Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Perlahan Tapi Pasti


__ADS_3


"Hmm ...." Keyran mengernyit. Dia saat ini sedang membaca koran hariannya di kantor pada saat jam istirahat makan siang tiba. Dan saat ini pula ada istrinya yang mengantarkan bekal makan siang khusus untuknya.


"Apa ini ulahmu?" tanya Keyran seraya menengok ke sebelah kiri, Nisa kini tengah duduk di sofa tepat di samping dirinya.


"Memangnya apa yang kau maksud?" Nisa bertanya balik, lantas mengintip apa yang dibaca oleh suaminya karena penasaran. Dia baru mengerti saat mengetahui ternyata yang Keyran baca adalah berita mengenai kasus penyalahgunaan narkoba David Damian yang tidak sampai ke pengadilan.


"Ohh ... ini! Iya, ini ulahku. Soalnya mau bagaimana pun David adalah orangku, jadi tentu saja aku harus melindunginya. Kau sudah mengenalku cukup lama, Key. Hal-hal seperti ini kau sudah mengerti sendiri. Lalu apa yang membuatmu heran?"


"Yang aku heran bukan soal tindakanmu, tapi bagaimana bisa kau tahu jika masih akan ada banyak penggemar yang memihak dan mendukung David?"


"Heh," Nisa menyeringai dan tersenyum sinis. "Memanipulasi orang itu sangat mudah, terlebih lagi jika pikiran orang-orang itu sendiri masih keterbelakangan. Mereka yang masih memihak David adalah mereka para penggemar yang buta dan tergila-gila. Jika diibaratkan ini sama sepertimu, kau juga tergila-gila padaku, kan? Makanya kau tidak menceraikan aku ataupun menyerahkan aku ke polisi."


"Huh, jangan menyamakan hubungan kita dengan orang-orang itu," jawab Keyran sambil membuang pandangan matanya ke samping.


"Kenapa? Padahal aku benar, loh~ Seorang publik figur tanpa penggemar maka kariernya akan hancur. Sama sepertiku, jika aku tanpamu maka aku akan hancur. Jadi kau itu sangat penting bagiku, darling ..." bisik Nisa dengan nada manja.


"K-kau ...!" Telinga Keyran memerah, dia langsung bergeser sedikit menjauh dari istrinya. "Sudahlah, jangan ganggu aku membaca!"


"Haha ...." Nisa tersenyum, dia masih tidak ingin melepaskan suaminya begitu saja. Dia ingin menggodanya lagi dengan tiba-tiba merebut koran tersebut.


"Apa-apaan kau?!" gertak Keyran.


"Berhentilah membaca, aku ke sini karena ingin membawakan makanan untukmu. Jadi cepatlah makan selagi masih hangat. Dan kau tak perlu mencemaskan apa pun, aku juga sudah mengatur tanggal yang pas untuk David selesai dari rehabilitasi pura-puranya. Saat itu kau sudah bisa mempublikasikan produk baru perusahaan, dan aku jamin penjualan akan meningkat bersamaan dengan popularitas David yang meningkat juga! Jadi makanlah, oke? Apa perlu aku suapi?"


"Emm ...." Keyran melirik ke kanan kiri, memastikan dulu jika tidak ada seorang pun di kantor yang akan melihatnya disuapi oleh istrinya. "Baiklah! Ayo suapi aku!"


"Pffttt ... pantas saja Keisha manja, sifatnya memang turunan darimu." Nisa terkekeh, lalu beralih dan membuka kotak bekal makan siang milik suaminya. Saat dia telah menyendok makanan, dan begitu makanan itu hampir sampai di mulut Keyran, tiba-tiba saja ...


BIP BIP BIP


BIP BIP BIP


"Ah, sebentar!" Nisa meletakkan sendok makan itu kembali karena mendengar suara alarm berbunyi yang berasal dari ponselnya.


"Astaga, aku hampir lupa! Sudah saatnya menjemput Keisha pulang sekolah!" ucap Nisa dengan nada kaget yang dibuat-buat.


"Biar sopir saja yang jemput dia!" sahut Keyran yang sudah tidak sabar ingin makan dari tangan istrinya.


