Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Prinsip


__ADS_3


"... jadi begitu," ucap Nisa yang baru saja selesai menceritakan segalanya pada Keyran. Dia menunduk dan kedua tangannya dikepalkan di atas lutut, benar-benar tampak seperti orang yang gugup karena melakukan kesalahan.


Nisa menceritakan apa saja yang ingin suaminya itu ketahui. Bahkan dia harus menyerahkan kedua bayi kembarnya untuk dijaga oleh pengasuh, Keisha pun juga disuruh untuk bermain bersama adik-adiknya. Sedangkan Chelsea, dia masih duduk diam dan mengamati. Mengamati seberapa jujurnya Nisa ketika di hadapan suaminya.


"Apakah yang dikatakan Nisa itu benar adanya?" tanya Keyran pada Chelsea.


"Iya, kejadian yang sebenarnya memang begitu. Selama ini Nisa sama sekali tidak bermaksud menyembunyikan ataupun menyekapku, akulah yang terus menghindar dari sembunyi dari pencarian ayahku. Dan aku di sini juga karena keinginanku sendiri. Untuk saat ini, bisa dibilang aku sudah tidak punya masalah lagi dengan istrimu yang licik ini," jawab Chelsea dengan nada menyindir.


"Ya ... kau benar, istriku ini memang licik." Keyran membenarkan dan menyeringai sinis pada Nisa.


"Humph, aku licik juga demi bertahan hidup!" Nisa mendengus kesal dan memalingkan wajahnya.


Keyran menghela napas, dia merasa jika dia harus melakukan sesuatu untuk membuat masalah ini cepat reda. "Chelsea, aku memang tak tahu alasan macam apa yang membuatmu sampai memutuskan untuk memalsukan kematian, dan bahkan terus bersembunyi sampai sekarang. Aku memang cuma orang luar, tetapi aku harus mengatakan sesuatu padamu. Dan aku harap kau tidak akan tersinggung."


"Silakan, katakan saja apa yang mau kau katakan," ucap Chelsea dengan wajah datar.


"Perihal soal kematianmu dan Luciel yang palsu, itu berkaitan erat dengan kejadian kebakaran 6 tahun yang lalu. Pesta yang berubah jadi bencana itu diadakan di gedung Galaxy Square Hall, aset milik keluarga Kartawijaya dan pemiliknya yang sah adalah aku. Peristiwa kebakaran itu dikaitkan dengan istriku, saat itu Nisa menjadi tersangka utama. Biarpun dia terbukti tidak bersalah, tetapi Nisa masih menerima kebencian dari seluruh keluargamu."


"Bahkan, adikmu, Natasha itu sempat menjebak Nisa dengan menuduhnya berselingkuh dengan Daniel. Kerja sama busuk itu berhasil membuat hubunganku dengan Nisa sempat menjadi renggang, bahkan nyaris hancur. Nasib baik bagi kami karena berhasil melewati saat-saat itu. Dan biarpun kami berbaikan, kebencian keluargamu masih belum hilang juga. Selama beberapa tahun ini hubunganku dengan Daniel semakin memburuk. Dan semua itu sudah berlalu ketika kebenaran soal Luciel telah terungkap."


"Karena itulah aku sarankan satu hal darimu, berhentilah bersembunyi, Chelsea! Tunjukkan pada keluargamu bahwa selama ini kau masih hidup, jelaskan pada mereka alasanmu yang sebenarnya! Kau tidak tahu betapa frustrasinya ayahmu mencarimu. Bahkan dia sampai meminta ayahku untuk meminjamkan pengawal keluarga Kartawijaya sebagai tambahan orang demi menemukanmu."


Chelsea menggertakkan giginya, dia mulai kesal lantaran Keyran yang terkesan seperti mengatur dirinya. Dan mengatakan nasihat seolah-olah dirinya paling benar. "Cih, kau tak tahu apa-apa soal masalahku! Jika aku pulang, itu sama saja aku kembali jadi boneka ayahku! Kau jangan tertipu, semua usahanya itu palsu!"


"Darling ... sudahlah, biarkan saja Chelsea mengambil keputusannya sendiri. Kita tidak perlu ikut campur lagi, oke?" bujuk Nisa pada Keyran.


