
Tubuh Chelsea gemetar, kedua matanya membulat ketika menatap lautan api yang berkobar merah menyala dari kejauhan. Pikirannya mulai menerka-nerka, kebakaran ini memang kebetulan bencana belaka atau sesuatu yang disengaja.
Tiba-tiba saja terbesit di pikirannya soal kejadian tadi sore, ketika dia melihat banyak jerigen besar berisikan minyak yang ada di villa. Dia juga teringat soal perkataan Leon yang memberitahunya jika tugas di kota S akan segera selesai.
Apakah ini bagian dari rencana kejam Hendry? Kenapa Leon merahasiakan hal sepenting ini darinya? Bagaimanakah nasib para penduduk yang masih tinggal di sana? Dan bagaimana juga dengan orang-orang yang telah Chelsea antar pulang? Apakah mereka juga terbunuh karena ulahnya?
Semua pertanyaan itu terus berputar di pikiran Chelsea. Jika benar kebakaran ini adalah perintah dari Hendry, Chelsea yakin betul jika saat ini Leon dan para pengawal yang lain juga terlibat di dalamnya.
Untuk memastikan semuanya, Chelsea memutuskan untuk memeriksa kamar Leon, mencari tahu apakah saat ini dia ada di kamarnya atau tidak. Karena dia tidak punya kartu akses agar bisa masuk lewat pintu, akhirnya Chelsea melompati pagar pembatas balkon dan mendarat ke sisi seberang.
SREKK!
Benar saja, sesuai yang Chelsea duga jika Leon tidak mengunci pintu balkonnya. Menyadari hal itu Chelsea langsung menggeser pintu itu lebar-lebar dan masuk ke dalam kamar begitu saja tanpa permisi.
"Leon! Leon! Leon, kau di mana?!" teriak Chelsea yang sambil mengitari seluruh ruangan kamar Leon.
Tak ada suara apa pun yang menyahut teriakan Chelsea, dan keberadaan Leon juga tidak ditemukan di mana pun. Chelsea yang panik segera kembali ke kamarnya sendiri dengan melompati pagar balkon seperti tadi. Dia mencari kunci mobilnya karena sudah bertekad untuk menyusul Leon sesegera mungkin ke Distrik Timur 12.
[Maaf, nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi]
"Leon ... ayolah angkat!!" Sambil terus menyetir mobil, Chelsea mencoba menelepon Leon beberapa kali. Setelah berulang kali mencoba namun tetap tidak tersambung, akhirnya Chelsea menyerah untuk menelepon Leon dan beralih fokus ke jalanan.
Chelsea mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan dia juga mengabaikan suara klakson dari orang-orang yang memperingatkannya agar jangan mengemudi ugal-ugalan.
CKITTT!
Chelsea langsung menghentikan mobilnya begitu tiba di jalanan yang dekat dengan Distrik Timur 12. Dia tidak bisa lebih dekat lagi lantaran hawa panas dari kobaran api sudah terasa sampai tempatnya saat ini.
"Hahh ... akhirnya sampai juga," gumam Chelsea yang napasnya tersengal-sengal. Karena tadi mengebut seperti pengemudi gila, dia sudah hampir beberapa kali mengalami tabrakan yang mampu memacu adrenalinnya. Dan untung saja semua itu tidak sia-sia, perjalanan yang tadinya harus ditempuh selama 30 menit, sekarang cukup separuhnya saja agar sampai di tujuan.
Angin malam terasa semakin bertiup kencang, membuat kobaran api semakin membesar. Asap hitam yang pekat membumbung tinggi ke langit, menutupi langit malam yang sebenarnya cerah dengan kepulan asap hitam bagaikan awan yang besar.
Namun, ada satu hal yang membuat Chelsea merasa aneh. Meskipun kebakaran ini merupakan peristiwa bencana yang besar, dia tak melihat satu pun keberadaan dari reporter yang harusnya segera melaporkan ini ke publik. Dan terlebih lagi, di sana juga sama sekali tidak ada warga yang membantu memadamkan api atau pun kehadiran petugas pemadam kebakaran.
