
"A-aku setuju, mari bekerja sama!" jawab Chelsea penuh keraguan. Sejujurnya, dia masih khawatir soal apa yang terjadi nanti jika mengikutsertakan Kaitlyn. Pikirnya, bagaimana bisa dia percaya pada seseorang yang dia tidak suka. Terlebih lagi, Chelsea tahu betul jika Kaitlyn melaksanakan tugasnya sebagai Foxy atas perintah dari musuh utamanya. Khawatir jika dia bisa menusuknya dari belakang kapan saja.
Seketika Kaitlyn menyeringai begitu mendengar jawaban dari Chelsea. "Heh, pilihan yang bijak untuk sekarang! Daku jamin, bekerja sama denganku tidak akan membuat kalian rugi. Kalian akan mendapatkan sesuatu yang ingin kalian tahu, dan dengan mengawasi kalian, daku jadi bisa memastikan jika kalian tak membuat keributan. Jika para tamu VIP merasa terganggu sedikit saja, maka daku akan habis di tangan Ketua dan Kepala Divisi! Di sini kita sama-sama untung!"
Kaitlyn lantas mengangkat koper yang sejak tadi dia bawa. Dia menghadapkan koper itu ke hadapan Leon dan Chelsea. Saat koper itu dibuka, tampak dua buah benda yang berupa topeng. Namun, bukan topeng putih polos seperti tamu VIP ataupun hitam polos seperti awak kapal. Topeng itu adalah topeng berwarna emas.
"Untuk apa ini?" tanya Leon yang mulai merasakan firasat buruk.
"Ini adalah topeng emas. Ketua sendiri juga yang telah mengatur ini untuk kalian berdua pakai. Topeng ini dibuat berbeda dari VIP karena demi menghindari protes dan keluhan dari mereka. Para tamu VIP hanya akan dilayani oleh awak kapal bertopeng hitam, tetapi kalian berdua dilayani khusus olehku. Jadi pakailah topeng ini demi menghindari kecurigaan para tamu!"
"Baiklah," jawab Leon sambil mengangguk. Dia kemudian mengambil satu topeng berwarna emas itu untuk dia pakai sendiri. Dia juga mengambil satunya lagi untuk dipasangkan ke wajah Chelsea.
"Bagaimana? Apa sudah pas?" tanya Leon pada Chelsea.
"Sedikit miring, lubang untuk mata belum pas, aku tak bisa melihat dengan jelas," jawab Chelsea sambil tertawa kecil.
"Haha, akan aku betulkan!" ucap Leon yang kemudian membetulkan topeng Chelsea.
"Ck, berhenti bermesraan! Jangan membuatku menunggu lama! Awas saja nanti, jika kalian mengulur waktu terus, akan daku lempar kalian ke tengah laut!" gertak Kaitlyn yang merasa kesal, matanya terasa perih saat melihat Chelsea dan Leon yang masih bisa bermesraan di saat seperti sekarang.
"Heh, coba saja jika kau bisa!" Leon menyeringai, seolah ingin menantang balik Kaitlyn.
"Humph! Aku tak punya waktu untuk meladenimu!" Kaitlyn lantas berbalik, berjalan lebih dulu dengan langkahnya yang angkuh.
"Ayo cepat ikuti aku! Dan jangan lupa panggil aku Foxy mulai saat ini! Aku tak mau identitasku terbongkar di depan tamu ataupun awak kapal!" ucap Kaitlyn lagi yang langsung mengubah logat bicaranya.
"Iya-iya ... mohon bantuannya Foxy," sahut Chelsea dengan nada malas.
"Chelsea, kenapa kau menerima tawaran kerja sama si banci itu? Bukannya kau tidak suka padanya?" tanya Leon dengan suara pelan.
"Kau benar, aku memang tidak suka padanya. Tetapi aku pikir ... jika kita bekerja sama dengannya, itu akan lebih memudahkan kita untuk memahami seperti apa Violent Zone itu. Kau dan aku sama-sama berasal dari Divisi 2, dan dia dari Divisi 1, sudah jelas jika dia tahu lebih banyak dibanding kita."
"Begitu ya ... baiklah. Tapi kau harus ingat, jangan sepenuhnya percaya padanya!" ucap Leon penuh penekanan.
