
Leon masih diam membisu. Pikirannya masih berusaha memahami apa yang telah terjadi selama ini. Namun, satu hal yang pasti. Dia sadar jika tak cuma telah dibohongi, tetapi ada dendam lama yang terselubung juga di dalam kisah cinta tragisnya.
Chelsea ingin membalaskan dendam mendingan kakak laki-lakinya yang tewas di tangan Dika 10 tahun yang lalu. Sedangkan Leon, dia sudah menganggap Dika yang selama ini telah melatihnya sebagai kakaknya sendiri. Perasaan Leon kian rumit, siapakah yang harus dia bela? Apakah dia harus ikut campur dalam perang milik ketua dan balas dendam masa lalu sang kakak?
Dika kemudian menurunkan tangan kirinya dan menutup bekas luka itu kembali dengan lengan bajunya. "Maaf Leon, seharusnya kau tidak perlu terlibat dalam semua ini. Ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganmu, keinginan balas dendam wanita itu muncul karena kakaknya terbunuh. Dan itu semua karena aku."
"Ketua menyeretmu ke dalam semua ini karena menyadari kedekatanmu dengan wanita itu. Ketua khawatirkan jika kau membantunya dan berbalik melawan ketua. Sekali lagi maafkan aku, aku tak cukup mampu untuk menghalanginya dan menjadikanmu sebagai pionnya. Tak peduli apa pun yang terjadi nanti, akan aku coba lagi, aku akan memohon pada ketua supaya tidak melibatkanmu lagi," ucap Dika dengan ekspresi wajah bersalah.
"Tidak!" sahut Leon spontan.
"Apa maksudmu? Kau mau mencegahku memohon pada ketua?" tanya Dika seakan tak percaya.
"Iya, aku mau mencegah Kakak! Memangnya apa salahnya aku ikut terlibat? Kak Dika sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri, dan selama ini Kak Dika juga telah memperlakukan aku dengan baik. Jika memang hal ini berhubungan dengan Kakak, maka aku siap membela Kakak!"
Dika tersenyum tipis setelah mendengar pengakuan dari Leon. Hatinya tersentuh karena mengetahui bahwa Leon akan membela dirinya dalam masalah ini. "Leon, aku tahu jika kau mungkin akan membelaku. Hanya saja, tolong jangan paksakan niatmu itu. Apa kau tidak takut menyesali apa yang kau pilih?"
"...." Sejenak Leon terdiam, memikirkan pertanyaan dari orang yang paling dia percaya. Lalu dengan kedua tangan yang mengepal sekuat mungkin, dia memantapkan dirinya dan berkata, "Tidak! Tolong jangan ragukan aku, Kak! Aku bukan orang bodoh yang akan memilih pilihan yang salah! Aku tahu siapa yang harus aku bela!"
"Kak Dika yang selama ini sudah memberikan banyak bantuan untukku! Jika tanpa Kakak, entah bagaimana jadinya aku sekarang. Aku berhasil bertahan hidup dan memiliki kehidupan baru yang layak itu semuanya berkat Kakak! Aku tak mungkin mengkhianati Kakak hanya karena seorang wanita yang belum lama aku kenal!"
Senyuman Dika berubah jadi senyuman pahit. Kemudian dia menundukkan kepala sejenak dan bergumam, "Sungguh ... aku tak menyangka jika pada akhirnya ada seseorang yang rela berkorban seperti ini demi aku. Jika saja aku bisa, aku mungkin akan berkhianat dan membantu Leon melawan ketua. Tapi itu semua hanya anggan, jika di masa lalu aku tidak membuat masalah, ketua juga tidak mungkin harus berbuat semua itu untuk menyelamatkan aku."
Di satu sisi, Leon merasa tidak tenang. Pertama kali baginya dia telah membuat keputusan yang penuh dengan keraguan.
Dika kemudian mendongak dan menatap netra Leon lekat-lekat. "Baiklah, aku cukup puas dengan keputusanmu. Aku bangga padamu karena kau tak melupakan identitasmu sekarang sebagai seorang gangster. Hanya seorang wanita saja, kau bisa mendapatkan lebih dari satu jika kau mau."