"Sial, ternyata ini memang ulah Hendry!" gumam Chelsea dengan tatapan nanar ke arah si jago merah yang semakin membesar.
Aku sangat yakin jika dalang dibalik semua ini adalah si penguasa tiran itu! Dia sengaja menyuruhku membebaskan penduduk yang ditahan tadi karena ingin menghabisi mereka sekaligus dengan api.
Memang cuma Hendry yang bisa sekejam ini. Terlebih lagi dengan posisinya sebagai Kepala Dewan Parlemen, dia punya kekuasaan untuk mengendalikan berita media massa dan juga personil pemadam kebakaran. Mereka hanya akan bergerak jika Hendry memberikan perintah. Jadi, sudah dipastikan jika alasan utama dari kebakaran ini adalah pembantaian.
"Ugh! Tidak bisa begini!" Chelsea bergeleng kepala secepat mungkin. Dia kembali mengingat apa tujuan utamanya datang ke sini adalah demi mencari Leon.
Chelsea akhirnya berjalan lebih dekat ke arah kobaran api tersebut. Dan tiba-tiba saja, di balik sebuah pohon besar yang di sekitarnya dipenuhi oleh semak belukar, dari dalam kegelapan itu ada seseorang yang melempar batu kerikil ke arah Chelsea.
"Aww ... siapa yang-" Perkataan Chelsea seketika terhenti saat menoleh. Dia baru sadar jika orang yang barusan melemparkan batu kerikil padanya adalah ketua tim.
"Ketua tim?" Chelsea yang merasa penasaran pun akhirnya berjalan mendekati pohon besar itu. Dan di sana, dia melihat ketua tim bersama dengan para pengawal yang lain. Mereka semua juga tampak mengenakan pakaian yang serba hitam.
"Kenapa kalian semua di sini?" tanya Chelsea.
"Tentu saja kami sedang bersembunyi dan mengamati situasi. Tugas kami semua sudah selesai, dan kami hanya tinggal kembali lalu melaporkan semua yang di sini kepada Pak Dewan," jawab ketua tim. Sesaat kemudian dia kembali berkata, "Ngomong-ngomong ada urusan apa kau datang ke sini? Leon memberitahu kami jika kau sedang tidak enak badan."
"Hah? Aku baik-baik saja. Kenapa Leon berkata ..." tiba-tiba saja Chelsea terdiam, sekarang dia baru sadar jika Leon sama sekali tidak ada di kelompok ini. "Ketua tim, di mana Leon? Aku datang ke sini karena mau mencarinya."
"Ah, sebenarnya itulah yang jadi masalah kami saat ini. Karena kau tidak ikut bertugas malam ini, jadinya Leon mengerjakan bagianmu. Dan semua yang sudah berkumpul bersama di sini, kami semua sudah selesai mengerjakan tugas kami. Harusnya sekarang kami sudah dalam perjalanan untuk kembali ke Distrik Timur 1, tetapi kami masih menunggu Leon kembali dulu," jelas ketua tim.
"A-apa?! Jadi saat ini Leon masih ada di dalam kepungan api?!" tanya Chelsea seakan tidak percaya.
"Benar, itulah yang terjadi."
"T-tidak ... tidak bisa begini!" teriak Chelsea yang tiba-tiba kehilangan kendali. Trauma yang berhubungan dengan kebakaran 6 tahun lalu kembali menghantuinya. Dia paham betul bagaimana susahnya untuk keluar hidup-hidup dari kebakaran yang mengerikan.
Saking melekatnya kenangan buruk soal kebakaran, Chelsea tiba-tiba merasa khawatir dengan bagaimana keadaan Leon yang masih terperangkap di dalam api. Dia membayangkan hal buruk, dan di lubuk hatinya yang paling dalam, dia tidak mau kehilangan Leon.
Tanpa berkata sepatah kata pun lagi, Chelsea melangkah mendekat ke arah kobaran api tersebut. Namun, tiba-tiba saja ketua tim menahannya.