"Iya, aku tahu. Aku tak akan melupakan apa yang sudah kau ajarkan padaku."
Mereka bertiga pun segera menaiki kapal Violent Cruise. Tak lama setelah mereka naik, kapal pun berlayar. Seperti halnya kapal pesiar mewah pada umumnya, berada di dalam Violet Cruise dapat diibaratkan selayaknya berlibur di hotel yang mengapung. Fasilitas dan pelayanannya yang super mewah akan memanjakan siapa saja yang berlayar di kapal ini.
"Kau mau membawa kami ke mana?" tanya Chelsea yang masih mengikuti Kaitlyn berjalan.
"Aku akan membawa kalian berdua ke kamar yang berada di dek 10. Dan yaa ... kalian berdua hanya akan diberikan satu kamar! Kalian tidak masalah dengan itu, kan?" tanya Foxy dengan nada seakan menyindir.
"Satu kamar ...." Chelsea dan Leon seketika saling memandang satu sama lain. Wajah mereka berdua juga sama-sama tersipu di balik topeng yang mereka kenakan.
"A-anu ... kami tak masalah! Tapi kenapa kau harus membawa kami ke kamar? Kenapa tidak langsung saja katakan apa yang ingin aku ketahui sekarang?" tanya Chelsea yang bermaksud mengubah topik pembicaraan.
"Heh, kau pikir semua akan berjalan sesuai yang kau mau? Dasar naif! Permasalahanmu itu tak akan selesai begitu saja hanya dengan penjelasan lewat kata-kata. Tunggulah saat yang tepat. Tak perlu terburu-buru untuk segera turun dari kapal mewah ini, nikmatilah apa saja yang bisa kau nikmati," jawab Foxy dengan nada ketus.
"Begitu ya ...." ucap Chelsea dengan rasa kecewa. Dia pikir dia akan langsung mempertaruhkan nyawa dan mendapatkan apa yang dia mau. Tak disangka dia justru diminta untuk menikmati masa-masa di kapal mewah ini lebih dulu. Pikirnya, ini sama saja seperti memberi makan banyak domba sebelum disembelih.
Chelsea kembali menutup rapat mulutnya. Dia terus melirik ke segala arah dan memperhatikan setiap sudut kapal. Tetapi, ada satu kejanggalan yang dia temui. Dengan kapal sebesar dan semewah ini, kenapa hanya sedikit tamu yang menaikinya.
Pikirnya, jika dibandingkan dengan kapal pesiar lain yang biasa membawa orang sampai ribuan, pengunjung kapal ini masih tidak ada apa-apanya. Dengan menghitung perbandingan biaya semua fasilitas yang mereka sediakan, mereka akan mengalami kerugian besar jika hanya memiliki tamu sedikit seperti ini.
__ADS_1
"Foxy, sebenarnya berapa jumlah VIP secara keseluruhan?" tanya Chelsea lagi.
"350," jawab Foxy singkat.
"350? Bukankah itu namanya menyia-nyiakan tempat? Sekarang saja sepertinya masih banyak tamu VIP yang belum naik kapal. Dan kapal ini setidaknya bisa menampung seribu orang lebih!"
"Haiss ... jangan samakan Violent Cruise yang agung ini dengan kapal pesiar di luar sana. Jumlah tamu yang sedikit memang karena peraturan kapal ini yang mengutamakan privasi tamu. Tamu-tamu VIP itu juga telah membayar dengan biaya yang sepadan. Lagi pula Divisi 1 juga tidak sebodoh itu sampai mau merugi. Hal ini saja sudah membuatmu tercengang, apalagi saat kau tahu tentang Violent Zone yang sebenarnya nanti." Foxy memasang senyum merendahkan di balik topeng rubah miliknya, seolah menertawakan tingkah Chelsea yang menurutnya begitu lucu.
Begitu tiba di dek 10, mendadak Kaitlyn berhenti melangkah. "Nah, kita sudah sampai! Ini kamar kalian!" ucapnya seraya memberikan kunci kamar kepada Leon.
"Oke, aku terima kunci ini. Kau bisa tinggalkan kami, tak perlu menjelaskan apa pun soal layanan kamar dan sebagainya, aku sudah paham soal itu!" ungkap Leon seakan bermaksud mengusir Kaitlyn pergi.
