
Chelsea tak tahu bagaimana harus membalas perkataan Nisa ketika mengungkit soal keburukan mendiang William. Kebenaran dan semua bukti sudah terpampang jelas di hadapan Chelsea, namun dia masih berpedoman jika kakak yang selalu baik padanya itu tidak akan mungkin sekejam itu. Baru pertama kali dalam hidupnya, dia melawan akal sehatnya dan memilih teguh pada perasaannya.
"Diam kau! Jangan sebut kakakku sebagai iblis dengan mulut kotormu! Kau jauh lebih iblis dibandingkan dengannya!" gertak Chelsea supaya Nisa berhenti mencerca kakaknya.
"Pffttt ...." Bukannya marah karena dihina, Nisa justru tertawa geli mendengar peringatan dari Chelsea. "Kau bilang aku lebih iblis dibanding William? Baiklah, kalau begitu mari kita bandingkan dan simak perbedaannya."
"Kau sudah merasakan sendiri bagaimana bertarung di atas arena yang dianggap itu sebagai hiburan semata, harusnya kau sendiri pun juga sudah merasakan perbedaannya. Dulu, kakakmu itu memperlakukan rekanku tak jauh berbeda darimu. Perbedaan pertama, kau boleh menerima bantuan di atas arena. Sedangkan Violent Zone yang kakakmu buat itu tidak!"
"...." Chelsea terdiam, dia tidak bisa membantah apa yang Nisa ungkapkan.
"Lalu yang kedua, kakakmu memberikan makanan yang lebih buruk daripada makanan yang ada di penjara. Sudah ditempatkan di dalam kandang yang kotor dan diberikan makanan yang basi. Sedangkan aku memperlakukanmu dengan spesial selayaknya tamu VIP. Kau sudah aku berikan kabin kelas atas dengan semua fasilitas yang lengkap. Dan bahkan kau juga menikmati hidangan mewah dan bergizi sebelum kau kubuat bertarung di atas arena. Sekarang kau tahu sendiri, kan? Hanya ada dua perbedaan, tapi dua hal itu memberikan dampak yang berbeda."
"Heh, meskipun kau memberikanku semua kemewahan ini, jangan harap aku mau berterima kasih padamu!" sungut Chelsea yang masih bersikukuh membela kakaknya.
"Haha, jangankan berterima kasih. Bahkan seharusnya kau pantas untuk menjilat sepatuku. Kau masih hidup sampai sekarang itu berkat belas kasihan dariku. Tapi sudahlah, lagi pula aku juga tak membutuhkan semua itu darimu," ucap Nisa sambil tertawa dengan pandangan merendahkan.
"Biarpun kau lebih baik dari kakakku, itu tidak akan mengubah kenyataan jika kau juga melakukan perbuatan yang salah! Kau melakukan sesuatu yang percuma saat melapisi kotoran dengan emas! Pada akhirnya baunya akan tercium juga!"
"Salah katamu? Padahal aku cuma melanjutkan apa yang sudah kakakmu bangun. Jika begitu, bukankah artinya kakakmu bisa disalahkan atas semua ini?"
"K-kau ...!" Chelsea tak membantah, dia tetap tidak bisa memutarbalikkan fakta jika memang kakaknya yang sedari awal memulai semua ini.
Tiba-tiba saja Nisa melangkah mendekat, ikut masuk ke dalam arena pertarungan tersebut tanpa memakai topengnya lebih dulu. Pikirnya, semua eksekutif saat ini sudah tumbang, jadi tak masalah sekalipun dia tidak menutupi wajahnya. Akan tetapi, Nisa menaruh sedikit kecurigaan terhadap Mr Tiger yang saat ini tergeletak. Lalu dia dengan sengaja mengambil langkah untuk menginjak telapak tangan Mr Tiger dengan sepatu high heels miliknya.
"Urghh ..." erang Mr Tiger dengan suara tertahan. Dia sebisa mungkin berpura-pura tidak merasakan sakit dari injakan high heels yang lancip tersebut. Meskipun Mr Tiger berusaha menutupi rasa sakitnya, dia tetap gagal mengecoh Nisa.
