
Violent Zone, secara bahasa dapat diartikan sebagai zona yang dipenuhi kekerasan, dilihat dari artinya saja sudah memiliki kesan yang buruk. Violent Zone sudah tidak asing lagi di telinga Chelsea, dirinya tahu betul jika tempat ini berhubungan dengan Kakak laki-lakinya. Yang dia tahu, Violent Zone adalah sebuah tempat yang mana diadakan perkelahian serta pertaruhan.
Meskipun tahu jika mendiang kakaknya berkaitan dengan hal buruk, dia tak terlalu paham bagaimana aturan di Violent Zone. Chelsea juga tahu, jika hal ini sempat mendapatkan dukungan dari ayahnya. Keluarga Adinata yang dulunya mengelola tempat itu juga mengalami kerugian besar setelah William mati. Jadi ketika semasa William Adinata masih hidup dulu, Chelsea tak terlalu mengusik dan penasaran dengan hal ini.
Setelah kematian William, keluarga Adinata dituntut atas tuduhan kelalaian dalam pengamanan. Hiburan seperti perkelahian yang didasari taruhan, tentu saja banyak orang yang memiliki uang merasa tertarik ingin menyaksikannya. Di antara para tamu itu, beberapa ada yang berasal dari kalangan terpandang, bahkan ada juga yang berasal dari luar negeri. Karena sejak 10 tahun yang lalu, Violent Zone memang sudah seterkenal itu.
Sebuah hiburan perkelahian yang bertempat di kapal pesiar. 10 tahun yang lalu, tepat pada saat malam tahun baru, diadakan turnamen besar yang menyita banyak perhatian orang-orang yang berasal dari dunia undergroud atau dunia hitam. Namun, di dalam acara akbar itu, tanpa disangka oleh siapa-siapa, terjadi insiden besar.
Menurut keterangan yang Chelsea tahu, insiden itu diawali dengan adanya penyerangan beberapa orang. Jumlah mereka tak banyak, tapi mereka sanggup memorak-porandakan seluruh isi kapal pesiar. Kapal pesiar itu terbakar habis, jumlah tamu yang selamat hanya sedikit karena sebagian besar sekoci penolong yang dibawa telah dihancurkan. Dan esok harinya, mereka mendapati mayat William Adinata yang tergeletak di sekitar pelabuhan dalam keadaan yang mengenaskan.
Karena Violent Zone merupakan bisnis ilegal dengan keuntungan besar. Tommy Adinata memutuskan untuk menutupi kebenaran soal kematian putra tersayangnya kepada publik. Tommy membuat keterangan palsu demi menjaga namanya supaya tak tercemar, bahkan melarang polisi untuk mengusut kasus lebih dalam dan memalsukan jika William Adinata tewas dalam kecelakaan.
Hingga pada saat itu, Chelsea menggantikan posisi kakaknya. Dia mengambil alih semua tanggung jawab yang semula menjadi tanggungan William. Awalnya dia melakukan semua itu dengan ikhlas hati, dalam artian membalas budi pada ayahnya dan turut prihatin pada mendiang kakaknya.
Namun, selama bertahun-tahun nyatanya semua pencapaian Chelsea dianggap tidak ada artinya di mata Tommy Adinata. Selalu dibandingkan dengan mendiang William hanya karena dia terlahir sebagai perempuan. Chelsea merasa jika dirinya bukan dianggap sebagai putri yang disayangi, tetapi berubah menjadi boneka penghasil uang yang terpenjara dalam sangkar emas.
Itulah mengapa Chelsea memiliki kebencian yang besar terhadap pelaku pembunuhan kakaknya. Sudah sejak lama Chelsea menggali informasi dari siapa pun yang punya hubungan dengan mendiang William. Namun hasilnya nihil, karena Chelsea menyadari jika semua antek-antek dan mantan anak buah William juga telah dibantai habis.
Tetapi sekarang, kebenaran yang selama ini Chelsea cari telah berada di depan matanya. Dia yakin jika semua dan sekecil apa pun informasi dari Violent Zone akan sangat penting untuk mengungkap kebenaran dibalik tewasnya sang kakak. Terlebih lagi, ternyata selama ini kekasihnya itu sudah tahu semuanya namun justru merahasiakan darinya.
