
"Ayo Keisha! Cepat buka! Luciel mau lihat di dalam isinya seperti apa!" pinta Luciel pada Keisha yang saat ini tampak memegang sebuah koper berwarna hitam.
"Tidak bisa!" bantah Keisha seraya menepuk-nepuk koper hitam itu.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Natasha yang saat ini menemani kedua bocah itu bermain di dalam kamar. Sejak acara pesta barbeque diadakan saat itu, hubungannya dengan Nisa dan Keyran jadi semakin membaik. Dia sudah diperbolehkan datang kapan saja dia mau, sekarang dia tak perlu mencari-cari alasan agar bisa bertamu.
"Di dalam sini ada peralatan rahasia, peralatan khusus untuk jadi mata-mata. Bunda bilang, Keisha tidak boleh main ini sendirian, harus dengan pengawasan orang dewasa," jelas Keisha.
"Tante Natasha kan juga orang dewasa, ayo Keisha cepat buka! Luciel sudah sangat penasaran!" pinta Luciel lagi seakan tidak sabar.
"Keisha sudah bilang tidak bisa, Luciel! Karena perlu pengawasan jadi koper ini dikunci, dan kuncinya disimpan oleh bunda! Jadi, kalau kita mau main ini harus bilang dulu sama bunda!"
"Ah, begitu ya. Bunda sekarang ada di mana, Keisha? Tadi saat datang ke sini, tante sama sekali belum bertemu dengannya. Biar tante Natasha saja yang minta kuncinya." Natasha menawarkan diri, dia tidak mau kedua bocah itu bergaduh hanya karena sebuah mainan yang tak kunjung bisa segera dimainkan.
"Tadi bunda pergi, tapi sudah lama kok. Mungkin sekarang sudah pulang, biasanya bunda akan melihat adik bayi dulu begitu sampai rumah," jawab Keisha.
"Baiklah, kalau begitu Tante akan cari bunda dulu, ya! Kalian main baik-baik, jangan bertengkar selama Tante Natasha tinggal, oke?" bujuk Natasha dengan senyum ramah.
"Oke Tante!" jawab Keisha dan Luciel serempak.
Natasha pun pergi, meninggalkan kedua bocah laki-laki itu bersama berdua saja di dalam kamar. Dan setelah Natasha pergi, tiba-tiba saja Luciel berkata, "Keisha, kalau mainan alat rahasia mata-mata ini berbahaya, kenapa orang tua Keisha membelikan ini?"
"Bukan ayah dan bunda yang membelikan Keisha mainan mata-mata ini. Tapi mainan ini adalah hadiah ulang tahun Keisha yang diberikan oleh paman Ivan! Paman Ivan itu hebat loh, dia sering membuat mainan-mainan unik dan keren yang tidak dijual di pasaran! Keisha suka sekali mainan yang dihadiahkan sama paman Ivan!" jawab Keisha dengan sorot mata antusias.
"Paman Ivan itu siapa? Bukankah adiknya mami Nisa cuma dua? Paman Reihan dan paman Dimas, kan?" tanya Luciel penasaran.
"Iya, paman Ivan bukan adiknya bunda! Tapi dia anak buah bunda! Keisha belum cerita ya kalau sebenarnya bunda itu adalah boss besar!"
"Boss besar?! Sungguh? Jadi mami Nisa punya banyak anak buah? Sama seperti boss di film-film?!" Luciel yang semakin penasaran dan bersemangat membombardir Keisha dengan pertanyaan.
"Iya-iya ... semuanya benar! Bunda punya banyak anak buah! Dan selain paman Ivan, Keisha juga punya paman-paman lain yang tidak kalah hebat! Ada paman Marcell, paman Dika, paman David, paman Damar, paman Yhonsen, paman Faris dan paman Hendry! Semuanya hebat loh! Tapi yang paling hebat tentu saja adalah bunda!" jelas Keisha penuh kebanggaan. Otak polosnya belum mengetahui seberapa kotor sebenarnya kelompok yang dipimpin oleh bunda tercintanya. Dia hanya berpikir kalau bundanya adalah sosok paling luar biasa dan penyayang.
"Wahh ... benar-benar banyak sekali anak buahnya mami!" sahut Luciel yang ikut merasa kagum.
"Iya, dan Keisha paling suka ketika semuanya memanggil Keisha sebagai boss kecil! Itu terdengar seperti Keisha jadi asistennya bunda! Dan Keisha bisa mendapatkan semua yang Keisha mau! Mainan, permen dan cokelat!"
"Benarkah Keisha?! Itu luar biasa! Luciel juga mau dipanggil sebagai boss kecil!"
"Haha, bisa kok! Nanti kalau Luciel bertemu dengan anak buah bunda, pasti juga akan dipanggil boss kecil sama seperti Keisha! Karena kita berdua kan saudara!"