"Ckck, menyebalkan sekali pasangan gila ini!" Kaitlyn langsung melepas topengnya karena kesal, dan di luar dugaan, dia malah masuk ke kamar yang bersebelahan dengan kamar Leon dan Chelsea.
"Eh? Dia ada di kamar dekat kita?" Leon menatap heran.
"Ya sudah, biarkan saja, mungkin supaya lebih memudahkan dia dalam mengawasi kita. Ayo masuk, jangan hiraukan dia lagi!" ajak Chelsea sambil menggandeng tangan Leon.
"O-oke .... Emm ... tapi, kenapa kau terkesan ingin sekali cepat-cepat masuk ke kamar?" tanya Leon dengan pipi sedikit merona.
"Eh? A-aku cuma lelah dan ingin cepat istirahat, itu saja! Jangan salah paham padaku!" bantah Chelsea yang pada akhirnya paham. Dia baru sadar akan hal-hal apa saja yang bisa terjadi jika tidur di dalam satu kamar yang sama.
"Aku tidak salah paham," jawab Leon sambil memalingkan wajahnya. Dengan cepat memasukkan kunci itu ke lubangnya, dia melangkah masuk dan meninggalkan Chelsea di luar begitu pintu terbuka.
***
TAK!
Leon menaruh ponselnya di atas meja samping tempat tidur. Sebelumnya dia menggunakan ponsel itu untuk menghubungi Liana, memberikan kabar jika dia dipastikan tidak akan pulang dalam beberapa hari ke depan.
Kabin kamar yang ditempati oleh Leon dan Chelsea terbilang besar dan dilengkapi oleh furnitur yang serba lengkap. Walaupun mereka dimanjakan dengan semua fasilitas itu, mereka berdua masih bersikap sama-sama canggung, karena tempat tidur yang tersedia di kamar itu hanya satu. Semenjak selesai makan malam, Chelsea yang kini telah memakai piama terus memisahkan diri dari Leon. Duduk di atas sofa sambil melihat ke arah luar, yang mana hanya disuguhkan dengan pemandangan laut yang gelap.
"...." Leon diam seribu bahasa, duduk di pinggir ranjang sambil terus memandangi Chelsea. "Apa kau mabuk laut?" tanya Leon yang tiba-tiba memecah keheningan.
Seketika Chelsea menoleh dan berkata, "T-tidak! Aku tidak mabuk laut! Kenapa kau berpikir begitu?"
"Ahaha ... soalnya sejak tadi kau terus diam, kukira kau merasa mual atau semacamnya," jawab Leon sambil tertawa canggung.
"Tidak," sahut Chelsea lagi yang menegaskan jika dia sama sekali tidak mabuk laut.
Hening, percakapan mereka kembali berakhir. Malam sudah begitu larut, tetapi keduanya sama-sama tampak tak mengantuk. Hal ini membuat Leon merasa tertekan dan sesak, dia tak tahan lagi menghadapi situasi semacam ini.
"Sepertinya tak ada pilihan lain," gumam Leon yang tiba-tiba berdiri. Dia menghampiri Chelsea yang sedang duduk di sofa. "Tidurlah di kasur sana, biar aku saja yang tidur di sini."
"Kau saja yang tidur di sana, aku tidur di sofa saja tidak apa-apa ...."
"Chelsea, dengarkan aku baik-baik! Kita ini sedang dalam situasi yang tidak menguntungkan, jadi kita harus menghemat stamina kita. Ini sudah larut, kau pasti sudah lelah seharian ini, jadi istirahatlah dan tidur dengan benar. Jangan sampai kondisimu jadi tidak prima karena kurang istirahat," bujuk Leon supaya Chelsea mau tidur di atas kasur.
"Tapi bagaimana denganmu? Aku tidak mau jika cuma aku saja yang nyaman! Kau juga harus menjaga kondisimu!" bantah Chelsea lagi yang merasa tidak enak jika dia nyaman sendiri.
"Jadi, kau tidak keberatan kalau kita tidur seranjang?" tanya Leon yang seketika membuat pipi Chelsea merona.
"U-untuk apa keberatan? Lagi pula ... ranjangnya juga besar ...." jawab Chelsea malu-malu.