"Maaf, tidak bisa Key ... Kau sudah tahu sendiri Keisha akan merajuk jika tidak dijemput olehku. Tadi pagi aku sudah janji, dan bisa gawat kalau Keisha sudah marah, dia tidak akan mau makan. Kau bisa kan mengalah untuk putramu?"


"Ya sudah, pergi sana. Aku bisa makan sendiri," ucap Keyran yang langsung menyantap makanan itu dengan tidak sabar.


Dasar kucing licik, kau pasti sudah tahu jam berapa sekarang dan sengaja menggodaku.


"Hehe, sampai jumpa nanti sore. Aku mencintaimu, darling!" Nisa tertawa puas, sejak dulu dia memang suka mengerjai suaminya.


***


Setelah keluar dari gedung utama kantor HW Group, Nisa langsung menuju ke tempat di mana kedua anaknya bersekolah, yaitu TK Langit Biru. Sesampainya di sana, begitu dia turun setelah memarkirkan mobil mewahnya, dia mendapati sesuatu yang aneh.


"Itu ... bukannya itu mobil ayah mertua? Apa dia mau menjemput cucunya? Tapi dia tidak mengabari aku ataupun Keyran," gumam Nisa sambil memandang ke arah sebuah mobil mewah yang tidak asing.


"Masa bodoh, biarkan saja, aku ingin lihat apakah ayah mertua memang menjemput anak-anak."


Nisa tak mau menerka-nerka lagi dan langsung bergegas masuk ke dalam sekolah. Akan tetapi, dia melihat penampakan tidak biasa di depan pintu kelas putranya. Dia terkejut lantaran ada Natasha bersama kedua anaknya sedang berbincang-bincang dengan bu guru wali kelas.


"Bundaaa!" teriak Keisha secara spontan begitu sadar dengan kehadiran Nisa. Dia langsung berlari dan memeluk kaki bunda nya tersayang.


"Bunda ada di sini? Keisha kira Bunda meminta tante Natasha yang menjemput."


"Bunda tidak tahu jika tante Natasha juga menjemput. Sebentar ya sayang ...." Nisa menepuk kepala putranya itu dengan lembut. Lantas ikut mendekat dan mencari tahu apa yang sedang diomongkan oleh bu guru wali kelas dan Natasha.


"Ah, bundanya Keisha dan Luciel juga datang," sapa bu guru dengan senyum ramah.

__ADS_1


"Hai, Kakak ipar!" sapa Natasha yang juga memasang senyuman.


Nisa hanya tersenyum untuk membalas sapaan tidak tulus dari adik iparnya. Nisa tahu aturan yang paling penting, dia harus menjaga image di depan orang luar dan berpura-pura berhubungan baik dengan Natasha. "Haha, iya bu guru. Maaf mendadak jadi canggung, kami sebelumnya memang tidak tahu jika ingin sama-sama menjemput anak-anak."


"Bisakah aku tahu apa yang sedang ibu guru bahas?" tanya Nisa penasaran.


"Jadi begini, bunda. Sebentar lagi adalah hari orang tua. Dan sekolah kita berencana membuat sebuah pentas seni sebagai persembahan spesial di hari itu. Para guru sudah sepakat untuk membuat pentas drama musikal. Anak-anak akan bermain peran dan didampingi oleh orang tuanya sekalian," jelas bu guru.


"Ohh ... begitu ya, kalau saya setuju saja. Tapi bagaimana dengan para orang tua murid yang lain? Takutnya mereka punya kesibukan sendiri-sendiri dan tidak bisa mendampingi anak mereka bermain peran."


"Soal itu tidak perlu dicemaskan lagi, bunda. Syukurlah para orang tua murid lain juga setuju. Dan saya juga meminta kelonggaran waktunya untuk besok, karena mulai besok anak-anak akan pulang lebih siang dari biasanya untuk latihan pementasan bersama dengan para orang tua. Apakah sekiranya bunda nya Keisha dan Luciel keberatan?" tanya bu guru.


"Tidak," jawab Nisa dan Natasha bersamaan.


Seketika kedua orang itu saling bertatapan, Nisa sedikit heran mengapa Natasha harus ikut menjawab. Di satu sisi bu guru pun juga merasa canggung dengan suasana sekarang.


"Emm ... sekiranya itu saja yang mau saya sampaikan," ucap guru wali kelas yang memecah keheningan.