"Huh! Berbaring saja terus, hukumanmu ditambah! Dilarang menginjak daratan setahun lagi!"
"...." Mr Tiger hanya bisa terdiam dan pasrah saat dia ketahuan berpura-pura dan hukumannya ditambah. Bahkan, tanpa seorang pun tahu, diam-diam Mr Tiger menitikkan air mata di balik topeng macannya. Seorang macan juga bisa menangis jika berhadapan sesuatu yang tidak bisa dia lawan.
Di satu sisi Chelsea merasa sedikit iba. Tak habis pikir jika Nisa memberikan hukuman yang kejam hanya karena Mr Tiger telah membantu dirinya.
Nisa lantas mengangkat kaki dan berhenti menginjak telapak tangan Mr Tiger. Kembali melangkah dan mendekati Chelsea yang berada di tengah arena.
"Seminggu lagi, datanglah ke Grizz Glory Casino!" ucap Nisa penuh penekanan.
"Kenapa? Apa kau memasang jebakan untukku di sana?" tanya Chelsea dengan tatapan sinis.
"Tidak ada jebakan. Saat itu aku cuma ingin mengusirmu secara terang-terangan, mendeklarasikan kau bukan lagi bagian dari kami di depan seluruh Divisi. Kau keluarlah dari organisasiku ini. Setelah itu aku jamin tidak akan mengusik hidupmu lagi, kecuali jika kau sampai membocorkan segalanya yang kau ketahui pada orang lain."
"Mengapa aku harus menurutimu?" tanya Chelsea seakan ingin menantang Nisa.
__ADS_1
Nisa tersenyum menyeringai. "Heh, sebenarnya tidak kau turuti juga tak apa. Hanya saja ... aku tak berani menjamin keselamatan orang-orang tersayangmu~"
Sejenak Chelsea tertegun begitu mendengar ancaman dari Nisa. Dia jelas-jelas tahu jika saat ini Nisa mengancam dirinya menggunakan keselamatan Luciel dan Natasha. Akan tetapi, Chelsea berpikir jika hal ini cuma ancaman semata saja untuk mempermainkan dirinya lagi. "Lakukan saja! Lakukanlah hal yang paling tidak bermoral! Padahal kau juga seorang ibu, aku tak percaya kalau kau sampai tega menyakiti anak kecil seperti Luciel!"
"Tebakanmu salah, memangnya siapa yang bilang kalau aku ingin menyakiti Luciel? Rencanaku cuma mau membuat Natasha dan Daniel kehilangan kemampuan mengasuh anak. Entah kubuat mereka cacat atau mati sekalian. Dan Luciel, dia akan kembali aku rawat. Aku akan membesarkan dia untuk menjadi pewarisku yang sempurna!"
Kedua mata Chelsea membulat seketika. "Biadab kau! Kau mengancamku menggunakan mereka! Baiklah, akan aku turuti apa yang kau mau! Seminggu lagi aku akan datang ke tempat terkutuk itu!"
"Nah, begitu baru pintar!" puji Nisa dengan senyuman yang terkesan mengejek Chelsea karena begitu mudah diancam.
Tiba-tiba saja Nisa mendekat ke arah Leon, menepuk pundaknya seraya berkata, "Hari ini kejutan yang bagus. Aku menanti kejutan lainnya darimu."
"Maaf, Ketua ...." Leon menundukkan kepala, dia paham betul pesan tersirat apa yang Nisa sampaikan lewat pujiannya. Leon sadar jika dia telah melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh sang ketua, dan sekarang dirinya sedang diperingatkan berkedok diberi pujian.
Nisa menyeringai, beralih menjauh dan berjalan keluar dari arena. "Haha, aku umumkan pemenang pertunjukan singkat ini adalah Leon dan Chelsea! Pertunjukan yang hebat telah dipersembahkan oleh pasangan yang diatur dan diberkati oleh surga! Sebagai hadiah kemenangan kalian, jadwal kapal berlabuh Violent Cruise dimajukan jadi besok malam! Jadi nikmatilah saat-saat terakhir kalian di kapal yang mewah ini!"