"Tidak bisa tidak ikut campur! Karena keluarga Adinata jelas-jelas berhubungan dengan keluarga Kartawijaya! Memangnya mau sampai kapan dia akan menghindar seperti ini terus? Mau sampai kapan dia akan menemui Luciel dan Natasha secara diam-diam? Jangan kira kalian berdua bisa membodohiku. Aku jelas-jelas tahu apa saja yang terjadi di antara kalian!"

__ADS_1


Nisa maupun Chelsea sama-sama kaget. Tidak mengira jika sesuatu yang mereka sembunyikan rupanya bisa diketahui oleh Keyran. Meskipun kaget, mereka berdua sama sekali tidak heran. Karena mereka berdua sama-sama tahu mengenai sehebat apa pengaruh yang Keyran punya, sebagai seorang CEO ternama dan sebagai penerus kepala keluarga Kartawijaya.


Namun, bukannya merenungi perkataan Keyran, Chelsea justru menyeringai sinis. "Wah-wah ... kau tahu semuanya? Bukannya itu berarti kau tahu soal perbuatan buruk istrimu? Yang aku tahu selama ini keluarga Kartawijaya itu terkenal bersih dan taat pada hukum. Tetapi, kau justru melindungi kriminal yang bahkan bisa saja mencelakai dan merugikan negara. Apa kau melakukan semua ini atas dasar rasa cintamu yang buta itu?"


"Cukup Chelsea! Jangan bicara sembarangan lagi!" bentak Nisa yang berusaha mencegah pertikaian. Dia tahu betul jika kedua orang ini sama-sama mempunyai latar belakang dari keluarga konglomerat, juga punya pengalaman bisnis yang tidak sedikit. Dia tahu jika kedua orang ini sampai berdebat maka akan sulit untuk mengakhirinya.


Keyran memegang sebelah tangan Nisa, sekilas juga tersenyum tipis padanya. Seolah-olah dia ingin memberitahu jika dia sadar akan batas untuk tidak memulai keributan baru yang tidak berarti. Kemudian Keyran lantas beralih menatap Chelsea kembali, dengan tatapan matanya yang tajam, dia berkata, "Kau benar, ini memang karena cintaku yang buta ..."


"Tapi, apakah itu salah? Memangnya suami mana yang rela istrinya dihukum? Asal kau tahu, ini adalah keputusanku sendiri. Tak berhubungan dengan sifat istriku yang licik ataupun prinsipku sebagai anggota keluarga Kartawijaya. Bahkan, Nisa pernah ingin berpisah dariku gara-gara aku tahu fakta mengenai identitasnya."


"Biarpun dia kejam di luar sana, dia tetap manusia yang perasaannya tidak hilang. Aku percaya kalau Nisa tetap bertahan di sisiku bukan semata-mata demi memanfaatkan aku. Nisa juga pernah memberikan pilihan yang sulit, dia memberikan pilihan padaku di mana aku harus memilih bersikap buta atau tidak. Dia bersedia jika dipenjara selama 20 tahun, dia rela menyerahkan bukti kriminalnya asalkan aku bersedia menunggunya selama itu. Dan pilihan kedua, dia bersedia aku ceraikan demi menjaga nama baik keluarga Kartawijaya."


"Nisa mau berkorban sebanyak itu demi aku. Dan aku tidak bisa memilih di antara keduanya. Masa bodoh jika kau mau bilang aku dibutakan oleh cinta, aku tak masalah asal aku bisa hidup bahagia bersama orang yang aku cintai. Biarpun aku mendapatkan wanita yang paling buruk sedunia, aku sama sekali tidak menyesal. Biarpun dia orang yang buruk, setidaknya dia mau berusaha jadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anakku."


"...." Chelsea membisu. Dia tidak bisa membantah satu pun yang Keyran ucapkan. Memang benar adanya jika mereka berdua tampak bahagia, tak peduli dengan sebanyak apa dosa Nisa punya.


"Aku masih sedikit tidak mengerti, kenapa kau menyikapi semua ini dengan demikian?" tanya Chelsea pada Keyran. Dia benar-benar penasaran tentang apa yang membuat hidup Keyran seolah tampak damai di matanya.


"Itu sederhana saja, karena aku memiliki prinsip yang diturunkan oleh mendiang ibuku," jawab Keyran dengan senyum tipis.


"Apa itu?" tanya Chelsea lagi yang makin dibuat penasaran.


