
Pip... Pip... Pip...
Sepasang mata yang tertutup itu mulai bergerak. Memberikan respon setelah beberapa pekan terbaring dalam komanya.
Delia mulai memberikan reaksi kehidupan bahwa ia akan siuman. Sekertaris Erik yang masih setia menjaga pun mengangkat kepalanya, ketika merasakan tangan yang ia genggam mulai bergerak-gerak.
"Delia?" gumamnya senang, ia menunggu mata itu terbuka secepatnya. Tapi memang masih harus pelan-pelan, hingga lirih rintihan di mulutnya mulai terdengar.
Gadis itu seperti hendak menyebutkan sesuatu, namun amat berat.
"Delia– ini Ayah."
"Mam... Mamiiiiih..." Panggilnya samar, yang semakin kesini semakin terdengar jelas. Bahwa ia memanggil ibunya.
***
Di rumah utama...
Devan menata barang-barangnya bersama Kuni. Hanya sedikit, sisanya ia bisa menyuruh pelayan nanti.
Kunia meletakkan kotak berukuran sedang itu di atas ranjang mereka, mengusap keningnya yang sejatinya tak berkeringat. Semua ia lakukan hanya untuk menyingkap anak-anak rambut yang masih keluar dari jepitnya. Membuat kening itu sedikit terasa gatal di mainkan oleh Rambutnya.
"Kau lelah?"
"Tidak–" terkekeh.
"Aku sudah bilang, biar semuanya dibereskan pelayan."
"Tidak semuanya juga. Aku hanya tidak mau pakaian dalam ku di bereskan oleh pelayan disini."
"Ckckck... Untuk apa risau soal itu. Mereka sudah biasa melakukannya."
"Ya bagi keluarga kalian... bagiku tidak. Itu sebabnya aku memilih mencuci pakaian dalam ku sendiri."
"Haah... Hidupmu itu terlalu ribet." Devan menutup kotak itu dengan lakban. Setelah itu menurunkannya ke bawah, sedikit mendorongnya jauh lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Kunia? Kau yakin, tidak mau pakai asisten rumah tangga?"
"Emmm... Aku tidak mau. Aku sudah bilang. Aku akan mengerjakannya semua sendiri." Mengangkat satu tangannya dengan ekspresi menggebu-gebu.
Termenung, ia ragu sebenarnya. Belum lagi mengingat omongan ibu Sukaesih... Kalau soal masak dia mungkin bisa masak sesekali atau beli saja. Namun untuk beberes rumah?
Ia tidak yakin Kunia mampu.
"Kenapa melamun?"
"Aku tidak yakin, rumah kita akan rapi jika kau yang memegangnya sendiri. Rumah kita memang tidak sebesar rumah di sini. Namun lebih besar dari rumah orangtuamu. Yakin tidak mau pakai asisten rumah tangga?"
"Hei– jangan suka meremehkanku. Aku pasti mampu, sungguh."
"Bukan meremehkan. Ibu saja khawatir saat tahu kita akan pindah rumah, dan tidak memakai asisten rumah tangga."
"Ckckck Beliau memang seperti itu. Lagi pula untuk apa khawatir pada anak yang sudah menikah, pasti rasa tanggung jawabnya sudah berubah tidak seperti dulu lagi."
"Aku rasa, khawatirnya ibu itu beralasan."
"Beralasan apa?"
"Bisa jadi ibu khawatir, Kau akan membuat gila menantunya. Sebab rumah yang seperti kapal pecah setiap hari."
"Hiiissshhh..." Kunia bersungut, namun segera di pelukannya erat.
"Aku tetap akan menyewa asisten rumah tangga. Tiga saja..."
"Banyak sekali? Satu saja cukup."
__ADS_1
"Kita itu butuh tukang kebun, juru masak, sama yang membersihkan rumah. Kalau cuma satu kasian."
"Ada aku Dev– aku yang akan membantunya."
"Kau itu tugasnya cuma satu, melayani ku." Devano mendorong tubuh Kunia hingga berbaring sambil tertawa. Menghujani wajahnya dengan kecupan kasih sayang.
Terserah lah... padahal aku ingin benar-benar menjadi istri. Seperti ibu yang mau mengerjakan semuanya sendiri. (Kunia)
Kunia tidak tahu, jika Bu Sukaesih mengerjakan semua itu karena tidak ada pilihan lain, dan lebih ke menghemat biayanya saja.
Karena jasa asisten rumah tangga itu mahal. Lebih baik di alokasikan ke yang lain.
–––
Keduanya tengah memakai pakaiannya. Setelah selesai mandi.
Devan yang masih menggunakan handuk mendekati istrinya.
"Kau butuh bantuan?" Menyentuh kedua bahu Kunia.
"Tidak usah... aku bisa, ini hanya pekerjaan mengeringkan rambut." Mengangkat hairdryer itu cukup tinggi, sembari menyisir rambutnya. Agar kering merata.
Pria itu memandangi sang istri tanpa berbuat apa-apa. Hingga biji mata itu melirik ke arahnya.
"Kenapa diam saja, kenapa tidak pakai bajumu?"
"Nanti saja. Kau saja masih pakai handuk." Senyumnya itu membuat Kunia merinding.
"Jangan tersenyum seperti itu."
"Kenapa?" Devan merebut hairdryer tersebut lalu mencondongkan tubuhnya lebih mendekatkan, memegangi dagu Kunia dan mengangkatnya sedikit. Bola mata itu bergerak-gerak, hanya memandangi saja Devan sudah merasa senang. "Cinta itu seperti ini ya? Membuatku gila setiap harinya."
