
Semua yang mendengar jawaban dari Leon barusan merasa kaget. Mad Dog yang mereka kenal adalah seseorang yang mempunyai integritas dan kesetiaan yang tinggi pada organisasi. Tetapi sekarang, mereka melihat sendiri jika Mad Dog telah kehilangan kesetiaannya demi membela seorang wanita.
Di satu sisi Chelsea terus terdiam ketika melihat punggung Leon yang begitu kokoh untuk melindunginya. Pada akhirnya pilihan yang sulit ini terjadi, Leon telah menentukan pilihan antara kesetiaan pada ketua dengan kesetiaan pada dirinya. Dia sangat senang karena ternyata Leon lebih memilih dirinya.
Namun, meskipun Chelsea senang atas pilihan Leon. Dia tetap merasa sedih, karena lagi dan lagi dia telah menyeret Leon masuk ke dalam bahaya demi melindungi dirinya. "Leon ... apa yang kau lakukan? Kenapa kau mau melawan mereka semua demi aku? Apa kau ingin mati bersama denganku?"
"Diamlah, kita tidak akan mati! Berhentilah pesimis dan keluarkan senjatamu! Kemungkinan terburuknya kita akan mati, tetapi meskipun kita mati, setidaknya kita akan mati dengan cara terhormat!" ucap Leon yang bermaksud untuk menguatkan mental Chelsea.
"Baiklah, aku mengerti!" Chelsea mengangguk, kemudian mengeluarkan sebuah belati miliknya sendiri. Dia juga tak lagi bersembunyi di belakang punggung Leon, kini dia maju dan berdiri di samping Leon.
Mereka sama-sama berpikir jika sekarang mau berhenti pun sudah terlambat. Karena mereka sudah melakukan pelanggaran yang paling berat, yaitu mengacungkan senjata di hadapan Ketua dan para Family. Mereka berdua sudah resmi menjadi pemberontak organisasi. Mereka tidak lagi punya kesempatan, hanya bisa bertarung sampai titik darah penghabisan.
Keempat elite merasa begitu geram dengan pengkhianatan Leon. Akan tetapi, mereka berempat masih belum maju untuk menyerang, karena mereka patuh menunggu perintah dari sang ketua.
Sedangkan di sisi lain, Nisa masih terdiam. Dia sama sekali tidak menyangka jika di saat-saat terakhir Mad Dog yang dia peralat justru berbalik melawan dirinya. Dia tidak suka karena ini akan membawa keuntungan pada Chelsea, ingin sekali rasanya menjatuhi hukuman kepada kedua orang itu. Tetapi Nisa masih merasa sedikit tidak rela, karena berpikir jika Leon merupakan aset yang berharga.
"Leon, aku berikan satu kesempatan terakhir! Kau pilih serang wanita itu untukku, atau mati hari ini karena berkhianat padaku!" gertak Nisa dengan tatapan menusuk. Dia benar-benar ingin Leon mempertimbangkan tawarannya dengan baik, lalu mengubah keputusan dan kembali berpihak padanya.
"Aku pilih untuk melindungi Chelsea!" jawab Leon dengan spontan, seakan-akan tidak tertarik untuk mempertimbangkan tawaran pengampunan dari Nisa.
"Heh!" Nisa mengendus kesal dan menyeringai sinis, kemudian berkata, "Baiklah jika itu yang kau inginkan. Maka jangan salahkan aku bertindak kejam! Keempat elite yang di bawah sana, hajar kedua orang yang melawanku itu!"
"Baik, Ketua!" seru keempatnya bersamaan.
"Tak aku sangka kalau aku juga akan melawan Mad Dog!" ucap Orchid yang kemudian memakai sarung tangan steril lagi. Pikirnya, musuh telah bertambah jadi kemungkinan darah yang tumpah juga lebih banyak. Dia harus menjaga supaya tangannya tetap bersih, alhasil dia memakai sarung tangan steril ganda.
"Dasar gila bersih! Apa yang kau lakukan? Cepat keluarkan senjatamu dan lawan Mad Dog bersamaku!" bentak No Reason.
"Huh, tak perlu memerintahku!" balas Orchid.
"Hei, Mad Dog! Kali ini akan berbeda dengan di rumah sakit waktu itu, karena kali ini aku tak punya alasan untuk kalah darimu!" ancam No Reason pada Leon dengan tatapan membunuh. Begitu Orchid selesai memakai sarung tangan steril dan mengeluarkan senjatanya, mereka berdua pun maju bersama-sama untuk menyerang Leon.