Nisa meninggalkan area pertunjukan Violent Zone dengan tanpa beban dengan diikuti oleh Marcell di belakangannya.
"Apa kau mau langsung pulang?" tanya Marcell.
"Iya, jika aku tidak segera pulang maka suamiku akan memukul pantatku. Lagi pula tujuanku kemari untuk memberi sedikit pelajaran pada Chelsea juga telah selesai. Bagaimana denganmu?"
"Aku masih harus di sini, memastikan jika semua tamu VIP besok turun dari kapal dengan keadaan selamat. Dan aku juga perlu mengatur orang baru untuk mengisi posisi eksekutif 12 Shio yang saat ini terluka. Aku tidak bisa membiarkan para tamu mencurigai jika telah terjadi sesuatu."
"Baiklah jika itu maumu. Tidak perlu mengantarku sampai helipad, langsung urus saja tugasmu. Kita berpisah di sini!" Nisa lantas memakai topengnya kembali, berjalan lebih cepat untuk segera menuju ke landasan helikopter.
Sedangkan di sisi lain Chelsea dan Leon keluar dari arena setelah memastikan jika tak ada lagi yang mengusik mereka. Namun, saat itu juga tiba-tiba datang seseorang yang tidak asing. Orang itu adalah Kaitlyn yang memakai topeng rubah dan berperan sebagai Foxy.
"Kenapa kalian tidak pakai topeng? Apa kalian sudah gila?!" tanya Foxy yang begitu terkejut dengan apa yang telah terjadi. Akan tetapi, dia lebih terkejut lagi ketika melihat para eksekutif 12 Shio telah tumbang semuanya.
"Apa kalian yang melakukan ini?!" tanyanya lagi.
"Ya, kau sendiri sudah melihatnya," jawab Leon dengan nada datar. Dia malas menjelaskan soal apa yang terjadi. Dilihat dari luka miliknya dan milik Chelsea sudah menjelaskan jika mereka berdua terlibat.
"Kalian sinting! Tapi apa pun itu, cepatlah pakai topeng kalian lagi! Jangan sampai identitas kalian diketahui oleh orang lain!" teriak Foxy yang tampak panik.
"Tidak ada gunanya melakukan itu. Lagi pula kami memang sengaja mengekspos diri. Tujuan kami di kapal ini sudah tercapai dan permainan ini sudah berakhir," jawab Chelsea dengan nada ketus.
"Permainan apa maksudmu?" tanya Foxy kebingungan. Kali ini dia benar-benar tidak tahu soal apa yang terjadi di belakangannya.
"Ketua datang ke sini, tapi sekarang dia sudah pergi," jawab Leon.
"Pergi? Secepat itu? Terus apa yang terjadi di antara kalian dengan ketua?"
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu," jawab Leon lagi yang kemudian langsung menarik tangan Chelsea untuk pergi meninggalkan Kaitlyn. Dia sudah muak meladeni orang yang terus bertanya di saat dia sedang terluka.
"Humph!" Foxy mendengus kesal dan menggembung pipinya. "Ketua kemari tanpa mengabariku. Daku jadi penasaran sebenarnya apa tujuannya? Tetapi ... jika Ketua kemari, itu artinya Kepala Divisi 1 juga datang! Biarpun Ketua sudah pergi, dengan kekacauan yang menimpa para eksekutif maka Kepala Divisi pasti masih di sini!"
"Emm ... dan sepertinya aku disuruh ke sini supaya mengurus para eksekutif ini. Kalau begitu akan daku lakukan dengan baik, ini saatnya bagiku untuk cari muka! Hehehe ..." ucapnya sambil tertawa cekikikan.
"Jangan bicara keras-keras, dasar bodoh!" celetuk Mr Tiger yang pada akhirnya berdiri.
"Eh? Mr Tiger sudah sadar?!"
"Karena aku memang tak pernah pingsan! Cepat suruh tim medis kemari dan bantu yang lain!"
"Baik Mr Tiger," jawab Foxy dengan berat hati, terpaksa menuruti kemauan Mr Tiger yang sok memerintah terhadapnya.