"Itu bukan apa-apa, Kak ... Yang terpenting aku bisa membuktikan kesetiaanku pada ketua dan terutama pada Kakak," jawab Leon dengan tatapan merendah, dia tak membalas tatapan mata Dika.
Iya, tak salah lagi kalau keputusanku ini sudah tepat. Percuma saja aku membela seorang wanita yang sudah menipu dan mempermainkan aku. Perasaan cinta yang tidak berguna ini, pasti cepat atau lambat akan hilang.
"Apa kau tahu Leon? Aku menganggapmu sebagai adikku hanya karena satu hal," ucap Dika dengan tatapan kasih seolah-olah jika dia memang sosok kakak kandung bagi Leon.
"Apa itu? Apakah karena aku berguna bagi Kakak?" tanya Leon penasaran.
"Bodoh, tentu saja bukan. Jika soal itu maka sudah pasti adikku sudah banyak, soalnya ada banyak orang yang sudah melakukan hal berguna buatku. Aku memperlakukanmu secara berbeda karena kau mirip denganku. Entah kenapa setiap kali melihatmu, aku merasa seperti melihat sosok diriku yang dulu."
"Aku sudah menjelaskan soal kenapa kau kuanggap sebagai adik. Oleh karena itu, aku akan memberimu sedikit bocoran lagi soal apa yang ketua rencanakan untukmu. Ketua mempunyai 3 pilihan yang diharapkan untuk kau pilih."
"3 pilihan?! Pilihan apa saja itu?!" tanya Leon dengan tatapan berharap. Pikirnya, mungkin saja dia bisa menemukan celah dari 3 pilihan yang diberikan padanya.
Dika lalu mengangkat jari telunjuknya, bermaksud mengisyaratkan angka 1 seraya berkata, "Pilihan pertama, ini adalah pilihan yang paling efektif untuk menunjukkan kesetiaanmu pada ketua. Kau bunuh saja wanita itu dan bawakan jasadnya ke hadapan ketua!"
"Apa?!" Leon terkejut, pilihan pertama ini sangat tidak menguntungkan baginya. Dia tidak bisa menemukan kelemahan dari pilihan pertama ini.
Dika menghela napas, lalu dia mengangkat satu lagi jarinya. Bersiap mengatakan apa pilihan kedua. "Lalu yang kedua, pilihan ini sangat tidak menguntungkan bagimu. Jika kau kesulitan berkhianat pada salah satu pihak, maka kau akan mendapatkan kisah cinta sehidup semati. Kau harus mengorbankan dirimu dan mati bersama wanita itu."
"...." Leon masih terdiam, dia sedikit tak percaya jika nyawanya akan jadi pertaruhan dalam pilihan kedua. Namun, dia tidak bisa membantah. Dia sadar diri jika keberadaannya memang tidak begitu berarti bagi sang ketua, oleh karena itu dia merasa wajar jika ketua tak masalah saat dia mati demi menunjukkan kesetiaan dan pengabdian.
"Lalu apa pilihan terakhir?" tanya Leon yang makin penasaran.
Dika lalu mengangkat tiga jarinya dan tersenyum menyeringai. "Pilihan ketiga adalah yang paling sulit. Tetapi ... jika kau mampu melakukan ini, maka kau akan mendapatkan keduanya. Baik itu cintamu ataupun kepercayaan dari ketua. Yang harus kau lakukan adalah mengubah haluan dendam wanita itu. Buat dia melepaskan dendam lama ini dan sepenuhnya berpihak pada kita."
"Melepaskan dendam ..." gumam Leon yang mulai merasa kurang percaya diri.
"Iya, kau sudah tahu bukan? Ungkapan apa yang selalu diucapkan ketua, itu adalah .... Semua adil dalam cinta dan perang. Jika kau punya kepercayaan pada cintamu itu, kau bisa membuatnya berubah pikiran dan berada di pihak yang sama denganmu. Ketua bilang padaku kalau cinta itu bisa mengubah seseorang. Silakan kau coba saja pada wanita itu, jika dia menganggap dirimu lebih penting dari balas dendam mendingan kakaknya. Maka dia tidak akan ragu untuk memilihmu."