"Baiklah, kalau begitu aku juga ikut!" seru Akira yang hendak menyusul Orchid dan No Reason.
Tiba-tiba saja Kaitlyn menahan Akira dengan menarik kerah bajunya dari belakang. "Eitss ... dikau ikut daku! Melawan wanita tidak tahu diri itu!"
"Lepaskan!" berontak Akira seraya menepis tangan Kaitlyn dengan kasar. "Aku tidak mau bersikap kasar pada wanita! Itu melanggar prinsipku! Kau saja yang lawan dia!"
"Persetan dengan prinsipmu! Kau saja berani bersikap kasar padaku!" protes Kaitlyn.
"Karena kau bukan wanita sungguhan! Dasar banci! Wanita jadi-jadian!" ejek Akira dengan begitu kerasnya.
"K-kau ...!!" Kaitlyn marah, dia merasa seperti telah ditampar oleh kenyataan. Akan tetapi, dia sangat enggan mengakui bahwa dirinya adalah wanita jadi-jadian sekali pun itu benar adanya.
Kaitlyn tak mampu mengendalikan amarahnya lagi, tanpa peringatan apa pun justru meninju wajah Akira dengan keras.
"Sialan kau! Meskipun tanganmu halus, tetap saja kau banci! Sekali banci tetap banci!" Akira tak tahan, dia balas memukul Kaitlyn tepat di mukanya. Bahkan saking kerasnya pukulan itu, bedak tebal yang ada di wajah Kaitlyn ikut menempel di tangan Akira.
"Bajing*n kau!" Kaitlyn tambah marah. Dia memukul Akira sekali maka Akira juga akan membalasnya. Kedua orang itu pada akhirnya bukannya bekerja sama untuk membereskan Chelsea, justru malah baku hantam sendiri-sendiri.
"Mereka sedang apa?" gumam Chelsea dengan tatapan heran. Dia kemudian menoleh dan memperhatikan Leon yang sedang bertarung dua lawan satu melawan Orchid dan No Reason.
"Leon, aku akan membantumu!" teriak Chelsea seraya mendekat ke arah pertarungan yang sengit itu.
"Tak perlu! Jangan alihkan pandanganmu dari musuhmu! Aku bisa menangani mereka sendiri!" cegah Leon supaya Chelsea jangan mendekat padanya lagi.
"Heh! Percaya diri sekali kau!" cecar Orchid seraya mengayunkan belati tajamnya ke arah Leon.
"Sial!" umpat Leon yang tak sempat menghindar.
CRASSH ...
Belati Orchid berhasil mengenai tangan kiri Leon. Hal itu sontak saja membuat Chelsea panik dan berteriak, "Leeooon!"
Luka ini termasuk ringan bagi Leon. Karena dia tak sempat menghindar maka dengan tangkas dia menghadang belati itu dengan tangannya, supaya tak mengenai lehernya yang diincar oleh Orchid
"Aku tak apa! Tetaplah berada di tempatmu, jangan ke sini!" ucap Leon sembari mengayunkan kedua belati di masing-masing tangannya dengan lihai. Luka ini tak berpengaruh apa-apa padanya, tak peduli apa pun yang terjadi, Leon berusaha semampu yang dia bisa supaya tak lagi dibuat terdesak oleh Orchid dan No Reason.
SRINGG! SRIING! BUAK! BUK!
Belati milik ketiga orang itu saling beradu. Pertarungan itu kian memanas karena sesekali juga beradu tinju dan tendangan. Pertarungan itu sungguh tak memberikan celah untuk orang lain ikut campur. Begitu sengit seakan di antara mereka juga terselubung dendam pribadi.
Saking sengitnya pertarungan itu, setiap serangan yang mereka lancarkan seakan memiliki kemampuan untuk membunuh orang. Pertarungan berdarah antar elite ini terlihat begitu berbahaya, bahkan para anggota yang lainnya perlahan berjalan mundur. Hendak memberikan mereka ruang lebih untuk bertarung, sekaligus menghindari kemungkinan jika mereka akan tak sengaja mendapatkan serangan salah sasaran.
