Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Tak Punya Jalan Untuk Kembali


__ADS_3


DRRTT DRRTT


DRRTT DRRTT


Sebuah ponsel tiba-tiba saja berdering. Pria sang pemilik ponsel tersebut langsung merogoh sakunya dan melihat siapa yang sedang menelepon dirinya. Pria itu adalah Yhonsen yang saat ini sedang melakukan misi di luar negeri, tepatnya adalah di negara I.


Yhonsen sedikit merasa kaget lantaran sang ketua meneleponnya secara tiba-tiba. Dia saat ini sedang berada di tengah keramaian orang-orang asing bersama dengan Leon yang melakukan misi yang sama dengannya.


"Ada apa Kak Yhonsen?" tanya Leon.


"Telepon dari ketua, aku akan mengangkatnya dulu. Kau tetap awasi target kita dari sini, segera bilang padaku jika target melakukan sesuatu yang aneh!" pinta Yhonsen yang kemudian dibalas dengan anggukan kepala oleh Leon.


Yhonsen merasa sedikit gugup, sebagai salah seorang Family dan orang yang bertanggung jawab atas Divisi 2 cabang luar negeri, dia gugup karena berpikir ada kabar buruk saat mendapatkan panggilan telepon dari sang ketua. Setelah Yhonsen mencari tempat yang cukup sepi dan tak jauh dari tempatnya semula. Dia langsung mengangkat panggilan telepon itu.


"Hallo, ada masalah apa Boss?" tanya Yhonsen sembari menahan suaranya agar tak terlalu keras, dia tak mau percakapannya di dengar meskipun oleh orang asing yang tak paham bahasanya.


"Tidak ada masalah. Hanya saja aku ingin kau sedikit berlama-lama lagi di sana," jawab Nisa yang suaranya juga terdengar lirih.


"Eh? Kenapa?" tanya Yhonsen terheran-heran.


"Tugasmu itu adalah membunuh perdana menteri negara I beserta antek-anteknya yang penting. Tentu saja aku percaya jika kau bisa melakukan tugas ini tanpa menimbulkan kecurigaan seperti biasa. Hanya saja ... untuk kali ini kau bergeraklah lebih lambat sedikit, soalnya aku perlu bantuanmu untuk menahan anak itu di sana lebih lama."


"Maksudnya Leon?" tanya Yhonsen lagi.


"Benar, aku ingin membuatnya tinggal di sana lebih lama. Dan saat dia kembali ke negara ini lagi, akan ada sebuah kejutan yang menantinya."


"Apa ini berhubungan dengan rencanamu yang kau jelaskan padaku kemarin lusa?" tanya Yhonsen yang kemudian tidak dijawab oleh Nisa. Yhonsen yang mengetahui sikapnya sudah paham jika tebakannya adalah benar. Dia juga sudah tahu bagaimana rencana yang telah diatur oleh sang ketua itu, karena dia juga bagian dari Divisi 2, dia merasa sedikit tidak rela saat mengetahui jika Leon akan digunakan sebagai pion.


"Boss, apa kau benar-benar meragukan Leon jika dia akan berkhianat?"


"Iya, aku meragukannya. Karena dia bukan keluargaku. Aku hanya sepenuhnya mempercayai keluargaku, my Family!" ucap Nisa penuh penekanan.


TUT TUT ...


Panggilan telepon itu diakhiri secara sepihak oleh Nisa, dia tidak peduli dengan keberatan Yhonsen atau bahkan jika Yhonsen ingin mengajukan beberapa pertanyaan lagi padanya.


"Hahh ... astaga." Yhonsen menghela napas panjang. Setelah dia menyimpan ponselnya kembali, dia pun bergumam, "Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak bisa membiarkan Leon hancur hanya karena kegilaan ketua. Aku harus memberi Leon peringatan secara tersirat, semoga saja Leon mampu memahami apa maksudku."