"Ayo Keisha, Luciel, mari pulang!" ajak Nisa yang kemudian menggandeng tangan kedua bocah itu.


"Dadah bu guru!" ucap Keisha dan Luciel sambil melambaikan tangan kepada bu guru.


"Dadah Keisha, dadah Luciel! Sampai jumpa besok! Jangan lupa untuk istirahat dan tidur siang, ya!" jawab bu guru seraya membalas lambaian tangan dari kedua bocah menggemaskan itu.


Natasha yang tujuannya tidak begitu jelas langsung mengikuti Nisa berjalan pergi. Setelah mereka berada di area parkir, tiba-tiba saja Natasha berkata, "Apa Kakak ipar ingin mampir ke kediaman utama dulu?"


"Tidak, aku banyak pekerjaan. Aku tidak sebebas pengangguran sepertimu. Dan ada perlu apa kau datang ke sekolah? Apa kau ingin mengenang masa lalu dan jadi anak TK lagi?" tanya Nisa dengan tatapan sinis. Dia memang merasa terganggu dengan kehadiran Natasha.


"Haha, Kakak ipar bercanda. Tentu saja aku datang karena ingin menjemput anak-anak," jawab Natasha yang masih dengan senyuman di bibirnya. Meskipun dia merasa tersinggung dengan perkataan Nisa barusan, tetapi dia sebisa mungkin mencoba menahan diri agar tidak terpancing emosi.


"Apa ayah mertua yang menyuruhmu?" tanya Nisa dengan tatapan makin curiga.


"Aduh, Kakak ipar ini seperti ingin menginterogasiku saja. Aku menjemput anak-anak atas keinginanku sendiri. Aku tidak terpaksa kok, lagi pula waktu senggangku ada banyak. Jika lain kali kakak ipar repot, maka bisa suruh aku saja untuk menjemput anak-anak."


"Hei, apa yang sebenarnya kau-"


"Ah, baik ... baik ... maafkan Bunda terlalu banyak bicara." Nisa lalu membukakan pintu mobil agar kedua anak itu bisa naik.


Saat Luciel ingin naik ke mobil, tiba-tiba saja dia berkata, "Dadah tante Natasha! Terima kasih atas puding buah nya!" ucapnya dengan senyum berseri.


"Sama-sama Luciel, jangan lupa dimakan ya saat sampai rumah nanti!" jawab Natasha dengan senyuman yang ramah juga.


"Eh? Apa benar tante Natasha memberikan puding kepada Luciel?" tanya Nisa pada Luciel dengan tatapan ragu.


"Benar, mami! Keisha juga dikasih, tapi punya Keisha langsung dimakan sampai habis!" jawab Luciel dengan tatapan polosnya, tentu saja dia tidak mungkin berbohong jika itu soal kebaikan.


"Keisha lapar ... jadi puding buah nya cepat-cepat Keisha makan, hehe ..." jawab Keisha sambil meringis.


"Tenang saja Kakak ipar, tidak perlu khawatir. Di puding itu tidak akan ada racun atau semacamnya, aku tidak sekejam itu. Dan puding itu juga dibuat khusus tanpa pemanis buatan, kadar gulanya juga tidak terlalu banyak. Aku jamin jika puding buah yang aku berikan sangat sehat," ungkap Natasha dengan suara pelan ketika mengucapkannya di dekat telinga Nisa.


"Ya, tapi meskipun begitu, aku juga tidak akan lengah padamu!" ucap Nisa penuh penekanan. Tanpa berkata apa pun lagi dia langsung naik ke mobil dan melaju kencang meninggalkan Natasha seorang diri.


Natasha yang masih berdiam diri di tempat hanya tersenyum tipis sembari memandangi mobil yang dikendarai Nisa semakin menjauh.


"Nisa Sania Siwidharma, harus aku akui kalau kau adalah lawan yang tidak mudah. Sejak dulu semasa kuliah saja kita sudah bermusuhan. Tetapi, aku yang sekarang sudah tahu apa yang pantas untuk aku jadikan prioritas utama. Aku ingin merebut Luciel darimu, jika aku memang harus memperlakukan putramu dengan baik, dan bahkan jika aku harus melupakan permusuhan abadi kita, maka akan aku lakukan semuanya!"