Sedangkan di sisi lain, tepatnya adalah di tempat para Family berkumpul jadi satu menyaksikan pertarungan dari atas. Dika hanya bisa membisu, dia tak sanggup untuk berbicara dengan Family yang lainnya. Karena dia merasa malu, semuanya sudah tahu hubungan dan kedekatan macam apa yang Dika miliki dengan Leon. Alhasil, sedari tadi Dika hanya menunduk, merasa telah gagal dalam mendidik seseorang yang pada akhirnya justru membuat masalah besar dengan menjadi pengkhianat.
Sedangkan Nisa, dia begitu emosi karena saat ini Chelsea masih tak mendapatkan satu pun luka di tubuhnya. Terlebih lagi ketika dia melihat Akira dan Kaitlyn yang masih saja berkelahi. Dia begitu geram sampai-sampai mencengkeram pagar pembatas itu hingga tangannya gemetaran.
"Heh, apa kau kesal? Kau sendiri yang mengumpulkan orang-orang aneh ini," celetuk Marcell sambil menyeringai. Seolah menganggap jika usaha Nisa dalam mengumpulkan para elite ini akan sia-sia.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Marcell mengeluarkan sebuah pistol. Pistol berwarna putih yang dirancang khusus hanya ada 9 buah di dunia. Yang mempunyai pistol itu tentu saja adalah para Family.
"Tak perlu buang-buang waktu lagi, jika kau izinkan, aku akan mengakhir semua ini dengan satu tembakan!" ucap Marcell seraya mengarahkan ujung pistol itu ke arah Chelsea.
"Tunggu!" cegah Nisa. Dia juga memegang pistol itu lalu menurunkannya. Nisa sudah memutuskan jika dia tidak akan membiarkan Chelsea mati hari ini. Dan dia tahu betul jika Marcell sudah turun tangan, maka selesailah sudah. Karena Marcell adalah seorang penembak yang jitu, biarpun dia mengincar target yang bergerak, dia akan tetap mengenainya tanpa meleset.
"Kenapa? Apa kau masih berharap pada orang-orang aneh itu?" tanya Marcell dengan tatapan sinis. Dia benar-benar sudah muak untuk menyaksikan ini semua.
"Ya! Aku percaya pada mereka! Walaupun kau bilang mereka aneh, mereka akan berguna! Penilaianku pada seseorang tidak akan pernah salah!"
"Heh, lalu bagaimana kau menjelaskan Leon? Bukannya kau sudah menilai jika dia akan setia padamu? Kau lihat saja sekarang, pada akhirnya dia jadi seorang penghianat," ucap Marcell dengan nada menyindir.
"Maafkan aku," sahut Dika yang sontak saja membuat seluruh pandangan Family lain tertuju padanya. "Jika saja waktu acara perekrutan anggota tetap saat itu aku lebih selektif, jika saja saat itu aku lebih waspada. Ini semua tidak akan terjadi. Aku juga minta maaf karena gagal memberi pengertian pada adik angkatku. Jika kalian marah, tolong jangan bunuh dia, setelah ini nanti aku akan lebih mendisiplinkan dia lagi."
Mendadak Dika menatap ke arah Yhonsen. "Kau saja yang jadi Kepala Divisi 2, sepertinya aku tak layak lagi menempati posisi itu," ucapnya penuh penyesalan.
"Hei, kau ini melantur apa?" tanya Yhonsen terheran-heran.
"Cih, biarkan saja dia!" celetuk Marcell.
"Diam! Kalian semua diamlah! Bukan saatnya kalian membahas hal ini! Jangan membuatku tambah pusing!" ucap Nisa penuh penekanan. Terutama kepada Marcell, karena dia merasa jika setiap kalimat yang Marcell ucapkan terkesan seperti memojokkan Dika. Nisa tak ingin ada perpecahan di antara Family nya ini.
"Hei, kalian berdua berhenti bertengkar! Aku menyuruh kalian bukan untuk ini! Hentikan sekarang juga dan cepat lakukan apa yang aku minta!!" bentak Nisa pada Akira dan Kaitlyn.
Begitu mendengar teriakan Nisa, untuk sejenak si banci dan koki genit itu berhenti saling memukul. Mereka berdua sama-sama menatap Nisa dengan tatapan seperti anak kecil yang mengadu pada ibunya.
"Tapi Nisa-Chan, si banci ini yang lebih dulu memukulku. Sebagai seorang pria sejati, aku harus balas memukul jika dipukul oleh pria!" ucap Akira mencari pembelaan.
"Tutup mulutmu! Daku bukan pria!" bantah Kaitlyn dengan begitu kerasnya.