"Lepaskan aku! Aku mau mencari Leon!" teriak Chelsea sambil meronta sekuat tenaga, akan tetapi sepertinya sia-sia saja lantaran tenaga ketua tim yang merupakan seorang pria jelas-jelas lebih besar darinya.
"Jangan bertindak sembrono! Untuk apa kau masuk saat api sudah membesar! Begitu ke sana kau bisa saja terbakar! Dan kau tenanglah! Kami semua tahu seperti apa kemampuan Leon! Kemampuannya ada di atas kami semua! Memangnya kau bisa apa untuk menolongnya?! Kau ke sana sama saja dengan mengantar nyawa!" bentak ketua tim yang masih menahan Chelsea erat-erat.
__ADS_1
"Leon mampu melawan kalian semua karena kalian masih manusia! Tapi lawannya kali ini adalah api! Leon masih bisa terluka! Dan meskipun aku lemah, aku tetap harus berusaha! Leon terlambat keluar gara-gara dia mengerjakan tugas bagianku! Jadi aku harus bertanggung jawab!" teriak Chelsea yang masih bersikeras ingin melepaskan diri dari ketua tim.
"Aku bilang diam! Patuhi aku sebagai ketua tim! Kita memang bertugas dengan nyawa kita sebagai taruhannya! Dan Pak Dewan adalah atasan kita, berkorban nyawa asal tujuan Pak Dewan tercapai itu bukan berarti kegagalan! Kita harusnya merasa terhormat karena kita berguna!"
"A-apa?!" Sontak saja Chelsea seakan jadi hilang akal setelah mendengar perkataan dari ketua tim barusan. Dan tiba-tiba saja, entah mendapat dorongan tenaga dari mana, dia mampu melepaskan diri dari ketua tim, bahkan juga mendorongnya hingga terjatuh ke tanah.
"Jaga kata-katamu! Terserah Pak Dewan Hendry si tirani itu mau menumbalkan siapa! Yang jelas jika itu Leon, maka tidak boleh! Leon sangat berharga bagiku! Bahkan jika aku harus melangkahi mayatmu dulu agar bisa masuk ke api, demi mencari Leon tetap akan aku lakukan!" teriak Chelsea tanpa sedikit pun keraguan yang tergambar di matanya.
"...." ketua tim beserta para pengawal yang lain hanya diam, mereka semua menyadari adanya aura membunuh dari yang berasal dari wanita yang sedang mengamuk di depan mereka saat ini.
"Uhuk ... uhuk ...."
Terdengar suara batuk dari seseorang. Dan sontak saja semua orang termasuk Chelsea mengalihkan perhatian padanya. Ternyata yang barusan batuk tidak lain adalah Leon yang baru saja keluar dari kobaran api.
Leon selamat, tetapi keadaannya tampak tidak begitu baik. Dia berjalan tertatih-tatih dengan kaki sebelah kirinya yang terluka. Bajunya juga sebagian tampak telah berlubang karena terbakar. Penampilannya saat ini begitu berantakan.
"Leon!!" Chelsea yang sebelumnya ternganga tak percaya kini berteriak dan berlari secepat mungkin menghampiri Leon. Bahkan secara spontan juga memeluknya dengan begitu erat, sangat erat seolah-olah tak akan pernah dilepaskan selamanya.
"Mayra ..." ucap Leon dengan suara lirih.
"Syukurlah ... syukurlah kau selamat. Aku pikir sudah terjadi apa-apa padamu di dalam sana .... Tolong, aku mohon lain kali jangan menyembunyikan hal seperti ini dariku ... Aku tak mau kau terluka gara-gara aku ...."
"...." Leon diam seribu bahasa, dia masih sepenuhnya belum bisa percaya jika wanita ini menangis sambil memeluknya karena khawatir padanya.
Ternyata Mayra mengkhawatirkan aku, bahkan tangannya sampai gemetaran. Sebaiknya aku coba untuk menenangkannya.
Tanpa berpikir apa pun lagi, Leon membalas pelukan Chelsea. Dia juga menepuk-nepuk punggung wanita itu dengan pelan sambil berkata, "Maaf ... sudah membuatmu khawatir, sekarang sudah tak apa. Aku baik-baik saja ...."