"Jika itu semua terjadi, maka masalah akan selesai. Kau dapatkan wanita itu, dan kau akan tetap mendapatkan kepercayaan dari ketua. Mungkin ini akan sulit, soalnya orang yang memiliki dendam pada dasarnya juga memiliki ambisi yang kuat. Tapi tidak ada salahnya kau mencoba. Aku percaya padamu, apa pun yang akan pilih nanti, kau akan tetap jadi adikku ..." ucap Dika dengan senyuman.
"Terima kasih atas semua penjelasan Kakak ..." ungkap Leon penuh kepuasan. Hari ini dia telah mendapatkan sesuatu yang besar, semua yang ingin dia ketahui soal asal muasal dari masalah ini sudah terpecahkan.
"Ya, itu sudah semua yang ingin aku jelaskan padamu. Kau sudah bisa pergi, tapi aku berpesan satu hal padamu! Berhati-hatilah, kau sedang diawasi!" ucap Dika penuh penekanan.
__ADS_1
"Baik, aku mengerti." Leon mengangguk, dia segera beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan khusus Kepala Divisi itu.
Sedangkan Dika, dia langsung bersandar di kursinya begitu Leon tak terlihat lagi. Hatinya merasa lega lantaran sudah memberikan peringatan dan bocoran mengenai rencana besar sang ketua pada Leon. Dengan begini, Dika berharap jika nantinya Leon tidak akan mengecewakan dirinya dengan membuat pilihan yang salah.
"Haiss ... Leon, sayangnya yang menganggapmu begitu berarti mungkin hanya aku. Aku tak bisa menjamin, tapi besar kemungkinannya jika ketua dan para Family yang lain cuma menganggapmu sebagai aset yang berharga. Lalu yang paling aku khawatirkan adalah Marcell ...."
"Yang bisa mengendalikan dirinya itu hanya Nisa. Dia adalah orang yang aseksual, jadi tidak mungkin dia mengenal apa itu cinta sama seperti Leon. Marcell itu punya kegilaan yang menganggap jika Nisa adalah langitnya. Dia yakin apa yang diputuskan oleh langit adalah hal yang sudah semestinya. Dan jika ada yang mengusik langitnya, dia pasti akan melakukan segala cara untuk membereskannya. Kesetiaan dan pengabdian yang berlebihan ini sungguh gila, bahkan untukku sekali pun."
"Saat ini baik ketua ataupun Divisi lain, mereka mungkin sudah mengutus orang untuk mengawasi setiap gerak-gerik Leon. Yang aku takutkan adalah jika saat Leon melakukan hal yang di luar batas, aku takut saat itu Marcell akan langsung turun tangan. Sedangkan ... kemampuan Marcell itu ada di atasku, Leon akan langsung tamat jika berhadapan dengannya."
"Hahh ... aku hanya bisa berharap yang terbaik untuknya."
***
Di satu sisi Leon yang sudah mendengar penjelasan dari Dika kemudian bergegas pulang. Namun, dia sama sekali tidak melakukan sesuatu yang berarti. Dia tak menemui Chelsea dan menanyakan perihal identitas maupun dendamnya. Selain mengurus Liana seperti biasanya, Leon tak melakukan apa-apa.
Tanpa terasa hari sudah berganti lagi. Leon keluar rumah tanpa memberikan alasan yang jelas pada Liana. Meskipun Liana bilang jika Mayra datang ke rumah dan mencarinya, Leon masih tak mau pulang. Saat ini yang dilakukan Leon lebih tepat disebut sebagai pelarian. Dia terus lari dari pandangan Chelsea dan sebisa mungkin tidak berkomunikasi lagi dengannya.