Mereka berdua pun sama-sama berbaring di atas ranjang, sepakat untuk tidur di sebuah ranjang yang sama. Meskipun tidur bersama, tapi posisi tidur mereka saling memunggungi satu sama lain. Sama-sama berada di pinggir dan saling menjaga jarak.
__ADS_1
Keduanya masih canggung, suasana ini mirip seperti pasangan pengantin baru yang gugup ketika akan melewati malam pertama. Walaupun sebelumnya mereka pernah melewati pengalaman percintaan panas bersama, hal itu pada dasarnya karena pengaruh obat dan kecelakaan.
Terlebih lagi saat itu Leon memiliki kesadaran penuh, dia masih mengingat dengan jelas setiap hal yang dia perbuat malam itu. Inilah yang sejak tadi terus dipikirkan oleh Leon, dia merasa tidak enak jika telah membuat Chelsea merasa kurang nyaman tidur seranjang dengannya. Alhasil karena perasaannya ini, dia tak kunjung tidur karena belum mengantuk.
Malam semakin larut, tak ada perbincangan di antara mereka berdua. Di satu sisi tak terlihat adanya pergerakan dari Chelsea. Leon yang mengetahui itu berpikir jika Chelsea sudah tertidur. Tiba-tiba saja dia berbalik, bergeser lebih dekat dan memeluk tubuh Chelsea dari belakang.
"Eh?! L-Leon?!" Chelsea terkesiap.
"Kau belum tidur, ya?" tanya Leon yang terkejut nyatanya Chelsea belum tidur. Saat ini dia malu setengah mati, takut jika dia dianggap sebagai pria yang mesum olehnya. Leon membatu, dia tak melepaskan pelukan tangannya. Dia mempersilakan Chelsea untuk menyingkirkan tangannya sendiri jika keberatan.
Namun, yang terjadi justru Chelsea tampak pasrah saja. Dia membiarkan tangan Leon tetap melingkar di pinggangnya. "Iya, aku tidak bisa tidur," jawab Chelsea sambil tersenyum tipis.
"Kenapa tidak bisa tidur? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Leon lagi. Diam-diam dia juga merasa senang lantaran Chelsea tidak keberatan karena dipeluk tiba-tiba olehnya.
"Aku berpikir soal kematian. Entah kenapa aku takut jika aku mati sekarang, aku takut mati dengan membawa penyesalan. Sebentar lagi aku akan mengetahui soal alasan kematian kakakku, meskipun selama ini hal itu yang menjadi obsesiku, aku masih punya satu hal lagi yang harus aku lakukan ..." ucap Chelsea dengan suara sedikit gemetar.
"Apa itu?"
"Ini soal Luciel, meskipun dia bukan anak kandungku, tetapi selama ini akulah yang merawatnya sendiri sejak dia bayi. Aku tahu ini terjadi karena aku egois. Tapi, tetap saja kasih sayangku padanya itu nyata .... Aku akan jujur saja padamu, sebenarnya ... Nisa pernah mengundangku bertemu dengannya secara diam-diam."
Kedua mata Leon seketika membelalak, "A-apa?! Tapi kapan?! Apakah itu sudah lama?! Apa yang ketua bicarakan padamu?!"
Chelsea merasa bersalah, melihat reaksi Leon yang langsung membombardir dengan pertanyaan, dia akhirnya tahu jika seharusnya dia tidak merahasiakan ini sejak awal. "Aku tahu kau akan bereaksi seperti ini. Maaf karena baru mengatakan padamu sekarang. Aku cuma tak mau kau khawatir padaku. Pertemuanku dengan Nisa tak berlangsung lama, pada intinya ... Nisa ingin menegaskan padaku jika dia memegang kelemahanku."
"Maksudmu ... saat ini Luciel berada di tangan ketua?!" tanya Leon seakan tak percaya.
"Iya, dan Nisa berkata jika dia menemukan Luciel tanpa sengaja. Aku sempat berpikir jika dia menculiknya, tapi saat aku melihat ekspresi Luciel ... dia sangat bahagia. Dan sehari sebelum kita ke sini, aku menyelidiki di mana anaknya Nisa bersekolah. Aku mengintai dari kejauhan, dan aku juga melihat Luciel bersekolah di tempat yang sama. Saat itu, aku ingin sekali berlari dan memeluknya, tapi aku tak bisa."