Leon dan Chelsea terus berpelukan, bahkan tanpa sadar Chelsea terus memeluk Leon meskipun tangisnya sudah berhenti. Akan tetapi, di sisi lain Leon merasa sedikit canggung, karena saat ini dia jadi pusat perhatian oleh para pengawal yang lainnya.
"Mayra," panggil Leon dengan nada ragu.
"Ya?" balas Chelsea yang masih hanyut dalam suasana.
"Sepertinya sudah cukup berpelukannya, tidak enak dilihat yang lain," ucap Leon dengan canggung.
"Eh?! Maaf!" Seketika Chelsea melepaskan pelukannya. Dia juga membelakangi para pengawal yang lain. Dia tak mau menunjukkan wajahnya yang kini merasa malu setengah mati.
"Huh, mata kami terasa perih melihat kisah cinta kalian," celetuk ketua tim yang diam-diam merasa iri.
"Tidak masalah, kau kembali hidup-hidup saja sudah cukup beruntung. Dan Pak Dewan juga tidak perlu memikirkan alasan pada Kepala Divisi 2 jika terjadi apa-apa denganmu. Setelah ini kami akan segera kembali ke Distrik Timur 1 untuk memberikan laporan terkini. Dan karena kau terluka, kau sebaiknya tidak perlu ikut, rawat saja lukamu dulu."
"Baik, ketua tim."
Ketua tim dan para pengawal yang lain pun segera pergi, meninggalkan kedua orang itu sendiri. Di sisi lain Chelsea masih merasa canggung sekaligus bingung. Dia tidak tahu harus berkata apa dan bertingkah seperti apa ketika berhadapan dengan Leon sekarang.
"Ayo pulang! Kau tidak mau berlama-lama di sini, kan?" tanya Leon yang memecah suasana canggung.
"Iya, mari pulang. T-tapi sebelum itu, biarkan aku mengobatimu dulu!" pinta Chelsea dengan kedua pipi yang merona.
Leon menghela napas dan tersenyum lembut. "Baiklah jika itu maumu." Kini Leon tak membangun benteng yang susah ditembus lagi. Jika Leon yang dulu, maka dia sudah pasti akan menolak bantuan dari Chelsea.
Chelsea lalu mengajak Leon untuk bergegas ke mobilnya karena di sana ada kotak P3K. Dan karena Leon sedikit kesusahan saat berjalan, pada akhirnya Chelsea juga menawarkan diri untuk membantu Leon berjalan dengan menuntunnya.
Setelah mereka berdua tiba di mobil Chelsea, Leon langsung disuruh untuk duduk dengan baik. Chelsea memeriksa bagian mana saja di tubuh Leon yang terluka, untung saja Leon terluka cuma di satu tempat yang ada di kakinya dekat dengan di bagian betis.
Chelsea merawat dan membersihkan luka di kaki Leon dengan hati-hati. Dan ini juga pertama kali baginya menyentuh kaki seorang pria. Setelah luka itu selesai dibalut oleh perban dengan rapi, Chelsea lalu berkata, "Terima kasih."
"Eh? Kenapa kau yang berterima kasih? Kau barusan mengobatiku. Harusnya yang berterima kasih itu aku, kan?" tanya Leon kebingungan.
"Dasar bodoh, kau menggantikan aku melakukan tugas yang berbahaya. Yang aku lakukan ini tidak seberapa dibandingkan yang sudah kau lakukan untukku. Tapi ... kau itu kan punya refleks yang bagus, kenapa kakimu bisa sampai terluka?"
"Ah ... ini karena aku tidak hati-hati. Di dalam sana asapnya sangat tebal, penglihatanku jadi terbatas, dan karena tidak lihat jalan jadinya aku terperosok ke selokan," jawab Leon dengan nada canggung.