Saat ini dia juga masih diam dan menatap Leon dengan tatapan seakan tidak percaya. "Kau bilang ... kapal pesiar itu adalah tempat Violent Zone? Jadi selama ini kau sudah tahu, kenapa baru sekarang kau bilang padaku? Leon, apa selama ini kau hanya menganggap jika balas dendamku cuma gurauan belaka?"
"Chelsea," ucap Leon yang tangannya maju sekali lagi. Hendak membelai wajahnya supaya dia tenang, namun Chelsea justru menepis tangannya.
"Katakan padaku, Leon! Yang aku butuhkan itu penjelasan yang nyata! Bukan alasan yang dibuat-buat!" berontak Chelsea dengan tatapan nanar. Dia sudah muak dengan semua alasan dan kebohongan yang telah Leon katakan padanya.
"Aku harus katakan apa lagi padamu?! Sudah aku katakan kalau jalan yang kau ambil ini sangat berbahaya! Aku tak mengatakan yang sebenarnya karena tak mau kau terluka! Aku melakukan ini semua demi kebaikanmu! Aku mencintaimu, Chelsea. Karena itulah aku melakukan semua ini!"
"...." Chelsea terdiam, dia tak habis pikir jika di saat ini Leon justru mengungkapkan rasa cintanya yang menjadi dasar dari semua kebohongan yang dia katakan. Sulit, sangat sulit baginya untuk menerima alasan ini.
"Kenapa kau menjadikan perasaanmu sebagai alasan? Jika kau benar-benar mencintaiku, harusnya kau tahu apa yang keinginanku," ungkap Chelsea dengan setitik air mata yang sudah berlinang di ujung pelupuk matanya. Dia amat kecewa soal apa yang Leon perbuat padanya. Akan tetapi, Chelsea sadar jika kecewa sekarang pun tidak ada gunanya.
Chelsea menyeka air matanya yang belum sempat jatuh. Lalu mengepalkan kedua tangannya seerat mungkin karena menghadapi pilihan yang sulit. Setelah sejenak terdiam, dia lantas berkata, "Baiklah, terima kasih atas bantuanmu selama ini. Aku bisa sampai di titik ini juga berkat dukungan darimu. Tapi, Leon ... aku benar-benar tak bisa melepaskan dendam ini begitu saja."
"Dan kau juga bilang kalau ketua yang sangat kau hormati itu ingin kita naik ke kapal. Baiklah, akan aku lakukan seperti yang dia mau! Aku mau naik dan mengetahui alasan kematian kakakku! Tak apa jika nyawaku jadi taruhannya, tak masalah jika kau tak ingin naik. Aku akan menaiki kapal itu sendiri!" ungkap Chelsea penuh keyakinan.
Tanpa mendengar basa-basi dari Leon lagi, dia berbalik dan hendak melangkah untuk keluar dari celah kontainer yang gelap itu.
"Tunggu!" cegah Leon seraya menahan tangan Chelsea erat-erat.
"Jangan mencegahku lagi! Ini keputusanku, aku tak mau menarikmu masuk ke lingkaran balas dendamku. Pulanglah Leon, temani saja adikmu, Liana. Jadi tolong lepaskan aku!" pinta Chelsea tanpa berbalik ataupun menoleh dan memandang wajah Leon.
"Bukan ... aku bukannya mau mencegahmu, jika ini memang keputusanmu, mari kita lakukan bersama-sama!" Kata-kata itu keluar dari mulut Leon begitu saja, dia tak mau orang yang dia sayang terluka. Sebab, di matanya saat ini, dia membayangkan jika Chelsea sedang melangkah menuju pintu gerbang kematian.
__ADS_1
Mulut Chelsea terasa kelu, seakan tak mampu untuk membantah ucapan Leon. Jika dia jujur, sebenarnya dia juga takut menghadapi semua ini sendiri. Tetapi, dia lebih takut lagi jika nantinya Leon akan berakhir buruk seperti dirinya.
Chelsea berbalik, menatap Leon dengan sorot matanya yang sedih. "Apa kau sungguhan? Jika kau ikut aku, artinya kau juga mempertaruhkan nyawamu. Kau berbeda denganku, Leon. Kau masih punya Liana, sedangkan aku ... aku sudah lama dianggap mati oleh semua orang. Jika nanti aku tiada, tak akan ada yang merasa kehilangan padaku."