"Horee! Luciel tidak sabar ingin bertemu dengan paman-paman yang hebat!"
__ADS_1
***
Di sisi lain masih ada Natasha yang mencari-cari keberadaan kakak iparnya, yaitu Nisa. Seperti yang Keisha katakan padanya tadi, ruangan yang pertama kali Natasha coba periksa adalah ruang kamar milik si kembar, yaitu Noah dan Nora yang kini berusia 5 bulan.
Ketika Natasha memasuki ruangan itu, dia sama sekali tidak melihat keberadaan orang yang dia cari. Yang dia lihat justru si kembar itu sedang bermain di lantai bersama dengan dua orang pengasuh.
"Nyonya Natasha?" tanya salah seorang pengasuh yang kaget dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
"Haha, iya," jawab Natasha yang kemudian mendekat dan iku duduk di sebelah mereka.
"Booo ...!" Noah berbicara dengan logatnya yang belum jelas, bahkan dia juga melemparkan bola mainannya ke arah Natasha, seolah-olah ingin mengajaknya bermain.
"Wahh ... Noah dan Nora sudah belajar duduk, ya!" ucap Natasha sambil menusuk-nusuk pipi kedua anak kembar itu yang bulat dan berisi.
"Wa waaa waa ...." Nora tertawa geli, bahkan dia sampai terjatuh lantaran belum bisa berlama-lama duduk seimbang. Dan untung saja ada pengasuh yang dengan sigap menangkap tubuh kecilnya agar tidak terjatuh.
"Haha, lucunya ...." Natasha tertawa, baginya tingkah kedua bayi yang baru belajar cara untuk duduk itu terlihat sangat menggemaskan.
"Apa Nyonya Natasha kemari karena ingin bermain dengan tuan dan nona muda kecil?" tanya sang pengasuh.
"Emm ... sebenarnya tidak, aku ke sini karena ingin mencari kakak ipar. Tapi ternyata dia tidak ada di sini," jawab Natasha sambil menggeleng pelan.
"Oh, mencari Nyonya Nisa. Tadinya beliau memang ke sini, tetapi cuma sebentar. Lalu beliau katanya ingin ganti baju dulu di kamar, sepertinya setelah ganti baju beliau akan segera kembali ke sini untuk menyusui tuan dan nona muda kecil," jelas sang pengasuh.
"Begitu ya, baiklah. Kalau begitu aku akan ke sana saja, soalnya ada sesuatu yang mau aku tanyakan padanya. Dan aku sedang buru-buru." Natasha lalu beralih menatap Noah dan Nora lagi.
***
Sedangkan di sisi lain dari rumah besar itu. Nisa saat ini memang berada di kamar, namun dia tidak berganti baju seperti alasan yang dia katakan kepada pengasuh. Dia terlihat buru-buru sambil membawa dua buah amplop berwarna coklat di tangannya.
"Baiklah, dengan begini maka aku akan tahu kebenarannya!" gumamnya penuh rasa penasaran.
Rencanaku jadi tertunda gara-gara Keisha sempat sakit demam, dan siapa sangka sakitnya malah berlangsung lebih dari tiga hari. Tapi anehnya dia langsung sembuh setelah kemarin teman-teman sekolahnya datang menjenguk. Haiss ... anak itu memang ada-ada saja.
Dan lalu kedua benda ini yang terpenting! Untung saja aku menaruh mata-mata di kediaman utama. Aku memberinya tugas untuk mencuri sampel darah Natasha dan Daniel. Memang sedikit ekstrim menggunakan cara ini. Tapi untung saja orangku itu cerdas dan mahir menjebak. Dia diam-diam mengambil darah ini seolah-olah memang murni kecelakaan, jadi tidak akan ada siapa pun di kediaman utama yang curiga. Heh, tidak sia-sia juga dulu aku memungutnya.
Sejak pesta barbeque setelah pentas drama waktu itu, aku menaruh curiga karena menyadari rupa Luciel dan Daniel begitu mirip. Jika hasil tes ini hanya satu yang positif, maka sudah pasti Luciel itu adalah anak haram Daniel dengan selingkuhannya. Dan jika dua-duanya positif, maka yang aku khawatirkan benar-benar terjadi. Luciel adalah anak Daniel dan Natasha yang selamat dari insiden kebakaran 6 tahun lalu.
Aku bahkan merahasiakan dari Keyran kalau aku mengatur tes DNA ini secara diam-diam. Semoga saja tidak ada yang tahu kalau aku tadi habis pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes.
"Ah, sudahlah! Mari cepat buka!"
Dengan cepat Nisa membuka amplop pertama yang merupakan hasil laporan tes DNA milik Daniel dengan Luciel. Dia membaca kertas laporan hasil tes itu dengan saksama agar tidak ada satu pun informasi yang dia lewatkan dan sekecil apa pun kesalahan yang dia perbuat.