Saat ini sudah memasuki hari ke-5. Tinggal 2 hari lagi untuk menuju ke waktu seminggu yang telah ketua tunggu-tunggu. Semasa waktu ini Leon terus menghindari kontak dengan Chelsea. Sedangkan Chelsea, dia sadar dengan sikap Leon yang berubah terhadapnya. Akhirnya dia memikirkan cara agar bisa bertemu dengan Leon.
Chelsea datang ke rumah Liana saat sore hari. Dan seperti hari sebelumnya, Leon masih tak ada di rumah ketika dia datang bertamu.
"Huh, sebenarnya kak Leon itu kenapa sih? Kenapa dia menghindar dari Kak Mayra? Kalian berdua tidak bertengkar karena sesuatu, kan?" tanya Liana pada Chelsea dengan tatapan curiga.
"Tidak, kami sama sekali tidak bertengkar. Waktu terakhir kali kita berdua bertemu, itu adalah saat kami kencan di hari Sabtu pekan kemarin. Mungkin saja aku melakukan sebuah kesalahan yang tidak aku sadari. Jadi Leon menghindariku seperti ini," jawab Chelsea.
"Aku rasa kalian perlu saling bicara, tapi jika masalahnya ada pada kak Leon, atau bahkan dia ketahuan selingkuh! Kak Mayra jangan beri dia ampun! Aku beri izin sepenuhnya pada Kak Mayra untuk memberi pelajaran pada kakakku itu!" seru Liana yang mulai ikut merasa kesal dengan hubungan percintaan kakaknya.
"Haha, aku inginnya juga begitu. Aku ingin bicara empat mata dengannya. Jadi Liana, kau setuju pada rencana yang aku sebutkan tadi, kan?"
"Baiklah, aku setuju. Aku akan menelepon kak Leon dan berteriak seolah aku kesakitan. Kak Leon pasti akan panik dan segera pulang ke rumah, dan saat itu aku akan kabur untuk memberikan kalian ruang berbicara!"
"Bagus, terima kasih banyak Liana!" ucap Chelsea dengan senyuman.
"Hahaha, tidak masalah! Lagi pula aku tidak mau kakak ipar selain Kak Mayra!" teriak Liana yang seketika membuat Chelsea tersipu malu.
"Hehe, sudah! Aku pergi dulu, ya! Aku mau main ke taman dekat sini! Sebentar lagi kak Leon pasti akan sampai di rumah!"
"Iya, sekali lagi terima kasih Liana!" jawab Chelsea sambil mengangguk.
Liana segera berlari keluar dari rumah dan bermain. Dia merasa senang sekali lantaran merasa telah memberikan kontribusi banyak untuk hubungan percintaan kakaknya.
Tak berselang lama setelah Liana pergi, tiba-tiba saja pintu rumah terbuka dan menimbulkan suara bantingan pintu yang begitu keras.
"Liana! Liana, kau kenapa?!" teriak Leon sekeras mungkin begitu dia memasuki rumah. Namun, setelahnya dia terkejut karena yang dia temui bukanlah adiknya, melainkan kekasihnya.
"Kau ... di sini?" tanya Leon terheran-heran.
Chelsea yang semula duduk di sofa langsung berdiri dan mendekat ke arah Leon. "Iya, aku di sini untuk bertemu denganmu. Emm ... Liana sedang tidak ada di rumah, dan dia juga baik-baik saja. Sebenarnya aku yang merencanakan semua ini. Aku berbohong supaya bisa bertemu denganmu."
"Kau ... bisa-bisanya kau berbohong soal sepenting ini?! Kenapa kau begitu ingin bertemu denganku?! Kau tahu jika Liana itu sangat penting bagiku, tapi kenapa kau memanfaatkan hal itu?! Lagi-lagi kau berbohong dan memanfaatkan aku!" teriak Leon dengan spontan. Dia kelepasan karena terbawa emosi lantaran sudah dibohongi. Apalagi ini menyangkut soal adik kesayangannya.
"Aku memanfaatkanmu? Kapan Leon?" tanya Chelsea kebingungan.