***


Pada saat yang sama di negara lain yang merupakan tempat kekuasaan utama organisasi berada. Liana yang sudah memantapkan diri untuk menyetujui kontrak dengan Moon Department Store segera mempersiapkan diri untuk melakukan sesi pemotretan untuk iklan yang pertama kalinya.


Liana si gadis yang ingin mandiri, dia ingin menghasilkan pundi-pundi uang untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Dia pikir dengan cara ini maka dia bisa meringankan beban kakak tersayangnya. Dia juga ingin menjadi sukses supaya Leon merasa bangga memilikinya sebagai adik.


Namun, hal ini masih dia rahasiakan dari orang-orang. Dia sama sekali tidak memberitahu soal ini pada Leon, Chelsea atau pun Ian. Liana ingin mereka semua tahu sendiri ketika sosok dirinya sudah muncul secara resmi di berbagai media periklanan.


Proses syuting dan pemotretan berlangsung dalam waktu seminggu. Selama seminggu ini, Chelsea masih tak mengunjungi rumah Liana. Mereka hanya saling menanyakan kabar lewat ponsel saja. Liana yang masih polos dan tak tahu kondisi macam apa yang sedang menimpa Chelsea, dia pikir jika perubahan sikapnya ini ada kaitannya dengan hubungan percintaan kakaknya.


Dan sekarang, Chelsea telah berada di Kedai Pembunuh. Dia berada di ruangan bawah tanah sang Kepala Divisi meskipun dia tidak mendapatkan panggilan tugas darinya. Bahkan saat ini pun sebenarnya Chelsea masih harus bertugas untuk melayani Ivan di Divisi 3.


"Apa yang kau inginkan dengan menemuiku? Bukankah harusnya sekarang kau berada di Divisi 3?" tanya Dika dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Saya ingin berhenti," ucap Chelsea yang pada akhirnya telah mengumpulkan seluruh keberanian yang dia punya.


"Kau ingin berhenti? Emm ... memang wajar saja kalau kau ingin berhenti bertugas di Divisi 3. Aku sendiri juga merasa jika Ivan itu menyebalkan," jawab Dika sambil memutar bola matanya dengan malas, tampak jelas jika dia tak begitu memusingkan dan menganggap serius perkataan Chelsea barusan.


"Tidak, Kepala Divisi salah mengerti maksud perkataan saya! Yang saya maksud bukan itu! Saya ingin berhenti, saya ingin keluar dari organisasi gangster ini!" ungkap Chelsea dengan sorot mata yang serius.


"...." Dika diam seribu bahasa, dia masih tidak menyangka jika wanita yang ada di depannya ini telah berani mengajukan permintaan semacam itu.


"...." Di satu sisi Chelsea juga diam, dia masih penasaran dan menunggu reaksi macam apa yang akan Dika berikan.


"Kau serius dengan perkataanmu barusan?" tanya Dika sekali lagi yang bermaksud memastikan kesungguhan Chelsea.


"Benar, saya sungguh-sungguh ingin berhenti! Akan tetapi, alasan saya berhenti tidak seperti yang Kepala Divisi pikir. Saya tidak berkhianat pada kelompok lain ataupun akan membocorkan semua hal ini pada pihak berwajib. Saya hanya merasa jika saya tidak cocok terus berada di sini."


"Lalu, untuk semua yang telah Kepala Divisi berikan pada saya, saya akan kembalikan itu semua! Saya akan mengembalikan seluruh bayaran saya dan barang-barang yang saya dapatkan semasa saya bergabung! Dan saya berjanji tidak akan membocorkan soal informasi apa pun mengenai organisasi pada orang lain!" seru Chelsea lagi yang semakin memperlihatkan kesungguhan dirinya.


"...." Dika masih diam dan tak memberikan pendapat. Chelsea yang menyadari itu pun tiba-tiba saja mengambil sebuah koper hitam dan menaruhnya di atas meja. Koper hitam itu tidak lain adalah koper yang berisikan senjata khusus. Berbagai macam senjata untuk pembunuhan terdapat lengkap di dalam koper tersebut.


"Saya juga ingin mengembalikan ini!"