"Tidak peduli sekeras apa pun kau mencoba menghalangiku, aku tidak akan mundur ataupun mengalah! Tekadku untuk memiliki Luciel sudah bulat! Perlahan tapi pasti, inilah cara yang aku pakai untuk mengalahkanmu! Akan aku buat semua orang menganggap jika aku lebih baik darimu soal merawat Luciel!"


"Dan sepertinya takdir juga membantuku, pentas seni drama musikal sekolah ... ini bisa jadi kesempatan bagiku!"


***


Malam harinya sekitar pukul 8 malam. Keisha dan Luciel yang telah selesai makan malam kini masih sibuk di dalam kamar mereka. Mereka berdua duduk atas karpet lantai dan bersama-sama membuat sebuah kerajinan tangan yang mereka buat secara diam-diam.


"Luciel, apakah ayah dan bunda mau menerima kerajinan kita ini?" tanya Keisha yang terlihat ragu saat ingin menempelkan sesuatu.

__ADS_1


"Iya, Keisha! Yakinlah padaku! Tadi bu guru di sekolah kan sudah bilang kalau sebentar lagi adalah hari orang tua. Jadi kita harus membuat hadiah spesial agar nanti ayah dan mami angkat semakin sayang pada kita!" jawab Luciel penuh keyakinan.


"Wahh ... Keisha juga ingin semakin disayang! Ayo Luciel, kita buat ini agar cepat jadi, setelah itu langsung diberikan ke ayah dan bunda!" ajak Keisha yang mulai antusias.


"Tidak bisa begitu Keisha, hadiah ini adalah kejutan. Setelah jadi kita harus simpan dulu baik-baik di tempat rahasia agar ayah dan mami tidak tahu, dan juga tidak boleh sampai ketahuan oleh pelayan yang membersihkan kamar kita."


"Emm ... tapi disimpan sampai kapan? Keisha sudah tidak sabar memberikan hadiah kerajinan ini pada ayah dan bunda!"


"Kita berikan saat hari orang tua tiba! Nanti setelah pentas drama musikal kita selesai, kita akan berikan hadiah ini bersama-sama! Itu baru yang namanya kejutan!"


"Ide bagus, Luciel!" Keisha semakin bertambah semangat. Dia lalu kembali melanjutkan tugasnya membuatnya prakarya kerajinan tangan sesuai arahan dari Luciel.


Namun, di tengah-tengah itu tiba-tiba saja terjadi sebuah kendala. "Uhhh ... ini tidak mau keluar!" keluh Keisha sembari terus memencet botol lem kertas dengan kuat.


"Mungkin lem kertas nya habis, Keisha. Apakah Keisha masih punya lem kertas yang lain lagi?" tanya Luciel.


"Ah, sebentar! Biar Keisha cari dulu!" Keisha lalu berdiri dan bergegas mencari sebuah lem kertas yang baru.


Keisha mencari di segala tempat, dia menggeledah semua laci yang terdapat di meja belajarnya dan juga mengeluarkan semua isi tas sekolahnya. Akan tetapi, hasilnya tetap saja tidak jumpa. "Yahh ... lem kertas nya tidak ada. Luciel, sekarang harus bagaimana?"


"Mungkin di tas Luciel ada!" Luciel lalu berdiri, dia juga menggeledah isi tas sekolahnya untuk mencari lem kertas. Namun ternyata juga tidak ada.


"Yahh ... maaf Keisha, sepertinya kotak pensil Luciel tertinggal di sekolah. Emm ... bagaimana jika kita pinjam dulu punya ayah?" tanya Luciel bermaksud meminta pendapat.


"Benar juga, ayah pasti punya lem kertas di ruang kerjanya! Tapi, Luciel saja ya yang datang ke sana! Keisha tidak bisa, soalnya Keisha masih merajuk soal tadi. Gara-gara ayah, Keisha tadi tersedak saat minum susu."


"Oke, kalau begitu Luciel saja yang akan pinjam! Tapi Keisha, sekarang kira-kira ayah sedang sibuk atau tidak, ya? Luciel juga tidak mau mengganggu kalau ayah sedang sibuk bekerja," keluh Luciel dengan tampang khawatir.