"Lalu ... di saat pertemuan itu, Nisa juga bilang padaku jika kebenaran soal orang tua kandung Luciel telah diketahui. Setelah dia merawat Luciel selama lebih dari sebulan, pada akhirnya Luciel dirawat oleh adikku dan suaminya. Semuanya sudah jadi berantakan seperti ini, jadi mereka pastinya tahu kalau selama ini aku masih hidup. Dan ayahku, sosok yang paling aku benci dan selalu aku hindari, aku yakin jika dia telah mengerahkan orang untuk mencariku."
"Padahal selama ini ... aku kabur demi terlepas darinya. Aku bahkan sempat berpikir, jika aku lebih baik selamanya jadi gangster demi menghindari ayahku. Tapi, Nisa menegaskan padaku jika dia tidak akan membiarkan aku berlama-lama di organisasi ini. Karena itulah sebabnya aku sempat bilang kalau tugas di Divisi 1 kemarin itu adalah yang terakhir bagiku."
"Memikirkan semua ini membuatku takut, Leon .... Aku takut sampai tak bisa tidur, dalam permainan ini sudah terlihat jelas jika Nisa pemenangnya. Dia berhasil mempermainkan aku sampai seperti ini. Setelah semua ini berakhir, aku ragu untuk menjalani kehidupanku yang baru, dan aku juga takut jika aku mati tanpa menuntaskan apa yang aku inginkan. Mungkin inilah siksaan yang ingin dia lihat, membuatku merasa hidup segan mati pun enggan."
"Aku takut, Leon ... bagaimana saat kita menutup mata nanti, akan ada orang yang datang untuk membunuh kita? Kita sekarang berada di wilayahnya .... Kita harus terjaga sepanjang malam dan tetap waspada! Kita tidak boleh lengah!"
Leon merasa prihatin dengan semua yang Chelsea katakan. Bahkan dia merasa tak tega ketika melihat tubuh Chelsea yang gemetar ketakutan. Tanpa berkata sepatah kata pun, Leon justru mengeratkan pelukannya. Dia paham dan merasa maklum kenapa Chelsea sampai seperti ini, dia tahu betul jika kekasihnya ini belum sepenuhnya bermental baja dan tegar menghadapi semuanya, seperti dirinya yang sudah bertahun-tahun menjadi gangster berdarah dingin.
"Sshhh ... tenanglah," ucap Leon dekat di telinga Chelsea.
"T-tapi bagaimana aku bisa tenang?"
"Ada aku di sini, aku selalu bersamamu. Kita tidak akan mati malam ini. Aku sudah memeriksa seluruh kamar ini dan memasang jebakan di dekat pintu. Jadi jangan terlalu khawatir, oke?" bujuk Leon dengan nada lembutnya.
"M-mungkin kau benar ...." Chelsea terdiam, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan karena rasa cemasnya yang berlebihan. Akan tetapi, mendadak dia berbalik menghadap ke arah Leon, mendekap di dada bidangnya serta memeluknya dengan erat.
"Terima kasih, Leon ... aku benar-benar bersyukur masih mempunyaimu. Terima kasih sudah mau membantuku sampai detik ini."
Leon tersenyum lembut, tangannya meraih kepala Chelsea lalu mengusapnya dengan perlahan. "Nah, begitu baru benar. Selama ini kau mungkin terbiasa sendiri, tapi sekarang kau bisa mengandalkan aku. Jadi, kau tak perlu mencemaskan sesuatu berlebihan. Kita tak tahu hal macam apa yang akan terjadi besok. Jadi, simpan tenagamu untuk hal yang berguna. Sekarang tidurlah, oke?"
"Oke," jawab Chelsea sambil mengangguk. Dia kembali mendekap pada Leon serta memejamkan matanya.
Sungguh malam yang tak terduga. Sebelumnya Leon pikir malam ini akan menjadi malam paling panjang dengan kecanggungan. Tapi siapa sangka, sekarang mereka berdua justru saling berpelukan dan berbagi kehangatan.
Meskipun dengan alih-alih menghibur Chelsea yang sedih, setidaknya malam ini akan dikenang oleh Leon sebagai malam yang penuh arti. Dia tak tahu apakah di masa depan hal semacam ini akan terjadi lagi. Jadi, dia akan menghargai setiap detik yang ia habiskan malam ini.
__ADS_1