"Hei, Kaitlyn! Jika malam ini kau bisa mengalahkan Chelsea dan menyeretnya ke hadapanku! Kau boleh menghabiskan malam bersama Marcell!" teriak Nisa dengan lantang.
"Sungguh?!" tanya Kaitlyn dengan tatapan berharap. Sejak dulu dia memang menyimpang dan tertarik untuk menaklukkan Marcell, tetapi sampai sekarang tidak pernah berhasil karena Marcell jijik padanya sekaligus karena dia aseksual.
"Kenapa kau menumbalkan aku?!" protes Marcell yang sangat tidak terima.
"Haha, kau belum pasti jadi tumbal. Semua itu tergantung Kaitlyn menang atau kalah," jawab Nisa dengan tanpa rasa bersalah.
"Nisa-Chan! Bagaimana denganku? Tidak mungkin aku juga tidak diberikan hadiah!" tanya Akira.
"Kalau kau berhasil maka aku akan menciummu," jawab Nisa dengan wajah datar.
Kaitlyn dan Akira sama-sama girang karena membayangkan hadiah mereka. Pada akhirnya mereka berhenti bertengkar, bersama-sama maju menghampiri Chelsea yang sejak tadi juga dalam posisi siaga.
Tiba-tiba saja Akira berhenti berjalan, merentangkan sebelah tangannya untuk mencegat Kaitlyn lebih dekat lagi dengan Chelsea. "Tunggu sebentar, cukup aku saja yang membereskannya!"
"Heh, percaya diri sekali." Kaitlyn tersenyum meremehkan.
Akira lantas berjalan mendekat lagi ke arah Chelsea dengan tangan kosong. Anehnya, sama sekali tidak terasa aura membunuh yang berasal dari Akira. Chelsea hanya diam saja dan tetap waspada, penasaran kenapa Akira hanya diam di hadapannya.
"Sentuhlah hatiku, Nona!" pinta Akira dengan nada ramah.
"Hah?" Chelsea terperangah, begitu bingung dengan maksud ucapan Akira barusan. Sentuh hatinya, apakah itu berarti secara harfiah? Apakah artinya dia harus menusuk dan mengeluarkan hatinya dari tubuhnya?
"Sentuh saja, di sini ..." pinta Akira lagi seraya menyentuh dadanya.
"...."
Sepertinya orang ini benar-benar sudah gila. Tapi tak ada salahnya aku mencoba. Lagi pula ini membawa keuntungan padaku karena dia tak membawa senjata apa pun. Tapi aku tak boleh lengah.
Dengan sebelah tangan yang mencengkeram erat pisau belati, Chelsea memantapkan diri untuk menyentuh dada Akira seperti yang dia minta.
"Kena kau!" teriak Akira yang dengan cepat menangkap tangan Chelsea dan memelintirnya ke belakang dengan kuat.
"Hei, Banci! Kau lihat sendiri, kan? Aku sudah berhasil menangkapnya!" teriak Akira dengan sombongnya.
"Ukhh ..." Chelsea meringis kesakitan, karena Akira memelintir tangannya dengan tak segan-segan.
"S-sakit, ya?" Telinga Akira mendadak merasa tidak nyaman. Dia tiba-tiba gundah saat mendengar suara rintihan kesakitan dari seorang wanita. Cengkeraman tangannya yang memelintir tangan Chelsea juga menjadi longgar.
Chelsea menyadari adanya kesempatan ini, dia melepaskan diri dari Akira lalu dengan cepat memberikan pukulan yang keras kepadanya.
BUAGH!
Akira tak sempat menghindar, pukulan itu tepat mengenai wajahnya. Bahkan dari salah satu lubang hidungnya, dia merasakan ada darah segar yang mengalir keluar dari sana.
"Aku menyerah," ucap Akira yang tiba-tiba saja malah menjatuhkan dirinya ke lantai. Dengan suara lirih pun dia bergumam, "Aku tidak bisa menyakiti seorang wanita demi mendapatkan ciuman dari wanita lain. Maafkan aku Nisa-Chan, silakan potong gajiku sebanyak yang kau mau ...."
"Dasar tidak berguna!" teriak Kaitlyn yang geram melihat Akira kalah padahal sudah banyak lagak. Dia mengeluarkan sebuah belati miliknya dan maju menghampiri Chelsea seraya memberikan sebuah serangan dadakan.