__ADS_1
"Sial, jadi sungguhan kalau mereka adalah ayah dan anak kandung!" teriak Nisa yang kedua tangannya mulai gemetar. Dia mengumpulkan keberanian untuk membuka amplop satunya yang masih tersegel.
Akhirnya Nisa membuka amplop itu. Matanya seketika membulat begitu membaca hasil tesnya. Dia tak pernah menyangka jika Luciel benar-benar positif anak biologis Natasha dan Daniel. "I-ini ... bagaimana mungkin? Sudah 6 tahun ... dan ternyata dia masih hidup?"
"T-tunggu sebentar! Tidak mungkin bayi yang baru berumur 2 minggu bisa selamat dari kebakaran seorang diri, pasti ada orang lain yang menyelamatkannya! Apa jangan-jangan itu juga Chelsea! Dan sebenarnya dia masih hidup! Lalu ... apa ayah mertua sudah tahu akan hal ini? Dan makanya dia bersikeras untuk mengalihkan hak asuh Luciel? Tapi kenapa tidak langsung jujur saja? Apa jangan-jangan ayah mertua hanya mengandalkan firasat dan aku yang pertama kali mengetahui fakta ini?" gumam Nisa yang pikirannya semakin tidak karuan. Begitu banyak dugaan yang dia pikirkan.
KLAK!
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, lalu tampaklah Keyran yang masuk ke dalam secara terburu-buru. "Nisa, jadwal bimbel anak-anak berubah dan dimajukan jadi hari ini! Apa kau bisa mengantar ... Apa yang sedang kau pegang itu?"
"Eh?! A-aku ... i-ini .... sebenarnya ...." Nisa kelabakan dan panik, dia segera menyembunyikan kedua kertas itu di belakang punggungnya. Tetapi intuisi Keyran juga tajam, sejak dulu dia memang tidak suka jika Nisa menyembunyikan apa pun darinya.
"Berikan padaku!" pinta Keyran dengan nada tegas.
"D-darling, biar aku beritahu. Ini cuma sampah, aku tidak mau membuat tangan bangsawanmu itu ternodai oleh sampah ini ..." jawab Nisa yang justru malah membuang pandangan ke samping. Tentu saja Keyran tetap tahu jika dia berbohong.
"Aku bilang berikan padaku!" bentak Keyran penuh emosi.
"...." Nisa diam, dia tak membantah ataupun mengiyakan. Bahkan saat Keyran merampas kertas itu darinya, dia juga terus menutup mulut dan diam-diam berjalan mundur demi mencoba kabur.
"Tetap di tempatmu!" bentak Keyran lagi dengan tatapan garang.
"Ukhh ... baik," jawab Nisa dengan nada pasrah.
Keyran membaca kertas laporan yang sudah kusut itu. Dia bingung kenapa ada dua laporan hasil tes DNA yang hasilnya sama-sama positif tetapi nama subjeknya sama sekali tidak jelas.
"Apa ini? Apa kau diam-diam punya anak lain dengan selingkuhanmu?" tanya Keyran dengan tatapan tajam.
"Kau gila! Dari mana tuduhan tidak berdasar itu?! Aku ini wanita normal! Dan aku selalu ada di sampingmu, kalau aku hamil anak orang lain pasti kau juga akan tahu! Jadi berhenti menuduhku!" jawab Nisa yang mulai terbawa emosi.
"Lalu jelaskan padaku! Hasil tes ini terduga ayah hasilnya positif, terduga ibu juga positif! Sebenarnya ini punya siapa?!"
"I-itu ... punya Luciel!" jawab Nisa yang kemudian memalingkan wajahnya.
"Jadi kau memalsukan hasil tes agar Luciel jadi anak biologis kita! Lalu apa tujuanmu melakukan tindakan penipuan ini?!"
"Bukan, dasar bodoh! Aku tidak menipu! Ck, sial ... terpaksa aku jelaskan semuanya!"
"Baiklah, aku menunggu!" Keyran lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap tajam dan menanti jawaban yang bagus dari istrinya.
"Jadi begini, sejak pesta barbeque Keisha dan Luciel saat itu aku mulai curiga kenapa bisa rupa Luciel dan Daniel sangat mirip. Jadi aku diam-diam mengambil sampel Daniel dan Natasha lalu melakukan tes DNA. Dan yang kau pegang itulah hasilnya!"
"Apa?!" Keyran terkejut, dia tidak habis pikir akan mengetahui fakta sebesar ini.
__ADS_1
"A-apakah itu benar?" tanya Natasha dengan tubuh gemetar. Keyran lupa menutup pintu setelah dia masuk, jadi Natasha yang berada di luar kamar sudah mendengar semuanya dengan jelas.
"Natasha?!" teriak Keyran dan Nisa yang serentak menoleh ke arah Natasha.