"Sial," umpat Leon yang kemudian mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Dia kehilangan kendali dan malah membeberkan apa yang selama ini dia pendam. Namun, dia sudah terlanjur bicara. Dia pikir mungkin ini memang sudah saatnya untuk menanyakan segalanya.
"Sudahlah, kau tak perlu berpura-pura lagi! Aku tahu siapa kau, Chelsea Almayra Adinata!" bentak Leon dengan tatapan tajamnya.
Deg!
Untuk sesaat jantung Chelsea seakan berhenti berdetak. Dia teramat kaget lantaran Leon bisa memanggilnya dengan nama lengkapnya yang asli. Namun, akal sehatnya masih menolak kenyataan ini.
"T-tunggu sebentar Leon ... Apa maksudmu? S-siapa Chelsea? Aku ini Mayra ..." ucapnya dengan nada gemetar.
__ADS_1
Leon mengepalkan tangannya, dia merasa geram lantaran wanita di depannya ini masih mencoba untuk berbohong padanya. Tiba-tiba saja dia mencengkeram kedua bahu Chelsea dengan erat, juga menatap kedua matanya dengan tajam.
"Aku mohon, cukup! Sudah cukup kau berbohong padaku! Aku sudah tahu segalanya, identitasmu, kebohongan soal anakmu, bahkan tujuanmu aku juga sudah tahu! Jadi sekarang berhentilah berbohong padaku!"
"L-Leon ... jadi inikah alasanmu menghindar dariku belakangan ini? Kau tahu semua itu dari siapa? Apakah Nisa yang memberitahumu?" tanya Chelsea dengan nada pelan. Berharap Leon mau jadi lebih tenang dan mendengarkan penjelasannya.
"Kauu! Berani-beraninya kau menyebut nama ketua secara langsung!"
"Sudah aku duga ..." ucap Chelsea yang kemudian memalingkan wajahnya.
Melihat sikap Chelsea yang seperti ini membuat Leon semakin bertambah emosi. "Apa? Apa yang sudah kau duga? Jadi sekarang kau mau mengaku kalau selama ini kau memang mempermainkan aku?!"
"Tidak Leon! Aku akui kalau aku berbohong demi menyembunyikan identitasku supaya aku bisa bertahan hidup! Tapi aku tak pernah bermaksud mempermainkanmu! Perasaanku padamu itu semuanya tulus!" teriak Chelsea.
"Heh, jangan kira aku akan percaya! Sejak awal saja kau sudah berbohong padaku!"
"Tidak Leon ... aku sudah bilang tidak, aku mohon percayalah padaku! Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Semua ini terjadi tiba-tiba dan di luar kendaliku. Aku sama sekali tak bermaksud membohongimu dan mempermainkan dirimu. Aku mohon ... percayalah padaku!" ucap Chelsea lagi dengan tatapan penuh harap.
Namun, yang terjadi justru Leon malah melepaskan cengkeraman tangannya dan memalingkan wajah darinya.
"Leon, aku benar-benar tulus padamu! Aku harus apa supaya kau percaya padaku?!" teriak Chelsea begitu saja, dia lepas kendali akan perkataannya karena sangat tidak mau kehilangan Leon.
Leon kembali menatap ke arah Chelsea. Lalu dengan sorot mata yang dingin, dia berkata, "Jika kau ingin aku percaya padamu. Maka berdirilah di sampingku, mengabdi setialah pada ketua sama sepertiku."
"Tidak! Aku tidak mau! Ini pasti karena Nisa si wanita iblis itu yang telah menghasutmu! Jika benar bahwa kau sudah mengetahui semua tentangku, maka kau pasti paham betul kalau tujuanku itu ingin balas dendam demi kakakku! Kakakku telah mati di tangan orang yang sangat kau hormati itu, jadi aku harus membalasnya agar tujuanku tercapai!" bantah Chelsea dengan spontan.
"Mayra, ah tidak ... Chelsea, aku mohon dengan sangat lepaskanlah dendam itu. Kau bilang jika perasaanmu padaku itu tulus. Jadi, demi aku, tolong lepaskan saja dendam masa lalumu," pinta Leon dengan tatapan berharap.