"Heh," Tiba-tiba saja Dika menyeringai, lalu tanpa alasan yang jelas membuka koper tersebut. Dia mengeluarkan sebuah benda dari dalam koper, dan benda itu adalah sebuah belati yang tampak mengkilap nan tajam.


Dengan senyuman bak iblis, Dika menyodorkan belati itu ke arah Chelsea. "Kau ingin keluar? Baiklah, tapi dengan satu syarat. Bunuh dirimu sendiri dengan pisau belati ini!"


"A-apa?!" Chelsea terbata-bata, tentu saja dia tidak mau jika disuruh untuk bunuh diri. Jangankan mengambil belati itu, dia bahkan takut untuk sembarangan bergerak karena dia tahu jika saat ini dia berhadapan dengan Dika. Seseorang yang kejam, tak tersentuh, tak bisa ditebak dan yang pasti lebih kuat darinya.


"Tadi kau bilang ingin keluar dan menyerahkan kembali segalanya yang kau dapatkan dari organisasi. Tapi ... kau belum mengembalikan informasi yang tersimpan di otakmu. Aku percaya, cuma orang mati yang mampu menjaga rahasia!" ucap Dika dengan sorot mata membunuh. Tentu saja sebagai petinggi kelompok gangster, harga dirinya terasa terinjak-injak karena permintaan berhenti dari seorang bawahan yang belum lama bergabung.


"Ayo, cepat ambil dan bunuh diri! Kenapa kau ragu? Apa kau takut? Di mana kesungguhanmu tadi?" tanya Dika dengan senyum meremehkan.


"...." Chelsea tak tahu harus mengatakan apa. Saat ini yang dia bisa hanya menunduk, mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas lutut seerat mungkin sampai seluruh tubuhnya gemetaran.


"Hahaha ...." Dika tertawa, melihat sikap Chelsea yang seperti ini sungguh menggelikan baginya. Dia kemudian menyimpan belati itu kembali ke dalam koper. Kembali bersikap santai dan duduk bersandar di kursinya yang nyaman.


"Astaga, kau ini ada-ada saja ..." ucap Dika sambil geleng-geleng kepala. "Lagi pula untuk apa kau berhenti? Kau sudah melakukan hal kotor, apa kau mau bertobat dan menjadi orang suci? Terlebih lagi ... aku ingat dengan jelas kalau alasan utamamu bergabung adalah demi balas dendam. Memangnya dendammu itu sudah terbalas?"


"...." Chelsea marah dalam kebisuan. Ingin sekali dia berteriak, mengamuk dan merobek mulut Dika yang sejak tadi terus menerus mengejek dan merendahkan dirinya.


Sialan kau! Bagaimana aku bisa balas dendam saat identitasku sudah ketahuan? Yang aku bisa sekarang adalah menyerahkan segalanya pada nasib. Aku ingin kembali menjadi orang biasa dan mencari Luciel dengan caraku sendiri. Tapi sekarang, aku ragu jika pilihan itu juga tidak mungkin bisa terwujud. Sepertinya benar, aku sudah tak punya jalan untuk kembali.


"Astaga, kau tak memberiku pilihan lain." Tiba-tiba saja Dika kembali duduk tegap dan menatap Chelsea dengan tatapan serius. Dika juga menggeser koper yang ada di atas mejanya untuk didekatkan pada Chelsea.


"Simpan ini. Aku tak tahu dan tak ingin tahu apa alasanmu ingin berhenti. Tetapi yang jelas, jangan harap hal itu bisa terjadi! Ambil kembali dan simpan semua ini dengan baik! Aku berikan sedikit kelonggaran untukmu, kau bisa libur satu minggu untuk beristirahat dan merenungi perbuatanmu hari ini. Jika dalam waktu seminggu itu kau tidak kembali ke sini, maka bersiaplah mendapatkan kiriman pembunuh dariku!" ucap Dika penuh penekanan.