***
Saat ini di dalam sebuah kabin yang ditempati oleh Leon dan Chelsea. Mereka berdua duduk bersama di pinggir ranjang. Leon membuka kemeja yang dia pakai, membuang kemeja yang bersimbah darah itu ke lantai. Dia ingin memeriksa luka-luka yang telah diterimanya karena pertarungan melawan eksekutif 12 Shio tadi.
"Biar aku bantu!" ucap Chelsea dengan tangan terulur.
"Baiklah," jawab Leon dengan senyuman tipis. Dia juga memberikan kain bersih itu kepada Chelsea.
Saat Chelsea menekan luka di bahu Leon untuk menghentikan pendarahan, dia merasa begitu berhutang budi kepada Leon yang sudah rela berbuat hingga seperti ini untuk dirinya.
"Maaf, ini semua terjadi gara-gara aku. Jika saja aku tidak egois dan menghindarimu, maka ini semua tidak akan terjadi. Kau menerima banyak luka karena melindungiku, terima kasih, aku berhutang banyak padamu. Aku tak tahu bagaimana caranya membalas hutang budi ini ..." ucap Chelsea dengan nada gemetar.
"Apa kau sungguh mau membayarnya?" tanya Leon yang tiba-tiba membuat Chelsea terkejut.
"T-tentu saja, asalkan aku bisa membalas kebaikanmu. Aku rela melakukan apa pun!" Chelsea sedikit cemas, juga sedikit gugup untuk mendengar perkataan yang akan Leon ucapkan selanjutnya.
"Mudah saja, yang aku inginkan sederhana. Seminggu lagi datanglah ke markas utama seperti yang Ketua minta. Kau hanya perlu mengundurkan diri dan melupakan dendam masa lalu," ucap Leon dengan sorot mata yang sayu.
"Kenapa Leon? Kenapa yang kau minta adalah itu? Apakah karena kau begitu setia pada Nisa sampai-sampai juga menganggap kalau setiap ucapannya benar?" tanya Chelsea yang begitu penasaran, dari sekian banyak hal yang bisa dia lakukan, dia merasa heran lantaran hal yang dipilih oleh Leon sungguh berat dia lakukan.
"Iya, ini memang karena kesetiaanku pada Ketua. Tapi bukan hanya itu saja, alasan utamaku adalah ... tentu saja supaya kau selamat."
Mulut Chelsea terasa kelu saat mendengar jawaban yang Leon berikan. Dia tidak bisa membantah kalau dia hanya memiliki kemungkinan kecil untuk menang jika terus melawan. "Terima kasih telah khawatir padaku. Aku juga sadar diri jika aku tak punya cukup kemampuan untuk melawan. Hari ini saja, melawan para eksekutif sudah begitu kewalahan. Aku bisa selamat juga berkat bantuan dirimu."
"Tetapi, Leon ... andai saja nanti kau diharuskan memilih, mana yang akan kau pilih? Kau memilih berpihak pada Ketua atau kepadaku?"
Sejenak Leon tertegun, kemudian dia berkata, "Tidak ada gunanya aku menjawab. Lagi pula hal itu tidak akan pernah terjadi. Aku harap kau mengerti Chelsea, tolong jangan egois."
"...." Chelsea tak lagi bicara. Dia mengakui jika yang Leon katakan benar bahwa dia egois. Chelsea selalu membela William semata-mata karena dia keluarganya, bersikap buta dan tuli pada setiap fakta yang membicarakan keburukan mendingan kakaknya tersayang.
__ADS_1
Maafkan aku Leon, tetapi permintaanmu itu terlalu susah aku lakukan. Melupakan dendam masa lalu itu hampir mustahil. Biarpun balas dendam ini diawali dari kakakku yang membuat ulah, tapi tetap saja dia adalah kakakku! Sebagai adiknya, aku harus membela keluargaku.
Maaf, mungkin nantinya aku akan mengecewakanmu. Aku sangat menghargai apa pun yang kau lakukan untukku. Aku memiliki banyak hutang padamu. Tetapi sekali lagi, syarat yang kau katakan terlalu menentang soal apa yang selama ini aku perjuangkan. Mungkin ... hutang ini akan aku bawa sampai mati, maafkan aku yang bersikap egois ini.