"Darah memanggil darah, balas dendam melahirkan dendam baru. Bencilah kejahatannya, bukan orangnya. Itulah yang beliau sampaikan padaku," jawab Keyran sambil mengenang sosok yang telah tiada.


Dia kemudian melirik ke samping, tepat ke arah istrinya. "Itulah mengapa aku terus menerus mengawasi dan membatasi istriku. Masa bodoh jika aku dianggap sebagai suami yang membuat aturan mengekang. Lebih baik begitu supaya aku bisa membimbingnya ke arah yang lebih baik."


"Key ..." ucap Nisa dengan suara lirih. Dia tersentuh dengan setiap kata-kata yang diutarakan oleh suaminya. Namun, mendadak dia mendekat dan meraih jas yang dipakai Keyran untuk mengusap hidungnya.


"Hei, apa yang kau lakukan?!" bentak Keyran yang seketika bergeser menjauh.

__ADS_1


"Mengelap ingus, memang apa lagi? Aku terharu, aku mau menangis karena kau ...."


"Tidak boleh! Ambil tisu sana, mau menangis juga harus bersih! Dari dulu kau selalu begini! Kapan aku mau berubah?!"


"Humph, ya sudah! Sekarang kau membentakku, aku tidak jadi terharu!" celetuk Nisa yang kemudian memalingkan wajahnya.


Tiba-tiba saja terdengar suara tangisan bayi, dan seorang pengasuh tiba-tiba datang sambil menggendong si kecil Nora. "Maaf telah mengganggu, Tuan, Nyonya ... tetapi sejak tadi Nora menangis terus. Sulit sekali didiamkan."


"Hm? Berikan padaku!" pinta Keyran yang langsung bangkit dari kursi, lantas mendekati pengasuh itu dan memintanya untuk menyerahkan Nora.


Benar saja, tak berselang lama kemudian tangisan Nora mulai mereda. Bahkan dia justru mendekap dan menenggelamkan wajahnya di ketiak Keyran. "Haha, Nora rindu ayah, ya?" Keyran tertawa saat melihat tingkah menggemaskan putri kecilnya.


"Oh ya, Noah bagaimana?" tanya Keyran pada pengasuh itu.


"Noah masih bermain dengan tuan muda Keisha, sepertinya suka sekali diajak bermain kakaknya. Dan Marry juga masih di sana untuk mengawasi mereka," jawab pengasuh itu lagi. Marry yang dia sebut adalah rekan pengasuhnya.


"Ya sudah, kau boleh pergi. Biarkan Nora denganku saja!" pinta Keyran yang langsung dilaksanakan oleh pengasuh itu.


DI sisi lain Nisa hanya tersenyum, dia turut merasa senang dengan sikap Keyran sebagai seorang ayah. Sedangkan Chelsea, dia masih terdiam. Segalanya yang telah dia lihat telah mengubah penilaiannya pada Nisa dan hidupnya.


Awalnya dia menilai jika seseorang yang begitu buruk, tak akan pantas mendapatkan hidup yang baik. Namun, pada akhirnya dia sadar karena melihat adanya kebaikan dalam keburukan itu. Kini dia sadar jika dia tiba bisa menilai seseorang hanya berdasarkan satu sisi saja.


Tiba-tiba saja Chelsea beranjak dari kursi seraya berkata, "Aku permisi, terima kasih telah menjamuku dengan baik. Dan satu hal lagi, jangan lupakan untuk memenuhi apa yang aku minta!" ucapnya dengan tatapan tajam pada Nisa.


"Iya-iya ... aku tidak akan lupa. Pergilah, tidak aku antar."


Chelsea pun kembali mengenakan maskernya dan segera pergi dari villa yang dihuni oleh Nisa. Sejak awal dia bisa tahu lokasi ini karena bertanya pada Natasha. Namun, sekarang dia sama sekali tidak mengira jika dia akan mendapatkan lebih dari apa yang dia inginkan. Kata-kata yang diucapkan Keyran, terngiang-ngiang terus di dalam pikirannya.


Dan begitu Chelsea tiba di rumah kecilnya, dia mendapatkan kabar dari Leon jika hukuman dari Kepala Divisi 2 telah usai. Chelsea puas karena Nisa benar-benar mengabulkan permintaannya, dia juga senang karena nanti acara ulang tahun Liana tidak akan jadi berantakan karena Leon telah kembali.

__ADS_1


__ADS_2