Mencium lembut bibir yang tengah tersenyum padanya. Kunia pasrah saja saat laki-laki itu menciumnya.
Tangan nakalnya mulai menyusup ke bagian atas kimono mandinya. Melakukan hal yang ia sukai dengan tangannya. Kecupan itu mulai berpindah ke bagian leher.
"Jangan menghabiskan cinta mu sekarang suamiku," lirih Kunia berbicara. Membuat Dev menghentikan kegiatannya. Ia menatap wajah yang sudah memerah itu. lalu menaikan kain handuk di bagian bahunya yang menurun tadi.
Mata mereka saling bertemu, Kunia memandanginya dengan perasaan lain. Ia khawatir, cintanya akan cepat pudar.
"Kenapa diam saja? Aku menunggu kau melanjutkan ucapanmu."
Kunia mengulas senyum, ia lantas memeluk lingkar leher suaminya.
"Aku takut–"
"Takut apa?"
"Takut kau bosan dengan ku. Lalu berpaling..."
"Kau ini berpikir apa sih?"
Kunia tak menjawab, ia hanya mencium bibir Devano singkat.
"Aku itu mencintaimu, kau harus percaya aku ya. Jangan sampai ada kata perpisahan seperti para artis yang bercerai dengan pasangannya."
Devano terhenyak... dari mana pikiran itu muncul di benak isterinya.
"Berbicaralah yang baik... apa kau punya niatan untuk bercerai denganku?"
Kunia menggeleng pelan, "tidak... hanya takut saja. Karena akhir-akhir ini, banyak beredar di media penyiaran ataupun cetak tentang rusaknya rumah tangga para artis. Padahal mereka terlihat mesra dan baik-baik saja... Apa sebab terlalu mencintai, hingga rasa itu cepat luntur?"
Devan menghela nafas. Ia tak berbicara selain memberikan ciumannya lagi pada Kunia, setelah itu berjongkok.
__ADS_1
"Cinta itu luntur mungkin karena banyak hal. Kebanyakan dari mereka orang ketiga kan?"
Kunia mengangguk...
"Kalau begitu ayo kita saling berjanji. Bahwa kau ataupun aku, hanya boleh saling mencintai. Tidak ada orang lain lagi."
"Walaupun aku menua lebih dulu?"
"Kau menua aku pun menua... kita sama-sama menua."
"Tidak akan sama, jelas aku duluan. Kau saja masih seperti anak kuliah kok sekarang. Tidak seperti aku... tante-tante."
Devan terkekeh.
"Kan, kau menertawakan ku?"
"Tidak isteri ku... kau jadi tante-tante ya aku jadi om-om." Masih mengulas senyum, karena Dia sambil membayangkan.
"Bohong–" merengek.
"Sungguh." Devan meraih tangan itu, menciumnya. "Aku ingin seperti Ayahmu, kepada ibumu. Bersama hingga punya anak, membesarkannya bersama hingga anak kita menikah."
"Jangan hanya sampai anak kita menikah, kau mau berpaling setelah anak kita menikah?"
"Ya tidak... Maksudnya sampai Tua, sampai?" Devan garuk-garuk kepala, mengingat-ingat lanjutannya. "Sampai mati."
"Sampai aku mati? Kau jahat... Kalau aku mati duluan kau menikah lagi, kan?"
"Ya Tuhan... Jika kau mati ya aku mati, kau ini bagaimana sih?" Menarik pipi Kunia, hingga wanita itu mengaduh lalu melepaskan tangan Devano.
"Sekarang saja kau bilang seperti itu," bersungut.
"Kau itu semakin menyebalkan, ya? Intinya aku ingin bersamamu terus, sampai menua dan kita terbaring di pembaringan terakhir. Kau puas..."
"Iya jika kita bersama, kalau aku yang mati duluan?"
Devano mendesah. "Sekarang begini saja, kalau aku duluan yang mati? Apa kau akan menikah lagi?"
Kunia mengangguk pelan, namun segera menggeleng cepat saat mata Devan membulat sempurna.
"Kau mengangguk?"
"Ti... tidak... Bukan begitu. Aku menggeleng kok."
"Hei– tadi kau mengangguk ya, aku melihat itu dengan jelas. Jadi kau mau menikah lagi jika aku mati, Hah!!"
Sial, kenapa respon ku malah mengangguk sih...? Kan jadi repot.
Kunia nyengir, "kepala ku ini kadang suka semaunya sendiri, sayang. Mana mungkin aku mengangguk tanda mengiyakan, kau salah mengartikan. India saja saat mengiyakan pakai gelengan kepala, bukan anggukan."
"Ohoooo!!! Tadi kau menggeleng cepat, jika kau pakai cara India berarti itu lebih mengiyakan lagi." Tudingnya.
Aduh... Mulut ini bicara apa? Lebih repot lagi ini, kan jadinya.
"Sayang, maaf. Bukan maksudku seperti itu."
"Aku tidak peduli, aku sudah terlanjur marah." Devan mengangkat tubuh Kunia.
"Hei– hei– aku mau di bawaku kemana?"
"Aku akan menghukummu dengan cara tak manusiawi."
"A– apa? Sayang... Sayaaaaaaaaang."
__ADS_1
Seringai jahat sudah tersungging di bibirnya, sembari menggendong tubuh Kunia Devan membawanya keluar dari ruang ganti itu.
Tenang, mereka tidak melakukan apa-apa. Devan hanya melempar pelan tubuh Kunia, menggulungnya dengan selimut lalu menciumnya berkali-kali. Hingga Kunia frustasi sendiri.