"Astaga, kukira karena apa. Tapi aku bersyukur kau tidak kenapa-kenapa. Tadinya aku pikir kau sesak napas dan pingsan di dalam api. Dan untungnya sekarang kau selamat. Emm ... kenapa kau merahasiakan tugas ini dariku?" tanya Chelsea penasaran.
"Hahh ..." Leon menghela napas, dan tiba-tiba saja dia menepuk kepala Chelsea dengan pelan selayaknya seperti ke anak kecil. "Karena aku pikir kau tidak akan mau melakukan tugas tidak manusiawi ini. Selama ini ... aku selalu melihatmu tidak tega untuk menyakiti orang-orang yang tidak bersalah. Jadi, aku pikir tugas ini terlalu berat bagimu."
"...." Chelsea membisu, dia tersentuh karena Leon begitu menaruh perhatian padanya. Dan setelahnya dia malah tertunduk lesu. "Iya, kau benar. Mungkin inilah batasanku, aku tidak tega menyakiti orang yang tidak bersalah. Sebagai seorang gangster, ini merupakan kelemahan bagiku."
"Sudah, tak perlu pesimis. Jika ini memang kekuranganmu, maka biarkan aku saja menutupinya."
__ADS_1
"Eh?" Seketika Chelsea mendongak, dia ingin memastikan apakah yang barusan dia dengar ini sungguhan atau tidak.
Namun, di satu sisi Leon malah salah tingkah. Dia justru memalingkan wajahnya yang sudah merona. "Yang aku katakan tidak salah, kan? Kita ini sepasang rekan. Sesama rekan bukannya harus menutupi kekurangan satu sama lain?"
"Hahaha, i-iya. Kau benar!" Chelsea tertawa canggung. Dia barusan berpikir yang namanya saling menutupi kekurangan adalah hal dilakukan oleh sepasang kekasih. Dan ternyata dia salah mengira, Leon masih menganggap hubungan di antara mereka sebatas rekan.
WIIUUU .... WIIIUUUU ....
Terdengar suara sirene mobil pemadam kebakaran yang berdatangan. Jumlahnya ada banyak, ada puluhan mobil dikerahkan untuk mengatasi kebakaran di Distrik Timur 12. Tak cuma mobil pemadam kebakaran, mobil yang berasal dari berbagai macam kantor berita pun juga turut berdatangan.
"Sudah dimulai," ucap Leon yang mengawasi dari dalam mobil.
"Eh? Apanya yang dimulai?" tanya Chelsea.
"Rencana Pak Dewan, dia berencana akan mengerahkan personel petugas pemadam kebakaran hanya saat kebakaran sudah menjalar rata! Dan tentunya sudah terlambat jika ingin menyelamatkan nyawa penduduk, sudah dipastikan jika semuanya mati."
Deg!
Jantung Chelsea untuk sesaat seperti terasa berhenti berdetak. Ketika Leon mengatakan semuanya sudah dipastikan mati, pikiran Chelsea seketika memikirkan setiap para penduduk Distrik Timur 12 yang pernah dia temui. Kakek penjual bunga, gadis kasir yang genit, anak kecil yang hanya tahu bermain, ibu yang sakit-sakitan dan yang lainnya.
"Leon, ayo kita pulang. Tugas kita di sini sudah selesai, kan?" tanya Chelsea sambil tertunduk dengan raut wajah yang murung.
"Oke, kita pulang."
***
《TRAGEDI KEBAKARAN MEMBUMIHANGUSKAN SELURUH DISTRIK TIMUR 12》
Hal itu seolah-olah menjadi headline dari berita terpanas pagi hari ini. Dan Chelsea, seseorang yang tahu akan semua kebenarannya. Dia hanya berdiam diri di kamar hotelnya sambil mengamati berita dari televisi.
°°°
Kebakaran terjadi tadi malam. Dari kesaksian yang diberikan oleh warga sekitar, diduga kebakaran terjadi akibat ledakan gas karena sebelumnya terdengar suara ledakan.
Kondisi rumah yang berdekatan dan banyak material-material yang tidak layak menyebabkan api merambat dengan cepat. Karena akses jalan yang sempit, petugas pemadam kebakaran kesulitan untuk memadamkan api. Sampai saat ini, masih terdapat titik-titik api kecil yang belum padam diduga sebagai titik sumber kebakaran.