Chelsea dengan lincah menghindar. Staminanya masih dalam kondisi prima, dia memiliki kepercayaan diri untuk menang dari Kaitlyn. "Akhirnya kita berhadapan juga! Ini saatnya membalas kekalahanku saat di DG CLUB waktu itu!"
__ADS_1
"Ck, banyak omong! Buktikan jika dikau memang mampu!"
Sekali lagi kedua orang ini terlibat dalam pertarungan. Persamaan di antara mereka yaitu sama-sama mengandalkan kecepatan dan kekuatan dari tendangan. Dengan kecepatan pergerakan yang langsung tak terlihat jika berkedip, mereka saling mengayunkan belati di tangan mereka dan juga beradu tendangan.
Berbeda halnya dengan dulu, jika dulunya Kaitlyn bisa memenangkan pertarungan dalam waktu singkat, maka kali ini dia harus lebih berjuang dan serius lagi. Kaitlyn menyadari jika ada banyak perubahan yang terjadi pada Chelsea. Setiap serangan yang diberikan memiliki kekuatan dan akurasi pada titik vital dengan tepat.
Kaitlyn menyeringai, dia menikmati pertarungan ini karena merasa telah menemukan lawan yang tepat. "Heh, sepertinya dikau banyak latihan, ya!"
"Tentu saja! Aku tak sepertimu yang hanya tahu menggoda orang! Dasar banci, genit, menor pula!"
"Apa?! Dasar jal*ng!" teriak Kaitlyn penuh amarah.
Bukannya marah karena dihina, Chelsea justru tersenyum. Strategi yang dia pakai untuk memancing emosi Kaitlyn ternyata berhasil. Chelsea bisa menggunakan hal ini sebagai kesempatan. Dia telah banyak belajar dari Leon, dia ingat jika seseorang sudah emosi maka akan sangat mudah untuk menemukan celah pada dirinya.
Pertarungan Chelsea maupun Leon sama-sama sengit. Musuh yang mereka hadapi kali ini meskipun jumlahnya sedikit, tetapi lebih merepotkan ketimbang saat mereka melawan para eksekutif 12 Shio. Sekian lama mereka bertarung, di antara keduanya masih belum menunjukkan tanda-tanda siapakah yang akan memenangkan pertarungan.
CRASS ...
Sebuah sayatan akhirnya berhasil mengenai wajah Kaitlyn. Kaitlyn yang menyadari hal itu segera mundur. Dengan tangan yang gemetar perlahan menyentuh pipi kanannya. Dia semakin gemetar ketika melihat ada banyak darah yang keluar dari sana.
"Arghhh! Wajahku! Wajahku rusak!" Kaitlyn berteriak panik. Bahkan tiba-tiba meninggalkan Chelsea dan lari menerobos kerumunan para anggota yang sedang mengawasi jadi samping.
"Cepat panggil dokter! Aku harus segera melakukan operasi plastik! Aku tidak mau jadi jelek!!"
"...." Chelsea yang melihat tingkah Kaitlyn yang di luar perkiraan hanya bisa diam. Dia tidak bisa berkomentar apa pun dalam situasi semacam ini.
Ternyata kelemahannya adalah wajahnya, jika saja aku tahu maka sejak awal tadi aku tak perlu mengincar bagian yang lainnya.
Chelsea mengelap belatinya yang kotor dengan darah Kaitlyn menggunakan bajunya. Dia ingin membantu Leon yang sudah tampak kelelahan menghadapi No Reason dan Orchid. Hanya saja dia masih khawatir dengan sebuah ancaman lagi. Yaitu keberadaan Akira.
Chelsea lantas melangkah mendekati Akira yang masih berbaring di lantai. Dia tahu jika Akira sama sekali tidak pingsan atau terluka parah.
Dan ketika Akira menyadari kedatangan Chelsea, dia langsung berkata, "Nona ... jangan lihat aku yang merupakan lelaki hina ini. Aku sudah memelintir tanganmu dan membuatmu sakit, Nona. Maukah Nona memaafkan diriku?"
"Tidak," jawab Chelsea singkat.
"Aihh ... sudah aku duga. Aku menyesal telah menyakitimu, aku menyesal telah terlahir ke dunia tetapi malah menyakiti wanita. Aku gagal jadi lelaki sejati yang sempurna."
Chelsea tak lagi menganggap Akira yang sudah putus harapan menjadi sebuah ancaman. Dia kembali memegang belatinya erat-erat, beralih untuk membantu Leon untuk segera mengakhiri pertarungan dengan Orchid dan No Reason.