"...." Sejenak Chelsea masih berdiam diri untuk berpikir. Pikirnya, sudah dipastikan dia akan tamat jika bersikeras hari ini. Dia berpikir istirahat selama seminggu tidak buruk juga. Setidaknya dia bisa memulihkan stamina sekaligus pikirannya untuk membuat rencana yang lebih matang di kemudian hari.


"Terima kasih atas pengertian dan belas kasihan Kepala Divisi. Saya memang bodoh, tolong jangan dianggap serius semua yang tadi saya katakan. Tolong anggap saja jika saya tadi sedang hilang akal. Saya permisi ...."


Tanpa berkata apa pun lagi Chelsea langsung pergi sambil membawa kembali koper hitam miliknya. Rencananya untuk berhenti telah gagal, agar bisa tetap hidup, dia tak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang Dika perintahkan padanya.


Sedangkan Dika yang kini sendirian di ruangannya hanya duduk terdiam. Kebalikan dari sikapnya yang tadi, dia yang tadinya selalu tertawa menertawakan kebodohan Chelsea, sekarang tiba-tiba berubah menjadi cemas.


"Astaga, aku tidak menyangka jika wanita itu benar-benar nekat. Tapi dia juga sedikit bodoh ... kukira dia akan menghasut anggota lain dulu supaya mau memberontak melawan organisasi bersamanya. Dan siapa sangka dia justru menemuiku kemari sendirian, bahkan tanpa persiapan. Seperti seekor domba yang pasrah saat akan disembelih."

__ADS_1


"Aku memberikan waktu seminggu padanya. Semoga saja waktu ini cukup untuk ketua membuat rencana penanganan yang baru. Haiss ... ternyata dia adalah Chelsea Almayra Adinata. Siapa sangka aku akan menerima adik dari seseorang yang sudah kubunuh. Jika saja dia tahu kenyataannya, entah apa yang akan dia perbuat padaku," gumam Dika yang kepalanya terasa pening.


***


Libur selama seminggu. Tanpa terasa sudah lewat tiga hari dari waktu istirahat yang diberikan tersebut. Selama waktu ini Chelsea merasa sedikit lebih tenang lantaran tidak dihadapkan dengan tugas yang aneh-aneh lagi. Dan dia juga merasa gelisah ketika memikirkan soal rencana macam apa yang terbaik bagi dirinya sendiri.


Sudah lama rasanya Chelsea tidak leluasa seperti ini. Dan hari ini dia sedikit bersantai, dia menyetel televisi dan menonton acara memasak mingguan yang jadi program televisi favoritnya. Akan tetapi, siapa sangka Chelsea akan mendapatkan kejutan besar saat menikmati waktu santainya.


Begitu acara memasak itu mendapatkan jeda iklan. Kedua matanya seketika membulat saat melihat seseorang yang dia kenal jadi bintang iklan dari sebuah produk department store.


"Liana?! Kenapa ... kenapa dia bisa jadi bintang iklan untuk Moon Department Store?!"


"Sial, aku tahu betul jika perusahaan Moon Department Store itu adalah perusahaan milik keluarganya Nisa Sania! Pasti dia ada di balik semua ini! Pantas saja dia tidak melakukan apa-apa padaku, ternyata yang dia targetkan adalah Liana!"


"Sekarang aku bisa yakin jika saat itu Nisa tersenyum padaku karena dia memang mengenaliku! Tapi dia justru menargetkan Liana karena dia orang yang mempunyai kedekatan denganku!"


"Tapi harusnya Nisa tahu jika Liana adalah adiknya Leon! Apa jangan-jangan setelah ini dia akan berganti menargetkan Leon?!"


"Sial, aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi! Ini semua karena aku, dan aku sudah berjanji pada Leon untuk menjaga Liana sebaik mungkin! Pokoknya aku harus ke rumah Liana sekarang juga, semoga saja dia tidak kenapa-kenapa!"


