berbeda dari dirimu, kau cocok untuk menjadi bintang iklan perusahaan kami, hanya saja ..." ucap Nisa yang tiba-tiba terhenti. Membuat Liana menjadi makin penasaran dengan kalimat apa yang ingin dia ucapkan selanjutnya.
"Hanya saja apa, Nyonya?" tanya Liana.
"Aku akan terang-terangan saja. Kau telah berani datang ke sini seorang diri. Tetapi ... itu tidak mengubah kenyataan jika kau masih gadis di bawah umur. Apa kau sudah minta izin pada kakakmu?"
"S-sudah ..." jawab Liana sambil melirik ke samping. Jelas saja Nisa tahu bahwa gadis kecil ini telah berbohong padanya, tetapi dia tidak berkomentar apa-apa karena memang inilah yang dia inginkan.
"Yang dikatakan Nyonya benar, saya juga merasa jika Nona Liana sangat cocok dengan produk terbaru yang kami keluarkan!" James lalu mengeluarkan beberapa buah berkas. Di antara berkas-berkas itu terdapat berkas kontrak dan perjanjian mengenai keuntungan dan kewajiban.
"Seperti yang sudah saya jelaskan di telepon semalam. Kami sama sekali tidak meminta Nona Liana untuk melakukan hal yang aneh-aneh. Produk-produk dari departement store kami yang akan Nona iklankan di antaranya adalah pakaian untuk remaja, aksesoris, kosmetik yang juga dikhususkan untuk remaja dan peralatan sekolah!" lanjut James lagi.
"Baiklah, aku akan mendengarkan dengan baik ..." ucap Liana yang kemudian menyimak dengan saksama semua penjelasan yang James katakan padanya.
Proses perbincangan bisnis tersebut bisa dibilang berjalan dengan baik. Terlebih lagi berkat hadirnya Nisa yang mengaku sebagai orang yang mengenal Leon. Berkat hal itu akhirnya Liana semakin merasa yakin jika dia tidak akan menimbulkan masalah saat menyetujui kontrak untuk menjadi bintang iklan dari perusahaan Moon Department Store.
Kesepakatan telah resmi tercapai. Liana akhirnya mendapatkan kesempatan untuk membuat kakaknya bangga pada dirinya. Dia meninggalkan ruang pertemuan sambil membawa surat kontrak di dalam tasnya dengan perasaan riang.
Tak lama setelah kepergian Liana. Tiba-tiba saja muncul seorang pria yang dari tingkahnya dia merupakan sosok yang berkuasa di perusahaan ini. Dia adalah Dimas, adik kandung Nisa dan orang yang mewarisi seluruh bisnis Moon Department Store nantinya.
"Apa-apaan Kakak ini?!" tanya Dimas penuh emosi.
"Kau ini kenapa? Baru datang langsung berteriak pada kakakmu? Di mana sopan santunmu?" tanya Nisa dengan nada malas. Seolah dia sudah tahu apa maksud dan tujuan kedatangan adiknya ini.
"Kakak sudah keterlaluan! Kenapa melibatkan gadis kecil yang tak tahu apa-apa dalam rencana Kakak!?"
"Heh, ini namanya strategi dalam perang. Lagi pula aku tidak melakukan sesuatu yang buruk seperti mencelakainya. Yang aku lakukan adalah agar membuat kakak dari gadis itu semakin merasa berhutang budi padaku. Dan nantinya dia akan lebih memihakku daripada cintanya," jawab Nisa dengan enteng.
__ADS_1
"...." Sejenak Dimas terdiam, lalu setelahnya dia berkata, "Kakak gila!"
"Haha, terima kasih atas pujiannya~"