"Ini adalah keputusanku sendiri! Dan aku juga mau menepati janjiku padamu, di rumah sakit saat itu ... aku sudah berjanji akan selalu berada di sisimu! Daripada aku hidup sebagai pecundang yang melanggar janjiku, lebih baik aku ikut denganmu dan bertaruh! Lagi pula masih terlalu dini jika mengatakan kalau kita akan bunuh diri! Jika kita bekerja sama, aku yakin ... aku yakin jika kita masih punya peluang untuk keluar bersama!"
"...." Chelsea kehabisan kata-kata. Dia tak pernah membayangkan jika akan ada seseorang yang mau mengorbankan nyawa demi dirinya. "Terima kasih!" seru Chelsea seraya memberikan pelukan yang erat pada Leon.
"Ya ..." jawab Leon singkat yang kemudian juga membalas pelukan dari Chelsea. Meskipun sudah memantapkan diri untuk mendampingi sampai tuntas, Leon masih menyimpan rasa kekhawatiran yang begitu besar.
Begitulah yang namanya perasaan cinta, terkadang memilih berbohong untuk menjaga perasaan supaya tak terluka. Meskipun niatnya baik, tetap saja kejujuran yang paling utama. Leon bersyukur karena Chelsea masih mau memaafkan dan menerima dirinya. Pada akhirnya, pertengkaran singkat yang menentukan segalanya telah berakhir.
Setelah Chelsea menenangkan diri dan mengendalikan perasaannya lagi. Dia memutuskan untuk melihat kapal pesiar itu dari dekat. Bersama dengan Leon, dia berada di dermaga dan memperhatikan seluruh anggota Divisi 1 yang masih sibuk mengangkut barang untuk persediaan.
"Leon, sejak tadi aku cuma melihat anggota Divisi 1 yang bekerja. Apakah Violent Zone adalah bagian dari Divisi 1?" tanya Chelsea.
"Iya, dan Kepala Divisi 1 juga menaruh perhatian lebih soal bisnis ini. Bisa dibilang jika posisi bisnis ini yang terpenting setelah kasino," jawab Leon.
"Emm ... begitu ya. Bisakah kau ceritakan padaku lebih rinci lagi soal Violent Zone? Apa saja yang kau tahu, aku akan mendengarkannya!" pinta Chelsea yang haus akan informasi.
"Yang aku tahu cukup banyak, tapi tak semuanya. Yang aku tahu soal Violent Zone, adalah aturannya yang sangat menghargai privasi. Baik pegawai maupun tamu VIP, mereka diwajibkan untuk memakai topeng dan menyembunyikan identitasnya. Dan satu lagi, aku dengar kalau di Violent Zone ada beberapa eksekutif."
"Eksekutif?" Chelsea menatap penasaran.
"Iya, para eksekutif memiliki otoritas tertinggi selama Kepala Divisi tidak ada. Mereka selalu ada di dalam kapal, dan hanya turun dari kapal di waktu-waktu tertentu. Para eksekutif yang bertanggung jawab totalnya ada 12, mereka dikenal sebagai 12 Shio. Tikus, kerbau, macan, kelinci, babi, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan naga. Ciri khusus mereka adalah memakai topeng khusus bermotif hewan yang sama seperti jenis shio yang mereka wakili. Sedangkan para awak kapal dan pegawai lainnya, mereka memakai topeng hitam polos."
"Eh? Kenapa? Apakah mereka berbahaya? Padahal jika bertemu dengan mereka, mungkin kita bisa mengorek informasi yang lebih rinci dari mulut mereka!" protes Chelsea dengan spontan.
Leon menyeringai, merasa geli dengan pemikiran Chelsea. "Heh, itu benar-benar pikiran yang konyol. Jangan terlalu meremehkan eksekutif, meskipun aku belum pernah bertarung melawan mereka, tapi mungkin saja kemampuan mereka selevel denganku. Dan lagi, meskipun kita menang melawan mereka, tak menjamin juga kalau mereka mau membuka mulut. Mereka itu orang-orang pilihan Marcell, sudah jelas kalau mereka akan sangat setia."