Chelsea langsung mematikan televisi dan bergegas menuju ke rumah Liana secepat mungkin yang dia bisa. Tetapi, begitu sampai di sana, dia melihat sesuatu penampakan yang tidak biasa. Ada beberapa orang pria berbadan kekar dan berpakaian rapi, mereka semua tampak dalam posisi siaga mengamankan rumah Liana.


"Kalian ..." gumam Chelsea sambil memperhatikan seluruh pria-pria itu. Dan benar saja, dia melihat sesuatu yang tidak asing, yaitu adalah sebuah pin penanda yang terpasang di setiap setelan jas mereka. Ternyata orang-orang itu adalah anggota dari Divisi 1.


Mereka semua tampak kuat. Jika Chelsea terpaksa melawan, dia ragu apakah dia bisa memang atau tidak. Sedangkan di sisi lain para pengawal itu membiarkan Chelsea masuk ke rumah Liana begitu saja. Mereka tidak menghalangi karena sebelumnya telah diberitahu perihal siapa saja yang diperbolehkan masuk ke dalam rumah Liana.


"Liana! Apa kau baik-baik saja?!" teriak Chelsea setelah masuk ke dalam rumah tanpa permisi.


"Eh? Kak Mayra?!" Liana yang terkejut seketika menoleh. Saat ini dia tampak begitu santai, memakan camilan keripik kentang sambil menonton film bersama dengan pacarnya.


Chelsea yang khawatir pun segera mendekati Liana. Dia memperhatikan seluruh tubuh Liana dari atas sampai bawah. Berharap jika tak ada satu pun luka di tubuhnya. "Syukurlah kau baik-baik saja," ucap Chelsea yang akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega.


Liana langsung berdiri, dan tanpa berkata apa pun langsung memeluk erat Chelsea. "Kak Mayra baik-baik saja, kan? Aku takut terjadi apa-apa padamu, Kak. Lalu Kak Mayra belakangan ini tidak pernah berkunjung kemari. Sedangkan aku tidak tahu rumah Kak Mayra ada di mana."


"Aku baik-baik saja, maaf sudah membuatmu khawatir ..." ucap Chelsea yang kemudian membalas pelukan Liana.


Setelah mereka berdua saling memastikan jika satu sama lain tidak apa-apa. Mereka berdua, bersama dengan Ian kemudian duduk bersama di kursi sofa yang ada di ruang tamu.


"Oh iya, aku datang ke sini setelah melihatmu muncul di iklan televisi. Aku penasaran, bagaimana bisa kau jadi bintang iklan Moon Department Store?" tanya Chelsea.


"Emm ... soal itu aku minta maaf karena sebelumnya tidak memberitahukan soal hal penting ini padamu, Kak. Tapi ... aku cuma ingin membantu kak Leon. Aku ingin jadi berguna agar kak Leon bangga padaku," jawab Liana dengan tampang bersalah.


"Astaga, jadi kau juga merahasiakan hal ini dari kakakmu? Lalu bagaimana soal perjanjian kontrak? Apakah ada sesuatu yang aneh? Lalu apa orang-orang di luar rumahmu juga bagian dari kesepakatan?"


"Sebenarnya bukan. Ada seorang pemegang saham yang perhatian padaku. Dia bilang jika menjadi bintang iklan akan mendapatkan banyak fans. Lalu kita tidak bisa menjamin jika di antara para fans itu ada yang fanatik dan bisa saja mereka bertindak nekat. Jadi dia mengatur pengawal untuk berjaga di rumahku agar melindungiku dari hal-hal seperti itu."


"Siapa nama pemegang saham yang kau maksud?" tanya Chelsea yang mulai memiliki firasat buruk.


"Dia ... Nyonya Nisa Sania Siwidharma."


"A-apa?!" Chelsea langsung menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya sekuat mungkin.


Sial, lagi-lagi ulah Nisa! Apanya yang bermaksud melindungi Liana? Dia pasti merencanakan supaya orang-orang ini bisa memata-matai dan mengawasi Liana dari dekat. Sial, memang tak seharusnya aku meremehkanmu. Kau memang wanita yang berbahaya.

__ADS_1


__ADS_2