Tak ada korban yang selamat dalam insiden ini. Petugas menemukan banyak jasad dari para penduduk yang berada di tengah area. Diduga mereka sempat berlindung di puskesmas di mana satu-satunya tepat yang masih layak dan memiliki persediaan air di seluruh Distrik Timur 12.
Pemerintah daerah setempat memutuskan untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Dan untuk para korban, rencananya mereka akan dikuburkan secara massal dengan prosesi pemakaman yang layak.
°°°
PATS!
Chelsea mematikan televisi. Dia sudah muak mendengar semua kebohongan yang disebarluaskan oleh media massa. Dia hanya menundukkan kepala sambil tersenyum sinis.
"Haha, sial. Apanya yang kesaksian warga? Apanya yang kesulitan petugas? Apanya yang tak ada korban selamat? Dan apanya yang menyelidiki kasus?"
"Bohong ... Semua itu bohong ...."
"Warga yang memberikan kesaksian juga orang bayaran Hendry. Petugas kesulitan juga karena dikendalikan oleh Hendry. Tak ada korban yang selamat memang Hendry yang ingin membunuh mereka. Pemerintah menyelidiki kasus paling juga cuma seminggu, setelah itu insiden ini akan dilupakan dan proyek besar Hendry akan dimulai."
"Hendry ... kau benar-benar seorang tirani!"
Seharian ini Chelsea mengurung diri di rumah. Entah kenapa dia sama sekali tidak ada semangat untuk menjalani hari. Dan untung saja hari ini juga tidak ada tugas yang harus dia kerjakan. Lagi-lagi Chelsea akhirnya menyadari, dia baru sadar akan kekejaman dari organisasi gangster yang dia ikuti ini.
Hingga esok harinya tiba. Chelsea diam-diam meninggalkan hotel sejak matahari terbit. Dia menuju ke sebuah tempat yang begitu sepi, tempat itu tidak lain adalah pemakaman umum di mana para korban kebakaran Distrik Timur 12 dikuburkan secara massal.
Chelsea turun dari mobilnya dengan mengenakan pakaian yang serba hitam. Dia juga tampak membawa sebuah buket bunga mawar besar di tangannya.
Perlahan Chelsea melangkah masuk ke pemakaman dengan menahan kesedihan yang bergejolak di hatinya. Dia berdiri di tengah-tengah, memandangi setiap makam yang baru dibuat tersebut.
"Semuanya ... maafkan aku ..." ucap Chelsea dengan suara gemetar.
"Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk membela kalian ... Aku tak punya kekuasaan untuk melindungi nyawa kalian ...."
"Terima kasih, terima kasih bagi kalian yang sudah pernah membuatkan minum saat aku bertamu ... Terima kasih bagi kalian yang sudah pernah menyapaku dengan senyum kalian ...."
"Selama kalian hidup, kalian tidak mendapatkan kehidupan yang layak .... fasilitas yang sudah usang, kekurangan air bersih ... Tapi meskipun begitu, aku salut. Kalian masih mencintai dan mempertahankan rumah kalian sampai titik darah penghabisan ...."
"Kini, yang masih hidup ... adalah orang-orang yang sudah setuju dan yang telah pergi meninggalkan rumah lebih dulu. Akan tetapi, peluang mereka untuk bertahan hidup juga tipis, ganti rugi yang mereka dapat tidak sebanding dengan yang mereka korbankan ...."
__ADS_1
"Mungkin aku terlalu tidak tahu malu mengatakan semua ini. Akan tetapi, mohon izinkan aku memberikan penghormatan terakhir kepada kalian ...."
Chelsea menyeka setitik air mata yang ada di pipinya. Lalu, dia mengambil setangkai bunga dari buket bunga mawar yang dia bawa. Dia membagikan bunga itu dengan rata pada setiap makam. Dan setelah selesai memberikan bunga, dia langsung pergi begitu saja dari pemakaman.