"Heh ... sepertinya kau menang dengan mudah," ucap Leon yang napasnya sudah tersengal-sengal.
"Ya, syukurlah di antara para elite ini yang normal cuma kau. Aku bersyukur karena Nisa punya selera untuk merekrut orang-orang aneh," jawab Chelsea yang juga sudah kelelahan.
Kini hanya tinggal mereka berempat yang tersisa. Chelsea dan Leon berdiri berdampingan, mereka berdua juga telah mendapatkan luka ringan di tubuh mereka. Dan sekarang mereka berdua fokus untuk saling menghadapi No Reason dan Orchid secara bergantian.
BAK! BUK! BHUAK!
Mereka bertarung dengan seluruh kemampuan yang mereka punya. Tak lagi menentukan siapa yang khusus melawan siapa, asalkan ada kesempatan maka mereka akan langsung menyerang. Pertarungan dua lawan dua ini lebih sengit daripada pertarungan yang sebelumnya.
"Ukhh ...!" Chelsea terkena oleh serangan No Reason, hingga dia terdorong ke belakang sampai terjatuh.
"Chelsea!" teriak Leon sekeras mungkin. Dia juga langsung menatap No Reason dengan tatapan membunuh.
"Ya, hahaha, inilah yang aku inginkan! Tatapan dari Mad Dog yang sesungguhnya!" No Reason terkekeh, dia merasakan kesenangan dari pertarungan berdarah ini.
Leon jadi makin menggila ketika melihat Chelsea yang sudah terluka dan kelelahan. Dia menyerang No Reason dan Orchid secara bersamaan tanpa memberikan jeda. Mendesak mereka berdua supaya mundur. Tetapi, No Reason dan Orchid juga bukan sosok yang bisa diremehkan. Mereka berdua meskipun terdesak mundur, juga telah berhasil memberikan luka di tubuh Leon.
CRAASSS ...
Dengan memanfaatkan celah sebaik mungkin, pada akhirnya Leon berhasil memberikan luka yang berarti di tubuh No Reason dan Orchid. Musuh telah tumbang, jika No Reason dan Orchid masih memaksakan diri, takutnya mereka hanya akan kehilangan lebih banyak darah dan membahayakan nyawa mereka.
"Cukup! Kalian berdua cepat obati luka kalian!" ucap Nisa dengan tatapan menusuk.
"Baik, Ketua ...." jawab No Reason dan Orchid bersamaan. Mereka baru harus mundur ketika disuruh mundur. Dan mereka tahu jika mereka gagal, maka konsekuensinya nanti akan diberikan hukuman oleh Kepala Divisi mereka masing-masing.
"Kau juga bangunlah Akira bodoh! Mau sampai kapan kau di sana?!" bentak Nisa yang begitu frustrasi dengan Akira.
"Baik, Nisa-Chan ..." jawab Akira tak bertenaga.
Setelah No Reason, Orchid dan Akira pergi, Chelsea dan Leon masih tak kunjung menurunkan sikap waspada mereka. Mereka berdua tahu meskipun sudah mengalahkan para elite, mereka juga tak akan mungkin dilepaskan begitu saja.
Nisa menatap pasangan itu dengan saksama, setiap luka, setiap darah yang menetes juga dia perhatikan. "Baiklah, karena aku adalah seseorang yang punya harga diri dan prinsip, aku tak akan menjilat ludahku sendiri. Kau berhasil mengalahkan para elite, Chelsea. Kau memenuhi kualifikasi untuk menantangku. Sekarang juga aku akan turun ke sana untuk menerima tantanganmu!"
"Tak perlu turun, Ketua!" sahut Leon tiba-tiba.
"Apa maksudmu Leon?" tanya Chelsea kebingungan. Begitu pula dengan yang lainnya, mereka juga dibuat bingung dengan perkataan Leon.
"...." Leon diam seribu bahasa, dia menarik napas dalam-dalam dan berjalan maju beberapa langkah. Begitu berhenti, tiba-tiba berbalik dan kembali menghadap ke arah Chelsea. "Sebelumnya, aku sudah membuat janji untuk selalu berada di sisimu. Aku sudah memenuhi janji itu, Chelsea. Dan jauh sebelum janji itu dibuat, sejak aku bergabung di sini, aku sudah berjanji untuk setia pada Ketua sampai aku mati. Jadi, sebelum kau melawan Ketua. Lawanlah aku dulu!"
"A-apa?!"
__ADS_1