"Hump! Kau itu kan sudah dapat predikat sebagai elite, jadi aku pikir kau akan mudah saja mengalahkan para hewan 12 shio itu. Susah juga kalau begini, kita tak tahu siapa yang terkuat di antara para eksekutif, dan kita juga tak tahu permainan apa yang akan Nisa lakukan pada kita. Posisi kita di sini benar-benar tidak menguntungkan," keluh Chelsea dengan wajah cemberut.
"Hm? Baru segini saja kau sudah pesimis, cepat sekali kau menyesali keputusanmu," sindir Leon yang bermaksud menggoda Chelsea.
"Hei-hei-hei ...!" Chelsea tersinggung, bahkan juga memberikan cubitan di lengan Leon.
"Dengar ya, aku bukannya menyesal! Tapi aku cuma berpikir soal betapa sulitnya posisi kita! Itu saja, pokoknya aku sudah bertekad mau naik kapal!" ungkap Chelsea yang kemudian berhenti mencubit.
"Haha, oke ... aku percaya padamu." Leon tertawa, setidaknya untuk sesaat, dia bisa melepaskan perasaan tegang.
"Oh ya, ngomong-ngomong ... kapan kita naik ke kapal? Aku bosan terus melihat dari jauh seperti ini."
"Emm ... entahlah, aku belum mendapatkan sinyal atau instruksi baru. Mungkin kita akan masuk beberapa menit lagi, saat anggota Divisi 1 selesai mengangkut barang."
"Begitu ya, padahal aku mau kepastian. Akan sangat melelahkan jika kau baru akan mendapat instruksi besok pagi!" keluh Chelsea lagi, dia merasa tidak nyaman karena kakinya terasa pegal.
__ADS_1
"Jangan rewel begitu, lagi pula kapal ini tidak akan lama berlabuh. Yang aku tahu, kapal mewah sebesar ini akan menarik perhatian orang lain. Jadi sebelum orang sekitar tahu, kapal ini akan kembali berlayar malam ini juga."
"Ohh ... baguslah, semakin cepat kita naik, semakin cepat pula aku bisa tahu kebenarannya!"
Tak berselang lama kemudian para anggota Divisi 1 terlihat sudah selesai mengangkut barang. Meskipun begitu, Leon masih belum mendapatkan instruksi untuk naik ke atas kapal. Hingga berselang sekitar setengah jam kemudian, mereka berdua menyaksikan sendiri orang-orang yang berpakaian lain diperlakukan secara spesial.
Mereka berjalan satu per satu menaiki kapal pesiar itu secara bergantian. Dan wajah mereka, juga telah dipasangi topeng, mirip seperti gerombolan yang sedang menghadiri acara pesta. Namun, bukan topeng cantik yang mereka pakai, topeng yang mereka kenakan semuanya sama, yaitu topeng putih polos.
Dari kejauhan, Chelsea memandangi mereka semua dengan kedua alis yang saling mengait. Terlebih lagi saat menyaksikan jika ada 2 orang yang memakai topeng berbeda ikut mengawal orang-orang bertopeng putih tadi. "Apakah yang memakai topeng putih itu adalah para tamu VIP? Dan aku melihat jika ada orang yang memakai topeng berbeda, tak terlalu jelas, tapi sepertinya itu eksekutif dengan topeng monyet dan kuda."
"Ya, kau benar, aku juga melihatnya. Semua orang yang memakai topeng putih itu adalah para VIP yang ingin melihat pertunjukan ataupun cuma berlibur di atas kapal pesiar. Kau juga benar soal dua eksekutif yang kau sebutkan, dua orang itu terjun langsung ke lapangan untuk mengawasi dan mengawal keselamatan para tamu VIP. Oh ya, tadi aku lupa bilang padamu, setiap eksekutif memiliki julukan sendiri-sendiri sesuai topeng yang mereka pakai. Jadi, yang sedang menyambut para tamu itu pastilah Mr Monkey dan Mr Horse," Jawab Leon.
"Eh? Mister? Jadi mereka semua laki-laki?" tanya Chelsea lagi.
"Tentu saja! Apa penglihatanmu sudah menurun? Kau tidak lihat jika mereka pakai jas untuk pria?" tanya Leon terheran-heran.