Chelsea malah kian merasa muak ketika Leon terus memohon padanya. Padahal dendam ini yang telah memberikannya alasan untuk terus hidup demi menuntut keadilan bagi sang kakak. Chelsea juga merasa tidak habis pikir lantaran Leon bersikeras membujuknya untuk berpihak pada sang pembunuh.
"Leon ... balas dendamku ini adalah hal mutlak! Aku lebih baik mati menyusul kakakku daripada harus terus bekerja untuk pembunuh kakakku! Sekarang aku tanya padamu, jika selama ini kau juga memiliki perasaan yang sama denganku. Maukah kau berpaling darinya dan mendukungku?"
"...." Leon seketika membisu.
Chelsea tersenyum sinis. "Heh, kau bahkan tidak mampu memenuhi keinginanku. Jadi sudahlah, kebisuanmu ini sudah menjelaskan segalanya padaku. Sampai akhir, kau tidak bisa berkhianat padanya demi aku!"
Chelsea yang sudah tidak bisa mengendalikan diri lagi langsung melangkah melewati Leon. Dia pergi keluar rumah, berlari secepat mungkin seakan ingin menyembunyikan tangisannya yang telah pecah.
"Tunggu aku!" Leon yang tak mau kehilangan Chelsea secepat ini seketika berlari secepat mungkin untuk mengejarnya.
Akan tetapi, Chelsea memiliki kecepatan yang bagus. Dia terus berlari dan tanpa sadar sudah keluar dari area perumahan. Kini dia sudah sampai di area jalan raya tempat banyak orang dan kendaraan berlalu lalang. Meskipun begitu, Leon tak kenal lelah terus mengejarnya.
"Chelsea! Berhenti!" teriak Leon.
"Berhenti mengejarku!" teriak Chelsea sambil mengusap matanya. Berkali-kali dia menghapus air mata agar tak ada orang lain yang tahu kesedihannya.
Chelsea terus berlari tanpa memperhatikan jalan. Ketika dia sampai di sebuah penyeberangan jalan, dia masih terhanyut di dalam kesedihannya sendiri. Hingga tanpa sadar dia malah berlari menyeberang saat lampu sudah berubah menjadi merah.
"Awas!" teriak Leon yang berusaha lebih cepat lagi untuk menyelamatkan Chelsea.
TIIINNNNN!!!
Klakson mobil berbunyi sangat keras, namun si pengemudi mobil sudah terlanjur menginjak gas. Semuanya terjadi begitu cepat, meskipun Leon sudah tepat waktu menyelamatkan Chelsea, sayangnya dia masih terserempet mobil box itu dan berakhir berguling di atas aspal.
Si pengemudi itu panik, dia tak mau turun dan bertanggung jawab, akhirnya mobil itu melaju kencang meninggalkan Chelsea dan Leon yang masih berada di atas aspal. Pejalan kaki lain yang kebetulan ada di sana langsung mengerumuni tempat kejadian.
"Le-Leon ...." ucap Chelsea dengan tubuh gemetar karena masih syok. Pikirnya, kenapa dia harus terjatuh dan selamat di pelukan Leon.
"Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Leon dengan ekspresi khawatir.
"A-aku ...." Perkataan Chelsea tiba-tiba berhenti saat dia mulai merasakan rasa nyeri yang hebat di perutnya. Kepalanya mulai terasa pusing, perlahan dia juga mulai kehilangan kesadaran.
"Chelsea!" teriak Leon yang panik. Dia berkali-kali berteriak dan menepuk pipi Chelsea agar dia bangun. Namun, sesaat otaknya jadi terasa kosong saat melihat ada darah yang mengalir di antara kedua kaki Chelsea.
__ADS_1
Pikirannya berteriak jika dia tidak bisa membiarkan wanita ini terluka. Leon pun segera berdiri dan membopong Chelsea.
"Tolong! Panggilkan ambulans! Aku butuh mobil atau terserah! Yang penting cepat bawa kami ke rumah sakit!" teriak Leon pada kerumunan orang yang berdiri melihatnya.