"Luciel tenang saja! Keisha yakin jika sekarang ayah sedang tidak sibuk. Kalaupun sibuk, pasti ayah sibuk pacaran dengan bunda! Pokoknya nanti Luciel jangan lupa ketuk pintu dulu, mungkin sekarang ayah sedang di kamarnya sendiri, kamarnya adik bayi, atau mungkin ada di ruang kerja."


"Baiklah, tunggu sebentar ya Keisha!"


Pada saat yang sama di ruangan lain dari villa yang besar itu. Saat ini Keyran yang sedang dicari-cari oleh Luciel sedang berada di kamarnya bersama dengan istrinya. Akan tetapi, kali ini tidak seperti tebakan Keisha yang selalu benar. Pasangan suami istri itu sekarang tidak sedang bermesraan seperti biasanya. Dan sebaliknya, sekarang mereka berdua sedang memperdebatkan sesuatu.


"Aku mohon pengertianmu, Key! Besok datanglah sebentar ke sekolah! Bu guru bilang jika sebentar lagi akan diadakan drama musikal yang melibatkan para orang tua murid. Mungkin tidak akan jadi masalah jika hanya Keisha yang terlibat, aku masih bisa mendampinginya. Namun nyatanya Luciel juga ikut, tidak mungkin bagiku untuk bermain dua peran sekaligus," bujuk Nisa yang meminta pengertian dari suaminya.


"Nisa ... aku sudah bilang berkali-kali jika besok siang aku ada rapat penting. Rapat ini nanti akan membahas proyek besar yang nilainya milyaran. Jadi harus aku sendiri yang menangani rapat ini, dan tidak mungkin juga bagiku untuk mengundur waktu rapatnya. Itu akan menimbulkan kesan buruk bagi pihak sana," jawab Keyran yang memberi penjelasan tentang alasannya tidak bisa mengabulkan keinginan istrinya.


"Ck, lalu kau ingin aku bagaimana? Jika aku hanya mendampingi Keisha, maka itu akan menimbulkan rasa tidak adil bagi Luciel. Apa kau mau aku membawa pria lain sebagai penggantimu dan berpura-pura sebagai ayahnya Luciel?!" ancam Nisa yang di luar akal.


"Tidak boleh! Enak saja kau bawa pria lain! Kau bisa bilang pada guru kalau aku sedang berhalangan untuk hadir. Lagi pula besok itu cuma latihan untuk pertama kalinya, tidak hadir sekali saja saat latihan itu tidak masalah!"


"Justru itu masalahnya, dasar bodoh! Latihan pertama kali adalah saat yang paling penting! Besok adalah penentuan dan pembagian peran! Jika tidak datang maka akan jadi masalah!"


TOK TOK TOK


"Ayah, Mami ... ini Luciel! Apakah Luciel boleh masuk?" ucap Luciel dari balik pintu yang seketika mengakhiri perdebatan pasangan itu.


"Iya, masuklah sayang," jawab Nisa.


Luciel langsung membuka pintu dan melangkah masuk begitu dipersilakan. Akan tetapi, dia tidak kunjung mengatakan apa maksud kedatangannya. Dia merasa tidak enak lantaran mendengarkan perdebatan tadi dari luar.


"Ada apa Luciel? Apa Luciel ingin mami membacakan cerita untuk pengantar tidur?" tanya Nisa dengan nada ramah.


"Emm ... apakah Luciel menyusahkan dan membuat Mami kerepotan?" tanya Luciel dengan tatapan polosnya.


"Ah, tidak sayang. Mana mungkin mami kerepotan karena anak baik seperti Luciel. Kenapa Luciel tiba-tiba bertanya begitu?"


"Tadi ... Luciel dengar dari luar. Mami bertengkar dengan ayah karena membahas soal Luciel ..." jawabnya sambil menundukkan kepala dan memainkan kedua jari telunjuknya.


"Ini salahmu!" ucap Nisa tanpa bersuara sambil melotot ke arah suaminya.


"Humph ...." Keyran hanya mendengus kesal dan memalingkan wajahnya.


"Tidak apa-apa kok jika ayah memang tidak bisa datang. Luciel tidak keberatan kalau tante Natasha saja yang datang."

__ADS_1


"Apa?!" Nisa dan Keyran terkesiap.


__ADS_2