"Oh ... kukira akan ada yang wanita, soalnya bisa saja ada Kaitlyn yang kedua. Aku tak mau tertipu hanya karena penampilan," jelas Chelsea dengan senyum canggung.
"Astaga, aku bisa jamin kalau Kaitlyn itu salah satu pengecualian. Dia satu-satunya banci di organisasi." Leon menghela napas, kembali memperhatikan para tamu VIP dan kedua eksekutif yang menyambut tamu.
TAP TAP TAP ...
Terdengar suara langkah sepatu wanita. Chelsea dan Leon yang mendengar suara itu seketika berbalik dan menoleh ke sumber suara. Dan benar saja, memang ada seseorang yang menghampiri mereka berdua.
Dia adalah seorang wanita berseragam formal, dengan celana panjang dan blazer berwarna hitam. Wanita ini juga tampak membawa sebuah koper dan memakai topeng yang menutupi seluruh wajahnya, namun bukan topeng putih polos seperti yang dipakai oleh tamu VIP, bukan juga topeng hitam polos yang menandakan identitas awak kapal. Topeng yang dia pakai adalah topeng dengan motif hewan, namun juga tidak termasuk ke dalam jajaran hewan 12 shio, karena yang dia pakai adalah topeng bermotif hewan rubah.
"Siapa kau?" tanya Leon dengan tatapan tajam, dia juga langsung bersikap waspada. Karena sebelumnya dia tak pernah tahu jika di Violent Zone ada seseorang yang memakai topeng rubah. Jadi dia berpikir jika wanita ini berpotensi menjadi musuhnya.
"Aku Foxy, aku adalah seorang pemandu kapal," ucap wanita bertopeng rubah itu.
Begitu mendengar jawabannya, Chelsea dan Leon sama-sama merasa tidak asing dengan suaranya. Sejenak mereka berdua saling menatap, memastikan jika mereka punya pikiran yang sama.
"Kami mengenalimu, tak perlu memakai topeng segala. Meskipun kau menutup wajahmu dan mengubah logat bicaramu yang genit itu, aku bisa tahu kalau kau adalah si banci!" celetuk Leon dengan tampang malas.
"Oh, baguslah kalau kalian mengenaliku. Tapi aku akan tetap memakai topeng ini demi profesionalitas. Bagaimana kalau di atas kapal nanti kita bekerja sama?" tanya Kaitlyn alias Foxy.
"Bekerja sama? Kenapa kami harus bekerja sama denganmu? Memangnya tujuanmu sama dengan kami?" tanya Chelsea sambil menatap curiga.
"Bukan, tapi daku mengajak kalian supaya di atas kapal nanti jangan membuat keributan. Daku memakai topeng ini dan berperan jadi Foxy atas perintah langsung dari ketua. Selain kalian berdua, daku juga terus diawasi. Karena ketua ingin daku menjadi pemandu kalian dengan baik, supaya kalian bisa mengetahui apa yang kalian ingin tahu. Jadi singkatnya, jika kalian mau tetap tenang dan bekerja sama, maka daku juga akan menjelaskan segalanya dengan rinci. Daku tak mau kalian membuat keributan saat sedang dipandu olehku, supaya daku dianggap mengerjakan tugas dengan baik dan diberi penghargaan oleh ketua!" jelas Kaitlyn yang logat bicaranya seketika berubah genit seperti semula.
"...." Chelsea membisu.
Jadi ... Nisa sebenarnya memang ingin aku mengetahui soal alasan kematian kakakku. Tapi kenapa? Sebenarnya apa tujuannya? Kenapa dia justru melibatkan orang lain untuk memberitahuku? Kenapa dia tidak katakan langsung saja padaku? Dan kenapa dia suka sekali memilih cara yang rumit seperti ini untuk mempermainkan aku?
"Ayolah, cepat katakan keputusan kalian! Kapal Violent Cruise sebentar lagi akan berlayar, daku tak punya cukup waktu untuk meladeni kalian!" cecar Kaitlyn yang sudah tidak sabar mendapatkan jawaban.
__ADS_1
"Bagaimana, Chelsea? Aku akan mengikuti apa saja yang kau pilih. Apa kau mau bekerja sama dengan orang ini?" tanya Leon.
"Ehmm ... a-aku ..."